Ia telah menunjukkan kepadaku, berkali-kali
siapa engkau sebenarnya.
Masihkah kau menginginkannya?
Printable View
Ia telah menunjukkan kepadaku, berkali-kali
siapa engkau sebenarnya.
Masihkah kau menginginkannya?
Ada masa dimana hati terasa berderap,
kala menemukan sepasang matamu,
yang meleburkan duniaku.
Aku tidak pernah memikirkan dunia yang lain,
sebab duniaku, hanya kamu.
Sosokmu membangkitkan seluruh daya,
melambungkan raga hingga ketepi langit,
yang tak terbatas,
kala napas, terasa bukanlah milikku lagi.
Sebab engkau memiliki bagian yang lain, hanya kamu saja.
Ratusan hari terbentang, ribuan hari terlewati
Aku tidak pernah berhenti menunggu,
hingga namamu memudar dari ingatan.
Kenanganmu menyisakan perih didalam hati,
memudarkan ingatanku bahwa pernah ada, hanya kamu. Didalam hati.
Kini aku berdiri, mengamati setiap keping hati
yang mengabu diterbangkan angin.
Aku bertanya pada diriku sendiri,
pernahkah kuletakkan hatiku pada sepasang matamu,
yang melesat bagai anak panah, menjatuhkan dan mematahkan,
kala aku tak mampu menghindar. Tak ingin menghindarimu.
Lalu engkau pergi, bagai angin yang menjerembabkanku,
dan terkunci bersama air mata.
Haruskah engkau ada, kala aku mampu berdiri?
Mengapa kembali kau patahkan hati, kala aku mampu berlari?
Aku tidak pernah berhenti bertanya, walau aku tak membutuhkan jawab.
Sebab aku tahu,
satu-satunya kepastian adalah kesia-siaan.
Akan kupungut setiap abu yang mengudara,
mengumpulkannya setitik demi setitik,
hingga aku mampu untuk kembali tersenyum,
dan memudarkan ingatanku sekali lagi, tentang kamu.
- - - Updated - - -
Kala kuletakkan hatiku, pada sepasang matamu,
detik itu pula jantungku berdegup untukmu.
- - - Updated - - -
Satu-satunya kepastian,
adalah kesia-siaan.
Mengapa engkau masih begitu bebal dan tidak mau belajar?
Aku akan mengambil cahaya.
Sebab kudengar dentingan hatimu yang perlahan retak.
Berikan cahaya itu atau akan kurampas darimu.
Dia tidak boleh menguasaimu lagi.
Lupakan,
luka itu.
My self,
Engkau begitu lemah dan penuh rasa maaf.
Tidak dapatkah engkau belajar untuk menjadi sekeras batu,
tidak perlu seperti diriku,
tapi cukuplah mendekati diriku?
Kamu... begitu hopeless.
Pada suatu hari, waktu melunakkan hatinya untuk menyapa seorang gadis kecil yang selalu duduk terdiam sambil melihat matahari terbenam, dipuncak gunung Alpen. Tidak peduli hujan, badai ataupun remuk tubuhnya, dia selalu kembali dan pergi pada jam yang sama.
"Mengapa engkau selalu duduk disini? Aku telah melihatmu selama 365 hari dan engkau selalu mengagumi matahari yang sama dan meneteskan air mata yang sama. Bolehkah aku tahu, apa yang mengganggumu?"
"Kekasihku berjanji bahwa kami akan kembali bertemu ditempat ini, dalam waktu 365 hari. Dan aku kuatir dia akan kembali lebih cepat, sehingga aku memutuskan untuk kembali kesini setiap hari," jawabnya.
Waktu terdiam sesaat. Dengan sekali kepakan sayapnya, dia telah kembali ke masa lalu. Ia menemukan gadis itu dan kekasihnya berjanji untuk kembali kesini. Tapi waktu pun penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi dimasa depan, maka dia segera pergi ke masa depan untuk melihat kisah cinta keduanya.
"Satu-satunya kepastian, adalah kesia-siaan." kata waktu. "Pulanglah."
Gadis itu tersenyum. "Engkau tahu, setiap hari tidaklah sama. Setiap air mata yang kujatuhkan dari mataku, tidaklah sama. Setiap senja, tidak pernah sama. Kita tidak pernah menapak jalan yang sama. Aku tahu, dia tidak akan kembali."
Waktu semakin penasaran. "Lalu mengapa engkau membuang-buang waktumu?"
"Sebab janji, membuatku telah membuang-buang waktunya. Seharusnya kukatakan padanya untuk pergi saja dan tidak perlu kembali. Aku akan baik-baik saja. Dengan demikian, dia akan terbang tanpa beban dan mungkin... memulai hidup yang lebih baik. Walau tanpa aku."
Waktu terdiam begitu lama, mencoba mencerna perasaannya. "Tapi kalian telah berjanji untuk kembali. Aku tidak mengerti..."
