PDA

View Full Version : Apakah Tafsir Itu Harus dilakukan Pemuka Agama?



danalingga
21-12-2011, 11:11 AM
Tertarik membuat thread ini setelah membaca thread sebelah. Saya tujukan pertanyaan ini ke semua agama, maka saya letakkan di mari.

Pak Moderator, kalo merasa ada tempat yang lebih tepat, silahkan dipindah. :D

Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya pemuka agama saja yang berhak, para rakyatnya bakal jadi robot sahaja dan juga belum tentu pemuka agama pasti benar. Nah, jika rakyat boleh menafsir, bisa jadi tafsirannya ngawur (karena ilmunya kurang).

Bagaimana pendapat teman-teman?

hajime_saitoh
21-12-2011, 11:19 AM
dalam islam sendiri ilmu tafsir itu sangat rumit, harus menguasai bahasa arab, harus menghafal al-Quran dan al-Hadits dan menguasai ilmunya, mengusai ilmu nasiskh mansukh, sampai2 di universitas madinah itu diajarkan hingga S3 jurusan tafsir.... jadi gak gampang menafsirkan al-Qura.....

hajime_saitoh
21-12-2011, 11:20 AM
ILMU TAFSIR AL-QUR’AN



A. Pengertian Tafsir
Secara etimologi tafsir bisa berarti Penjelasan, Pengungkapan, dan Menjabarkan kata yang samar.
Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini.
Jadi, Secara umum Ilmu tafsir adalah ilmu yang bekerja untuk mengetahui arti dan maksud dari ayat-ayat al Qur’an. Pada waktu Nabi Muhammad masih hidup, beliau sendiri yang menjelaskan apa maksud dari ayat Al Qur’an, maka hadis Nabi disebut sebagai penjelasan dari al Qur’an. Setelah Nabi wafat, para sahabat berusaha menerangkan maksud al Qur’an bersumber dari pemahaman mereka terhadap keterangan nabi dan dari suasana kebatinan saat itu. Pada masa dimana generasi sahabat sudah tidak ada yang hidup, maka pemahaman al Qur’an dilakukan oleh para ulama, dengan interpretasi. Ketika itulah tafsir tersusun sebagai ilmu.


B. MACAM-MACAM TAFSIR BERDASARKAN SUMBERNYA

Pembagian Tafsir secara ilmiah, tafsir terbagi menjadi tiga bagian:
- Tafsir bil-ma’tsur ( bir-riwayah )
- Tafsir bir-ra’yi ( bid-dirayah )
- Tafsirul isyari ( bil-isyarah )
- Tafsir bil Izdiwaji ( campuran )


1. Tafsir bil-ma’tsur
Adalah penafsiran Al Qur’an dengan Qur’an, atau dengan Hadits ataupun perkataan para Shahabat, untuk menjelaskan kepada sesuatu yang dikehendaki Allah swt.
Mengenai penafsiran Al Qur’an dengan perkataan para Shahabat ketahuilah, bahwasanya Tafsir Shahabat termasuk Tafsir yang dapat diterima dan dijadikan sandaran. Karena para Shahabat (semoga Allah meridhoi mereka), telah dibina langsung oleh Rasulullah saw, dan menyaksikan turunnya wahyu serta mengetahui sebab-sebab diturunkannya ayat.
Dan juga dikarenakan kebersihan hati mereka, dan ketinggian martabat mereka dalam kefashihan dan bayan. Juga karena faham mereka yang shahih dalam menafsirkan Kalam Allah swt. Dan juga dikarenakan mereka lebih mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung dalam Al Qur’an dibandingkan seluruh manusia setelah generasi mereka.
Berkata Imam Hakim Rahimahullah: Sesungguhnya tafsir para Shahabat (semoga Allah meridhoi mereka) yang mana mereka telah menyaksikan wahyu dan turunnya Al Qur’an dihukumkan Marfu’ (sampai atau bersambung kepada Nabi saw). Ataupun dengan kata lain, tafsir para Shahabat mempunyai hukum hadits Nabawi yang Marfu’ kepada Nabi saw.

2. Tafsir bir-ra’yi
Adalah tafsir yang dalam menjelaskan maknanya, Mufassir hanya perpegang pada pemahaman sendiri. Dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata.
Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metoda tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain.
Seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.


Pembagian Tafsir bir-ra’yi:
Tafsir bir-ra’yi terbagi menjadi dua bagian: - Tafsir Mahmud
- Tafsir Madzmum
a. Tafsir Mahmud: Adalah suatu penafsiran yang sesuai dengan kehendak syari’at (penafsiran oleh orang yang menguasai aturan syari’at), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami nash-nash Qur’aniyah.

b. Tafsir al Madzmum: Adalah penafsiran Al Qur’an tanpa berdasarkan ilmu, atau mengikuti hawa nafsu dan kehendaknya sendiri, tanpa mengetahui kaidah-kaidah bahasa atau syari’ah. Atau dia menafsirkan ayat berdasarkan mazhabnya yang rusak maupun bid’ahnya yang tersesat.
Hukum Tafsir bir-ra’yi al Madzmum: Menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu dan Ijtihad semata tanpa ada dasar yang shahih adalah haram. Allah berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ (الإ ســــراء: 36)
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”. (QS, Al Isra’: 36)
Firman Allah lagi:
قـُلْ إِنَّمَا حـَرَّمَ رَبِّيَ ٱلْفـَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلإِثـْمَ وَٱلْبَغْيَ بِغَـيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تـُشْــرِكـُواْ بِٱللّـَهِ مَا لَمْ يُنـَزِّلْ بِهِ سُلْـطَاناً وَأَن تَقـُولُواْ عَلَى ٱللّـَهِ مَا لاَ تَعْـلَمــُونَ (الأعراف: 33)
Artinya:
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu. Dan (mengharamkan) kamu mengatakan terhadap Allah dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raf: 33)

Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

3. Tafsir Isyari
Menurut kaum sufi setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan pengetahuan gaib yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari.

4. Tafsir bil Izdiwaji ( Campuran )
Tafsir bil Izdiwaji disebut juga dengan metode campuran antara tafsir bil Matsur dan Tafsir bil Ra’yi yaitu menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang kuat dan shahih, dengan sumber hasil ijtihad akan pikiran yang sehat.


C. MACAM-MACAM TAFSIR BERDASARKAN METODENYA

1. Metode Tahlili (Analitik)
Metode Tahlili adalah metode menafsirkan Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan menguraikan berbagai seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya.
Menurut Malik bin Nabi, tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur’an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur’an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah . Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa bahasan-bahasannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka, sehingga mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur’an untuk setiap waktu dan tempat. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya.

2. Metode Ijmali (Global)
Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

3. Metode Muqarin
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.

4. Metode Maudhu’i (Tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-sama membahas topik/judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.

aya_muaya
21-12-2011, 11:20 AM
pemuka agama itu maksudnya apa? kalau saya, muslim, islam, tafsir itu dilakukan oleh kaum cendikiawan... atau para ulama.. nah ulama yang dimaksud disini apakah sama dengan ulama yang terkenal di masyarakat sekarang?

hajime_saitoh
21-12-2011, 11:21 AM
ILMU TAFSIR AL-QUR’AN



A. Pengertian Tafsir
Secara etimologi tafsir bisa berarti Penjelasan, Pengungkapan, dan Menjabarkan kata yang samar.
Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini.
Jadi, Secara umum Ilmu tafsir adalah ilmu yang bekerja untuk mengetahui arti dan maksud dari ayat-ayat al Qur’an. Pada waktu Nabi Muhammad masih hidup, beliau sendiri yang menjelaskan apa maksud dari ayat Al Qur’an, maka hadis Nabi disebut sebagai penjelasan dari al Qur’an. Setelah Nabi wafat, para sahabat berusaha menerangkan maksud al Qur’an bersumber dari pemahaman mereka terhadap keterangan nabi dan dari suasana kebatinan saat itu. Pada masa dimana generasi sahabat sudah tidak ada yang hidup, maka pemahaman al Qur’an dilakukan oleh para ulama, dengan interpretasi. Ketika itulah tafsir tersusun sebagai ilmu.


B. MACAM-MACAM TAFSIR BERDASARKAN SUMBERNYA

Pembagian Tafsir secara ilmiah, tafsir terbagi menjadi tiga bagian:
- Tafsir bil-ma’tsur ( bir-riwayah )
- Tafsir bir-ra’yi ( bid-dirayah )
- Tafsirul isyari ( bil-isyarah )
- Tafsir bil Izdiwaji ( campuran )


1. Tafsir bil-ma’tsur
Adalah penafsiran Al Qur’an dengan Qur’an, atau dengan Hadits ataupun perkataan para Shahabat, untuk menjelaskan kepada sesuatu yang dikehendaki Allah swt.
Mengenai penafsiran Al Qur’an dengan perkataan para Shahabat ketahuilah, bahwasanya Tafsir Shahabat termasuk Tafsir yang dapat diterima dan dijadikan sandaran. Karena para Shahabat (semoga Allah meridhoi mereka), telah dibina langsung oleh Rasulullah saw, dan menyaksikan turunnya wahyu serta mengetahui sebab-sebab diturunkannya ayat.
Dan juga dikarenakan kebersihan hati mereka, dan ketinggian martabat mereka dalam kefashihan dan bayan. Juga karena faham mereka yang shahih dalam menafsirkan Kalam Allah swt. Dan juga dikarenakan mereka lebih mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung dalam Al Qur’an dibandingkan seluruh manusia setelah generasi mereka.
Berkata Imam Hakim Rahimahullah: Sesungguhnya tafsir para Shahabat (semoga Allah meridhoi mereka) yang mana mereka telah menyaksikan wahyu dan turunnya Al Qur’an dihukumkan Marfu’ (sampai atau bersambung kepada Nabi saw). Ataupun dengan kata lain, tafsir para Shahabat mempunyai hukum hadits Nabawi yang Marfu’ kepada Nabi saw.

2. Tafsir bir-ra’yi
Adalah tafsir yang dalam menjelaskan maknanya, Mufassir hanya perpegang pada pemahaman sendiri. Dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata.
Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metoda tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain.
Seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.


Pembagian Tafsir bir-ra’yi:
Tafsir bir-ra’yi terbagi menjadi dua bagian: - Tafsir Mahmud
- Tafsir Madzmum
a. Tafsir Mahmud: Adalah suatu penafsiran yang sesuai dengan kehendak syari’at (penafsiran oleh orang yang menguasai aturan syari’at), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami nash-nash Qur’aniyah.

b. Tafsir al Madzmum: Adalah penafsiran Al Qur’an tanpa berdasarkan ilmu, atau mengikuti hawa nafsu dan kehendaknya sendiri, tanpa mengetahui kaidah-kaidah bahasa atau syari’ah. Atau dia menafsirkan ayat berdasarkan mazhabnya yang rusak maupun bid’ahnya yang tersesat.
Hukum Tafsir bir-ra’yi al Madzmum: Menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu dan Ijtihad semata tanpa ada dasar yang shahih adalah haram. Allah berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ (الإ ســــراء: 36)
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”. (QS, Al Isra’: 36)
Firman Allah lagi:
قـُلْ إِنَّمَا حـَرَّمَ رَبِّيَ ٱلْفـَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلإِثـْمَ وَٱلْبَغْيَ بِغَـيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تـُشْــرِكـُواْ بِٱللّـَهِ مَا لَمْ يُنـَزِّلْ بِهِ سُلْـطَاناً وَأَن تَقـُولُواْ عَلَى ٱللّـَهِ مَا لاَ تَعْـلَمــُونَ (الأعراف: 33)
Artinya:
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu. Dan (mengharamkan) kamu mengatakan terhadap Allah dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raf: 33)

Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

3. Tafsir Isyari
Menurut kaum sufi setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan pengetahuan gaib yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari.

4. Tafsir bil Izdiwaji ( Campuran )
Tafsir bil Izdiwaji disebut juga dengan metode campuran antara tafsir bil Matsur dan Tafsir bil Ra’yi yaitu menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang kuat dan shahih, dengan sumber hasil ijtihad akan pikiran yang sehat.


C. MACAM-MACAM TAFSIR BERDASARKAN METODENYA

1. Metode Tahlili (Analitik)
Metode Tahlili adalah metode menafsirkan Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan menguraikan berbagai seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya.
Menurut Malik bin Nabi, tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur’an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur’an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah . Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa bahasan-bahasannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka, sehingga mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur’an untuk setiap waktu dan tempat. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya.

2. Metode Ijmali (Global)
Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

3. Metode Muqarin
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.

4. Metode Maudhu’i (Tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-sama membahas topik/judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.

danalingga
21-12-2011, 11:27 AM
Nah, pertanyaan saya menjadi bagaimana jika ternyata "rakyat" telah menguasai ilmu tafsir tapi karena dia tidak menonjolkan diri sebagai ulama atau cendikiawan, maka tidak dikenal orang-orang? Apakah masih "layak" untuk menafsirkan?

---------- Post added at 11:27 AM ---------- Previous post was at 11:25 AM ----------


pemuka agama itu maksudnya apa? kalau saya, muslim, islam, tafsir itu dilakukan oleh kaum cendikiawan... atau para ulama.. nah ulama yang dimaksud disini apakah sama dengan ulama yang terkenal di masyarakat sekarang?

Pemuka agama ya yang sudah diakui sebagai ulama, cendikiawan agama, pastor, pendeta, biksu dll.

sedgedjenar
22-12-2011, 09:17 AM
dalam islam sendiri ilmu tafsir itu sangat rumit, harus menguasai bahasa arab, harus menghafal al-Quran dan al-Hadits dan menguasai ilmunya, mengusai ilmu nasiskh mansukh, sampai2 di universitas madinah itu diajarkan hingga S3 jurusan tafsir.... jadi gak gampang menafsirkan al-Qura.....

kembalikan aja mas
tujuan diturunkan agama di dunia buat apa ?
buat mempermudah apa mempersulit manusia ?

