PDA

View Full Version : ternyata FPI yg pemberani itu bisa dikalahkan oleh........................... ibu-ibu



Ray Surya
10-07-2012, 03:12 AM
[MARELAN] Masyarakat yang tinggal di Titi Pahlawan, Gang Pringgan Lingkungan VIII, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Sumatera Utara (Sumut), merasa belum puas meski telah merusak mobil Panther BK 54 GT milik Ketua Dewan Pimpinan Darah Front Pembela Islam (DPD - FPI) Sumut, H Darma Bakti Ginting.

"Tindakan yang dilakukan oleh ibu - ibu di sini itu merupakan spontanitas dan sebagai wujud kepedulian dalam membela orang susah. Ini juga peringatan buat dia agar tidak lagi berbuat semena - mena terhadap orang kecil. Bila polisi tidak datang maka dia pun dihajar," ujar seorang warga di Marelan, Evi kepada SP di Marelan, Selasa (5/4).

Evi mengatakan, masyarakat mengamuk karena Darma Bakti Ginting dengan membawa seluruh anak buahnya menghancurkan rumah yang dihuni oleh Nurhayati boru Ginting. Bahkan, pemilik rumah dipaksa untuk meninggalkan rumah tersebut. Padahal, di rumah itu ada bayi yang baru berusia dua minggu.

"Seperti tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Mentang - mentang ketua organisasi masyarakat, dia seenaknya dengan membawa anak buah mengendarai sepedamotor dan dilengkapi senjata, merubuhkan rumah Nurhayati. Bahkan, anak bersama istrinya juga ikut - ikutan mengusir Nurhayati," katanya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Medan Labuhan, AKP Oktavianus mengatakan, kendaraan milik ketua ormas tersebut sudah diamankan. Polisi mengamankan mobil itu dari lokasi kejadian agar peristiwa itu tidak merembet.

"Kita langsung turun begitu mendengar kejadian tersebut. Sampai saat ini, situasi di tempat kejadian sudah berangsur tenang. Mudah - mudahan, kejadian seperti ini tidak terulang. Lebih baik pihak yang dirugikan menyelesaikan permasalahan ini lewat jalur hukum," sebutnya.

Puluhan ibu dan anak-anak di Marelan mengamuk dengan merusak mobil Ketua DPD FPI. Tindakan ini dilakukan mereka karena tidak senang melihat oknum ketua ormas tersebut. Mereka marah karena ketua ormas itu membawa anak buahnya merubuhkan rumah saklah seorang warga di sana.

Padahal Nurhayati, salah seorang warga yang rumahnya dirubuhkan tersebut, menyampaikan, dirinya sudah meminta tolong kepada oknum tersebut untuk tidak merubuhkan tempat tinggalnya. "Saya sudah mempertanyakan kenapa rumah itu dirubuhkan. Sebaliknya mereka itu semakin bertambah berang. Bahkan, anak saya juga turut menjadi korban dari prilakunya. Ini yang membuat ibu - ibu di sini marah," sebutnya.

http://www.suarapembaruan.com/home/mobil-ketua-fpi-sumut-dirusak-massa/5281

--------------
jadi kapan nich dibikin ormas Front Ibu2 Pembela (FIP) di berbagai kota? :D

Ronggolawe
10-07-2012, 03:52 AM
http://www.fpi.or.id/index.php?p=detail&nid=416


Meluruskan Berita Sepihak Terkait Kasus Medan
JUM'AT, 08 APRIL 2011 | 07:20 WIB


Pada hari Senin 04/04/2011, harian online Pos Metro mengangkat berita berjudul “Massa FPI Bentrok dengan Omak-omak”. Pemberitaan ini terkait pengosongan lahan di Lorong Kenari, Gang Pringgan, Lingkungan VIII, Kel. Paya Pasir, Kec. Medan Marelan. Dari sumber sepihak, PM Selasa (5/4), memberitakan peristiwa tersebut sangat over-reacting dan mengada ada. Berita ini kemudian beredar dan diangkat sedemikian rupa hingga menyudutkan FPI dan membuat preseden buruk bagi organisasi FPI secara umum.

