PDA

View Full Version : Kerusuhan Lampung Selatan



opi77
02-11-2012, 08:37 AM
Soal kerusuhan di Lammpung selatan emank sich beritanya udah lumayan lama dan bisa dianggap basi....
tapi gue bingung sejak ribut2 di koran,tv...emank tuch kerusuhan gara2 apa sich..maklum jarang nonton tv jadi gak tau tiba2 ada kerusuhan ampe Kapolda Lampung sendiri gagal jadi Kapolda Jawa Barat...katanya gara2 kerusuhan ini...
ada yang tau infonya...kenapa sampe terjadi??...

AsLan
02-11-2012, 10:45 AM
wah gw malah gak tau sama sekali...

jojox
02-11-2012, 12:08 PM
Informasi yang masuk (tapi perlu di filter lagi) menyebutkan:

Kesalahpahaman sepele mengenai tarif parkir antara etnis lokal dan etnis Bali. Dari individu-individu berkembang menjadi komunitas vs komunitas.
Kemudian garis besarnya, massa lokal menyerang, membakar dan merusak ratusan rumah properti termasuk milik warga Bali.
Polisi datang telat. Penanganan eskalasi konflik chaos, leadership memble. Beberapa jiwa harus melayang. Pati termasuk Kapolsek-Kapolda di shuffle.
Forum perdamaian kemudian diwacanakan dan telah difasilitasi dengan Muspida (Pemda + Aparat TNI/Polri).
Hasilnya, efek positif sikon kondusif dengan perjanjian diatas hitam putih, sejumlah tersangka diproses hukum.
Beberapa lokal masih menghendaki pengusiran/sanksi tegas pelaku. Aslinya keadaan mulai cair, tapi msh potensi menghangat, tinggal seberapa banyak
repetisi coverage di media massa. Harusnya highlight messagenya berisi bahwa konflik ini sudah berakhir. :ngopi:

Sekali lagi, hal sepele bawa bendera SARA berbuah beberapa jiwa ter-sepele-kan.

Budaya kerusuhan, gaduh2, senggol-bacok, tawuran, itu memang indo banget kali ya?

opi77
02-11-2012, 12:19 PM
kalo masalah soal tarif parkir...ini kaya rebutan lahan preman...
beberapa hari yang lalu gue baca malah aparat gak setuju kalo etnis bali yang disana dugusur...gue jadi heran ini perang antar etnis atau gimana??...baru tau gue banyak juga orang bali yang tinggal di lampung..hehehehe..bukan bermaksud SARA yah...

kandalf
02-11-2012, 08:07 PM
Yang soal parkir itu seingatku kerusuhan di Lampung beberapa bulan lalu, bukan yang terakhir.
Yang sekarang kalau gak salah soal tabrakan antara sepeda Ontel (Bali) dan motor.

Tapi aku yakin masalahnya gak sesederhana itu. Pasti udah ada dendam yang tersulut karena masalah sepele itu.


Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 pukul 09.30 WIB di desa Sidorejo kecamatan Sidomulyo kabupaten Lampung Selatan, telah terjadi bentrokan antara warga suku Lampung dan warga suku Bali.
Kronologis kejadian : Pada hari Sabtu tanggal 27 Oktober 2012 pukul 17.30 WIB telah terjadi kecelakaan lalu-lintas di jalan Lintas Way Arong Desa Sidorejo (Patok) Lampung Selatan antara sepeda ontel yang dikendarai oleh suku Bali di tabrak oleh sepeda motor yang dikendarai An. Nurdiana Dewi, 17 tahun, (warga Desa Agom Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan berboncengan dengan Eni, 16 Th, (warga desa Negri Pandan Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan).
Dalam peristiwa tersebut warga suku Bali memberikan pertolongan terhadap Nurdiana Dewi dan Eni, namun warga suku Lampung lainnya memprovokasi bahwa warga suku Bali telah memegang dada Nurdiana Dewi dan Eni sehingga pada pukul 22.00 WIB warga suku Lampung berkumpul sebanyak + 500 orang di pasar patok melakukan penyerangan ke pemukiman warga suku Bali di desa Bali Nuraga Kec. Way Pani. Akibat penyerangan tersebut 1 (satu) kios obat-obatan pertanian dan kelontongan terbakar milik Sdr Made Sunarya, 40 tahun, Swasta.
Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 pukul 01.00 WIB, masa dari warga suku Lampung berjumlah + 200 orang melakukan pengrusakan dan pembakaran rumah milik Sdr Wayan Diase. Pada pukul 09.30 WIB terjadi bentrok masa suku Lampung dan masa suku Bali di Desa Sidorejo Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.
Akibat kejadian tersebut 3 (tiga) orang meninggal dunia masing-masing bernama: Yahya Bin Abdul Lalung, 40 tahun, Tani, (warga Lampung) dengan luka robek pada bagian kepala terkena senjata tajam, Marhadan Bin Syamsi Nur, 30 tahun, Tani, (warga Lampung) dengan luka sobek pada leher dan paha kiri kanan dan Alwi Bin Solihin, 35 tahun, Tani, (warga Lampung), sedangkan 5 (lima) orang warga yang mengalami luka-luka terkena senjata tajam dan senapan angin masing-masing : An. Ramli Bin Yahya, 51 tahun, Tani, (warga Lampung) luka bacok pada punggung, tusuk perut bagian bawah pusar, Syamsudin, 22 tahun, Tani, (warga Lampung) Luka Tembak Senapan Angin pada bagian Kaki. Ipul, 33 tahun, Swasta, (warga Lampung) Luka Tembak Senapan Angin pada bagian paha sebelah kanan dan Mukmin Sidik, 25 tahun, Swasta, (warga Lampung) luka Tembak Senapan Angin di bagian betis sebelah kiri.

saus kacang (http://www.polri.go.id/berita/15831)


Kalau kita lihat, kerusuhan ini melibatkan dua etnis, Lampung dan Bali (warga transmigran).
Juga melibatkan dua agama, Islam dan Hindu.
Selain itu, ada beberapa warga Bali di Lampung yang memiliki usaha peternakan Babi, bahkan mereka punya asosiasinya.
Di Februari tahun 2010 misalnya,
ada keluhan warga di Lampung tentang peternakan-peternakan Babi.

