kalau gw milih A, karena si Pembawa acara ingin ki
ta gagal, makanya pilihan A kita dialihkan dengan
harapan kita akan berubah pikiran...
Tetapi sekali lagi, ini deduksi gw, yang sama sekali
tidak matematis :)
Printable View
kalau gw milih A, karena si Pembawa acara ingin ki
ta gagal, makanya pilihan A kita dialihkan dengan
harapan kita akan berubah pikiran...
Tetapi sekali lagi, ini deduksi gw, yang sama sekali
tidak matematis :)
Pertama kali dapat Monty Hall problem saya butuh waktu cukup lama untuk mencerna, padahal kalo paham teori probabilitas seutuhnya nggaklah susah. Nah, kalo pertanyaan modif itu saya belum paham kenapa ada unsur hari Senin di situ. Mau dimasukkan ke bagian peluang yang mana? Kan hari kelahiran dan jenis kelamin irisan peluangnya nol.
Hahaha...saya paling demen model soal beginian. Dari mulai 'lotere kelereng' waktu masih SD sampe hobi main 'bridge' selepas SMA. :lololol:
Tapi ntar yaa soale waktu saya masih repot nih, sekalian kasih kesempatan yg lain dulu... ;D
*saya dulu waktu sekolah bahkan berani tentukan peluang 50:50 untuk soal ujian pilihan ganda a/b/c/d/e dgn cara merem tanpa melihat soalnya khususnya untuk jawaban berbentuk angka atau persamaan*
:ngopi:
Masalah memasukan hari lahir merupakan masalah yang masih "hangat". Baru diajukan Maret 2010 di salah satu konferensi. Dan saat diajukan, banyak yang tak percaya bagaimana hari lahir seorang anak bisa mempengaruhi peluang jenis kelamin saudaranya. Banyak yang menganggap penambahan informasi hari kelahiran ini sebagai info tak berguna dan tak mempengaruhi hasil perhitungan. Tapi, percayalah, akan sangat mempengaruhi hasil perhitungan.
edit: saya mengubah sedikit redaksi kalimatnya agar mudah difahami.
Spoiler for sedikit petunjuk:
Lagi males coret2 bikin matriks soale pake HP. ;D
Dgn menambahkan komponen 'hari lahir', pertama asumsikan ada 14 sebaran peluang (2 jenis kelamin X 7 jumlah hari).
Dgn sudah munculnya salah satu peluang (sebut saja: LakiSenin) maka (sisa) peluang munculnya Perempuan (PerempuanSenin s/d PerempuanMinggu) akan bisa dihitung.
Mmm...hasilnya (14+1) : (14-1) alias peluang anak lain perempuan adalah 15:13. :mikir:
*masih ndak yakin 100% benar soale ngitungnya luar kepala*
:ngopi:
---------- Post Merged at 04:50 PM ----------
Oops...sori, maksud saya 15:13 itu peluang Perempuan:Laki. Atau dgn kata lain, peluang muncul perempuannya adalah 15:28.
:ngopi:
Belum tepat.
Oya? Ataukah P:L = 14:13 alias peluang P = 14:27? Atau P:L = 15:14 alias peluang P = 15:29?
Tapi kok saya masih prefer peluang P = 15:28 yak? Ataukah intuisi saya bener2 'ketipu' yak? Tapi kalo secara 'intuitif' sekilas yg bisa saya tangkep adalah peluang P sedikit/tipis lebih besar dibanding L.
Ntar deh kalo luang saya coba itung pake coret2an. Thanks anyway...
:ngopi:
Gantian saya yg kasih pertanyaan, sekedar iseng2 untuk menambah puzzle tsb menjadi lebih complicated...: :)
"Jika anak yang satu adalah laki-laki dan lahir pada tanggal 1, maka berapa peluang anak lain akan perempuan?"
Note: Saya sendiri, suwer samber gledek, belum/tidak tahu jawabannya dan ndak tahu apakah itu pernah muncul di forum2 resmi, tapi 'intuisi' saya mengatakan soal tsb ada jawaban yg tepat (eksak). Boleh juga ditambahkan dgn parameter tahun kabisat spy lebih rumit lagi. ;D
:ngopi:
Buset bro, itu markov chain?
saya belom belajar utuh ntu barang. Kapan2 deh, karena kemungkinan memang perlu.
======
tebakan awal saya 7/13. tapi aslinya saya masih nggak mudeng kenapa hari lahir menentukan peluang jenis kelamin.
Markov chain? Saya malah baru denger sekarang ttg kata/istilah itu. *serius*
Oya sekalian nambahin satu varian lagi dr puzzle tsb...: ;D
"Jika anak yang satu adalah laki-laki dan lahir pada malam Jum'at Kliwon, maka berapa peluang anak lain akan perempuan?" :run:
Btw, maaf saya belum sempet coret2 bikin matriks nya untuk soal pertama (duh mesti probing satu2 dari 14x14 distribusi peluang). Kayaknya sih, kalo jawaban 15:28 masih salah, berarti jawaban yg benar adalah 14:27, bukan 15:29.
:ngopi:
---------- Post Merged at 11:41 PM ----------
7/13? Alternatif yg cukup menarik. Kita tunggu aja jawaban yg benar dari si pembuat soal (@uploader).
*sambilpamitanmauistirohatdulu*
:ngopi:
Mungkin krn kondisi lagi fresh keringetan habis keliling gowes trus mampir kuliner lalapan Sunda (ini nulisnya sambil ngudut abis selesai makan di tempat) maka tiba2 :mikir: mak jreeenggg...
Tiba2 nemu rumus jawaban soal2 diatas, tanpa googling, ndak perlu bikin matriks, semua mengalir lancar begitu saja di kepala... :)
Dan rumus jawabannya adalah n/(2n-1).
Betul. Karena 'n = 2' (jenis kelamin) maka jawabnya memang n/(2n-1) = 2/3.Quote:
Misal di depan rumah kita ada tetangga baru bernama Pak Agus. Pak Agus memiliki dua anak. Anda tahu salah satu anaknya berjenis kelamin laki-laki karena pernah bertemu tapi tidak tahu anak yang satu lagi berjenis kelamin apa. Anda disuruh menebak, berapa peluang anak yang satunya lagi perempuan? Secara hampir spontan kita mungkin akan menjawab peluang anak perempuan adalah 1/2 (alias 50:50) karena kalau tidak laki-laki yah pasti perempuan. Jawaban yang benar adalah 2/3 dengan solusi yang hampir sama dengan Monty Hall problem.
Karena 'n = 14' (jenis kelamin dikalikan jumlah hari) maka jawabannya adalah n/(2n-1) = 14/27Quote:
Dan jika pertanyaannya saya ubah, "jika anak yang satu adalah laki-laki dan lahir pada hari Senin, maka berapa peluang anak lain akan perempuan?".
Demikian juga dgn varian2 berikut ini..:
Karena 'n = 70' (jenis kelamin dikalikan jumlah hari dikalikan jumlah pasaran) maka jawabannya adalah n/(2n-1) = 70/139Quote:
"Jika anak yang satu adalah laki-laki dan lahir pada malam Jum'at Kliwon, maka berapa peluang anak lain akan perempuan?"
Oops...soal yg ini sengaja saya sisakan. :cengir:Quote:
"Jika anak yang satu adalah laki-laki dan lahir pada tanggal 1, maka berapa peluang anak lain akan perempuan?"
Kuncinya adalah mencari nilai 'n'. Hati2 dgn 'jebakan kabisat'. ;D
:ngopi:
---------- Post Merged at 10:31 AM ----------
Btw terkait dgn persoalan 'Intuisi vs Logika'...
Dan jgn sekali-kali meremehkan intuisi anda. Jawaban yang diberikan Marilyn adalah "salah".Quote:
Dan, berhati-hatilah terhadap intuisi Anda. Jawaban yang diberikan Marilyn, adalah "benar".
*elaborasinya menyusul soale saya mau lanjut gowes lagi...kriiing...kriiing...kriiing...trek..trek.*
:ngopi:
Sciencenya mana lagi ini?
Mungkin sebaiknya tulisan2 seputar 'matematika (logika/quiz/puzzle/dll)' bisa dipecah ke trit tersendiri spy trit ini bisa lebih fokus ke persoalan science.
*sekedarusulaja*
:ngopi:
Mohon maaf. Masa liburan sudah habis, jadi tidak bisa daring seperti biasa. Lagipula beberapa hari terakhir sibuk mengurusi hal-hal seperti upacara bendera, lomba agustusan, dan bakti sosial. Untuk ke depannya, tulisannya tidak akan serutin biasanya. Nasib menjadi kuli, maaf.
Sila Anda yang membuka dan membuat topik tersendiri. Tak usah menunggu orang lain dahulu untuk memulai. Seperti yang saya tulis sebelumnya, jangan sungkan untuk memulai yang baru atau mau menambah tulisan di topik ini.
Terkait permasalah anak yang lahir tanggal 1, sebenarnya tidak perlu Matrix, ukurannya bakal sangat besar dan tidak praktis, saya sih lebih senang menggunakan Teorema Bayes biar padat.
Monty Hall Problem yang saya cantumkan hanya sekedar selingan saja. Dan saya tidak bermaksud untuk menyuruh siapapun agar tidak boleh mempercayai intuisi mereka. banyak teori-teori besar dimulai dari intuisi kuat para penemunya. Hanya sekedar berhati-hatilah. Seperti di dunia kuantum, nalar dan intuisi kadang tidak selalu benar. Lagipula, kritik terhadap Monty Hall Problem atas solusi yang diajukan Marilyn sangat kencang dan deras, tidak sesederhana seperti yang saya cantumkan di atas.
Ok, saya lanjut dahulu. Loncat lagi dari topik fisika dan matematika, masuk ke bidang baru: Genetika.
(Bukan) Hukum Mendel
Dalam definisi dan standar aturan saintifik yang ketat, sesuatu yang disebut "hukum" harus memnuhi kaidah dan standar tertentu yang tak mudah. Dan dalam posisi itu, materi dasar mengenai genetika yang dikenal sebagai Hukum Mendel, sesungguhnya tidak memenuhi syarat sebagai "hukum" dalam standar dunia sains. Namun, mengapa gagasan Mendel ini masih disebut sebagai "hukum" dan tetap diajarkan di materi sekolah bahkan sejak SMP?
