Klo ndak salah klub pada nolak untuk dibagi 2 wilayah mbah.
*Lupa linknya ::arg!::
Printable View
Klo ndak salah klub pada nolak untuk dibagi 2 wilayah mbah.
*Lupa linknya ::arg!::
gw posting lagi, kali ini dibaca ya mbel......
---------------------------------------------------------------
LPIS Ubah Jadwal, Persema Merasa Dirugikan
PT LPIS dinilai tak konsisten soal jadwal pertandingan di kompetisi Indonesian Premier League (LPI). Sudah tiga kali jadwal berubah. Perubahan tersebut dinilai merugikan klub. Salah satu klub yang merasa dirugikan adalah Persema Malang.
Kali ini, perubahan bukan hanya waktu, tapi pun venue pertandingan, saat akan berlaga melawan Persebaya Surabaya. Pertandingan tersebut akan digelar Minggu (12/2/2012), dan seharusnya digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang. Namun, tiba-tiba diganti bermain di Stadion 10 November Surabaya.
"Seharusnya laga itu adalah laga home untuk Persema. Namun, diubah menjadi laga away. Anehnya, dalam surat resmi perubahan jadwal itu, tidak ada alasan kenapa jadwal diubah. Ini sangat merugikan Persema," jelas CEO Persema, Didied Poernawan Affandi, Kamis (2/2/2012).
Rasa dirugikan atas perubahan jadwal juga disampaikan Pelatih Persema Malang, Slave Radovski. Pelatih asal Makedonia itu mengaku kebingungan dengan konsistensi penyelenggaraan kompetisi yang mengubah jadwal dengan seenaknya sendiri. "Saya heran mengapa jadwal selalu berubah-ubah. Hal ini jelas tidak bagus untuk tim. Anak-anak kami saat ini kondisi mentalnya sedang bagus. Jelas kami dirugikan dengan perubahan jadwal itu," keluhnya.
Performa tim berjuluk Laskar Ken Arok itu, memang di atas angin. Setelah berhasil melibat tim tamu, Bontang FC dengan skor akhir 2-0, mereka pun sukses membekap PSMS Medan 4-1 dan Persiraja Banda Aceh 1-0, di Stadion Gajayana Kota Malang.
Sebelum ada perubahan jadwal, Persema siap mematok kemenangan atas tim kesayangan Bonekmania itu. Namun, setelah ada perubahan jadwal, Persema harus berpikir panjang untuh meraih poin di kandang Persebaya. "Kalau laga home, target kami poin penuh. Semua pelatih pasti demikian. Tapi di laga away, poin sempurna pasti tidak mudah. Apalagi lawan Persebaya yang punya suporter luar biasa kompak," kata mantan pemain Persebaya itu.
saus
trus kenapa mbah? Persema seharusnya bisa protes ke PSSI.
Pelita Jaya kok pindah ke bandung tandingnya? Tergiur tiket bobotoh ya ::hihi::::oops::
http://bola.inilah.com/read/detail/1...ser-ke-bandung
jawaban cerdas.....::up::
---------- Post added at 12:27 AM ---------- Previous post was at 12:21 AM ----------
Rekonstruksi, Rekonsiliasi, Resolusi PSSI
Ketika Perang Sipil Amerika pecah pada 1861, seorang kolonel dari United State of America (USA), Robert Edward Lee, memilih pulang kampung untuk membela kota kelahiran, Virginia, yang tergabung pada 11 breakaway states.
Ke-11 negara bagian yang berada di wilayah selatan Amerika itu membentuk Confederate State of America (CSA). Tidak ada tekanan atau paksaan baik dari teman maupun keluarga saat Lee memutuskan untuk membela CSA. Keputusan itu malah mengejutkan orang-orang terdekatnya, termasuk istrinya, Mary Anna, yang lebih mendukung USA.
Bukan keputusan yang mudah bagi Lee karena ia harus berhadapan langsung dengan orang-orang terdekat termasuk sepupunya, Samuel Phillips dan John Fitzgerald, yang tetap setia menjadi pasukan Union.
Lee yang kemudian menjadi jenderal di CSA pada 1863 menulis surat untuk sang istri tercinta. “Hal yang kejam dari perang adalah memisahkan dan menghancurkan keluarga dan teman, merusak kegembiraan dan kebahagian murni dari Tuhan yang telah memberikan kita dunia ini, mengisi hati kita oleh kebencian, bukan cinta kepada tetangga kita, dan bahkan menghancurkan wajah dunia yang indah ini.”
Kebencian dan perang di mana pun hanya menghasilkan kehancuran. Rekonstruksi dan rekonsiliasi yang dilakukan setelah Perang Sipil berakhir pada 1865 karena hanya itu yang bisa mengembalikan kehidupan setelah era kegelapan hingga membunuh 620.000 tentara, termasuk juga Presiden Abraham Lincoln. Presiden AS ke-16 itu ditembak oleh simpatisan CSA, John Wilkes Booth, pada 14 April 1865.
Perbedaan pandangan termasuk masalah perbudakan hanya bisa diselesaikan oleh hakikat keinginan kedua belah pihak untuk bersama-sama membangun kembali Amerika. Benturan keinginan saat era rekonstruksi yang berlangsung hingga 12 tahun diselesaikan dengan duduk bersama untuk menyatukan persepsi, bukan kembali berperang di jalanan.