Nah,
bayangin deh,
kira-kira seperti apa situasinya.

---------- Post Merged at 09:02 PM ----------

Daftar kerusuhan besar (tidak dihitung yang kecil2) di Lampung:

Pembakaran pasa Probolinggo Lampung Timur oleh suku bali.
29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
September 2011 : Jawa vs Lampung
Januari 2012 : Sidomulyo Lampung Selatan Bali vs Lampung
Oktober 2012 : Sidomulyo Lampung Selatan.

---------- Post Merged at 09:07 PM ----------

Salin rekat dari: http://regional.kompasiana.com/2012/10/29/konflik-di-lampung-sampai-kapan-akan-berakhir-499324.html



Mencari spirit sumpah pemuda
Sabtu, 27 Oktober kemarin Bentrokan kembali pecah di Lampung. Kali ini, bentrok terjadi antara Etnis Lampung dari Desa Agom dan Etnis Bali di Desa Balinuraga. Bentrokan dipicu oleh pelecehan seksual yang dilakukan sekelompok pemuda dari Desa Balinuraga. Awalnya, Dua gadis dari Etnis Lampung terjatuh dari motor. Namun bukannya membantu, pemuda-pemuda itu malah melakukan pelecehan. Kerusuhan ini terus berlanjut hingga tulisan ini dibuat. Suatu ironi di tengah peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Kerusuhan di Lampung bukan kali ini saja terjadi. Sudah sangat sering kita mendengar berita di media nasional mengenai kerusuhan yang terjadi. Jika kita lihat, maka hampir seluruhnya adalah kerusuhan antar etnis. Biasanya kerusuhan antara etnis Lampung-Jawa, Lampung-Sunda, Lampung-Bali ataupun Lampung-Jawa+Bali.
Akar permasalahan di Lampung dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Terutama ketika dimulainya Kolonisasi Jawa di Lampung pada zaman Belanda. Kemudian program kolonisasi ini terus dilanjutkan hingga zaman kemerdekaan, kali ini istilahnya diganti dengan nama transmigrasi. Hingga kini arus pendatang pun terus mengalir deras baik karena alasan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, atau bahkan lewat penyerobotan tanah. Sayangnya, program kolonisasi/migrasi penduduk ini dilakukan tanpa adanya pemahaman budaya lokal oleh pendatang. Akhirnya, perbedaan-perbedaan ini menimbulkan gesekan-gesekan yang terkadang menimbulkan percikan api, bahkan sampai membara antara penduduk lokal dan pendatang.
Kerusuhan di Lampung akan selalu ada jika benih-benih kecurigaan masih tertanam antara Etnis-etnis tersebut. Apalagi sikap primodial yang makin mengkristal di masing-asing etnik. Sayangnya, hingga kini tidak ada usaha yang serius dari pemerintah untuk menghentikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mungkin mengancam integrasi bangsa ini. Pemerintah hanya bisa memasang spanduk-spanduk bertuliskan DAMAI ITU INDAH di semua sudut tempat. Bahkan Spanduk-spanduk itu sebenarnya bukan dibuat oleh pemda/pemkab, melainkan oleh seorang petinggi TNI di Lampung yang katanya sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur.
Terdiskriminasi di tanah sendiri
Hingga kini, Bom waktu itu masih terus aktif. Itulah yang saya rasakan ketika saya masuk ke salah satu komunitas etnis. Saya orang Lampung, dan saya tahu apa yang orang Lampung pikirkan terhadap pendatang. Diskriminasi dan Labeling yang buruk selalu diarahkan terhadap orang Lampung. Di SMA saya dulu, kami sering diperlakuan yang buruk secara psikis. Hanya karena kami orang Lampung dan berasal dari desa yang mayoritasnya orang Lampung.
Saya sangat ingat ketika itu kami sedang menunggu angkot untuk pulang. Lalu datang guru dan menayakan asal kami. Begitu kami menyebutkan nama desa kami, bukannya ngobrol/basa-basi selayaknya guru & murid, tapi guru itu langsung mengata-ngatai kami dengan sangat kasarnya (tak perlu saya sebutkan kata-kata yang mengerikan itu) bukan hanya guru itu,melainkan beberapa oknum guru juga berlaku demikian. Padahal ketika itu ,anak dari daerah kami lah yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Perilaku Rasis itu saya rasakan dari saya SD sampai saya lulus kuliah. Parahnya, pelaku-pelaku rasis itu tak pernah sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan rasisme. Dan yang sangat disayangkan, kebanyakan pelaku-pelaku rasis itu adalah oknum pendidik, pejabat dan mahasiswa yang seharusnya bisa berpikir lebih rasional dan objektif. Ketika terjadi konflik, maka orang Lampung selalu disalahkan oleh orang-orang intelek ini, tanpa pernah mereka melihat pemicu konflik. Kalaupun mencari tahu, mereka hanya mencari tahu hanya dari sisi etnis nonLampung.
Adik-adik saya juga pernah mengalami hal yang sangat rasis seperti itu. Saat itu, di tempat mengaji mereka, terjadi perselisihan antara anak-anak. Kebetulan yang berselisih itu adalah anak Lampung dan anak dari etnis lain. Sayangnya, sang ustad bukannya melerai, tapi malah ikut menghina orang Lampung dengan kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh sang guru mengaji. Adik-adik sayapun diberhentikan dari tempat mengaji itu.
Dicitrakan dengan sangat buruk
Teman saya dari Medan bercerita pada saya, bahwa ketika dia baru sampai Lampung, pamannya berpesan “Jangan bergaul dengan orang Lampung karena orang Lampung itu Barbar.” Tapi apa yang pamannya katakan itu langsung pupus dari pikirannya ketika ia kenal saya yang notebane orang Lampung. Cerita-cerita tentang betapa Barbarnya orang Lampung semakin terdengar ketika saya tinggal di Kampung yang mayoritas penduduknya adalah Etnis yang kini paling dominan di Indonesia. Cerita-cerita bahwa orang Lampung adalah Begal, penjarah, pencuri, pembunuh, preman, tukang palak, dan segala pelaku kejahatan lainnya sampai hampir muntah saya dengar. Saya orang Orang Lampung dan tinggal di kampung yang mayoritasnya orang Lampung, tapi saya tidak pernah menemukan apa yang membuat mereka paranoid di kampung saya.
Orang-orang pendatang menyebut perkampungan orang Lampung sebagai daerah Texas. Saya tidak tahu mengapa. Tapi mungkin karena mereka mengidentikkannya dengan daerah kekerasan. Ketika saya kuliah dulu, teman-teman di organisasi kemahasiswaan dimana saya bergabung tidak pernah mau mengadakan kegiatan di daerah-daerah orang Lampung. Alasannya satu, karena daerah itu masih banyak orang pribumi. Sungguh, saat itu dada saya sangat sesak rasanya. Jika anda ingin membuktikannya, tanyakanlah dengan orang yang selama ini berasal dari salah satu etnis yang sering berkonflik dengan orang Lampung tentang orang Lampung, maka jawaban-jawabannya pasti sangat memojokkan orang Lampung. Saat anda menanyakan arah/jalan, Jika anda beruntung, maka anda akan mendapat jawaban, “Jangan ke sana di sana banyak orang pribumi” atau “jangan kesana, di sana daerah orang pribumi”.
Yang lebih ironis, pernyataan tidak mengenakkan dengan gamblangnya ditulis oleh salah seorang mahasiswa yang merupakan petinggi di komisariat organisasi kemahasiswaan yang bebasiskan agama di akun facebooknya. Intinya dia mempertanyakan kenapa daerah-daerah yang mayoritasnya orang Lampung merupakan daerah rawan dan berbahaya. Bahasa yang ia gunakan sangat tendensius dan menyakitkan mata saya. sehingga membuat jari-jemari saya gatal untuk mengetikkan komentar seperti di bawah ini:
###