"Selama tiga ratus enam puluh lima hari, adalah waktu yang harus kurayakan untuk mengendalikan perasaanku, agar dia dapat melepaskan. Jadi aku selalu kembali, agar aku dapat merayu hatiku untuk melepaskan. Semakin hari, air mata kesedihan, berubah menjadi kekuatan. Dan aku rasa hatiku siap, untuk melepaskan." Gadis itu menatap sang waktu, "Ini adalah hari terakhir aku kembali. Aku tidak akan kembali lagi. Aku akan merayakan kebebasanku hari ini. Ini adalah air mata terakhirku, untuknya."
Gadis itu berdiri kala malam mulai membentangkan sayapnya. Biru langit menajamkan gemerlap cahaya bintang, dan seketika langit dipenuhi bintang-bintang yang menakjubkan. "Kerinduan mengental dipelupuk matamu, kata-katamu tidak sanggup menutupinya. Baiklah, aku akan menghentikan waktu untukmu. Apa yang kau inginkan? Rindukah kau padanya?"
Waktu membawanya pada saat gadis dan laki-laki itu berjanji untuk kembali. "Inikah yang engkau inginkan? Engkau dapat mengatakan kepadanya bahwa engkau akan menunggunya dan dia harus kembali!!" Gadis itu menggeleng.
Waktu melesat membawanya pada masa depan. "Lihatlah, dia tidak akan ada untukmu. Air matamu, adalah kesia-siaan." Gadis itu melihat laki-laki yang dikasihinya sudah berbahagia, namun dia melihat janji masih mengikuti mereka dan janji telah merantai napasnya, membebani bahunya dengan sedemikian berat. Gadis itu kembali menggeleng.
Waktu kembali melesat mundur.. mereka kembali pada saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Keduanya akan berpapasan. Kala sepasang matahari kembar menghujam hatinya, menjatuhkannya dan membuatnya buta. "INIKAH YANG ENGKAU INGINKAN?!" seru waktu gusar.
"Berhentilah disitu!" pintanya. Waktu menghentikan dirinya. Tepat pada saat laki-laki itu lewat, gadis itu memalingkan wajahnya. Mereka berpapasan namun tidak saling menatap. Matahari kembar itu, tidak sempat membutakan matanya. Namun kemilau cahayanya...
Mereka kembali pada masa sekarang, dipuncak gunung Alpen dimana kegelapan perlahan menggurita. "Mengapa kau simpan perasaan itu? Engkau dapat membuat segalanya lebih mudah. Mengapa kau buang tatapmu padanya? Engkau bisa mengatakan kepadanya bahwa engkau akan pergi bersamanya!"
Gadis itu membekap hatinya. "Terima kasih. Kini dia dapat pergi tanpaku. Cukuplah aku yang menyimpan perasaan ini, dia akan pergi dan terbang tanpa beban." Gadis itu melihat sang waktu, "Dia tidak akan sanggup memikul cinta dan kerinduan. Dia akan menemukan seseorang yang lain." Gadis itu menatap kemilau bintang yang membuat hatinya lebih ringan karena kekhawatiran tak lagi membebaninya.
"Janji tak lagi mengurung langkahnya. Biarlah demikian, sebab aku sanggup memikul kerinduan ini, sendirian. Engkau akan menjadi temanku, yang mengikis segala rasa hingga tak lagi bersisa."
Waktu tersenyum. Sekarang dia mengerti.
Akan kupudarkan jarak,
agar dapat kau tangkap harumku.
Namun mengapa ketika aku akan berlari kepadamu,
engkau malah menjauh?
Seperti inikah caramu mencintaiku,
seperti rembulan yang puas hanya dengan menyinari,
mengagumimu dari kejauhan,
tanpa mampu merengkuhnya?
Bukankah pernah kau katakan padaku,
biarkan aku saja, yang mencintaimu.
Pelukmu masih terasa
membungkus bahuku.
Titik-titik hujan jatuh dari langit,
menyiram tubuh. Kukembalikan kepada langit.
Lalu,
pelukmu, terasa membungkus tubuh.
Membawaku melayang,
dalam dunia tanpa warna.
310920
- - - Updated - - -
Aku adalah hantu.
Diantara ada dan tiada.
Tetaplah... menjadi hantu.
Aku tahu engkau telah menyakiti hatiku,
dengan begitu brutal.
Tapi hatiku masih mengasihimu.
Berdenyut untukmu.
Tersenyum kepadamu.
Sebab hanya itu yang dia tahu.
- - - Updated - - -
Kata-katamu berubah menjadi jutaan anak panah,
yang mencabik hatiku hingga tak lagi berbentuk.
Rasanya air mata,
sanggup memudarkan warna pelangi.
Namun tetap kukirimkan jutaan bintang,
untuk menerangi malammu,
kala bersamanya.
- - - Updated - - -
"Re itu b4jingan, Mel!"
Siapakah sesungguhnya b4jingan itu?
Seorang b4jingan yang sedang berusaha mewarnai langitku,
atau seorang malaikat yang telah meruntuhkan duniaku?
