saya udah repot ngomongnya, karena masih subyektif memandang...
Jadi monggo, dialami dulu baru berujar
Printable View
saya udah repot ngomongnya, karena masih subyektif memandang...
Jadi monggo, dialami dulu baru berujar
iya mba.. Namax sy memg kurang berpengalaman seperti mba.. Hehe, oia mba,sy mw tanya pendapat mba,tentg sebuah cerita, tante saya dr pihak mama, dulu waktu alm.kakek saya meninggal,ade2 mama cuek2 aja,hingga dimakamkan diluar kota,tempt almh nenek dimkmkan,,adex mama,ga setuju.. Kalw jasad ayahnya disemayamkan dirumahnya ,yg dulu jd rumah kakek,tpi dikashkan ke dua anaknya.. ,tpi dua2nya menolak menyemayamkan jasad ayahnya,alasannya karena takut,nanti bs terbayang2.. Menurut mba, gmana sikap anaknya itu mba?
---------- Post added at 06:50 AM ---------- Previous post was at 06:44 AM ----------
apakah itu juga disebut prioritas? Dari kaca mata sya yg kurang ilmu dan kurang berpengalaman,saya memandang terlalu subjektif,krn sy sudah tidak respek dgn 2 saudara mama itu. Jadi saya minta pendapat mba,yg udh bnyk berpengalaman.sbgai pembanding pendapat. makash mba..
---------- Post added at 07:00 AM ---------- Previous post was at 06:50 AM ----------
kalw dirumah,dulu waktu ada mama mba,saya sering bgt curhat sama mama,,krn mama slalu py sudut pandang netral dan langsg kena dgn masalah sya.. Beliau jg org yg plg peduli dirumah.. Benar2 seperti malaikat dirumh,sampai skrg pun meski mama udh ga ada lg.. Tpi kash syg mama,apa yg diajarkan slalu trkenang.. Sayangi mamanya mba aya yah.. Kalw perlu,kalw ktemu jgn lupa dipeluk.. Suatu hari nanti,mba akan merasakan kangen jika gak memeluk bliau..^ jd peluk bnyak2 yah mba,hehe.. Sama bpknya mba jg.. Disayangi terus^^
prioritas itu kan kamu bisa memilah mana yang emergency, urgent dan bisa ditunda
kalau kasus di atas sih, itu cuma perasaan takut aja...bukan emergency bagi saya. Tapi who knows?
Saya terbiasa menerima bahwa tidak bisa menilai semua dari satu sisi. Saya gak bisa marah seandainya orang punya prioritas sendiri padahal umpamanya bapaknya sekarat.
Well, saya sudah lihat sendiri. Om saya bertahun2 mengingkari kehidupan pribadinya, demi menjaga almarhumah nenek saya. Itu bukan setaun dua taun, tapi belasan taun. Dan sodara2nya keenakan karena semua urusan nenek saya om saya yang ribet, kecuali dana mungkin. Dana diurusin tante2 saya, sedang om2 saya yang lain terbatas, gak bantu dana ya ga bantu waktu dan energi. Mama mewakilkan anak2nya, saya dan adik2 saya, untuk membantu om saya ngurusin almarhum nenek yang memang langganan tiap 4-5 bulan masuk rumah sakit gara2 gula atau kelainan jantung bawaannya.
Om saya itu mestinya dapet tawaran kerja di Jogja, lalu ditolak demi beliau bingung siapa yang ngurus almarhumah nenek. Kemudian tawaran kerja di Papua juga. terakhir nolak yang di Padang. Alasannya sama dengan Nharura, rejeki kan bisa dicari, ortu kan gak lama kita urusin.
Tapi kemudian, belasan tahun Om saya mengorbankan kehidupan pribadinya, sampe gak berani nikah, takut nanti almarhuman nenek gak klik sama istrinya, karena nenek dimensia, kita gak tau mood dan memorynya kedepannya.
Begitu nenek saya meninggal, 8 tahun yang lalu. Om saya limbung.
Sudah kehilangan ibu.
Secara ekonomi saudara2nya juga gak bisa bantu banyak, karena masing2 punya prioritas.
Perempuan yang jadi tambatan hatinya memilih menikah dengan lelaki lain karena sikap om saya.
Sekarang begitu usianya diambang 50 tahun, beliau baru bisa sedikit baik ekonominya, juga ada perempuan yang mulai dekat lagi dan beliau siap menikah.
Tapi butuh berapa lama?
Om saya keburu dapet sakit darah tinggi dan kolesterol sekarang.
Tenaga beliau buat bekerja juga mulai separuh dari kemampuan orang lain yang lebih muda.
Kalau sudah begitu gimana?
Kita tidak tahu masa depan, karenanya kita disuruh prepare untuk masa depan kita.
Dan umur siapa yang tahu?
Ada juga saudara, lebih konsen ngurus ayahnya yang lumpuh. Pikirannya juga begitu, ayahnya sampe berapa sih umurnya? dia mau berbakti.
Eh taunya dia duluan yang dipanggil Tuhan. Keburu tenaga, waktu dan dananya untuk ngurusin ayahnya.