Pertanyaan yang sama yang diajukkan oleh orang BARAT terhadap Islam: Kenapa Islam selalu identik dengan Kekerasan, Pelanggaran HAM, Terorisme, Poligami, Keterbelakangan? Kenapa orang Palestina bisa sedemikian gila mau menjadi BOM hidup untuk meneror orang yahudi? Benarkah Islam demikian? sekejam itu? Teroris? Sebagai Muslim, tentulah kita tidak terima dikatakan seperti itu karena kenyataannya tidak demikian. Sebagai Aktivis, kita semua tahu, apa yang membuat oknum islam bisa menempuh jalan kekerasan. Salah satunya karena ketidakadilan. Tapi apa iya, semua Muslim demikian? Pastinya tidak. Selama ini, Manusia Modern tidak pernah mendapatkan Informasi yg berimbang. Hal ini mungkin karena tergantung siapa penguasa informasi/media, dan si penerima informasi tidak pernah mau tabayyun/cek dan ricek terhadap pihak lain yang selama ini bersemayam dalam pikirannya sebagai tokoh jahat dan barbar.

Saya berusaha untuk tidak memihak (walau saya orang Lampung). Ada yang bilang bahwa Transmigrasi adalah Kolonisasi/penjajahan model baru. Bahkan, kata teman saya, Salah seorang dosen di universitas tempatnya kuliahmengatakan bahwa Salah satu suku dominan di Indonesia tak lebih dari Zionis Israel. Kenyataannya, contoh nyata ini terjadi di Lampung (ini masih kata dosen itu). Saat ini, Suku Lampung Hanya 25 % dari total peduduk prov Lampung (Wikipedia). Bagaimana dengan Pendatang? hingga saat ini masih orang luar masih terus berdatangan, merambah dan mematok lahan-lahan baru. Contohnya masih terjadi di hutan register 45 Mesuji & Hutan Way kambas. Ribuan orang datang dan mengkavling-kavling lahan seenakknya.


Hal yang sama terjadi dengan keluarga Kakek saya. Kakek saya punya Tanah yang sangat luas, bahkan sangat luas dari yang pernah saya bayangkan. Tapi semua itu hilang ketika program transmigrasi terjadi -kayak cerita Avatar ya, hehehe- . ketika itu Pemerintah yang otoriter memaksakan program kolonisasinya di Ke-marga-an kami. Hasilnya, datanglah orang-orang baru, dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda, bahkan terkadang agama yg berbeda. Tapi karena orang Lampung memiliki prinsip Nemui Nyimah, maka mereka sangat welcome dengan pendatang. Meskipun tanahnya diambil paksa oleh pemerintah dan diserahkan kepada koloni. Hasilnya, Hingga kakek saya meninggal, tak ada sejengkal tanahpun yang tersisa yang bisa diwariskan kepada anak cucu. Tanah-tanah kakek saya sekarang telah menjadi kampung-kampung Koloni. (catatan: Hingga kini, Istilah “koloni” masih sering kami gunakan untuk menyebut daerah transmigrasi). Well, untuk kalian yang selalu teriak membela Palestina, coba berhenti sebentar, dan tengok ke dalam diri sendiri. Kalau kalian masih menganggap orang Lampung, Barbar, bahaya, Jahat, dll, apa bedanya kalian dengan Barat, Amerika dan Israel yang selalu menganggap Palestina (dan Islam) Barbar, Jahat dan menakutkan. selalu menganggap Koloni lebih beradab daripada pribumi.

###
Menurut saya, akar dari kerusuhan yang selama ini terjadi adalah ketidakadilan dan kesalahan sistem yang diterapkan pemerintah pada masa lampau ketika menerapkan program transmigrasi. Pemerintah terlalu mengistimewakan pendatang tanpa memikirkan kesejahteraan penduduk lokal sebagai pemilik tanah ulayat. Selain itu, pemerintah tidak pernah melakukan penelitian secara sosiologis terhadap budaya lokal. Seharusnya sebelum dilakukan transmigrasi, terlebih dahulu dilakukan kajian sosiokultural terhadap penduduk lokal, untuk kemudian disampaikan kepada calon transmigran. Paling tidak, dengan pemahaman budaya, maka gap antara etnis yang berbeda ini bisa diperkecil. Sehingga gesekan-gesekan penyebab kerusuhan bisa diminimalkan.