Tidak ada hubungannya antara Perang Sipil Amerika dengan kisruh sepak bola nasional, tetapi dalam dimensi yang berbeda ada kemiripan dan pembelajaran yang bisa dilihat oleh PSSI dan breakaway league yang kemudian memicu pembentukan Komite Penyelamatan Sepak Bola Indonesia (KPSI) hingga berujung pada rencana melakukan Kongres Luar Biasa.
Tancap gas pendapat, adu ngotot ego, hingga bolak-balik bersilat kata soal statuta hanya membawa sepak bola nasional ke titik sangat sumir selama tidak ada kesamaan landasan keinginan untuk melakukan rekonsiliasi. Dalam situasi sepak bola yang kian memburuk ini tidak perlu lagi terus saling menyalahkan jika orang-orang di balik PSSI dan KPSI benar-benar berniat memperbaiki dan atas nama sepak bola nasional. Faktanya kedua kubu sama-sama memiliki andil pada kebobrokan kondisi sepak bola kita saat ini sehingga mereka sepantasnya merefleksi diri. Adu ngotot keinginan hanya akan terus memperparah situasi dan korbannya sepak bola itu sendiri. Para pemain, wasit, dan orang-orang yang hidup dan benar-benar mengabdikan diri untuk sepak bola menjadi korban egoisme para petualang.
FIFA dan AFC pun enggan berkomentar menyangkut permintaan KLB karena itu merupakan urusan dalam negeri yang harus diselesaikan oleh PSSI sendiri. Pada surat yang ditandatangani oleh Sekjen FIFA, Jerome Valcke, dan Sekjen AFC, Alex Soosay, dan dikirim ke PSSI pada 13 Januari 2012, FIFA dan AFC menegaskan: FIFA and AFC are not in a position to comment on the validity of the request.
KPSI berniat melakukan KLB karena mengklaim mendapat dukungan dari 452 anggota PSSI atau lebih dari 2/3 anggota PSSI untuk melakukan KLB. Pada surat dari FIFA dan AFC tersebut, terungkap bahwa dari hasil verifikasi yang dilakukan PSSI adalah 320 dari 580 anggota yang meminta KLB atau kurang dari 2/3.
Kalau mau fair, PSSI dan KPSI sebaiknya mempublikasikan 320 anggota versi PSSI dan 452 versi KPSI yang mendukung KLB agar menjadi terang apakah perlu ada KLB atau tidak. Kalau PSSI yang benar, kubu KPSI jangan ngotot menggelar KLB, tapi jika KPSI yang benar mendapat dukungan lebih dari 2/3, tentu PSSI harus membuka diri karena keberadaan PSSI tidak bisa lepas dari para anggotanya.
FIFA dan AFC sendiri menegaskan agar PSSI menyelesaikan permasalahan dan menemukan resolusi di dalam Kongres Tahunan. In view of the above and considering the on-going problems facing Indonesian football, FIFA and AFC strongly recommend that PSSI convene as soon as possible an Ordinary Congress to ensure compliance with its statutes and to provide a forum for resolution.
Menyangkut Kongres Tahunan, FIFA dan AFC sedikit mengancam agar segera dilaksanakan PSSI: Ordinary Congres should be held before 20 March 2012 to avoid the referral to the FIFA Association Committee for possible sanction.
FIFA dan AFC pasti gerah pada kisruh sepak bola Indonesia yang terus menerus berlangsung dan seperti tanpa ada penutup cerita. Kita pun pasti muak pada berbagai dagelan yang sehari-hari berdengung lebih nyaring dibanding prestasi dan pembinaan.
PSSI dan KPSI harus duduk bersama untuk membuka pintu rekonstruksi, rekonsiliasi, dan mencari resolusi. Namun, mereka lebih terlihat ngotot untuk mengedepankan kepentingan kubu masing-masing. Mereka seperti menutup telinga, tak mau mendengar masukan apalagi kritikan, tak sudi membuka hati karena merasa yang paling benar. Padahal PSSI bukan milik pengurus maupun kubu KPSI. PSSI milik bangsa ini, sama halnya dengan Bendera Merah Putih, Burung Garuda, dan Lagu Indonesia Raya. PSSI memang bukan lambang negara, tetapi PSSI sejak dilahirkan merupakan alat perjuangan yang sepatutnya menjadi kebanggaan semua warga dari Aceh hingga Papua. Tapi, kini sangat ironis karena sebagian besar klub memilih bersebrangan dengan PSSI dan pintu sebagian besar pemain ditutup untuk membela tim nasional.
Untuk itu, harus ada penengah yang bisa mempertemukan PSSI dan KPSI dan yang patut melakukannya adalah pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan juga KONI. Tapi, Kemenpora dan KONI harus menjadi wasit yang benar-benar netral karena jika dianggap memihak oleh salah satu kubu, keinginan mencari solusi akan kembali sulit tercapai.
Akan lebih efektif lagi jika Kemenpora dan KONI mempertemukan tokoh-tokoh yang mungkin didengar oleh PSSI maupun KPSI seperti Arifin Panigoro dan Nirwan D. Bakrie. Jika bisa berbicara dari hati ke hati dengan koridor niat murni demi sepak bola, rasanya atmosfer panas sepak bola kita bisa reda dan memulai dari awal untuk berjabat tangan membangun sepak bola nasional.
