PDA

View Full Version : Apa jadinya ketika kritik bersambut gugatan hukum?



vanjait
20-02-2013, 03:48 AM
Karena tulisannya yang mengkritik soal penerbitan Best Seller Laskar Pelangi, seorang blogger Kompasiana akan digugat oleh Andrea hirata yang pengarang buku tersebut/LP.

Mesti kali rupanya persoalan mengkritik harus dibawa keranah hukum? apakah tidak cukup dengan klarifikasi?
Jika si blogger tersebut tidak mampu mempertanggungjawabkan kritikannya, kan dia sendiri yang malu dan bisa2 reputasinya hancur.

lalu, jika kritikan itu benar Andrea Hirata kan cukup minta maaf. Kenapa mesti runyam, lagian dunia sastra ataupun penerbitan buku butuh kritikus untuk memperkaya dinamika.

Bagaimana menurut KM'ers?:ngopi:

noodles maniac
20-02-2013, 08:38 AM
lalu, jika kritikan itu benar Andrea Hirata kan cukup minta maaf. Kenapa mesti runyam, lagian dunia sastra ataupun penerbitan buku butuh kritikus untuk memperkaya dinamika.

Setuju dengan yang ini, kritik seringkali diperlukan untuk menilai kelebihan dan kekurangan dari sebuah karya sastra. Kritik tentu saja sifatnya subyektif, bahkan orang yang awam dengan dunia sastra pun berhak memberikan kritik. Pembuat karya sastra harus bisa legowo dan menerima segala macam kritik yang timbul. terserah dia mau menerima dan menggunakan kritik itu ato malah sakit hati karena ada juga kritik yang sifatnya negatif. Yakni kritik yang hanya ingin mencela karya sastra yang ada. Seperti yang terjadi di film Cloud Atlas dimana Dermot si penulis karena saking jengkelnya dengan pengkritik novel, Felix Finch yang bilang novel Dermot adalah sampah makanya gak ada yang mo beli. Kemudian yang terjadi di pesta launching novel milik Dermot itu dia melempar Felix dari balkon yang tinggi dan jatuh di parkiran hingga tewas. Setelah itu novelnya Dermot malah laris manis -_-

Agitho_Ryuki
20-02-2013, 09:17 AM
emang bunyinya kritik bagaimana seh? jangan-jangan menghujat...
::hohoho::::hohoho::

---------- Post Merged at 08:17 AM ----------

emang bunyinya kritik bagaimana seh? jangan-jangan menghujat...
::hohoho::::hohoho::

Shaka_RDR
20-02-2013, 02:28 PM
soal penerbitan buku di amrik yg katanya membohongi publik soal nama penerbit bukan yah ?

kandalf
20-02-2013, 03:18 PM
Blog-nya:
http://damdubidudam.wordpress.com/2013/02/14/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya/

Yang menarik adalah pernyataan berikut dari blogger:

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit.

Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif.

Artinya, tulisan blogger ini punya pengaruh penting. Kredibilitasnya jauh lebih kuat daripada narablog setengah hati sepertiku.

Kemudian kalimat ini:

Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini memprihatinkan.

Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.


Saya sendiri melihatnya bukan dari sisi Andrea Hirata vs Damar Juniarto
melainkan bahwa untuk ke sekian kalinya, delik pencemaran nama baik dijadikan alat untuk membungkam kebebasan berpendapat.

Di kasus Prita Mulyasari vs RS OMNI, UU perlindungan konsumen diabaikan dan delik ini dipakai. Seandainya tidak ada tekanan publik, ia mungkin akan kalah melawan RS OMNI.

Di kasus Khoe Seng Seng, UU perlindungan konsumen dan UU Pers diabaikan dan delik ini dipakai. Alasan sang hakim, Imron Anwari, kalau merasa ditipu harusnya lapor polisi, bukan mengirim surat pembaca.