Lembah_Hinnom
02-11-2012, 08:25 PM
Baru nyadar,
Mesuji itu di lampung ya?

lifestylexkompasianaxcom/catatan/2011/12/19/tidak-semua-orang-lampung-begitu-bun/

Di kantor-kantor, sekolah-sekolah, warung kopi dan semua tempat saat ini banyak yang membicarakan kasus Mesuji. Tidak heran, karena media begitu mengekspose berita ini. Namun, yang membuat saya heran adalah tanggapan dari beberapa teman dan kerabat saat melihat kasus ini. Mereka bilang “Yaah, biasalah orang Lampung mah.”

Waw! Memang kenapa dengan orang Lampung? Saya memang pernah mendengar kabar burung. Ya, cuma kabar burung bahwa suku Lampung memang terkenal kasar dan mudah sekali mengeluarkan goloknya jika marah. Tapi, itu kan kabar burung yang tidak bisa dipertanggungajwabkan kebenarannya. Saya mempunyai sahabat-sahabat asli suku lampung, tetapi mereka dan keluarga besarnya begitu baik.

Dan ternyata pendapat serupa keluar dari si Bunda tercinta. Beliau dari dulu tidak akan mengizinkan buah hatinya menikah dengan warga suku Lampung asli. Orang Lampung kasar-kasar katanya. Haduuuh, plis deh bun?

porcupine
02-11-2012, 10:51 PM
@ opi77, setau gw orang Bali yg di lampung itu karena program transmigrasi akbat efek bencana meletusnya Gunung Agung di Bali dulu.
Mereka disebut Bali KOGA disana (korban Gunung Agung)

Cmiiw

etca
03-11-2012, 12:18 AM
@ opi77, setau gw orang Bali yg di lampung itu karena program transmigrasi akbat efek bencana meletusnya Gunung Agung di Bali dulu.
Mereka disebut Bali KOGA disana (korban Gunung Agung)

Cmiiw
peristiwa meletusnya gunung Agung kapan ya?
Mau tau berapa lamanya,
ko belum tjadi pembauran, malah sampai gontok2an gt.

Serenade
03-11-2012, 04:30 PM
Mungkin karena semangat kesukuan masih kuat banget.
Apalagi kalo sdh beda agama gitu, makin susah ngebaur.

BundaNa
03-11-2012, 05:56 PM
korbannya yang meninggal 12 orang, banyak orang Balinya...turut prihatin

kandalf
03-11-2012, 07:04 PM
Kutipan pesan di FB dari orang Jawa:


pengalamanku tinggal sedaerah dengan suku komering, yg asli sumsel, mereka suka iri irian sama suku pendatang, terutama jawa, namanya juga orang jawa kan perantauan ya, jadi pada rajin rajin, ulet, buka sawah dll. nah suku komering ini rata rata punyanya kebun kebun warisan: duku, kopi, karet, dll tanaman perkebunan yang kasarnya ditinggal molor aja udah menghasilkan. Mereka suka iri kenapa pembangunan irigasi teknis cuma buat orang jawa...padahal mah yg namanya irigasi di indonesia emang buat tanaman pangan (sawah, kedelai, kc tanah, dll) yg kebetulah diusahainnya ama orang jawa. Gak ada cerita karet pake dibikinin saluran irigasi.


Status kawan FB yang orang Lampung


Selama berabad abad Tanoh Lampung dan entitasnya mulai dari Komering hingga Semaka, mulai dari Ranau hingga Way Handak, mulai dari peradaban purba saat masih di Sekala Brak Pesagi hingga saat menyeberang ke Cikoneng Banten, semua Anak Negeri Jurai Lampung dari setiap waktu dan entitas hidup berdampingan dan harmonis dengan semua Kuakhi [Pendatang] dari luar Lampung. Terbukti sejak zaman kuno sudah ada entitas Bugis di Melinting dan Tulang Bawang, entitas Ogan dan Semendo di Sekala Brak dan Abung, juga entitas Bengkulu di Krui, demikian seterusnya hingga masa transmigrasi etnis Jawa di Lampung, juga seterusnya saat Lampung dipenunuhi entitas yang multi etnis. Hal yang membuktikan bahwa Ulun Lampung adalah suku bangsa yang terbuka dan juga terbiasa bergotong royong sebagaimana Falsafah Ulun Lampung "Nengah Nyampur" dan "Sakai Sambayan".

Menjadi hal yang kita sayangkan bersama, saat kebersamaan dari seluruh entitas etnis Pendatang di Lampung berjalan harmonis dan berdampingan, konflik dari etnis Bali dalam beberapa puluh tahun terakhir ini terus terjadi. Upaya perdamaian yang hakiki tidak pernah bisa terlaksana, semuanya tidak terlepas dari ekslusifitas etnis Bali yang tinggal selalu berkelompok tanpa ada silaturahmi yang intens dengan Masyarakat Adat Lampung, pun kehidupan etnis Bali yang tidak pernah membaur secara Adat, Sosial dan Falsafah Holistik dengan Masyarakat Adat Lampung. Selama beberapa puluh tahun terakhir telah terjadi konflik multifaktor di Lampung dan Sumbagsel pada umumnya, lokasi kerusuhan terjadi pada daerah daerah yang juga didiami etnis Bali seperti di Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Way Kanan Tulang Bawang dan Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan, hanya Krui di Lampung Barat wilayah yang juga didiami etnis Bali yang bisa hidup berdampingan dengan Masyarakat Adat setempat. Selama masa itu pulalah telah terjadi kerusuhan bahkan pembakaran pada kampung kampung Ulun Lampung diwilayah Lampung Timur, Way Kanan dan Tulang Bawang. Sehingga jelas bahwa peristiwa Lampung Selatan sepertinya adalah klimaks dari peristiwa peristiwa konflik sosial tersebut.

Mengamati seluruh rangkaian peristiwa dan kejadian juga hal hal yang melatarbelakanginya, maka rekomendasi bagi kebijakan yang seharusnya diambil Pemerintah Lampung khususnya juga para fihak terkait Adalah:
1. Merelokasi Etnis Bali yang bermasalah di Lampung dan Sumatera Selatan ke Pulau Bali atau transmigrasi ke Papua dan atau Kalimantan.
2. Mengembalikan seluruh sendi sendi keLampungan dan kearifan lokal secara terintegrasi dengan mengejawantahkannya pada kehidupan sehari hari dengan perangkat Adat juga kurikulum pendidikan.
3. Mengembalikan nama nama wilayah Lampung yang sudah berubah kembali ke nama aslinya karena berkaitan dengan sejarah dan identitas Ulun Lampung.
4. Mereduksi potensi konflik dengan silaturahmi secara berkesinambungan secara non formal dan formal bagi semua entitas di Provinsi Lampung.