Atau apakah orang-orang di balik PSSI dan KPSI sebetulnya tidak peduli pada sepak bola kita? Semoga tidak begitu!
saus
-------------------------------------------------------------------------------------
buat bahan refleksi untuk mereka2 yang membela pssi (dan ipl) serta kpsi (dan isl)
KecapQuote:
Franchise untuk MLS, Bukan Indonesia (1)
Dalam sport, Amerika Serikat (AS) adalah anomali. Ada kesan pula agak arogan. Mereka senang membuat segalanya berbeda dari tempat lain. Rugby dimodifikasi jadi American Football, softball diubah jadi baseball, dan sebagainya. Pokoknya harus beda.
Begitu juga di sepakbolanya.
Untuk mengikuti Major League Soccer (MLS) — kompetisi profesional di AS, Anda sebagai (calon) pemilik klub harus mengantongi franchise.
Lho, apakah MLS punya klub? Tidak! Bentuk franchise-nya tidak seperti kedai kopi Starbucks atau Kentucky Fried Chicken.
Franchise yang dimaksud oleh MLS adalah sebuah hak untuk mendirikan klub (calon) peserta kompetisi pro. Guna membeli hak itulah, Anda atau konsorsium harus memenuhi sejumlah syarat.
Requirements (franchise) come first, club will come after that. What kind of requirements?
Pertama, aspek finansial. Anda harus membuktikan bahwa kocek Anda sangat-sangat tebal. Anda harus menunjukkan kemampuan membayar gaji seluruh orang yang ada di klub (termasuk pemain dan pelatih) dan membiayai operasional klub selama mengikuti MLS. Jumlahnya bisa mencapai ratusan juta dolar.
Kedua, Anda harus punya home ground alias kandang untuk bermain. Stadion yang diajukan dalam proposal pun harus memenuhi sejumlah syarat teknis MLS. Apesnya, ini syarat yang gampang-gampang susah.
Kita tahu bahwa AS adalah negeri yang gandrung pada baseball dan American Football. Banyak stadion di sana yang dibangun untuk kepentingan dua sport itu. Bila Anda mengajukan stadion yang tidak didesain khusus untuk sepakbola, maka akan ditolak. Stadion harus murni untuk sepakbola dan bukan American Football atau baseball.
Saat sudah menentukan stadion sesuai teknis MLS, Anda juga harus mengantongi kesepakatan leasing dengan pengelola/pemilik stadion dengan biaya ratusan juta dolar. Bila itu sudah aman, maka MLS akan memberi kode lampu hijau. 86!
Syarat ketiga, Anda harus mengantongi izin dari pemda setempat bahwa klub akan berkandang di kota tersebut. Segala izin untuk mendirikan klub di sana — termasuk bertanding, pembayaran pajak dan kemungkinan pembagian keuntungan harus dijelaskan dalam MoU dengan pemda/walikota.
Keempat, Anda harus membayar franchise fee kepada MLS sebelum mendapat status sebagai peserta liga. Konon, sebagai contoh, Seattle Sound harus membayar fee sebesar 40 juta dolar sebelum ambil bagian di liga mulai tahun 2009.
Nah, katakanlah, keempat syarat itu bisa Anda penuhi. Namun franchise MLS belum tentu diperoleh. Apa pasal?
MLS masih harus melakukan riset pasar. Apakah kota di mana klub akan bermarkas punya cukup basis fan? Apakah penggemar di kota itu mampu membeli tiket dan merchandise tim? Jawaban dari pertanyaan ini harus positif. Bila sebaliknya, Anda terpaksa gigit jari.
Itu sebabnya, jangan heran bila melihat ada klub MLS yang dipindah kandang ke kota lain. Bahkan ada pula yang dicopot dari MLS dan hilang dari peredaran. Penyebab yang paling umum adalah sepinya penonton atau menurunnya penjualan merchandise. Artinya, kota itu ternyata tidak prospektif sebagai peserta liga.
KecapQuote:
Franchise untuk MLS, Bukan Indonesia (2)
Kelihatan sekali MLS dipersiapkan/dilakukan dengan matang dan penuh perhitungan. Parameternya adalah sebelum mengikuti kompetisi (calon pemilik klub) dan saat sudah berada di dalam kompetisi (pembatasan gaji pemain/salary cap dan sistem draft untuk pemain rookie).
Seolah-olah yang dibuat oleh MLS adalah memperbaiki sistem terbuka (mekanisme pasar) ala Eropa. Walaupun UEFA saat ini punya Financial Fair Play, tetapi MLS sudah sejak awal melakukannya. MLS meminimalisir kekacauan yang mungkin timbul.
MLS boleh bersyukur karena punya cermin yang cemerlang (UEFA). MLS sadar bahwa AS bukan negara sepakbola walaupun pernah punya kompetisi sepakbola profesional pada era 60-70-80-an dengan Pele dan Franz Beckenbauer di dalamnya.
MLS menjalankan studi kelayakan dengan serius. Padahal mereka berada di negara super power. Studi banding yang serius dan panjang juga pernah dilakukan oleh Japan FA ketika akan memulai J-League.
Lalu, apakah MLS dengan sistem franchise-nya cocok diterapkan di kompetisi Indonesia? Jawaban saya simpel: tidak! Kalau mau meniru sedikit banyak, mungkin sistem dan manajemen kompetisi Jerman lebih pas.
Yang perlu dicermati adalah proses menuju MLS-nya. Kompetisi sepakbola saat ini sudah menjadi industri dan dalam industri dibutuhkan variabel riset. Ada studi kelayakan dan studi banding. Itulah yang perlu dilakukan pengelola kompetisi di sini.
