PDA

View Full Version : Hermeneutika dalam memahami nash-nash Syari'at



Asum
05-02-2012, 07:29 AM
Contoh aplikasi hermeneutik terhadap hadis: Ada satu hadis sahih yang berbunyi "a’ful liha", yang artinya "panjangkan jenggot kalian". Bagaimana anda menyikapi hadis tersebut?

Hadis itu bersifat perintah lho, dan diucapkan oleh rosul, sahih pula. Tapi, dengan pendekatan hermeneutis kita akan paham bahwa rosul, bagaimanapun, adalah anak dari zamannya. Perintah beliau itu memiliki konteks kultur tertentu, dalam hal ini kultur Arab. Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti.
Bisa dijabarkan proses hermeneutika (http://inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=373:problematika-hermeneutika-dalam-tafsir-al-quran-1&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103) (tafsiran) terhadap hadits :


أَحْفُوا الشَوَارِبَ وَ أَوْفُوا اللِّحَى
Ahfu asy-syawariba wa awfu al-liha
Potong pendeklah kumis kalian dan biarkanlah janggut kalian (HR. Muslim)

Sehingga kemudian anda berkesimpulan :

Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti

%hmm

ishaputra
05-02-2012, 08:34 PM
Hadis itu diucapkan oleh siapa? Kapan? Di mana? Kepada siapa? Dalam kondisi apa? Coba pikir, apakah anda membaca hadis tersebut dengan melupakan unsur-unsur yang saya sebut?

Dulu, waktu kecil, kalo saya keluar rumah (main) sore hari, ibu saya bilang: "Kalo udah Maghrib pulang loh".

Kemudian, semua orang menerima premis: "Kita harus taat pada apa kata orang tua". Nah, menurut anda, apakah saya yang sudah dewasa ini HARUS taat pada kata ibu saya belasan tahun yang lalu itu?

Pointnya perihal masalah hermeneutika ini saya kira bukan apa tafsir (pemahaman yang benar) sebuah ajaran/ucapan/perintah, tapi bagaimana sebuah ajaran/ucapan/perintah ditafsir (dipahami). Jadi, penekanannya adalah pada "apa metoda yang digunakan" bukan "bagaimana hasil dari metoda tsb".

---------- Post added at 08:20 PM ---------- Previous post was at 08:11 PM ----------

Bayangkan, kalo seandainya Muhammad lahir di Jawa abad ke 12, bagaimana bentuk "Islam" itu? Pertama, Alquran sudah tentu tidak bernama Alquran, tidak pula berbahasa Arab. Agamanya pun tidak disebut "Islam". Rosul tidak disebut "rosul", dan tidak bernama Muhammad. Kedua, issue-issue yang dilontarkan dalam Alquran JELAS akan sangat jauh berbeda.

Dan ketiga, rosul tidak akan menggunakan pakaian ala Arab yang ditiru mentah-mentah orang salafi sekarang. Mungkin akan pake belangkon, lurik, atau sejenisnya. Senjatanya pun bukan pedang, tapi keris. Kemana-mana jelas nggak naik onta, karena di Jawa nggak ada onta.

Dengan memahami siapa pencetus ajaran, kapan ajaran itu muncul, di mana dan untuk siapa ajaran tsb dipersembahkan, dan dalam kondisi sosial-politik seperti apa, dan seterusnya, kita akan memiliki pemahaman yang benar, sekurangnya mendekati benar terhadap apa sesungguhnya yang dimaksud atau apa sesungguhnya PESAN yang ingin disampaikan oleh si pencetus ajaran/ucapan itu.

Di situlah metoda hermeneutika berperan.

---------- Post added at 08:34 PM ---------- Previous post was at 08:20 PM ----------

Firman Tuhan atau bukan, saya kira bukanlah hal yang penting dalam proses hermeneutika. Kenapa? Karena teks apapun yang muncul, tidak bisa tidak pasti dipengaruhi oleh zaman, oleh kultur dan nilai-nilai dasar yang berlaku di tempat di mana teks tersebut pertama kali muncul.

Simpel. Kenapa Alquran muncul dalam bahasa Arab? Karena munculnya di jazirah Arab, di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa Arab. Kalo Alquran muncul di Arab dalam bahasa Tagalog, audiencenya pasti bingung. Ini BUKTI bahwa Tuhan tunduk pada "logika komunikasi".

Nah, BAHASA VERBAL itu, bagaimanapun, mencerminkan "worldview" (weltanschauung) dari penutur nativenya. Untuk hal ini silakan anda pelajari atau cari referesi dari pakar linguistik. Sudah pasti, Alquran yang menggunakan bahasa Arab, mau tidak mau, akan sekurangnya dipengaruhi oleh worldview masyarakat Arab.

Tidak cuma bahasa. Warna dan simbol-simbol pun mencerminkan identitas etnik dan pandangan dunia tertentu. Kalo anda belajar ilmu komunikasi anda akan paham perihal ini. Kalo anda kerja di biro iklan dan menyusun rancangan untuk iklan, anda harus memahami ihwal seperti ini. Nah, dalam konteks Alquran, Tuhan ingin berkomunikasi dengan manusia kan? Sudah tentu, Tuhan "tunduk" pada logika komunikasi JIKA INGIN PESANNYA DIPAHAMI OLEH AUDIENCENYA.

Asum
05-02-2012, 09:05 PM
Anda malah belumlah mengimplementasikan metode Hermeneutika untuk menjelaskan maksud dan kandungan teks hadits yang saya sampaikan.

Anda saat ini baru pada tahapan retorika, bahwa Hermeneutika itu begini dan begini.

Sekarang, bisakah anda implementasikan tahapan Metode Hermeneutika pada teks hadits yang saya berikan di atas, sesuai yang anda jadikan contoh pada topik lain, sehingga menghasilkan kesimpulan :


Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti

Jikalau, anda menerapkan semua hasil interpretasi anda pada suatu teks hanya dengan contoh

Dulu, waktu kecil, kalo saya keluar rumah (main) sore hari, ibu saya bilang: "Kalo udah Maghrib pulang loh".

Kemudian, semua orang menerima premis: "Kita harus taat pada apa kata orang tua". Nah, menurut anda, apakah saya yang sudah dewasa ini HARUS taat pada kata ibu saya belasan tahun yang lalu itu?
Kemudian anda mengajak lainnya untuk tidak ta'at pada orang tua, maka itu bukanlah metode yang benar dalam memahami maksud perintah orang tua.

JIKA ada premis "Kita harus taat pada apa kata orang tua", maka seharusnya mengamalkan atau menuruti perintah orang-tua lebih utama untuk dikerjakan dibanding tidak menurutinya. Karena tidak mengikuti perintah orang-tua akan mendatangkan celaan orang tua atau bahkan murkanya. Kecuali jika anda berkata "Jika orang-tua sudah mati, maka tidak ada yang perlu ditakuti dan dituruti", maka ini artinya anda menetapkan batas waktu masa berlaku perintah tsb, yaitu (misal) "selama orang-tua masih hidup". :ngopi:

Bagaimana dengan perintah komandan pasukan, atau kepala negara kepada bawahannya ? Apakah anda akan berlaku sama ?%hmm