Materi genetika dasar sudah diajarkan sejak kelas XII SMP dengan start mengenai gagasan dan percobaan Mendel dengan kacang ercisnya yang terkenal. Apa yang dinamakan Hukum Mendel sendiri terbagi dua, Hukum Mendel I atau yang disebut juga sebagai Hukum Segregasi menyatakan "pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam dua sel anak", dan Hukum Mendel II yang dikenal dengan nama Hukum Pemilihan Bebas berbunyi "‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak bergantung pada sifat pasangan lainnya."
Mendel merumuskan gagasan mengenai sifat pewarisannya ketika dia melakukan percobaan termasyurnya terhadap kacang ercis. Tahun 1866 Mendel melakukan terobosan terpenting di dunia sains dengan mengajukan keberadaan ‘karakter konstan’ atau satuan pewarisan (yang sekarang diasosiasikan dengan gen), sementara hukum dominasi, segregasi, dan pemilihan bebasnya berhasil memprediksi distribusi karakter fenotipe. Dan Mendel melakukannya setelah membuat percobaan terhadap sifat pewarisan kacang ercis.
Meski awalnya diacuhkan, gagasan Mendel kemudian diterima di ranah dunia sains sebagai dasar yang mantap untuk cabang ilmu yang sekarang dinamakan sebagai genetika. Namun, ketika gagasan Mendel mulai mendapat pengakuan, keberadaan "hukum" Mendel sudah dipermasalahkan sejak dasar sekali: validitas data percobaan.
Sekitar 30 tahun setelah karya Mendel ditemukan kembali tahun 1900 dan diverifikasi oleh masyarakat ilmiah, genetikawan Inggris, Ronald A. Fisher menyadari kalau Mendel sangat beruntung – atau mungkin ia malah berbohong. Dari banyak sekali sifat yang dapat dipelajari Mendel, ia menerbitkan hasilnya pada tujuh sifat yang sesuai dengan hukum segregasi dan keragaman mandiri, punya dua alel, dan menunjukkan pola pewarisan dominan-resesif.
Dengan analisis statistik yang digunakan untuk validitas sampel data yang dinamakan uji chi-kuadrat, χ2, Fisher menunjukan bahwa data hasil percobaan Mendel "terlalu" akurat untuk mendekati nilai perbandingan fenotip Mendel yang termasyhur ini. Tentu saja kemungkinan munculnya angka yang amat eksak dan sempurna ini bukan sebuah kemustahilan. Tetapi masalahnya, ketika percobaan mengenai kacang ercis diulang-ulang lagi oleh ilmuwan lainnya, nilai data yang dihasilkan cukup berbeda jauh dengan data yang dihasilkan Mendel. Permasalah ini mengerucut pada 3 hal: Mendel berbohong dan mengada-ngadakan data percobaannya, Mendel memanipulasi data dengan hanya mencantumkan data yang baik dan sesuai harapan lalu membuang data yang jelek, atau yang terakhir, Mendel amat-amat beruntung. Bayangkan jika kita melempar koin logam sebanyak 1000 kali. Kemungkinan munculnya gambar muka 500 kali dan gambar belakang 500 kali secara teoretis adalah hal yang tidak mustahil, tetapi layak dicurigai.
Fisher menekankan kalau Mendel harus menerbitkan sebagian datanya yang ia pahami dan menyisakan lainnya. Yang “lain” mungkin mencakup semua bagian yang membuat pewarisan kacau, seperti epistasis dan sambungan. Namun yang jelas, ada dua fakta: Mendel tidak memahami ilmu Statistika. Jadi bisa saja dia tidak mengenal uji validitas sampel data. Dan fakta kedua yang justru semakin mengaburkan, setelah Mendel wafat, semua makalah dan tulisan lengkap percobaannya terbakar, jadi kita tidak pernah tahu kebenaran sesungguhnya mengenai 3 kemungkinan.
Meski validitas data yang digunakan Mendel cenderung memancing kontroversi dan meragukan, namun bukan dengan alasan ini, Hukum Mendel tidak layak disebut "hukum".
Walaupun hukum Mendel memberikan landasan aman yang dibutuhkan genetika, ia diturunkan dari eksperimen dengan populasi kecil dan beberapa generasi varietas kacang ercis. Karenanya, perlu untuk mengekstrapolasi konsekuensi hukum Mendel pada populasi alami yang lebih besar dan banyak generasi sebelum dapat berperan dalam debat evolusi. Ekstrapolasi teoritis dari kebun Mendel pada arah evolusi paling besar merupakan produk dari buku Fisher The Genetical Theory of Natural Selection (1930), dan Haldane The Causes of Evolution (1932) serta esai-esai klasik Wright (1931, 1932), yang bersama-sama mendefinisi ulang Darwinisme sebagai studi bagaimana seleksi alam dan proses demografis lainnya mempengaruhi kelangsungan hidup dan transmisi satuan pewarisan dalam populasi alamiah.
Salah satu penyanggahan hukum Mendel yang pertama adalah penemuan gen pleiotropis. Gen tertentu dapat mengendalikan lebih dari satu fenotipe. Gen yang mengendalikan fenotipe jamak disebutpleiotropis. Pleiotropi sangat umum ditemukan; hampir semua gangguan gen tunggal yang terdaftar dalam Online Mendelian Inheritance in Man menunjukkan efek pleiotropis.
Ambil contoh fenilketonuria (PKU). Penyakit ini diwariskan sebagai sebuah kerusakan gen tunggal dan resesif autosom. Ketika seseorang dengan fenotipe resesif homozigot mengkonsumsi zat yang mengandung fenilalanin, tubuh mereka kehilangan jalur biokimia yang sesuai untuk memecah fenilalanin menjadi tirosin. Sebagai hasilnya, fenilalanin menumpuk di tubuh, mencegah perkembangan otak normal. Fenotipe primer orang dengan PKU adalah retardasi mental, namun jalur biokimia ynag rusak mempengaruhi sifat fenotipe lainnya. Karenanya, pasien PKU juga memiliki warna rambut trang, pola jalan dan duduk yang tidak biasa, masalah kulit, dan kejang-kejang. Semua sifat fenotip yang berasosiasi dengan PKU berkaitan dengan satu gangguan gen saja bukannya tindakan lebih dari satu gen.
Lebih Banyak Lagi Pengecualian Hukum Mendel
Seiring lebih baiknya gangguan genetika dipelajari, banyak pengecualian dari aturan pewarisan Mendel ditemukan. Bagian ini membahas tiga pengecualian penting.
Pencetakan Genomik
Ketika sifat diwariskan pada kromosom autosom, mereka pada umumnya ditampilkan sama pada jantan dan betina. Dalam beberapa kasus, gender orang tua yang menyumbang pada alel tertentu dapat mempengaruhi bagaimana sifat diekspresikan; hal ini disebut pencetakan genomik (genomic imprinting).
Domba yang diternakkan di Oklahoma ditemukan memiliki contoh mengagumkan dari pencetakan genomik. Seekor domba bernama Solid Gold memiliki bagian belakang yang sangat besar bagi jenisnya. Pada gilirannya, Solid Gold melahirkan domba lain, yang juga punya pantat sangat besar. Anaknya dinamai Callipyge, yang berarti “pantat indah” dalam bahasa Yunani.
Ternyata ada enam gen yang mempengaruhi ukuran pantat domba. Ketika peternak mengawinkan domba Callipyge, semakin jelas kalau sifat ini tidak mematuhi aturan Mendel. Pada akhirnya, para peneliti menemukan kalau fenotipe pantat besar hanya dihasilkan ketika sang ayah menurunkan sifat tersebut. Domba Callipyge tidak dapat menurunkan pantat besarnya pada keturunannya.
Alasan dibalik pencetakan genomik masih belum jelas. Dalam kasus domba Callipyge, para ilmuwan menduga kalau ada sebuah mutasi dalam sebuah gen yang mengatur gen lainnya, namun mengapa ekspresi gen ini dikendalikan oleh kromosom ayah masih berupa misteri.
Antisipasi
Kadang sifat-sifat terlihat tumbuh lebih kuat dan mendapat lebih banyak ekspresi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Penguatan sebuah sifat yang diwariskan disebut antisipasi. Skizofrenia adalah sebuah gangguan yang sangat dapat diwariskan dan sering memiliki pola antisipasi. Ia mempengaruhi mood seseorang dan bagaimana ia melihat dirinya sendiri dan dunia. Beberapa pasien mengalami halusinasi dan delusi yang jelas yang membuat mereka memiliki keyakinan sangat kuat seperti paranoia atau grandeur. Usia kemunculan gejala skizofrenai dan penguatan gejalanya cenderung meningkat dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Alasan dibalik antisipasi dalam skizofrenia dan gangguan lainnya, seperti penyakit Huntington, mungkin pada saat replikasi, potongan berulang DNA dalam gen dengan mudah diduplikasi secara kebetulan. Karenanya, dalam generasi selanjutnya, gen tersebut sesungguhnya menjadi lebih panjang. Saat gen memanjang, pengaruhnya juga semakin kuat, membawa pada antisipasi. Dalam gangguan yang mempengaruhi otak, mutasi membawa pada protein salah bentuk. Protein salah bentuk menumpuk di sel otak, pada akhirnya menyebabkan sel-sel menjadi mati. Karena protein salah bentuk dapat membesar dalam generasi berikutnya, pengaruh itu akhirnya muncul ketika seseorang muda atau dengan bentuk penyakit lain yang lebih parah.
Pengaruh lingkungan
Sebagian besar sifat menunjukkan sedikit bukti adanya pengaruh lingkungan. Walau begitu, fenotipe yang dihasilkan beberapa gen sepenuhnya memang dikendalikan oleh lingkungan hidup organisme. Sebagai contoh, gen yang memberikan ciri kelinci Himalaya fenotipe kaki, telinga, dan ekor gelap merupakan contoh yangbagus sifat yang bervariasi dalam ekspresinya berdasarkan lingkungan hewan. Pigmen yang menghasilkan bulu gelap pada hewan manapun adalah hasil dari keberadaan enzim yang dihasilkan di seluruh tubuh hewan itu. Namun dalam kasus ini, alel yang menghasilkan pigmen bulu kelinci diekspresikan hanya pada bagian tubuh yang lebih dingin dari daerah lainnya; karenanya, kelinci Himalaya semuanya putih ketika lahir (karena mereka dijaga tetap hangat dalam rahim ibunya) namun mendapatkan hidung, telinga, dan kaki gelap ketika dewasa. Kelinci Himalaya juga berganti warna secara musiman dan menjadi lebih terang ketika musim hangat. Fenilketonuria dan gangguan metabolisme lain juga tergantung pada faktor lingkungan seperti pola makan, untuk ekspresi sifat.
