PDA

View Full Version : Seorang Penyair Menggugat secara Hukum Anggota Jamaah Al-fesbukiyah!



kandalf
02-04-2011, 05:45 PM
Saya terkejut melihat sebuah nama di berita Detik. Saya mengenalnya sebagai salah satu jamaah al-fesbukiyah yang kritis dan juga seorang pesilat. Ia sedang digugat oleh salah satu penyair sohor di negeri ini, sebuah langkah yang sungguh saya sayangkan.

Saya segera melihat ke dinding anggota jamaah ini dan hari Kamis malam, alias dua hari lalu, ia menulis:

*sang*penyair* bilang kepada Fadli Zon bahwa puisi "Kerendahan Hati", terjemahan karya Douglas Malloch, bukan kerjaan dia. Saya minta maaf telah menjerumuskan Soe Tjen Marching, Chandrasa Sedyaleksana, Antonius Made Tony Supriatma, Odji Lirungan, Kris Budiman dan kawan-kawan soal ini. TI, dalam hal ini, bukan plagiator.

Ternyata hal itu saja tidak cukup buat sang penyair.
Kata salah satu kawan di status, buat sang penyair mungkin tidak cukup karena catatan tentang si penyair itu sudah terlanjur tersebar di salah satu anggota lain jemaat Al-Fesbukiyah. Segera saya tambahkan anggota lain itu dan segera setelah dikabulkan, saya ramban catatannya satu per satu namun tidak menemukannya lalu saya tanya kepada anggota tersebut.


Makasih telah dikabulkan permintaan saya. Mbak, karena kasus terakhir antara salah satu fesbuker dengan penyair, kata salah satu kawan saya, ada catatan mBak yang menyinggung dugaan plagiarisme penyair bersangkutan. Boleh saya membacanya, mBak?

Dan anggota itu menjawab:

karena keterangan teman kita yg bilang ada kesalahpahaman, catatan itu saya hapus. Saya sendiri masih tidak memberi pernyataan lebih lanjut krn belum tahu cerita "sesungguhnya".

Nah,
lalu KURANG APA LAGI?

Apakah anggota jemaat al-fesbukiyah harus menyembah-nyembah di depan si penyair?

kandalf
03-04-2011, 10:43 AM
http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/04/02/masih-tentang-puisi-itu/



(Masih) Tentang Puisi Itu

Jadi, kisah mengenai tuduhan plagiasi terhadap Douglas Malloch (DM) oleh Taufiq–pakai Q–Ismail (TI) yang dituduhkan oleh paman saya sendiri, Bramantyo Prijosusilo masih bergulir, bahkan ke babak yang jauh lebih dalam dan intens.

Penyair yang saya panggil dengan sebutan Eyang Kakung sering berkata untuk: “tidak membenarkan yang salah, namun tanpa kebencian” (maaf jika salah kutip, saya bukan penghapal verbatim), dan itulah yang aya coba lakukan saat ini. Saya tidak punya sentimen apa-apa terhadap bapak TI, baik positif ataupun negatif. Ini semua semata-mata karena rasa penasaran saya terhadap kasus ini.

Anak muda jaman sekarang pasti menganggap saya “kepo”, tapi biarkanlah. Toh saya juga masih piyik.

Jadi, apa yang menarik dari kasus ini?

Awal tuduhan ini berasal dari penemuan dua puisi yang nyaris serupa. Puisi bahasa Indonesia yang diklaim dan dikenali oleh khalayak ramai sebagai karya seseorang yang bernama “Taufik Ismail” (pakai K), dan puisi dari seorang penulis dari akhir abad 19 bernama Douglas Malloch. Sepasang puisi yang jika disandingkan jelas terlihat memiliki identitas, struktur, dan makna yang nyaris 100 % serupa.