---------- Post Merged at 04:18 PM ----------

Ngomong2, aku udah membaca baik2 lagi bunyi artikelnya Damar dan
Damar terlalu berlebihan tentang imprint Sarah Crichton Books dan FSG.

Kalau aku membeli komik Hellblazer atau Swamp Thing terbitan Vertigo, aku tetap bisa mengatakannya sebagai "aku baru saja membeli komik terbitan DC Comics".

Menurutku, tidak menyebutkan kata "imprint" oleh Bentara dan Andrea Hirata bukanlah sebuah kebohongan. Setidaknya untuk persoalan imprint.

kirsh
20-02-2013, 07:39 PM
Tulisannya si Damar



Label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini ternyata dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia selama kurun kurang dari seratus tahun.

Sumber: www.andrea-hirata.com
DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, ‪Farrar, Straus and Giroux‬ (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, melainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?
September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops ternyata dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.



Dari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?
Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan label “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.


Laskar Pelangi versi Turki (Sumber: www.andrea-hirata.com)
Satu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Kathleen Anderson dari Kathleen Anderson Literary Management, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Kathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini jelas memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran
Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.

[dam]

Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif.

sumber (http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/13/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya-533410.html)

Nowitzki
20-02-2013, 07:45 PM
Jawaban Andrea Hirata



“Kang Agus dan (temannya yg lain, edited) sahabatku rasanya kok aku punya kewajiban ya untuk menjelaskan hingar bingar dunia maya ini tentangku dan Laskar Pelangi kepada kang Agus . Begini ceritanya:

Saya memutuskan untuk mencari keadilan atas tudingan yang sangat tidak benar yang yang ditujukan oleh Damar Juniarto kepada saya melalui tulisannya di Kompasiana dengan judul “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”, tgl 13 Februari 2013. Bagi saya seorang penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu bersifat sangat prinsipil.

Selain itu saya mendapat banyak sekali saran dari para penggemar Laskar Pelangi bahkan dari anak-anak sekolah, rekan-rekan sesama penulis, guru-guru yang terinspirasi oleh Laskar Pelangi, dan dari para tokoh seperti Buya Syafii Maarif dan Bang Yusril Ihza Mahendra untuk berbuat sesuatu terhadap tudingan yang memberi kesan yang sangat keliru atas segala upaya saya mengenalkan karya buku Indonesia pada dunia.

Sampai saat ini kontrak penerbitan Laskar Pelangi telah mencapai 78 negara dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa asing melalui penerbit-penerbit terkemuka seperti FSG, Random House, Hanser Berlin, Mercure de France, Atlas Contact, Penguin dan Harper Collins. Hal itu memberi dampak yang amat positif bagi nama Indonesia dalam peta buku internasional. Apa yang dilakukan oleh Damar Juniarto sangat melemahkan upaya keras saya untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia melalui dunia buku dan tudingannya bisa menjadi preseden yang buruk bagi para penulis Indonesia lainnya yang tengah bersusah-payah untuk menerbitkan buku di luar negeri.

Maka atas nama para penggemar Laskar Pelangi di seluruh tanah air, atas nama segala kebaikan yang saya coba sebarkan melalui karya itu, dan atas nama profesi penulis yang saya junjung tinggi, saya akan membela diri dan membela integritas karya saya.

Damar Juniarto telah menuding bahwa Laskar Pelangi edisi Amerika sesungguhnya diterbitkan oleh Sarah Crichton Books, bukan oleh FSG, New York. Sedangkan selama ini saya selalu mengaku Laskar Pelangi edisi Amerika diterbitkan oleh FSG dan tidak pernah menyebut Sarah Crichton Books. Dikesankan oleh Damar bahwa FSG hanya menerbitkan buku sastra kelas tinggi sehingga Laskar Pelangi tak pantas. Laskar Pelangi hanya pantas diterbitkan Sarah Crichton Books yang menurut Damar hanyalah sebuah penerbit buku-buku komersial dan bukan penulis yang dikenal.