Mengapa Sampai Bisa Disebut Hukum?
Alasan pertama adalah banyak generalisasi ilmiah (dalam berbagai disiplin ilmu) disebut hukum, sementara gagal memenuhi kriteria kehukuman yang kuat. Namun, dengan teori keterhukuman yang menerapkan kriteria lebih kuat beresiko menghapus semua generalisasi ini.
Sejarah genetika klasik memberikan contoh dari hukum alam yang palsu. William Bateson (1900) sangat yakin kalau akan berguna dan mungkin untuk menemukan hukum pewarisan. Keyakinan ini terutama di inspirasi oleh karya-karya Francis Galton (1889, 1897), yang merumuskan hukum regresi dan apa yang kemudian akan disebut hukum pewarisan leluhur. Namun pada saat itu juga, Bateson berkenalan dengan karya Gregor Mendel lewat Hugo de Vries (Mendel 1865/1933; de Vries 1900). Apa yang menarik adalah cara Bateson memandang hukum pewarisan. Ia mengetahui kalau hukum Galton maupun hukum Mendel (waktu itu, Bateson tidak membedakan antara hukum segregasi dan hukum pemilihan bebas) merupakan pengecualian dan memiliki penerapan yang terbatas. Namun, hal ini tidak menghalanginya untuk memberikan label ‘hukum’. Tidak pula ia mengubah pikirannya, ketika pengecualian atas hukum Mendel kemudian dilaporkan oleh para ahli biometrik yang menolak teori Mendel untuk mendukung Galton (Bateson, 1902). Dalam karya Thomas Hunt Morgan dan rekan-rekannya (Morgan et al. 1915; Morgan 1919, 1926/1928), temuan Mendel pada segregasi dan pemilihan bebas disebut hukum, bahkan bila ia disertai dengan penjelasan sistematik mengenai kegagalannya (pengkopelan, penyilangan, pewarisan berkaitan seks, kegagalan dominansi, dan seterusnya). Bahkan sekarang, buku teks genetika modern masih diawali dengan tinjauan mengenai Mendel, meski hanya sebagai pengantar di bab-bab awal saja.
Temuan Mendel jelas bukan hukum, namun manfaatnya dapat didukung dalam pendekatan pragmatis, begitu juga statusnya sebagai ‘hukum’.
Bacaan tambahan:
http://irapilgrim.mcn.org/men02.html
http://www.nhn.ou.edu/~johnson/Educa...endel-Shah.pdf
http://adsabs.harvard.edu/full/1986HisSc..24..173P
Bateson,William. 1900. “Problems of Heredity as a Subject for Horticultural Investigation.” Journal for the Royal Horticultural Society 25:54–61.
Bateson,William. 1902. Mendel’s Principles of Heredity: A Defence. London: Cambridge University Press.
Castilho, L.V. 2010. Modular Evolution: How Natural Selection Produces Biological Complexity. Cambridge University Press
de Vries, Hugo. 1900. “The Law of Segregation of Hybrids” [Das Spaltungsgesetz der Bastarde]. In The Origin of Genetics: A Mendel Source Book, ed. C. Stern and E. R. Sherwood, 107–17. San Francisco: Freeman
Galton, Francis. 1889. Natural Inheritance. London: Macmillan.
Galton, Francis. 1897. “The Average Contribution of Each Several Ancestor to the Total Heritage of the Offspring.” Proceedings of the Royal Society 61:401–13
Klug, William S., and Michael R. Cummings. 1997. Concepts of Genetics. 5th ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall
^Yup, intuisi dan logika itu memang sama pentingnya.
Btw, sedikit intermeso, saya jadi inget lomba/quiz yg dulu sering dipertandingkan untuk anak sekolah dan disiarkan TVRI. Quiz itu dinamakan, diantaranya, 'Cepat Tepat' dan 'Cerdas Tangkas'.
'Cepat' itu lebih menyentuh ke persoalan intusi, sedangkan 'Tepat' lebih dekat ke logika. 'Cerdas' itu logika, 'Tangkas' itu intuisi.
Mau secepat dan setangkas apapun tapi kalo ndak cerdas dan ndak tepat ya malah beresiko nilainya dikurangi. Demikian juga, mau secerdas dan setepat apapun tapi kalo ndak cepat dan ndak tangkas ya ndak bakalan dapat nilai krn udah keduluan lawannya.
Dan dua hal itu riil ditemui/dihadapi dlm realita se-hari2, dlm bidang apapun.
:ngopi:
---------- Post Merged at 11:53 AM ----------
Saya dah coba cari luar kepala (tanpa ada coret2) ternyata susah ::doh:: Ujung2nya malah jadi ragu sendiri jangan2 rumus 'n/(2n-1)' malah ndak berlaku untuk kasus ini krn rasio masing2 nilai sebarannya ndak merata antara (tanggal) 1 s/d 31. :cengir:Quote:
Terkait permasalah anak yang lahir tanggal 1, sebenarnya tidak perlu Matrix, ukurannya bakal sangat besar dan tidak praktis, saya sih lebih senang menggunakan Teorema Bayes biar padat.
Oke monggo dilanjut lagi artikel science nya... :)
:ngopi:
Maaf baru membaca bagian ini. Karena matrixnya masih sederhana, mestinya solusi dengan matrix di bawah lebih mudah difahami,
Spoiler for anak laki-laki Senin:
Jika menggunakan asumsi ulangan bulanan (per 30 atau 31), rasanya menjadi rumit karena sebaran bulanan tidak merata (banyak hari dalam tiap bulan tidak ajeg) belum adanya bulan Februari yang tidak mengikuti aturan khusus. Coba menggunakan ulangan tahunan (per 365 hari), jadi tanggal 1 Februari dianggap sebagai hari ke-32, tanggal 1 Maret sebagai hari ke-60, dst).
Dari matrix probabilitas untuk kasus anak laki-laki hari Senin, terlihat sebenarnya untuk kasus yang sama, tidak masalah si anak lahir hari apapun, akan memberikan nilai peluang bagi si anak perempuan yang sama. Pun dengan sebaran jika si anak laki-laki lahir tanggal 1 akan sama dengan lahir tanggal 2. Dalam matrix per 365, baris kolom antara hari ke-1 atau hari ke-21 akan sama jumlah irisannya. Jadi lebih mudah menghitungnya (meski jumlahnya banyak.
Dengan teorema Bayes pun sebenenarnya mudah, namun pembilang dan penyebutnya menjadi besar, jadi silahkan coba hitung sendiri.
Masalah baru muncul kalau menyertakan syarat kabisat. Karena untuk kabisat terjadi 4 tahun sekali, dengan cara matrix, harus dibuat ukuran (4x365)+1. Tetapi aturan ini harus mempertimbangkan aturan kabisat lain: masalah tahun abad. Meski dasarnya setiap tahun bisa menjadi kabisat untuk bilangan yang dapat dibagi 4, tetapi tahun abad seperti 1400 atau 1900 bukan kabisat karena tidak habis dibagi 400. jadi, untuk penyelesaian sederhana, ada dua alternatif: 1. memisahkan antara tahun biasa (365) dengan tahun kabisat (366); 2. Memberi batasan tahun lahir dua anak sehingga aturan kabisat abad bisa dihindari. Dua solusi ini akan memberikan angka pembilang dan penyebut yang besar. jadi saya serahkan untuk pembuat soal untuk menyelesaikannya kembali.
Ukuran Matahari
Dari planet Bumi, ukuran matahari terlihat sebesar (kurang lebih) sebesar ukuran koin. Lalu, jika kita hidup di Merkurius, apakah ukuran matahari yang terlihat akan sebesar piring atau bahkan jauh lebih besar lagi karena mempertimbangkan jarak planet merkurius-matahari merupakan jarak terdekat dari sistem planet tata surya? Apa itu berarti kita tidak bisa melihat apapun di Merkurius saking silaunya? Dan bagaimana jika kita hidup di pluto? Masih kah matahari terlihat?
Gambar berikut dapat menjelaskan semua pertanyaan di atas,
Spoiler for matahari-planet:
Gambar di atas hanya mencakup ke-8 planet di tata surya saja. Maka objek Sabuk Kuiper seperti Pluto, Ceres, Eris, Makemake atau Haumea dan lain-lain tidak tercantum. Maka, untuk jawaban atas Pluto kita bisa menghitungnya berdasarkan hukum proprosi sederhana. Anggap jarak Pluto-Matahari rata-rata 5.91 milyar km atau sekitar 39x jarak Bumi-Matahari. Pada jarak sejauh itu, artinya ukuran matahari yang dilihat dari Pluto akan 1/39 (atau 0.026) ukuran matahari yang tampak dari Bumi. Pada jarak seperti ini, matahari akan tampak tak jauh beda dengan bintang lainnya. Namun demikian, tingkat kecemerlangannya masih cukup kuat untuk membuat mata perih jika melihatnya langsung.
Dan satu hal yang harus diingat, bentuk orbit Pluto sangat elips, jadi dalam perjalanannya mengelilingi matahari, Pluto dapat mendekat ke matahari lebih dekat daripada Neptunus sendiri (pada jarak 4.4 milyar km) dan saat terjauh mencapai 7.29 milyar km. Kejadian lebih dekat dari Neptunus ini terjadi setiap 20 tahun dari 247.68 tahun orbit Pluto.
bacaan tambahan:
http://www.dearastronomer.com/2012/0...other-planets/
http://www.universetoday.com/66505/h...#ixzz2bgLxNGOV
http://tinyurl.com/plutosclassification-fqtq-fb
http://tinyurl.com/lg8wn6u
http://tinyurl.com/mbtdhzq
Kalo pake 'teorema mistik' (dlm dunia togel kata 'mistik' diartikan sbg 'teknik utak-atik angka') cara praktisnya per-tama2 pake 'telepati' (baca: membayangkan) peluang muncul dua2nya laki2 (LL). Maka dgn cepat/segera akan ketemu nilai 13 yg didapatkan dari 7 (total peluang Senin-Minggu) ditambah 6 (sisanya berupa total peluang Senin-Minggu dikurangi 1 dari yg sudah muncul).Quote:
Pada matrix terlihat ada 27 kemungkinan cara (kuning+biru). Karena yang ditanyakan adalah peluang untuk anak perempuan, jadi jumlahnya hanya ada 14 (kuning). Maka peluang anak perempuan Pak Agus ada 14/27 orang.