Dan ketika isu ini perlahan terangkat, mulailah semua keributan, saling menyerang, saling menuduh dan saling klarifikasi. Semua ini terjadi di Facebook. Berakhirlah ini dengan sebuah status yang terkutip di bawah ini:


Taufiq Ismail bilang kepada Fadli Zon bahwa puisi “Kerendahan Hati”, terjemahan karya Douglas Malloch, bukan kerjaan dia. Saya minta maaf telah menjerumuskan Soe Tjen Marching, Chandrasa Sedyaleksana,Antonius Made Tony Supriatma, Odji Lirungan, Kris Budiman dan kawan-kawan soal ini. TI, dalam hal ini, bukan plagiator.

Serta satu lagi:


‎”Jadi dengan rendah hati saya mohon maaf. Saya mohon maaf bukan hendak lari dari tanggungjawab kesalahan, tetapi sebagai upaya memperbaiki adab saya sendiri,”

Lucu bahwa kemudian ada pembicaraan mengenai pihak TI ingin menuntut pihak BP (Bramantyo Prijosusilo, bukan Bambang Pamungkas) atas pencemaran nama baik dan “fitnah”.

Maaf, tapi “fitnah”?

Seperti sudah diuraikan di atas, ada sebuah puisi yang tersebar atas nama Taufik Ismail, dan dengan banyaknya pihak yang memasang puisi itu di jagat daring (sekitar 8000an) tanpa satupun sangkalan dari pihak yang disangkakan menulis puisi itu. Bahkan, sebuah buku pelajaran SMP memuat puisi itu atas nama “Taufik Ismail”. Wajarkah jika seseorang menyangka bahwa puisi bermasalah itu memang karya Taufiq Ismail? Saya rasa “ya” adalah jawaban yang tepat.

Mari tidak berfokus bahwa di berita itu dikatakan Taufiq Ismail mengatakan “David Malloch” bukannya “Douglas Malloch”.

“Fitnah” ada ketika sebuah tuduhan palsu dilancarkan. Tapi apakah plagiasi ini sebuah tuduhan palsu? Saya sudah uraikan kondisinya di atas, jadi instead of “fitnah” saya rasa “salah paham” adalah kata yang lebih tepat. Seperti juga “plagiarisme”, “fitnah” juga merupakan tuduhan yang keras.

Idealnya seseorang yang menemukan puisi itu mengkonfirmasi pada pihak yang bersangkutan sebelum menyatakan sebuah tuduhan. Namun, bukankah naif jika kita berharap semuanya berjalan dalam kondisi ideal?

Seperti mungkin saya naif mengharap bahwa penyelesaian kasus ini tidak perlu sampai meja hijau karena idealnya, ini diselesaikan secara empat mata. Apalagi permintaan maaf sudah diucapkan, kondisi yang adalah sebuah kesalahpahaman, bukan fitnah.

Apa yang dilakukan seorang Bramantyo Prijosusilo itu memang salah. Selain terlalu hasty, pemilihan kata yang tidak tepat memang membawa impact negatif pada mereka yang membaca. Namun di sisi lain, bukankah orang yang sama juga mengakui kesalahannya di media yang sama, bahkan di koran nasional (yang secara ironis masih menggunakan “K” bukannya “Q”) ? Klarifikasi sudah terjadi, nama sudah dibersihkan, masih pentingkah tuduhan “pencemaran nama baik” ketika nama yang tercemar itu sudah dibersihkan melalui media yang sama?

Toh coba periksa semua portal berita yang memuat berita ini dan bacalah komentar pembacanya. Lihatlah berapa banyak yang membela TI di sana. Benarkah nama Taufiq Ismail “tercemar”?

Entahlah, mungkin yang bersangkutan merasa itu tidak cukup. Tapi toh tuntutan itu belum terjadi, dan mari kita semua berharap tuntutan yang kurang bijaksana itu tidak terjadi. Selain buang uang, tenaga, dan waktu, dan tidak ada faedahnya.