---------- Post added at 09:17 AM ---------- Previous post was at 08:23 AM ----------


Tertarik membuat thread ini setelah membaca thread sebelah. Saya tujukan pertanyaan ini ke semua agama, maka saya letakkan di mari.

Pak Moderator, kalo merasa ada tempat yang lebih tepat, silahkan dipindah. :D

Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya pemuka agama saja yang berhak, para rakyatnya bakal jadi robot sahaja dan juga belum tentu pemuka agama pasti benar. Nah, jika rakyat boleh menafsir, bisa jadi tafsirannya ngawur (karena ilmunya kurang).

Bagaimana pendapat teman-teman?

saya anggapnya ini tafsir kitab suci ya kang ?
soalnya sesepuh baling2 ini cuma bilang ajaran agama yang ditafsirkan

kitab suci itu kan firman tuhan, bahasa langit
jadi yang bisa menterjemahkan, menafsirkan adalah mereka2 yang derajatnya tinggi
makin tinggi derajatnya, maka tingkat penafsirannya lebih tepat

nah kebanyakan orang yg berderajat tinggi ini dijadikan pemuka agama
padahal, tidak semua pemuka agama itu berderajat tinggi (contohnya banyak lha di koran2 dan infotainment)

karena untuk memperoleh derajat tinggi, gak cukup dengan sekolah sampe S3, atau dengan belajar bahasa arab sampe lidahnya bisa mlintir2
untuk memperoleh derajat tinggi harus melalui olah bathin, perenungan dalam, perjalanan ke dalam diri di bawah bimbingan Guru Mursyid

jadi

Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

menurut pendapat saya gak selalu
karena bisa jadi ada seorang biasa, yang berguru pada Guru Mursyid yang sudah sampai level tinggi bisa melebihi seseorang yang cuma belajar S3 atau S10 tentang quran tapi tanpa dibimbing oleh Guru Mursyid.

gogon
22-12-2011, 09:50 AM
kalo orang awam menafsir ayat, nanti jadi salah tafsir ;D
ada juga yg mencoba menafsir ayat dengan bermaksud menyesuaikan keinginan pribadi. Dicocok-cocokin lah.
sepengetahuan gw, ilmu tafsir Al-Quran itu udah final. Sudah sepakat semua ulama. Yang diajarkan sekarang adalah hasil tafsirnya itu sendiri.


kembalikan aja mas
tujuan diturunkan agama di dunia buat apa ?
buat mempermudah apa mempersulit manusia ?[COLOR="Silver"]

ini udah di garis finish, masa' start lagi?

tentu saja mempermudah manusia, namun karena aspek kehidupan manusia itu ribet, kompleks dan ruwet (ngga simple/mudah) jadi ya perlu tafsir yang detail :)

sedgedjenar
22-12-2011, 10:42 AM
kalo orang awam menafsir ayat, nanti jadi salah tafsir ;D
ada juga yg mencoba menafsir ayat dengan bermaksud menyesuaikan keinginan pribadi. Dicocok-cocokin lah.
sepengetahuan gw, ilmu tafsir Al-Quran itu udah final. Sudah sepakat semua ulama. Yang diajarkan sekarang adalah hasil tafsirnya itu sendiri.


gan, pertanyaannya TS itu orang biasa, bukan orang awam
apakah harus pemuka agama ? maksudnya TS pemuka agama yg namanya arab dan pake jubah pakaian keagamaan dan gelar ilmu agama
ataukah orang biasa yang kerjaanya umum, gak berjengggot, jidatnya gak item kepentok sajadah

(om TS mohon dibenerkan kalo saya persepsi)




ini udah di garis finish, masa' start lagi?

tentu saja mempermudah manusia, namun karena aspek kehidupan manusia itu ribet, kompleks dan ruwet (ngga simple/mudah) jadi ya perlu tafsir yang detail :)


liat komentarnya aja diatas
menurutnya, buat menafsir quran itu gak gampang, rumit, sulit ...(kasian bgt ya)
apakah itu yang namanya udah finish ?

padahal quran yang sebenarnya itu bukanlah yg bahasa arab, bukan yg kudu belajar kaidah arab dan kaidah lidah melintir biar bisa bilang 'ain bukan ngain oleh karenanya setiap manusia punya kesempatan yang sama buat menjadi ahli tafsir tanpa harus sekolah jauh2 dan dingin (banyak esnya jadi dingin)

danalingga
22-12-2011, 01:39 PM
^Yup Om Sedge. Maksud saya begitu seperti komen saya soal pertanyaan lanjutan:

Bagaimana jika seseorang tidak bergelar ulama tapi ternyata menguasai ilmu tafsir. Apa lantas tidak berhak menafsir.

---------- Post added at 01:39 PM ---------- Previous post was at 01:37 PM ----------

Btw, rasanya kok terlalu gimana gitu ya menyempitkan siapa yang boleh menafsir dengan menggunakan ukuran manusia (misalnya ilmu yang harus dikuasai oleh penafsir (bahasa arablah, dll), padahal itu syarat yang dibuat oleh manusia sendiri).

Apa tidak mungkin Tuhan langsung membukakan mata hati seseorang (atau istilahnya menamkan ilmu di dada seseorang), sehingga dia akan mempunya tafsir yang benar walau tidak menguasai ilmu tafsir yang buatan manusia itu?

gogon
22-12-2011, 01:52 PM
baiklah kalo gitu gw kembali ke pertanyaan awal oleh TS
oh iya, gw posting berdasarkan latar belakang Islam, agama gw :)


..

Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

bukan pemuka agama yah, lebih ke alim ulama terutama ahli tafsir. Mereka secara otomatis aja jadi pemuka agama (orang terkenal) karena keahliannya itu.
kenapa begitu? karena ada ilmunya. Sudah dijelaskan panjang lebar oleh hajime_saitoh
rakyat kebanyakan tidak boleh menafsirkan sendiri, karena bisa jadi salah tafsir. Terlebih kalo tafsirnya demi keinginan/nafsu sendiri, nanti dicocok-cocokkan supaya sesuai dengan keinginan.(ngulang deh postingan gw).
Jika rakyat kebanyakan mau melakukan tafsir, boleh aja tapi harus belajar ilmunya dulu.
dan sebetulnya menafsirkan al-quran tanpa ilmu dilarang dalam agama. bisa bahaya karena membuka kemungkinan orang mengajarkan hal yang salah kepada orang banyak.


gan, pertanyaannya TS itu orang biasa, bukan orang awam
apakah harus pemuka agama ? maksudnya TS pemuka agama yg namanya arab dan pake jubah pakaian keagamaan dan gelar ilmu agama
ataukah orang biasa yang kerjaanya umum, gak berjengggot, jidatnya gak item kepentok sajadah

iya maksud gw orang awam = orang biasa, yg ga punya ilmu tafsir atau cetek ilmu tafsirnya.
jidat item kepentok sejadah? ;D gw kira kita sedang diskusi bersih di sini. Coba cari bahasa yg lebih menunjukkan martabat.



liat komentarnya aja diatas
menurutnya, buat menafsir quran itu gak gampang, rumit, sulit ...(kasian bgt ya)
apakah itu yang namanya udah finish ?
iya udah finish karena sudah ada banyak buku tafsir Al-Quran yg jadi pegangan para ulama/ustadz.
kasihan? rumit? sulit? engga tuh. Engga sulit buat para ahli tafsir. Mungkin buat kita sebagai orang awam biasa emang sulit melakukan tafsir.

sama lah seperti dokter ahli bedah. Dia harus belajar kedokteran dulu. Belajar istilah, organ tubuh, teknik bedah, dll dsb dkk.
rumit? sulit? kasihan?
itulah kenapa orang biasa ngga boleh sembarangan ngebedah orang. Karena ada ilmunya. Mirip spt tafsir khan :)


padahal quran yang sebenarnya itu bukanlah yg bahasa arab, bukan yg kudu belajar kaidah arab dan kaidah lidah melintir biar bisa bilang 'ain bukan ngain oleh karenanya setiap manusia punya kesempatan yang sama buat menjadi ahli tafsir tanpa harus sekolah jauh2 dan dingin (banyak esnya jadi dingin)
Qur'an bahasa Arab. Namun bahasa tingkat tinggi. Seperti bahasa sastra.
btw indonesia juga ada bahasa sastra. Ada jurusan kuliahnya juga.
manusia biasa punya kesempatan yang sama. Alim ulama dan ahli tafsir juga tadinya manusia biasa.
tapi manusia biasa yang punya minat terhadap ilmu tafsir itu ngga jadi beban ketika harus sekolah jauh2 dan dingin. Malah mereka antusias. Belum lagi banyak program beasiswa + uang saku dari penyelenggara universitas2 spt itu :)

sedgedjenar
22-12-2011, 02:48 PM
baiklah kalo gitu gw kembali ke pertanyaan awal oleh TS
oh iya, gw posting berdasarkan latar belakang Islam, agama gw :)


bukan pemuka agama yah, lebih ke alim ulama terutama ahli tafsir. Mereka secara otomatis aja jadi pemuka agama (orang terkenal) karena keahliannya itu.
kenapa begitu? karena ada ilmunya. Sudah dijelaskan panjang lebar oleh hajime_saitoh
rakyat kebanyakan tidak boleh menafsirkan sendiri, karena bisa jadi salah tafsir. Terlebih kalo tafsirnya demi keinginan/nafsu sendiri, nanti dicocok-cocokkan supaya sesuai dengan keinginan.(ngulang deh postingan gw).
Jika rakyat kebanyakan mau melakukan tafsir, boleh aja tapi harus belajar ilmunya dulu.
dan sebetulnya menafsirkan al-quran tanpa ilmu dilarang dalam agama. bisa bahaya karena membuka kemungkinan orang mengajarkan hal yang salah kepada orang banyak.


iya maksud gw orang awam = orang biasa, yg ga punya ilmu tafsir atau cetek ilmu tafsirnya.
jidat item kepentok sejadah? ;D gw kira kita sedang diskusi bersih di sini. Coba cari bahasa yg lebih menunjukkan martabat.




ukuran ahli tafsir itu seperti apa ?
bisa disebut seseorang itu ahli tafsir quran, kriterianya gimana ?

hajime_saitoh
22-12-2011, 06:13 PM
padahal quran yang sebenarnya itu bukanlah yg bahasa arab, bukan yg kudu belajar kaidah arab dan kaidah lidah melintir biar bisa bilang 'ain bukan ngain oleh karenanya setiap manusia punya kesempatan yang sama buat menjadi ahli tafsir tanpa harus sekolah jauh2 dan dingin (banyak esnya jadi dingin)

Quran yang sebenarnya bukan bahasa Arab?? jadi Quran yang sebenarnya bahasa apa donk...


ukuran ahli tafsir itu seperti apa ?
bisa disebut seseorang itu ahli tafsir quran, kriterianya gimana ?

