https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.n...10734756_n.jpg
Lucu juga idenya. Tapi sepertinya buat pajangan doang, bukan buat dimakan.
Printable View
https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.n...10734756_n.jpg
Lucu juga idenya. Tapi sepertinya buat pajangan doang, bukan buat dimakan.
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.n...36253601_n.jpg
Satu lagi insentif untuk jauh-jauh dari high heels. Kasihan sama kaki.
Instrukturku kemarin komentar kalau high heels membuat pemakainya terlihat tidak stabil ::elaugh::
You know what that means. Being vulnerable makes you look attractive!
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.n...16382776_n.jpg
Holding that the quotes are generally applicable, I think people need to learn how to express their negative feelings in the more understandable manners. Memang tak mudah bilang pada dunia kalau jiwa ini sedang kesulitan dan butuh bantuan. Tapi bertingkah aneh jelas tidak membantu dan mungkin menimbulkan masalah baru.
Seorang teman sungguh pemarah luar biasa, meskipun tak mempan padaku. *lebih galak :beliz:*
Tapi tabiatnya ini membuatnya dijauhi teman-teman lain secara sistematis. Dia pun sudah tahu kekurangannya dan beberapa kali bilang ingin ikut anger management therapy. Sisi lain dirinya seperti perhatian dan supportive akhirnya ditutupi oleh sifat temperamentalnya. It's too bad. Sekarang aku baru bisa relate antara kemarahannya yang tak terkendali dengan latar belakangnya. Berdasarkan ceritanya, mungkin benar dia kekurangan kasih sayang.
https://dl.dropboxusercontent.com/u/...1/box/box5.PNG
Fresh dari CNN.
Ternyata bukan cuma Malala saja yang terluka, tapi temannya juga. Sementara di belahan dunia lain orang sibuk memikirkan mau jadi apa setelah selesai sekolah, dua gadis muda ini mau sekolah saja sampe harus rela ditembak-tembak Thaliban. Eh...bentar, bukan ini topik yang mau dibahas.
Kebetulan minggu ini aku sedang ngintip sedikit tentang studi perbedaan gender, sehingga videonya jadi relevan sekali. Asia Selatan adalah wilayah terburuk buat wanita untuk belajar dan bekerja. Mungkin Thalibaners dan pendukung penindasan perempuan tidak sadar, tapi yang membuat wilayah di sana tertinggal dalam segala hal - hanya disaingi oleh negara-negara di Sub Saharan Africa - salah satunya adalah karena akses perempuan ke pendidikan dibatasi, dihalang-halangi bahkan dihabisi.
Syukurlah Indonesia punya ibu kita Kartini, Dewi Sartika dan satunya lagi entah siapa, yang sadar sejak awal bahwa wanitadijajah pria sejak duluperlu memiliki peran yang sederajat dengan pria dan hal itu hanya dapat diraih dengan sekolah. Coba kalau tidak ada, apakah kopimaya ini misalnya akan punya cipkuk perempuan? Ngomong-ngomong soal Kartini, aku kasihan juga sih. Perempuan yang berpikiran melampaui zamannya, mau sekolah tinggi akhirnya malah jadi istri kedua. Eh...topiknya belok lagi.
Oke, jadi singkatnya perempuan yang tidak/kurang terdidik akan memiliki kesadaran dan akses yang rendah terhadap kesehatan dan pendidikan generasi selanjutnya yang mengurangi kualitas sumber daya manusia. Efek lainnya dikaitkan dengan meningkatnya populasi - yang berujung pada menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi - dan juga naiknya tingkat kematian. Yang lebih spekulatif adalah akumulasi perempuan terdidik meningkatkan daya saing internasional terutama pada bidang manufaktur berorientasi ekspor, serta perempuan yang bekerja katanya lebih tahan godaan nepotisme dan korupsi.
Nah, Asia Selatan ini memang paling parah soal mendzalimi perempuan. Selain soal sekolahan, ternyata jumlah "perempuan hilang" di wilayah ini juga salah satu yang terbanyak di dunia, selain di China. Sementara China bakal kesulitan di masa depan gara-gara kebijakan satu anak yang notabene akan memihak pada anak lelaki, Asia Selatan punya kerjaan dobel yaitu mengatasi urusan "perempuan hilang" sekaligus juga meningkatkan taraf pendidikan mereka. Teh question si, maukah mereka? Budaya patriarkinya itu kental sekali. Apakah mereka mau menukarnya dengan iming-iming kemajuan taraf hidup? Kalo orang rasional ditanya begini pasti gampang milihnya. Jadi kenapa Mala dan Shaiza ditembaki? Either mereka tidak tahu konsekuensi logisnya atau memang sudah hukum alam tak semua orang rasional.
Kembali ke soal Malala dan Shaiza yang kini dapat beasiswa ke Inggris, ini adalah contoh nyata dari bekerjanya sudut pandang yang berbeda. Malala hidup dalam krisis, dan dia tahu persis pergi ke arah mana dan berjuang di sana. Valedictorian di thread sebelah juga hidup dalam krisis (impian) - dan dia tidak tahu bagaimana menanganinya. Padahal presidennya yang flamboyan sudah lama mengenali sifat krisis dari filsafat huruf China:
Dengan kata lain, keterpurukan dapat dilihat sebagai keterpurukan semata, atau dapat juga dilihat sebagai kesempatan untuk berkembang. Dua gadis muda sudah membuktikannya.HTML Code:
When written in Chinese, the word 'crisis' is composed of two characters. One represents danger and the other represents opportunity.
John F. Kennedy
Lihat slide ini secara nggak sengaja. Yang bikin dua ekonom terkenal dari MIT. Pas baca nama Pak Solhin...langsung ada feeling nggak enak.
Entah bangga atau malu, karena Indonesia dipakai sebagai study case buat course MIT tentang contoh jebakan kemiskinan.
Dalam kasus Pak Solhin, dia tidak mampu mengakumulasi nutrisi yang cukup sehingga tidak dapat bekerja lebih keras. Jika nutrisinya cukup maka dia dapat bekerja lebih keras atau lebih lama kemudian mendapatkan bayaran lebih banyak. Uang yang lebih banyak dapat diputar lagi dalam bentuk penguatan nutrisi. Jika ini terus-menerus terjadi maka akan ada surplus duit untuk akumulasi aset sehingga pada satu titik dia dapat keluar dari jebakan kemiskinan.HTML Code:Poverty trap is a mechanism which makes it very difficult for people to escape poverty.
note: masih bingung sama slidenya juga karena double feedback loop antara nutrisi dan pendapatan tidak selalu memerlukan partisipasi jebakan kemiskinan. umm...mungkin artinya hal ini juga dapat terjadi pada orang yang tidak miskin???
