Quote:
Pengilhaman penulisan Alkitab adalah sebagai berikut :
1. Alkitab bukanlah kumpulan ayat-demi-ayat, yang setiap “katanya” didiktekan secara langsung dan mutlak oleh Tuhan tanpa sentuhan manusia.
Tuhan-Alkitab tidak mendiktekan FirmanNya dengan cara demikian. FirmanNya yang "dimasukkan" ke dunia dan tinggal di dunia untuk berkomunikasi dengan manusia melalui panca-indera dan nalarnya, ternyata justru memilih unsur-unsusr dunia yang terbatas, seperti: tempat, waktu, budaya dan bahasa-dunia. Bukankah ini dapat diumpamakan dengan orang-tua yang harus membatasi dirinya dan menurunkan tingkat bahasanya ketika ia berbicara dengan seorang anak kecil? Karena Tuhan memilih dan memakai hal-hal yang terbatas, maka Ia pun menggambarkan hakekat keilahianNya dalam batas-batas yang dipilihNya itu. melalui bahasa dan budaya manusia namun dalam hikmat Roh Allah, firmanNya disampaikan kepada manusia (1 Korintus 2:13)
2. Kalimat-kalimat di dalam Alkitab itu tidak seluruhnya berupa perkataan yang disabdakan secara langsung oleh Tuhan, melainkan ada pula berupa kisah-kisah yang ditulis dengan menggunakan tangan penulis, namun semua didasari pada ilham Roh Kudus kepada para penulisnya
Berita kebenaran Alkitab ditulis manusia yang tetap diberi kebebasan untuk menggunakan bakat dan gaya penulisan, huruf dan bahasa mereka masing-masing. Dengan demikian, hasil tulisan setiap penulis terkait dengan budaya dan kepribadian sera pengalamannya.
Namun semuanya telah dituntun oleh Roh Kudus untuk menghasilkan Firman-Nya yang dituangkan secara benar, perlu dan cukup, didalam batas-batas pengertian yang mampu diungkapkan melalui rangkaian abjad dunia yang terbatas. Oleh dorongan Roh Kudus orang-orang yang diilhami itu berbicara atas nama Tuhan (2 Petrus 1:21)
3. Alkitab bahkan tidak memuat seluruh perkataaan mujizat dan perbuatan Allah atau nabiNya selama karya utusanNya dibumi
Mengapa orang tidak mempersoalkan jumlah ayat-ayatNya yang terbatas dalam kitabNya, padahal Firman Allah tidak terbatas dalam segala aspek (segi) dan dimensinya? Mengapa orang menganggap seluruh ayat-ayat tersaji itu sudah lengkap? Bukankah itu aneh.
Mengenai 'keanehan' yang sering tidak kita sadari, Alkitab menerangkan bahwa kelengkapannya tidak ditentukan oleh mutlaknya jumlah ayat dan pasal hukum untuk menjawab setiap masalah dunia kini dan nanti, melainkan lengkap dalam arti cukup untuk menyampaikan maksud dan kehendak Tuhan untuk menyelamatkan manusia, dan bahwa Yesus Kristus itulah Juru selamatnya. Hal ini tertulis antara lain Yohanes 20:30,31 sebagai berikut :
20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Kitab-kitab Injil juga tidak perlu memuat semua ucapan dan perbuatan Yesus selama Ia tinggal di dunia. Lihat, misalnya Matius 4:23, Yohanes 2:23, Yohanes 16:12 atau Lukas 5:4, yang tidak menuliskan ucapan-ucapan dan perbuatan Yesus pada kitab-kitab Injil tersebut. Namun hal ini tidak mengurangi kebenaran dan kesempurnaan injil, yang telah ditulis supaya kita percaya.
* Yohanes 21:25
Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
4. Dalam banyak hal, Tuhan menyampaikan pesanNya melalui perumpamaan-perumpamaan sederhana. Padahal mustahil perumpamaan-perumpamaan itu dapat menggambarkan secara mutlak kebenaran yang diumpamakan
Yang bisa sempurna menggambarkan sesuaru agaknya hanyalah duplikat atau kembaran atau foto-copy canggih dari gambar aslinya. Mustahil ada perumpamaan yang seratus persen sempurna menyamai rincian-rincian aslinya.
Ketidak sempurnaan ini hanya dapat diartikan bahwa penggambaran dan pengungkapan Firman Tuhan dengan menggunakan perumpamaanpun tidaklah sempurna secara mutlak, kecuali lebih memberikan pemahaman dan pesan-pesan pokok Firman Tuhan
5. Teks, Alkitab saja belum memberikan seluruh makna kebenaran
Alkitab bukan sekadar teks, melainkan Firman Tuhan yang hidup. Ia bukan hanya pesan yang tersurat melainkan juga tersirat. Bahkan merupakan pesan ilahi yang baru dapat dimengerti secara penuh bilamana hati pembacanya diberi pengertian khusus oleh Roh Allah (divine illumination)
Orang-orang Yahudi, walaupun mengenal Abraham, Musa dan taurat telah ditegur oleh Yesus karena tidak mengenal "bahasanya Taurat", yaitu FirmanNya.
" Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku" (Yohanes 8:43)
Bahkan Petrus dan murid-murid Yesus, yang senantiasa bersama Yesus, juga tidak mengerti Kitab Suci sebelum Dia -Sang Pemilik Kitab Suci - membuka pikiran mereka (Lukas 24:44,45). Ini membuktikan, bahwa kebenaran penuh dari Kitab Suci tidak terletak pada kesempurnaan susunan kalimat, kelengkapan jumlah huruf dan semantika teksnya, melainkan pada kelengkapan pengertian yang diberikan oleh Roh Kudus atas teks tersebut.
Yesus berjanji akan memberikan pengertian tersebut kepada mereka yang menyambutNya "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;..." (Yohanes 16:13)
Dan sekali lagi aku katakan, ya,