Asbabunnuzul adalah sebuah ilmu yang menerangkan tentang latar belakang turunnya suatu ayat. Atau bisa juga keterangan yang menjelaskan tentang keadaan atau kejadian pada saat suatu ayat diturunkan, meski tidak ada kaitan langsung dengan turunnya ayat. Tetapi ada konsideran dan benang merah antara keduanya.
Seringkali peristiwa yang terkait dengan turunnya suatu ayat bukan hanya satu, bisa saja ada beberapa peristiwa sekaligus yang menyertai turunnya suatu ayat. Atau bisa juga ada ayat-ayat tertentu yang turun beberapa kali, dengan motivasi kejadian yang berbeda.
Tentu saja ilmu asbabun-nuzul ini wajib dan mutlak dimiliki oleh seorang mufassir. Dan memang ilmu ini merupakan salah satu bagian dari sekian banyak syarat yang harus dimiliki oleh mufassir.
Kami kutipkan dari salah satu rujukan yang ada, tentang beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, antara lain:
1. Sehat Aqidah
Seorang yang beraqidah menyimpang dari aqidah yang benar tentu tidak dibenarkan untuk menjadi mufassir. Sebab ujung-ujungnya dia akan memperkosa ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan penyelewengan aqidahnya.
Maka kitab-kitab yang diklaim sebagai tafsir sedangkan penulisnya dikenal sebagai orang yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah, tidak diakui sebagai kitab tafsir.
2. Terbebas dari Hawa Nafsu
Seorang mufassir diharamkan menggunakan hawa nafsu dan kepentingan pribadi, kelompok dan jamaah ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Juga tidak terdorong oleh ikatan nafsu, dendam, cemburu, trauma dan perasaan-perasaan yang membuatnya menjadi tidak objektif.
Dia harus betul-betul meninggalkan subjektifitas pribadi dan golongan serta memastikan objektifitas, profesionalisme dan kaidah yang baku dalam menafsirkan.
3. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran
Karena Al-Quran turun dari satu sumber, maka tiap ayat menjadi penjelas dari ayat lainnya, dan tidak saling bertentangan. Sebelum mencari penjelasan dari keterangan lain, maka yang pertama kali harus dirujuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah ayat Al-Quran sendiri.
Seorang mufassir tidak boleh sembarangan membuat penjelasan apa pun dari ayat yang ditafsrikannya, kecuali setelah melakukan pengecekan kepada ayat lainnya.
Hal itu berarti juga bahwa seorang mufassir harus membaca, mengerti dan meneliti terlebih dahulu seluruhayat Al-Quran secara lengkap, baru kemudian boleh berkomentar atas suatu ayat. Sebab boleh jadi penjelasan atas suatu ayat sudah terdapat di ayat lain, tetapi dia belum membacanya.
4. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah
Berikutnya dia juga harus membaca semua hadits nabi secara lengkap, dengan memilah dan memmilih hanya pada hadits yang maqbul saja. Tidak perlu menggunakan hadits yang mardud seperti hadits palsu dan sejenisnya.
Tentang kekuatan dan kedudukanhadits nabi, pada hakikatnya berasal dari Allah juga. Jadi boleh dibilang bahwa hadits nabi sebenarnya merupakan wahyu yang turun dari langit. Sehingga kebenarannya juga mutlak dan qath''i sebagaimana ayat Al-Quran juga.
5. Merujuk kepada Perkataan Shahabat
Para shahabat nabi adalah orang yang meyaksikan langsung bagaimana tiap ayat turun ke bumi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi objek sasaran diturunkannnya ayat Al-Quran.
Maka boleh dibilang bahwa orang yang paling mengerti dan tahu tentang suatu ayat yang turun setelah Rasulullah SAW adalah para shahabat nabi SAW.
Maka tidak ada kamusnya bagi mufassir untuk meninggalkan komentar, perkataan, penjelasan dan penafsiran dari para shahabat Nabi SAW atas suatu ayat. Musaffri yang benar adalah yang tidak lepas rujukannya dari para shahabat Nabi SAW.
6. Merujuk kepada Perkataan Tabi''in
Para tabi''in adalah orang yang pernah bertemu dengan para shahabat Nabi SAW dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan muslim pula. Mereka adalah generasi langsung yang telah bertemu dengan generasi para shahabat.
Maka rujukan berikutnya buat para mufassir atas rahasia dan pengertian tiap ayat di Al-Quran adalah para tabi''in.
7. Menguasai Bahasa Arab, Ilmu dan Cabang-cabangnya
Karena Al-Quran diturunkan di negeri Arab dan merupakan dialog kepada kepada orang Arab, maka bahasanya adalah bahasa Arab. Walaupun isi dan esensinya tidak terbatas hanya untuk orang Arab tetapi untuk seluruh manusia.
Namun kedudukan Arab sebagai transformator dan komunikator antara Allah dan manusia, yaituAl-Quran menjadi mutlak dan absolut.Kearaban bukan hanya terbatas dari segi bahasa, tetapi juga semua elemen yang terkait dengan sebuah bahasa. Misalnya budaya, adat, ''urf, kebiasaan, logika, gaya, etika dan karakter.
Seorang mufassir bukan hanya wajib mengerti bahasa Arab, tetapi harus paham dan mengerti betul budaya Arab, idiom, pola pikir dan logika yang diberkembang di negeri Arab. Karena Al-Quran turun di tengah kebudayaan mereka. Pesan-pesan di dalam Al-Quran tidak akan bisa dipahami kecuali oleh bangsa Arab.
Tidak ada cerita seorang mufassir buta bahasa dan budaya Arab. Sebab bahasa terkait dengan budaya, budaya juga terkait dengan ''urf, etika, tata kehidupan dan seterusnya.
Dan kalau dibreak-down, bahasa Arab mengandung beberapa cabang ilmu seperti adab (sastra), ilmu bayan, ilmu balaghah, ilmul-''arudh, ilmu mantiq, dan lainnya. Semua itu menjadi syarat mutlak yang harus ada di kepala seorang mufassir.
8. Menguasai Cabang-cabang Ilmu yang Terkait dengan Ilmu Tafsir
Kita sering menyebutnya dengan ''Ulumul Quran. Di antara cabang-cabangnya antara lainilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-''aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya.
Tidak pernah ada seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua ilmu tersebut.
9. Pemahaman yang Mendalam
Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu hukum dan syariat Islam. Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan tiap ayat Al-Quran.
Dia juga harus merupakan seorang yang punya logika yang kuat, cerdas, berwawasan, punya pengalaman, serta berkapasitas seorang ilmuwan.
Demikian sekelumit syarat mendasar bagi seorang mufassir sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Manna'' Al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits fi ''Ulumil Quran. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

---------- Post added at 06:13 PM ---------- Previous post was at 06:11 PM ----------

ingat perkataan rasullullah shallohu alaihiwassalam..

Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

sedgedjenar
23-12-2011, 03:28 AM
Quran yang sebenarnya bukan bahasa Arab?? jadi Quran yang sebenarnya bahasa apa donk...

Quran yg sebenarnya itu ada di dada orang mukmin
Jadi jelas udah gak nyambung, quran ente yg berupa buku.
Quran ane yg ada didalam dada.

Pantesan dikasih tau melihat Allah di dunia ente heran ya?
Belum ntar ane tambahin, nabi adam itu ada banyak?
Atau ane kasih tau akhirat itu gak kekal? Surga neraka gak kekal?

Udah ah, silakan dilanjut ke topik

hajime_saitoh
23-12-2011, 08:00 AM
surga neraka gak kekal? adam ada banyak,, kayaknya saya tau tuh bukunya..... tapi lupa siapa tuh yang ngarang... makanya di bilang al-Quran itu butuh orang2 yang menguasai ilmunya agar bisa mentafsirkan dengan sempurna, jadi gak asal tafsir seperti itu....

---------- Post added at 08:00 AM ---------- Previous post was at 07:55 AM ----------

Quran Menyatakan Bahwa Quran Berbahasa Arab

Al-Quran sendiri telahmenyebutkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa arab. Hal ini bisa kita baca dalam salah satu ayat di dalam Al-Quran.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf: 2)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Quraan itu sebagai peraturan dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap Allah. (QS. Ar-Ra'd: 37)

bahasa Arab yang terang. (QS. An-Nahl: 103)

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau Al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS. Thaha: 113)

Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin, ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. As-Syu'ara: 192-195)

Bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab, padahal Al-Quran sendiri secara tegas dan berkali-kali menyebutkan bahwa bahasa yang digunakannnya adalah bahasa arab? Lalu apa maunya orang yang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab? Apakah adadalil yang lebih tinggi derajatnya dari ayat Al-Quran?

gogon
23-12-2011, 09:11 AM
Quran yg sebenarnya itu ada di dada orang mukmin
Jadi jelas udah gak nyambung, quran ente yg berupa buku.
Quran ane yg ada didalam dada.
..

yg berupa buku itu disebutnya mushaf :) isinya ya Qalam Ilahi alias Al-Qur'an.
jadi djenar muslim juga? atau ada agama lain yg kitab suci nya sama-sama bernama Quran?

danalingga
23-12-2011, 10:02 AM
@Gogon:

Kalo Quran itu cuma mushaf, ya nggak bakalan habis tinta selautan donk. ;)

pasingsingan
23-12-2011, 01:13 PM
Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?
menurut saya seh
pemuka agama tdk sama dng ahli ilmu agama
faktanya bnyk yang dianggap pemuka agama
ternyata dari segi keahlian/keilmuan kurang memadai.

menafsirkan suatu teks tentu memerlukan tools
- bahasa
- budaya
- sejarah
- disiplin ilmu terkait

nah, apakah rakyat kebanyakan tidak berhak melakukan tafsir sendiri?
jwbnya, klo rakyat dimaksud adalah awam thd pengetahuan n penguasaan tools diatas
tentu diragukan kapabilitas, kredibilitas n akseptabilitasnya.
jadi bukan sekedar perkara boleh n tidak boleh.


Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya pemuka agama saja yang berhak, para rakyatnya bakal jadi robot sahaja dan juga belum tentu pemuka agama pasti benar. Nah, jika rakyat boleh menafsir, bisa jadi tafsirannya ngawur (karena ilmunya kurang).

Bagaimana pendapat teman-teman?
sbg analogi
ada buku/diktat kedokteran berbahasa inggris
siapa yng berhak/punya otoritas untuk menafsirkan kedlm bhs.Indonesia?
- apakah sembarang orang asal dapat membaca?
- apakah sembarang orang asal dapat berbahasa inggris?

danalingga
23-12-2011, 01:32 PM
^Wah, kalo gitu ceritanya sih, saya pastikan yang berhak menafsir adalah orang yang mengerti bahasa Tuhan. Tanpa itu, mau ngerti bahasa arab 1000x juga tidak berhak menafsir. :D

---------- Post added at 01:32 PM ---------- Previous post was at 01:29 PM ----------

Btw, saya punya pemikiran begini. Bahwa kitab suci itu diturunkan untuk menjawab kebutuhan orang-per-orang yang berbeda-beda. Jadi tafsir untuk seseorang belum tentu applicable buat orang lain. Dalam artian seharusnya tafsir itu nggak saklek harus satu tafsir, bisa banyak tafsir sesuai kondisi masing-masing orang yang unik.

Alip
23-12-2011, 01:44 PM
Sorry... tadi kepleset, eh, jatuhnya ke utasan ini...::maap::


Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

Tergantung agamanya sih... kalau di naskah suci agama ybs disebutkan bahwa penafsiran naskah tersebut hanya berada di tangan si Anu0, Anu1, Anu2 dan seterusnya sampai Anu8764553 di akhir jaman, maka penafsiran memang menjadi hak prerogatif para Anu yang terdaftar. Siapa yang tidak sepaham dengan salah satu dari Anu maka dia dihukumi dosa sesuai dengan ajaran bersangkutan.

Jika ketentuan itu tidak ada...

saya tidak menyebut bahwa sembarang orang awam boleh melakukan penafsiran seenaknya, setuju dengan logika yang dituturkan oleh Eyang Pasingsingan, tapi seseorang (awam sekalipun) tidak diwajibkan untuk menerima suatu penafsiran sebagai dogma atau doktrin yang sejajar dengan naskah suci agama tersebut. Penafsiran tetap sebuah buah karya manusia yang bisa menjadi sasaran keraguan, kritik, sanggahan, dan sebagainya.

Pun, kebanyakan agama diturunkan sekian lama yang lalu, ketika penyebaran keilmuan tidak merata dan banyak anggota masyarakat adalah kaum buta huruf dengan wawasan sekedar lingkungan gubuk penggembalaannya saja. Di jaman ini kita temukan banyak manusia yang memiliki wawasan seluas lingkaran bumi, dan terlatih untuk berpikir secara logis dan sehat... meskipun tidak memiliki hapalan agama sebanyak orang-orang yang profesinya memang menghapal naskah agama, orang-orang seperti ini tidak bisa dikatakan 'tidak berilmu' atau 'awam'. Mereka bisa menjadi penyumbang penafsiran yang baik, mengingat kelebihan mereka dibanding kaum agamawan di bidang-bidang tertentu...


Btw, saya punya pemikiran begini. Bahwa kitab suci itu diturunkan untuk menjawab kebutuhan orang-per-orang yang berbeda-beda. Jadi tafsir untuk seseorang belum tentu applicable buat orang lain. Dalam artian seharusnya tafsir itu nggak saklek harus satu tafsir, bisa banyak tafsir sesuai kondisi masing-masing orang yang unik.

Saya cenderung setuju dengan ini... atau kalau saya pakai kalimat saya sendiri, penafsiran tidak bisa lepas dari persepsi si penafsirnya, yang persepsi itu sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan tempat/jaman dia tinggal.

Orang lain mungkin akan menafsirkan berbeda.

pasingsingan
23-12-2011, 01:50 PM
^Wah, kalo gitu ceritanya sih, saya pastikan yang berhak menafsir adalah orang yang mengerti bahasa Tuhan. Tanpa itu, mau ngerti bahasa arab 1000x juga tidak berhak menafsir.
emangnya bhs tuhan yng spt apa yak?
yng jelas, apapun yng diklaim sbg kitab suci
tentu menggunakan aksara/bahasa yng dimengerti manusia
klo tdk, dipastikan tuhan akan kehilangan legitimasi.



[/COLOR]Btw, saya punya pemikiran begini. Bahwa kitab suci itu diturunkan untuk menjawab kebutuhan orang-per-orang yang berbeda-beda. Jadi tafsir untuk seseorang belum tentu applicable buat orang lain. Dalam artian seharusnya tafsir itu nggak saklek harus satu tafsir, bisa banyak tafsir sesuai kondisi masing-masing orang yang unik.
betul
namanya aja tafsir/hasil penafsiran
tentu fleksibel (tidak fix/rigid)
perbedaan penafsiran orang dulu dng sekarang
dng sendirinya sudah menunjukkan dinamika ilmu tafsir.

gogon
23-12-2011, 01:50 PM
@Gogon:

Kalo Quran itu cuma mushaf, ya nggak bakalan habis tinta selautan donk. ;)

eh? maksudnya Quran yg berbentuk fisik berupa buku/kitab memang sebutannya mushaf .... mushaf Al-Quran.
114 surat / 30 Juz / 6236 ayat
:)

Asum
23-12-2011, 02:33 PM
Aya-aya wae ...#-o

Penjelasan sdr hajime_saitoh itu cukup lengkap, kok gak ada yang komentar atau membahasnya ya ?