Kekurangan nutrisi dan kemiskinan akhirnya memisahkan keluarga ini. Dan jebakan kemiskinan terus berlanjut karena anak sulungnya putus sekolah dan bekerja jadi kuli bangunan. Tanpa pendidikan, masa depannya akan sesuram bapaknya, jika tidak lebih suram lagi. Kecuali pemerintah tanggap dalam upaya-upaya pengentasan kemiskinan. Sebenarnya ada banyak contoh kok di luar sana bagaimana cara yang efektif. Hanya jangan-jangan pemerintah terlena dengan angka pertumbuhan middle class lalu mikir ntar juga yang miskin dapat spillover effectnya. Wassalam deh kalo begitu.
https://dl.dropboxusercontent.com/u/...ox/box%206.PNG
Sesuatu banget. Setengah hari baru selesai.
Norwegian woman: I was raped in Dubai, now I face prison sentence
Well...Dubai ternyata ada juga sisi nggak enaknya ya, terutama untuk kaum perempuan. Tapi aku tidak ingin memihak dulu untuk kasus ini, apalagi baru saja diblow up.
Sebagai awalan, di US sampe tahun 80an pemerkosaan yang dilakukan orang yang dikenal - apalagi pacar - relatif tidak diperlakukan sebagai bagian dari kejahatan serius. Biasanya hanya dianggap sebagai kisah "gadis yang menyesal keesokan harinya". Di Indonesia sendiri, baru-baru ini saja ada calon hakim agung yang keselo lidah dengan nada serupa, yang menunjukkan bahwa patriarchy masih jelas terasa. Untung juga dia keseleo lidah begitu, jadi bisa langsung didrop dari pencalonan. Sehubungan dengan kasus di Dubai, tidak adanya polisi perempuan yang ikut memeriksa menggaransi bias patriarchy ini.
Hukum di UEA ketat mengatur hubungan antara lelaki dan perempuan, juga konsumsi minuman beralkohol. Beberapa wanita asing yang melaporkan diri sebagai raped victim sayangnya mesti ada keterlibatan dengan konsumsi alkohol sebelumnya. Akibatnya mereka kena dobel charge. Terlepas dari apakah kejadian itu konsensus atau paksaan, alkohol melemahkan posisi mereka. Di sini aku melihat mereka para pendatang sepertinya kurang serius belajar dengan benar pepatah "lain lubuk lain ikannya", yang aku rasa ada padanannya dalam bahasa mereka. Alkohol memang dijual untuk konsumsi expat, tapi hukum di sana entah bagaimana melarang konsumsi alkohol juga. At it best, this is questionable. Anyway, kebiasaan minum dengan resiko mabuk, lalu minta diantar rekan pria hingga ke kamar...jujur saja bisa sangat mudah disalah artikan atau dimanipulasi. Terutama di negara yang sistem patriarki masih kental begini di mana keberpihakan kepada posisi perempuan sangat lemah. Akhirnya bukan dapat keadilan malah rugi besar.
On the other hand, karena kasusnya bukan dia seorang tapi sebelumnya juga sudah ada beberapa, ketidak adilan ini bisa jadi insentif bagi para pria untuk melakukan hal yang sama saat mereka berada di Dubai. Analoginya sama seperti hakim yang membebaskan pelaku dengan alasan lelaki tersebut kena sexomnia, creepy tapi diterima oleh sistem peradilan. Besok-besok bakal ada lagi yang ngaku begitu supaya bebas.
https://dl.dropboxusercontent.com/u/...1/box/box7.JPG
Bottom line: internasionalisasi Dubai kayaknya masih separo jalan.
^
I don't get it, Tuscany.
Kejadian kayak gini nggak sekali dua kali. Berkali2 gue juga baca di CNN gimana orang2, terutama perempuan, dari negara2 dengan kondisi ipoleksosbud hankam-nya relatif 'jalan', keluyuran di negara2 yang 'questionable' dengan mindset yang percaya banget sama lingkungannya ... Apa mereka nggak dapet briefing dan training, ya, sebelum berangkat ?
Yang sudah terjadi, ya, sudah lah.
Tapi yang berikutnya mau ikut jalan ke negara2 'questionable' kayak gitu, kenapa kayak nggak belajar dari pengalaman yang sebelumnya ?
Gue setuju dengan gambar yang lu post.
Oleh karena itu, kenapa nggak be alert and prepared ?
Analogi-nya kayak kalo kita punya uang. Kalo hilang di curi/rampok salah siapa ? Ya, salah maling dan rampok, kan ? Oleh karena itu kita punya dompet yang dirante ke gesper, punya lemari besi, pasang jebakan, beli senjata, tentara pribadi, belajar self defense, etc. Sambil kita mengedukasi masyarakat dari jenjang anak2 tk bahwa ngerampok dan/atau maling itu salah... bukan begitu ?
semalam baru juga saya baca brita ini ::elaugh::
cursed:
tadinya saya juga kirain cewe ini rada ignorant dengan budaya di daerah situ
tapi di artikel katanya dia sudah bekerja dengan perusahaan di qatar sejak taon 2011 (ntah physically kerja di sana ato remotely), then asumsiku dia harusnya sudah more or else sedikit ngerti budaya region itu.
i think she was trying to do the right thing, dengan melaporkan aksi kriminal. tapi malah senjata makan tuan, apalagi seperti kata tusc, minum alkohol melemahkan posisinya.
That just the thing.
Hell, jangankan perempuan, kalo kita orang asing di negara2 tersebut, apapun gendernya, itu aja, sepengelaman gue, udah melemahkan posisi kita dalam praktek hukum mereka.
Seharusnya, kalo beneran udah ngerti situasi, dia tau kondisi ini.
Tebakan gue sih, si mbak ini, walaupun udah lama tinggal di sana, jarang bergaul langsung, dalam lingkungan yang tidak terkontrol, dengan orang lokal.
Atau, dia emang segitu disturbed-nya(ini lebih mungkin), sehingga yang terlintas pertama dalam pikiran adalah lapor sama aparat lokal. Padahal, seharusnya, lapor/minta dukungan embassy dulu, baru lapor aparat lokal. Biar ada pendampingan dari 'temen sekampung' dalam menghadapi masalah dan berurusan administrasi.
Yep, seperti yang kutulis, lain lubuk lain ikannya. Datang ke negeri asing tentunya harus paham dan beradaptasi dengan kebudayaan setempat. Maka ketika sudah ada beberapa kejadian sebelumnya, aku rada heran kok cewek ini nggak aware? Diperkosa itu bukan maunya, tapi minum alkohol sampe mabuk itu pilihannya - entah dia sadar dengan konsekuensi bakal mudah jadi target atau tidak.
