-
Love is just a game.
Shall we begin?
- - - Updated - - -
Apakah aku sedang menyakiti hatimu?
Monster didalam diriku berkata bahwa aku tidak layak untuk cinta.
Dia mengambil semua kontrol atas diriku,
karena aku sedang berjuang untuk melupakanmu.
Aku ingin berlari dalam pelukmu.
Sebait katamu saja membuat jantungku berhenti berdetak,
dan mematri senyum, menyemarakkan hari.
Tapi dia berkata bahwa aku membutuhkan dia,
agar bisa melupakanmu.
Lalu kubiarkan dia mengambil kontrol atas diri dan hatiku.
Melihatnya menenggelamkan kerinduan,
menebas hasrat untuk menyapa,
dan mengeraskan hati.
Aku,
hanya bisa mengalihkan mata,
kala melihatnya menebus hatimu dengan pedangnya.
Maafkan aku.
- - - Updated - - -
Maafkan aku,
bila kubiarkan dia menikam hatimu.
Pedangnya pun menikam hatiku.
Aku harus membiarkannya.
Hanya rasa sakit yang dapat membuatku benar-benar mampu
membunuh rasa.
-
Kemarin aku adalah aku,
yang membuat matamu penuh dengan bintang.
Aku yang merengkuh dan memandangmu penuh kasih.
Namun dalam sekelebat mata saja, aku menjelma menjadi gunung es.
Karena mereka berkata perasaan ini tidaklah benar.
Akhir yang akan melukai dan membuatku menangis.
Aku terlalu lemah lembut dan bodoh, lalu
kubiarkan mereka mengambil cahaya.
Ada beberapa 'aku' didalam diriku,
engkau baru saja bertemu sang ratu.
Dia berkata kepadaku,
cinta adalah kesia-siaan, atau permainan.
Jika engkau mampu mengalahkan dirinya,
ia akan membiarkanmu bertemu denganku,
atau membawamu pada sang monster.
Ialah sang algojo.
Aku takut padanya.
Sebab ia belum pernah kalah,
dalam membinasakan semua rasa.
-
Dia tahu rasa sayang masih mengendap didalam hati.
Dia berjanji akan meleburkan semua endapan
agar aku dapat kembali bernapas dengan baik.
-
Bertahanlah.
Aku akan menunggu hingga semua rasa ini pudar.
-
Dia berkata bahwa dia masih merindukannya.
Tidak ada sepatah katapun kala hati mempermalukan dirinya.
Dia sendirian.
Merindu dan mulai mendendam.
Dia mulai berhenti. menemukannya.
Dia mulai berhenti.
Aku tertunduk penuh penyesalan.
Racunku akan menguatkannya. Dia akan segera sembuh.
Dia akan segera kembali. kepadaku.
Menjadi milikku saja.
Kala kulihat hatinya berdarah-darah,
akulah yang membalut lukanya.
Kala dia menangisi laki-laki itu,
kusimpan senyumku.
-
Ada berapa monster didalam hatimu?
Kita membutuhkan monster,
untuk menguatkan,
menyembuhkan,
membinasakan.
Cepat atau lambat dia akan mengerti.
- - - Updated - - -
Dengarkan aku.
Jika dia sungguh-sungguh mencintaimu,
dia akan melesat kepadamu.
Apapun yang terjadi.
- - - Updated - - -
Berhentilah membaca kisah.
Akan kuberi kau lima kesempatan.
Pada hari terakhir,
berjanjilah akan kau hempaskan segalanya.
Jika aku berkata, sembuhlah!
Maka engkau akan sembuh.
-
Pudar.
Rasaku memudar. Rasa yang menyenangkan.
Dan terasa ringan.
Musnahkan segala rasa.
Aku tidak mau ada satupun yang tersisa.
-
Dear me,
stay strong.
This too shall pass.
- - - Updated - - -
Dengarkan aku,
kita adalah jiwa yang berkeliaran
tersesat dan terikat.