Apakah kompetisi Indonesia — entah Liga Super Indonesia atau Liga Primer Indonesia — pernah melakukan variabel itu? Selama saya mengikuti berita-berita mereka, rasanya tak pernah. Kelihatannya hanya dengan belajar sambil lalu. Mungkin saya salah.
Bila MLS yang berada di negara sebesar AS mensyaratkan kecukupan modal ratusan juta dolar bagi calon pemilik klub, bagaimana mungkin kompetisi di Indonesia — sebagai negara dunia ketiga — tak pernah memerhatikan hal itu. Seperti halnya di MLS, di berbagai kompetisi regional Eropa, klub pun diharuskan membuktikan kemampuan finansial mereka mengikuti liga dengan menyetor uang deposit di awal musim. Ini tidak dilakukan di Indonesia!
Entahlah, apa yang ada di pikiran pengelola liga di Indonesia. Alhasil, krisis keuangan seperti yang dialami oleh Persiba Balikpapan selalu terjadi setiap tahunnya. Ajaibnya, klub-klub itu tetap survive sampai kompetisi usai.
Kompetisi di Indonesia diikuti oleh banyak klub karbitan. Klub yang mengikuti kompetisi tanpa sumber dana yang jelas. Klub yang keikutsertaannya atas dasar kepentingan Pilkada. Bukan atas dasar pembinaan, bukan pula atas azas prestasi.
Terus terang, saya ndak sreg melihat level tertinggi kompetisi di Indonesia diikuti oleh beberapa klub dari kota kecil. Misalnya, PSAP Sigli, PSSB Bireun, Persidafon Dafonsoro dan beberapa yang lain. Saya membayangkan kekuatan sumber dana mereka. Saya menghitung biaya tandang dari ujung Barat Indonesia ke pojok Timur Indonesia dan sebaliknya. Itu baru satu kali pertandingan. Ada berapa pertandingan dalam semusim dan seterusnya.
Bila dana diambil dari APBD, betapa absurd. Kawasan di seluruh pelosok Indonesia masih membutuhkan pembangunan infrastruktur. Puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Itu jauh lebih penting ketimbang hura-hura di sepakbola.
Lho, kompetisi kan boleh diikuti klub dari kota manapun, mas? Tak peduli dari kota besar atau kecil? Iya, tentu saja boleh. Tetapi proses kehadiran mereka harus ditegaskan dulu. Termasuk klub-klub besar tradisional. Selain pembinaan, esensi kompetisi adalah untuk mereka yang mampu. Apa parameter “mampu”? Itulah yang harus ditegaskan. Dihitung. Dipelajari. Dirumuskan.
Boleh saja tim seperti PSAP mengikuti kompetisi, tetapi harus atas dasar organik atau alami. Mereka ikut karena memang mereka benar-benar pantas dan mampu. Memenuhi persyaratan secara teknis atau non teknis yang terukur benar.
Bila pengelola MLS saja merasa perlu menerapakan syarat ketat dan melakukan riset pasar, maka kompetisi di Indonesia juga perlu melakukannya. Demi sistem yang baik dan cocok. Jangan lupakan pula kompetisi regional yang akan berguna bagi banyak klub di Indonesia. Klub bisa belajar mengukur diri. Belajar organik, sekaligus bertekad membuktikan kepantasan mereka agar dapat tampil di jenjang tertinggi.
Requirements come first, clubs will come after that.
---------- Post added at 09:08 AM ---------- Previous post was at 09:06 AM ----------
Nah, sepertinya masalah requirement ini telah dilanggar PSSI
Ketika PSMS (dan tim degradasi lainnya) masuk tiba-tiba ke
LPI.
Point plusnya, PSSI telah membuat requirement (soal lain
jika requirement itu akhirnya dilanggar sendiri). Minimal dah
ada niat. Harapan saya, musim depan lebih tegas lagi
dalam mematuhi requirement itu.
buat ngakak dan sekilas info, nemu di na6a
Spoiler for timnas juara:
::hihi::
^ hehehe...kok ngg kedengeran ya beritanya ::hihi::
beneran kok, beberapa waktu lalu sempat liat di newsticker sih
ini beritanya ;)
saosQuote:
Timnas U-17 Sabet Juara di Hongkong
HONGKONG - Timnas U-17 Indonesia menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012 setelah melibas Singapura 3-1 di Stadion Po Keung Tsuen Village, Minggu (29/1) siang. Hasil itu memastikan Garuda Muda membawa pulang trofi karena pada dua laga sebelumnya menang atas Hongkong dan Timnas Makau.
Di bawah suhu udara yang dingin sekitar 8 derajat Celcius, Garuda Muda sempat tertinggal lewat gol M. Hasyim Faiz menit ke-36, namun di babak kedua mampu membalikkan keadaan. Tiga gol pasukan Indra Syafri dicetak Sabeq Fahmi menit ke-55 dan '59, serta Evan Dimas Darmono dari titik penalti pada menit ke-69.
Sepanjang sejarah sepakbola Indonesia yang terdokumenasikan, Timnas U-17 Indonesia baru kali ini merebut gelar juara. Jika pun ada prestasinya, itu diperoleh Timnas Pelajar Indonesia setelah menjuarai Pelajar Asia di New Delhi 1984, dan tahun 1985 di Jakarta, 27 tahun yang lalu.