Anak dan istrinya pun pontang-panting mengurus hidup mereka setelah sang kepala keluarga berpulang. Masih ketambahan ngurusin si kakek yang blum saatnya dipanggil.
Keluarga lain membantu pun sekedarnya, karena mereka punya "prioritas".
Kalau gitu gimana? Almarhum kepala keluarga mengorbankan masa depan anak2nya....
Aku bukan sangat berpengalaman, Nha...
Seperti kamu, Nha...aku pun hanya mengamati.
Tapi ya itu, saya terbiasa mengamati segala sesuatunya dari dua sisi, sejak lihat betapa Om saya akhirnya "terampas" masa depannya karena lebih memprioritaskan almarhum nenek.
wualah,kok bs gt kisahx.. Sedih jg ya mba.. Mga kedepanx omx mba bs bhagia,mgkin pendritaanx skrg bs dbalas Tuhan dgn kebahagiaan,jika tak didunia,pasti diakhirat.. Amin. Krn kesedihan ga pernah abadi,amin.
Iyap mbaqu.. Makash sharenya yah,udah nambh ilmu jg dr pengalaman dan crita mba.. ^ meski gt qt harus tetap berbuat baik sm ortu,yg penting niat,kalw udah niat.. Segalanya pasti mudah^^
smangat mba^_* smga Allah mblaskan sgala kebaikan mba sma ortux mba.. Amin:)
jadi ingat perkataaaan ibuku, waktu aku mengomentari seseorang.. Ih kasihan ya orang itu,,, bla bla bla...
Terus kata ibuku, kita kan gak tahu hidup orang itu, yang kita lihat cuma sekarang, dulunya?apa kita tahu apa yang dia lakukan apa penyebab dia jadi kasihan kea itu?
Intinya sih, harus selalu seimbang dan melihat dari berbagai sudut pandang...
Gak bisa menjudge sesuatu hanya dari satu sisi aja.. :)
---------- Post added at 11:12 AM ---------- Previous post was at 11:08 AM ----------
yah.. Aku juga sempat mengalami dilema karena prioritas itu... Dilema, pilihan mana yang harus dipilih. Benarkah pilihanku?
Saat semua kupikir demi kebahagiaan orangtua, terutama ibu, kesininya mulai galau, benarkah pilihanku itu? Atau aku hanya berfatamorgana?
Tidak bisa berbuat banyak untuk orangtua karena keterbatasan ekonomi selalu menjadi penyesalan tak berujung... Tapi.. Ya itu... Balik lagi, yang penting kita sudah berusaha yang terbaik nha... Hasil akhir bukan kita yang menentukan..
intinya saya bukan menafikan kewajiban kita merawat ortu, apalagi yang sudah sepuh dan sakit2an. Tapi kita juga harus bisa bijak, bahwa tidak semuanya segampang yang kita tuliskan di atas kertas.
ada sebuah film...lupa judulnya...inti adegannya begini:
3 orang pendaki, bapak dan dua anaknya, sedang berlatih panjat tebing di sebuah gunung. Paling atas si adik yang sedang diajari cari jalur, tengah si kakak jadi navigator, terakhir si ayah yang sedang mengajari anak2nya.
Alhasil, ada sebuah keadaan dimana tumpuan mereka menyebabkan ketiganya akan jatuh dan mati. Solusinya ada dua, mengurangi satu beban dan yang dua orang bisa melanjutkan panjatan ke atas, kemudian membiarkan diri mereka bergelantungan sambil mengharapkan nasib baik berpihak kepada mereka tetapi artinya mereka kehabisan tenaga dan waktu.
Si ayah dengan tegas meminta si kakak memotong tali sambungan antara dirinya dan si kakak demi menyelamatkan anak2nya.
Jelas anak2nya menolak. Tetapi ayah mereka hanya punya pikiran sederhana. "Lebih baik mengorbankan ayah dan kalian pasti selamat daripada kita mengharapkan keajaiban yang bisa jadi malah membunuh kita bertiga."
Dan si kakak pun memutus tali antara dirinya si ayah.
Itu pengorbanan yang luar biasa memang, tetapi intinya...kita pada lahirnya harus memikirkan prioritas.
hufh.. Pilihan.. Fatamorgana.. Semoga setiap pilihan kita adalah sebaik baik pilihan dan diridhoi oleh orangtua kita,,,
amin
*lagi liat bapak terpekur*
semoga rejeki ibu2 hebat ini lancar ya..
*hugs
@mba aya, Mba bundana, mba chan: semangaattt! semoga semua2nya diberi kesehatan biar bisa terus semangatt... Huggs yang lamaaa buat mba2ku....::bye::
hug balik...
Amin amin amin....
---------- Post added at 09:33 PM ---------- Previous post was at 09:32 PM ----------
yang paling kita inginkan kan kebahagiaan orangtua, makanya tadi sedih waktu gak dibolehin ama suami nganter aulia mudik ke jogya,, padahal orangtua udah kangen berat sama aulia, udah berbulan2 gak ketemu..
Tapi ya mau gemana lagi?