PDA

View Full Version : Diary Review Buku - BundaNa



BundaNa
01-07-2012, 05:22 PM
Hai hai...ini thread khusus gwe buat mengasah tulisan2 mereview buku2 yah, eh yang lain boleh kog ikutan mereview buku2nya::hihi:: Yaaaa barista, saya numpang titip belajar nulis review yaaaa::oops::

http://lubislawcenter.com/wp-content/uploads/2012/06/yang-kedua_325x480-203x300.jpg

Judul buku : Yang Kedua

Penulis: Riawani Elyta

Penerbit: Bukune

Jumlah Halaman: 250

ISBN: 602-220-040-7

Tahun Penerbitan: 2012


Summary:

Kisah ruwet antara Dave-Viena-Haris. Yang harus menyelesaikan urusan cinta dan hidup masing-masing. Viena harus merasakan sesaknya bahwa tidak ada satu pun laki-laki yang bakal menerima kekurangannya, kecuali Haris. Tetapi itu sebelum Dave datang dalam hidup mereka.


Comment:

Romansa abis! Riawani menyajikan kisah ini penuh dengan hal-hal yang melangkolis, mendayu dan sarat emosi, kalau gak usil dibilang lebay. Pembaca pasti pengen banget ngegeplak Haris sekencang-kencangnya ketika membayangkan sikap tengil laki-laki itu. Atau gemas terhadap sikap Viena yang tidak pernah berani keluar dari zona amannya. Serta membayangkan dengan berbunga-bunga, andai gwe ketiban cinta si Dave::hihi::

Buat yang gak ngefans dengan cerita-cerita romans, ini bukan buku yang direkomendasikan untuk dibaca, karena bakalan gemas dengan sikap Viena yang "bodoh", mau saja ditindas habis-habisan oleh laki-laki yang entah dicintainya atau tidak, hanya demi pernikahan mereka yang sudah terlanjur terjadi. Atau sikap Dave yang merasa Viena itu patut dicintai, kayak gak ada perempuan lain aja?

Tetapi buat penyuka kisah-kisah manis, bagian-bagian dari cerita di buku ini yang didramatisasikan dengan sedikit berlebihan, pasti akan tergila-gila dengan tokoh Dave. Laki-laki yang diam-diam setia mencintai Viena meski tahu sulit untuk menggapainya.

Untuk alurnya, plotnya yang maju memang memudahkan pembaca untuk meresapi bagian demi bagian cerita tanpa perlu repot-repot membalik-balikkan halaman sebelumnya gara-gara ada penggalan kisah yang mendadak muncul, misalnya. Runut dan gaya bertutur yang mudah dicerna memang menjadi bagian dari cerita ini. Narasi dan deskripsinya memang bagus dan membuat pembacanya bisa bebas melanglangbuana mengimajinasikan jalan cerita dan para tokohnya. Happy ending, seperti pada sebagian besar karya novel romans. Semua bahagia, kecuali si tengil yang pada akhirnya selalu terpuruk.

Buat saya, begitu membaca bagian pertama buku ni, sudah langsung ketebak, gimana jalan ceritanya, juga bakal seperti apa endingnya. jadi jangan protes kalau merasa tidak terpacu adrenalisnya ketika baca buku ini. Karena memang cerita ini bukan bertutur untuk menampilkan kejutan-kejutan, tetapi bercerita tentang kekuatan cinta dan hati. Juga untuk menyampaikan bahwa yang jahat pasti kena ganjarannya> bahwa kalau kuat, kau akan keluar dari segala permasalahan yang membelitmu.

Seperti Cinderella, seperti itulah hidup Viena sesungguhnya. Seperti keajaiban dan tertakdirkan, begitulah hubungan Viena dan Dave sebenarnya. Seperti keledai terperosok, seperti itulah mestinya Haris harus berakhir. Gampang ditebak tetapi ingin terus dibaca demi memenuhi harapan-harapan tersebut.

Seperti mengulang-ulang buku sejenis, kisah ini menyampaikan bahwa cinta tidak memandang fisik dan rupa, tetapi melihat hati. Kecantikan bukan dari lahiriah, tetapi dari hati. bahwa semua bsia dilalui, atas nama cinta.

Ide ceritanya sangat sederhana, tetapi justru itu selling pointnya. Rata-rata pembaca menyukai cerita dengan tema seperti ini, untuk cinta apapun bisa dilalui. Kemanisan dan ending kisah ini adalah untuk memenuhi semua harapan itu.