Dengan teorema Bayes, misal X anak laki-laki, Y anak perempuan, L anak laki-laki hari Senin, dan P (L|YY) = 0 karena harus ada minimal satu anak laki-laki.
P(XX|L) = P(L|XX) * P(LL) / P(L) = 13/49 * 1/3 * 49/9 = 13/27
Maka peluang anak perempuan menjadi: 1 - 13/27 = 14/27
Langkah kedua adalah 'menebak' nilai total kemungkinan cara dan secara 'intuitif' saya dapatkan nilai 28 (hasil dari 2x14). ;D
Maka peluang anak laki2 = 13/28 dan perempuan menjadi: 1 - 13/28 = 15/28
Itulah 'teknik' yg saya pake pada jawaban pertama (15/28) dan ternyata 'tebakan intuitif' saya (total kemungkinan cara = 28) ternyata meleset 'dikit' alias 'beda2 tipis'. :)) *ngeles*
Menurutku ndak bisa pake pendekatan tsb. CMIIW.Quote:
Coba menggunakan ulangan tahunan (per 365 hari), jadi tanggal 1 Februari dianggap sebagai hari ke-32, tanggal 1 Maret sebagai hari ke-60, dst).
Ini disebabkan karena...
Betul, tapi itu ndak berlaku untuk tgl 29,30,31. Sebaran peluang untuk tgl 1-28 memang sama yaitu 12 (kali) scr tahunan, tapi berbeda untuk tgl 29-31 apalagi kalo 'anomali' kabisat ikut diperhitungkan.Quote:
Pun dengan sebaran jika si anak laki-laki lahir tanggal 1 akan sama dengan lahir tanggal 2.
Tapi ntar kapan2 aja ya... :cengir:Quote:
jadi saya serahkan untuk pembuat soal untuk menyelesaikannya kembali.
:ngopi:
Mumpung luang saya coba jawab 'semampu' saya... :cengir:
Setelah saya hitung pake 'teorema mistik' alias utak-atik angka tanpa menggunakan teorema2 matematika yang baku (suwer saya ndak menguasai krn memang hanya belajar matematika sampe tingkat SMA), maka saya dapatkan...:
n = 96 / (28/31 + 16/30 + 3/28 + 1/29)
Lalu dg bantuan kalkulator di HP maka ketemu 'n = 60,82937987'
Dan berdasarkan 'rumus' yg sudah saya sampaikan sebelumnya yaitu 'n/2n-1', plus bantuan kalkulator, maka jawabannya adalah: 0,50414392
Mungkin jawaban tsb bisa 'diuji' dgn membandingkannya dgn jawaban2 yg didapatkan melalui perhitungan dgn metode2 baku dlm matematika (matriks peluang, teorema Bayes, metode Markov Chain, dll).
Note: Jawaban diatas saya dapat dgn mengesampingkan faktor 'abad kabisat' dgn asumsi jarak lahir antara kakak-adik ndak mungkin ratusan tahun.
:ngopi:
Kalau mengesampingkan faktor abad kabisat (seperti syarat yang saya cantumkan di atas, dg asumsi, antara jeda lahir si adik-kakak tidak melewati tahun kabisat abad (misal si kakak tidak lahir tahun 1890an sehingga ketika adik lahir tidak melewati tahun 1900), perhitungannya bisa dilakukan:
Misal, X = anak laki-laki lahir tanggal 1, Y = anak laki-laki, Z = anak perempuan.
Spoiler for Bayes's Theorema:
Berapa Berat Warna Hijau?
Anda pasti menganggapnya sebagai lelucon, atau sebuah gejala dari penyakit Synesthesia (sebuah gejala dimana otak mempersepsikan sebuah respons indra dan mempersepsikannya sebagai respons indra lainnya, seperti ketika melihat warna biru sebagai rasa manis).
Tapi warna dan berat adalah hal lain. Dalam pelajaran IPA di SD kita sudah diajari bahwa warna adalah gelombang cahaya yang tidak diserap benda. Daun berwarna hijau karena menyerap semua gelombang warna lain dan memantulkan warna hijau dan memantulkannya ke mata, otak yang merespon mencitrakannya sebagai hijau. Jadi, bagaimana mungkin warna bisa memiliki berat?
Dalam topik terdahulu mengenai warna merah muda yang ternyata bukan warna dalam arti sesungguhnya, dijelaskan bahwa warna adalah bagian dari radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik ini adalah nama lain dari “cahaya”. Cahaya diidentifikasi oleh panjang gelombang. Warna-warna yang tampak oleh mata adalah cahaya dengan panjang gelombang antara 400 nm dan 700 nm (1 nm = 1 nanometer = 10-9 m.)
Cahaya yang di luar daerah 400 nm – 700 nm juga memiliki warna, hanya saja mata kita tidak dapat melihatnya. Warna disebut juga cahaya tampak (visible light), sedangkan yang di luar itu disebut cahaya taktampak (invisible light). Sinar infrared (panjang gelombang sekitar 1000 nm) dan sinar X (sekitar 1 nm) adalah contoh cahaya taktampak.
Sudah disebutkan tadi bahwa identifikasi radiasi elektromagnetik adalah panjang gelombang. Dengan kata lain, panjang gelombang adalah karakteristik, atau identitas, radiasi elektromagnetik. Warna biru, misalnya, memiliki panjang gelombang pada daerah 460 nm. Jika sebuah radiasi elektromagnetik memiliki panjang gelombang 700 nm, maka itu pasti bukan biru, melainkan merah. Satu panjang gelombang identik dengan satu jenis warna. Ini mirip dengan sidik jari pada manusia yang unik.
Sesuatu yang diindetifikasi oleh panjang gelombang disebut “gelombang”. Oleh sebab itu, radiasi elektromagnetik dapat juga dikatakan “gelombang elektromagnetik”.
Sebagai catatan, identifikasi, atau identitas, atau karakteristik dalam fisika adalah besaran fisis yang menjadi identitas dari sebuah objek. Lagi-lagi, ini mirip sidik jari pada manusia.
Selain panjang gelombang, besaran fisis yang dapat menjadi identitas adalah massa. Jika panjang gelombang adalah identitas dari gelombang, maka massa adalah identitas dari partikel. Elektron, misalnya, memiliki massa 9.11 x 10-31 kg. Jika ada sebuah partikel dengan massa 9.11 x 10-30 kg, maka sudah pasti bukan elektron meskipun muatannya sama. Jadi, massa pada partikel adalah seperti sidik jari pada manusia.
Catatan lagi, massa sebagai identitas partikel hanya berlaku pada partikel dasar seperti elektron dan quark. Pada materi kompleks, yaitu materi yang disusun oleh sejumlah partikel dasar seperti atom, molekul, serta tubuh kita, butuh sejumlah besaran fisis lain untuk mengidentifikasikannya. Misalnya atom, bersama massa atom, konfigurasi elektron yang tersusun dalam atom tersebut menjadi identitas atom tersebut.
Jadi, fisika memandang hanya ada dua objek di alam semesta ini, yaitu gelombang dan partikel. Segala sesuatu yang diidentifikasikan oleh panjang gelombang masuk kategori objek gelombang. Sedangkan yang diidentifikasikan oleh massa masuk kategori partikel.
Namun, ini tidak berarti sebuah partikel tidak punya panjang gelombang. Sebaliknya tidak berarti sebuah gelombang tidak punya massa. Ada relasi antara identitas gelombang dan identitas partikel dan relasi ini diusulkan oleh Louis de Broglie, seorang fisikawan Prancis dan peraih Nobel Fisika tahun 1929.
Menurut de Broglie, sebuah partikel juga memiliki identitas panjang gelombang, dan, sebuah gelombang juga memiliki identitas massa. Kedua besaran identitas ini disetarakan dalam sebuah persamaan
λ = h/mv
dengan λ adalah panjang gelombang (m), h konstanta planck (6.62 x 10-34 m2.kg/s), m massa (kg) dan v kecepatan (m/s).
Relasi panjang gelombang—massa ini disebut hipotesis “dualisme gelombang—partikel” de Broglie.
Kita sekarang bisa hitung berapa massa warna hijau. Katakanlah warna hijau itu memiliki panjang gelombang 500 nm. Karena warna adalah cahaya, maka dia bergerak dengan kelakuan cahaya, v = 3 x 108 m/s. Masukkan semua angka-angka yang dibutuhkan ke dalam persamaan itu, maka kita dapatkan m = 4.413 x 10-36 kg. Jadi, massa warna biru adalah 4.413 x 10-36 kg, sebuah massa yang teramat kecil… nyaris nol.
Jadi, warna dapat memiliki massa. Namun "warna" yang dimaksud bukan sebagai warna hasil dari persepsi otak atas gelombang cahaya yang diterima retina, tetapi warna sebagai gelombang spektrum gelombang elektromagnetik.
bacaan tambahan
http://scienceblogs.com/mixingmemory...e-than-blue-1/
http://math.ucr.edu/home/baez/physic...oton_mass.html
http://www.desy.de/user/projects/Phy...ight_mass.html
^
Jawaban saya sebelumnya yg bernilai 0,50414392 saya buat sudah dgn memperhitungkan faktor 'tahun kabisat' (siklus 4 tahunan).
Kalo ingin ditambah dgn memperhitungkan faktor 'abad kabisat' (anomali dlm siklus 400 tahunan) maka jawabannya adalah:
(9600 / (2800/31 + 1600/30 + 303/28 + 97/29)) / (2 x (9600 / (2800/31 + 1600/30 + 303/28 + 97/29)) - 1)
Note: Maaf kalo angka jawaban diatas belum saya sederhanakan soale saya ndak sedang didepan kompie jadinya ribet kalo cuman pake bantuan kalkulator HP.
Artinya, jawaban diatas lebih (paling?) akurat krn sudah memperhitungkan semua faktor kemungkinan (probabilities) yg ada.
Mestinya, setidaknya saya sangat yakin, hasil tsb akan tepat sama persis dgn angka jawaban yg dihasilkan melalui teorema2 baku yg dikenal dlm ilmu matematika (salah satunya misalnya 'teorema Bayes' yg sudah anda contohkan). Mungkin bung Uploader bisa coba menguji (membandingkan) hasilnya.