"Betik Betik Dipa Khang Teppik, Helau Helau Pepakhda Anjau Silau"

Lembah_Hinnom
03-11-2012, 07:22 PM
Mau menyalahkan orang Bali yang tidak berasimilasi dengan Orang Lampung?

Bagaimana dengan kasus 2010.


29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10441&Itemid=6


Aksi unjuk rasa di depan Polres Lampung Tengah, diwarnai ketegangan. Massa yang meminta warganya dibebaskan, bubar secara tiba-tiba saat kelompok warga lain mengancam.

Unjuk rasa warga kampung Nambah Dadi, Wono Agung, di depan polres Lampung Tengah, menjadi tegang. Warga langsung berhamburan, saat sekelompok warga dari kampung Tanjung Ratu Ilir datang.

Warga Nambah Dadi mendatangi polres Lampung Tengah, untuk memperjuangkan S-P, warga mereka yang ditahan akibat pengeroyokan terhadap W-A, tersangka pencurian motor. Namun, warga kampung Tanjung Ratu Ilir, yang merasa dirugikan tak terima begitu saja.

Meski emosi warga dapat diredam, aksi ini sempat membuat jalan Sumatera, di depan polres Lampung Tengah, terhambat. Usai berunjuk rasa, warga kampung Nambah Dadi, tetap melakukan negosiasi dengan petugas polres Lampung Tengah. Namun, S-P, tetap ditahan karena terdapat sejumlah bukti pada kasus pengeroyokan beberapa waktu lalu.

wewarahblog.blogspot.com/2010/12/nambahdadi-diserang-1-tewas-4-rumah.html


Kampung Nambahdadi, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, diserang puluhan orang Kamis (30-12) siang. Seorang warga kampung lain yang melintas tewas dianiaya dan empat rumah dibakar.

Sebelum menyerang kampung, puluhan orang itu sebelumnya membubarkan aksi demo 500-an warga Kampung Nambahdadi, di depan Mapolres Lampung Tengah, sekitar pukul 11.00.

Awalnya, warga Kampung Nambahdadi berunjuk rasa menuntut Polres membebaskan Parno, warga Nambahdadi. Parno ditahan atas dugaan terlibat penganiayaan terhadap Weli Aprijal (22), warga Tanjungratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, pada 19 Desember 2010.

Weli diduga mencuri Yamaha Mio BE-3044-HO milik Sutimin, warga Kampung Tandus, Kecamatan Bandarmataram, Lampung Tengah. Weli akhirnya tewas di Rumah Sakit Demang Sepulau Raya, Gunungsugih.

Rombongan pengunjuk rasa dari Nambahdadi tiba di Mapolres dengan lima truk dan dua pikap sekitar pukul 11.00. Mereka diadang pasukan Dalmas dan Brimob Kompi 4 di Pos Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK).

Kepala Kampung Nambahdadi, Supriyanto, yang datang dengan pakaian dinas upacara mencoba menenangkan warga termasuk Anang Prihantoro, anggota DPD dan J. Natalis Sinaga, anggota DPRD Lamteng.

Lima wakil warga—Supriyanto (kepala kampung), Suganda, Edi Suparlan, Dwi Nurcahyadi, dan Ismiyati—lalu berdialog dengan Kapolres AKBP Budi Wibowo di ruang rapat Mapolres.

Edi Suparlan menjelaskan awalnya warga Nambahdadi berniat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di jalan rusak. Namun, ketika hendak ditolong, pengendara sepeda motor itu justru menodongkan pistol ke warga.

"Kami tidak berniat menganiaya sebelum pelaku itu mengeluarkan pistol dan menodong. Memang di sana ada satu polisi, tapi tidak dapat berbuat banyak," ujarnya.

Menanggapi itu, Kapolres menegaskan pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. "Dalam permasalahan ini ada dua tindak pidana yang berbeda, curanmor dan penganiayaan," kata dia.

Saat wakil warga dan Kapolres berdialog, pengunjuk rasa yang berada di tepi jalan depan Mapolres kocar-kacir karena diserbu massa bersenjata tajam.



regional.kompasiana.com/2011/12/15/daerah-rawan-di-provinsi-lampung/

Untuk daerah ini, penulis pernah melihat langsung di tempat kejadian ; “perang suku” antara orang-orang Jawa/Bali dengan orang Lampung di desa Nambah Dadi-Lampung Tengah. Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, tanggal 29 Desember 2010 pukul 3 sore . Permasalahannya pun sepele, salah satu warga dari salah satu kampung tertangkap mencuri dan diserahkan ke polisi, sehingga memancing “solidaritas” dari kampung tempat “pencuri” tersebut berasal. Untung kerusuhan ini dalam 2 hari cepat diredam oleh polisi dibantu dengan tentara.

Lembah_Hinnom
03-11-2012, 07:22 PM
Mau menyalahkan orang Bali yang tidak berasimilasi dengan Orang Lampung?

Bagaimana dengan kasus 2010.


29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10441&Itemid=6


Aksi unjuk rasa di depan Polres Lampung Tengah, diwarnai ketegangan. Massa yang meminta warganya dibebaskan, bubar secara tiba-tiba saat kelompok warga lain mengancam.

Unjuk rasa warga kampung Nambah Dadi, Wono Agung, di depan polres Lampung Tengah, menjadi tegang. Warga langsung berhamburan, saat sekelompok warga dari kampung Tanjung Ratu Ilir datang.

Warga Nambah Dadi mendatangi polres Lampung Tengah, untuk memperjuangkan S-P, warga mereka yang ditahan akibat pengeroyokan terhadap W-A, tersangka pencurian motor. Namun, warga kampung Tanjung Ratu Ilir, yang merasa dirugikan tak terima begitu saja.