Saat ini, jujur saja, lebih baik kita mencari tahu siapakah “Taufik–pakai K–Ismail” itu sebenarnya. Puisi ini pernah muncul dalam kutipan-kutipan Soe Hok Gie dan lagu Abah Iwan juga, meskipun jauh kalah populer dari Taufik Ismail dan mereka tidak mencantumkan siapa penulis puisi tersebut. Bukankah kebenaran ini, sumber salah paham ini, jauh lebih penting dibanding menyerang seseorang yang merupakan korban salah paham?

Entahlah, saya hanyalah seseorang dengan selisih usia setengah abad dengan Taufiq Ismail. Siapalah saya untuk memberikan nasihat, saya hanya bisa beropini sambil mencari tahu mengenai fakta yang menurut saya jauh lebih penting ketimbang saling membacok, baik dengan kata-kata maupun dengan somasi.

Lagipula, bukankah sebaiknya seorang Taufiq Ismail peduli bahwa ada seseorang mendompleng namanya, bahkan mungkin mendapat keuntungan moneter dari sana?

kandalf
03-04-2011, 10:56 AM
Puisi plagiat tersebut, yang disangkal Taufiq Ismail sebagai karyanya, ternyata masuk buku pelajaran untuk Madrasah yang diterbitkan Diknas.

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22998
http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22991

Nah, siapa yang mau periksa, kepada siapakah royalti tersebut dibayar oleh Diknas? Kepada pengarang buku atau kepada Taufiq Ismail?

kandalf
03-04-2011, 11:03 AM
http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22988



POLEMIK TAUFIK ISMAIL
Bramantyo Prijosusilo Minta Maaf Secara Terbuka
Sabtu, 02 April 2011 , 18:03:00 WIB

RMOL. Taufik Ismail berencana akan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik. Bramantyo, menurut Taufik, telah menistanya dengan menuduhnya sebagai plagiator.

Demikian tertulis dalam jawaban Taufik terhadap Puisi "Kerendahan Hati" yang disebutkan sebagai karya Taufik Ismail, dituduhkan sebagai plagiat dari puisi "Be the Best of What You Are" karya Douglas Malloch.

Bramantyo kepada Rakyat Merdeka Online lewat pesan elektronik mengatakan, dirinya bukanlah orang pertama yang mengungkap tuduhan itu. Ia beralasan membuat status dalam Facebook menuduh Taufik melakukan plagiat karena geram membaca laporan sastrawan Martin Aleida.

Dalam laporan itu, Taufik diduga berupaya mengintimidasi seniman-seniman muda Jakarta yang ingin mengadakan diskusi di PDS HB Jassin. Diskusi itu dalam rangka memperingati seratus hari wafatnya Asep Sambodja, pekan lalu. Bramantyo juga mengatakan, melalui internet ada 8.000 lebih laman yang memuat puisi itu. Dan kebanyakn penulisnya adalah Taufik Ismail.

Nah, oleh karena statusnya itu, banyak pihak yang berkomentar di dinding Facebook-nya. Salah satunya, menurut Bramantyo adalah Fadli Zon, yang juga merupakan keponakan Taufik Ismail. Menurut Bramantyo, setelah membaca penjelasan Fadli, dirinya meragukan kalau puisi tersebut adalah karya Taufik.

Selanjutnya, ia pun langsung meminta maaf. Bahkan, kata Bramantyo, lewat tulisan ini, ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Taufik. "Jadi dengan rendah hati saya mohon maaf. Saya mohon maaf bukan hendak lari dari tanggung jawab kesalahan, tetapi sebagai upaya memperbaiki adab saya sendiri," tulis Bramantyo.

Ia pun akan sangat menghargai Taufik. Bila Taufik juga sudi meminta maaf atas tindakannya yang berusaha mengintimidasi teman-teman seniman muda yang hendak berdiskusi soal bukunya Asep Sambodja tempo hari.

Adapun alasan Bramantyo emosi dan meluap lewat statusnya yang dipersoalkan oleh Taufik adalah dalam konteks tentang adanya tuduhan Lekra generasi ketiga. Selain itu, kata-kata kasar Taufik lewat pesan singkat yang beredar sebelumnya. Kendati demikian, Bramantyo mengakui, hal itu adalah sesuatu yang salah.