Menurut pemberitaan yang diangkat media online Pos Metro (5/4), H. Dharma menurunkan kadernya ke lokasi untuk membongkar paksa serta mengeluarkan barang - barang milik keluarga Antoni.

Lanjut berita, Dharma dan puluhan anggotanya yang masih mengenakan atribut FPI mengeluarkan barang - barang mereka secara paksa. Bukan itu saja, istri Antoni yang baru melahirkan 3 hari pun turut dipaksa keluar rumah menggendong bayinya yang masih merah. “Kejam kali dia, istri saya baru melahirkan, mereka datang langsung mengeluarkan barang - barang kami, memang ini tanah dia, tapi kami dibuatnya seperti binatang”.

Minggu (3/4) sekitar pukul 11.00 WIB, dengan mengendarai Isuzu Panther dan membawa linggis dan parang, Darma bersama anak buahnya kembali datang ke lokasi. Setiba di sana, mereka langsung merusak rumah yang dibangun Antoni dan istrinya itu. Melihat aksi brutal itu, puluhan warga sekitar mengamuk dan menghalangi Darma dan anak buahnya.

Begitulah cuplikan sebagian berita sepihak yang tiba-tiba diangkat oleh media online Pos Metro pada hari Senin 04/4/20011, tanpa mengkonfirmasi terlebih dulu kepada pihak FPI hingga memperkeruh suasana, seolah FPI menggunakan kekuatan organisasi untuk mendholimi orang lain dan menimbulkan kekacauan. Padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Meskipun Pos Metro kemudian menerbitkan berita bantahan dari FPI, namun tidak dapat menutupi akibat buruk yang telah ditimbulkan dari pemberitaan sebelumnya.

Terkait peristiwa tersebut, redaksi fpi.or.id mencoba menghubungi H. Dharma Bhakti Ginting untuk meminta keterangan dalam peristiwa itu sekaligus meluruskan pemberitaan yang dapat merugikan pihak lain.

Pada awalnya, H. Dharma Bhakti Ginting yang secara kebetulan adalah Ketua FPI Sumut, selaku pemilik tanah meminta Antoni dan keluarganya pindah dari rumah yang telah mereka tempati selama 12 tahun. Namun permintaan H. Dharma tak diindahkan oleh keluarga Antoni.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, H. Dharma menuturkan, ia tidak membawa nama FPI maupun menggunakan atribut FPI dalam peristiwa tersebut. Lahan yang dikosongkan adalah miliknya pribadi. Pengosongan lahan yang di atasnya berdiri bangunan rumah itu ia lakukan atas dasar bahwa lahan itu adalah miliknya yang sejak 12 tahun lalu diberikan hak pakai pada Antoni dan keluarganya tanpa ada uang pungutan sewa. Bahkan sebelum peristiwa pengosongan terjadi, H. Dharma Bhakti sudah memberitahukan kepada penyewa, namun mereka menolak untuk pindah.

“Masalah mengeluarkan barang-barang dari tiga rumah, rumah itu milik saya pribadi, sudah 12 tahun mereka menempati. Tidak pernah dikutip sewa dari hasil kebun saya dan tidak pernah saya minta. Sepuluh hari yang lalu, saya memberitahu supaya rumah tersebut dikosongkan. Antoni yang menempati rumah tersebut sudah melapor ke polisi namun ditolak karena tidak ada dasar surat perjanjian. Saya usir karena saya lihat mereka sudah ada keinginan memiliki, jadi anak-anak saya menuntut supaya rumah tersebut dikosongkan”, ujarnya.

“Saya tidak ada bawa nama FPI, ataupun pakai atribut FPI. Saya hanya mau menduduki tanah dan rumah milik saya. Jadi saya sekarang ke Polsek untuk melaporkan mobil saya hancur dan 4 anak buah saya yang jadi korban. Mereka sudah saya ambil visum dan sudah dibuatkan laporan di Polsek”, tegasnya lagi.