Meski emosi warga dapat diredam, aksi ini sempat membuat jalan Sumatera, di depan polres Lampung Tengah, terhambat. Usai berunjuk rasa, warga kampung Nambah Dadi, tetap melakukan negosiasi dengan petugas polres Lampung Tengah. Namun, S-P, tetap ditahan karena terdapat sejumlah bukti pada kasus pengeroyokan beberapa waktu lalu.

wewarahblog.blogspot.com/2010/12/nambahdadi-diserang-1-tewas-4-rumah.html


Kampung Nambahdadi, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, diserang puluhan orang Kamis (30-12) siang. Seorang warga kampung lain yang melintas tewas dianiaya dan empat rumah dibakar.

Sebelum menyerang kampung, puluhan orang itu sebelumnya membubarkan aksi demo 500-an warga Kampung Nambahdadi, di depan Mapolres Lampung Tengah, sekitar pukul 11.00.

Awalnya, warga Kampung Nambahdadi berunjuk rasa menuntut Polres membebaskan Parno, warga Nambahdadi. Parno ditahan atas dugaan terlibat penganiayaan terhadap Weli Aprijal (22), warga Tanjungratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, pada 19 Desember 2010.

Weli diduga mencuri Yamaha Mio BE-3044-HO milik Sutimin, warga Kampung Tandus, Kecamatan Bandarmataram, Lampung Tengah. Weli akhirnya tewas di Rumah Sakit Demang Sepulau Raya, Gunungsugih.

Rombongan pengunjuk rasa dari Nambahdadi tiba di Mapolres dengan lima truk dan dua pikap sekitar pukul 11.00. Mereka diadang pasukan Dalmas dan Brimob Kompi 4 di Pos Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK).

Kepala Kampung Nambahdadi, Supriyanto, yang datang dengan pakaian dinas upacara mencoba menenangkan warga termasuk Anang Prihantoro, anggota DPD dan J. Natalis Sinaga, anggota DPRD Lamteng.

Lima wakil warga—Supriyanto (kepala kampung), Suganda, Edi Suparlan, Dwi Nurcahyadi, dan Ismiyati—lalu berdialog dengan Kapolres AKBP Budi Wibowo di ruang rapat Mapolres.

Edi Suparlan menjelaskan awalnya warga Nambahdadi berniat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di jalan rusak. Namun, ketika hendak ditolong, pengendara sepeda motor itu justru menodongkan pistol ke warga.

"Kami tidak berniat menganiaya sebelum pelaku itu mengeluarkan pistol dan menodong. Memang di sana ada satu polisi, tapi tidak dapat berbuat banyak," ujarnya.

Menanggapi itu, Kapolres menegaskan pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. "Dalam permasalahan ini ada dua tindak pidana yang berbeda, curanmor dan penganiayaan," kata dia.

Saat wakil warga dan Kapolres berdialog, pengunjuk rasa yang berada di tepi jalan depan Mapolres kocar-kacir karena diserbu massa bersenjata tajam.



regional.kompasiana.com/2011/12/15/daerah-rawan-di-provinsi-lampung/

Untuk daerah ini, penulis pernah melihat langsung di tempat kejadian ; “perang suku” antara orang-orang Jawa/Bali dengan orang Lampung di desa Nambah Dadi-Lampung Tengah. Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, tanggal 29 Desember 2010 pukul 3 sore . Permasalahannya pun sepele, salah satu warga dari salah satu kampung tertangkap mencuri dan diserahkan ke polisi, sehingga memancing “solidaritas” dari kampung tempat “pencuri” tersebut berasal. Untung kerusuhan ini dalam 2 hari cepat diredam oleh polisi dibantu dengan tentara.

opi77
03-11-2012, 11:33 PM
Berarti dilampung sendiri udah sering terjadi kerusuhan yah...
Emank sich waktu kasus majusi rame banget...gue gak setuju kalo orang lampung dibilank gampang marah..gue bukan belain orang la pung dan gue juga bukan dari sana...
Susahnya orang indonesia yah itu masalah iri2an...mentalnya emank belum berunah gak bisa liat tetangga suksea dikit pasti diomongin macem2...
Kenapa didaerah yah gak bisa berbaur...kalo dikota2 besar mereka bisa berbaur...

kandalf
04-11-2012, 12:22 AM
^
Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
Majusi mah nama agama Persia.

Iya, Benar. Lampung termasuk daerah panas. Tapi Lampung bukan satu-satunya daerah panas. Masih ada Makassar, Maluku, Jawa Timur.
Bali sendiri sebenarnya daerah panas, silakan tanyakan pada BundaNa atau Ga Genah yang tinggal di sana.


Ini ada skrinsyut diskusi panas antara orang Lampung sendiri.
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/196172_10151140156809226_1444220933_n.jpg

cha_n
04-11-2012, 12:55 AM
masalahnya terletak dari ketidakadilan sosial nih. sangat mungkin juga ada kesenjangan ekonomi jadinya ada yang merasa disisihkan

AsLan
04-11-2012, 01:02 AM
masalah kesenjangan sosial mah selalu ada kapanpun dan dimanapun.

yg penting pemerintah, hukum dan polisi berani tegas, siapapun yg melakukan tindakan melanggar hukum langsung ditindak tegas.

sekarang ini di indonesia kan kesannya siapapun yg bertindak atas nama "massa" boleh bebas dari hukum.

cha_n
04-11-2012, 01:27 AM
lain dong masalahnya lan

ini kan para "penduduk asli" terpinggirkan dari orang2 pendatang
tau2 pendatang dapat tanah, tahu2 mereka lebih secara ekonomi, mereka didukung pemerintah dst dst
tentu ada perasan diskriminasi dari penduduk asli, ini terjadi bertaun2 tanpa dipahami sedari awal
jadi isinya dendam aja

kalau orang2 betawi, mereka sendiri yang emang jual tanah, lah kalau ini kan tanah ulayatnya diambil negara lalu dibagi2 ke warga laen

Serenade
04-11-2012, 10:04 AM
^
Tapi, Chan, di waktu transmigran datang, tanah" itu cuma hutan, bukan menyerobot pny rakyat.
Para transmigran itu buka hutan buat ladang.
Latar belakang pendatang di lampung itu hampir memasuki 1 abad. Sdh ga pantas lagi dibilang pendatang.