Tafsir itu apa sih ?

menurut kamus Bahasa Indonesia, tafsir adalah :
-----------------------
1. keterangan atau penjelasan tt ayat-ayat Alquran agar maksudnya lebih mudah dipahami;
-- harfiah tafsir kata demi kata; -- mimpi penggunaan ciri-ciri modern untuk menguraikan arti mimpi;
me·naf·sir·kan v 1 menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain; 2 menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;
taf·sir·an n penjelasan atau pendapat (tt suatu kata, kalimat, cerita, dsb); interpretasi; hasil menafsirkan;
pe·naf·sir·an n proses, cara, perbuatan menafsirkan; upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yg kurang jelas: ~ nya ditulis dl buku Serat Dewa Ruci
-----------------------

Menurut istilah agama Islam, tafsir adalah الإيضاح و التبـيـين (keterangan dan penjelasan). Sebagaimana firman Allah SWT :


وَلاَ يَأْتـُونَكَ بِمَثـَلٍ إِلاَّ جِئـْنَاكَ بِٱلْحَـقِّ وَأَحْـسـَنَ تـَفْـسِـيراً
Terjemahan bebas : “Dan tidaklah mereka memberikan kepada engkau dengan suatu pemisalan, melainkan Kami berikan pula kebenaran kepada engkau dengan sebaik-baiknya keterangan/penjelasan”. (QS 25:33)


Jadi, tafsir itu terkait penjelasan suatu kalimat yang tidak jelas atau samar-samar menjadi jelas. Karena tidak ada gunanya menjelaskan kalimat yang sudah jelas maknanya atau maksudnya. :)


Bicara soal "bertanya suatu persoalan", Allah SWT berfirman :


فَسْـئَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُـنتُمْ لَا تَعْلامُـوْنَ
Terjemahan bebas : maka bertanyalah kamu kepada orang yang memiliki pengetahuan (akan hal tsb) jika kamu tidak mengetahui (QS 16:43)


Secara akal, memang seharusnya bertanya itu kepada orang yang punya pengetahuan tentang masalah yang akan ditanyakan sehingga bisa memperoleh jawaban yang jelas, dan ini berlaku bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan lebih dibanding orang yang bertanya.


Dan bagi yang tidak memiliki pengetahuan, berhati-hatilah dalam menjawab. Jika tidak tau bilanglah tidak tau. Karena orang yang bertanya itu membutuhkan jawaban yang benar dan jelas, bukan jawaban kira-kira tanpa dasar yang jelas.


Rasulullah saw bersabda terkait orang bodoh yang berlaku seolah-olah mengetahui permasalahan sbb :


إن الله لا يقبض العلم انيزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتي إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رُءُوسا جهالا فسئِلُوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus setelah dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya dari manusia dengan mewafatkan para ulama beserta ilmunya. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan" " (HR. Bukhari)


Jadi, misalnya TS seorang yang memiliki ilmu dan ada yang bertanya, silahkan memberikan jawaban sesuai ilmu yang dimilikinya. Tapi jika TS tidak tau ilmunya, sebaiknya tidak menjawab, cukup katakan "saya tidak tau dasar hukumnya" atau "saya tidak tau cara mengambil hukum dari dasar hukum tsb", dan bukan menjawab "menurut logika saya ..." atau "menurut pendapat (tanpa sandaran dalil) saya ... "

danalingga
23-12-2011, 02:48 PM
emangnya bhs tuhan yng spt apa yak?
yng jelas, apapun yng diklaim sbg kitab suci
tentu menggunakan aksara/bahasa yng dimengerti manusia
klo tdk, dipastikan tuhan akan kehilangan legitimasi.
.

Soal bahasa Tuhan kita bahas lain kali aja ya. :D

Kalo soal bahasa arab. Kalo itu bukannya cukup diserahkan kepada penerjemah? Tidak perlu penafsir.

Alip
23-12-2011, 03:14 PM
Aya-aya wae ...#-o

Penjelasan sdr hajime_saitoh itu cukup lengkap, kok gak ada yang komentar atau membahasnya ya ?
Pertanyaan yang bagus...
Mungkin karena orang lain tidak tertarik membahasnya?


Jadi, misalnya TS seorang yang memiliki ilmu dan ada yang bertanya, silahkan memberikan jawaban sesuai ilmu yang dimilikinya. Tapi jika TS tidak tau ilmunya, sebaiknya tidak menjawab, cukup katakan "saya tidak tau dasar hukumnya" atau "saya tidak tau cara mengambil hukum dari dasar hukum tsb", dan bukan menjawab "menurut logika saya ..." atau "menurut pendapat (tanpa sandaran dalil) saya ... "

Adapun soal bertanya,
setelah mengajukan pertanyaan, seorang penanya mungkin mendapat insight dan bertanya lebih lanjut, atau mendapat jawaban yang berbeda, setelah mencerna jawaban seseorang melalui pola pikirnya sendiri, karena dia juga punya kemampuan berpikir ... tidak harus pertanyaan itu bersifat vertikal kan, dan tidak harus jawaban diterima mentah-mentah.

Asum
23-12-2011, 07:09 PM
Kalo soal bahasa arab. Kalo itu bukannya cukup diserahkan kepada penerjemah? Tidak perlu penafsir.
Kalau boleh tau, kenapa anda perlu tafsir ?:mikir:

gogon
23-12-2011, 07:25 PM
dan kitab suci agama apa yg mau ditafsir? Jangan2 bukan Al-Quran :D

danalingga
23-12-2011, 07:26 PM
Kalau boleh tau, kenapa anda perlu tafsir ?:mikir:

Saya sih nggak perlu tafsir disini (soale bukan pertanyaan saya juga), saya disini cuma ingin tahu apakah memang hanya "pemuka agama" saja yang berhak menafsir. :lol:

Btw, kalo secara general saya mungkin bisa menjawab. Tafsir itu diperlukan untuk mengetahui apa sebenarnya maksud dari suatu ajaran agam agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oh iya, tentunya yang memang belum jelas, kalo sudah jelas sih buat apa lagi di-tafsir.

Yuki
23-12-2011, 08:28 PM
TApakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?
apakah penerbangan suatu pesawat terbang komersil itu menjadi hak prerogatif pilot ya? Sehingga para penumpang tidak berhak sama sekali menerbangkan pesawat terbang

purba
23-12-2011, 08:32 PM
Mengenai tafsir, ane sejalan dgn engkong Pasing dan mbah Alip. Menafsirkan suatu teks membutuhkan penguasaan bahasa teks tsb; kapan, dimana, dan dalam situasi apa teks tsb muncul; juga siapa yg memunculkannya. Kemudian hasil dari tafsiran tsb tidak lepas dari siapa yg menafsirkannya dan utk keperluan apa penafsiran itu dilakukan. Misalkan penafsiran ayat-ayat tertentu dlm Quran. Jelas di situ diperlukan penguasaan bhs Arab, pengetahuan ttg sebab-sebab munculnya ayat-ayat tsb, dan siapa Muhammad. Hasil dari penafsiran Quran tsb juga bergantung pada siapa penafsirnya, misalnya apakah Asum atau si purba. Kalau Asum, dia akan menafsirkan ayat-ayat Quran sesuai dgn keyakinannya sebagai muslim, sedangkan purba akan menafsirkannya sesuai keyakinannya sbg ateis.

:))

danalingga
23-12-2011, 09:07 PM
apakah penerbangan suatu pesawat terbang komersil itu menjadi hak prerogatif pilot ya? Sehingga para penumpang tidak berhak sama sekali menerbangkan pesawat terbang

Emang menafsir sama dengan menerbangkan pesawat?

Asum
23-12-2011, 11:06 PM
Saya sih nggak perlu tafsir disini (soale bukan pertanyaan saya juga), saya disini cuma ingin tahu apakah memang hanya "pemuka agama" saja yang berhak menafsir. :lol:

Siapa yang mengatakan kepada anda bahwa hanya "pemuka agama" saja yang berhak menafsir ? Apa dasarnya ? ::ungg::

Kalau ahlul 'ilmi (orang yang punya pengetahuan tentang hal tsb), maka dia boleh menafsir, terlepas apakah ia merupakan pemuka agama, atau bukan. Tapi jika bukan ahlul 'ilmi (orang yang tidak punya pengetahuan tentang hal tsb), maka tidak pantas dan tidak layak untuk menafsir. Justru sesuai petunjuk Allah SWT, diperintahkan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan. :ngopi:



Btw, kalo secara general saya mungkin bisa menjawab. Tafsir itu diperlukan untuk mengetahui apa sebenarnya maksud dari suatu ajaran agam agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oh iya, tentunya yang memang belum jelas, kalo sudah jelas sih buat apa lagi di-tafsir.
Kalau begitu beres masalahnya, jadi topik ini bisa ditutup kan ::ungg::


btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :


أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
aqimish sholaata
Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


Sholat yang dimaksud apa ya ? :-?

danalingga
23-12-2011, 11:09 PM
^seperti yang saya sebutkan di awal thread, saya menangkap hal tersebut dari diskusi di thread sebelah dimana disebutkan harus bersandar pada ulama (yang saya artikan sebagai pemuka agama). Dan saya bertanya disini karena ingin mengkonfirmasi hal tersebut (kalo lain-lainnya sih cuma bunga bunga doank), jadi lucu juga jika saya ditanya dasarnya saya bertanya. :))

Btw, jangan tutup dululah, mana tahu ada pendapat lain. Kan bukan Asum yang empunya kebenaran, bukan? ;)

Asum
23-12-2011, 11:55 PM
^seperti yang saya sebutkan di awal thread, saya menangkap hal tersebut dari diskusi di thread sebelah dimana disebutkan harus bersandar pada ulama (yang saya artikan sebagai pemuka agama). Dan saya bertanya disini karena ingin mengkonfirmasi hal tersebut (kalo lain-lainnya sih cuma bunga bunga doank), jadi lucu juga jika saya ditanya dasarnya saya bertanya. :))

ulama itu apa ? artinya apa ? ::ungg::


Btw, jangan tutup dululah, mana tahu ada pendapat lain. Kan bukan Asum yang empunya kebenaran, bukan? ;)
Tentu saja bukan, itu hak TS dan moderator untuk menutup. Saya hanya menyarankan, jika suadh clear masalahnya, buat apa diperpanjang ?

dan boleh dong saya tau jawaban anda untuk yang saya tanyakan di atas :

btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :

أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
aqimish sholaata
Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


Sholat yang dimaksud apa ya ?
Ini terkait materi awal topik kok, insya Allah.

Anda gak mau jawab juga gpp. Feel free aja ... :ngopi:

---------- Post added at 11:55 PM ---------- Previous post was at 11:37 PM ----------


ILMU TAFSIR AL-QUR’AN
...
Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.
...
Sekedar menambahkan saja, hadits di atas ada dalam Kitab Sunan At-Tarmidzi no.2951, dan imam At-Tarmidzi berkata soal hadits tsb di atas : Ini adalah hadits Hasan Shahih

danalingga
23-12-2011, 11:55 PM
Disini threadnya berdasarkan thread sebelah, jadi saya mengartikan ulama sesuai dengan keadaan thread sebelah juga, yang lebih condong bahwa ulama itu maksudnya pemuka agama.

Soal itu bukan arti ulama sebenarnya sih mungkin Asum bisa menjelaskan (tapi itu diluar kontex pertanyaan saya di-thread ini, jadi mungkin bisa di-thread lainnya). Toh, saya sendiri menganggap Sedgejenar sebagai ulama karena saya anggap memiliki ilmu agama Islam yang mumpuni (tentu dengan pengertian ulama adalah orang yang berilmu Islam. Tapi sekali lagi, ini diluar kontex pertanyaan saya disini.

Untuk pertanyaan yang lain, saya memilih no comment.

hajime_saitoh
24-12-2011, 12:01 AM
dalam hal tafsir,,, dibutuhkan bukan sekedar ulama tapi seseorang yang berilmu sangat tinggi dibidangnya, karena masalah tafsir tanggung jawabnya sangat berat dan ilmu yang dibutuhkan sangatlah banyak... samapai sekarang pun kitab2 tafsir yang utama dipakai teteap pegangannya yang itu-itu juga karena kebakuan dari ilmu tafsir, paling perbedaan antara kitab tafsir yang satu dengan yang lain sangat tipis....

dalam islam kita berbicara tanpa memiliki ilmu tentang apa yang dibicarakan itu sangat dilarang apalagi sok2 mau nafsirin al-Quranm tanpa punya ilmunya,, itu diancam dengan neraka...

pasingsingan
24-12-2011, 12:13 AM
Soal bahasa Tuhan kita bahas lain kali aja ya. :D

Kalo soal bahasa arab. Kalo itu bukannya cukup diserahkan kepada penerjemah? Tidak perlu penafsir.
its okay, no problem ttg bhs tuhan

terjemah dng tafsir boleh dibilang serupa tapi tak sama
terjemah = murni transliteration/alih bahasa
tafsir = transliteration + interpretation

kembali ke anologi saya diatas
klo buku/diktat kedokteran berbahasa inggris
diserahkan hanya kpd ahli berbahasa inggris semata
kira2 berapa persen substansi ilmu kedokterannya yng dapat terkuak yak? :-?

Asum
24-12-2011, 12:16 AM
Disini threadnya berdasarkan thread sebelah, jadi saya mengartikan ulama sesuai dengan keadaan thread sebelah juga, yang lebih condong bahwa ulama itu maksudnya pemuka agama.

Soal itu bukan arti ulama sebenarnya sih mungkin Asum bisa menjelaskan (tapi itu diluar kontex pertanyaan saya di-thread ini, jadi mungkin bisa di-thread lainnya).

Padahal di sini lah pokok persoalannya. Anda berasumsi atau menduga-duga arti ulama tsb menjadi pemuka agama. Ulama itu kata serapan dari bhs Arab عُلَمَاءُ ('ulama), yang merupakan jamak dari kata benda (isim) عَلِيْمٌُ ('aliim) yang artinya "orang yang memiliki pengetahuan". Berasal dari kata kerja lampau (fi'il madhi) عَلِمَ ('alima=mengetahui).

Jadi pernyataan yang saya beri warna merah tsb tidak salah secara istilah, karena kata tsb merupakan kata serapan dari bhs Arab. Sama seperti sholat, Zakat, dll.