Lebih lanjut, ia menduga dari pihak penyewa (Antoni) dimanfaatkan oleh sejumlah LSM yang menggunakan media dan memprovokasi massa agar menyerang Ketua FPI Sumut saat hendak mengambil alih haknya.

Hal itu kemudian menyebabkan H. Dharma dan anggotanya saat tiba di lokasi berbenturan dengan warga. Namun H. Dharma Bhakti dan anggotanya tak melakukan perlawanan atas pemukulan keluarga dan beberapa warga terhadap mereka, karena mereka memahami bahwa kejadian tersebut bukan merupakan aksi Organisasi FPI dan bukan merupakan perlawanan yang seharusnya dilakukan terhadap masyarakat. Sehingga Darma Bhakti, keluarganya, dan 4 anggotanya mengalami cedera akibat menahan pukulan warga dan mobilnya hancur dirusak massa yang sudah diprovokasi oleh adik sepupunya sendiri.

Insiden di lokasi lahan itu bukan merupakan aksi ataupun kegiatan organisasi FPI Sumut secara terorganisir. Keterlibatan organisasi FPI tanpa atribut, hanya karena diminta oleh H. Dharma Bhakti yang secara kebetulan adalah Ketua DPD FPI Sumut.

Jika ada kelompok masyarakat dan kelompok organisasi yang mengaitkan insiden tersebut dengan kelembagaan FPI Sumut, maka DPD FPI Sumut sangat menyesalkan tindakan mengadu domba FPI dengan kelompok lainnya, yang bisa mengakibatkan konflik sesama organisasi dan umat Islam pada umumnya.

Demikian hasil rangkuman redaksi fpi.or.id, diharapkan dengan pemaparan ini masyarakat dapat menilai peristiwa ini dengan jernih hingga dapat memilah mana berita yang benar pada tempatnya dan mana yang hanya berisi provokasi sepihak untuk menyudutkan pihak tertentu. Semoga peristiwa di atas dapat diselesaikan secara persaudaraan dengan baik bagi kedua pihak tanpa memperpanjang masalah.
___________________________

KLARIFIKASI RESMI DPD-FPI SUMATRA UTARA TERKAIT PENGOSONGAN LAHAN DI MARELAN

Nomor : 17/SM/DPD/FPI/Jumadil Ula/1432 H

Lamp. : -

Hal : Klarifikasi Pemberitaan Media atas Pengosongan Lahan Di Marelan Berakhir Bentrok melibatkan FPI

Assalamu’alaikum Wr. Wb

1. Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.

2. Bahwa Sehubungan dengan pemberitaan Surat Kabar terbitan Kota Medan dan Media Elektronik terakhir ini tentang ”Pengosongan Lahan di Marelan Berakhir Bentrok yang melibatkan Puluhan Anggota FPI Sumut dibawah Pimpinan DPD FPI Sumut”
3. Bahwa Berkaitan dengan pemberitaan tesebut DPD FPI Sumut membantah keras terhadap isi pemberitaan tersebut di berbagai media massa terbitan Kota Medan terakhir ini dengan pernyataan sebagai berikut :