- - - Updated - - -
It doesn't matter if you don't love me anymore..
Please stop, torturing my heart.
-----
Hanya satu paku saja yang kau tancapkan dihatiku.
Satu paku, yang penuh Kuasa.
-----
Aku akan mencintaimu,
sehari lebih lama, dari selamanya.
-----
Hatiku mencintaimu dengan caranya yang bodoh.
Maafkanlah dia.
~SJBK, Melody scene.
Aku suka harum tanaman.
Aku suka fajar yang merekah menyapa pagi.
Aku suka mengagumi malam yang beranjak pergi.
Aku suka gerimis yang turun, membasahi bumi.
Merayap lembut menuruni wajahku,
sambil membawa air mata.
Aku suka,
menangis dalam guyuran hujan.
Sebab hanya sang hujan saja, yang tahu.
Aku suka,
berpikir bagaimana melalui waktu,
hidup dan mati dalam pelukanmu.
Aku suka,
menyakiti diriku dengan segala kenangan tentangmu.
Hanya itu caraku untuk melihatmu,
mengingatmu,
merelakanmu,
membencimu..
Namun hatiku, tidak pernah sanggup.
Dia tidak pernah sanggup membawa setetespun rasa benci.
Membuatku perlahan membenci hatiku sendiri.
- - - Updated - - -
Bolehkah kutukar napas untukmu?
Hidup dan bernapaslah sekali lagi,
aku telah memaafkanmu,
jauh sebelum kau ucapkan kata,
kau ungkapkan laku,
Aku sungguh-sungguh telah memaafkanmu.
saat kali petama kau remukkan hatiku.
~SJBK
Debarnya masih sama. Membuat napasku terasa sesak.
Aku bertanya pada sang waktu,
dimanakah engkau selama ini?
Apakah cinta, sedang mempermainkanku lagi?
Mungkin hatiku belumlah sembuh,
kenangan tentangmu kembali mengental,
pada kecup yang bertaburan diudara,
dan telah mengguncang duniaku.
Tapi berbelas kasihlah padaku.
Jangan kau hancurkan hatiku,
lagi.
- - - Updated - - -
Sang Ratu berkata kepadaku,
engkaulah b4jingan itu.
engkaulah.
Setelah kau remukkan kepalamu sendiri,
apakah kau temukan apa yang kau cari?
Lalu dia tersenyum dengan sinis.
Tak perlu mencarinya.
Engkau tak lagi memiliki hati.
Engkau telah meremukkan hatimu sendiri, dua puluh tahun yang lalu.
Dan aku,
Akulah yang menghapus kenangan dikepalamu.
Yang tersisa hanyalah serpihan.
"Engkau tak mampu mengingatnya lagi, bukan?"
- - - Updated - - -
Tak perlu kau tangkap kenangan,
yang memercik di udara.
Akulah yang menghapus segalanya dari otakmu.
Jadi diam dan diamlah saja.
Biarkan aku bekerja.
Aku selalu bekerja untukmu, bahkan hingga detik ini!
Agar hatimu ringan dan riang.
Kau pikir siapa yang mematri senyum dibibirmu?
Siapa yang menghapus dan membalut luka hatimu?
Siapa yang membuatmu ringan melangkah,
walau harus kau lupakan hampir segalanya??
Bukan dia. AKU.
- - - Updated - - -
Aku bertanya pada diriku sendiri,
apakah engkau bukan manusia?
Aku masih bekerja untuk menghapus semua kenangan,
dan kau tambahkan lagi memori baru yang membuat tugasku semakin berat?!
Pejamkan matamu,
ingatlah bagaimana hujan air mata dan langitmu yang terbelah,
ingatlah bagaimana engkau bagai layang-layang lepas,
kapal yang karam,
laut yang tawar,
langit tanpa warna,
manusia tanpa kehidupan,
Ya Tuhan...
SAMPAI DETIK INI AKU MASIH BEKERJA UNTUK MENGHAPUS SEMUANYA!
- - - Updated - - -
Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang kau hapus dari otakku? Mengapa aku begitu amnesia? Lalu dia berkata kepadaku, akulah yang mencabut paku-paku dihatimu, akulah yang menghapus kenangan, akulah yang menukar cinta dengan ambisi --- agar ringan langkahmu dan kembali tersenyum!!
Jadi matikan saja hatimu sekali lagi! Dia sama sekali tidak berguna. Selama engkau masih memiliki ambisi, engkau tidak akan sanggup mencintai. Kalaupun engkau sanggup, itu sudah terlambat!
Sinar mataku,
tidak dapatkan kau redupkan binarmu sesaat saja,
kala bertemu dengannya?
Bukankah kita telah berjanji, untuk meredam kerinduan?
Bukankah kita telah sepakat, untuk tidak saling mempermalukan?
Tapi sinar mata. ku, mengkhianati laku.
Lalu aku bertanya pada sinar matamu,
ada berapa ton kerinduan didalam sana?