Maka kalimat yang berwarna merah tsb, saya kembalikan kepada anda, untuk anda renungkan :

di thread sebelah dimana disebutkan harus bersandar pada ulama (yang saya artikan sebagai pemuka agama orang yang memiliki pengetahuan).


Toh, saya sendiri menganggap Sedgejenar sebagai ulama karena saya anggap memiliki ilmu agama Islam yang mumpuni (tentu dengan pengertian ulama adalah orang yang berilmu Islam. Tapi sekali lagi, ini diluar kontex pertanyaan saya disini.

Silahkan, jika dia anda anggap sebagai ulama (yang menurut anda "pemuka agama"). Tapi apakah dengan demikian, ybs jadi bahan rujukan anda untuk bertanya atau untuk jadi bahan olok-olok tentang kapasitas keilmuannya ? :)>-


Untuk pertanyaan yang lain, saya memilih no comment.
Tidak ada masalah.

Justru dari jawaban tsb akan jelas apakah pantas awam yang jahil (bodoh) menafsir sedangkan dia bukan termasuk 'ulama ... Maka secara tidak langsung gugatan class action anda gugur dengan sendiri :)>-


:ngopi:

Alip
24-12-2011, 05:38 AM
Jadi maksud Danalingga, ketika kita membuat pengamatan bahwa bumi mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya, apakah para ulama dan pemuka agama berhak untuk mengajukan kita ke pengadilan karena tuduhan heresy dan blasphemy?


sedangkan purba akan menafsirkannya sesuai keyakinannya sbg ateis.
:))
Nah loh... bakal berapa jilid buku tafsirannya?::hihi::




Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.
Sekedar menambahkan saja, hadits di atas ada dalam Kitab Sunan At-Tarmidzi no.2951, dan imam At-Tarmidzi berkata soal hadits tsb di atas : Ini adalah hadits Hasan Shahih

Tanyaaaa.... dan ini beneran nanya...
Dalam hadits ini, apa saja yang dimaksud dengan ilmu? Secara waktu itu Rasulullah masih hidup dan ilmu tafsir belum dibuat?

Nanya lagi...
jika tafsir hanya terbatas pada ayat-ayat yang perlu penafsiran, kenapa buku-buku tafsir volumenya gede-gede? Bukankah lebih banyak ayat yang jelas ketimbang ayat yang samar?


... samapai sekarang pun kitab2 tafsir yang utama dipakai teteap pegangannya yang itu-itu juga karena kebakuan dari ilmu tafsir, paling perbedaan antara kitab tafsir yang satu dengan yang lain sangat tipis....
Ada nggak kitab tafsir yang di-ban? Dilarang beredar karena dianggap tidak sesuai dan sesat?
Mungkin itu sebabnya makanya kitab tafsir yang beredar cuma seputar itu-itu saja... misalnya karena pemerintah cuma mengijinkan keberadaan golkar? (lah... kok jadi ngaco gini contohnya?::arg!::)

Cuma nanya koqqqq....::maap::

Asum
24-12-2011, 06:17 AM
Tanyaaaa.... dan ini beneran nanya...
Dalam hadits ini, apa saja yang dimaksud dengan ilmu?

'ilmu itu yang pengetahuan, dan sesuai konteks hadits adalah pengetahuan soal al-Qur'an.


Secara waktu itu Rasulullah masih hidup dan ilmu tafsir belum dibuat?

Kata siapa ?

Coba cek lagi di posting #23 (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3302-Apakah-Tafsir-Itu-Harus-dilakukan-Pemuka-Agama&p=111949&viewfull=1#post111949)


وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Ad-Dzikra (al-Qur’an), agar kamu menerangkan/menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” (QS 16:44)


Nanya lagi...
jika tafsir hanya terbatas pada ayat-ayat yang perlu penafsiran, kenapa buku-buku tafsir volumenya gede-gede? Bukankah lebih banyak ayat yang jelas ketimbang ayat yang samar?
Karena tafsir diperuntukkan untuk lebih menjelaskan/menerangkan maksud yang dituju oleh Al-Qur'an bagi bangsa non Arab. Padanan kata, atau majaz dalam bhs Arab, belum tentu sesuai maksudnya dengan bhs aslinya (yaitu Arab).

Kalau menurut anda sudah jelas, anda gak usah baca buku tafsir saja. Bereskan.

O-iya, mungkin anda mau bantu menjawab apa yang saya tanya ke danalingga di post #32 (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3302-Apakah-Tafsir-Itu-Harus-dilakukan-Pemuka-Agama&p=112179&viewfull=1#post112179)

btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :

أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
aqimish sholaata
Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


Sholat yang dimaksud apa ya ?

http://www.kopimaya.com/forum/image.php?u=17&dateline=1297944999

Alip
24-12-2011, 07:00 AM
'ilmu itu yang pengetahuan, dan sesuai konteks hadits adalah pengetahuan soal al-Qur'an.
Ya itu pertanyaan saya... pengetahuan soal Qur'an itu yang seperti apa. Soalnya di waktu itu kan ayat-ayat masih terus turun, dan ada Rasulullah yang dijadikan tempat bertanya...

Jadi waktu itu ada kasus apa sampai hadits ini dikeluarkan? apa ada kejadian orang yang ngaku lebih tahu soal Qur'an dibanding Rasulullah?


Kata siapa ?

Coba cek lagi di posting #23 (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3302-Apakah-Tafsir-Itu-Harus-dilakukan-Pemuka-Agama&p=111949&viewfull=1#post111949)


وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Ad-Dzikra (al-Qur’an), agar kamu menerangkan/menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” (QS 16:44)

Nah sesuai sama pertanyaan saya di atas 'kan? "kamu" di situ maksudnya Rasulullah 'kan?
Di periode itu Rasulullah adalah sumber keterangan, penafsir pertama dan utama ... jadi ilmu tafsir macam apa yang dimaksud harus dikuasai oleh orang-orang pada saat itu?

atau 'tafsir' di hadits tadi konteksnya berbeda dengan ilmu tafsir baku yang dijelaskan panjang lebar oleh Kang Hajime sebelumnya? yaitu seperti yang disebutkan di bawah ini?


Karena tafsir diperuntukkan untuk lebih menjelaskan/menerangkan maksud yang dituju oleh Al-Qur'an bagi bangsa non Arab. Padanan kata, atau majaz dalam bhs Arab, belum tentu sesuai maksudnya dengan bhs aslinya (yaitu Arab).

...yaitu ilmu tafsir yang datang belakangan... ketika Islam tidak lagi terbatas di Yathrib, tapi sudah jadi imperium yang ekspansi ke mana-mana...


Kalau menurut anda sudah jelas, anda gak usah baca buku tafsir saja. Bereskan.
sip... beres...


O-iya, mungkin anda mau bantu menjawab apa yang saya tanya ke danalingga di post #32 (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3302-Apakah-Tafsir-Itu-Harus-dilakukan-Pemuka-Agama&p=112179&viewfull=1#post112179)


http://www.kopimaya.com/forum/image.php?u=17&dateline=1297944999

Apa ya?
Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan gitu? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Selalu berprasangka baik sama niatan orang? Gitu kali ya?
::ungg::

Asum
24-12-2011, 07:05 AM
...
Apa ya?
Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
::ungg::
Jadi itu pemahaman anda soal kutipan dalam ayat al-Qur'an tsb ?

Gak kebayang jika anda menjelaskan kepada orang lain yang bertanya kepada anda soal maksud ayat tsb. Padahal yang sedang dijadikan bahasan adalah firman Allah SWT.



وإذا علم من ءايتنا شئا أتخذها هزوا
Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok ... (QS 45:9)

Alip
24-12-2011, 07:10 AM
Loh, terus yang dimaksud mendirikan sholat itu apa? Masak sekedar gerak-gerik tapi habis itu tetep pakai Windows bajakan... nggak ada bekasnya dong?

Lalu bagaimana dengan pertanyaan saya yang lain?

purba
24-12-2011, 07:11 AM
Nah.. al-mukarom al-ustad Asum rodiyallahuanhu mulai mengalihkan pokok obrolan seperti yg sudah-sudah. :))

Padahal pertanyaan ya habibi mbah Alip mengenai pengetahuan Quran seperti apa yg harus dipenuhi dlm penafsiran Quran belum terjawab oleh al-mukarom al-ustad Asum radiyallahuanhu.

:))

Ronggolawe
24-12-2011, 08:23 AM
ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali
pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan
pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al
Quran. Yang penting niatnya tulus untuk mencari
kebenaran dan ridha Allah SWT semata, bukan un
tuk kepentingan yang lainnya.

Al Quran (dan kitab suci lainnya dimata masing-
masing umat yang meyakini kebenarannya) tidak
lah "sekering" itu maknanya. Membacanya saja,
tanpa memahami artinya sudah mendatangkan
banyak hidayah Allah, baik bagi yang membaca
maupun yang mendengarnya. Apalagi bagi mere
ka yang mau mendalami dengan segala keterba
tasannya.

Apa gunanya mencapai tingkatan keahlian yang
layak digelari Mufassir, kalau tidak mampu meng
ayomi umat yang bertanya, apalagi kalau jawa
ban yang diberikan cuma sebatas unjuk kemam
puan belaka... :)

purba
24-12-2011, 09:07 AM
sedangkan purba akan menafsirkannya sesuai keyakinannya sbg ateis.
Nah loh... bakal berapa jilid buku tafsirannya?::hihi::


Justru malah ringkas dan enlighten mbah... :))

Yg kadang bikin sulit dlm memahami Quran sehingga perlu tafsiran yg aneh-aneh, tebal-tebal, dan berjilid-jilid adalah adanya constraint dari iman sbg muslim. Sang iman ini yg membuat Quran ditakuti dan menempatkan Muhammad sebagai the untouchable. Nah, apakah iman tsb juga syarat yg harus dipenuhi dlm menafsirkan Quran?

Misal masalah tujuh lapis langit. Tafsiran klasik (yg ane tau) umumnya menyerahkan kembali masalah tujuh lapis legit eh langit tsb kepada sang penciptanya, Allah swt. Sedangkan muslim modern yg kebetulan belajar fisika di negeri kafir berusaha menafsirkan tujuh lapis langit dengan bantuan teori-teori fisika mutakhir. Itu dilakukan karena apa? Ya itu tadi: Iman. Bagaimana sang iman kok bisa sampe membatasi penafsiran? Yg klasik sudah jelas, mereka tdk tahu apa-apa, sehingga mereka kembalikan saja artinya pada Allah swt, karena frase tujuh lapis langit pun berasal dari Allah swt. Beres. Yg modern gak menyerah begitu saja. Mereka meyakini frase tujuh lapis langit datang dari Allah swt yg maha tinggi ilmunya dan bersamaan dengan itu mereka melihat fisika sebagai aktivitas pembacaan ayat-ayat Allah swt di alam raya, sehingga mereka merasa menemukan kecocokan antara dua hal tsb. Akhirnya ditafsirkanlah frase tsb dgn hasil-hasil terkini fisika modern.

Lha kalo ane yg ateis simpel aja melihatnya. Kalo mo memahami frase tujuh lapis langit, lihat saja gimana kemajuan ilmu astronomi pada jaman Muhammad hidup, kemana saja dulu dia melancong sehingga bisa diperkirakan ilmu apa saja yg dia terima selama melancong tsb. Pada jaman tsb astronomi sudah cukup maju. Artinya orang sudah mengenal planet hingga saturnus yg bercincin tsb. Juga pada jaman itu langit digambarkan berlapis-lapis. Lapisan pertama misalnya tempat matahari, lapisan kedua bulan, ketiga venus, dst, hingga lapisan ketujuh sbg lapisan terluar tempat bintang-bintang bertaburan. Kalo tanpa iman, jadi sederhana kan memahaminya. Sebab, dgn tanpa iman, tidak ada kedudukan "wah" yg diberikan pada Muhammad dan Quran. ;)

:kabur: ....... :piso:.............::doh::
purba..............Asum..............Alip

Asum
24-12-2011, 10:01 AM
Loh, terus yang dimaksud mendirikan sholat itu apa? Masak sekedar gerak-gerik tapi habis itu tetep pakai Windows bajakan... nggak ada bekasnya dong?


Jika jawaban ini :

Apa ya?
Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
merupakan jawaban terbaik anda dalam memahami firman Allah SWT : أَقِمِ الصَّلَوٰةَ (aqimish sholat=dirikanlah sholat) ?

Dan bagaimana seandainya penjelasan anda tsb dikerjakan orang lain, bahwa maksud aqimish shalat itu artinya

Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
Inikah jawaban dari orang awam (http://www.artikata.com/arti-320040-awam.html) yang ingin diakui keberadaannya dalam menafsir al-Qur'an ?


Maka anda terkena apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw :


فسئِلُوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا
Mereka ditanya dan mereka menjawab dengan tanpa 'ilmu (pengetahuan), maka mereka orang-orang yang sesat dan menyesatkan


Memahami zhahir pertanyaan saja tidak mampu, apalagi mau menjelaskan maksud yang tersirat dalam suatu kalimat. ::doh::

Padahal pertanyaan saya sih sederhana :

Sholat yang dimaksud apa ya ?

Dan anda menjawab di atas ... http://www.kopimaya.com/forum/images/smilies/114.gif


Lalu bagaimana dengan pertanyaan saya yang lain?Anda menuntut orang laing memberikan jawaban sedangkan anda dalam menjawab asal-asalan ?*

Asal tau saja, pertanyaan saya tsb nantinya terkait dengan apa yang telah disampaikan oleh sdr hajime_saitoh dan juga pertanyaan anda lainnya.


Tapi sudahlah ... anda kan orang pintar, paham al-Qur'an tidak perlu bantuan 'ulama, apalagi saya (firman Allah saja dijadikan olok-olok, apalagi sabda Rasulullah saw dan perkataan selainnnya).



ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al-Quran.

Awam ... menurut kamus : http://www.artikata.com/arti-320040-awam.html

adjective
1. umum; am; kebanyakan; biasa; tidak istimewa; 2 n orang kebanyakan; orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);
meng·a·wam·kan v 1 mengumumkan; menyampaikan; (me-nyiarkan dsb) kpd orang banyak; 2 mengutarakan; menganjurkan; mengusulkan;
ke·a·wam·an n perihal awam: ~ bangsa kita di bidang teknologi canggih, kini semakin mengecil dng dapatnya menguasai teknologi kedirgantaraan;
peng·a·wam n penganjur: ia bertindak sbg ~ penanaman padi unggul
Jadi bicara awam, maka dia itu termasuk orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);

Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ketentaraan memberikan penjelasan soal ketentaraan ?

Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ilmu kedokteran memberikan penjelasan soal ilmu kedokteran ?

Masa orang yang gak ngerti soal (misal) sejarah memberikan penjelasan soal sejarah ?

::oops::

aya ... aya ... wae...

hajime_saitoh
24-12-2011, 10:42 AM
btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :

أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
aqimish sholaata
Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


Sholat yang dimaksud apa ya ?

nah disnililah letak diperlukannya tafsir... dan memang banyak ayat dial-Quran yang menjelaskan tentang perintah ibadah namun tidak menjelaskan secara detil ibadahnya apa... nah penjelasannya ada di hadits, makanya sistem tafsir yang kedua setelah mentafsirkan al-Quran dengan al-Quran barulah menafsirkan al-Quran dengan hadits

danalingga
24-12-2011, 11:23 AM
@Asum: Seperti yang saya katakan, thread ini sifatnya mengkonfirmasi saja tentang thread sebelah. Jadi saya pake arti ulama dari thread sebelah bukan arti ulama sebenarnya. Ini gugur ketika ternyata saya salah mengartikan alias hajime_saitoh mengkonfirmasi bahwa maksud ulama yang dia utarakan bukan seperti dugaan saya.


dalam hal tafsir,,, dibutuhkan bukan sekedar ulama tapi seseorang yang berilmu sangat tinggi dibidangnya, karena masalah tafsir tanggung jawabnya sangat berat dan ilmu yang dibutuhkan sangatlah banyak... samapai sekarang pun kitab2 tafsir yang utama dipakai teteap pegangannya yang itu-itu juga karena kebakuan dari ilmu tafsir, paling perbedaan antara kitab tafsir yang satu dengan yang lain sangat tipis....

dalam islam kita berbicara tanpa memiliki ilmu tentang apa yang dibicarakan itu sangat dilarang apalagi sok2 mau nafsirin al-Quranm tanpa punya ilmunya,, itu diancam dengan neraka...

Berarti masyarakan yang bukan "ulama", tapi punya ilmu-nya berhak menafsir toh? dan sebaliknya walau "ulama": tapi tidak punya ilmunya maka tidak berhak menafsir.

Btw, arti ulama menurutmu apa sih?

---------- Post added at 11:23 AM ---------- Previous post was at 11:17 AM ----------


its okay, no problem ttg bhs tuhan

terjemah dng tafsir boleh dibilang serupa tapi tak sama
terjemah = murni transliteration/alih bahasa
tafsir = transliteration + interpretation

kembali ke anologi saya diatas
klo buku/diktat kedokteran berbahasa inggris
diserahkan hanya kpd ahli berbahasa inggris semata
kira2 berapa persen substansi ilmu kedokterannya yng dapat terkuak yak? :-?

Ok, ternyata memang untuk menerjamahkan juga harus mengerti substansi dari yang
diterjamahkan itu agar hasil terjemahannya lebih mengena. Btw, setahu saya,
hasil terjemahan kedokteran tersebut pun menjadi tidak berguna ketika yang membaca
tidak mengerti ilmu kedokteran.

Disini artinya walau telah di-tafsir (diterjemahkan) oleh sang ahli yang
mengerti bahasa arab (dalam hal ini Al Quran), maka kita sebagai warga umum
pecuma juga membaca hasil terjemahan tersebut jika tidak menguasai ilmun substansi juga.

Btw, yang saya maksudkan tafsir dari tadi itu adalah kegiatan kita
"membaca" hasil terjemahan dari para ahli tersebut
(makanya saya bilang tidak butuh bahasa arab).


Bukan begitu jadinya?

Ronggolawe
24-12-2011, 04:56 PM
Awam ... menurut kamus : http://www.artikata.com/arti-320040-awam.html

Jadi bicara awam, maka dia itu termasuk orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);

Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ketentaraan memberikan penjelasan soal ketentaraan ?

Masa orang yang gak ngerti soal (misal) ilmu kedokteran memberikan penjelasan soal ilmu kedokteran ?


Masa orang yang gak ngerti soal (misal) sejarah memberikan penjelasan soal sejarah ?

::oops::

aya ... aya ... wae...

keknya loe lupa, gw nulisnya


Originally Posted by Ronggolawe
ah, menurut gw setiap manusia, yang awam sekali pun berhak menafsirkan Al Quran untuk keperluan pribadinya, biarpun modalnya cuma terjemahan Al-Quran.
untuk keperluan pribadi gw, ngga ada urusannya
dengan siapapun untuk melarang gw memahami
tentara, kedokteran, sejarah, bahkan agama se
suai dengan kapasitas ke-awaman gw.

yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah
seberapa dalam ilmu yang dimiliki dalam memaha
mi kandungan ilmu Allah yang ada pada Al Quran,
melainkan seberapa lurus hatimu dalam memaha
minya, serta seberapa murni dan bersih niatan
kita.

pasingsingan
24-12-2011, 05:20 PM
Misal masalah tujuh lapis langit. Tafsiran klasik (yg ane tau) umumnya menyerahkan kembali masalah tujuh lapis legit eh langit tsb kepada sang penciptanya, Allah swt. Sedangkan muslim modern yg kebetulan belajar fisika di negeri kafir berusaha menafsirkan tujuh lapis langit dengan bantuan teori-teori fisika mutakhir. Itu dilakukan karena apa? Ya itu tadi: Iman. Bagaimana sang iman kok bisa sampe membatasi penafsiran? Yg klasik sudah jelas, mereka tdk tahu apa-apa, sehingga mereka kembalikan saja artinya pada Allah swt, karena frase tujuh lapis langit pun berasal dari Allah swt. Beres. Yg modern gak menyerah begitu saja. Mereka meyakini frase tujuh lapis langit datang dari Allah swt yg maha tinggi ilmunya dan bersamaan dengan itu mereka melihat fisika sebagai aktivitas pembacaan ayat-ayat Allah swt di alam raya, sehingga mereka merasa menemukan kecocokan antara dua hal tsb. Akhirnya ditafsirkanlah frase tsb dgn hasil-hasil terkini fisika modern.
good job pur ::up::
itulah contoh penafsiran yng dinamis
secara literal emang terjemahan harafiahnya spt yng ente contohkan
makna/tafsir yng sebenarnya tentu sesuai konteks yang berkembang
dijaman nabi Muhammad, krn keterbatasan tools yng dimiliki
atau tingkat pencapaian iptek umat manusia belom spt saat ini
mungkin untuk amannya atau gampangnya, lebih baek tidak ditafsirkan
alias dibiarkan sbg misteri oleh umat saat itu.

Apakah ada upaya mencocok-cocokkan agar tafsir kitab suci sesuai iptek?
bukan tafsirnya yng dicocok-cocokkan, tetapi krn kegiatan menafsir itu sendiri
adalah bagian dari iptek, ostosmastis ilmu tafsir juga mengalami enrichment
atau pengayaan makna, sesuai perkembangan iptek itu sendiri.

masih banyak lagi contoh terjemahan harafiah yng serupa spt misal
- gunung berjalan
- mata hari tenggelam dilaut berlumpur
- bintang bertabrakan
Mungkin saat ini sudah didapat pendekatan kontekstualnya


Disini artinya walau telah di-tafsir (diterjemahkan) oleh sang ahli yang
mengerti bahasa arab (dalam hal ini Al Quran), maka kita sebagai warga umum
pecuma juga membaca hasil terjemahan tersebut jika tidak menguasai ilmun substansi juga.
ya gak segitunyalah
tdk semua persoalan memerlukan penafsiran njelimet (baca canggih)
ada hal2 yng simple/praktis juga, dari terjemahan literalnya saja dah langsung
dapat ditangkap/dimengerti oleh orang awam sekalipun.
misal:
- Dilarang mencuri
- Dilarang membunuh
- Dilarang memperkosa
- Dlsb.



Btw, yang saya maksudkan tafsir dari tadi itu adalah kegiatan kita
"membaca" hasil terjemahan dari para ahli tersebut
(makanya saya bilang tidak butuh bahasa arab).
Yup
brarti kita tinggal memanfaatkan karya penafsiran orang/ahli lain to?
ya iyalah, buat apa capek2 blajar bhs arab, hare gene gitu loh
banyaknya informasi tersedia dan dng mudah dapat diakses kapan saja, iya gak?

Tetapi klo ente pengen menggali sendiri dari sumbernya , tentu saja penguasaan bhs kitab suci
menjadi prasyarat wajib.

Alip
24-12-2011, 05:21 PM
Jika jawaban ini :


Apa ya?
Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
merupakan jawaban terbaik anda dalam memahami firman Allah SWT : (aqimish sholat=dirikanlah sholat) ?

Ya jika jawaban itu kurang memenuhi selera Kang Asum, mohon diparingi ampun. Bahasa saya memang masih kurang gaul. Kalau harus memberi contoh bahwa seorang yang mendirikan sholat itu adalah orang yang sepanjang harinya selalu terjaga hatinya dari hal yang keji dan munkar sehingga dia tidak mencuri unta tetangganya... di lingkungan saya orang tidak mencuri unta, mereka membajak Windows... esensinya sama, tapi contoh yang pertama meleset ribuan kilometer ke barat.


Dan bagaimana seandainya penjelasan anda tsb dikerjakan orang lain, bahwa maksud aqimish shalat itu artinya

Apa maksudnya jangan pake Windows bajakan? Jangan ngeforum kalau sedang di kantor, kerja yang tekun? Berbaik sapa sama orang lain? Gitu kali ya?
Inikah jawaban dari orang awam yang ingin diakui keberadaannya dalam menafsir al-Qur'an ?
Maka sholat orang itu akan menjaganya dari mencuri hak karya orang lain, tidak korupsi waktu kerja di kantor, tidak sembarangan menuduh orang lain sebagai awam, bodoh, dan kurang ilmu, dan semacamnya. Boleh juga-lah di jaman sekarang...

Kalau jawaban itu cuma dianggap cuma ingin eksis, ya, saya hargai kok. Saya memang bukan ulama besar yang dituhankan, yang kata-kata saya seberapapun ngaconya harus diterima sebagai kebenaran. Itu konsumsi saya sendiri kok... kalau tidak cocok dengan Kang Asum dan yang lainnya, ya saya cuma njawab pertanyaan, bukan mendakwahi orang.


Maka anda terkena apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw :
Mereka ditanya dan mereka menjawab dengan tanpa 'ilmu (pengetahuan), maka mereka orang-orang yang sesat dan menyesatkan

Alhamdulillah... kepandaian Kang Asum dalam memilih ayat dan hadist sesuai memang saya akui.


Anda menuntut orang lain memberikan jawaban sedangkan anda dalam menjawab asal-asalan ?*
Nggak menuntut kok...Kalau Kang Asum memilih untuk tidak menjawab juga tidak apa-apa. Kan dialog, boleh saja menolak.


Tapi sudahlah ... anda kan orang pintar, paham al-Qur'an tidak perlu bantuan 'ulama, apalagi saya (firman Allah saja dijadikan olok-olok, apalagi sabda Rasulullah saw dan perkataan selainnnya).
Dengan demikian dialog kita akhiri sampai di sini. Sampai jumpa pada kesempatan yang lain.

Asum
24-12-2011, 06:39 PM
keknya loe lupa, gw nulisnya

Tidak lupa, cek aja. Saya kutip juga kok kalimat tsb :)


untuk keperluan pribadi gw, ngga ada urusannya
dengan siapapun untuk melarang gw memahami
tentara, kedokteran, sejarah, bahkan agama se
suai dengan kapasitas ke-awaman gw.

Makanya Allah SWT berfirman sebagaimana yang saya sampaikan di atas

فَسْـئَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُـنتُمْ لَا تَعْلامُـوْنَ
Terjemahan bebas : maka bertanyalah kamu kepada orang yang memiliki pengetahuan (akan hal tsb) jika kamu tidak mengetahui (QS 16:43)


yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah
seberapa dalam ilmu yang dimiliki dalam memaha
mi kandungan ilmu Allah yang ada pada Al Quran,
melainkan seberapa lurus hatimu dalam memaha
minya, serta seberapa murni dan bersih niatan
kita.
Betul bahwa Allah SWT itu melihat hati hambanya, atau niatnya. Namun niat yang baik, salah dalam melaksanakan perintah ... ya berdosa. Misal niat anda menolong ybs berwira usaha dengan memberikan usaha jualan daging babi <<< niat bener, mulia. Caranya salah bisa berdosa. Tapi bagi orang jahil (bodoh), perbuatan tsb dapat dima'afkan, karena tidak tau.

Atau misal, niat anda shalat maghrib. menurut pemikiran anda 1 raka'at cukup karena dalam al-Qur'an gak dijelasin jumlah raka'at yang musti anda kerjakan. Niat bener (memenuhi perintah shalat), cara-nya salah (tidak sesuai petunjuk Rasulullah saw) <<< tidak sah ibadah anda alias batal.