Para Pelajar Indonesia yang menjuarai dua turnamen Pelajar Asia itu merupakan produk 'naturalisasi' Ragunan. Saat itu Frans Sinatra Huwae dipercaya dua kali menjadi kapten tim oleh tim pelatih Burkhard Pape, Omo Suratmo dan Maryoto.
Sukses meraih kemenangan 3-1 atas Singapura menyempurnakan pencapaian Garuda Muda di Hongkong dengan nilai sembilan. Pada laga pertama, Indonesia menundukkan tuan rumah Hongkong 1-0, dan membantai Makau 4-1.
"Sangat menggembirakan. Semoga saja ini awal dari kebangkitan sepakbola nasional. Hal ini pun semakin menegaskan bahwa program pembentukan skuad tim nasional secara berlapis memang wajib dilaksanakan," kata Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin seperti siaran pers yang diterima Okezone, Minggu (29/1/2012)
Djohar juga berharap pemain yang ada di luar negeri bisa terpantau dengan baik sehingga mereka kelak bisa menjadi pemain tim nasional. "Timnas U-17 ini nantinya akan terus dibina. Paling tidak terjadi tambal sulam untuk menyiapkan pemain tim nasional," tambahnya.
Pelatih Timnas U-17 Indonesia, Indra Syafri mengaku cukup puas atas hasil yang dicapai anak asuhnya. Meski waktu persiapan cukup mepet, tapi bisa memberi hasil maksimal di Hongkong.
Indra Syafri juga mengungkapkan, keputusannya mengistirahatkan lima pemain utama nyaris membawa petaka. Sebab, Singapura yang semula diprediksi mudah ditaklukkan karena dilibas Hongkong 5-1, ternyata membuat perlawan yang berat.
"Keputusan yang nyaris membuyarkan harapan. Tetapi saya senang anak-anak bisa juara apalagi seluruh 18 pemain yang dibawa ke Hongkong semuanya diturunkan. Mereka masih muda sehingga harus diberi kesempatan bermain," kata Indra Syafri.
Mantan pelatih Timnas U-16 Indonesia itu juga mengatakan, tidak tertutup kemungkinan jika pemain muda ini dipromosikan ke level timnas yang lebih tinggi. “Jika berbakat, mereka bisa dipromosikan bahkan ke tim senior,” kata dia.
Ada beberapa pemain U-17 yang digadang-gadang memiliki potensi cerah di masa depan, di antaranya Sabeq Fahmi, Samsul Muhidin Pelu, dan Indra Kelana Nasution. Keberhasilan Garuda Muda di Hongkong memberi banyak komentar, di antaranya, trofi itu bukanlah tujuan tetapi bagaimana melakukan pembinaan usia muda secara berkelanjutan guna membentuk tim nasional yang berkualitas di kemudian hari.
Kalo dirunut ya..sering banget gw denger tim Junior Indonesia berprestasi..
cuma kalo udah masuk senior jadi bapuk ::doh::
kapan ya liga nya bener nih...
jangan main di liga Indonesia ;D
SAD yg di Uruguay itu lumayan berhasil kan ya kayaknya ;)
Baca koran warta kota hari sabtu bilang kalo kepengurusan Nurdin Halid itu korupsi, emangnya yang sekarang enggak? -_-
timnas U21 ikut turnamen di Brunei, kemaren sama singapur draw 1-1
parah lawan myanmar , lead 1 - 0 malah kalah 3-1 ::doh::::doh::::doh::
pemain karbitan semua, seleksinya cuma sebentar ,,,::doh::
cuma bawa andhik doang ...
PSSInya bingung, yg dr LSI ga bole masuk timnas kan?
^
yang bingung pelatihnya....pssi nya sih masa bodo ::grrr::
kita liat aja bisa apa timnas tanpa pemain2 dari ISL
khusus buat timnas u-21 mainnya emang amburadul
pas lawan singapura aja sering banget salah oper. masa bola dioperin ke musuh ::doh::
timnas senior lagi lawan bahrain di PPD
baru main 2 menit samsidar udah kena kartu merah ::doh::
MADESU......:iamdead:
baru aja gw jadi saksi sejarah. menyaksikan kekalahan terbesar timnas Indonesia :iamdead:
10 - 0 ::hohoho:: meantab tenan!
kualitas timnas IPL masih kalah oleh LSI
pertandingan penutup, sayang hasilnya tidak elegan.
semoga hasil ini memberikan penyadaran bagi kubu yang bertikai
agar segera bersatu dan sepak bola Indonesia jadi membaik
nangis bombay deh ::nangis:: ::nangis::
note: mungkin lebih baik main di kandang sendiri aja... gak menang, bisa main tawuran :piso:
mau ngomong apa juga yah gitu
skillnya dah mentok , mental juga lemah
tunggu aja apa kata PSSI
emang semalem ada timnas maen yah? *pura2 gak tau :luck:
hancur hatiku... mengenang timnas... :nangis3:
hua ha ha ha.. ini baru awal saudara-saudara.. kita tunggu kehancuran selanjutnya..
semalem pas baru nonton udah 8-0 aja ::doh::
mainnya ditekan teruus, ga berkutik sama sekali
ini yang main gabungan pemain IPL dan pemain sea games (yg klubnya di IPL) kemaren ya?
http://sport.detik.com/sepakbola/rea...-dirusak-wasit
Djohar: Permainan Indonesia Dirusak Wasit
Riffla - Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin memberikan tanggapan terkait kekalahan 0-10 yang diderita Indonesia dari Bahrain. Menurutnya, permainan 'Skuad Garuda' dirusak wasit.