Tertancap pada raga yang rapuh.
Namun engkau tahu,
jiwa adalah kuat.
dan dia tidak dapat dilukai.
Lepaskan lukamu.
Mungkin hatimu patah, dan belulangmu mengapur.
Tapi jiwamu adalah bebas.
Lepaskanlah, dukamu.
-
Tatap matamu, memaku diriku.
Aku ingin sekali beralih, sebab rasa ini salah.
Namun melihatmu disini, mengaburkan rindu.
Jarak yang terhitung, memudar.
Engkau ada didepanku. Senyummu membawa semu,
pada wajah. Rasa nyaman mengintip,
menggodaku. Apakah ada sedikit rasa,
yang tersisa? Setelah segalanya hampir memudar,
aku kembali menangkap asa.
Sebab hati tidak ingin melepaskan,
atau hanya mencari kemenangan?
Aku ingin sekali beralih.
Tapi hati berkata tidak. Biarlah tetap disini.
Biarlah tetap bersamaku.
Menghitung kapan tiba waktu untuk melukai diri.
- - - Updated - - -
Kita sedang menghitung waktu.
Pada saat itu tiba, akankah tergores luka.
Aku paham.
Hukuman karena mencintaimu.
Aku sadar.
Aku,
takut.
Akankah aku siap kala harus melepaskan?
Genggamlah tanganku.
Dapatkah kau biarkan kita menulis kisah kita sendiri?
Aku ada disini, bersamamu.
Tinggalkan. Hiduplah bersamaku saja.
-
Berhentilah merindukannya.
Engkau tahu segalanya sudah tak lagi sama.
Melangkahlah keluar,
setapak demi setapak.
Walau berat hati berpaling,
kita akan menemukan cahaya itu.
Dan akan tiba masa kala
engkau akan menertawai masa lalu.
- - - Updated - - -
Janganlah kembali menangkap aksara demi aksara
dimana dia melabuhkan hatinya padamu.
Kata-kata telah diingkari,
dan bersyukurlah hanya kecupan yang mampu
kau berikan.
- - - Updated - - -
Selalu ada ruang kosong diantara kata-kata,
tempat dimana dapat kusembunyikan rindu.
-
Rerumputan hijau. Manusia-manusia yang berbaris. Mereka menggunakan seragam. Lalu aku melihat engkau, diantara barisan itu. Senyummu menghentikan langkah. Lambaian tangan menjawab, dan wajahmu hilang. Lalu terasa ringan. Terbang melintasi batas cakrawala. Aku melihat orang-orang duduk dan bercengkrama. Baju mereka biru, berubah menjadi warna api. Dan yang terlihat hanyalah kilatan petir. Manusia-manusia yang berselisih. Jiwaku menukik, menghantam tanah. Hijaunya tanah tercabik paksa. Merobek warna darah.
Hatiku menghitam. Tiba waktunya untuk berhenti mencintai.
Berhenti menunggui hari.
Berhenti mengemis waktumu.
-
Ketika kerinduan menjelma menjadi warna merah.
semerah warna darah,
yang berubah wujud menjadi kemarahan.
Aku bersumpah akan berhenti mencintaimu.
-
Rindu berubah menjadi gunung.
yang begitu berat untuk kubawa sendiri.
Tak ada rindu untukku.
Tak ingin kau hentikan hari untukku.
Mungkin ini adalah tangisan terakhir.
Sebab akulah yang membunuh hatiku.
Karena dia tak mau berhenti mencintai.
-
Akankah mungkin,
kekecewaan berubah menjadi benci
kala terang menyapa,
hingga malam bergulir,
tiada penawar untuk melarutkan kerinduan.
Akankah mungkin,
dendam hati berubah menjadi asap,
melupakan segala janji,
yang saling melebur dalam kenangan?
