Yuk Belajar Memijat Teh di Jepang
Sobat sekalian pasti tidak pernah tahu bahwa ada kebiasaan memijat teh (ocha) di Jepang. Kebiasaan ini memang tidak biasa, tapi menarik banget buat disimak.
Jakarta - Ternyata kegiatan pijat-memijat tidak hanya berlaku untuk manusia saja. Teh pun perlu dipijat untuk menghasilkan minuman dengan kualitas terbaik. Bagaimana caranya memijat teh?
Wolipop mendapat kesempatan mengikuti pelajaran memijat dan membuat teh hijau saat berada di Kyoto, Rabu (5/7/2012). Pelajaran memijat teh ini dilakukan di sebuah rumah yang letaknya di pinggir Sungai Uji.
Fukujuen Uji cha Kobo, begitu yang tertulis di tembok dekat pintu masuk rumah khas Jepang dengan detail kayu itu. Di rumah ini, siapapun bisa mencoba belajar membuat ocha atau teh hijau khas negeri Sakura secara tradisional. Workshop dibuka untuk umum pada pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat.
Untuk mengikuti workshop, peserta diminta naik ke lantai tiga rumah tersebut. Di sana ada beberapa ruangan, seperti area untuk melukis cawan, membuat teh, mengikuti kelas upacara minum teh, dan lain-lain. Sebelum masuk ke ruangan tersebut, Anda akan diminta untuk membuka sepatu dan memakai sandal yang sudah disediakan. Pengajar workshop tersebut kemudian akan meminta seluruh peserta untuk mencuci tangan.
Pria yang mengajar di workshop memijat ocha ini merupakan seorang tea master yang usianya sudah hampir 70 tahun. Ahli teh itu menjelaskan perlu proses yang cukup lama untuk membuat teh secara tradisional. Setidaknya ada tujuh tahapan, mulai dari pemotongan daun teh hingga pemijatan dan pengeringan. Seluruh proses tersebut bisa memakan waktu hingga 5-6 jam.
Tidak semua tahapan pembuatan teh dilakukan di workshop ini. Biasanya tahapan yang dilakukan adalah hanya pemijatan dan pengeringan. Setelah memperkenalkan diri, sang tea master kemudian mulai memperlihatkan keahliannya memijat teh. Dia memegang sekumpulan daun teh yang sudah sebelumnya sudah disortir. Daun teh diletakkan di atas jotan, meja beralaskan kertas khusus yang sudah dilapisi cairan dari kayu sehingga tahan panas. Di bawah jotan itu memang ada pemanas, namun tidak terlalu panas, sehingga peserta tidak merasa sakit ketika menyentuh tangannya ke jotan untuk memijat teh.
Proses memijat teh ini cukup mudah. Caranya mirip seperti memijat manusia, yaitu meremas-meremas daun teh agar air yang masih ada di dalamnya keluar sehingga cepat mengering. Tahapan pemijatan ini juga penting untuk mendapatkan teh dengan rasa, warna dan aroma terbaik. Proses pemijatan dilakukan selama 40 menit.
Setelah memijat, peserta akan diminta mengikuti kelas menggiling teh dengan alat tradisional yang terbuat dari batu. Daun teh yang sudah kering diletakkan di atas penggilingan. Lalu peserta diminta menggunakan kedua tangan untuk memutar alat penggilingan tersebut. Proses ini dilakukan tidak sampai 15 menit. Setelah daun teh digiling menjadi halus, peserta bisa menyeduh ocha yang sudah dibuat itu dan menikmatinya dengan sepotong kue manis.
Selesai minum ocha, peserta kembali lagi ke area pemijatan untuk melihat seluruh daun teh yang sudah kering. Peserta boleh membawa pulang teh yang sudah kering itu, sebagai hasil karyanya.
Bagi yang belum puas minum ocha saat workshop, Fukujuen Uji cha Kobo juga memiliki restoran dengan aneka menu berbahan dasar ocha. Anda bisa menikmati teh sambil suasana tenang kawasan tersebut dengan pemandangan Sungai Uji. Tertarik mencoba?
Sumber: Wolipop