Mengapa tidak kau letakkan otakmu sesaat saja,
dan membiarkan hatimu meremajakan dirinya?
Bukankah dia sudah terlalu lama mendamba?
Namun sang Ratu berteriak dari singasana kristalnya,
Aku ingin sekali melihat bagaimana ini berakhir.
Aku akan kembali memohon kepadaku. Seperti dulu.
Bagaimana?
Bagaimanakah rasanya?
Kosong?
Gagalkah engkau?
Ya. Engkau gagal menemukan rasa.
Pun gagal memulangkan rasa.
Juga gagal menikmati rasa.
Bagaimana hasil kerjaku?
Puaskah engkau, karena kukosongkan hati?
Senangkah engkau, karena kuhampakan kerinduan?
Aku dan Sang Monster-lah.. yang telah bekerja.
Kami bekerja sangat keras untukmu.
Mungkin kami sedikit kebablasan tapi tidak apa-apa.
Sebab kami tidak pernah gagal,
dalam memusnahkan rasa.
Engkau tidak membutuhkannya. Tetaplah begitu.
My Self: Haruskah kita membantunya?
The Queen: Pardon me? Membantunya? Membantu orang yang telah melukai Me?? Mahkluk itu sudah setengah hidup, biarlah demikian.
My Self: Kita harus memaafkannya. Agar alam pun memaafkannya.
The Queen: Tidak pernah ada kata itu didalam hidupku. Coba kupikir sebentar, ya! Tidak ada.
My Self: Aku sudah memaafkannya jauh sebelum dia menyakitiku. Aku sangat ringan.
The Queen: Itu urusanmu!
My Self: Kata maafmu akan menggemerlapkan nasibnya. Maafkanlah dia.
The Queen: Aku akan mengembalikan setiap paku yang ditancapkan dihatiku. Tidak lebih, tidak kurang.
My Self: Aku akan meminta Me untuk memaafkannya.
The Queen: Kebaikan hatimu telah mencelakai kita semua. Lihatlah apa yang aku lakukan, Me dapat berdiri dengan kakinya sendiri, setelah para manusia binatang mencacah tubuh dan hatinya dengan brutal.
My Self: Tapi aku tidak memiliki kebencian sepertimu.
The Queen: Aku hanya mengubah cinta menjadi ambisi. Lihatlah apa yang dia miliki.
My Self: Engkau membuat Me lelah, sangat lelah.
The Queen: Aku membuatnya keras! Tapi engkau membuatnya lemah! Lihatlah apa yang ada dipikirannya, hanyalah keinginan untuk mati!
The Ghost: Kupikir kematian bukanlah hal yang buruk. Dia memang sudah sangat lelah.
The Queen: Diamlah!
The Ghost: Engkau terus memaksanya berlari disaat dia telah menyerah dan sekarat. Yang diinginkannya hanyalah kedamaian. Dan kematian, mendamaikan.
My Self: Aku ingin dia memaafkan dan mengasihani dirinya sendiri.
The Queen: Aku ingin dia mendapatkan apa yang sangat diinginkannya di dunia ini. Tidakkah kalian lihat? Dia begitu menginginkannya! Jadi bantulah aku dengan DIAM SAJA. Kita akan mendapatkannya dan menikmatinya bersama!
My Self: Ya, dia sangat menginginkannya.
The Ghost: Setelah dia mendapatkannya, aku akan datang padanya. Tapi kurasa dia tidak menginginkan tawaranku lagi.
The Queen: Diamlah kalian semua! Dia hanya perlu fokus karena waktunya sudah sangat dekat! Biarkan aku bekerja.
My Self: Dia tetap harus memaafkan, sebab dari sana akan tumbuh tunas kebaikan.
The Ghost: Dan aku akan terus berbisik ditelinganya, mungkin saja dia membutuhkan kedamaian itu.
The Queen: Dia tidak akan kemana-mana hingga aku mendapatkan apa yang diingikannya! Dia akan tetap disana, bertindak sesuai dengan yang aku inginkan. Tidak perlu sedu-sedan itu. Tidak perlu rasa cinta itu. Mungkin kubiarkan dia bermain-main dengan perasaannya tapi engkau tahu dia tidak akan pernah klimaks menikmati perasaannya sendiri. Biarlah demikian.
My Self: Ini adalah salah Sang Monster. Kalian sungguh jahat.
The Queen: ENGKAU TELAH MENCELAKAINYA DENGAN CINTA KASIHMU. BERAYUN DARI SATU LOBANG KE LOBANG LAINNYA DAN MEMBIARKANNYA TERJEREMBAB DAN TERKUNCI DIDALAM SANA. APA YANG KAU LAKUKAN UNTUK MENYELAMATKANNYA? SIAPA YANG MENYELAMATKANNYA? A-K-U!!! JADI DIAMLAH DAN BIARKAN AKU BEKERJA! KALIAN MEMUAKKAN.
My Self: Bagaimana kita bertiga bisa terkurung dalam raga Me seorang diri? Aku rindu melihat senyum jenakanya yang lucu.
The Queen: Dia akan kembali tersenyum. Sekarang biarkan kuselesaikan apa yang harus kuselesaikan!!
The Ghost: Aku akan selalu ada didekatnya. Tawaranku tidak pernah berubah.
The Queen: Dia akan tetap bernapas hingga waktu menentukan segalanya. Sebab hidup ataupun mati, manusia itu akan mendapatkan apa yang telah diperjuangkannya. Dan ingat, adam itu lemah. Manusia itu akan menikah lagi dan perempuan itu akan mengangkangi semua yang Me perjuangkan selama ini. Apakah kalian rela?
My Self: Jika memang demikian, Me harus merelakannya.
The Queen: ENYAHLAH, KAU IDIOT!!!
The Ghost: Engkau benar Q, tapi tugasku adalah berbisik ditelinganya bahwa ada kehidupan yang lebih baik diluar sana.
The Queen: Suatu saat nanti akan kukunci kalian berdua. Me hanya akan mendengarkan aku saja! Dia akan semakin kuat, bila bersamaku.
My Self: Kamu menyakitinya...
The Queen: Dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Akan kupastikan itu!
Tak apa.
Biarkan dia bermain dengan perasaannya.
Aku tidak perlu kuatir.
Aku mengenalnya.
Aku telah menguncinya.
Dia tidak akan kemana-mana.
pun tidak akan jatuh lagi.
Biarkan dia.
Biarkan dia bermain.
Dia membutuhkan sedikit percikan,
Aku telah menguncinya, dengan sangat kuat.
Tidak ada yang perlu dikuatirkan.
Perasaannya telah lama mati.
Dia tahu itu semu.
Biarkan saja.
Dia akan segera bosan.
- - - Updated - - -
Sebab aku mengenalnya,
dia tidak akan kembali pada cinta yang telah kadaluarsa.
Tanpa kukunci pun,
aku tahu dia tidak akan kembali.
Aku hanya membabat habis semua benih,
memastikan tidak ada kebangkitan kembali.
Siapapun yang sedang mengendalikan diriku,
I salute you.
Aku ingat bagaimana bintang di langit jatuh menghujamku,
sendirian dan tanpa perlawanan. Tanpa daya.
Aku ingat bagaimana... memantrakan dirimu pada setiap doa.
Aku ingat bagaimana berjalan dengan kepala terbalik,
dan hati yang terasa tercabut paksa dari raga, dan jatuh ke bumi.
Aku ingat.
Engkau sedang mengembalikan setiap paku,
didalam hatiku.
Biarkan dia merasakan, apa yang pernah aku rasakan,
tanpa menyadari
siapa
yang
menusuknya
dari
depan.
Bayangmu masih tertinggal,
pada hati yang sedang berusaha untuk berlabuh.
Aku berbisik pada hatiku,
aku tahu rindu bagaikan belatung.
Namun segalanya akan pudar pada waktunya.
Genggamlah tanganku,
kita telah melalui banyak tragedi,
kita akan kembali menghadapinya, bersama-sama.
Sudah kukatakan kepadamu,
tidak ada yang perlu dikuatirkan.
Ia telah terbiasa meremukkan hatinya sendiri.
Ia akan baik-baik saja.
Engkau harus tahu,
ketika dia kehilangan rasa,
dia benar-benar hilang.
Otakku membencimu,
tapi hatiku diam-diam masih merindukanmu.
Alangkah bodohnya.
Kadang aku bertanya...
kesalahan apa yang aku lakukan,
sehingga rasa hatimu berbuah secepat pagi meninggalkan malam?
Bukankah jika memang sungguh engkau mencintaiku,
engkau akan terus menggenggam tanganku,
walau apapun yang terjadi?
Kadang aku rindu hari-hari penuh bunga.
Namun aku takut kala bunga-bunga gugur sebelum waktunya.
Dan menghitamkan hari.
Bagaimanakah rasanya dibantai kerinduan?
Sekaratkah kamu?
Adalah sekaratku yang dulu,
dan sekarang kuhibahkan padamu.
Nikmati kesedihan itu.
Engkau akan segera terbiasa.
Aku ingat hari pertama berada begitu dekat denganmu,
dimana labuh jantung terada dapat memutuskan napas,
Engkau ada begitu dekat,
namun terasa begitu jauh.
Dan semakin jauh.
Hingga yang tersisa hanya air mata,
yang terasa begitu dekat.
First date 230121
Rasaku mati. Ragaku sekarat.
Dimanakah degup itu?
Degup yang pernah menjadi milik kita,
menggetarkan hati hanya dengan sepatah kata,
membuat wajah merona,
dan terasa melambungkan raga?
Degup,
yang membuat dunia terasa lebih bersahabat?
Keangkuhanmu terletak pada pikirku.
Sebab aku tahu,
suasana hatimu berubah secepat waktu.
