Originally Posted by
nerve_gas
bisnis mah kalau kelebihan alias "keuntungan" itu masuk ke kantong si pemilik usaha. In this case, itu duit masuk ke kantong, let's say, pendeta pemilik gereja, atau segelintir pemiliki gereja.
Pada kenyataannya, duit kelebihan itu masuk ke kantong gereja lagi? buat apa? ya buat pengembangan kegiatan gereja itu sendiri kan. perawatan gedung, beli alat musik, dll dll.
Yang salah adalah ketika si pendeta dan segelintir orang yang merasa "memiliki" gereja itu mengejar keuntungan dari gereja. Modusnya banyak. Makan duit gereja (korup), minta gaji segede-gede gaban, minta tunjangan sana-sini, minta dibayarin ini-itu, dll dsb.
Banyak pendeta yang kelakuannya kaya gini. Gereja gue, HKBP, pun jadi korban. Padahal sistem kontrol di HKBP udah cukup dengan bawelnya mulut jemaat kalau ada keuangan yang salah (secara sistem keorganisasian sih kagak. pendeta pegang kontrol penuh. kan bangke)
Nah, kalau model gereja-gereja yang tidak diinisiasi satu orang, model GKI, HKBP, GPIB, dll, model bisnis ini sih bisa dicegah dengan kontrol sosial dari jemaat. Yang serem adalah gereja yang diinisiasi oleh satu orang individu saja. Model G*lbert L*moindong. Ebuset, itu pendeta tajir bener.