Tudingan ini bukan hanya membuat saya terzalimi karena pembaca akan menuduh saya telah melakukan kebohongan publik, namun Damar Juniarto telah pula melecehkan Sarah Crichton Books dan begitu banyak penulis bermutu yang telah diterbitkan Sarah Crichton Books. Dengan pengetahuan yang kurang memadai tentang sistem penerbitan buku internasional bahkan tanpa memahami makna imprint Damar Juniarto telah menuding dengan sangat keliru.

Kenyataannya adalah saya tidak punya kontrak penerbitan dengan Sarah Crichton Books. Kontrak penerbitan saya (author contract) hanya dengan FSG. FSG lah penerbit Laskar Pelangi edisi Amerika. Sedangkan Sarah Crichton adalah editor saya. Karena kontribusi editing itu Sarah Crichton Books mendapat Honor Imprint untuk dicantumkan sebagai penerbit dengan nama berdampingan dengan nama FSG di beberapa publikasi Laskar Pelangi edisi Amerika. Saya tidak boleh menyebut Sarah Crichton Books sebagai penerbit buku saya karena memang bukan. Cercaan dari banyak orang muncul akibat dari tudingan Damar Juniarto yang menyesatkan itu.

Selain alasan di atas, saya melihat nilai penting dari pembelaan diri saya ini. Bahwa hal ini akan dicatat di dalam sejarah buku Indonesia sebagai peristiwa seorang penulis membela integritas karyanya melalui jalur hukum. Saya harap para penulis Indonesia lainnya terinpsirasi untuk selalu membela integritas karya, apapun yang akan terjadi.

Sejarah buku Indonesia akan mencatat siapa yang berjuang untuk buku Indonesia dan siapa-siapa yang justru melemahkan perjuangan itu. Kejadian ini akan ditelaah lebih lanjut, akan menjadi biografi, akan menjadi artikel-artikel dan karya-karya ilmiah yang dapat menjadi pelajaran bagi dunia buku Indonesia.

Sejarah telah pula memperlihatkan para penulis mengalami represi, dipenjara, difitnah, diancam, dan dibunuh. Anda tidak bisa menjadi seorang penulis jika Anda seorang penakut dan Anda tidak bisa menjadi seorang kritikus jika Anda seorang pembenci.

Dalam rangka mencari keadilan ini saya diwakili oleh Yusril Ihza Mahendra dari Ihza dan Ihza Law Firm. Atas semua tudingan dari Damar Juniarto, saya harap di pengadilan nanti semua fakta akan terungkap. Terima kasih.

salam

AH

NB: terlampir surat konfirmasi dari agenku Kathleen Anderson

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/02/13613206552104027991_150x150.jpg

sumber (http://fiksi.kompasiana.com/novel/2013/02/20/andrea-hirata-menjawab-penulis-indonesia-mencari-keadilan-536494.html)

Ronggolawe
20-02-2013, 09:20 PM
Blog-nya:
http://damdubidudam.wordpress.com/2013/02/14/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya/

Yang menarik adalah pernyataan berikut dari blogger:



Artinya, tulisan blogger ini punya pengaruh penting. Kredibilitasnya jauh lebih kuat daripada narablog setengah hati sepertiku.

Kemudian kalimat ini:




Saya sendiri melihatnya bukan dari sisi Andrea Hirata vs Damar Juniarto
melainkan bahwa untuk ke sekian kalinya, delik pencemaran nama baik dijadikan alat untuk membungkam kebebasan berpendapat.

Di kasus Prita Mulyasari vs RS OMNI, UU perlindungan konsumen diabaikan dan delik ini dipakai. Seandainya tidak ada tekanan publik, ia mungkin akan kalah melawan RS OMNI.

Di kasus Khoe Seng Seng, UU perlindungan konsumen dan UU Pers diabaikan dan delik ini dipakai. Alasan sang hakim, Imron Anwari, kalau merasa ditipu harusnya lapor polisi, bukan mengirim surat pembaca.