Buku ini sudah terlalu gamblang, sama sekali tidak ada kejutan. Ketika Viena kembali mengalami pendarahan, saya berharap itu keajaiban bahwa kekurangannya itu akan terselamatkan. Tetapi harapan akan kejutan itu tidak ada. Jadi laki-laki romantis macam Dave adalah pemecahan buat hidup Viena, yang menjadi tokoh perempuan yang sempurna, baik dan gampang ditindas.

Meski pada akhirnya Viena bisa berdikari, toh kenyataan awalnya selalu berada dibawah tekanan Haris sampai laki-laki itu sendiri yang pergi, bukan Viena yang mau keluar dari zona ketertindasannya. Kejutan? Sekali lagi, jangan pernah mengharapkan dari buku ini. Kisah cinta yang manis tapi indah? Buku ini saya rekomendasikan untuk kalian ;)

BundaNa
06-07-2012, 09:02 PM
http://andrea-hirata.com/wp-content/uploads/2010/07/cover-padang-bulan.jpg

Judul buku : Padang Bulan

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah Halaman: 350

ISBN: 978-602-8811-30-9

Tahun Penerbitan: 2011

Review
Masih tentang Ikal dan cinta sejatinya A Ling. Diselingi kisah jatuh bangun seorang Inong yang bercita-cita tinggi dan suka dengan Bahasa Inggris. Kali ini bercerita tentang Ikal pasca sarjana

Comment
Untuk penggemar novel pop seperti saya, PADANG BULAN adalah Dewa. Secara wajar, Andrea Hirata menceritakan serangkaian kisah dengan indah. Mungkin benar, bahwa orang Melayu dilahirkan untuk menjadi sastrawan.

Buku ini menceritakan kegetiran hidup dengan baik tanpa harus lebay dan norak. Satire dan menertawakan diri sendiri. Mana ada orang yang berani mengaku sebagai orang gila nomor 32, kalau bukan seorang Ikal?

Hampir tidak ada cacat dalam buku ini, almost perfect! Lalu dimana kekurangannya? Secara umum, tidak ada! Hanya untuk orang malasa dengan sastra seperti saya, membaca buku ini seperti dipaksa untuk membacanya sampai tuntas, dari awal sampai akhir cerita tanpa melompati halaman satu dengan yang lain, dan tidak boleh tertinggal satu detail pun. kalau tidak, maka akan ada something missing pada puzzle cerita ini.

Kalaupun tidak, untuk orag yang lahir dengan budaya pop. bahasa yang terttuang pada kisah ini bukanlah rangkaian kata-kata yang seketika mudah dicerna. Mungkin bisa disimak dan dibaca kemudian terpesona oleh keindahan bahasa melayu milik orang Bitong. Tetapi tidak mudah untuk dipahami. Butuh rasa yang mendalam dan membacanya berulang-ulang, dengan penasaran, untuk benar-benar menuntaskan buku ini.

PADANG BULAN menguatkan sikap, bahwa untuk cinta, apapun bisa terjadi. Seperti Ikal yang gelar sarjananya sudah didapat, mau saja menjadi pelayan warung kopi, demi cintanya pada A Ling. Dan juga kita dibuat terpana oleh kegigihan Inong. Anak perempuan yang terengut cita-citanya dan kesukaannya akan bahasa inggris, setelah ayahnya tewas mengenaskan di tambang timah. Dia harus jatuh bangun demi menghidupi ibu dan adik-adiknya. tetapi cita-citanya dan kesukaannya tidak pernah surut. Suka Bahasa Inggris dan ingin jadi guru Bahasa Inggris. Ada juga M Nuh yang menggelari diri sebagai detektif terbaik di kampungnya. Dia juga orang kepercayaan dan sahabat yang baik yang dimiliki Ikal. Meski digelari Ikal sebagai orang gila nomor 31, dia adalah penasehat yang baik untuk sahabatnya itu.

Semua tokoh dalam cerita ini menginspirasi pembacanya untuk selalu bersikap optimis, meski hidup yang kita lalui sungguh berat. Juga cerita tentang toleransi dari sebuah keberagaman etnis dan agama di Belitong sana. Diramu dengan sederhana tetapi mengena di hati pembacanya, yang tanpa perlu mengernyitkan dahi demi kata-kata toleransi itu. Buku ini bertutur dengan sederhana dan membuat kita yang membacanya menganggap bahwa toleransi itu sudah seharusnya ada, bukan slogan.