opi77
04-11-2012, 10:59 AM
Menurut gue sich..pendatang lebih kerja keras keraka mereka merasa gak punya apa2 dan harus mulai dari nol lagi kehidupan mereka..beda dengan penduduk asli yang udah punya harta benda jadi penduduk asli cuma meneruskan aja...sedangkan pendatang harus mulaimdari awal lagi..
Lama2 pendatang yang maju dam penduduk asli melihatnya ketidak adilan...dan situlah muncul bibit2 kerusuhan ditambah berita2 sepele jadi besar...
Daerah transmigrasi emank paling gampang terjadinya kerusuhan...

cha_n
04-11-2012, 11:19 AM
^
Tapi, Chan, di waktu transmigran datang, tanah" itu cuma hutan, bukan menyerobot pny rakyat.
Para transmigran itu buka hutan buat ladang.
Latar belakang pendatang di lampung itu hampir memasuki 1 abad. Sdh ga pantas lagi dibilang pendatang.

hanya coba membandingkan dengan daerah lain di pulau sumatra.
di sumatra barat tidak ada transmigrasi seperti ini, karena memang ada adat yang kaku soal kepemilikan tanah
di sana juga banyak hutan2nya.

saya akui, orang jawa memang lebih rajin, di sumbar juga gitu (di kampungku lah minimal) mereka dikenal sebagai pekerja keras.
tapi apa ada konflik? ngga, karena ga ada penyerobotan lahan dari suku lain.
paling konflik antar anggota keluarga rebutan tanah, tapi ga akan jadi konflik seperti di lampung.

walau itu tanah keliahatan seperti hutan, harusnya tetap dianggap sebagai tanah ulayat, milik masyarakat.
masalahnya kayaknya udah berlarut-larut nih..

akar permasalahannya yang aku tangkap ya soal ekonomi itu tadi

Serenade
04-11-2012, 11:36 AM
Punya motif ekonomi itu gw sadari ...

Hmm .... pemecahan masalahnya bakalan sulit bgt. Kecuali pembauran, kesukuan dihilangkan.

AsLan
04-11-2012, 11:43 AM
banyak orang membenci orang lain, suku membenci suku lain, agama membenci agama lain dst.

tapi di negara yg kuat, kebencian itu tidak bisa direalisasikan menjadi bentrokan fisik karena sebelum menyerang pihak yg mereka benci ada tembok besar yg harus dilalui yaitu penegak hukum.

berusaha menyelesaikan akar masalah memang baik, tapi butuh waktu panjang dan kadang2 tidak bisa selesai.
meskipun berbagai pihak berupaya mengusahakan perdamaian, sering kali banyak orang memang lebih suka memelihara kebencian dan permusuhan.

kandalf
04-11-2012, 12:18 PM
Dalam beberapa adat,
tanah itu bukan sekedar lahan yang ditempati dan ditanami tetapi juga termasuk hutan tempat berburu dan sungai tempat mengambil air.

Di beberapa suku di Papua, tanah itu tidak dijualbelikan ke pihak luar Papua melainkan sekedar disewakan oleh kepala suku. Ini cerita dari nyokap, jadi maaf, aku tidak bisa verifikasi.

Pembauran juga gak bisa dipaksakan seperti zaman orde baru.

Serenade
04-11-2012, 01:37 PM
Kalo di Lampung seharusnya Suku Anak Dalam yg harusnya meradang. Cmiiw

cha_n
04-11-2012, 01:49 PM
suku anak dalam itu di jambi

Ronggolawe
04-11-2012, 01:50 PM
Kalo di Lampung seharusnya Suku Anak Dalam yg harusnya meradang. Cmiiw

Suku anak dalam itu di Jambi, bukan Lampung.

ga_genah
04-11-2012, 02:35 PM
selama masih ada istilah "pendatang"
selama itu juga pembauran antar suku tidak akan terjadi

dan yg harus digaris bawahi, yg namanya perantauan pasti harus bekerja keras
klo ga, ya ga bisa hidup

BundaNa
04-11-2012, 03:15 PM
^
Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
Majusi mah nama agama Persia.

Iya, Benar. Lampung termasuk daerah panas. Tapi Lampung bukan satu-satunya daerah panas. Masih ada Makassar, Maluku, Jawa Timur.
Bali sendiri sebenarnya daerah panas, silakan tanyakan pada BundaNa atau Ga Genah yang tinggal di sana.


Ini ada skrinsyut diskusi panas antara orang Lampung sendiri.
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/196172_10151140156809226_1444220933_n.jpg

yang namanya pendatang cenderung ulet karena mereka mau gak mau harus berjuang untuk hidup mereka dan keturunan mereka yang mungkin akan menetap di daerah tersebut. Sedang penduduk asli, cenderung menyepelekan karena merasa tanah yang dia injak ini negerinya dan pendatang mereka anggap sebagai pengembara yang mesti patuh dan bayar upeti kepada penduduk asli.

Dan konflik dimulai dari sana. Pendatang yang ogah diperas penduduk asli terus menerus dan penduduk asli yang merasa pendatang menyerobot hak hidup dan tanah miliknya.

Pengelaman gwe di Bali suka sakit hati sama ceplosan2 orang asli Bali yang menghina para pendatang sebagai perampok padahal kebanyakan dari mereka sendiri yang malas, kalau kerja maunya enak dan gajinya besar dll....ditambah pemilik modal lebih suka ambil pekerja pendatang karena penduduk asli Bali cenderung slebor sedang pekerja pendatang mau kerja keras. Makin irilah si penduduk asli, dan pendatang diejek sebagai perampok hak kerja mereka, padahal sebagai pedatang kita pun BAYAR KE BANJAR tiap bulannya (jaman gwe berdua udah 150rebu), kenapa hak kerja para pendatang masih diungkit?

Plus pasca Bom Bali I dan II, penduduk asli Bali makin manja dan menyalah2kan para pendatang atas segala permasalahan yang terjadi di tanah mereka.

Sorry, saya gak mention siapa2, cuma menceritakan pengalaman gwe waktu tinggal di Bali. Meski masih banyak temen2 kerja penduduk Asli yang baik sama gwe dan menghargai pekerjaan dan pribadi gwe, gak melihat kesukuan dan agama gwe, tapi ada lah yang begitu dan yang berpikiran begitu cenderung berbakat jadi provokator.