---------- Post Merged at 04:18 PM ----------

Ngomong2, aku udah membaca baik2 lagi bunyi artikelnya Damar dan
Damar terlalu berlebihan tentang imprint Sarah Crichton Books dan FSG.

Kalau aku membeli komik Hellblazer atau Swamp Thing terbitan Vertigo, aku tetap bisa mengatakannya sebagai "aku baru saja membeli komik terbitan DC Comics".

Menurutku, tidak menyebutkan kata "imprint" oleh Bentara dan Andrea Hirata bukanlah sebuah kebohongan. Setidaknya untuk persoalan imprint.
gw jadi ingat si Bramantyo PS yang kesusu menuduh
Taufiq Ismail sebagai Plagiator :)

vanjait
20-02-2013, 09:51 PM
menurut saya sah-sah aja orang mengkritik sebuah karya, apalagi kritikan yang disampaikan blogger ke penulis laskar pelangi ulasannya lumayan (artinya tidak asal ngomong). dari keduanya (baik penulis maupun pengkritik) memang harus dicari kebenarannya sehingga publik tidak sesat karena sudah terlancur muncul, tapi pastinya tidak perlu lewat HUKUM/PENGADILAN! si Andrea Hirata ini sudah keterlaluan, tidak bijak.

Ronggolawe
20-02-2013, 10:37 PM
bukan begitu juga bro :)
barangkali dalam perhitungan si Andrea, kritikan si
Danar yang dipandangnya salah, sangat mungkin
menjadi merugikan bila didiamkan saja.

vanjait
21-02-2013, 12:54 AM
bukan begitu juga bro :)
barangkali dalam perhitungan si Andrea, kritikan si
Danar yang dipandangnya salah, sangat mungkin
menjadi merugikan bila didiamkan saja.

Memang tidak boleh didiamkan bro.. harus melakukan klarifikasi si andrea itu,
tapi sekali lagi tidak melalui ranah hukum:ngopi:
yang tercermin dari beliau adalah sikap arogan jadinya

kandalf
21-02-2013, 08:08 AM
gw jadi ingat si Bramantyo PS yang kesusu menuduh
Taufiq Ismail sebagai Plagiator :)
Hihihihi..
Trus status facebook-ku jadi sarana konsultasi.



menurut saya sah-sah aja orang mengkritik sebuah karya, apalagi kritikan yang disampaikan blogger ke penulis laskar pelangi ulasannya lumayan (artinya tidak asal ngomong). dari keduanya (baik penulis maupun pengkritik) memang harus dicari kebenarannya sehingga publik tidak sesat karena sudah terlancur muncul, tapi pastinya tidak perlu lewat HUKUM/PENGADILAN! si Andrea Hirata ini sudah keterlaluan, tidak bijak.


bukan begitu juga bro :)
barangkali dalam perhitungan si Andrea, kritikan si
Danar yang dipandangnya salah, sangat mungkin
menjadi merugikan bila didiamkan saja.


Memang tidak boleh didiamkan bro.. harus melakukan klarifikasi si andrea itu,
tapi sekali lagi tidak melalui ranah hukum:ngopi:
yang tercermin dari beliau adalah sikap arogan jadinya

Begini.
Andrea Hirata punya hak untuk mengajukan ke pengadilan.
Setiap orang yang ada di Indonesia, yang merasa namanya dicemarkan secara publik berhak mengajukan gugatan ke pengadilan.

Sekedar gambaran apa yang dimaksud 'pencemaran nama baik' di ranah hukum bayangkan skenario berikut.
Seandainya artis T suatu hari teriak2 di muka publik, "artis D bermertuakan penjahat kelamin, pembunuh keji" maka artis DS berhak mengajukan TK ke pengadilan atas pencemaran nama baik bahkan seandainya benar mertua artis D adalah penjahat kelamin dan pembunuh keji.