Buku ini komplit. Menertawakan sesuatu tanpa harus menghina. Menuturkan kejadian-kejadiaan monumental tanpa harus jadi keji, kejam, menyedihkan atau helpfull. Selalua da keoptimisan, meski tetap diselingi kegetiran. Tetapi tetap ada joke-joke segar dan sarat makna.

Ada satu dialog dari Ibu Ikal ketika lagi-lagi putranya yang sarjana itu batal berangkat cari kerja ke Jakarta. Ringan, tetapi sesungguhnya penuh gugatan.

Ada di halaman 175
"Kutaksir, ijazah-ijazahmu ini palsu, Bujang."

Betapa dalamnya. Seorang ibu yang lagi-lagi kecewa karena putra kebanggaannya tidak segera memenuhi impian besarnya. Terdengat sederhana, tetapi sesungguhnya cita-cita yang besar untuk ibu. Menjadi pegawai pemerentah, pakai baju dinas dengan banyak lambang di pundaknya, dapat pengsiun. (halaman 133)

Dan buku ini lebih dari sekedar layak dibaca, karena lewat PADANG BULAN (sebagai bagian dari dwilogi PADANG BULAN - CINTA di DALAM GELAS), kita akan menemukan banyak tokoh dan kisah inspiratif.

Hanya saja, saya sekali lagi penasaran, dimanakah kini A Ling?

---------- Post Merged at 07:02 PM ----------

http://2.bp.blogspot.com/-EH9sMtghCT0/T7XjEXYjWvI/AAAAAAAAAFg/Hx_keDn5ZSA/s1600/orang-ketiga.jpg

Judul buku : Orang Ketiga

Penulis: Yuditha Hardini

Penerbit: Gagas Media

Jumlah Halaman: 246

ISBN: 797-780-394-5

Tahun Penerbitan: 2010


Review
Anggi tidak pernah membayangkan dirinya harus terlibat sebuah hubungan yang rumit, menjadi orang ketiga. Tetapi dia tidak pernah bisa keluar dari pesona Angga. Ada 1000 alasan untuk membenarkannya

Comment
Yuditha menuturkan cerita ini dengan alur progressive, mengalir dengan natural sehingga sayang banget kalau tidak segera dituntaskan. Bukan untuk segera tahu endingnya, tetapi karena jalan ceritanya yang mudah dicerna dan mengalir dengan enak. Meskipun bukan tipe buku yang akan dibaca berulang-ulang, karena menurut saya romansanya belum nendang abis sampe penasaran dan layak untuk diulang-ulang. Juga endingnya yang, jujur saja, gampang ditebak. Yaitu happy ending untuk si tokoh utama. Pepatah 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian' benar-benar mengena di buku ini. Tokoh utamanya boleh saja sepanjang jalan cerita jatuh bangun dalam rangka mencari cinta sejatinya, tetapi pada akhirnya toh bahagia. Happy, ever after.

Sebenarnya, ceritanya kurang greget. Saya sama sekali tidak gregetan dengan sikap Anggi yang piln-plan dan bimbang dalam menghadapi pesona Angga. Dan secara terang-terangan Yudith sebenarnya sudah "menanamkan" bahwa true love-nya Anggi bukan Angga, jadi ya itu, kurang greget. Juga kurang seru untuk cerita yang sedang mendeskripsikan pergolakan seorang yang sedang terlibat affair. Ada banyak sisi yang kurang tergali dari cerita ini. Bagaimana mereka musti kucing-kucingan dan backstreet dari seisi kantor dan terutama Ratri, sebagai cewek Angga yang "sah".

Sesepi apa sih kantor Alvee saat jam sembilan malam sehingga Anggi dan Angga leluasa berduaan di kantor? Masak satpam cuma sebiji orang sampai Angga bisa menyiapkan candle light dinner di lobby kantor, dengan menu lengkap? Bahkan beberapa menit setelah Lena, teman satu divisi Anggi turun untuk pulang?

Juga Lena sebagai teman dekat Ratri yang sempat memergoki Angga berduaan di lobby dengan Anggi, kog reaksinya biasa-biasa saja? Kog tidak ada ledakan dari ratri tentang insiden itu?

Rudi yang mantan jungkies dan sudah bisa menata hidupnya kembali, yang sudah dengan gagah berani pergi ke Jogja untuk menemui orang tua Anggi pun, masak melempem tiba-tiba begitu dapat lampu hijau dari orang tua Anggi hanya demi "malu" dengan masa lalunya? Dimana kegigihan dia ketika bersusah-payah mendekati Anggi dan melewati segala ujian dari orang tua Anggi?

Bagaimana dengan Dimas Hariwijaya yang berpotensi "mengganggu" hati Anggi?

Buku ini lebih berpusat pada pergulatan batin Anggi plus celetukan-celetukan segar Kayla mengenai Anggi yang ditampilkan dengan realistis dan mematikan.

Bisa dimaklumi kalau banyak sisi yang belum tergali karena keterbatasan kuota buku dan untuk menjaga alur cerita agar tidak melebar kemana-mana.

"ORANG KETIKA" mengingatkan saya akan "KOG PUTUSIN GUE"-nya Ninit Yunita. Hanya saja Amaya di "KOG PUTUSIN GUE" sukses balas dendam tanpa perlu mencari pelampiasan, sedang Anggi kebalikan dari Amaya.

Overall, cerita ini tetap menarik untuk dibaca dan recommended, mungkin saja bisa menginspirasi mereka yang sedang mengalami hal yang sama dengan Anggi, untuk segera sadar dan bangkit dari ilusi. "Hey! Di luar sana masih banyak cowok baik-baik yang single dan layak kamu kejar!"

BundaNa
08-07-2012, 11:29 AM
http://trendygalih.com/wp-content/uploads/2011/07/2.jpg


Judul : 2

Penulis : Donny Dhirgantoro

Penerbit: Grasindo

ISBN: 978-979-081-562-9

Jumlah halaman : 415

Tahun terbit : 2011


Summary

Gusni hanya ingin bermain bulutangkis. Membuat orangtuanya senang dengan dirinya bermain bulutangkis. Tetapi dia memiliki kekurangan yang akan membuat cita-citanya itu seperti tak mungkin. Tetapi dia tidak pernah berniat untuk menyerah. Kekurangannya pun pada akhirnya bisa menjadi kelebihannya.

Comment
Ini cerita yang indah. Setelah sukses dengan 5CM, Donny pun memukau dengan 2. Pembaca dibuat larut Gusni dari lahir sampai dirinya dewasa. Donny menceritakan kisah ini dengan baik. Pembaca bisa akan terhanyut dengan rangkaian kata yang membuat diri kita merasa sangat mengeal dengan Gusni.

Memang ada kisah cinta, tetapi tidak lebih sebagai bumbu pelengkap yang membingkai cerita ini menjadi lebih indah. Bukan hal yang krusial tetapi tetap penting dalam rangkaian cerita. Poin yang sesungguhnya adalah perjuangan Gusni untuk melawan sakitnya. Untuk tetap hidup, untuk membuat orangtuanya senang.

Membaca buku ini, kita dikejar rasa penasaran sampai separuh buku, tetap tekun membaca buku ini untuk tahu, apa sih sesungguhnya sakit Gusni? Kenapa sampai tidak ada harapan? Sejujurnya, saya sempet sebel karena tidak juga segera tahu sakit yang diderita Gusni. Begitu tahu pada akhirnya, saya pun mengernyitkan kening, segitu aja? Kog penyakitnya nggak wah dan penuh dramatisasi?

Tetapi justru di sini lah keunikannya. Bahwa efek dramatisasi cerita bukan dengan sisi berlebihan. Cukup dengan isi cerita yang baik, sisi cerita yang sederhana tetapi penuh makna. Pembaca pun dibuat seolah-olah diajari cara bangkit dan penuh keoptimisan dalam menghadapi segala kekurangan dan kelebihan dalam hidup kita.

Cerita ini tidak mendayu-dayu meski sebenernya terasa kesuraman dan kesedihannya. Masih ada unsur jokes2 yang tidak membuat cerita ini jadi aneh. alurnya enak untuk disimak dan sayang untuk melompati halamannya. Meski agak terganggu juga dengan narasi-narasi yang panjang dan bisa dipangkas alias tidak terlalu perlu untuk ditampilkan. Sejujurnya, melelahkan membaca narasi demi narasinya karena banyak kalimat panjang.

Ending ceritanya, mewujudkan harapan pembacanya, happy ending meski tetap apa yang terjadi pada Gusni tidak begitu saja hilang sama sekali.

Ada quote2 cukup menarik di buku ini yang sangat inspiratif. Berulang-ulang selalu bilang tentang, "Berani mencintai dan mencintai dengan berani." Ya inti dari cerita ini adalah berani untuk mencintai hidup dan mencintai hidup dengan berani.

"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah." (ucapan Pak pleatih, halaman 124)

BundaNa
09-07-2012, 07:13 PM
http://www.munyie.com/picture/13603/1/ran.jpg

ini yang baca si kakak sih, Bundanya bantuin baca yang teks Inggrisnya....trus diulang sama si kakak

bukunya cukup komunikatif sih, teks bahasa inggrisnya juga cukup mudah membaca dan memberi pemahaman ke kakak, mengartikannya juga enak.

Ini tentang Julie dan sahabatnya Sophie serta anjing Julie, Boy, pergi ke taman hiburan. Ceritanya cukup jenaka dan mudah dicerna. Ketika kutanya ulang ke Naomi, dia bsia menjawab dengan detail isi ceritanya. Bagus juga kog buat anak2 usia 2 tahun, Nadhira cukup menikmati ketika kubacakan ini yang versi Indonesianya.

Thank's God sekarang perpusda buku2nya bervariasi

BundaNa
10-07-2012, 11:29 AM
http://anisamalina.files.wordpress.com/2011/04/let-go.jpg?w=392&h=572

Judul : Let Go

Penulis : Windhy Puspitadewi

Penerbit : Gagas Media

ISBN: 979-780-382-1

Jumlah Halaman : 244

Tahun : 2009


Summary:

Kisah tentang 4 siswa SMA yang "dipaksa" bersahabat oleh wali kelas mereka, Bu Ratna, dengan media majalah sekolah Veritas. Cakra yang suka sekali ikut campur urusan orang, berhati baik, brangasan, pintar sejarah dan paham banget musik dan film, tapi sama sekali ga bisa pelajaran2 sains dan selalu bertindak tanpa mikir dulu. Sarah yang pemalu tapi baik hati, tidak bisa berkata tidak dan gampang disetir orang. Nadya yang bisa segalanya, cewek super, tapi ternyata rapuh dan terlalu rasional. Nathan yang sinis, kasar, tetapi selalu mendorong orang untuk maju.

Comment:

recommended buat para alay yang galau gara2 diputus cinta, gebetan gak suka sama dia atau idolanya dibully::hihi::

-ngapling dulu-

BundaNa
31-07-2012, 12:31 PM
http://1.bp.blogspot.com/-ILH_llvgvJk/T27N81MTLMI/AAAAAAAAASE/b1e7GZBjLbw/s1600/Fly+to+the+sky.jpg

ini cerita unik, dua orang menulis satu story...memang tetap pake 2 side story, tapi tetep nyambung dan tidak kelihatan patahan cerita dari 2 karakter penulis yang biasanya cukup kentara. Hilman Hariwijaya (penulis serial Lupus yang legendaris) dan Zaza Zetirra Zr (penulis novel Jejak-Jejak Jejaka dan Mimi Elektrik, semua di era 80an) pernah memulainya pada novel yang berjudul "Rasta dan Bella". Tetapi Kalau novel jaman baheula itu bersettingkan remaja kaya di metropolitan, anak SMA jaman dahulu tahun 80an udah punya BMW, warna ungu pula::doh::

Sedang Flying To The Sky berlatar belakang orang2 pekerja dan karirnya relatif mapan cuma sial mulu untuk urusan percintaan.

Endingnya, ketika kita baca bab2 awal lumayan gak kebaca, secara ada dua tokoh cowok yang cukup mendominasi di hati Edyta. Yang Radyt the real favorite man in the world! Charming, senyumnya bikin meleleh. Sedang Ardian adalah tipe cowok prefeksionis mengidap Obsessive-Compulsive Disorde. Dan Edyta adalah cewek tipe sloopy dan diproteksi oleh seluruh keluarga dan sahabat.

Sederhana, tapi kompleks karena Edyta harus bertarung dengan banyak hal demi menemukan cinta sejatinya. Berwarna karena disuguhi oleh banyak istilah2 penerbangan dan perbankan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna.

Cuma sayang, ada beberapa redaksional yang agak mengganggu

Ardian sebelumnya biasa ke CandraKirana 5 kali sebulan sebelum ketemu Edyta dan setelah ketemu Edyta lebih sering, 5 kali sebulan...kalimat yang rancu? Bedanya apa untuk menggambarkan intensitas yang lebih sering?

Juga ketika terjadi pembajakan pesawat...kenapa di pikiran Ardian selalu STD? Bahwa pembajak itu jihadis? Kog menggiring opini yang mengarah ke segmen tertentu?

Overall, cerita cintanya cukup membuat yang baca seperti naik jetcoaster::hohoho::