Indonesia mengawali pertandingan di Bahrain National Stadium, Rabu (29/2/2012), dengan sangat buruk. Kiper Samsidar sudah harus meninggalkan lapangan saat pertandingan baru berjalan tiga menit karena melanggar pemain lawan di kotak penalti.
Setelah Samsidar dikartu merah, pertandingan berjalan berat sebelah. Bahrain terus memburu gol, sedangkan Indonesia cuma bertahan dan sesekali menyerang balik.
Total, Bahrain mendapatkan empat penalti dalam pertandingan tersebut. Kubu Indonesia pun tampak tak puas. Pelatih Aji Santoso tampak beberapa kali melakukan protes kepada ofisial pertandingan dari pinggir lapangan.
Sementara itu, Djohar mengkritik kepemimpinan wasit Andre Al-Haddad. Ia mengaku tak mau mengkambinghitamkan Al-Haddad, namun ia menyebut sang wasit sudah merusak permainan Ferdinand Sinaga dkk.
"Kasihan anak-anak. Permainan mereka dirusak wasit sepanjang permainan. Tapi, saya tidak mau mengkambinghitamkan wasit, masyarakat bisa nilai sendiri kepemimpinannya," dalam pesan singkatnya kepada detikSport.
Di klasemen akhir Grup E, Bahrain tetap di peringkat ketiga dengan koleksi sembilan poin dari enam laga. Mereka kalah satu poin dari Qatar yang di pertandingan lainnya bermain imbang 2-2 dengan Iran. Dengan demikian, yang berhak lolos ke babak selanjutnya dari grup ini adalah Iran dan Qatar.
Adapun Indonesia yang sebelumnya sudah dipastikan tersingkir menghuni posisi juru kunci dengan poin nol dari enam partai.
Catatan lainnya, kekalahan 0-10 ini juga menjadi kekalahan terbesar sepanjang sejarah tim nasional Indonesia.
Ha ha ha ha... kalah ya kalah... main buruk ya buruk, pake cari-cari alasan segala...
Jika info ini berguna, minta ampas kopinya ya...
REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA -- Kepemimpinan wasit Andre El Haddad dalam laga Bahrain kontra Indonesia dalam laga kualifikasi Pra Piala Dunia 2014 Grup E Zona Asia di Stadion Nasional Manama, Rabu (29/2), menjadi sorotan para penggemar sepakbola. Tidak hanya masyarakat awam, melainkan para jurnalis, para jurnalis asing yang menangani segmen olahraga di media masing-masing.
Lewat situs jejaring sosial Twitter, beberapa jurnalis asing mengutarakan kritikan seputar kepemimpinan wasit asal Lebanon tersebut. Maklum saja, pemberian empat tendangan penalti dalam pertandingan tersebut terasa sangat mengherankan. Apalagi tiga diantaranya diberikan oleh El Haddad di babak pertama, dengan dua diantaranya berbuah gol.
Mike Donovan (Oregon Post) Amerika Serikat, Grant Wahl (Sport Illustrated), Jonathan Wilson (The Blizzard) adalah beberapa jurnalis yang meragukan kepemimpinan El Haddad. "Bahrain harus mencetak kemenangan dengan selisih sembilan gol untuk melangkah ke babak selanjutnya. Mereka mendapatkan hadiah berupa kartu merah pada menit kedua dan dua buah penalti. Siapa yang menyaksikan pertandingan ini? mencurigakan?" tulis Wahl pada akun twitternya @GrantWahl.
Nama El-Haddad sudah pasti tidak akan dilupakan oleh publik sepakbola Singapura. Kejadian ini terjadi saat negeri Singa tersebut menjalani laga perdana kualifikasi Pra Piala Dunia 2014 Grup A Zona Asia kontra tuan rumah Cina di Tuodong Stadium, Kunming, 2 September 2011.
Saat itu, Singapura berhasil unggul terlebih dahulu lewat gol yang diciptakan oleh Aleksandar Duric pada menit ke 33. Babak pertama pun berakhir 0-1 bagi keunggulan Singapura. Keadaan berubah drastis pada babak kedua.
Hal tersebut disertai oleh beberapa keputusan kontroversial yang dibuat oleh wasit berusia 41 tahun tersebut. Pertama adalah pemberian penalti pada menit ke 57 setelah penjaga gawang Lionel Lewis menabrak salah satu penyerang Cina di kotak terlarang. Beruntung Lewis mampu mementahkan eksekusi tersebut.
Sepuluh menit kemudian Cina kembali mendapat hadiah penalti. Kali ini pemain belakang Singapura didakwa melanggar Yu Dabao di kotak penalti. Meskipun dari tayangan ulang Dabao terlihat sengaja menjatuhkan diri, El Haddad tetap menunjuk titik putih. Eksekusi Zheng Zhi sukses membobol gawang Lewis.
Mental para penggawa tim Singa pun anjlok selepas pemberian penalti tersebut. Belum sadar dari keterkejutan mereka, tak lama berselang Cina berhasil memperbesar keunggulan menjadi 2-1 lewat gol Yu Hai pada menit ke 73. Keunggulan tersebut bertahan sampai pertandingan berakhir.