Yep, dia benar dengan melapor secepatnya, karena kasus perkosaan kan butuh visum cepat. Nah ini kemudian poin yang mungkin kurang clear di post awal, yaitu bahwa aparat sana nggak punya sense of criticism terhadap kasus ini. Dimulai dari tidak adanya petugas perempuan, kemudian mestinya hasil visum bisa menunjukkan adanya paksaan kalo memang ada, tapi polisi berpegang pada pernyataan korban bahwa itu konsensus - pilihan yang konyol tapi bisa dimengerti karena orangnya panik.
Keknya dia memang tidak nyadar ada kasus2 sebelumnya maka langsung lapor, dikira sistem peradilan sama di mana-mana. Namun terlepas dari teledor dan panik, buatku jelas perlindungan terhadap perempuan sangat lemah di sana. Apa karena dia perempuan asing? Entahlah, but sometimes bad luck just happens. Sistem peradilan yang bias tidak membantu untuk mendapatkan keadilan, sayangnya.
Aku juga masih bertanya-tanya, jika kasusnya tanpa alkohol apakah prosesnya akan lebih fair. Bisa jadi petugas sana being hard to her karena minum alkohol dan konsensus dianggap terhubung satu sama lain dalam pandangan mereka, menengok kasus2 sebelumnya.
Di sana sih, nggak mabuk aja berbahaya.
Ada alasannya temen2, pas kita keluyuran di daerah sana, selalu jalan dalam kelompok dengan jumlah dan komposisi yang kita harapkan terlihat 'intimidating'.
Hell, mabuk aja di mana2 berbahaya.
Not a nation known for quick to embrace cutting-edge tech, knowledge and methods. Creativity. Nor for discipline and/or professionalism.Quote:
Yep, dia benar dengan melapor secepatnya, karena kasus perkosaan kan butuh visum cepat. ...
Both. Karena Asing, dan Perempuan. Konsumsi alkohol, menambah, tapi nggak terlalu signifikan, karena seinget gue, itu udah terkait dengan stigma Kaukasian-nya.Quote:
... Apa karena dia perempuan asing? ...
Eniwei, good news is, barusan nonton laporannya di tipi Jerman, sepertinya dia nggak terlalu 'damaged', masih koheren dan lucid, karena dia nggak sadar selama kejadian(mungkin pelakunya pake Mickey Finn ?). Dan dapet pendampingan serius dari kedutaan negaranya.
Nah, itu salah satu maxudku mengenai internasionalisasi setengah jalan.
So you said this is more about racial stereotyping? Maybe.Quote:
Both. Karena Asing, dan Perempuan. Konsumsi alkohol, menambah, tapi nggak terlalu signifikan, karena seinget gue, itu udah terkait dengan stigma Kaukasian-nya.
Eniwei, good news is, barusan nonton laporannya di tipi Jerman, sepertinya dia nggak terlalu 'damaged', masih koheren dan lucid, karena dia nggak sadar selama kejadian(mungkin pelakunya pake Mickey Finn ?). Dan dapet pendampingan serius dari kedutaan negaranya.
Masa nggak sadar? Artikel pertama yg kubaca jelas bilang
HTML Code:"I woke up with my clothes off, sleeping on my belly, and he was raping me. I tried to get off, I tried to get him off, but he pushed me back down."
http://news.yahoo.com/dubai-pardons-...093407907.html
a-ha. she is pardoned.
wonder if she would ever go back to dubai after the whole debacle ::elaugh::
pardoned itu tersiratnya dia tetap dianggap salah kan?
I bet she would never go back :cengir:
Yeah, tapi after fotonya langsung kayak lebih tua sepuluh tahun.Quote:
Originally Posted by TheCursed
Palingan dari kedutaan dia di bujuk buat cut-lose, aja.
Nggak usah ngejar lebih jauh, yang penting bisa pulang.
Semoga jadi pelajaran buat yang lain, yang pengen keluyuran ke tempat2 yang penerapan hukumnya 'questionable'.
i.e. jangan jaywalking di perbatasan korea utara-selatan, keluyuran nggak berombongan besar di pojok2 eropa, nyari recreational drugs buat dugem di amerika latin... atau Jakarta...
Terutama perempuan,... kecuali kalo build-up kayak Red She-Hulk, dan trigger-happy-moar-dakka kayak Fiona Glenanne...
Fact is, world is full with a$$holes. Negara yang hukumnya 'questionable', is a fertile hunting ground for a$$holes, and everyday is hunting season.
What ya' expect ? This kind of crime ? It breaks the soul.Quote:
Yeah, tapi after fotonya langsung kayak lebih tua sepuluh tahun.
Makanya di TvTRopes.org entry-nya di taroh dengan label 'Special Kind of Evil'.
Tapi gue liat dari wawancara-nya, ini cewek masih tetep, mentally, tough.
Bicaranya masih teratur, padahal di minta menceritakan ulang pengalamannya di media Internasional(kalo ada yang tau istilah 'Secondary Rape/Victimization').
Gue pribadi nggak yakin bisa se'gagah' itu kalo mengalami hal yang sama.
What ? Jaman sekarang, cowok juga bisa di perkosa....
Kamu lagi nasehatin siapa sih? Keknya kok ada yang dituju ::elaugh::
Iya mendingan pulang, terapi, move on. Baru abis itu nyusun skenario balas dendam ...loh :cengir:
nggak expect apa2, cuma mengobservasi aja before afternya. Kita kan nggak persis tau beneran apa nggak itu paksaan atau konsensus, tapi kecuali dia aktris hebat, maka beda before afternya cukup meyakinkan saya bahwa dia memang korban. note: saya nggak nonton tivi jadi cuma bisa menilai berdasarkan materi di internet.Quote:
What ya' expect ? This kind of crime ? It breaks the soul.
Makanya di TvTRopes.org entry-nya di taroh dengan label 'Special Kind of Evil'.
Yang protes siapa sih?Quote:
Gue pribadi nggak yakin bisa se'gagah' itu kalo mengalami hal yang sama.
What ? Jaman sekarang, cowok juga bisa di perkosa....
