http://proto.areamagz.com/alpha/back...tseat_full.jpg
Semua orang tercengang saat nama Tex Saverio disangkutpautkan dengan Lady Gaga. Akhirnya, di tengah kesibukannya, desainer yang baru berusia 25 tahun ini menyempatkan waktunya untuk bercengkrama bersama Darwita Karin dan Putri Ningrum.
Sejak kapan Anda menekuni fashion?
Saya mulai serius di umur 17 tahun. Awalnya saya ikut kursus singkat, lomba, dan mulai serius terima klien pada pertengahan 2006. Terakhir perlombaan yang saya ikuti Mercedes Benz Fashion Award di Singapore. Setelah itu saya mulai merasa cukup jadi saya akhirnya mulai serius menerima klien.
Seperti apa konsep desain Tex Saverio?
Saya lebih suka menciptakan sesuatu yang jika dilihat dari segi wearability-nya agak kurang. Tetapi sebenarnya, itu hanya masalah penangkapan orang. Karena, kalau orang bicara masalah wearability itu kan terlihat dari jumlah penjualan. Namun, pada kenyataannya penjualan saya malah melonjak drastis. Dan yang saya pelajari dari sini, Indonesian sudah melek fashion. Lagipula apa yang saya suguhkan tidak lantas mentah-mentah diaplikasikan atau digunakan. Bahkan, saat heboh Lady Gaga, salah satu wartawan senior Kompas yang dulu menjadi juri saat saya ikut perlombaan dan awalnya meragukan kemampuan saya, justru sekarang kaget karena sampai akhir tahun klien saya sudah penuh.
Saya tidak pernah mikir bikin sesuatu yang tanggung-tanggung. Saya buat sesuatu sesuai yang saya suka tanpa memikirkan siapa yang akan mengenakannya.
Jadi, baju yang Anda buat memang koleksi dan benar-benar langsung digunakan klien?
Iya. Kebanyakan klien luar yang pakai langsung tanpa disesuaikan dengan selera mereka. Kalau klien Indonesia, mereka pasti melakukan penyesuaian. Di awal karier, malah banyak klien yang hanya menyodorkan gambar dan saya harus membuat sesuai mau mereka.
Tahun 2010 adalah kemunculan perdana saya muncul dengan koleksi yang benar-benar menonjolkan karakter Tex Saverio. Selama 4 tahun, saya selalu menuruti apa yang dikehendaki oleh orang. Jadi bisa dibilang ini adalah sebuah ajang balas dendam, ha-ha-ha!
Setelah show, ternyata saya diterima. Banyak orang yang mulai mempercayakan kepada saya sepenuhnya sesuai dengan style saya.
Tapi, jika ada klien meminta Anda mengeksekusi sesuai gambar mereka masih kah diterima?
Pasti tetap akan saya edit. Karena, kalau klien saya benar-benar ingin membuat sesuatu yang persis dengan gambar yang mereka bawa, apalagi itu karya orang lain, lebih baik mereka ke desainernya langsung atau mengikuti saya tetapi tetap di-mix . Saya nggak akan 100% mendesain baju dengan kemauan saya, tapi tentu benang merahnya tetap karakter saya dan dikombinasikan dengan karakter dan kemauan si klien. Bagi saya itu berarti menjiplak. Saya tidak ingin karya saya dijiplak untuk itu saya tidak ingin menjiplak karya orang lain.
Insiprasi Anda dari mana?
Macam-macam. Paling banyak sebelum tidur suka melintas dan bayangan saya very vivid sampai ke detailnya. Yang saya tangkap akan dibicarakan lagi dengan tim saya. Agak terbalik. Dulu saya diajarkan dari konsep baru dikembangkan. Tapi, bagi saya itu seperti dibatasi dan sedikit monoton. Banyak yang ikut aturan itu terlalu baku jadi ketebak alurnya. Yang penting bagi saya benang merahnya bukan lagi detail dan materi tapi karakternya. Saya biasanya mengeluarkan koleksi yang beda dari biasanya. Out of the box!
Bagaimana ceritanya baju Anda bisa dikenakan oleh Lady Gaga?
Awalnya, dari Jakarta Fashion Week. Event tersebut memiliki lingkup internasional dan banyak wartawan dari luar negeri. Setelah itu, mereka mulai membicarakan saya. Kata Coco Perez, seorang blogger, ia seperti merasakan Alexander Mcqueen di koleksi saya. Mungkin karena kegilaan saya. Lalu, saya iseng-iseng mengirimkan message ke stylist Lady Gaga, Nicholas Fermicetti. Tidak lama langsung di-reply. Ternyata, team dari Lady Gaga memang sudah mencari saya tapi berhubung website saya sedang under construction.
Koleksi Anda terinspirasi Lady Gaga?
Sebenarnya tidak, sih. Saya lebih suka musik dan karakternya. Cocok dengan jiwa pemberontak saya. Jika dilihat-lihat, karya saya lebih feminin kalau Lady Gaga lebih avant garde tapi semuanya masuk. Bisa jadi karena sama-sama out of the box. Ya, sedikit banyak ada pengaruhnya ke desain saya. Tapi, tidak mayoritas.