Itu sebuah catatan, pencemaran nama baik tidak memperdulikan apakah pernyataan yang digugat salah atau benar. Pencemaran nama baik tidak identik dengan fitnah. Dalam proses pengadilannya, yang perlu dibuktikan hanya dua yakni: 1. tergugat mengeluarkan pernyataan tersebut di depan umum atau dibaca oleh umum dan; 2. pernyataan tersebut bersifat menghina (dan akan dihadirkan saksi dari ahli bahasa).


Apalagi dalam hal ini, potensi kerugian material yang diderita Andrea Hirata lebih besar daripada kasus penyair Taufiq Ismail.
Taufiq Ismail sudah punya keluarga mandiri. Dia tidak tergantung pada penghasilannya sendiri. Bramantyo P bukan siapa2 selain pecinta sastra muda yang aktif di internet dan kebetulan punya kawan2 sesama pecinta sastra.

Di kasus yang terbaru ini, Andrea Hirata masih punya harapan dengan trademark Laskar Pelangi. Dia masih punya peluang ekspansi dengan franchise Laskar Pelangi. Sementara narablog yang digugat bukan orang sembarangan. Narablog ini adalah moderator komunitas goodreads yang artinya tulisan dia bakal disambut dengan anggukan oleh para pembaca buku di komunitas tersebut. Narablog ini juga seorang publicist yang punya akses ke penerbit-penerbit lain. Tulisannya jelas lebih punya nilai lebih dibandingkan narablog biasa setengah hati sepertiku sehingga bisa mempengaruhi keputusan penerbit-penerbit di Indonesia untuk mencetak ulang Laskar Pelangi, mempengaruhi keputusan pembuat film untuk membuat sekuel dari Laskar Pelangi atau membuat remake-nya.

Ada nilai material yang dipertaruhkan di sini dan jumlahnya cukup besar.
Saya bisa membayangkan, selain pembuktian bahwa narablog tersebut mengeluarkan pernyataan di blog yang dibaca umum dan pernyataan tersebut dianggap menghina, pengacara Andrea, bila akhirnya benar-benar dibawa ke ranah hukum, akan membuat taksiran potensi kerugian untuk menunjukkan pentingnya narablog tersebut dituntut.


Saya pribadi sih cenderung tidak simpatik pada orang yang langsung menggunakan pasal-pasal pencemaran nama baik (KUHP 310, UU ITE Pasal 27). Hanya beberapa kasus yang saya sepakat pasal ini digunakan seperti kasus bullying siswi SMU di Bogor. Standar ganda ya? ::ngakak2::

Ronggolawe
21-02-2013, 08:21 AM
Memang tidak boleh didiamkan bro.. harus melakukan klarifikasi si andrea itu,
tapi sekali lagi tidak melalui ranah hukum:ngopi:
yang tercermin dari beliau adalah sikap arogan jadinya

kalau menurut gw, si Damar harusnya melakukan
klarifikasi dulu ke Andrea secara pribadi, gw yakin
si Andrea akan mau meralat ucapannya soal 100
tahun tersebut :)

---------- Post Merged at 07:21 AM ----------



Di kasus yang terbaru ini, Andrea Hirata masih punya harapan dengan trademark Laskar Pelangi. Dia masih punya peluang ekspansi dengan franchise Laskar Pelangi. Sementara narablog yang digugat bukan orang sembarangan. Narablog ini adalah moderator komunitas goodreads yang artinya tulisan dia bakal disambut dengan anggukan oleh para pembaca buku di komunitas tersebut. Narablog ini juga seorang publicist yang punya akses ke penerbit-penerbit lain. Tulisannya jelas lebih punya nilai lebih dibandingkan narablog biasa setengah hati sepertiku sehingga bisa mempengaruhi keputusan penerbit-penerbit di Indonesia untuk mencetak ulang Laskar Pelangi, mempengaruhi keputusan pembuat film untuk membuat sekuel dari Laskar Pelangi atau membuat remake-nya.