Apakah ada rasa gundah,
kala menemukanku berada begitu dekat
pada seulas wajah yang lain?
Kurasa tidak.
Aku pun seharusnya tidak.
Terlalu banyak wajah yang bergentayangan
terlalu banyak hati yang kau tebarkan
terlalu banyak jala
terlalu banyak kepalsuan
dusta
harapan palsu
racun
virus...
Suatu hari nanti karma akan datang kepadamu.
Dia tidak pernah meleset sedikt pun.
Bahkan didalam mimpi pun,
engkau mengkhianatiku.
- - - Updated - - -
Engkau adalah nada yang membuat untaian lagu menjadi sumbang.
Engkau adalah senar tanpa dawai.
yang tidak seharusnya, ada.
- - - Updated - - -
Malaikatku,
bantulah aku menyangga hati.
Sepertinya kali ini aku tidak terlalu sanggup
melepaskan cinta yang masih ingin kudekap.
- - - Updated - - -
Harus berapa kali rasaku menyakiti hatiku?
Belum puaskah engkau?
Tidak.
Belum puaskah aku meremukkan hatiku sendiri?
- - - Updated - - -
Biarkan saja.
Dia sudah terbiasa meremukkan hatinya sendiri.
Dia akan terbiasa dan belajar tertawa diantara air mata.
Dia akan segera tawar.
Senyummu merekah bagai fajar menyapa bumi,
sinar diwajahmu, memabukkan malam
Pelukmu melingkari bahu,
bagai palungan. Terasa nyaman,
terasa damai.
Malaikatku,
Aku belum sanggup melajukan langkah untuk melihatmu pergi.
Tunggulah aku. Hingga akhir napasku.
Tekanan ini mengikis seluruh rasa.
Hampir tidak bersisa.
Berhentilah menjadi binatang.
Atau mesin.
Lepaskan. Bebaskan.
Manusiakan dirimu sendiri.
Kupikir Melody tidak hanya naif, tapi juga gila. Sebab dia mampu tersenyum kala melihat laki-laki yang paling dicintainya, berlalu bersama gadis itu.
"I wish you both, happy."
Senyumnya terurai begitu manis, tapi sinar mata itu.. adalah muramnya tujuh musim semi yang menggugurkan diri dalam semalam.
~SJBK
Sam,
ada begitu banyak warna pelangi yang dapat kau hitamkan. Mengapa harus Melody?
Gadis itu telah menyerahkan hatinya sebelum tubuhnya mekar. Kala kalian masih berkejaran ditepi pantai untuk menggapai batas langit dan mengantar senja pulang ke pangkuan malam.
Mengapa harus... Melody-ku?
~ SJBK
- - - Updated - - -
Lalu terukir senyum,
yang mampu menjatuhkan malaikat dari langit.
Seulas senyummu,
sanggup mendinginkan neraka
dan membuat sang iblis rela memotong tanduk dan ekornya.
Mel,
akulah iblis itu.
Yang keluar dari neraka demi mencari musim dingin
dimana bunga edelweiss mekar begitu indah.
Aku akan menumbuhkan sayapku, untukmu.
~ SJBK
Aku mencintaimu dengan cara yang bodoh.
Seperti dedaunan yang merontokkan diri demi tunas-tunas yang baru.
Aku ingin sekali berkata,
jangan pergi dariku.
Engkau adalah napasku, satu-satunya.
Dimana duniaku, hanyalah engkau sahaja.
Tapi melihat muramnya wajahmu,
aku berpikir mungkin seseorang sanggup mematri bintang itu kembali ke matamu.
Walaupun bukan aku.
~ SJBK
Aku ingat petang hari itu.
Ragamu terbang kepadaku. Tapi tidak hatimu.
Engkau melepaskan genggaman tanganmu.
Dan kubiarkan sejuta anak panah menghujam hatiku bersamaan.
Aku sanggup terluka untukmu.
Kurasa aku akan baik-baik saja.
~ SJBK
Satu-satunya manusia yang mematahkan hatiku sendiri,
adalah diriku.
Entah mengapa kadang aku senang melihatnya berduka.
Aku hanya ingin dia melihat,
dan terus menerus memperingatkannya,
tentang air mata itu.
Kami pernah merangkak mengemis matahari.
Entah beratus hari, terkunci pada air mata dan kesedihan.
Aku ingat betapa mengerikan rasa itu.
Aku adalah aku.
Tidak akan kubiarkan seorang pun berkuasa atas pikir dan lakuku.
Aku adalah raja untuk diriku sendiri.
Setiap kali rindu membungkus raga,
kupatahkan dengan kenangan
kala kerinduan menghanguskan belulang,
merusak rasa,
menuai jelaga,
dan hitamnya kesedihan menguasai kalbu.
Setiap kali aku merindu,
aku hanya perlu berpikir tentang duka itu.
Luka yang tak terpulihkan waktu.
Air mata yang berkarat disudut jiwa,
dimana perih terbawa hingga ke alam mimpi.