Selepas pertandingan, segenap pemain Singapura mengkritik keputusan-keputusan kontroversial sang pengadil. Bahkan penjaga gawang Singapura Lionel Lewis menyebut bahwa wasit telah merebut kemenangan dari timnya. "Kami benar-benar dirampok olehnya. Laga ini benar-benar laga antara 15 pemain melawan 11 pemain," ujarnya seperti dilansir Strait Times.
Kegusaran Lewis amat terasa mengingat dirinya baru saja masuk pada menit ke 54 menggantikan Izwan Mahbud yang harus ditarik akibat cedera. "Penalti pertama fifty-fifty, akan tetapi untuk insiden yang kedua, tidak ada yang menyentuh pemain Cina tersebut," tegasnya. Setelah itu, El Haddad menghadapi hujan kritikan dari pers Singapura dan juga Cina. Sejak saat itu pula, integritas El Haddad sebagai seorang wasit dipertanyakan.
Integritas yang akan terus dipertanyakan selepas pemberian kartu merah pada Samsidar di menit keempat babak pertama. Tak lupa, empat hadiah penalti dalam laga yang berujung 10-0 bagi Bahrain tersebut.
Wasit hanyalah manusia biasa. Akan tetapi jika wasit telah mengambil sederet kontroversi, tentu sederet pertanyaan akan mengemuka. Termasuk terhadap Andre El Haddad.
http://id.olahraga.yahoo.com/news/in...6--soccer.html
mainnya emang bagusan bahrain kok...(pdhal gw gak nnton. cuman pada rame aja dengerin org2 ,mbahas)
meski wasit curang...10-0 apa gak keterlaluan ya timnas?
Gue nonton yg pas china vs sg. Yg menang emang harusnya sg. Wasitnya emang parah.kasih penalti ma freekick mulu.
djohar ga mau mengakui kalo tanpa pemain ISL timnas ga berkutik, makanya mengkambing hitamkan wasit. kalo penaltinya ga dihitung tetep aja timnas kalah 8-0
wasit kemarin emang rada keterlaluan. dari 4 penalti, yang 1 jelas2 pemain bahrain nya diving. tapi kartu merah buat samsidar gw rasa pantes diberikan....lha wong dia jadi orang terakhir pas menarik baju pemain bahrain....dan pinternya pemain bahrain aja memanfaatkan pelanggaran konyol samsidar dengan menjatuhkan diri
harusnya wasit2 di liga indonesia dibenerin tuh. biar pemain2 Indonesia ga terbiasa bikin pelanggaran konyol. efeknya baru keliatan pas mereka membela timnas
---------- Post added at 12:42 PM ---------- Previous post was at 12:06 PM ----------
Inilah Makna di Balik Kekalahan Telak Timnas Garuda
Timnas Indonesia saja baru saja memecahkan rekor yang tertahan sejak 38 tahun lalu tepatnya tahun 1974 dan rekor itu pecah bukan di kandang sendiri, namun di Stadion Nasional Manama, Bahrain, Rabu malam (29/2).
Memecahkan rekor seharusnya mendapatkan pujian dan sanjungan dari masyarakat maupun stake holder bahkan bisa masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), namun berbeda dengan yang satu ini. Hasil Timnas Garuda dinilai mengecewakan.
Memang bukan tanpa alasan. Timnas yang selama ini disanjung-sanjung dan dinilai yang terbaik saat ini oleh PSSI harus menerima pil pahit dengan digelontor 10 gol tanpa balas oleh Bahrain dipertandingan terakhir Grup E PPD 2014.
Dengan kekalahan ini, Indonesia yang dilatih oleh Aji Santoso menjadi juru kunci di Grup E dengan nol poin dari enam pertandingan. Yang lebih memilukan lagi, selama turun di PPD 2014 baik kandang maupun kadang, Timnas Garuda hanya mampu menciptakan tiga gol dan 26 gol kemasukan.
Hasil kurang maksimal yang diraih Timnas Garuda sangat dirasakan oleh dua punggawa klub Semen Padang yaitu Ferdinan Sinaga dan Abdul Rahman. Dalam akun twitter-nya (bomber Semen Padang itu menulis "Maaf telah membuat malu Indonesia dalam game tadi..kami hanya berusaha semaksimal yang kami punya..jangan menghujat kami yang sudah berusaha".
Begitu juga dengan Abdul Rahman. Pemain yang juga dari klub Semen Padang mengakui jika Indonesia kalah kelas dibandingkan dengan Bahrain. Kondisi ini ditambah dengan kepemimpinan wasit yang dinilai banyak menguntungkan tuan rumah karena minimal harus menang 8-0 agar bisa lolos. Namun upaya itu gagal setelah Qatar melawan Iran berakhir imbang.
"Gitulah kalau 'dizholimi', yang di atas pasti melihat. Tapi terlepas dari penyebab kekalahan gak usah kita jadikan alasan. Kita harus secepatnya berbenah kalau ingin berbuat lebih baik," kata Abdul Rahman melalui pesan singkat.
Meski banyak yang kecewa, warga Indonesia tidak boleh langsung menghakimi pemain dan pelatih yang telah berjuang sekuat tenaga dalam membela bangsa dan negara. Pemain dan pelatih hanyalah aktor di lapangan. Yang perlu disorot saat ini adalah peranan pemangku kepentingan sepak bola Indonesia dalm hal ini PSSI.