a. Bahwa Tragedi pengosongan Lahan di Lorong Kenari, Gg. Pringgan, Lingkungan VIII, Kel. Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan bukanlah merupakan aksi ataupun kegiatan organisasi FPI Sumut.
b. Bahwa Pengosongan lahan dilokasi tersebut diatas adalah milik Bapak H. Darma Bakti Ginting yang secara kebetulan adalah Ketua DPD FPI Sumut. Menurut keterangan Bapak H. Darma Bakti Ginting dihadapan pengurus FPI Sumut, Pengosongan lahan yang diatasnya berdiri bangunan rumah itu dilakukan Bapak H. Darma Bakti Ginting karena, lahan tersebut merupakan miliknya sendiri yang sejak 14 tahun lalu di berikan hak pakai tanpa ada pungutan sewa, bahkan diberikan fasilitas kebun tanaman pohon pinang yang hasilnya bisa membantu keperluan hidupnya dan ditambah lagi biaya hidup buat keluarganya setiap bulannya. Atas keinginan seluruh keluarga Bapak H. Darma Bakti Ginting agar seluruh hartanya bisa di jual dan bisa dibagi sesuai dengan hukum waris selagi usianya masih hidup, maka jauh sebelum lahan tersebut dikosongkan, mereka sudah menyampaikan hal ini dan meminta agar adik sepupunya bisa mengosongkannya segera.
Tetapi menurut Bapak H. Darma Bakti Ginting, adik sepupunya bertahan tidak mau pindah dan memeras mereka dan keluarganya untuk minta 100 juta agar mereka bisa pindah. Selanjutnya pengosongan lahan teresbut secara kebetulan saja Bapak H. Darma Bakti Ginting meminta bantuan kepada anggota laskar FPI yang tidak memakai atribut organisasi, agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan dan anggotanya mudah dikendalikan langsung oleh Bapak H. Darma Bakti Ginting. Selanjutnya situasi dilapangan berubah karena adik sepupu Bapak H.Darma Bakti Ginting ketika sebelum kedatangan Bapak H. Darma Bakti Ginting beserta anggota FPI, mereka sudah meminta bantuan warga sekitar lahan tersebut dan menyampaikan informasi bahwa Bapak H. Darma Bakti sebagai Ketua FPI dan Laskar FPI akan menyerang mereka dan membongkar paksa rumah dan lahan yang mereka tempati dengan cara aksi FPI. Dengan demikian karena sudah dikondisikan dengan melibatkan warga terjadi benturan antara Bapak H. Darma Bakti Ginting dan anggotanya di lokasi lahan. Namun Bapak H. Darma Bakti Ginting beserta anggotanya tidak melakukan perlawanan atas pemukulan keluarga dan beberapa warga terhadap mereka karena mereka memahami bahwa kejadian tersebut bukan merupakan aksi FPI yang harus melakukan perlawanan dan bukan merupakan perlawanan yang seharusnya akan dilakukan dengan masyarakat, sehingga Bapak H. Darma Bakti Ginting, keluarganya, anggota FPI cedera akibat menahan pukulan warga dan mobil milik Bapak H. Darma Bakti Ginting di rusak oleh massa yang sudah mendapatkan provokasi dari adik sepupunya sendiri.

4. Oleh karenanya DPD FPI Sumut menyampaikan klarifikasi terhadap insiden di lokasi Lahan di Lorong Kenari, Gg. Pringgan, Lingkungan VIII, Kel. Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan adalah :

a. Bukan merupakan aksi ataupun kegiatan organisasi FPI Sumut secara terorganisir.
b. Keterlibatan Anggota FPI tanpa atribut organisasi hanya secara kebetulan diminta oleh Bapak H. Darma Bakti Ginting secara pribadi bukan atas nama organisasi yang juga secara kebetulan adalah Ketua FPI Sumut untuk membantunya dan keluarganya membongkar rumah dan memagar lahan miliknya sendiri.
5. Bahwa Kepada pihak-pihak lain baik itu masyarakat ataupun kelompok organisasi agar tidak mencampuri urusan internal keluarga Bapak H. Darma Bakti Ginting dengan keluarganya sendiri dan terlebih lagi mengkaitkan dengan organisasi FPI Sumut yang secara kebetulan beliau adalah Ketua DPD FPI Sumut.

6. Jika ada kelompok masyarakat dan kelompok organisasi yang mengkaitkan insiden tersebut dengan kelembagaan FPI Sumut, maka pengurus DPD FPI Sumut dengan sangat menyesalkan atas tindakan yang mengadu domba FPI dengan kelompok lainnya yang bisa mengakibatkan konflik sesama organisasi dan ummat Islam secara umum.