Saya sendiri ndak tahu metode yg saya gunakan diatas disebut (teorema) apa. Teorema Mistik? Teorema 234? ;D
Tapi kalo boleh memberi nama sih saya prefer untuk tidak menyebut metode yg saya gunakan tsb sbg (sebuah) teorema. Saya lebih suka menamakannya sbg 'Mistik 234' ;D soale metode tsb mungkin ndak layak masuk dlm "Jurnal Ilmiah (Matematika)" tapi mungkin lebih cocok dimasukkan dlm "Buku Primbon". :))
:ngopi:
---------- Post Merged at 10:35 AM ----------
Sik...sik...sebentar. :mikir:
Bagaimana dgn faktor tahun kabisat? Bagaimana dgn 1894 dan 1898? Bukankah keduanya kabisat dan tidak melewati 1900? CMIIW.Quote:
Kalau mengesampingkan faktor abad kabisat (seperti syarat yang saya cantumkan di atas, dg asumsi, antara jeda lahir si adik-kakak tidak melewati tahun kabisat abad (misal si kakak tidak lahir tahun 1890an sehingga ketika adik lahir tidak melewati tahun 1900), perhitungannya bisa dilakukan:
Masalahnya ketika saya baca penjelasan jawaban berikut:
Saya tidak menemukan munculnya angka 366 (jumlah hari dalam tahun kabisat) dlm penjelasan tsb.Quote:
P(X|YY) = 12/365 * 12/365 + 12/365 * 353/365 + 12/365 * 353/365 = 8616/3652
P(YZ) = P(ZY) = 12/365
P(ZZ) = 0
P(YY)= P(YZ) = P(ZY) = P(ZZ) = ¼
P(X) = (8616/3652 +12/365 + 12 /365 + 0)*1/4 = 0.03260649
P(YY|X) = (PX|YY)*P(YY)/P(X) = 8616/3652 * ¼ / 0.03261= 0.49585635,
P(YZ|X) = P(ZY|X) = 1 - P(YY|X) = 1 - 0.49585635 = 0.50414365
Sekali lagi CMIIW. ::maap::
:ngopi:
saya sudah menuliskan catatan tambahan di bawah perhitungan di atas,
Pendekatan saya untuk solusi "tanggal 1" adalah menganggap bahwa peluang "tanggal 1" akan sama besarnya dengan tanggal "14" atau tanggal "31" jika "kelipatan 30" atau "keliapatan 28" atau "kelipatan 31" dihilangkan dengan menggapnya sebagai kemunculan bilangan biasa di dalam himpunan deret angka yang berjumlah 365 itu. Konsekuensinya, penyebut dan pembilang menjadi besar angkanya (kelipatan 365). Jadi perhitungan saya di atas hanya untuk siklus tahunan normal untuk mempermudah hitungan. Karena itu saya menambahkan catatan di bawah perhitungan, kalau ingin menggunakan kabisat, prinsipnya sama saja dengan tahunan normal, kecuali kelipatan yang digunakan tidak lagi 365 lagi, tetapi menjadi (365x4)+1 alias 1461 hari.Quote:
Dengan cara yang sama, bisa dicari dengan menambahkan asumsi tahun kabisat. Perhitungan menggunakan wolfram alpha memberikan hasil yang tidak berbeda jauh perbedaannya.
Jadi, saya hanya memberi contoh untuk perhitungan normal tahunan yang '365' saja, bukan yang 4 tahunan dan saya menyarankan menghitung sendiri demi keakuratan (yg mestinya tidak terlalu jauh). Kalau saya hitung dengan per 1461 itu dengan kalkulator telpon genggam saya, keluarnya angka 0.504140786 (saya tadinya tadinya tidak mengeluarkan angka ini karena males menghitung angka besar dengan kalkulator biasa saja).
Dan, itu salah satu pendekatan saya saja yang kebetulan menggunakan bayes's theorem (teorema ini sendiri bisa diterapkan pada asumsi apa saja) hanya saja saya menggunakan dg asumsi per 365-an itu sehingga terkesan panjang hitungannya. Anda bisa melakukan berbagai metode pendekatan lainnya tentu saja.
Melengkapi tulisan saya yg berikut ini...:
Kalo saya pakai angka presisi yg lebih tinggi (digit dibelakang komanya lebih banyak) maka hasilnya adalah: 0,504143917947433Quote:
Originally Posted by 234
000000000000000
Itu sudah dengan memperhitungkan faktor 'tahun kabisat' tapi masih mengesampingkan faktor 'abad kabisat'.
Lalu nilai jawaban yg berikut ini:
Setelah saya hitung dgn bantuan PC maka hasilnya adalah: 0,504144015761911Quote:
Originally Posted by 234
000000000000000
Itu sudah dengan memperhitungkan faktor 'tahun kabisat' maupun faktor 'abad kabisat' dus artinya hasilnya relatif 'akurat'. Saya sebut relatif karena mungkin masih ada 'faktor2 lain' yg luput dari pengamatan/pengetahuan saya.
Kalo kita cermati dari dua nilai diatas ternyata margin penyimpangannya (relatif) sangat kecil yaitu 0,000000097814477850732800000000
***
Quote:
Originally Posted by Uploader
Ok sekarang saya paham. Maaf kalo sebelumnya bagian itu terlewatkan oleh saya.Quote:
Originally Posted by Uploader
Yang saya masih belum begitu memahami...:
Sebagai sebuah 'pendekatan' itu sah2 aja. Masalahnya menurut saya, CMIIW, 'asumsi (anggapan)' yg anda ambil tsb "salah" (kurang tepat). Menurut saya, (tanggal) 1 s/d 28 itu tidak bisa diberlakukan sama dengan (tanggal) 29, 30 dan 31 karena (rasio) peluangnya ber-beda2.Quote:
Originally Posted by Uploader
Sehingga nilai hasil yg berikut ini...
...margin penyimpangannya menjadi (relatif) lebih besar krn berangkat dari sebuah asumsi yg "salah", meskipun hasil akhirnya mendekati.Quote:
Originally Posted by Uploader
Berdasarkan uraian saya diatas, disini menurut saya ada dua kemungkinan...:Quote:
Originally Posted by Uploader
Pertama, mungkin 'teorema Bayes' tidak bisa digunakan (bukan berarti teorema tsb salah lho) untuk menyelesaikan kasus diatas. Mungkin teorema tsb hanya bisa diaplikasikan untuk data sampel yg masing2 memiliki sebaran peluang yang merata seperti misalnya 'jenis kelamin' (selalu 2, dgn asumsi yg AC/DC ndak termasuk lho), 'jumlah hari dalam seminggu' (selalu 7), dst. Itu berbeda dgn kasus 'jumlah tanggal dalam sebulan' yg tidak merata.
Atau, kemungkinan kedua, asumsi yg dipakai untuk menyelesaikan kasus diatas adalah "salah".
:ngopi:
Mohon maaf, akhir-akhir ini kegiatan sangat padat merayap, penyusunan laporan, kepanitiaan pentas seni, dan lain-lain. Jadi tulisan-tulisannya tertunda.
Di artikel-artikel terdahulu, disebutkan mengenai “hukum” tertentu namun tidak memenuhi standar definisi kehukuman ilmiah yang ketat, atau mengenai teori-teori yang lahir, berkembang, dan tumbang. Sebelum melangkah jauh, ada baiknya membahas kembali ke bagian paling dasar: definisi hipotesis, teori, dan hukum dalam pengertian ilmiah.
Hipotesis, Teori, dan Hukum
Meski secara garis besar ketiganya memiliki perbedaan yang jelas dan tegas, namun dalam pengunaannya kebanyakan orang merasa rancu, apalagi ketika diterapkan pada konteks kalimat populer yang sering disalahgunakan seperti, “hanya teori saja”, atau konsep yang bisa diterapkan pada dua istilah sekaligus. Gravitasi misalnya, Teori Gravitasi dan Hukum Gravitasi sama-sama ada dan digunakan dalam dunia sains. Di lain pihak, banyak hipotesis yang secara keliru disebut teori demi klaim padahal belum memenuhi standar yang berlaku, terutama untuk bidang-bidang yang masuk ranah pseudosains. Lalu, apa perbedaan antara hipotesis, teori, dan hukum?
Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan masuk akal yang didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki atau berdasarkan pengamatan untuk menjelaskan suatu fenomena. Sepanjang waktu, hipotesis bisa dibuktikan atau tidak dapat buktikan. Pembuktiannya pun bisa menghasilkan bukti positif (yang mendukung kebenaran hipotesis) atau malah bukti negatif (yang malah bertentangan dengan hipotesis itu sendiri).
Hipotesis memainkan peranan amat penting dalam metode ilmiah dimana Anda mesti menyusun pertanyaan terhadap fenomena, menyusun hipotesis/dugaan, membuat prediksi yang dapat diuji, melakukan pengujian, lalu menganalisis data.
Jadi, sebelum sebuah hipotesis diterima di lingkungan ilmiah sebagai sebuah kebenaran, hipotesis perlu diuji dan diuji kembali berkali-kali sehingga konsisten dengan pernyataan hipotesis tersebut.
Contoh: Keranjang sampah di depan teras selalu berantakan seperti diacak-acak di pagi hari saat Anda mau berangkat kerja. Anda membuat dugaan, kalau yang mengacak-acak itu kucing tetangga sebelah. Sebelum mengeluh kepada tetangga Anda, Anda harus melakukan pengujian, yang bisa saja mendukung atau malah menolak dugaan Anda tersebut. Dan tentu saja Anda harus melakukan pengamatan dan pengujian berkali-kali, karena mungkin saja bukan hanya kucing tetangga saja yang terlibat.
Teori
http://www.fromquarkstoquasars.com/w...teinNewton.jpg
Sebuah teori ilmiah mengandung satu atau lebih hipotesis yang didukung oleh pengujian berulang. Kekonsistenan dugaan ini, membuat sebuah teori menjadi salah satu puncak sains, dan diterima di kalangan ilmiah sebagai sebuah kebenaran. Untuk menjaga agar tetap menjadi sebuah teori, dugaan-dugaan yang digunakan harus tidak boleh terbukti keliru, jika terbukti keliru maka teori tersebut menjadi salah. Dan hal ini sering terjadi. Selain tergantikan, teori juga bisa berkembang. Artinya sebuah teori lama tidak salah, namun belum lengkap. Contoh terbaik mengenai hal ini bisa dilihat pada Teori Atom. Teori Atom Dalton yang menjadi teori ilmiah pertama mengenai eksistensi atom terbukti keliru karena menurutnya atom merupakan bagian paling kecil yang tak dapat dibagi lagi. Namun, tidak berarti Teori Atom salah, pengamatan-pengamatan berikutnya menegaskan eksistensi Atom, hanya saja dasar yang digunakan Dalton tidak lengkap. Maka Teori Atom pun harus dirombak dan disusun kembali sesuai pengamatan berlaku, maka kita mengenal berbagai teori atom, mulai dari era JJ Thompson hingga era teori atom modern (standar model) saat ini.