Setiap kali keinginan merusak raga,
kubiarkan benci membunuh kerinduan.
Menumpaskan semua candu untuk kembali mengecap asa.
Biarlah seperti ini.
Aku akan baik-baik saja.
Aku ingat ombak,
yang mengajariku berenang
menghempas tubuhku
dan membuatku mengepakkan sayap,
laksana kupu-kupu.
Kukatakan padanya,
aku akan selalu pulang.
Sebab engkau membawa hatiku,
mengunci dan mengurungku dalam kerinduan.
Rindu tanpa tanda baca.
tanpa bingkai,
tanpa penyesalan.
Rindu itu tidak hanya berat, tapi juga b4j1ngan,
Sebab ia menyakiti melebihi dari para petarung brutal.
Terbantai, tanpa mampu melawan.
Melody mengulum senyumnya.
Sam masih milikku.
Masih...
Tapi mungkin tidak seluruh hatinya, milikku.
- - - Updated - - -
Mungkin aku harus puas dengan memiliki sedikit keping hatinya. Mungkin...
Melody memandang Samuel, pikirannya berkecamuk.
Terkadang aku rindu...
Saat-saat kita berlarian menggapai batas langit.
Tidak ada yang lebih berharga darimu. Atau dariku.
Kita saling memiliki, satu sama lain.
Walau kita tidak pernah tahu apa nama dari perasaan itu,
yang begitu berkuasa mematri napasmu pada setiap helaan napasku.
Membuat hidupku, hanyalah milikmu
dan untukmu saja.
Sam,
aku rindu saat matamu dan mataku melihat hal yang sama,
seperti paru-paru yang terbelah menjadi dua
dan melebur dalam satu napas.
Hentikan harimu untukku,
redam ambisimu untuk menaklukkan dunia,
sesaat saja.
Aku tidak akan meminta lebih.
- - - Updated - - -
Aku tahu kamu jatuh cinta pada ambisimu sendiri.
Kamu mabuk pada kuasa untuk menaklukkan dunia.
Tidak adakah hal lain yang lebih berharga?
Engkah telah menaklukkan hatiku,
menguasai duniaku,
menjadi satu-satunya tujuan napasku?
- - - Updated - - -
Mel,
Aku mungkin sanggup menguasai ambisiku untuk menaklukkan dunia.
Aku sanggup menghentikan hari-hariku untukmu.
Aku sanggup terluka untukmu.
Aku hanya tidak sanggup menguasai diriku,
untuk berhenti menaklukkan hatimu.
Berikanlah hatimu untukku. Sekeping saja.
~ SJBK, babak Reza
- - - Updated - - -
Sam,
berhentilah untuk menguasai dunia.
Engkau telah menguasai hatiku.
Jauh,
terlalu jauh,
dan terlalu dalam.
Sudah terlambat untuk berhenti.
Aku tidak tahu apa nama kesedihan ini.
- - - Updated - - -
Rasa menamai diri.
Apakah kamu mendengar hatimu berderap dan terasa remuk?
Sakitkah helaan napasmu?
Apakah engkau berjalan dengan kepala terbalik?
Dan hati yang terasa melesak kedasar bumi?
Melody,
rasa itu memiliki nama. Ia adalah patah hati.
- - - Updated - - -
Rindu berubah menjadi fitnah,
yang terasa sangat menyakitkan.
- - - Updated - - -
Seumur hidup Reza, dia hanya ingin menikahi Melody. Dan kini gadis itu ada dihadapannya. Dia tinggal mengucapkan ikrar, maka gadis itu akan menjadi miliknya. Air mata Melody, menetes dari balik kerudungnya. Setetes demi setetes, membasahi sarung tangan sutera berbrokat bunga. Tangan itu menggenggam buket bunga pengantin yang begitu indah. Bunga persik kesukaan Melody.
Reza ingat kejadian semalam, Samuel menyelamatkannya. Melepaskan pegangan tangan Reza atau mereka berdua akan jatuh kedasar jurang. Reza terkesiap. Melody adalah gadis yang paling dicintai Samuel. Dan ia akan menikahi Melody pagi ini. Rasa hati Reza melawan. Aku adalah b4j1ngan tapi.. tapi... Pemberontakan itu terasa meledak didalam dirinya.
"MENGAPA JADI BEGINI?!!" teriaknya dalam hati.
Lalu tanpa sadar dia mundur. Cincin dalam genggaman tangannya jatuh, menggelinding, dan berdenting....
- - - Updated - - -
Mencintaimu untuk seribu tahun mungkin terlalu lama.
Aku tahu, aku tidak akan sanggup.
Tapi aku akan mencintaimu,
sehari lebih lama, dari selamanya.
- - - Updated - - -
"Mengapa kamu suka bunga persik? Bunga itu bahkan tidak tumbuh disini." tanya Samuel.
"Tidak bolehkah kita menyukai sesuatu walau tidak terlalu mengenalnya?" tanya Melody balik.