Karena itu, Bramantyo meminta maaf kepada semua orang yang merasa tidak nyaman karena kata-kata kasarnya. Ia mengakui, luapan emosinya merupakan respons terhadap kata-kata kasar Taufik Ismail yang dilaporkan banyak pihak di internet itu. [kgi]

kunderemp
03-04-2011, 04:27 PM
Hari ini perdebatan di tautan di dinding saya di fesbuk.
Kesimpulannya adalah sang fesbuker akan kalah bila bertarung secara hukum.

Masalah ini lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan bukan dengan saling mencari dukungan.

el sol
03-04-2011, 11:08 PM
wall-nya Bramantyo sekarang ndak bisa dibaca untuk umum ya ?
kemarin2 saya sudah baca dan sudah sempat simpan.

Tulisan awal Bramantyo : "Khabarkan kepada dunia, penyair jahat Taufiq Ismail yang suka menekan-nekan seniman muda dengan cara-cara selintutan, adalah plagiator tuna-budaya."

Bramantyo sendiri nggak keberatan kalau masalah ini diselesaikan secara hukum.

Ini salah satu kutipan Bramantyo, masih dalam diskusi yang sama :
"Kalau masalah tuduhan yang salah ini hendak diselesaikan secara hukum dan aku dipersalahkan, aku menerima dengan lapang dada. Aku betul-betul salah dalam hal ini, membiarkan rasa sebel pada TI menjauhkan dari ketelitian dan mengaburkan pikiran jernihku. Ibarat orang bersilat keburu nafsu lalu terbanting, itu biasa, justru merupakan pengalaman dan pelajaran berharga buatku."

saya baca berita kemarin Pak Taufiq Ismail pernah mengembalikan royalti untuk lagu "Tuhan" yang disangka beliau penciptanya, padahal bukan.

E = mc˛
04-04-2011, 12:07 AM
wew... baru denger (baca). ditunggu kelanjutannya deh <gelar lapak buat tontonan>

kandalf
04-04-2011, 05:27 PM
@El sol: Gak tahu. Soalnya aku udah jadi friend-nya dia.

Kemarin sih Kang Bram diskusi bareng Kund dan Um Oni dari "lapak lama" di dinding kitab wajah-nya Kund. Kesimpulannya ya, begitu.
Bahkan seandainya ternyata Taufiq Ismail ternyata pernah mengklaim puisi Kerendahan Hati sebagai karyanya sekalipun, Kang Bram tetap terjerat atas nama pasal pencemaran nama baik. Selamat datang di kenyataan hukum Indonesia warisan kolonial.

Jadi menurut Um Oni, dan Kunderemp setuju, lebih baik lupakan soal cari dukungan, lupakan soal media massa, lupakan mencari bukti karena gak bisa dijadikan pembelaan. Lebih baik selesaikan melalui jalur kekeluargaan, bertemu langsung.

Setidaknya itu dari diskusi kecil-kecilan di fesbuk.

Ini masalahnya kan karena kesalahpahaman tetapi Eyang Taufiq menganggapnya serius. Gak ada upaya memfitnah di sini. Yang ada kekesalan darah muda yang kemudian menemukan puisi anonim yang dinisbatkan pada Pak Taufik (pakai K) Ismail. Kesalahkaprahan ini juga sampai masuk ke Depdiknas dan masuk ke dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VIII terbitan Depdiknas.

Saya sendiri berharap, Eyang Taufiq sebagai sesepuh tidak memasukkan ke pengadilan mengingat Kang Bram sendiri sudah mengakui kesalahannya.

el sol
04-04-2011, 08:48 PM
@kandalf : wah kalau sudah punya akses ya sukurlah, jadi bisa diskusi langsung sama yang bersangkutan.

untuk saya sendiri sih selanjutnya jadi pemikiran pribadi aja.

hormat saya nggak cuma untuk Pak Taufiq, tapi juga Pak Bram.