Baju Lady Gaga di Bazaar itu dia yang pilih atau Anda?
Dia yang pilih. Tapi yang untuk dibawa beberapa saya yang pilih karena ada beberapa baju yang tidak mungkin untuk dikirim. Misalnya, baju berdetail laser. Setelah siap, diambil kurang dari 24 jam. Mereka punya tim di London, New York, dan Asia yang kooperatif. Misalnya, saat bajunya dikenakan di Bazaar padahal rencananya digunakan untuk album terbarunya tapi karena terlambat rencana pun berubah. Bahkan, saat baju saya akan pindah lokasi mereka meminta izin by email.
Berapa banyak baju yang Anda kirim?
Semuanya 7 baju dan yang baru dipakai 1. Saya lihat ada beberapa yang dipakai tapi tidak the whole pieces. Walaupun begitu saya tidak bisa klaim karena tidak semua bagian bajunya dipakai.
Baju yang dikenakan tidak diubah modelnya sedikit pun oleh Lady Gaga?
Tidak. Awalnya sebelum dikirim saya ubah tapi dia benar-benar menggunakan sesuai yang saya kirim. Mungkin untuk panjangnya, dia menggunakan sesuatu di dalamnya karena dia kan petite dan yang menggunakan saat fashion show adalah model internasional dengan tinggi badan 170-an cm.
Baju Anda dibeli atau dipinjam? Kalau dibeli berapa Lady Gaga menghargai karya Anda?
Tidak, dipinjam. Ha-ha!
Apakah sudah ada rencana jika konsernya dihelat, Andalah yang akan didaulat mengurus kostumnya?
Tidak. Belum ada kabar. Lagipula, konser ke Jakarta juga masih belum pasti. Saya senang sekali kalau memang bisa bekerja sama lagi dengannya. Suatu kehormatan bagi saya dan bagi Indonesia.
Anda sudah sering menyelenggarakan show di luar?
Kalau di luar Asia belum. Terakhir di Hongkong tapi itu pun juga bukan show tunggal.
Selain Lady Gaga, siapa artis luar yang meminta secara khusus untuk mengenakan baju rancangan Anda?
Bukan ingin menyombongkan diri. Tapi, mengingat masalah branding maka saya tidak ingin aji mupung dan menerima segala tawaran. Lagi pula itu masalah etika. Baju saya sudah dipakai Lady Gaga, maka saya harus benar-benar selektif.
Menurut Anda siapa yang pantas mengenakan rancangan Anda?
Memang sih, jika sudah dibeli sang pemilik berhak untuk menggunakan baju tersebut ke mana saja dan kapan saja. Itu haknya. Tapi kalau dipakai dengan orang yang image-nya, maaf, kurang sesuai dengan koleksi saya maka akan sangat disayangkan. Meskipun tidak mendapat akreditasi, tapi image saya juga harus selalu dijaga, kan. Sebenarnya, yang pasti baju saya tidak mengalahkan karakter orang tersebut. Jadi, antara baju dan sang pengguna justru bajunya yang lebih nyala.
Jadi, bisa dikatakan Anda adalah orang yang sangat idealis?
Ya, bisa dibilang begitu. Tapi bukan masalah eksklusivitas, sih, melainkan soal branding yang sangat penting.
Untuk artis Indonesia dan luar negeri, siapa yang ingin Anda dandani?
Dari dalam negeri, saya sudah dari beberapa waktu yang lalu mensponsori Cathy Sharon. Kalau untuk artis luar, saya ingin sekali mendandani Angelina Jolie dan Naomi Campbell dengan karakter yang strong. Memang, gaya mereka agak sedikit bertentangan dengan saya tapi karakter mereka klop dengan koleksi saya.
Menurut Anda, pasar Indonesia sudah siap?
Sudah siap sekali. Meskipun, sayang ada beberapa kalangan yang masih menyepelekan karya desainer lokal.
Apakah Anda akan mengeluarkan koleksi yang ready to wear?
Saya belum siap. Soalnya saya baru merangkak. Jadi, masih banyak persiapan.
Siapa desainer favorit Anda?
Valentino! Saya mengagumi karyanya karena meskipun simple tapi look-nya terlihat eksklusif. Ia begitu karena melakukan semua yang dikerjakannya dengan passion.
Apa kendala yang Anda hadapi selama ini?
Saat show di luar, susah untuk membawa ke mana-mana aksesoris dan baju yang saya buat. Dan begitu sampai di tujuan harus dirapikan lagi supaya tidak rusak. Nah, kalau di sini biasanya kalau ada yang meminjam, mereka salah memakai baju saya, ha-ha-ha!
Target Anda selanjutnya?
Mudah-mudahan bisa berkarya membawa nama Indonesia di kancah fashion luar negeri tetapi tetap home base-nya di Indonesia.
Anda tetap akan berdomisili di Indonesia? Tidak ingin justru membuat workshop di luar?
Sebenarnya, kalau bicara soal nyaman, memang nyamannya di sini. Tapi, kalau memang saya harus study atau merintis di luar selama beberapa tahun ya tidak masalah.