"Entahlah. Tapi aku suka tumpukan buku. Lihat..." Samuel menunjuk awan. Tubuh bocahnya tegap menghadap langit, "Hari ini awan berbentuk buku. Ini hal yang baik. Aku akan kembali merangkai burung kertas. Ayo..."
"Apakah seribu burung kertas akan mengabulkan satu permintaan?"
"Tentu tidak," jawab Samuel. "Hanya tekad yang kuat, yang bisa!"
"Lalu? Untuk apa burung-burung kertas itu jika mereka tidak bisa mengabulkan permintaan?"
"Ini adalah lambang tekat yang kuat." Samuel menimang sebuah burung kertas yang berhasil dilipatnya. "Aku akan menaklukkan dunia." katanya bersungguh-sungguh. Melody menimang burung kertas yang berhasil dilipatnya, walau tidak berlalu rapi. Dia tersenyum lucu, kuncirnya menari ditiup angin pantai,
"Aku ingin selalu bersama Sam." katanya. Lalu dia tersenyum, "Apapun yang terjadi."
~SJBK
- - - Updated - - -
Genggamlah tanganku.
Kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi.
Apapun...
yang..
terjadi...
?
Rasa rindu ini,
terasa seperti patah hati.
Membuatku semakin membenci diriku sendiri.
Apakah engkau tahu br3ngseknya kerinduan?
Dia selalu menempatkan dirinya pada angka 0.
Bukan berarti kita telah terlatih merindu,
telah belajar hingga setengah jalan,
lalu tinggal meneruskannya lalu akan menjadi mahir.
Tidak.
semuanya berulang dari awal.
Kamu harus kembali belajar,
kembali mengendalikan,
kembali tersiksa,
kembali terluka,
dan sekarat.
Aku pernah berkata kepadamu,
bahwa aku akan terus hidup
agar dapat menguatkanmu yang hidup dalam kematian.
Aku pernah merangkak, mengemis matahari.
Berharap engkau tidak meninggalkan kata-kata
Mungkin aku rela menukar umurku untuk kembali bersamamu,
walau sesaat saja.
Aku pernah menjadikan namamu sebagai mantra,
memohon hati untuk segera sembuh,
agar aku dapat kembali tersenyum.
Kini kematian sungguh datang kepadamu.
Kematian yang kau pilih dan kau genggam,
menggerogotimu seperti belatung. Disepanjang napasmu.
Bagaimanakah rasanya?
Kini engkau tahu seperti apa, diriku. Dulu.
Engkau pernah membiarkanku membusuk dan rusak.
Maafkan aku.
Teruslah berjelaga. Aku tak akan kembali.
- - - Updated - - -
Ini bukanlah sekedar hukuman.
Ini adalah karma.
- - - Updated - - -
Dimanakah kata-kata yang pernah kau tinggalkan?
Ia sudah mengangkasa.
Dimanakah raga yang kau biarkan membusuk,
berabad-abad yang lalu?
Dia sudah kembali lahir.
Engkau tidak bisa mengkhianatinya lagi.
Berapa lama engkau sanggup,
memendam semuanya sendirian?
Terima kasih, sahabat.
Bagaimanakah rasanya?
Bagaimanakah rasanya dibiarkan membusuk dan rusak?
Apakah kesedihan merusak jiwa,
menguras raga,
memudarkan waras?
Bagaimanakah rasanya ditinggal dan tidak seorang pun peduli?
Menjadi serpihan, terasa mati dalam kesendirian?
Bagaimanakah rasanya meneguk segala macam obat pelipur lara,
namun terasa semakin beracun?
Bagaimanakah rasanya membunuh kerinduan
yang semakin menjalar seperti virus ganas tanpa penawar?
Bagaimanakah rasamu kini?
Tenanglah,
nestapamu tidak seberapa.
Bahkan belum dimulai.
- - - Updated - - -
Aku tidak melakukan apa-apa.
Aku tidak sedang membalas,
atau mengembalikan semua paku yang kau tancapkan dihatiku.
Karmalah yang melakukannya.
- - - Updated - - -
Cepat atau lambat,
paku-paku itu akan kembali kepadamu.
Dan Ia tidak pernah meleset sedikitpun.
Setiap tetes airmataku adalah suci.
Langit mendengar. Dan memutarbalikkan duniamu.
Lalu semuanya akan perlahan menjadi abu.
Tetaplah berjalan,
dengan kepala dibawah kakimu.
Seperti diriku, dulu.
- - - Updated - - -
Untuk semua sosok yang menyedihkan,
yang aku buang didalam lubang tanpa dasar itu,
akan tetap disana.
Aku mengutukmu.
Disetiap helaan napasku.
Engkau tahu apa yang telah terjadi padanya,
akan kembali terjadi kepadamu,
dan hukuman itu datang berlipat-lipat,
menjadi yang terburuk dari yang terburuk.
- - - Updated - - -
Untuk semua paku yang kau tancapkan dihatiku,
paku itu bernama. Dan
Karma,
akan menemukan sang pemilik nama.