Ada nilai material yang dipertaruhkan di sini dan jumlahnya cukup besar.
Saya bisa membayangkan, selain pembuktian bahwa narablog tersebut mengeluarkan pernyataan di blog yang dibaca umum dan pernyataan tersebut dianggap menghina, pengacara Andrea, bila akhirnya benar-benar dibawa ke ranah hukum, akan membuat taksiran potensi kerugian untuk menunjukkan pentingnya narablog tersebut dituntut.

loe masih ingat ngga ucapan Oliver Queen dulu
tentang "Armchair Blogger" ?

kunderemp
21-02-2013, 10:45 AM
And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero.

Dengan kata lain Andrea Hirata adalah pahlawan yang sudah melakukan yang terbaik dengan mengangkat daerah asal melalui novelnya sementara si narablog belum melakukan apa-apa?

Ronggolawe
21-02-2013, 10:58 AM
simplenya:
si Andrea ngetop lewat buku tulisannya, si Damar
jadi ngetop lewat kritik terbukanya :)

Bahkan menegor bawahan saja, sebaiknya dilaku
kan secara tertutup, begitu yang gw ingat saran
bagi si Ali dan Karyawannya :)

spears
21-02-2013, 01:05 PM
mnurut gw, bukan itu aja yg harus diklarifikasi. tapi soal kata2nya Andrea hirata yg trkesan somse bgt pas bilang "dalam kurun waktu 100 th ini ga ada karya anak bangsa yg diakui dunia"....
nah lho..Pramoedya Ananta Toer dkk itu gmana?? apa gak dianggep sama si Andrea?


tp gmnpun juga, Laskar pelangi adalah my all time fave novel :D
dan semoga semuanya berkahir dengan baik :jempol:

vanjait
21-02-2013, 01:57 PM
[QUOTE=tp gmnpun juga, Laskar pelangi adalah my all time fave novel :D
dan semoga semuanya berkahir dengan baik :jempol:[/QUOTE]

nah itu! berarti cara penyelesaiannya harus elegan, bukan arogan::ungg::

cha_n
21-02-2013, 08:06 PM
lebih bagus lagi kasus ini dibahas ama media infotainment, dibumbui sana sini kalau perlu pakai fenomena dunia lain dan berbagai ramalan, diulas khusus oleh pemandu acara yang membuat suaranya seram.

spears
21-02-2013, 11:56 PM
nah itu! berarti cara penyelesaiannya harus elegan, bukan arogan::ungg::

klo menurut gw sih AH emang udah termasuk lebay sampe bawa ke ranah hukum.
sayang banget, untuk ukuran orang yg sudah menghasilkan novel yg kata2nya begitu indah, wise dan menghipnotis...tapi dalam kehidupan nyata, reaksinya malah "nggak cantik" gitu.

apa salahnya kalau, misalkan, Andrea menjawab tuduhan Damar itu dengan menulis juga di kompasiana. menurut gw, itu cara yang paling elegan buat AH.

btw, gw masih menantikan tanggapan Andrea soal Pramoedya Ananta Toer itu... ::ungg::

vanjait
22-02-2013, 12:34 AM
lebih bagus lagi kasus ini dibahas ama media infotainment, dibumbui sana sini kalau perlu pakai fenomena dunia lain dan berbagai ramalan, diulas khusus oleh pemandu acara yang membuat suaranya seram.

itu tergantung si AH bro, wani piro?::ngakak2::

---------- Post Merged at 11:26 PM ----------


lebih bagus lagi kasus ini dibahas ama media infotainment, dibumbui sana sini kalau perlu pakai fenomena dunia lain dan berbagai ramalan, diulas khusus oleh pemandu acara yang membuat suaranya seram.

itu tergantung si AH bro, wani piro?::ngakak2::

---------- Post Merged at 11:30 PM ----------

---------- Post Merged at 11:34 PM ----------


klo menurut gw sih AH emang udah termasuk lebay sampe bawa ke ranah hukum.
sayang banget, untuk ukuran orang yg sudah menghasilkan novel yg kata2nya begitu indah, wise dan menghipnotis...tapi dalam kehidupan nyata, reaksinya malah "nggak cantik" gitu.