Contoh lainnya adalah tentang gravitasi. Ketika Newton menemukan Teori Gravitasi dan menulis Hukum yang dapat menjelaskan pergerakan benda, dia tidak salah, namun dia juga tidak sepenuhnya benar. Einstein kemudian menemukan Teori Relativitas Khusus (TRK) dan Teori Relativitas Umum (TRU) yang menjadikannya sebagai teori gravitasi yang lebih lengkap. Nyatanya, penurunan rumus TRU untuk benda yang bergerak di bawah kecepatan cahaya menghasilkan persamaan Newton.
Meruntuhkan Sebuah Teori
Apa yang terjadi jika ada dua buah teori yang saling bertentangan, katakanlah teori alam semesta ajeg (Steady State Theory) dan teori pengembangan alam semesta yang meluas dan bermula (Big Bang Theory). Jelas, keduanya saling bertentangan, yang satu menyatakan alam semesta sudah ada “dari dulu” dan hingga seterusnya, yang kedua mengimplikasikan bahwa alam semesta memiliki awal.
Pada kasus ini, para astronom membuat berbagai pengamatan, hipotesis, dan prediksi yang dapat diuji sehingga dapat diputuskan, yang mana di antara dua teori saling bertentangan ini yang benar. Misal, Anda mengamati alam semesta mengembang, Anda berhipotesis bahwa alam semesta memiliki awal, Anda melakukan pengujian dengan persamaan matematika dan pengujian.
http://www.fromquarkstoquasars.com/w...e_big_bang.pngAkhirnya sebuah teori bisa mengalahkan teori lain jika perumusan dan pengamatan memberikan hasil yang mendukung satu teori itu. Dalam kasus Big Bang vs Steady State, Big Bang akhirnya diterima karena prediksinya kemudian terbukti sesuai dengan pengamatan (terutama bukti radiasi kosmik latar belakang dan pergeseran merah). Ada juga kasus di mana sebuah teori tidak lantas runtuh dan digantikan, namun digabung untuk membuat sebuah teori baru (seperti teori atom modern).
Big Bang vs Steady State
Namun, bukan berarti jika sebuah teori sudah diterima, maka dia menjadikannya sebagai sesuatu yang mutlak. Teori tersebut harus siap digempur habis-habisan melalui pengujian dan pengamatan berulang-ulang. Ketahanan teori yang melalui berbagai pengamatan dan pengujian, kemudian diterima oleh kalangan ilmiah sebagai sebuah teori yang benar. Pada banyak kasus, teori-teori yang tergantikan kemudian menjadi dasar teori baru yang lebih lengkap. Karena ada dua syarat penting untuk bisa menggantikan sebuah teori lama dengan teori baru: Teori baru harus bisa menjelaskan fenomena yang dapat dijelaskan dengan baik oleh teori lama, dan teori baru harus bisa menjelaskan fenomena baru yang tidak dapat dijelaskan oleh teori lama.
Itu sebabnya, banyak teori “lama” yang masih bisa bertahan karena teori-teori barunya belum memberikan kekonsitenan sebaik teori lama, meski teori lama tersebut belum bisa menjelaskan fenomena baru. Teori Model Standar misalnya, tidak dapat menjelaskan fenomena gravitasi pada skala subatomik, maka ada teori dawai (String Theory) yang menjelaskan fenomena gravitasi di dunia mikrokosmos. Namun teori dawai belum bisa menjelaskan dengan baik berbagai fenomena lain yang dapat dijelaskan teori model standar, maka Teori Model Standar masih bertahan.
Bahkan, nama besar seperti TRK dan TRU yang telah menjadi pijakan dasar bagi banyak teori dan persamaan lainnya (misal Hukum Hubble atau jari-jari Schwarzschild) juga bukan sebuah teori yang paripurna. Teori yang dicetuskan Einstein ini mengambil pijakan yang amat sederhana: tidak ada yang bisa bergerak secepat atau melebihi cahaya. Jika ditemukan ada yang secepat atau melebihi cahaya, TRK dan TRU serta anakan teori lainnya bisa runtuh dan menjadi mimpi buruk fisika modern saat ini (meski akan menjadi sebuah kemajuan sains yang paling mengagumkan.) Teori baru harus bisa menyusun persamaan yang lebih lengkap: bisa menjelaskan fenomena TRK dan TRU, serta bisa menjelaskan fenomena yang tidak dapat dijelaskan TRK/TRU.
Catatan khusus: untuk kasus seperti relativitas, karena persamaan matematisnya selalu berhasil kemungkinan “kesalahan” teorinya amat-amat kecil. Kalaupun saat ini TRK/TRU tidak bisa menjelaskan gravitasi di dunia mirkokosmos, maka akan sangat mungkin kalau TRK/TRU merupakan sebuah bagian kecil dari teori sains yang lebih besar dan lebih lengkap. Maka, saat ini para fisikawan sedang menggodok besar-besaran mengenai Teori Kesatuan Akbar (Grand Unification Theory), atau malah Teori Segala Hal (Theory of Everything).
Hukum
Hukum ilmiah merupakan bagian dari istilah sains yang (biasanya) singkat, sederhana, dan selalu benar. Banyak hukum-hukum sains diungkapkan dalam pernyataan tunggal. Hukum tidak bisa dibuktikan salah (itu mengapa, jumlah hukum sangat sedikit bahkan jika dibandingkan dengan teori). Hukum dapat diterima secara universal dan merupakan landasan ilmu pengetahuan.
Jika sebuah hukum pernah terbukti salah, maka semua anakan sains yang disusun atas dasar hukumnya akan menjadi salah, dan menciptakan efek domino. Beberapa contoh hukum ilmiah (kadang disebut juga sebagai hukum alam) misalnya Hukum Termodinamika, Hukum Gas Boyle, Hukum Gravitasi, dan sebagainya.
Hukum vs Teori, mana yang lebih baik?
Pada akhirnya, semuanya hanya masalah pengunaan istilahnya secara tepat. Hukum dapat berlaku sehingga menjadikan suatu fenomena terjadi pasti berdasarkan kaidah, namun bagaimana itu terjadi tidak dapat dijelaskan hukum. Sebuah teori dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa itu terjadi. Hukum gas Boyle mengharuskan gas-gas berperilaku demikian, tapi tidak menjelaskan bagaimana dan mengapa, maka teori kinetik gas dan mekanika kuantum pun bisa menjelaskannya mengapa dan bagaimana gas berperilaku demikian.
Pengunaan istilah yang tepat sangat dibutuhkan, karena mengingat penyebutan yang salah, dapat memberikan konsekuensi yang kadang fatal dan kekeliruan yang salah kaprah. Tulisan berikutnya, akan menjelaskan fenomena kekeliruan yang sering diakibatkan penyebutan yang salah kaprah ini.
Bacaan tambahan:
http://undsci.berkeley.edu/article/0...cienceworks_20
http://chemistry.about.com/od/chemis.../lawtheory.htm
http://pseudoastro.wordpress.com/200...heory-and-law/
6 Istilah Sains yang Sering Digunakan Salah Kaprah
Dalam pelajaran “sains”, kurikulum yang digunakan kebanyakan lemah dalam menjelaskan definisi awal sains itu sendiri. Dari SD hingga SMA sekalipun, definisi yang berkaitan dengan sains jarang disinggung dan dijelaskan tuntas, hanya muncul sekilas di pelajaran bahasa sehingga sering diabaikan. Belum pengaruh media yang sering menggunakan istilah tidak tepat, hasilnya kekeliruan yang bertumpuk membuat beberapa istilah menjadi salah kaprah dan melenceng dari arti sebenarnya.
Akibatnya, banyak kata atau frasa yang artinya berbeda jauh antara saat digunakan di dunia sains dan saat digunakan pada istilah populer sehari-hari. Tak heran banyak ilmuwan yang mengusulkan agar istilah yang baku diganti dengan istilah baru sehingga istilah lama yang telanjur beredar menjadi tersendiri dan terpisah dari bidang sains. Namun hal ini hanya akan memperpanjang masalah, karena bisa saja istilah baru itu kemudian disalahgunakan lagi, terutama untuk istilah-istilah sains yang dianggap bertolak belakang dengan kepercayaan.
1) Teori
Tak ada istilah ilmiah yang sering digunakan secara keliru dibandingkan kata ini. Pemerkosaan terhadap istilah ini sering digunakan untuk menyerang dan menolak teori sains. “Itu hanya sekedar teori” sering dimaknai sebagai hanya dugaan tanpa fakta kenyataan. Tak heran misalnya, kita kerap mendengar orang anti-evolusi menyerang evolusi dengan mengatakan “Ah, evolusi itu hanya teori, bukan hukum. Hanya hasil rekayasa dan dugaan Darwin. Kalau udah jadi hukum, baru evolusi benar.” Bahkan banyak kasus, ada yang tidak bisa membedakan antara hipotesis dan teori.
Teori adalah benteng terdepan sains yang membedakan sains dari bidang lain: diterima secara luas di lingkungan ilmiah sebagai sebuah kebenaran yang telah teruji melalui hasil pengamatan. Dengan kata lain, teori adalah fakta. Sebuah teori bukan ide asal-asalan dari ilmuwan yang datang secara tiba-tiba dan berlaku sesaat. Teori harus diuji berkali-kali dan lolos uji dalam percobaan ilmiah yang ketat. Dengan mengatakan sebuah teori salah dengan menunjukan sebuah eksperimen yang dianggap bertentangan namun hanya diuji sekali, tidak otomatis meruntuhkan teori tersebut. Hasil uji yang dianggap bertentangan itu harus dites juga keabsahannya, karena pada banyak kasus, percobaan yang diklaim bertentangan itu setelah diselidiki memiliki cacat dalam standar ilmiah dan percobaan. Contoh paling hangat saat Teori Relativitas Khusus Einstein ditantang dengan penemuan partikel neutrino yang lebih cepat dari cahaya. Namun penyelidikan lebih lanjut membuktikan bahwa ada elemen eksperimen pengukuran yang tidak akurat dalam percobaan neutrino tersebut. Tak hanya teorinya sendiri yang harus siap ditantang, tetapi "bukti" yang dianggap bertentangannya pun harus siap ditantang balik.
2) Model
Istilah “model” juga sering disalahfahami karena beberapa alasan. Model dalam pengertian ilmiah adalah cara mengukur fenomena alam tertentu dengan “analogi” sehingga kita dapat memahami fenomena itu lebih baik. Tiap bidang sains biasanya memiliki definisi “model” sendiri, namun ide dasarnya adalah sama.
Para ilmuwan menghabiskan jutaan jam eksperimen untuk membangun model, membandingkan dengan model lainnya, dan menyempurnakan model mereka untuk memberikan hasil seakurat mungkin. Jadi, model bukan “sampel sederhana” yang tidak cocok untuk diterapkan pada fenomena sesungguhnya. Pada saat ilmuwan menyusun model iklim, artinya mereka mengumpulkan data sebanyak mungkin dari berbagai sumber, mengolahnya, dan memperkirakan hasil pengolahan tersebut sehingga kita bisa mempelajari cara kerja atmosfer kita. Sehingga kita mendapat wawasan untuk memprediksi teka-teki kerja iklim dan kita bisa mempersiapkan konsekuensinya.
3) Skeptis
Penulis ilmiah terkemuka Michael Specter merangkum dengan amat akurat bagaimana definisi spektis seharusnya digunakan: “Jadilah skeptis. Tapi ketika Anda mendapat bukti, terimalah bukti tersebut.” Istilah skeptis sering digunakan para penolak sains arus-utama seperti penganut pseudosains/sains-semu: “skeptis vaksin”, “skeptis perubahan iklim”, “skeptis obat farmasi”, dan sebagainya. Maka, mereka sering menggunakan istilah skeptis sebagai alasan penolakan terhadap hasil eksperimen atau bukti yang mendukung sains arus-utama yang mereka tentang. Apapun hasilnya, akan dituduh sebagai “hasil konspirasi”.
Penolakan terhadap bukti-bukti yang ditunjukkan sains arus-utama, bukanlah skeptis dalam arti sesungguhnya. Para penolak ini hanyalah orang-orang penganut faham contrarianism alias penyangkalan.
Seorang skeptis sejati akan melihat semua bukti ilmiah, tanpa memilah yang dia anggap suka atau perlu saja, dan bersedia menganalisis semua fakta tanpa bias. Ketika bukti mengatakan sesuatu, seorang skeptis dapat menerima hasilnya sebelum ada bukti baru yang disajikan.
4) Signifikan
Ah, signifikan… Banyak kalimat seperti “telah terjadi peningkatan autisme yang signifikan secara statistik pada bayi yang diberikan vaksin” atau “ada bukti signifikan yang mengatakan bahwa peluruhan radioaktif tidak akurat sehingga usia Bumi tidak setua yang ditulis di buku sains”, dan hal-hal lain. Banyak sekali istilah “signifikan secara statistik” yang digunakan para penyangkal sebagai bukti untuk menentang sains arus-utama. Padahal, dalam statistik, “signifikan” tidak berarti “penting”. Secara statistik sesuatu disebut signifikan, jika tidak mungkin terjadi dalam kondisi acak. Jadi signifikan tidak selalu berarti ada dampak berarti yang tersembunyi. Pada percobaan ilmiah yang ketat, hasil yang signifikan akan bermakna banyak hal. Namun pada percobaan yang disetting buruk (seperti halnya pada percobaan-percobaan sains-semu), hasil “signifikan” di sini tidak berarti apa-apa karena semua variabel tidak dikontrol.
5) Alami dan kimiawi
Dalam media popular, alami telah menjadi kata yang menjabarkan tentang kesehatan dan vitalitas. “Obat-obatan yang beredar sangat berbahaya jika dikonsumsi karena berasal dari bahan yang tidak alami”, “ramuan alami jauh lebih baik daripada obat-obatan kimiawi buatan laboratorium”, adalah sedikit diantara kalimat-kalimat yang sering didengar dan mendiskretkan “kimiawi”.
Satu hal penting yang sering dilupakan: Tidak semua yang alami itu baik bagi Anda. Alami secara sederhana berarti “berasal dari alam”. Arsenik itu alami, tetapi mengkonsumsi arsenik dapat berakibat fatal. Terkena bisa hewan atau tanaman beracun dapat membunuh padahal mereka semua “alami”. Bahkan hal-hal “alami” yang netral seperti air dan oksigen bisa membunuh jika digunakan secara berlebihan. Mungkin sulit membayangkan ada orang yang mati karena keracunan air, tapi hal ini sering terjadi.
Bahkan dalam definisi sains-semu yang biasanya mengacu pada penggunaan pengobatan alternatif, alami tidak berarti selalu baik. Klaim dan iklan bombastis seperti obat-obatan alami dan herbal sering diselingi dengan klaim palsu atau hasil percobaan yang diselewengkan, sehingga akan membuat orang yang mengkonsumsinya mengalami komplikasi kesehatan yang serius. Bukan berarti semua pengobatan alternatif itu buruk, hanya saja kita harus waspada dan tidak terjebak dengan kampanye “alami vs kimiawi” yang diselewengkan.
6) Bahan Kimia
Pengunaan bahan kimia sering dijadikan musuh bersama dan dianggap identic dengan pengrusakan. Penambahan floride pada pasta gigi, penggunaan pupuk kimia untuk pertanian, dan hal-hal lain membuat reputasi “bahan kimia” sebagai bahan jahat. Padahal bahan kimia ada dimana-mana. Air, oksigen, nitrogen, fosfor, apapun yang Anda minum dan makan, adalah bahan kimia, dan semuanya akan membunuh Anda cepat atau lambat. Oksigen misalnya adalah zat yang membuat Anda tua, tidak menghirup oksigen akan membuat sel-sel tubuh Anda akan tetap muda. Permasalahannya, ada bahan kimia yang cepat membunuh, ada yang lambat membunuh, ada yang membunuh dalam dosis tertentu, ada juga yang masih bisa ditoleransi tubuh. Penuduhan yang membabi-buta justru membuat kita kekurangan bahan kimia yang dibutuhkan.
Sistem pendidikan yang cenderung longgar membuat pemahaman atas sains menjadi lemah sehingga menjadi gampang untuk disalahartikan bahkan diselewengkan. Hal ini diperparah oleh klaim-klaim semu yang dikobarkan oleh golongan fanatik penafsir ajaran tertentu untuk membentengi kepercayaan tertentu yang dirasa bertentangan dengan sains arus-utama. Dan sebagai hasilnya, banyak penolakan terhadap fakta-fakta ilmiah dan penyangkalan terhadap sains terjadi dimana-mana karena mereka tidak memahami dengan benar hakikat sains itu sendiri.
bacaan tambahan:
http://www.scientificamerican.com/ar...-science-words
http://www.livescience.com/3345-natu...us-claims.html
http://plato.stanford.edu/entries/models-science/
http://science.kennesaw.edu/~rmatson/3380theory.html
http://www.math.columbia.edu/~woit/wordpress/?p=5880
Apakah Dunia Ilmiah Takut terhadap Hal-hal Supernatural dan Pseudoilmiah?
Bukan sekali saja, kita mendengar tuduhan, “dunia ilmiah menolak kehadiran hal-hal mistik dan supernatural karena kemampuan sains sangat terbatas atau mereka takut meruntuhkan rumus-rumus mereka karena persamaan mereka tidak bisa menjelaskan fenomena hantu misalnya,” atau perkataan “para ilmuwan yang materialistis tidak mau kehadiran hal-hal gaib dan dimasukan ke dalam ranah ilmiah karena memang mereka ketakutan terhadap kemungkinan rontoknya ilmu-ilmu mereka,” atau para kreasionis yang mengatakan “evolusi adalah sains kering dan munafik, tak mengindahkan kemungkinan adanya penciptaan gaib, lalu hanya mengandai-andai terhadap sesuatu yang mustahil terjadi.” Tuduhan-tuduhan semacam ini semakin panjang dan memburai kemana-mana sampai-sampai banyak orang yang menentang sains dan pengajarannya karena takut menggerogoti keimanan mereka dan tak sedikit yang mengidentikan sains sebagai ajaran antituhan.
Sejarah dan formalisme sains tidak bisa dipisahkan dari ajarah filsafat positivismenya Auguste Comte. Positivisme yang diperkenalkan Comte telah merubah total kehidupan intelektual abad sembilan belas dan seterusnya dengan formalismenya yang ketat untuk memisahkan sains dari dunia metafisik dan gaib. Ajaran positivisme yang berkaitan erat dengan faham naturalisme yang menjadi dasar sains mengisyaratkan bahwa objetivitas sains harus didirikan berdasarkan fakta yang dapat diamati secara langsung, sehingga ketika ilmuwan menyusun sains, mereka berpijak pada realitas objektif.
Namun, terutama setelah era fisika kuantum lahir, naturalisme sains tidak mensyaratkan kalau hanya alam saja yang ada. Sains hanya mencatat bahwa alam adalah satu-satunya standar objektif yang kita miliki. Supernatural tidak ditinggalkan atau ditolak, hanya tidak diperhitungkan karena hal-hal supernatural tidak pernah teramati secara sah.
Sains modern tidak dalam cara apapun meninggalkan kemungkinan adanya pengaruh luar, bahkan bila itu Tuhan atau hantu. Saat bukti pengaruh luar tersebut diamati, ia akan dimasukkan. Sains tidak melibatkan apapun yang tidak memiliki bukti yang dapat di uji. Hipotesis dapat dimasukkan namun tidak pernah didukung bukanlah bagian dari sains. Walau begitu, fenomena tak teramati ini hanya dipisahkan dari pertimbangan ilmiah; tidak disingkirkan dari kehidupan seluruhnya. Masyarakat bebas menerima atau menolaknya sesuai keinginan mereka, dan sains mutlak tidak mengatakan apapun tentang subjek tersebut. Sains tidak hanya menyingkirkan penerimaan pengaruh Tuhan; ia juga menyingkirkan penolakan terhadap pengaruh Tuhan.
Evolusi, sebagai teori sains utama yang dituduh antituhan, tidak sendirian dalam naturalismenya. Semua sains, semua rekayasa teknik, dan sebagian besar penemuan manusia sama naturalistiknya. Bila kita harus membuang evolusi karena filosofi ini, maka kita harus pula membuang navigasi, metreologi, pertanian, arsitektur, percetakan, hukum, dan semua subjek untuk alasan yang sama. Rancangan cerdas mengimplikasikan naturalisme filosofis. Seperti dicatat di atas, semua sains, industri, pertanian, dan lainnya berdasarkan alam. Itu tidak menghentikan evolusionis, ilmuan lain, insinyur, pengusaha, dan petani untuk mampu melihat diluar materialisme dan menemukan spiritualitas dalam hidup mereka.
Para penyangkal tampak memerlukan bukti material objektif untuk mendukung spiritualitas mereka. Namun itu, tentu saja, membuat spiritualitas mereka naturalistik. Untuk semua keluhan mereka mengenai materialisme, penyangkal mencoba meluaskan materialisme ke bidang agama dengan menyebarkan sains yang pseudo, yang justru akan menggerogoti objetifitas keimanan mereka.
“Bukti” dari mitos-mitos yang bermunculan sepanjang sejarah tak pernah surut seiring waktu. Hal-hal supernatural dan paranormal masih terus beredar. Klaim-klaim seperti kesaksian mata melihat UFO, monster, alien, hantu, bahkan roh tokoh suci semakin semarak di tiap abadnya. Tentu saja mengusik, mengapa sains tidak bisa membuktikan fenomena-fenomena seperti ini? Apakah para ilmuwan bersekongkol dengan membutakan otak mereka terhadap teori-teori “alternative” yang bisa menjelaskan fenomena supernatural di dunia tempat tinggal kita dengan menolaknya?
Seperti ditulis di atas, sains tidak pernah menolak teori alternatif apapun terhadap penjelasan suatu fenomena selama alternative tersebut dapat diuji untuk menilai keabsahannya. Sains yang tak pernah merasa cukup dan lengkap, selalu mempertimbangkan berbagai alternatif baru di luar sains mapan, untuk menjelaskan berbagai fenomena baru yang semakin banyak dan belum terjawab. Itu sebabnya, banyak fisikawan yang kembali menguji persamaan Dinamika Newton yang Dimodifikasi untuk materi gelap/dark matter meski persamaannya sudah dinyatakan “tamat” oleh relativitasnya Einstein. Dana penelitian juga semakin bertambah setiap tahunnya untuk meneliti pengobatan alternatif yang belum terbukti kesuksesannya secara valid dibandingkan pengobatan konvensional.
Lalu bagaimana dengan fenomena supernatural? Mengapa sains seolah menutup total kemungkinan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat komunitas ilmiah dalam memandang maraknya klaim-klaim menakjubkan ini. Salah satu contoh terkenal untuk kasus ini saat salah seorang professor dari Universitas Cornell (salah satu perguruan tinggi paling prestisius di AS, anggota Ivy League), Prof. Daryl J. Bem mempublikasikan sebuah studi yang menjadi bukti tentang keberadaan kekuatan metafisik. Bagaimana reaksi komunitas ilmiah? Nyatanya, Bem tidak dikucilkan dari komunitas ilmiah, jabatan akademiknya tidak dicabut, hasil penelitiannya pun tidak diblokir dari jurnal sains. Patut dicatat bahwa hasil penelitian Bem diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Jadi, istilah “konspirasi” untuk menyingkirkan supernatural dari sains tidak terbukti.
Hasil studi Bem tersebut kemudian ditanggapi secara serius, dan tim peneliti lain melakukan pengujian ulang terhadap studi yang dilakukan Bem sebelumnya. Pengujian ulang merupakan aspek paling penting dalam metode ilmiah. Anda bebas mengeluarkan klaim apapun (baik itu untuk menolak sains mapan maupun mendukung sains mapan sekalipun), namun semua klaim itu akan divalidasi terus-terusan sehingga terlihat kekonsistenannya. Tentu saja pengujian dilakukan di bawah kondisi ilmiah yang ketat untuk meminimalisir variable tak terkontrol yang dapat menimbulkan bias. Jika peneliti lain tidak bisa mengulang hasil penelitian asli dengan metodelogi yang sama, itu artinya ada yang salah dengan studi asli.
Singkat cerita, peneliti lain tidak mendapatkan hasil yang sama dengan hasil yang didapatkan pada saat Bem melakukan studinya. Tentu saja para pendukung metafisik menggugat hasil-hasil ilmuwan (pengujian ulang dilakukan oleh tim berbeda dan berkali-kali) dengan tuduhan hasil negatif itu sengaja dibuat untuk mendikretkan kekuatan metafisik. Masalahnya, Bem dengan berjiwa besar mengucapkan selamat kepada ilmuwan lain yang membuktikan hasil studinya negatif dan mengakui bahwa dia melakukan studi dengan pengkondisian yang longgar, dan mengambil kesimpulan terlalu cepat. (Paper Bem saya cantumkan di bagian referensi tautan)
Contoh kasus yang lebih spektakuler: penemuan partikel neutrino yang dapat bergerak lebih cepat daripada cahaya.”23 September 2011, dunia sains tersentak, ilmuwan CERN mengumumkan studi bahwa mereka menyelidiki bahwa ada neutrino yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Semua orang yang faham sains sadar konsekuensi mengerikan ini: jika penemuan ini benar, sejarah sains akan jungkir balik. Semua dasar sains modern (terutama fisika elementer, kosmologi, dan kimia partikel) berpijak pada relativitas Einstein. Jika relativitas Einstein terbukti keliru, jutaan penemuan sains harus diselediki ulang, sejarah sains harus ditulis dalam lembaran baru dan berbeda. Seakan-akan kemajuan seabad fisika dan sains akan runtuh. Dunia ketar-ketir, media heboh dengan pemberitaan bombastis, “Keliru kah Einstein?”, “Lebih Cepat dari Cahaya, Neutrino Meruntuhkan Relativitas”, “Keruntuhan Fisika”, dan judul-judul bombastis lainnya.
Semua pemberitaan ini (terutama tulisan-tulisan minggu pertama), seolah mengesankan bahwa hasil penelitian neutrino tersebut sudah valid. Apa yang tidak ditulis media (atau terlupakan), adalah hasil yang didapat itu merupakan hasil satu kali percobaan dan belum dikonfirmasi.
Sebagian besar komunitas ilmiah bereaksi dengan sangat hati-hati. Relativitas adalah salah satu pilar utama sains modern, pembuktian ketidakvalidannya akan menimbulkan masalah amat besar (meski dari sudut perkembangan sains, akan menjadi kemajuan pengetahuan yang amat besar). Sejak pertama kali dirumuskan, relativitas selalu berhasil menghitung akurat fenomena berdasarkan persamaan matematikanya, bahkan relativitas menghasilkan prediksi-prediksi mencengangkan melampaui teknologi pada zamannya yang kemudian terbukti keakuratannya. Maka penelitian ulang atas neutrino itu pun dilakukan. Pada akhirnya, apapun yang menantang sains, harus siap ditantang balik juga. Pada kasus neutrino, hasil yang menyimpang terjadi karena beberapa kesalahan sederhana dalam pengukuran, bahkan termasuk adanya masalah dalam kabel peralatan.
Kasus klaim yang telanjur menyebar namun kemudian terbukti salah saat diverifikasi amat-amat banyak terjadi. Para pegiat penyebar pseudosains seperti kreasionis dan supernaturalis banyak terjebak dengan peristiwa ini, sehingga tuduhan terhadap dunia sains menjadi semakin akut.
Para ilmuwan sejatinya merupakan para petualang untuk memahami alam dengan lebih baik. Proses peer review adalah pertahanan yang amat baik untuk menghilangkan bias dan subjektifitas. Dalam sains, ada dua cara untuk membuat nama Anda termashyur: membuktikan sesuatu salah atau menemukan hal yang baru. Einstein akan selalu dikenang sebagai penemu relativitas, hal yang baru. Copernicus, Kepler, Galileo akan dikenang karena pencapaian luar biasa mereka dalam heliosentris (disamping ilmuwan-ilmuwan lain), membuktikan geosentris sebagai teori yang keliru. Maka, jika Anda dapat membuktikan evolusi sebagai teori yang salah, satu tempat dalam daftar pemenang Nobel akan Anda kuasai.
Sains tidak alergi terhadap penolakan teori lama atau pengusulan sesuatu yang baru. Sejarah sains dibentuk dari penolakan gagasan lama dan usulan gagasan baru. Yang dituntut dari sains adalah klaim-klaim Anda harus dapat dibuktikan secara objektif tanpa bias. Tanpa hal ini, klaim Anda akan terpuruk pada lembah pseudosains, secanggih apapun hasil percobaan Anda.
Mengapa sains belum atau tidak membuktikan keberadaan hal-hal paranormal? Sederhana saja, terlalu sedikit atau malah tidak ada bukti yang mendukung keberadaanya. Jika dengan memijat aura, Anda bisa menjadi sembuh dan terbukti juga untuk pasien lain, komunitas dunia medis akan berterima kasih sekali.
Dari sudut pandang keuangan, karena dana penelitian terbatas sementara banyak “ide-ide ilmiah”, maka tak peduli appaun idenya, baik itu yang normal maupun paranormal, akan dievalusi kelayakan studinya. Sejauh ini, hal-hal seperti supernatural belum memiliki bukti kuat dan bukan daerah utama untuk studi aktif karena kurangnya bukti pendukung (bukan berarti studi tersebut tidak ada, penelitian di area itu masih terus dilakukan).
Jadi, bukan karena ilmuwan menolak untuk melihat bukti, tetapi memang karena tidak ada bukti untuk bisa dilihat.
Bacaan tambahan:
http://www.examiner.com/article/proo...on-researchers
http://www.sciencebits.com/RandiPrize
http://news.discovery.com/human/psyc...mal-130115.htm
http://physics.about.com/od/physicsmtop/g/mond.htm
http://www.sfgate.com/science/articl...le-2644406.php
http://dbem.ws/FeelingFuture.pdf
http://www.news.cornell.edu/stories/...ity-see-future
http://news.discovery.com/human/psyc...ain-120912.htm
http://www.csicop.org/specialarticle...s_psi_and_crow
http://www.nytimes.com/2011/09/30/op...as30.html?_r=0
http://www.scientificamerican.com/ar...out-relativity
http://www.universetoday.com/33113/heliocentric-model/
http://www.livescience.com/7691-evid...l-improve.html