Tim baru
Timnas Garuda sebelum menjalani pertandingan terakhir PPD 2014 melawan Bahrain dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik. Kenapa tidak. Mayoritas pemain yang turun di PPD sebelum dilarang bermain oleh PSSI karena telah diberi sanksi setelah turun dikompetisi yang dinilai ilegal.
Kondisi ini jelas membuat Aji Santoso yang ditunjuk oleh PSSI untuk menggantikan Wim Rijsbergen kelabakan. Dengan waktu singkat, pria asal Malang ini harus mampu membangun tim dan ditargetkan harus mapu mencuri poin.
Aji langsung bergerak cepat yang salah satunya menyeleksi pemain yang berlaga dikompetisi yang diakui oleh PSSI yaitu Indonesia Premier League (IPL). Ada delapan pemain yang didapat dan langsung dengan pemain yang telah lolos seleksi karena pernah turun di PPD maupun SEA Games 2011 lalu.
Salah satu pemain yang kembali masuk skuad timnas adalah Irfan Bachdim. Pemain yang bermain cemerlang saat Piala AFF 2010 ini kembali masuk tim inti setelah terbebas dari sanksi yang diberikan oleh PSSI. Namun kembalinya pemain keturunan Indonesia-8elanda itu belum mampu memberikan yang terbaik.
"60 persen pemain yang ada minim jam terbang internasional. Tapi kami harus tetap bermain semaksimal mungkin," kata Aji Santoso sebelum berangkat ke kandang Bahrain.
Dengan rencana menurunkan tim baru, PSSI langsung mendapatkan keberatan dari Federasi Sepak Bola Qatar karena menilai Indonesia tidak menurunkan tim terbaiknya. Hanya saja keberatan itu ditanggapi dengan dingin oleh Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin. Pihaknya mengaku yang diturunkan melawan Bahrain adalah pemain terbaik yang ada saat ini.
Jika PSSI tetap menggunakan jasa pemain lama dan digabung dengan pemain baru bisa jadi keberatan itu tidak datang meski belum ada jaminan jika timnas bisa kalah tipis maupun mampu memenangkan pertandingan atas tuan rumah Bahrain.
Paling tidak Timnas Garuda mampu mengimbangi permainan anak asuh Peter Taylor itu. Terbukti pada pertandingan pertama di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta beberapa waktu lalu hanya kalah tipis 0 -2 dari Bahrain.
Dengan kondisi ini sebaiknya seluruh pemangku kepentingan atau stake holder sepak bola nasional bersatu. Tidak seperti yang terjadi saat ini. PSSI dengan anggota PSSI yang akhirnya membentuk Komite Penyelamat Sepak Bola Nasional (KPSI) bersitegang sehingga sedikit banyak berpengaruh kepada timnas maupun kompetisi.
Alangkah baiknya kekalahan telak timnas akan menjadi cambuk bagi PSSI maupun KPSI melakukan rekonsiliasi. Momen Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar KPSI dan Kongres Tahunan PSSI yang sama-sama digelar 18 Maret bisa dijadikan tonggak kebangkitan sepak bola nasional.
Jika kedua kubu ini terus berseberangan bisa dipastikan perkembangan sepak bola nasional akan terus terganggu. Konflik kepentingan seharusnya dibuang jauh-jauh agar cabang olah raga yang banyak digandrungi masyarakat ini bisa jauh lebih berprestasi.
Berdasarkan catatan rekor kekalahan terbanyak Timnas Indonesia yang ada, Tim Garuda terakhir kali terjadi pada tahun 1974 saat menghadapi tuan rumah Denmark. Sebetulnya timnas juga mengalami kekalahan yang cukup banyak, hanya saja tidak sampai 10 gol.
Indonesia pada Merdeka Games 1976 juga harus mengakui keunggulan Malaysia dengan skor 1-7. Malaysia juga menjadi momok bagi Timnas Garuda pada kualifikasi Olimpiade 1980, Indonesia harus kembali menyerah dengan skor 1-6.
Kekalahan telak juga terjadi di tahun 1991. Saat menjamu Mesir di Piala Presiden, tim tuan rumah harus menyerah 0-6. Tahun 2007 atau berselang 16 tahun, timnas juga kembali menelan pil pahit saat dihajar oleh tuan rumah Suriah, 0-7.
Kekalahan telak juga terjadi saat Indonesia dilatih oleh Alfred Riedl. Boas Salossa dan kawan-kawan harus menyerah dari Uruguay, 1-7 di Gelora Bung Karno Jakarta, 2010. Saat itu Uruguay diperkuat oleh Luiz Suarez dan Edinson Cavani. Dan yang paling menghebohkan adalah Timnas Garuda kalah telak dari Bahrain, 0-10 pada PPD 2014.
saus
---------------------------------------------------------------------
jujur gw malah kasian ama para pemain. mungkin mereka berharap pertandingan cepat selesai pas berada diatas lapangan....
Yang busuk itu kan yang diatas.. ya PSSI ya KPSI.. ck ck ck...
ayo ipin , limbong , djohartod mana pertanggungjawabannya
qatar aja sampe protes , coba kalo qatar gak lolos
bakal jadi kasus tuh karena dianggap maen mata
tambahan nih buat PSSI
http://kkcdn-static.kaskus.us/images...0301085018.jpg
^
BBM nya sapa tuh.......?
Ntar ngelawan inter bisa seratus kali
Gue kok dah biasa aja walau kalah 10-0 ya. *dah mati rasa*