Well itu pengalaman gwe....entah yang kasus di Lampung Selatan. Sebagai pendatang, bagaimana pendatang Bali di sana? Mereka eksklusive? Jelas. Karena aturan hidup dari asalnya, Bali, banyak aturan adat yang njlimet, contoh sederhana, perempuan Bali yang menikah dan pindah agama pun ada tradisi upacara keluar dari adat Bali. Jadi kemungkinan ada benturan2 yang terjadi antara pendatang2 Bali (pendatang ya? padahal mereka sudah luama ya hidup di sana) dengan penduduk asli Lampung adalah masalah perbedaan konsep hidup dan adat.

Pemerintah yang mesti menjembatani ini, harus ada rekonsiliasi....tidak selalu menyalahkan perbedaan kultur sebagai ijin atas terjadinya bentrok

Serenade
04-11-2012, 09:35 PM
suku anak dalam itu di jambi


Suku anak dalam itu di Jambi, bukan Lampung.

Ok. Thanks utk koreksinya. ::ungg::

opi77
05-11-2012, 07:38 AM
selama masih ada diskriminasi dan selalu membanggakan suku dan ras rasanya sulit untuk gak terjadi sikut menyikut...
ntah kenapa ornag indonesia itu identik aja jawa...padahal kan gak cuma jawa masih banyak suku2 yang lainnya..dan gue liat juga terlalu membanggakan ke sukuan atau kedaerahan..harusnya pemerintah menghapus praktek2 kaya gitu...udah gak zaman lagi diskriminasi atas SARA...
Indonesia satu tapi selama masih ada diskriminasi SARA yah indonesia bakal terpecah belah...

cha_n
05-11-2012, 10:34 AM
betoool
hari gini gitu kan... aku pas awal merit pernah tanya suami, komentar orang2 soal suku lain terutama sumatra gimana, apalagi nikah ama aku. intinya sih emang masih aja ada yang mencap kalau orang sumatra blablabla orang sunda blablabla orang kalimantan blablabla...
bahkan kalau ga sama sukunya ga boleh nikah. berteman dari suku tertentu harus hati2.

satu dua orang ga terasa, kalau bentuknya koloni2 kaya di lampung ya bakal rentan terjadi gesekan

opi77
05-11-2012, 10:39 AM
^
Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
Majusi mah nama agama Persia.
Thanks atas koreksiannya....

ga_genah
05-11-2012, 06:04 PM
ayo kita mulai dari sini untuk menghilangkan istilah "pendatang"
istilah "perantauan" sepertinya lebih kena

dulu istilah "pendatang" saya kira hanya ada di negeri entah berantah di sana
soalnya sebelum saya pergi ke negeri entah berantah itu, saya ga pernah mendengar istilah "pendatang"
tp ternyata, di jaman reformasi ini, istilah "pendatang" lebih subur berkembang
termasuk di tempat saya menulis massage ini

BundaNa
06-11-2012, 12:28 PM
^di Bali suruh hilangkan KIPEM, minta surat pindah dan jadi penduduk tetap Bali...yakin itu penguasa Bali mau?::hihi::

opi77
06-11-2012, 02:01 PM
setuju gue ama pendapatnya ga_genah....
dulu perasaan istilah pendatang hanya gue denger di negeri seberang...masa di negeri sendiri masih pake istilah pendatang juga...

opi77
08-11-2012, 09:41 PM
Kemaren dilampun selatan...sekarang dilampung tengah...
What happen di lampung??

Lampung, - Massa dari warga Kampung Buyut, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, berhasil lepas dari hadangan polisi dan petugas keamanan, Kamis (8/11/2012). Massa pun merusak dan membakar rumah di Kampung Kusumadadi, Kecamatan Bekri. Sedikitnya belasan rumah dibakar.

Penyerangan warga Kampung Bunyut ke Kampung Kusumadadi ini dipicu tewasnya seorang warga Kampung Buyut, Kahiril Anwar (29), yang diduga mencuri sapi dan tewas dihakimi oleh warga Kusumadadi, 18 Oktober lalu.

Petugas keamanan dari Polres Lampung Tengah, dibantu TNI, dan Satpol PP, sudah menghalau massa. Namun, massa berhasil masuk ke Kampung Kusumadadi dan melakukan perusakan.

Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengatakan petugas kepolisian, dibantu TNI dan Satpol PP sudah melakukan penjagaan untuk menghalau massa. Polisi juga mengerahkan water canon untuk membubarkan massa.

Menurutnya, ada beberapa rumah yang dibakar tapi tidak ada korban jiwa dalam kerusuhan.
Source: detik.com

ga_genah
09-11-2012, 07:34 PM
^di Bali suruh hilangkan KIPEM, minta surat pindah dan jadi penduduk tetap Bali...yakin itu penguasa Bali mau?::hihi::

kemarin pas lewat jalan yg sedang periksa KIPEM
mukanya disenter kayak penjahat... ::doh::

BundaNa
10-11-2012, 09:42 AM
^::ngakak2::::ngakak2::

malem2 ya pemeriksaannya, jaman gwe dulu kalo di kontrakan petakan gitu pagi2 digedor sama pecalang pemeriksaan kipem...ngomongnya gak ada baik2nya, duh gwe berasa mau diseret ke penjara aja, padahal gwe sama suami rutin memperbarui kipem -_-

Itu juga salah satu indikasi antara penduduk asli dengan perantau jadi agak terganggu...perantau disatroni kayak penjahat, membuat perantau jadi parno sama penduduk asli

ga_genah
10-11-2012, 11:57 AM
yo'i malam2 meriksanya :mrgreen: , kalo pagi2... ::doh::

sebenarnya fungsi penjaga keamanan kayak pecalang itu bagus
kadang oleh penduduk mereka lebih diseganin daripada polisi
fungsi kamtibmasnya lebih jalan
tp ya kadang ada yg sangat berlebihan...

opi77
10-11-2012, 11:17 PM
sama lah kaya Satpol PP....
sayang pada arogan semua..udah lebihin polisi..

kandalf
12-11-2012, 08:45 AM
Saya gak keberatan diperiksa ama pecalang. Walau belum mengalami, eh.. pernah sekali sih waktu di jalan.
Menurutku, mereka hanya menjalankan tugas demi kebaikan kampung mereka.