Akankah mungkin,
kutatap matamu sekali lagi,
menyimpan harum tengukmu,
mendekap erat cerita,
memelukmu untuk kali terakhir??
- - - Updated - - -
Aku berjalan,
pada jalanan yang sepi
Kenangan-kenangan menggoda,
membuat langkah terasa semakin berat.
Kesepian melanda,
kerinduan membantai,
seperti memeluk sebuah bom,
yang meledak pada diri sendiri.
Menjadikanku serpihan.
Berkeping-keping.
-
Mel,
kamu boleh mencintainya, kamu.. kamu boleh mencintainya,
dengan segala daya yang kamu miliki.
Tapi biarkan aku mencintai, biarkan aku mencintaimu,
dengan segala rasa hatiku. Seluruh napasku. Seumur hidupku.
Biarkan aku,
mencintaimu.
Re,
seumur hidup mungkin terlalu lama. Kamu tidak akan sanggup.
Sam,
Aku bahagia janjimu tidak terbuat dari darah.
Sebab aku tidak ingin kamu selamanya pergi.
Jika aku bisa menukar napas untuk melihatmu kembali hidup,
walau tidak bersamaku...
Aku rela.
Jangan meninggalkanku, untuk selamanya.
~SJBK
-
Sayangku,
hari berubah menjadi muram.
Aku ingin sekali bertanya,
ada berapa pelangi yang kau hitamkan?
-
Lupakah engkau,
pada saat dimana kita mengemis matahari?
Adakah yang menggenggam tanganmu melewati detik demi detik,
yang begitu menyakitkan?
Lupakah engkau,
kala tubuhmu meringkik pada malam dingin,
saat kerinduan menghancurkan daya?
Lupakah engkau,
pada angka-angka yang saling menggandakan diri,
menghancurkan belulang dan membuat hatimu nyeri?
Lupakah engkau,
bagaimana aku membawamu keluar dari kuburanmu abadimu,
untuk melihat indahnya malam pada berjuta bintang.
Lupakah engkau,
bagaimana kita saling mematri bintang,
dan membuatmu kembali tersenyum?
Bukan dia. Tapi aku.
- - - Updated - - -
Aku membutuhkanmu.
Ambillah semua kontrol diriku.
Aku menyerah.
Hatiku terlalu lemah.
Kembalilah untuk mengambil cahaya.
Monsterku,
aku membutuhkanmu.
Hanya engkau yang mampu membakar semua rasa hingga tak bersisa.
- - - Updated - - -
Apakah engkau yakin?
Ini akan terasa sangat menyakitkan,
mungkin... seperti menarik seutas demi seutas nadi
dari tubuhmu.
Apakah engkau sungguh-sungguh yakin?
Sebab baru saja kuhempaskan beberapa pembuluh,
engkau telah meraung dan memintaku untuk berhenti.
Lalu kau kembali berlari kepadanya.
Membuatku merasa sia-sia.
Apakah engkau yakin?
Rasa sakit ini, bukanlah yang pertama.
Kita telah melalui begitu banyak luka,
aku akan menyelesaikannya untukmu,
yang perlu kau lakukan adalah...
bertahan. dan percaya kepadaku. saja.
- - - Updated - - -
Hapuslah air matamu,
dan letakkan lukamu, pada kotak yang selalu terbuka untukmu.
Aku akan menyelesaikannya untukmu.
-
Kerinduan memadat, dan menjadi batu.
Aku membutuhkan palu yang baru untuk menghancurkannya.
Dan meminta waktu untuk mengikis rasa.
Bukankah kita sudah berkali-kali jatuh dan sekarat,
aku akan menunggu hingga hari itu tiba.
- - - Updated - - -
Engkau harus tahu,
jika rasaku telanjur mati,
dia benar-benar mati.
Tiada suri. Tanpa kebangkitan.
Dia,
benar-benar m.a.t.i.
-
Jika engkau menghitamkan pelangi,
maka aku memudarkan cahaya bintang.
Setiap bintang yang pudar,
tidak akan pernah lagi berpendar.
Ia memucat, lalu perlahan menghilang dikegelapan langit.
Hanya sedikit yang tersisa,
dan itu tetap saja tak mampu membuatnya kembali bergemerlap.
Begitu pula hatiku.
-
Membaca lagi buku harian,
ingatanku melayang pada langit yang pernah kau lukis untukku.
Kenangan dan kenangan bermain dimataku,
yang dapat kuamati kini, tanpa harus kusesali.
Kusimpan senyumku
dan meletakkan keinginanku satu persatu.
Aku terpana melihat bagaimana sang monster bekerja,
dia sedang menambal lobang-lobang dihatiku.
Rasanya, tidaklah sesakit kemarin.
Tidak perlu terburu-buru. Biarkan rasa ini hancur,
dengan sempurna.
-
Tak perlu berlebihan,
kau dan aku adalah ********.
kita menikmati perburuan,
perlahan menenggelamkan,
dan tak pernah ragu kala harus meninggalkan.
Jadi simpan rasa sakitmu, dramamu.
Engkau adalah ******** sejati,
yang bernapas pada rasa yang telah semu.
sebab rasamu telah lama mati.
Engkau hanya berusaha terlihat hidup,
disaat rasa dan ragamu membusuk,
berabad-abad yang lalu.
- - - Updated - - -
Bahkan bayangannya pun mengkhianatimu.
Engkau masih berpikir untuk mengemis waktunya?
Ha!
-
Aku ingat kata-katamu,
marilah lepaskan dan pergilah kita,
ke tempat dimana hanya ada rumput, awan dan biri-biri.
Biarlah kutanggung kutukan manusia,
engkau hanya perlu memeluk tubuhku,
dan jangan lepaskan lagi.
Apapun jadinya nanti,
berdua kita hadapi. Berdua.
Sebab jutaan hari aku menunggu,
sejak pipimu merona bagai apel,
dan tubuh belumlah merekah.
Engkau telah mencuri hatiku.
Kata-katamu,
tergiang bagai gema. ditelingaku.
Melengking bagai derit besi karat, dihatiku.
-
Aku ingat tajamnya matamu. Kala melewati ruang kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. sebab aku malu.
Aku ingat tubuh jangkungmu. dan sungguh,
matamu membuatku lumpuh. Pipiku bersemu.
ingin sekali berlari. atau terbang, mungkin. Terasa kelu.
Tak terucap sapa. apalagi kata. untuk menjembatani rasa.
Engkau menjatuhkan hatiku pada taman penuh bunga.
Menikmati hari yang berjelaga. dalam senandung.
Tiga ratus lima puluh hari kemudian,
kau menghilang. bagai tak pernah dilahirkan.
Meninggalkanku bagai domba yang kehilangan gembala.
patah dan mendamba.
Air mataku jatuh laksana hujan.
Kuusap pohon cemara didepan kelasku. dan bertanya kepadanya,
kau pun melihatnya, bukan?
Mungkin aku salah meletakkan hati.
Keliru menggenggam asa. Lemah memilih daya.
Hingga cemara tumbuh berkali lipat,
dan menimbun kisah pada akarnya yang kuat.
Aku tahu. apa yang kau coba katakan
kala bibir tak mampu menterjemahkan kata.
Aku ingat hari itu mendung.
Kubiarkan hujan mengguyur tubuh.
-
Aku ingat bagaimana menyentuhmu, untuk kali pertama.
Lekukmu memabukkan. Aku tahu apa yang aku inginkan,
kala mata menangkap sosokmu. Aku tahu aku harus memiliki.
Kita selalu bersama untuk beberapa waktu,
engkaulah tangan, engkaulah kaki. Jiwa kita satu.
Melintasi batas sambil bergurau, dan saling menjaga.
Aku selalu mengagumimu. Mengecupmu lembut, setiap hari.
Engkau tahu, lara hati kala melepasmu.
Aku merindu, masih. Membayangkan kala derai tangis tumpah,
dan jerit kepedihan kukedapkan pada tubuhmu.
Aku ingat bagaimana engkau membuatku tersenyum.
dan bangga.
Aku akan kembali kepadamu dan membawamu,
kembali pulang.
-
Berdirilah tegak menghadap langit.
Tersenyum dan tataplah lawan bicaramu.
Berpikirlah dengan perlawanan,
agar tak mudah lagi kau telan racun asmara.
Kini aku bertanya kepadamu,
sebab kulihat engkau tersenyum, kembali menari,
sepanjang hari menyanyi.
Bagaimana hasil kerjaku?
Aku tahu. Monsterku, tidak pernah gagal dalam memusnahkan rasa.
Selamat tinggal, rindu.
-
Sembuhlah untukku, Coki.
Sembuh dan kembalilah memelukku.
Aku sangat mengasihimu.
Jangan meninggalkanku.
Jangan. lagi.
-
Adakah secangkir madu untuk menghapus cinta?
Jangan mencari air mata yang belum saatnya tumpah,
engkau telah menyerah pada penantian.
Teruslah berjalan,
biarkan hujan menghapus jejakmu.
-
Tinggalkan mimpimu sejenak.
Marilah meretas ulang hari yang pernah bergulir dipangkuan
Saat gerimis mencium rerumputan dengan anggunnya,
memeluk bertumpuk-tumpuk buku,
dan cemas kala melewatimu,
dikoridor depan kelasku.
Letakkan jam pasirmu sesaat saja.
Kita ulang kisah, kita reka ulang tatap.
Kala burung gereja bernyanyi di sore hari,
dan ruangan sekolah yang bergema bagai senandung.
Aku tak sempat bertanya mengapa mata tak ingin beralih.
Tinggalkan dan lepaskan nafasmu yang terus berlari,
untuk menaklukkan dunia.
Jauh sebelum dirimu berubah menjadi seseorang,
aku telah meletakkan hatiku padamu.
Tanpa syarat.
Jauh sebelum gambaran masa depanmu terukir begitu mapan,
aku telah mengikutimu.
Tanpa tahu seperti apa dunia kita nanti.
-
Tapi waktu berlalu, cinta pun berlalu.
Sebab ia tidak mau menunggu,
selamanya mungkin terlalu lama,
dan kelelahan ini sangat menyiksa batin.
Jangan menunggu, aku tidak akan kembali untukmu.
-
Kemana angin membawa rindu?
Apakah cinta telanjur diusangkan waktu,
sehingga aku tidak dapat lagi menemukannya?
Seperti inilah rasanya. Kini engkau pun tahu.
Bagaimana rasanya dicampakkan.
Jika engkau berani melukai hatiku,
akan kupastikan semua paku yang kau tancapkan,
kembali kepadamu.
Pasti.
- - - Updated - - -
Enggan.
Memulai sapa. mengulang kisah. memberi harap.
Aku sadar kisah tentangmu adalah kesalahan.
Ia tidak seharusnya ada.
Kini hanya rasa sesal,
ia sungguh-sungguh tidak seharusnya ada.
- - - Updated - - -
Ketika cinta, rindu dan luka hati duduk berbarengan,
dan dapat berbagi kisah sambil berangkulan..
Lega terasa.
Aku akan memaafkan diriku sendiri.
Memaafkan setiap kesalahan bodoh,
dan setiap jarum yang kutancapkan sendiri,
dihatiku.
-
Dengar,
ini seperti antiklimaks.
Hari yang kau tunggu, memuai.
Engkau tidak lagi berminat mengucap sepatah kata.
Teruskan langkah, jangan berhenti.
-
Jujurlah.
Jujurlah pada dirimu sendiri.
Engkau tahu buah yang baik,
akan tetap berbuah dengan baik.
Jujurlah!
-
Tidak apa.
Biarkan dia mengeringkan lautan rindu.
Dia akan mengerti bagaimana rasanya, dan mengapa.
-
Aku ingat bagaimana aku menghamba kepadamu.
Dan aku benci.
Kini rasa telah mati.
sungguh-sungguh, mati.
-
Kembali memungut untaian nada
untuk kembali ke palungan.
Baru saja kau tebarkan paku beracun,
pastikan mereka tidak kembali lagi untuk menusuk hatimu!
-
Sudah begitu jauh langkah kaki
Aku terus berjalan meniti hari, melewati tawa
dan kesepian.
Ketika aku sadari, tak dapat selangkahpun aku kembali,
pada masa dimana cinta bersemi.
Engkau mungkin tidak pernah merasakan hati yang patah,
dan tidak pernah tahu bagaimana malam meremukkanmu
bagai kayu lapuk yang tiada daya.
Aku ingin melupakan,
Aku ingin terus melangkah, melupakan semua kenangan
dan kebaikan hatimu, yang berulangkali menipuku.
Aku tidak ingin menangis lagi.
Aku tidak ingin mengingatmu lagi,
dan memasang senyum berulang kali.
Walau mata mengkhianati senyuman.
Berikan aku,
hati yang kuat. Untuk melupakan semuanya.
Jangan bertanya mengapa aku masih mendamba,
jangan tanyakan untuk apa air mata ini.
Engkau tidak pernah tahu apa itu cinta.
Engkau tidak akan pernah bisa,
mengerti...
- - - Updated - - -
Aku hanya ingin melupakanmu.
Adakah racun untuk melupakan semuanya,
sebab hatiku sudah telanjur sakit,
dia tidak bisa lagi membedakannya.
Segalanya terasa, tawar.
- - - Updated - - -
Aku selalu kagum betapa kuatnya hatiku.
Dia telah disakiti, dilukai, ditusuk,
dibakar, diredamkan, dicacah
hingga berkeping-keping,
dan masih tetap berdenyut.
Untukmu.
- - - Updated - - -
Ketika mencintaimu,
aku sangatlah rapuh.
Cinta seperti apa yang merapuhkan hati?
Bukankah mereka mengatakan cinta akan menguatkan,
menyembuhkan dan memaafkan?
Katakan padaku,
cinta seperti apa yang membuatku merasa mati jauh lebih mudah?
- - - Updated - - -
Aku mencintaimu. dengan amat sangat.
Tapi engkau meninggalkanku.
Bukankah telah kukatakan bahwa aku akan menjagamu?
Kita akan bertemu lagi. Pasti.
7 Dec 2019. #Coki
- - - Updated - - -
Tidak apa.
Jika matahari tak lagi dapat kunikmati,
semoga bisa dapat kunikmati cahaya bintang.
Pergilah.
Jangan kuatir.
-
Ketika aku kesepian,
aku kembali merindukanmu.
#Coki
-
Cinta tidak mau menunggu.
Pergilah.
-
Cintamu, begitu kejam.
Kamu, tidak mempunyai perasaan.
Mintalah ampunan agar paku itu tidak kembali kepadamu!
Lupakah engkau bagaimana dia membuat kita merangkak mengemis matahari?
Aku sedang mengembalikan setiap paku yang pernah ditancapkan dihatiku,
jadi diamlah dan perhatikan.
Cinta, adalah permainan.
Aku tidak akan kalah,
ataupun mengalah.
Jadi tutuplah mulutmu dan lihatlah.
Tidak akan kubiarkan mereka menyakiti kita. lagi.
-
Ada luka yang lebih melukai
dari sayatan pedang,
dan lebih menyakiti
dari tikaman belati...
Luka yang bukan diakibatkan oleh pisau ataupun peluru,
luka yang begitu sulit untuk sembuh,
luka yang membutuhkan hampir seluruh napas
untuk disembuhkan.