Upah buruh dan kemajuan teknologi
Dulu sepatu NIKE diproduksi di Amerika.
Sejalan dengan naiknya upah buruh di Amerika, NIKE memindahkan basis produksinya ke Taiwan.
Tak lama kemudian upah buruh di Taiwan meningkat sehingga NIKE memindahkan pabriknya ke Indonesia.
Upah buruh di Amerika dan Taiwan sudah terlalu tinggi sehingga banyak perusahaan yg memindahkan pabriknya ke negara yg upah buruhnya lebih murah.
Namun Amerika dan Taiwan tidak menjadi goyah karena kemakmuran mereka tidak lagi ditopang oleh buruh2 yg bekerja di pabrik2 produk masal melainkan oleh kemajuan teknologi.
Maka kini Amerika dan Taiwan menjadi pemilik merk, tetap menghasilkan uang dan rakyatnya bisa bekerja di sektor2 lain yg lebih kreatif dan bervariasi.
Indonesia juga akan bergerak kearah itu.
Bila upah buruh di Indonesia sudah terlalu tinggi, maka banyak perusahaan2 akan memindahkan pabrik2 mereka ke negara yg lebih murah, misalnya Bangladesh yg upah buruhnya saat ini sekitar 1/5 upah buruh indonesia.
Namun yg paling penting adalah, Indonesia harus menguasai teknologi terlebih dahulu sebelum ditinggal oleh perusahaan2 ini.
Kalau indonesia ditinggal tanpa penguasaan teknologi maka kita akan mengalami bencana ekonomi yg berat.
Kalau mayoritas tenaga kerja Indonesia berpendidikan rendah dan hanya bisa jadi buruh, namun menuntut gaji yg tinggi, maka Indonesia akan kalah dari negara lain yg buruhnya berani dibayar lebih murah.
Kenaikan gaji seharusnya bukan atas paksaan atau tuntutan, tapi atas dasar kemampuan.