apa salahnya kalau, misalkan, Andrea menjawab tuduhan Damar itu dengan menulis juga di kompasiana. menurut gw, itu cara yang paling elegan buat AH.

btw, gw masih menantikan tanggapan Andrea soal Pramoedya Ananta Toer itu... ::ungg::

jangan2 si AH mau main diranah hukum utk mengalihkan pernyataanya bahwa dia penulis indonesia paling hebat selama 100 tahun terakhir ini...::hohoho::

noodles maniac
22-02-2013, 07:03 AM
klo menurut gw sih AH emang udah termasuk lebay sampe bawa ke ranah hukum.
sayang banget, untuk ukuran orang yg sudah menghasilkan novel yg kata2nya begitu indah, wise dan menghipnotis...tapi dalam kehidupan nyata, reaksinya malah "nggak cantik" gitu.

apa salahnya kalau, misalkan, Andrea menjawab tuduhan Damar itu dengan menulis juga di kompasiana. menurut gw, itu cara yang paling elegan buat AH.

btw, gw masih menantikan tanggapan Andrea soal Pramoedya Ananta Toer itu... ::ungg::

Iya, pertama-tama gw juga mau tau tanggapan Andrea soal om Pram, terus kenapa dia bisa begitu gegabah dan sangat angkuh dengan bilang bahwa selama ratusan tahun gak ada seniman bla3x yada3x... kalo boleh jujur emang Andrea Hirata ini udah bisa sehebat apa sih? Sutan Takdir Alisjahbana kah? Marah Roesli kah? Buya Hamka kah? Laskar Pelangi emang inspiring tapi mbok ya bener kata Damar untuk lebih bijak dalam bertutur kata dan berperilaku. Penulis hebat tuh gak dia doang -_-

Baca- berita-berita di twitter kalo Yusril IM saat ini hanya sebatas penasihat aja, belom pengacara resminya. Hal-hal kayak gini harusnya gak perlu dibawa ke ranah hukum. Diselesaikan secara kekeluargaan aja lah, kalo perlu dibikin diskusi/dialog yang mengundang para komunitas penulis macam Forum Lingkar Pena atau yang lain dengan disiarkan media. Seorang seniman harusnya jujur, salah ya salah, benar-ya benar. Kalo Damar terbukti bersalah dengan menuduh bahwa novel Andrea gak diterbitkan FSG ya dia harus mengaku salah, begitu pula dengan Andrea yang harus mengaku salah dengan klaim "International Best Seller and the best Indonesian writer in the last 100 years".

spears
22-02-2013, 10:37 AM
twitternya Andrea hirata apa ya? main twitter nggak dia?::hohoho::

lily
22-02-2013, 10:39 AM
@spears : https://twitter.com/Andreahirata

serendipity
23-02-2013, 04:05 PM
Label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini ternyata dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia selama kurun kurang dari seratus tahun.



Terlalu sering dipuji menyebabkan seseorang jadi sombong. Itu salah satu temptation yang gak semua orang sukses bisa melaluinya dengan benar.

Kalo dia emang orang bijaksana dan pengetahuannya luas soal sastra, seharusnya tau siapa yang bisa dan sukses menandingi karyanya.

Inget diatas awan masih ada awan

noodles maniac
24-02-2013, 11:29 AM
Iya betul begitu, makanya gw bilang seniman itu harus jujur, dengan sikap Andrea yang seperti itu respect gw berkurang sama dia -_-

hundreddaya
15-03-2013, 07:19 AM
Terlalu sering dipuji menyebabkan seseorang jadi sombong. Itu salah satu temptation yang gak semua orang sukses bisa melaluinya dengan benar.

Kalo dia emang orang bijaksana dan pengetahuannya luas soal sastra, seharusnya tau siapa yang bisa dan sukses menandingi karyanya.

Inget diatas awan masih ada awan

gw setuju bro , orang kek gini walopun punya kemampuan seni namun seperti tak punya jiwa