7. Demikian hal ini kami sampaikan, atas atensi yang diberikan kami ucapkan terima kasih.


Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Medan, 1 Jumadil Awal 1432 H/ 4 April 2011

Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela Islam

Sumatera Utara


Ustadz Abdul Muthalib Daulay, MA Ustadz Muhammad Iqbal AW, SE

Wakil Ketua Bidang Amar Makruf Sekretaris Daerah



Ustadz Abu Fajar Ustadz Juaini Bahruddin, MA

Ketua Majelis Syura Sekretaris Majelis Syura


Tembusan :

1. DPP FPI di Jakarta ;

2. Pertinggal.

[slm/fpi]

AKTUALITA???

BundaNa
10-07-2012, 11:04 AM
kenapa setelah 12 taun ngasih hak pakai, tiba2 mengusir? link dunk....siapa tau sebelum2nya ada insiden gitu...

kenapa pas ngusir bawa2 anak buahnya di FPI...ya akibatnya yang kena ganyang FPI lagi. Susah sih, kalau pengurus bertindak ya dianggap atas nama organisasi

nodivine
10-07-2012, 11:12 AM
lagi lagi.. ormas itu lagi.. ::doh::

Ronggolawe
10-07-2012, 11:42 AM
kenapa setelah 12 taun ngasih hak pakai, tiba2 mengusir? link dunk....siapa tau sebelum2nya ada insiden gitu...

namanya juga saudara, Bund... ewuh pakewuh


b. Bahwa Pengosongan lahan dilokasi tersebut diatas adalah milik Bapak H. Darma Bakti Ginting yang secara kebetulan adalah Ketua DPD FPI Sumut. Menurut keterangan Bapak H. Darma Bakti Ginting dihadapan pengurus FPI Sumut, Pengosongan lahan yang diatasnya berdiri bangunan rumah itu dilakukan Bapak H. Darma Bakti Ginting karena, lahan tersebut merupakan miliknya sendiri yang sejak 14 tahun lalu di berikan hak pakai tanpa ada pungutan sewa, bahkan diberikan fasilitas kebun tanaman pohon pinang yang hasilnya bisa membantu keperluan hidupnya dan ditambah lagi biaya hidup buat keluarganya setiap bulannya. Atas keinginan seluruh keluarga Bapak H. Darma Bakti Ginting agar seluruh hartanya bisa di jual dan bisa dibagi sesuai dengan hukum waris selagi usianya masih hidup, maka jauh sebelum lahan tersebut dikosongkan, mereka sudah menyampaikan hal ini dan meminta agar adik sepupunya bisa mengosongkannya segera.

BundaNa
10-07-2012, 11:43 AM
aiyah...masalah keluarga toooooo

Ronggolawe
10-07-2012, 11:56 AM
aiyah...masalah keluarga toooooo
jadi ingat kasus di rumah di Depok

::maap::::maap::::maap::::maap::::maap::::maap:::: maap::


kabooooooooorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

BundaNa
10-07-2012, 11:58 AM
*geplak Ronggo...itu urusan warisan, ini urusan hak milik, lain -_-

spears
10-07-2012, 12:08 PM
oohh jadi seperti itu duduk permasalahannya.

artinya nih orang berhak dong ngambil kembali rumahnya...

Ronggolawe
10-07-2012, 12:11 PM
makanya, entah apa maksud TS mengutip cerita
JADUL (April 2011) ini di AKTUALITA, gw coba mem
berikan cover both side saja, dengan mem
berikan artikel klarifikasi dari FPI :)

fullmoonflower
10-07-2012, 10:28 PM
oohh jadi seperti itu duduk permasalahannya.

artinya nih orang berhak dong ngambil kembali rumahnya...


berhak sih berhak... tapi caranya kan bisa lebih elegan....

Einhalt Stratos
10-07-2012, 10:56 PM
berhak sih berhak... tapi caranya kan bisa lebih elegan....

Kebakar emosi + provokasi = anarkis

Apalagi emang sudah ada modal anarkis ormas nya.. >_>

Kingform
10-07-2012, 11:07 PM
ternyata beritanya udah ga aktual :ngopi: