PDA

View Full Version : Cerpen Gotong Royong: KISAH MR. PUSSY



BundaNa
06-03-2011, 12:14 PM
Aku, adalah kucing kampung yang bulunya berwarna putih. Tidak bertuan, karena sejak usiaku satu bulan, majikanku membuangku ke pasar. Mungkin dia tak mampu memberiku makan. Mungkin juga karena anaknya ada yang sakit bengek jadi musti dijauhkan dari bulu-buluku. Entahlah...aku tak tahu pasti

Yang jelas, aku sekarang hanya menggelandang. Sesekali ada sisa ikan yang bisa kumakan, sesekali hanya sampah yang harus kukais, bersaing dengan para pemulung itu.

Tapi...aku tidak meratapinya.

Karena ada banyak kejadian yang membuatku merasa bisa menikmati hidupku sebagai kucing tak bertuan. Dan banyak cerita itu, bisa kuceritakan di sini. Mungkin, kalian, para manusia, pernah mengalaminya?

*******

Anak itu, lagi-lagi duduk di depan toko roti "BU SAIDAH". Toko roti yang lumayan ngetop di kota Magic ini. Roti-roti buatannya terkenal lezat dengan harga terjangkau. Keluarga Wali Kota Magic pun merupakan langganan tetapnya.

Bukan, bukan toko itu yang ingin kuceritakan. Tetapi anak itu. Anak laki-laki berusia mungkin sekitar 8 tahun. Rambutnya panjang sebahu, acak-acakan, berwarna coklat karena sering terkena sinar matahari. Kulitnya coklat terbakar, dengan raut wajah yang menarik. Ganteng, tapi sayang tak terawat.

Siapa dia? Mengapa setiap pagi selalu duduk di depan toko roti itu? Dia bukan Mang Pardi, tukang parkir yang biasa mangkal di depan toko. Dia juga bukan Mak Imun, pengemis yang selalu minta jatah roti sisa kemarin. Dia juga tidak pernah membeli roti itu.

Siapa dia? Pencopet? Pencuri?

Ada sekitar setengah jam dia duduk di sana, kemudian berdiri dan meninggalkan toko itu.

Penasaran, kuikuti langkahnya.

KISAH I: ANAK YANG TAK DIAKUI

Anak itu terus berjalan, menyusuri gang-gang yang ada di belakang pasar. Di sana berjajar rumah-rumah kumuh dan semi permanen. Bedeng, orang biasa menyebutnya.

Dan si rambut panjang itu masuk ke dalam sebuah bedeng, tepat di ujung belokan.

"Rohim! Kamu dari mana?"

Teriakan dari dalam bedang itu membuatku terlonjak kaget. Tetapi tidak menyurutkan niatku untuk tetap masuk, mengikuti langkah anak itu.

"Ya, aku dari luar!"

Ternyata anak itu bernama Rohim. Menjawab sapaan yang tidak ramah tadi, yang berasal dari dalam bedeng, yang sudah kami masuki.

Dengan penasaran, kumasuki lagi ruangan bedeng dimana suara itu berasal.

Ada seorang perempuan, usianya mungkin berkisar 25 tahun. Wajahnya mirip dengan Rohim. Manis, sayang tidak terawat, sehingga kemanisan itu tersaput dengan kerasnya hatinya.

Alisnya berkerut menatapku.

"Rohim! Kamu bawa kucing ini, ya?!" seru perempuan itu sambil menendangku.

Aku kaget dan langsung mengeong.

Rohim langsung masuk dan menggapaiku lalu mengelus perutku yang terkena tendangan perempuan itu.

"Mak! Ini kucing nggak salah apa-apa kenapa ditendang?" tuntut Rohim kepada perempuan itu, ibunya.

"Kamu ini! Kita makan berdua saja sudah susah, kog masih saja mau pelihara Kucing!" tuduh si ibu kepada anaknya itu.

"Aku tidak ada niatan pelihara kucing, Mak!" sergah Rohim.

"Lah, itu Kucing siapa yang bawa kalau bukan kamu?" bantah maknya Rohim.

"Ikut sendiri kali, saking lapernya. Dikasih apa aja juga ini Kucing bakal tetep hidup," sanggah Rohim sambil menggendongku keluar.

Kemudian, aku pun tinggal sementara bersama Rohim dan emaknya. Emaknya Rohim, biar suka ngomel-ngomel karena kehadiranku, dia tetap mau merawatku. Memberiku makan dari sisa-sisa makanan mereka atau bahkan ikan-ikan asin yang terbuang di pasar. Bahkan aku diberikan kerdus bekas dengan dilapisi kain-kain lusuh sebagai tepat tidurku.

Sejauh ini aku tetap mengikuti Rohim yang setiap pagi selalu datang ke toko roti "BU SAIDAH", kemudian duduk di depan toko sampai setengah jam lamanya, dan kembali lagi ke bedengnya. Itu saja yang dikerjakan Rohim setiap harinya.

Sampai di hari ketiga aku bersamanya, emak Rohim marah besar kepada anaknya itu, saat kami baru saja pulang dari toko roti itu.

"Kamu ke toko itu?" tanya Emak.

Rohim mengangguk.

"Mau ngapain? Diguyur laki-laki itu baru tahu rasa!"

Laki-laki itu? Siapa? aku penasaran sekali.

"Aku pengen lihat wajahnya," gumam Rohim seraya menundukkan wajahnya.

Emak melotot mendengarnya.

"Mau melihat wajahnya? Buat apa? Dia sudah tidak mengakui kita sebagai bagian dari hidupnya!" teriak Emak nyaris histeris.

"Tapi dia bapakku, Mak!" seru Rohim.

"Emang dia pernah mengakui kamu?" kata si Emak mangkel.

"Aku tidak peduli, Mak! Aku kangen sama Bapak!" Rohim menghentak-hentakkan kakinya.

Aku mengeong, mencoba meredam amarah Rohim.

"Tapi dia enggak kangen sama kamu!"

Rohim berlari keluar Bedeng. Kukejar dia yang terus berlari, sedang Emak juga ikut menyusul sambil memanggil-manggil nama anaknya.

Ternyata Rohim menuju toko roti itu dan masuk ke dalamnya. Aku berlari menyusulnya.

"Bapak!" Rohim memanggil, tatapan matanya terarah kepada laki-laki yang berdiri di balik kasir.

Aku terpana, menatap Pak Rahmat, putra sulung Bu Saidah si pemilik toko. Pak Rahmat lah yang berdiri di balik kasir itu.

Pak Rahmat menatap Rohim. Bibir laki-laki itu bergetar. Kemudian berlari menghampiri Rohim.

Tetapi sebelum sempat mereka saling berpelukan, ada dua suara yang serempak menghentikan mereka.

"Jangan sentuh!"

Aku menoleh ke pintu toko, Emak berdiri sambil berkacak pinggang, sedang Bu Saidah berdiri di pintu penghubung dengan dapur.

Suasana sunyi. Pelanggan toko yang sedang sibuk berbelanja, seketika menoleh ke arah mereka dan saling berbisik memperbincangkan adegan yang ada di depan mereka.

"Imah!" Pak Rahmat semakin shock, kali ini tergopoh-gopoh mencoba menghampiri Emak. tetapi langkahnya dihentikan oleh Bu Saidah.

"Mereka sudah bukan apa-apamu lagi, Rahmat!" seru si pemilik toko.

Pak Rahmat menoleh ke arah ibunya.

"Ibu, apakah Ibu tahu keberadaan mereka selama ini?" tanyanya.

Kulihat Bu Saidah tergagap, seperti tidak mampu menjawab lagi. Tetapi sorot matanya tetap angkuh, seperti yang kutahu selama ini.

"Rohim! Ayo pulang!" teriak emak garang.

"Imah, selama ini kalian kemana? Aku sudah mencari-cari kalian kemana-mana! Kata Ibu kalian pulang ke kempung kalian!" seru Pak Rahmat mencoba berbicara dengan emak.

"Tanya ibumu," desis Emak dingin. Tangannya segera menggapai Rohim dan menyeret anaknya itu keluar dari toko.

Sambil beruai air mata, Emak menyeret Rohim pulang.

"Mak, aku pengen sama Bapak!" Rohim meronta-ronta mencoba melawan. Tetapi kali ini tenaga Emak lebih besar dan menyret Rohim dengan sekuat tenaga. Aku tergesa-gesa mengikuti langkah mereka.

"Buat apa? Sedang dia sudah gak peduli lagi sama kita!"

Langkah emak makin cepat.

"Tapi Bapak selalu nyari kita!"

"Bohong! Dia gak peduli lagi sama kita!"

"Rohim! Imah!"

Seruan dari belakang kami membuatku menoleh. Pak Rahmat berlari mengejar kami. Tetapi Emak sepertinya tidak peduli dan terus menyeret Rohim ke Bedeng tempat tinggal kami sementara Rohim menoleh ke arah laki-laki yang dipanggilnya Bapak itu.

Begitu kami masuk ke Bedeng, Pak Rahmat pun juga sampai di sana beberapa detik kemudian. Langsung merangkul mereka berdua seraya menangis sengungukan.

"Maafkan aku, selama ini Ibu berbohong kepadaku," bisiknya.

Aku menatap mereka dengan haru dan sedih yang campur aduk di hatiku. Entah apa yang terjadi sesungguhnya, tetapi yang aku tahu Bu Saidah adalah tokoh antagonisnya. Mungkin Bu Saidah malu bermenantukan Emak? Entahlah.

Aku pun membalikkan badanku, berjalan menjauhi mereka. Mencari kisah-kisah yang mudah-mudahan tidak sepilu ini.

--------------End Kisah I---------

Ps. buat pelanggan warung selanjutnya, silahkan dilanjut dengan benang merah si Mr. PussyB-)

AsLan
07-03-2011, 04:17 PM
Kisah yang bagus, gaya2 sinetron :D

BundaNa
09-03-2011, 09:41 AM
dilanjutin dunk jangan cuman ngomen :P

Nharura
17-04-2011, 10:57 PM
setelah pelarianku di bawah derai hujan, untunglah mentari kini bersahabat, aku senang dengan udara pagi ini, wangi. Tapi aku merana, perutku lapar sekali, dimana aku bisa menemukan ikan untuk perutku,
hampir semua rumah tertutup, tak ada yang mau melihat sedikitpun,

Tak lama kemudian, ada sosok anak kecil laki-laki yang kegirangan, dan mengangkat Mr pussy. AKu kaget, siapa ini, kulihat dia tertawa-tawa, ada yang lucu dengan wajahku, tak apalah. yang penting aku yakin, anak ini pasti akn memberiku Ikan. aku harus bersikap manis.

"apa yang kau bawa?" ada sosok anak laki2 lagi, tapi kulihat dia lebih tua dari anak kecil yang mengangkatku tadi.
"kucing, ka, bagus ya.., boleh aku merawatnya" katanya sambil memusut-musut badanku.

"Apa?! tidak salah dengar? kamu ingin merawat kucing ini? ya ampun taufik.. dengarkan, kita saja hidup di bawah kolong jembatan, dengan rumah kardus ini. Untuk makan kita saja sulit, apalagi untuk melihara kucing, buang saja! bawa pergiii....!"

"enggak!" ucap anak yang bernama Taufik itu dengan Keras.

"ohh.. kamu berani denganku sekrang ya?, terserah saja, aku punya nasi bungkus, rencananya untuk kita berdua, tapi krna kamu ada kucing, ini hukuman bagimu, kamu tak makan siang ini, dan jangan pulang sebelum kau! membawa banyak uang dari ngamen, lembur sampai malam!.."

Taufik tak membalas kata-kata kakaknya, ia hanya tersenyum saja,dan langsung menggendongku lagi menjauhi anak tertua yang galak tadi.

aku tak tahan lagi, lapar sekali, anak kecil ini terus saja menggendongku, dan membawaku ke suatu warung di dekat pasar,
"Bule, aku minta ikan layangnya? satu saja..?"
"Hah? Minta? kau pengemis ya! pergi-pergi.. bikin repot saja!"

setelah diusir, dia lalu menuju ke arah pasar, kulihat, dia sedang berbicara dengan tukang ikan disana, wah senangnya hatiku, aku akan makan ikan.

"Tidak ada uang?! mau beli ikan!, hush..hush... kalau mau tuh, sisa ikan kemaren belumku buang, ambil saja...!"
Kulihat anak laki-laki itu mengambil dengan segan, ikan-ikan dibawah lantai, aku tak sabar menikmatinya.

lalu aku dibawanya lagi, dipelataran rerumputan, disamping jalan raya.
"Push, makan ini ya? kamu pasti lapar.. nanti malam, kita makan enak ya... habis ini kamu, aku tinggal, aku mau ngamen disitu sebentar, janji ya jangan kemana-mana, nanti malam kita makan enak" katanya padaku lagi, sambil memusut buluku.

Aku tak peduli, apa yang ia katakan, yang penting aku sukses berlaku manis hari ini, dan bisa makan, hmm..ikan ini enaaakk sekali....

"Praannkkkk........" ada suara hantaman yang keras, memisingkan telingaku, aku langsung berlari, bersembunyi.

ada apa itu?

Kulihat, ada anak laki-laki yang berbaring di jalanan, loh..itu khan anak laki-laki tadi, kenapa dia berbaring di jalan,, ah.. sudahlah. Peduli apa aku, lebih baik.. aku pergi dari tempat ini. dari pada, nanti aku bernasip sama dengan anak itu, berdarah-darah di badannya.

Taufik mengalami kecelakaan, karena di tabrak Busway di jalalan yang melaju cepat, hingga menabrak badannya. Taufik, sang anak jalanan pun meninggal, di detik-detik napasnya ia berharap kucing yang ditolongnya tadi, bisa makan enak nanti malam.


******

Okay.. teruskan teman2... cerita si mr pussy,, yang ketemu sma kejadian2 dalam hidupnya selama ia mengembara di jalanan...

Nan_Chan
24-08-2011, 02:52 PM
PART III: Sore yang menganggu.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak tragedi si Taufik, aku masih tetap menjalani kehidupanku seperti biasa. Sore ini aku melewati taman yang kurang terawat. Meskipun begitu, kelihatannya taman ini tidak sepi pengunjung. Beberapa ibu-ibu menggendong bayinya bercengkrama disana. Tertawa, tersenyum, bahagia sekali. Aku mencari tempat yang nyaman untuk meringkuk, ketika itulah aku melihat seorang gadis manis, rambutnya di kuncir kuda dengan pita warna hijau tua. Gadis itu bermain dengan anjing peliharaannya.

Aku tertegun, memperhatikan. Bulu-bulu anjing itu begitu lembut, kupingnya bergoyang mengikuti irama ekornya yang bergoyang cepat. Manis sekali. Lidahnya menjulur girang ketika gadis menyuapkan sebatang cokelat pocky kepadanya. Mereka terlihat begitu bahagia. Entah kenapa, aku kehilangan niat untuk beristirahat di taman itu. aku perlu makan! Aku tidak mungkin mendekati gadis itu untuk meminta cokelat pocky. Anjingnya mungkin akan menggigitku terlebih dahulu sebelum aku mendapatkan cokelat pocky.

Menelusuri gang pasar di sore hari bukan perkara mudah. demi mendapat sisa-sisa makanan, aku harus berjibaku dengan kaki-kaki yang melangkan di gang sempit dan becek. berdesakan di keramaian pasar. Perjuanganku tidak sia sia, aku menemukan potongan sayap ayam yang terjatuh dari kresek belanjaan seorang ibu yang berlubang.

Sore berlalu munculah malam. hitam, tapi tidak pekat, mataku tidak sanggup melihat bintang. Gedung gedung tinggi memamerkan cahaya melebihi jumlah bintang. aku sendirian, mencari tempat yang cukup hangat untukku menghabiskan malam. Tiba-tiba saja, aku teringat dengan gadis di taman sore tadi. Aku sudah lupa bagaimana rasanya di suapi, aku rindu di belai lembut, aku rindu kemanjaan yang pernah diberikan manusia padaku.


Esoknya, di waktu yang sama, di taman yang sama, aku menemukan gadis itu. Dia membawa cokelat pocky seperti kemarin. Sedangkan anjingnya berlarian kesana kemari. Dengan penuh keberanian aku menghampirinya. Mengeong di sebelahnya mengeluskan kepalaku dikakinya. Gadis itu kaget, melotot! Aku memasang tampang manis, meminta cokelat pocky. Gadis itu sontak menjauh, mengusirku. Aku kaget. Dia terus mengeluarkan kata-kata yang membuatku ingin bertanya apa salahku.

Seorang ibu dengan rambut pendek menegur tingkahnya.
"kamu khan suka binatang, kenapa begitu sama kucing itu. Kasihan khan?"
" Aku lebih suka anjing!!! aku benci kucing!!!! benci sekali!!!! Melihatnya saja membuatku ingin menendangnya! syukur tidak kulakukan!"

Aku tertegun.

Gadis itu berlari, mendekati mamanya yang menggendong bayi.

Aku melihat kejadian selanjutnya, mama gadis itu menjelaskan ke ibu berambut pendek bahwa anak gadisnya memiliki trauma terhadap kucing.

Aku mengerti, tidak semua orang, atau bahkan tidak semua penyuka binatang suka kucing. aku berlalu, meninggalkan percakapan dua wanita tentang trauma anak gadisnya. Mungkin belum waktunya aku mendapatkan kemanjaan manusia. hidup ini tidak adil, aku harus membiasakan diriku. Ah, aku harus ke pasar, berharap ada ibu yang kreseknya berlubang lagi.


***

Silahkan dilanjutkan....

Ray Surya
24-08-2011, 08:29 PM
Sambil memikirkan tingkah wanita tadi, Mr. Pussy merenungi namanya... kenapa dia bisa sepengecut itu ( pussy), dia pun berlari ke kolam di tukang jual ikan. sambil memandangi pantulan wajahnya di kolam, Mr Pussy berpikir, apakah dia mirip pussy ::cabul:: ... tapi tiba2, seekor ikan kucing (catfish) meloncat ke mukanya... Mr Pussy pun kaget, ternyata dia lebih mirip lele daripada Pussy.