*tengok kiri kanan
Yah, jangankan Dubai yg kota internasional, nah di indonesia aja masih sering menyalahkan korban pemerkosaan. Dia masih enak, pulang ke negaranya masih dibela sama orang2 di negaranya. Di indonesia bahkan emak bapaknya bisa nyalahin korban
---------- Post Merged at 04:13 AM ----------
Gw lg suka nonton serial fatmagul yg sinetron dari turki. Kisah gadis yg abis diperkosa sekelompok anak orang kaya. Ga ada yg ngebelain dia, bahkan tunangan dan keluarganya ikut2 nyalahin dia dan masyarakat justru kasihan sama si tunangan yg bakalan dapet cewek "bekas" bahkan mpe terusir dari kampungnya. Padahal dia diperkosa gegara tengah malam nekad ke pelabuhan buat melepas tunangannya yg mau melaut. Betapa ga adil kan? Tapi memang masih banyak tempat di dunia ini yg menyalahkan korban pemerkosaan
iya bund, bias patriarki masih ada di Indonesia juga. Maka saya bersyukur calon hakim agungnya keselo lidah waktu itu. Kalo sampe dia jadi hakim agung, bakal kasian banget nasib kaum perempuan. Makanya juga perempuan perlu didorong lebih aktif di parlemen supaya dapat memperjuangkan berbagai isu keperempuanan. Cuma harapan saya kalo berlatar artis ya seperti Nurul Arifin jangan Vena Melinda.
Paling enggak di Indonesia udah ada Komnas Perempuan. kisah wartawati tivi yang digembar-gemborkan penyidik padahal belum ada kesimpulan final itu juga masuk bias patriarki. polisi lelaki ndak sensitif, terlepas dari urusan si wartawati selingkuh atau nggak. Setelah Komnas Perempuan turun tangan baru pemberitaannya reda.
Pure 100% ranting, aja. Bener2 nggak nasehatin siapa2.
Kejadian ini bener2 bikin gue ngerasa di back-stab dua kali. Apalagi kalo baca diskusi di forum2 luar.
Pertama karena gue cowok, langsung di plang "ah, cowok, pendukung mysoginy, musuh perempuan"(bikin komen gue sola 'cowok juga bisa jadi target' muncul). Terus karena kejadiannya di negara yang meng-klaim dirinya negara Islam; kepercayaan gue jadi target serangan berikutnya.
Dan gue nggak tau mau bela diri pake apa, karena fakta lapangan(yang paling ngetop) adanya kayak gitu.
Semua argumen yang ajukan jadi terdengar kopong. Bahkan di telinga dan mata gue sendiri.
Padahal, gue cuma bayangin kalo yang ngalamin itu entah anak, istri, adek, ibu, nenek, sepupu gue...
Suffice to say, if something like that happened, naudzubillahi min dzalik... My clan. We have ways to make the culprit beg for death before the end. Not justice, just cold-blooded vengeance.
terus dari diskusi di luar terlintas juga di kepala gue, betapa naif, kerap kali, frame berfikir profil orang2 yang bisa jadi korban.
Maksud gue, banyak yang ngamuk2 "Cowok dong kendaliin otong-nya ?!"... well, yeah, it sounds good in theory. Tapi faktanya, selama manusia masih ada, ba$tardry itu nggak bisa di hindari karena itu bagian dari nature kita. Humanity is a ba$tard.
So, yang terlintas di kepala gue, solusi prakstis dan cepat-nya apa ?
Suddenly it hits me: Berhubung yang kita hadapi ini adalah predator, maaf, hewan. Kita handle kayak hewan juga.
Kayak Meerkat, misalnya, selalu alert, berusaha berada dalam lingkungan yang terkendali(these little guys, bahkan punya unit sentry/spotters), kenali dan hindari situasi yang beresiko tinggi, rencanakan escape-strategy accordingly. Yang memunculkan komen gue soal 'jaywalking di perbatasan north-korea'. Actually, kontingen dari Turki, waktu gue liat mereka naik haji atau umroh, make strategy kayak gini. Selalu muncul bergerombol, ada beberapa orang yang selalu liat kiri-kanan, yang keliatannya bisa jadi target mudah di taroh di tengah rombongan.
Atau kayak skunk dan platypus, yang selalu bawa easy-to-reach self-defense tools. Nggak ada salahnya bawa barang2 kayak zapper, papermace, atau push-dagger. Nggak perlu beli, tinggal buka youtube, bisa DIY, kok.
Atau, kalo ngotot juga, "Kenapa harus kita yang ngalah ?! Suka2 gue dong mau kemana/ngapain aja !"... well, kalo gitu prepare yourself kayak Gajah dan Badak, intimidate by sheer size and muscles(itupun nggak lolos dari pemburu gading/cula. Humans. Ba$tard.), atau Wolverine dan Tazmanian Devil(dua2nya yang hewan, bukan tokoh fiksi) yang secara natural ax-crazy sampe makhluk lain males deket2 mereka(wolverine, segede kucing gemuk, di ketahui bisa ngebantai seekor moose, segede kerbau, dengan modal nekat), atau kayak Kura2 Aldabra, yang armored enough 24/7. Yang berujung ke komen gue soal Red She-Hulk dan Fiona. Yang satu huge and all-muscles, yang lain armed down to the panties with huge calibers. Both ax-crazy.
So, now, capische ?
Iye pak, got it. Cuma semoga smiley saya yang diujung itu juga dibaca.
*kagak nyangka bakal dijawab sepanjang ini
Speaking of safety tools, dulu saya pernah diajarin sama instruktur self defense buat pegang kunci jika merasa nggak aman. It's very handy and could be destructive at the same time. Cukup buat ngasi shock beberapa saat dan merencanakan escape dalam situasi umum.
Sorry. Soalnya beberapa waktu lalu gue dalam diskusi juga di kasi smiley, yang ternyata tujuannya lebih sarcasm ketimbang beneran ketawa.
So, untuk hal2 serius kayak gini, gue jadi selalu pasang mind-set serius aja, biar aman.
Dan seprti gue bilang, beneran ranting.
Yeah, itu bisa. Prinsipnya jadi sama dengan push-dagger.Quote:
Speaking of safety tools, dulu saya pernah diajarin sama instruktur self defense buat pegang kunci jika merasa nggak aman. It's very handy and could be destructive at the same time. Cukup buat ngasi shock beberapa saat dan merencanakan escape dalam situasi umum.
Aku pernah dengar selintas bahwa bertambahnya jumlah gerai McD di suatu negara sekarang dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan kualitas makanan, lanjut ke pengaruhnya terhadap pertambahan pengeluaran di bidang kesehatan. Secara umum convenient food tinggi kalori dan rendah nutrisi. Masyarakat kelas bawah di negara maju sangat tertolong dengan makanan ini karena terjangkau bagi mereka, sedangkan di negara berkembang tumbuh sebagai lifestyle berkat gedoran iklan bertubi-tubi.
Sudah lama era itu berlalu, di mana rumah di perkotaan memiliki cukup lahan di kebun belakang atau depan atau samping, ditanami berbagai jenis sayur dan pohon buah-buahan yang menjadi sumber pangan segar. Jika ada sisa tanah, biasanya langsung disemen atau ditanami pohon yang punya fungsi dekoratif saja seperti pohon palem. Akibatnya, penduduk kota - dan sekarang lebih dari separuh penduduk dunia tinggal di kota - punya ketergantungan kronis terhadap apa yang disediakan oleh pihak lain. Beruntung jika memiliki pasar tradisional di lingkungan sekitar yang masih setia berjualan produk-produk segar. Namun kebanyakan kaum urban akan datang ke supermarket sebagai bagian dari ritual belanja rutin dan memenuhi isi keranjang dengan kaleng, kotak, bungkusan plastik. Atau jika ada yang dalam bentuk mentahnya biasanya produk impor. Produk segar lokal mulai jadi barang langka.
Oleh karena itu ide tentang gerakan Urban Farming terdengar menjanjikan, walaupun bukan barang baru. Saat tak ada lagi lahan pribadi tersisa, maka alternatifnya adalah menanam produk pangan di lahan publik. Di taman umum, samping jalur pedestrian, pojok parkiran. Di US misalnya, sudah ada gerakan-gerakan sporadis inisiatif pemerintah untuk berkontribusi menahan penurunan tingkat kesehatan warganya melalui melalui program food forest, di mana pemerintah menanam berbagai jenis sayur, buah dan kacang di taman umum demi menyediakan makanan segar, gratis dan berlimpah. Atau dalam skala yang lebih kecil - dan aku suka idenya - adalah menanam labu, tomat, timun, dan lain-lain di halaman balai kota. Selesai berurusan di balai kota bisa membawa pulang melon gratis, misalnya.
Ah...tapi itu kan di dunia lain, di mana kesadaran tentang nutrisi sudah sampai pada level komunitas. Belum lagi kalau ada moral hazard, main panen seenaknya seolah kebun sendiri. But it's a long way to go. Sebelum tiba di sana, ada banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah sini. Mendorong tumbuhnya pasar tradisional yang nyaman sudah merupakan langkah signifikan. Kalau pasarnya senyaman supermarket maka kaum urban yang mengerti pentingnya produk segar tapi malas datang ke sana karena becek dan jorok akan datang berbelanja. Permintaan meningkat maka suplai dari petani lokal harapannya juga meningkat. Spillover effect lainnya termasuk mengurangi ketergantungan impor, makanan yang lebih bernutrisi, sampah non organik berkurang dan mestinya masih banyak lagi.
Satu langkah kecil di level individu yang bisa dilakukan adalah menanam bahan pangan sendiri. Kalo aku perhatikan, menanam cabe misalnya nggak susah-susah amat. Bisa ditanam di pot kalau nggak ada lahan, yang penting rajin disiram dan tidak kena panas langsung. Pernah di rumah ada tiga pohon cabe yang amat subur, saat harga cabe naik di pasar ibuku nggak tahu.
Yang menurutku sekarang keren dan inovatif adalah Growbox. Cocok dengan gaya hidup modern yang praktis, ekonomis dan berwawasan lingkungan. Aku menunggu mereka mengembangkan variasi product line, bukan cuma jamur saja.
http://www.laughonthefloor.com/wp-co...grow-box-1.jpg
Di belakang rumah awalnya juga disemen, karena tadinya buat budidaya tanaman hias dan burung perkutut. Sekarang semennya dibobol jadi bidang2 persegi buat tanam cabe dan tomat. Mau nyambel ga pernah repot ;)
Sebenarnya mau bikin thread baru, namun berhubung yang pingin ditulis lebih dari dari satu topik jadi nyanggong di sini aja.
Semuanya seputar makanan darurat kesayangan kita semua: mie instant, particularly yang bermerk Indomie.
Baru-baru ini baca tentang Ramen Rater, situs pemeringkat mie instant seluruh dunia. Tiap hari si rater makan sebungkus mie instant ditambahi dengan sayur, daging dan telur. Kemudian dia menulis review di blognya. Ratingnya dari 0 sampe 5. Di berita ditulis bahwa sekarang dia bikin peringkat tanpa menyertakan partisipasi mie dari Taiwan. Soalnya dia pernah review mie dari Taiwan termasuk yang last ten, abis itu dibully sama orang-orang Taiwan. Padahal setelah aku cek, di daftar itu mie dari Taiwan masih peringkat ketiga ter enggak enak. Dua terbawah adalah mie dari China, dan yang dari China nggak segitu-gitu amat keknya menanggapi.
Di daftar itu untungnya nggak ada mie dari Indonesia. Kalo ada pasti aku akan berjengit membayangkan kayak apa rasanya, dan langsung masuk black list. Pindah ke top ten, ada dua mie Indonesia nangkring:
Peringkat lima - Indomie Curly Noodle With Grilled Chicken Flavour Special Quality Instant Noodles – Indonesia
http://www.theramenrater.com/wp-cont...3_top_005a.jpg
"The noodles are great – flat and broader than your standard Indomie noodles. Yes – they’re curly as well! The flavor is sweet and spicy with a little chick flavor. The broth adds another facet as the noodles aren’t dry but have a nice small amount of broth. Excellent – pure wonderful! 5.0 out of 5.0 stars."
Peringkat tiga - Indomie Mi Instan Mi Goreng Rendang – Indonesia
http://www.theramenrater.com/wp-cont...23_top_003.jpg
"Wow – this is great stuff! The noodles are chewy enough without being too chewy. The flavor is excellent – like a hot curry beef taste that works so well. I love it. This is one of those times when being the Ramen Rater is the best thing in the world. 5.0 out of 5.0 stars! I highly recommend this one! "
Personal taste si rater tentu mempengaruhi reviewnya. Dan dia keliatannya suka yang berbumbu tajam, semakin berbumbu dan pedas semakin dia suka. Indomie yang cabe rawit juga masuk top ten mie terpedas. Padahal mie apa saja sebenarnya bisa sepedas itu tinggal tambahin aja cabe rawit segar. Pasti maknyus sekaligus megap-megap.
Si rater mendapatkan semua mie itu dari beli dan dikirimi. Malahan ada yang dikirimi langsung dari PRnya Indomie. Mungkin yang versi nusantara, sekotak sekian rasa itu. Jadi dengan menyusutnya pangsa pasar domestik - masih leader tapi terus tergerus - bagus juga jika bisa berekspansi ke luar negeri. Apalagi dirating tinggi begini, PRnya mesti rajin-rajin kirim rasa baru biar cepat direview.
Ngomong-ngomong soal Indomie di luar negeri, rasanya pernah ada iklan yang menceritakan cewek lagi di Italy sampe bela-belain ke Belanda buat beli Indomie doang. Segitunya banget, entah nyata atau scripted. Tapi yang jelas bukan script adalah curahan hati seseorang yang merasa dikibuli karena pengalamannya makan Indomie dipake buat iklan tanpa kompensasi.
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/...1587713102.jpg
Kesian juga kalo baca curhatnya, udah mengharap yang gimana-gimana ternyata nggak dapat apa-apa. Tulisannya sendiri sangat inspiratif. Mulai dari harapan tingginya akan sesuatu ala Syahrini sampe ke keengganan Ford untuk minta maaf karena telah menyabotase temuan seorang Profesor.
Balik soal ramen rater, baru minggu lalu dia mereview salah satu varian Indomie lagi - rasa gulai ayam pedas - yang diberinya rating 4,75. Di beberapa tulisannya dia wanti-wanti cara masak Indomie sedikit berbeda dengan mie dari negara lain, yang aku baru tahu. Mie dari Korea dan lainnya cukup disiram air panas, tidak seperti mie dari Indonesia yang rata-rata direbus 3 menit. Lucu juga membaca beberapa komentar orang-orang yang nekad memberi kuah pada mie goreng yang harusnya kering. Kalo bagiku sih sekedar nggak enak aja rasanya, tapi ada yang sampe sakit perut karena salah metode.
So, akhirnya stok Indomie di lemari yang tidak tersentuh sejak hari pertama puasa akhirnya dibobol juga gara-gara ramen rater ::elaugh::. Tadi abis makan Indomie rasa kari ayam. Syedap. Aku sih bukan penggila mie instant, tapi sesekali makannya itu yang bikin kangen.
Ramen rater dikasi tahu tradisi internet di Indonesia. Tapi sebenarnya variasinya bisa lebih banyak lagi. Ditambah sawi, kecambah, tomat, jeruk, cabe rawit, saos botolan, kecap manis dll. Aku sendiri paling suka mie goreng yang diaduk dengan telor terus didadar. Yummy!
mie goreng yang diaduk dengan telor dadar itu maksudnya pizza indomie itu ya? ::elaugh::
kayanya saya pernah coba mie instant taiwan, biasa2 aja sih. menurutku masih enakan indomie :cengir: kalo yang mau ada kuahnya, saya pilih mie instan korea.
ada loh yang heran melihat kita masak indomie kering, mungkin mereka lebih terbiasa dengan mie instan berkuah ya. apalagi bumbu indomie kan niat banget, bisa sampe 5 jenis per paket :cengir:
---------- Post Merged at 03:12 PM ----------
oiya, mengenai bercocok tanam di daerah urban, saya sempat pengen nih beli produk seperti growbox juga, satu kotak yang sudah di'semai' spora jamur, dan bisa dipanen selama 1-3 bulan. cuman kuatir bosen kalo makan jamur terus tiap hari :cengir:
bole coba dilihat mengenai cara berkebun secara vertical (gantung) juga, yang ga pake tanah itu. cocok untuk yang tinggal di apartment.
mie goreng yang diaduk dengan telor terus didadar, gu...bukan diaduk dengan telor dadar :cengir:
Iya kadang disebut pizza mie sama orang-orang. Bisa juga sih digoreng sesendok-sesendok kayak bikin bakwan.
Soal mie Taiwan, seleramu dan ramen rater sama dong ::elaugh::
Aku jarang coba2 rasa mie instant dari negara lain, ntar rasanya nggak jelas lagi. Kecuali yang tanpa bumbu it's oke. Oh ya, bukannya Indomie juga banyak yang variasi kuah? Kok larinya ke mie Korea?
Kalo soal jamur, gampang atuh. Tiap muncuk dipetikin, masuk ke freezer. Jadi bisa dimasak kapan2, nggak harus tiap hari dimakan. Ummm...kamu punya freezer kan?
Keknya pernah dengar tuh kebun gantung. Cuma belum mengeksplorasi lebih jauh. Yang sering liat sejauh ini baru kembang gantung.
Indomie yang curly pernah bertahan di peringkat 1 tahun-tahun sebelumnya. Sepertinya sudah tergusur.
Saya sendiri udah setahun ga makan indomie, tapi kalo sekali makan pasti langsung nagih ;D
Bukannya diluar varian Indomie yang banyak ditemukan yang goreng yah? Kata koko saya di Aussie cemilan mereka Indomie goreng :cengir:
mie korea yang berkuah menurutku enak sih :cengir: kadang juga makan indomie berkuah, tapi lebih jarang. tapi kalo yang goreng iya, lebih sering :mrgreen: rasanya umumnya indomie goreng memang yang paling terkenal deh di LN. rata2 kalo ada orang asing yang tau, taunya ya yang goreng :cengir:
saya malah ga doyan korea punya. Rasanya menurutku aneh :cengir:. kalo berkuah, saya paling suka Indomie kari ayam. Suka saya tambahin poached egg :cengir: Dulu awal2 di Msia setiap sabtu jadwal makan indomie sama teman2 ;D mereka walaupun cewek suka makan 2 bungkus. Saya pernah nyoba 2 bungkus, enek booo ;D habis itu langsung sakit ;D Jumbo aja gak kuat.
ini 2 bungkus indomie kuah? wah, itu sih banyak tuh. pernah coba, dan memang kebanyakan :cengir: kan ngembang tuh. tapi kalo indomie goreng ato yang laen yang kering, itu biasa makan 2 bungkus :mrgreen: abis kan enak :cengir:
mie korea yang saya makan biasanya cuman yang merek ramyun itu (i think), soalnya kan pedes :mrgreen: jadi udah pas lah gitu loh. biasa nambah telor dan ebi juga. mie jenis ini juga agak tebelen kayanya dibandingkan indomie, tapi biasa saya bikinnya al dente (undercook dikit), jadi masih ga terlalu ngembang dan masih firm teksturnya.
sori tusc, nyampah di threadmu mengenai indomie :lololol:
^
ndugu nggak bisa jauh2 dari ebi.. ;D
saya mah kalo mau makan mie instan gitu, bukan karena
pengen ngerasain nikmatnya, tapi emang karena laper.. ;D
Biasa, Indomie apapun mereka bikin 2 bungkus :cengir:
Mie korea yang terkenal Shin ramyun. menurut saya ada bau chemical, dan mienya agak lembek. Tapi itu cobain pas masih kecil, habis itu ga pernah lagi ;D
---------- Post Merged at 10:38 PM ----------
tapi menurutku indomie masih ribet, perlu dimasak dulu. kalo ga ribet yah pop mie, cuma ga doyan :muntah:
pop mie, kayak makan mie mentah
sambil minum aer anget..
::hihi::
http://assets.nydailynews.com/polopo...ah-winfrey.jpg
Ini nih tas yang bikin kontroversi belakangan ini. Bukan Birkinnya Hermes atau atau Speedynya LV yang jadi tas sejuta umat paragold digger and social climbersosialita, tetapi Jennifernya Tom Ford. Sesungguhnya Tom Ford harus berterima kasih pada sales yang menolak untuk mengeluarkan tas ini dari kotak kaca atas permintaan Oprah. Secanggih apa pun trik marketing mereka, kapan ada yang hasilnya semantap ini? *teori konspirasi
So, sekarang pengetahuanku nambah sedikit. Jadi Swiss bukan hanya surga bagi para penilep pajak kelas wahid tapi tingkat rasisme juga tinggi. Kalo nggak salah mereka juga menolak minaret, but let's go without it first. Selama ini kesannya negara-negara penerima imigran seperti Prancis, Inggris dan Jerman yang lebih terekspos kalau ada apa-apa yang sehubungan dengan rasisme sedang Swiss relatif adem ayem dengan kemakmuran ala tax havennya. Jadi rada mengejutkan dunia ketika Oprah membuka kisah ini dan mencoreng nama netral Swiss.
On the other hand, otoritas Swiss baru-baru ini juga diberitakan sedang mencari cara untuk mengadili Hervé Falciani, seorang whistle blower ala Snowden di bidang finansial.
Menarik sekali untuk melihat nama siapa saja yang ada di sana. Dan apa yang akan terjadi pada dunia jika seluruh nama dibuka, misalnya. *kepo jika ada nama berbau Indonesia di sanaQuote:
...he faces constant risk as the sole key to decipher the encrypted data — five CD-ROMs containing a list of nearly 130,000 account holders that may be the biggest leak ever in the secretive world of Swiss banking.
Pastinya Swiss nggak menyangka, lagi sibuk-sibuk ngejar whistle blower, eh ada tas mahal bikin kegemparan internasional.
::elaugh::
Kalo setajam silet bukan cuma slogan milik suatu acara infotainment, maka tulisan ini jelas ada dalam kategori tersebut. Tulisan lama ini (termasuk bagian keduanya) ternyata sangat relevan sampai kini. Di antara optimisme yang digembar-gemborkan dunia tentang prospek situasi ekonomi negara ini, adalah aneh ketika kita melihat ke dalam dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang, kalo istilahnya para motivator adalah: bertanya besok saya makan atau tidak ya? - pemilik dari bentuk pertanyaan paling rendah tentang daya tahan hidup.Quote:
Masa Jaman Normal
Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80 tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri. Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang konotasi negatif lainnya.
Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif, kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal. Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bisa dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12 dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya 40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung). Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang pas-pasan.
Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar. Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan 200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan 200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar. Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bisa makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8 juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harus diperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50 gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak perlu kerja.
Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.
Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu. Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak normal)....
Jika pada zaman pendudukan Belanda masyarakat Indonesia memiliki daya beli yang lebih baik seperti dugaan penulis, apa yang terjadi selama kemerdekaan lebih dari 60 tahun ini? Kenapa setelah merdeka tingkat kemakmuran menurun? Jangan-jangan guyonan tentang kalimat di Pembukaan UUD 1945 itu sebetulnya benar, bahwa ...mengantarkan rakyat Indonesia di depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia ... berarti kita memang belum merdeka, baru sampai di depan gerbangnya saja hingga kini. Pilihan solusinya adalah Pembukaan diamandemen atau ...(males mikir).
Bagian dua tulisan ini berbicara tentang inflasi. Sedikit berbau konspirasi, tapi tidak berarti salah. Saya sama awamnya dengan orang -orang lain mengenai inflasi, sehingga tulisan ini memperkaya perspektif dalam bidang kebijakan ekonomi pemerintah.
Saya jadi ingat beberapa hal:
Pertama, sejarah sering dikatakan sebagai kisah dari versi yang menang. Maka itu saya suka sejarah, karena sifatnya dinamis, selalu menyimpan ruang untuk mempertanyakan segala sesuatu yang diklaim benar. Meskipun sudah lama saya tidak menyentuh buku sejarah dan lebih suka baca novel saja, beberapa tahun lalu saya masih menyempatkan diri baca novel The Historian, tuntas dalam seminggu. *bangga ::elaugh::
Berkaitan dengan sejarah, agak mengejutkan juga bahwa konversi sederhana nilai emas dari tahun 1970 ke tahun 2000 hanya ada kenaikan 25 persen. I mean...WEW...kalau dirata-rata, berarti dalam 1 tahun pertumbuhan ekonomi kurang dari satu persen, dengan baseline tahun pertama yaitu 1970 (maafkan metode perhitungan saya yang kasar dan sederhana). Jadi economic boom yang dimulai tahun 1973 yang angka pertumbuhannya nyaris mencapai dua digit itu datang dari mana?
Kedua, dari ketiga jenis kebohongan menurut Mark Twain statistics berada pada level tertinggi. Statistics nya sendiri, tidak seperti dua kebohongan lainnya, sebetulnya hanya alat. Tergantung dia ada di tangan siapa. Oleh karena itu saya percaya masyarakat perlu mendapatkan pendidikan practical statistics supaya tidak gampang dibohongi oleh angka-angka yang dikeluarkan pemerintah. Jangankan pemerintah, mahasiswa yang kepepet dengan tugas akhir akan gampang tergoda untuk "membetulkan" data supaya hasilnya sesuai harapan. Sayangnya, sampai sekarang saya belum melihat adanya usaha terintegrasi untuk memahami bersama kenapa data pemerintah dengan keadaan yang kita rasakan kok enggak nyambung. Pasti ada yang salah, kalo nggak keadaan yang kita lihat ya datanya. Kalo saya punya akses ke datanya, bakal saya bagi-bagikan kepada yang berminat menganalisa. *Snowden mode: on ::hihi::
Ketiga, baru-baru ini seorang kenalan mencemaskan tingkat inflasi di Indonesia. Setelah baca tulisan di atas, saya sedikit bisa relate kenapa inflasi ini bagaikan hantu penghisap darah dan perlu dicemaskan. Tapi hantu ini resmi diciptakan pemerintah (baca: pemerintah mana saja, bukan cuma Indonesia) malahan diberi nama baru yaitu likuiditas supaya orang awam makin bingung.
Saya hanya bisa relate dengan yang saya tahu, bahwa ekonom lebih suka mekanisme pasar karena di sana tercipta efisiensi. Pemerintah bukan ekonom alias banyak kepentingan politik, maka intervensi pemerintah seperti operasi pasar dan lain-lain dilakukan atas nama kesejahteraan. Nyatanya, operasi pasar mana sih yang membuat rakyat sejahtera? Jadi mulai sekarang saya akan bersikap kritis terhadap segala bentuk intervensi pemerintah yang kurang masuk akal, berbelit-belit dan tidak jelas outputnya.
Keempat, justru yang paling kocak menurut saya adalah kisah tentang Cut Zahara Fonna. Sejarah memang cenderung punya bentuk circular.
Bentar lagi tujuh belasan euy...kapan kita merdeka beneran ya?
Dari sebuah FB wall:
https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.n...93656105_n.jpg
Sejarah adalah milik yang menang. Itulah sebabnya negara butuh waktu hampir 70 tahun untuk mengakui bahwa Bung Karno adalah pahlawan nasional secara pribadi. Sekarang kriteria pemimpin (negara) versi saya jadi sangat sederhana: dia yang bisa memisahkan kekuasaan dari tujuan.Quote:
Aku Tahu Gerakan Jenderal Soeharto dan tak mau ada perang saudara dinegeri ini
-------------------------------------------------------------------------
Menjadi seorang Presiden mungkin “tidak terlalu sulit,” tetapi menjadi seorang pemimpin negeri sangatlah tidak mudah. Meraih jabatan sebagai Presiden banyak ditopang oleh kematangan strategi politik, tetapi menjadi pemimpin sebuah negeri sangat membutuhkan kekuatan mental serta kesediaan sakit dan berkorban demi negeri serta rakyat yang dipimpinnya.
Konsep sebagai seorang pemimpin besar telah ditunjukkan secara nyata oleh Presiden Soekarno dalam menyikapi langkah-langkah kudeta Jenderal Soeharto dan kroninya.
TINDAKAN Soeharto menyelewengkan Surat Perintah 11 Maret 1966 sangat menyakiti perasaan Bung Karno. Sejumlah petinggi militer yang masih setia pada Sukarno ketika itu pun merasa geram. Mereka meminta agar Sukarno bertindak tegas dengan memukul Soeharto dan pasukannya. Tetapi Sukarno menolak.
Sukarno tak mau terjadi huru-hara, apalagi sampai melibatkan tentara. Perang saudara, menurut Sukarno, adalah hal yang ditunggu-tunggu pihak asing—kaum kolonial yang mengincar Indonesia–sejak lama. Begitu perang saudara meletus, pihak asing, terutama Amerika Serikat dan Inggris akan mengirimkan pasukan mereka ke Indonesia dengan alasan menyelamatkan fasilitas negara mereka, mulai dari para diplomat kedutaan besar sampai perusahaan-perusahaan asing milik mereka.
Kesaksian mengenai keengganan Sukarno menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi manuver Soeharto disampaikan salah seorang menteri Kabinet Dwikora, Muhammad Achadi.
Komandan Korps Komando (KKO) Letjen Hartono termasuk salah seorang petinggi militer yang menyatakan siap menunggu perintah pukul dari Sukarno. KKO sejak lama memang dikenal sebagai barisan pendukung utama Soekarno. Kalimat Hartono: “hitam kata Bung Karno, hitam kata KKo” yang populer di masa-masa itu masih sering terdengar hingga kini.
Suatu hari di pertengahan Maret 1966, Hartono yang ketika itu menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut itu datang ke Istana Merdeka menemui Bung Karno. Ketika itu Achadi sedang memberikan laporan pada Sukarno tentang penahanan beberapa menteri yang dilakukan oleh pasukan yang loyal pada Soeharto.
Mendengar laporan itu, menurut Achadi, Bung Karno berkata (kira-kira), “Kemarin sore Harto datang ke sini. Dia minta izin melakukan pengawalan kepada para menteri yang menurut informasi akan didemo oleh mahasiswa.”
“Tetapi itu bukan pengawalan,” kata Achadi. Untuk membuktikan laporannya, Achadi memerintahkan ajudannya menghubungi menteri penerangan Achmadi. Seperti Achadi, Achmadi juga duduk di Tim Epilog yang bertugas menghentikan ekses buruk pascapembunuhan enam jenderal dan perwira muda Angkatan Darat dinihari 1 Oktober 1965. Soeharto juga berada di dalam tim itu.
Tetapi setelah beberapa kali dicoba, Achmadi tidak dapat dihubungi. Tidak jelas dimana keberadaannya.
Saat itulah Hartono minta izin untuk menghadapi Soeharto dan pasukannya. Tetapi Bung Karno menggelengkan kepala, melarang.
Padahal masih kata Achadi, selain KKO, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa panglima kodam lainnya juga bersedia menghadapi Soeharto.
“Bung Karno tetap menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi pertumpahan darah, dan perang saudara.”
Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, tanya Achadi dan Hartono.
Bung Karno memerintahkan Hartono untuk menghalang-halangi upaya Soeharto agar jangan sampai berkembang lebih jauh. “Hanya itu tugasnya, Hartono diminta menjabarkan sendiri. Yang jelas jangan sampai ada perang saudara,” kata Achadi.
Menghindari perang saudara inilah sebagai wujud kecintaan Presiden Soekarno terhadap rakyat dan negeri ini. Pantang bagi Bung Karno meneteskan darah diatas negeri ini, apabila hanya akan ditukar dengan sebuah kekuasaan.
Melbourne kayaknya pantas lah jadi the most livable city. Dalam pandangan umum tentunya. Kejuaraan tenis bergengsi ada di sini. Seri MotoGP deket banget tinggal nyabrang. Museum, pertunjukan seni klasik, bangunan kuno, Victoria market, pertunjukan seni jalanan, grafiti... Tourist centrenya pas di Federation square yang asyik buat nongkrong. Pantesan teman-temanku kalo udah ke Melbourne nggak mau ke tempat lain lagi. Padahal dunia ini kan luas ::elaugh::Quote:
Top 10 most livable cities (unchanged in 2013 from 2012):
1. Melbourne, Australia, 97.5
2. Vienna, Austria, 97.4
3. Vancouver, Canada, 97.3
4. Toronto, Canada, 97.2
=5. Calgary, Canada, 96.6
=5. Adelaide, Australia, 96.6
7. Sydney, Australia, 96.1
8. Helsinki, Finland, 96.0
9. Perth, Australia, 95.9
10. Auckland, New Zealand, 95.7
saus
One day in Melbourne:
Lagi jalan sendiri di downtown, terus terdengar percakapan dalam bahasa Indonesia. Mendongak ke depan, kayaknya memang orang Indo. Terus ada suara lain lagi. Noleh ke samping kiri kanan, percakapan Indo juga. Sekalian aja noleh ke belakang, orang Indo juga. Buset dah...ini Melbourne apa Jakarta sih? Nggak berasa lagi di luar negeri jadinya.
Kalo aku prinsipnya masih sama. A place is only as good as the people you meet.
Having said that, my most livable city is apparently somewhere else.
Dan sebagus apa pun sebuah kota, aku berharap tidak terikat erat secara emosional sehingga saat jatah di sana habis perginya tidak berat.
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.n...63279823_n.jpg
Kreativitas memang penting, sepenting silet ::elaugh::