Makanya pentingnya mendengar apa yang sampaikan oleh orang yang lebih tau dari anda.

Sudah dikasih tau bahwa hal tsb salah/keliru sesuai dalil, anda tetep ngotot bahwa jualan daging babi gak apa-apa sesuai pemahamannya, anda berdosa. Karena kebenaran tsb sudah sampai kepada anda, hanya hati anda yang tidak mau terbuka untuk menerima kebenaran tsb.


Allahu A'lam

Hadakallah.

Ronggolawe
24-12-2011, 07:12 PM
Tidak lupa, cek aja. Saya kutip juga kok kalimat tsb
emang loe kutip, tapi dalam contra-argumen yang
loe ajukan, loe menafikan kata "untuk keperluan
pribadi" tersebut :)



Betul bahwa Allah SWT itu melihat hati hambanya, atau niatnya. Namun niat yang baik, salah dalam melaksanakan perintah ... ya berdosa. Misal niat anda menolong ybs berwira usaha dengan memberikan usaha jualan daging babi <<< niat bener, mulia. Caranya salah bisa berdosa. Tapi bagi orang jahil (bodoh), perbuatan tsb dapat dima'afkan, karena tidak tau.
hahaha... emang ada ya terjemahan Al Quran yang
membolehkan makan babi? emang ada terjemahan
Al Quran yang membolehkan jualan barang haram?

ekstrim banget cara loe mengambil contoh, yang
justru tidak realistis...



Atau misal, niat anda shalat maghrib. menurut pemikiran anda 1 raka'at cukup karena dalam al-Qur'an gak dijelasin jumlah raka'at yang musti anda kerjakan. Niat bener (memenuhi perintah shalat), cara-nya salah (tidak sesuai petunjuk Rasulullah saw) <<< tidak sah ibadah anda alias batal.

ini lagi, ngapain juga gw menafsirkan ayat yang
sudah jelas, apalagi jumlah raka'at shalat nabi
itu umum diketahui orang banyak, "sanad"nya ten
tu saja dari semua jama'ah yang pernah ikut sha
lat berjama'ah bareng nabi :)

ngga bisa ya, loe nemuin penafsiran orang awam
yang lurus niatnya, namun keliru? :)



Makanya pentingnya mendengar apa yang sampaikan oleh orang yang lebih tau dari anda.

Sudah dikasih tau bahwa hal tsb salah/keliru sesuai dalil, anda tetep ngotot bahwa jualan daging babi gak apa-apa sesuai pemahamannya, anda berdosa. Karena kebenaran tsb sudah sampai kepada anda, hanya hati anda yang tidak mau terbuka untuk menerima kebenaran tsb.

kekeke... kapan gw menafsirkan jualan daging babi,
bro? Diskusi saja loe sudah ngga jujur, bagaimana
pengajaran yang loe niatkan baik bisa diterima orang
lain?

akhirnya gw malah teringat untuk mengutip ayat

"Sesungguhnya agama disisi Allah, ialah Islam. Tia
dalah berselisih ahli ahli Kitab melainkan setelah
datang ilmu pengetahuan kepada mereka kerana
berdengki dengki sesamanya. Barang siapa yang
kafir akan ayat ayat Allah, maka sesunggunya
Allah bersegera menghisabnya"

ternyata perselisihan dalam menafsirkan bukan kare
na perbedaan ilmu, namun karena hati yang tidak lu
rus dalam mencari kebenaran agama.

Itu menurut penafsiran gw yang awam bin jahil ini :)

gogon
24-12-2011, 09:22 PM
ayat Al-Qur'an sendiri ada bbrp yang sudah expired karena sudah diganti dengan ayat yg lebih baru. Namun ayat yg expired itu sebagian masih dicantumkan agar umat tahu proses dan sejarahnya. Kalo ga salah namanya 'manshuh'. CmiiW.
Nah kalo yg manshuh itu masih ditafsirkan oleh orang awam, gimana tuh, bahaya dong.
Salah satu contoh ayat yg sdh manshuh tsb kurang lebih artinya sbb (terjemahan bebas): '... Dan janganlah kamu memakan riba yg banyak'.
Nah kalo ada orang awam yg kebetulan baca sepotong itu, gimana menafsirkannya? Bisa jadi dia narik kesimpulan: wah kalo riba dikit boleh donk ;D
nah yg manshuh ini termasuk bekal dalam ilmu tafsir. TOOLS kalo mbah pasing bilang :)
..
Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu? :)

sedgedjenar
24-12-2011, 11:19 PM
btw, contoh menurut al-Qur'an dikatakan :


أَقِمِ الصَّلَوٰةَ
aqimish sholaata
Terjemahan bebas : Dirikanlah sholat


Sholat yang dimaksud apa ya ? :-?

misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

bapak ini berhak gak nafsirin ?

Ronggolawe
24-12-2011, 11:27 PM
Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu?
emang ikhlas itu apa bro? rela?
kalau menurut penafsiran gw yang awam ini, Ikhlas
itu memurnikan ketaatan hanya pada Allah.

nah itu juga.. Ustadz juga manusia, Ulama juga ma
nusia. Ulama-ulama Mufassir sendiri tidak pernah me
wajibkan untuk ikut penafsirannya, kenapa yang bu
kan mufassir mengharuskan?

sedgedjenar
25-12-2011, 12:14 AM
yg berupa buku itu disebutnya mushaf :) isinya ya Qalam Ilahi alias Al-Qur'an.
jadi djenar muslim juga? atau ada agama lain yg kitab suci nya sama-sama bernama Quran?

gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!

bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan
nama Allah itu ada 99
ada ya rohman ya rohim, maha pengasih dan penyayang

kenapa banyak muslim yang tidak bisa membaca kalam ilahi dalam injil ? dalam kitab suci agama lain ?
karena mereka belum membaca dengan menyebut nama tuhan

masih ada benci di hati
masih ada merasa benar dihati
belum ada rohman rohimnya di hati
karena mereka masih iqro bi ismi nafs, membaca dengan (nafs) ego

---------- Post added 25-12-2011 at 12:09 AM ---------- Previous post was 24-12-2011 at 11:32 PM ----------


surga neraka gak kekal? adam ada banyak,, kayaknya saya tau tuh bukunya..... tapi lupa siapa tuh yang ngarang... makanya di bilang al-Quran itu butuh orang2 yang menguasai ilmunya agar bisa mentafsirkan dengan sempurna, jadi gak asal tafsir seperti itu....

---------- Post added at 08:00 AM ---------- Previous post was at 07:55 AM ----------

Quran Menyatakan Bahwa Quran Berbahasa Arab

Al-Quran sendiri telahmenyebutkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa arab. Hal ini bisa kita baca dalam salah satu ayat di dalam Al-Quran.

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf: 2)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Quraan itu sebagai peraturan dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap Allah. (QS. Ar-Ra'd: 37)

bahasa Arab yang terang. (QS. An-Nahl: 103)

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau Al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS. Thaha: 113)

Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin, ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. As-Syu'ara: 192-195)

Bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab, padahal Al-Quran sendiri secara tegas dan berkali-kali menyebutkan bahwa bahasa yang digunakannnya adalah bahasa arab? Lalu apa maunya orang yang mengatakan bahwa Al-Quran bukan berbahasa arab? Apakah adadalil yang lebih tinggi derajatnya dari ayat Al-Quran?

hehehehehehe...
mas, padahal saya bilang, quran yang sebenarnya itu bukan yg berbahasa arab itu maksudnya adalah : quran yg sebenarnya adalah ada di dada orang berilmu

coba anda buka2 lagi, yg bilang gitu quran juga lho
quran berbahasa arab itu karena turunnya di arab, pembawa risalahnya itu orang arab
sedangkan quran yg sebenarnya adalah ada di dalam dada orang berilmu

lagi2, jgn berpikiran yg berilmu itu kudu yang belajar sampe S3 ya
makna berilmu itu jauh lebih luas lagi

---------- Post added at 12:14 AM ---------- Previous post was at 12:09 AM ----------


akhirnya gw malah teringat untuk mengutip ayat

"Sesungguhnya agama disisi Allah, ialah Islam. Tia
dalah berselisih ahli ahli Kitab melainkan setelah
datang ilmu pengetahuan kepada mereka kerana
berdengki dengki sesamanya. Barang siapa yang
kafir akan ayat ayat Allah, maka sesunggunya
Allah bersegera menghisabnya"

ternyata perselisihan dalam menafsirkan bukan kare
na perbedaan ilmu, namun karena hati yang tidak lu
rus dalam mencari kebenaran agama.

Itu menurut penafsiran gw yang awam bin jahil ini :)

ya bener mas, hati yang blon lempeng itu masih IQRO dengan menyebut ego (baik ego agama, ego tuhan dll) yang tinggi
belum IQRO dengan menyebut nama tuhan

Alip
25-12-2011, 12:40 AM
Justru malah ringkas dan enlighten mbah... :))

Heheheheh... Eyang Purba memiliki kejelian yang baik. Penafsiran tanpa beban mental apapun akan sampai pada kesimpulan yang paling sederhana dan masuk akal. Tentunya dengan asumsi bahwa si penafsir atheis tidak punya tendensi untuk menafsirkan berdasarkan agenda tertentu, misalnya bagi gerakan anti agama atau untuk pembenaran "iman" atheisnya... soalnya kalau begitu jadinya khan sama juga, Eyang...

::hohoho::


***

Menarik bahwa penafsiran sangat dipengaruhi oleh niat dan agenda. Karenanya, langkah dasar yang pertama dan utama bagi kaum theis adalah memohon petunjuk pada yang mereka percayai sebagai Yang Maha Benar, kemudian menjaga netralitas hatinya ketika mengkaji atau mendengar suatu penyampaian atau tafsir. Berhati-hati agar tidak ada pre-determinasi dalam menilai suatu kajian atau orang yang menyampaikannya. Dengan niat yang lurus berharap agar kajian tersebut bisa menjadi lantaran bagi petunjuk yang benar.

Moga-moga kita semua dapat petunjuk, baik yang theis maupun yang atheis...
::hihi::

purba
25-12-2011, 04:42 AM
Menarik bahwa penafsiran sangat dipengaruhi oleh niat dan agenda.


Nah itu dia. Dlm sejarah Islam, itu pun sudah terjadi. Adanya suni dan syiah, tidak lepas dari penafsiran Quran yg dimotivasi oleh niat dan agenda berbeda. Sekarang misalnya ada tafsir feminis yg dilatarbelakangi oleh gerakan feminisme (baca: pendobrakan thd dominasi laki-laki). Di sini terlihat Quran ditempatkan sbg alat utk mencapai tujuan tertentu yg mungkin sudah berbeda dari tujuan mula-mula. Contoh lain yg agak gamblang mungkin ketika musim kampanye, banyak politikus yg menafsirkan ayat2 Quran secara serampangan sesuai keperluan politik praktisnya.

Kalo tafsiran ateis, tenang aja mbah... Ateis gak punya surga dan neraka.... :))

sedgedjenar
25-12-2011, 07:59 AM
Btw, saya punya pemikiran begini. Bahwa kitab suci itu diturunkan untuk menjawab kebutuhan orang-per-orang yang berbeda-beda. Jadi tafsir untuk seseorang belum tentu applicable buat orang lain. Dalam artian seharusnya tafsir itu nggak saklek harus satu tafsir, bisa banyak tafsir sesuai kondisi masing-masing orang yang unik.

kembali ke type manusianya
apa type yg terima mateng aja, udah gede terus baca tafsir terus dia terima sepenuh hati

atau yang type mencari2 dan bertanya2 selalu (freethinker)
tapi kalopun ada yang type gini banyak yg angus/habis karena oleh yg type pertama diatas ditakut2 in neraka

walopun demikian, baik type 1 atau 2 kembali lagi diliat dr kualitasnya, kesehariannya
siapapun diantara 2 type itu yang bisa mengendalikan egonya, ya itu yang saya anggap orang yang benar

hajime_saitoh
25-12-2011, 11:49 AM
Berarti masyarakan yang bukan "ulama", tapi punya ilmu-nya berhak menafsir toh? dan sebaliknya walau "ulama": tapi tidak punya ilmunya maka tidak berhak menafsir.

Btw, arti ulama menurutmu apa sih?


ulama itu adalah orang yang memiliki ilmu agama yang cukup dan dipercaya oleh masyarakatnya... dan tidak semua ulama juga lho bisa mentafsirkan al-Quran, ustadz ustadz itu pun mereka mengambil tafsir dari para ahli tafsir dan tidak melakukan tafsir sendiri... pakar tafsir itu amat sedikit broo.. di Indonesia dulu yang terkenal itu Buya Hamka rahimahullah... dan dia cuman seorang lo ahli tafsir di indonesia pada zamannya...

---------- Post added at 11:47 AM ---------- Previous post was at 11:43 AM ----------


misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

bapak ini berhak gak nafsirin ?

ya jelas gak boleh lah,, wong ngaji aja gak bisa jadi gak ada jaminan dia mengerti ilmu agama, apa jadinya kalo tafsirnya salah, dan akhirnya anak2nya ikutan salah? khan dia akan bertanggung jawab besar.. terus ntar anaknya juga menyampaikan tafsirannya yang salam kepada teman2nya dan temen2nya ngikutin nah makin jauh klhan jadi kesalahannya...

---------- Post added at 11:49 AM ---------- Previous post was at 11:47 AM ----------

cmn sekedar mengingatkan kembali..

Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

purba
25-12-2011, 12:02 PM
Rasulullah saw bersabda terkait orang bodoh yang berlaku seolah-olah mengetahui permasalahan sbb :


إن الله لا يقبض العلم انيزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتي إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رُءُوسا جهالا فسئِلُوا فأفتوا بغير علم فضلوا و أضلوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus setelah dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya dari manusia dengan mewafatkan para ulama beserta ilmunya. Maka yang tersisa hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan" " (HR. Bukhari)


Jika para ulama binasa, maka yg tersisa orang2 jahil? Trus apa gunanya Allah swt memberikan otak pada manusia?

Katakanlah semua ulama (baca: mufassirin) binasa karena bencana alam. Yg tersisa hanya sebuah teks Quran yg sudah kuning dan dekil. Apakah orang-orang jahil yg tersisa (baca: bukan mufassirin) tidak bisa menggunakan otaknya utk memahami teks Quran tsb?

Peradaban Mesir kuno yg sudah usai pun, tetapi meninggalkan teks2 hieroglif, itu masih bisa dibaca oleh orang jaman sekarang, meski gak belajar dari para mufassirin (baca: ulama) Mesir kuno. Karena apa? Karena mereka menggunakan otaknya.

Hare gene masih ada aja orang yg mengecilkan peran otak. :))

pasingsingan
25-12-2011, 12:56 PM
ayat Al-Qur'an sendiri ada bbrp yang sudah expired karena sudah diganti dengan ayat yg lebih baru. Namun ayat yg expired itu sebagian masih dicantumkan agar umat tahu proses dan sejarahnya. Kalo ga salah namanya 'manshuh'. CmiiW.
Nah kalo yg manshuh itu masih ditafsirkan oleh orang awam, gimana tuh, bahaya dong.
Salah satu contoh ayat yg sdh manshuh tsb kurang lebih artinya sbb (terjemahan bebas): '... Dan janganlah kamu memakan riba yg banyak'.
Nah kalo ada orang awam yg kebetulan baca sepotong itu, gimana menafsirkannya? Bisa jadi dia narik kesimpulan: wah kalo riba dikit boleh donk
nah yg manshuh ini termasuk bekal dalam ilmu tafsir. TOOLS kalo mbah pasing bilang
Pemahaman adanya kaidah nasikh-mansukh sendiri adalah buah dari penafsiran
faktanya, tidak semua ahli tafsir sependapat dng kaidah ini. Argumen ahli tafsir yng
menafikan hal tsb adalah, Tuhan punya sifat sempurna. Merevisi atau menganulir
firman-Nya, apapun alasannya adalah kontradiktif dng sifat-Nya.

Tentang "riba"
Rasanya dulu pernah seru dibahas dng purba segala …. tapi dimana yak?
ohya, klo gak salah jaman masih diwarung lama (AK).

Pengertian/penafsiran "riba" itu sendiri yng musti komprehensif
dalam arti, konteksnya spt apa serta constrain-nya bgmn?.
gamblangnya gini, memberikan pinjaman kpd pihak lain itu motifnya apa?
murni memberikan bantuan untuk saling memperoleh manfaat atau ada niatan lain
spt menagguk keuntungan se-besar2nya misalnya?

Jika bantuan itu bertujuan untuk pemberdayaan, maka akad/perjanjian besarnya biaya
pengembalian harus dibuat berdasarkan kesepakatan yng saling menguntungkan
tidak ada pihak yng merasa terpaksa/dipaksa, dan masing2 memperoleh manfaat.

Ada kaum lemah butuh modal untuk usaha kecil2an
lalu ada pihak yng bersedia membantu meminjaminya dng syarat bagi hasil sesuai kesepakatan
terjadilah akad/perjanjian pinjam-meminjam, ini sah adanya dan bukan riba!.
masalahnya, seberapa besar porsi pembagian keuntungan itu wajarnya?
misal: tingkat suku bunga umumnya yng berlaku adalah 1,5%/bulan atau 12%/tahun
Jika akad pembagian keuntungan dapat disepakati dibawah itu, tentu lebih baik bagi peminjam.


prinsipnya adalah:
Pemilik modal harus diberi bagian keuntungan, jika motif peminjaman adlh untuk usaha
klo tdk diberi bagian keuntungan, brarti peminjam mendzalimi pemilik modal
sebab, klo modalnya itu dipakai usaha sendiri, tentu akan mendatangkan keuntungan juga.

Jika peminjam dituntut untuk memberikan bagian keuntungan diatas batasan yang wajar
kpd pemilik modal, brarti pemilik modal mendzalimi peminjam.
krn, disamping peminjam sudah menanggung resiko usaha lebih besar , ditambah harus
memberikan bagian keuntungan melebihi batas kemampuannya (batas kewajaran).

Soal riba klo mao dibahas secara asyik-masyuk lagi, sebaeknya dibuatkan thread tersendiri.


Btw, kalo mau balik ke 'hati yang lurus' untuk menafsirkan ayat, apakah 'hati yang lurus' itu mau 'ikhlas' mencari ustadz yg lebih punya pengetahuan dalam ilmu tafsir? Ataukah terlalu tinggi hatinya untuk mendengar ustadz yg juga sesama manusia, yg tidak lebih tinggi derajatnya dari si orang awam berhati lurus itu?
Memanfaatkan (baca mengambil hikmah) dari buah penafsiran ahli (pihak berkompeten)
memang harus, terutama bila kita merasa belom memiliki kemampuan untuk menafsirkan sendiri
suatu perkara. Tapi berkeras hati untuk menjadikan salah satu karya penafsiran sbg rujukan yng
dianggap paling benar sendiri dng tdk metolelir kemungkinan kebenaran jg dimiliki pihak lain
ini jg sikap yng konyol, atau dlm istilahnya si purba dinamakan "taklid buta" bin fanatisme berlebihan.

faktanya, para ahli tafsir yng jujur jg mengakui bhw
- Subyektivitas sbg pribadi adlh suatu hal yng jg sulit dihindarkan
- Peradaban dan ilmu pengetahuan yng terus berkembang
- Kebenaran versi manusia bersifat relative

sedgedjenar
25-12-2011, 11:33 PM
ya jelas gak boleh lah,, wong ngaji aja gak bisa jadi gak ada jaminan dia mengerti ilmu agama, apa jadinya kalo tafsirnya salah, dan akhirnya anak2nya ikutan salah? khan dia akan bertanggung jawab besar.. terus ntar anaknya juga menyampaikan tafsirannya yang salam kepada teman2nya dan temen2nya ngikutin nah makin jauh klhan jadi kesalahannya...[COLOR="Silver"]


terus kalo ada anak SD nanya hal gitu, bapaknya kudu jawab gimana ?



cmn sekedar mengingatkan kembali..

Juga sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Artinya:
“ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

iye gan, tempat udah disiapin
dibilang quran sebenarnya bukan bahasa arab, malah ngeyel
biarpun ente pake dalil quran, tapi karena ente gak paham dalil yg dijadiin hujjah jadinye gitu deh

---------- Post added at 11:33 PM ---------- Previous post was at 11:23 PM ----------


Jika para ulama binasa, maka yg tersisa orang2 jahil? Trus apa gunanya Allah swt memberikan otak pada manusia?

Katakanlah semua ulama (baca: mufassirin) binasa karena bencana alam. Yg tersisa hanya sebuah teks Quran yg sudah kuning dan dekil. Apakah orang-orang jahil yg tersisa (baca: bukan mufassirin) tidak bisa menggunakan otaknya utk memahami teks Quran tsb?

Peradaban Mesir kuno yg sudah usai pun, tetapi meninggalkan teks2 hieroglif, itu masih bisa dibaca oleh orang jaman sekarang, meski gak belajar dari para mufassirin (baca: ulama) Mesir kuno. Karena apa? Karena mereka menggunakan otaknya.

Hare gene masih ada aja orang yg mengecilkan peran otak. :))

makanya di kitabnya banyak dikasih peringatan
afala tatafakarun, afala ta'qilun (apakah kamu tidak berpikir? apakah kamu tidak menggunakan akalmu?)

gimana mau digunakan akalnya, baru nanya yg aneh2, udah disodorin dalil neraka, dalil siksa
keburu pada takut duluan.... padahal yang nakut2 in neraka juga blm pernah ke neraka, baru KATANYA aja

danalingga
26-12-2011, 08:36 AM
Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya. ;))

hajime_saitoh
26-12-2011, 08:39 AM
gimana mau digunakan akalnya, baru nanya yg aneh2, udah disodorin dalil neraka, dalil siksa
keburu pada takut duluan.... padahal yang nakut2 in neraka juga blm pernah ke neraka, baru KATANYA aja

anda bukan bertanya tapi anda membuat opini,, setelah saya menyampaikan dalil tentang opini anda anda tetap teguh dengan pendapat anda walaupun bersebrangan dengan fatwa para ulama, silahkan kalo anda mau tetap denagn pendapat anda kita bertanggung jawab masing2 atas tindakan kita...

Ronggolawe
26-12-2011, 08:49 AM
dalil yang loe ajukan, masih penuh penafsiran, bu
kan dalil yang qath'i bro :)

pasingsingan
26-12-2011, 09:25 AM
Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya. ;))
bentul
minimal mengerti bahasa kitab yang akan ditafsirkan
kecuali memanfaatkan karya penafsir, tentu saja tdk perlu
cape2 mempelajari bhs kitab dimaksud. Itu baru dari segi bahasa :D

gogon
26-12-2011, 10:36 AM
Nah, sekarang sepertinya sudah jelas. Bahwa menafsir itu memang perlu ilmu,
tapi sepertinya kita masing-masing mengartikan ilmu itu secara berbeda.

Jadi sepertinya masih lanjut nih diskusinya. ;))
iya, di sini jadi adu ilmu :-bd
atau adu keras-kerasan kepala? ;D
tapi gpp kok kalo kita ngga sepakat. Toh diskusi bukan berarti menuju kesepakatan bersama
seringkali berakhir dengan "we're agree to disagree" alias " kita sepakat untuk tidak sepakat" ;D



gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!

di veda, injil, tripitaka, sutta apakah ilahi nya sama dengan ilahi yg dimaksud dengan Al-Quran?
ilahi di Al-Quran adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala
gw ga yakin sama. Ilahi nya Islam tidak menurunkan veda, tripitaka dan sutta
sebelum Al-Quran, yg diturunkan adalah injil, zabur dan taurat.

Kalo menyamakan semua ilahi pada kitab2 berbeda itu, apakah nanti jadi rancu?
misal di islam boleh makan sapi, di hindu engga.


bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan
nama Allah itu ada 99
ada ya rohman ya rohim, maha pengasih dan penyayang
setuju



kenapa banyak muslim yang tidak bisa membaca kalam ilahi dalam injil ? dalam kitab suci agama lain ?
karena mereka belum membaca dengan menyebut nama tuhan

masih ada benci di hati
masih ada merasa benar dihati
belum ada rohman rohimnya di hati
karena mereka masih iqro bi ismi nafs, membaca dengan (nafs) ego

menurut gw sih, muslim yg ngga baca injil itu cukup sadar diri
kitab agamanya sendiri belum dikuasai bener, untuk apa membaca kitab agama lain?
kecuali banyak waktu luang untuk mempelajari kitab lain, dengan tujuan untuk modal adu debat, silakan deh. Tapi ujung2nya paling debat kusir (kayak thread ini? ;D), dan malah jadi musuhan ;D
gw sih milih toleran thd agama lain.

yg masih ada benci di hati itu siapa? Umumnya orang Islam ngga benci dengan agama lain.
kecuali doktrin2 yang disampaikan jaringan teroris :)




emang ikhlas itu apa bro? rela?
kalau menurut penafsiran gw yang awam ini, Ikhlas
itu memurnikan ketaatan hanya pada Allah.

nah itu juga.. Ustadz juga manusia, Ulama juga ma
nusia. Ulama-ulama Mufassir sendiri tidak pernah me
wajibkan untuk ikut penafsirannya, kenapa yang bu
kan mufassir mengharuskan?
daripada menafsir sendiri, saya sih menganjurkan (bukan mengharuskan) yg awam mengikuti ustadz.
saya rasa para ulama & ustadz juga akan menganjurkan hal yang sama.
Dan para ulama & ustadz juga bisa kok dikritik. Misal kamu punya hasil penafsiran yg berbeda dengan ulama, bisa di-argumen-kan dengan mereka. Debat keras bila perlu :)
Kalo ketemu ulama yg saklek ga mau terima kritik dari umat, mending cari ulama yg lain.

mirip seperti dokter, kalo kita ngga cocok, bisa cari 2nd opinion, 3rd opinion dst.



Pemahaman adanya kaidah nasikh-mansukh sendiri adalah buah dari penafsiran
faktanya, tidak semua ahli tafsir sependapat dng kaidah ini. Argumen ahli tafsir yng
menafikan hal tsb adalah, Tuhan punya sifat sempurna. Merevisi atau menganulir
firman-Nya, apapun alasannya adalah kontradiktif dng sifat-Nya.


Rasanya dulu pernah seru dibahas dng purba segala …. tapi dimana yak?
ohya, klo gak salah jaman masih diwarung lama (AK).

Pengertian/penafsiran "riba" itu sendiri yng musti komprehensif
dalam arti, konteksnya spt apa serta constrain-nya bgmn?.
gamblangnya gini, memberikan pinjaman kpd pihak lain itu motifnya apa?
murni memberikan bantuan untuk saling memperoleh manfaat atau ada niatan lain
spt menagguk keuntungan se-besar2nya misalnya?

Jika bantuan itu bertujuan untuk pemberdayaan, maka akad/perjanjian besarnya biaya
pengembalian harus dibuat berdasarkan kesepakatan yng saling menguntungkan
tidak ada pihak yng merasa terpaksa/dipaksa, dan masing2 memperoleh manfaat.

Ada kaum lemah butuh modal untuk usaha kecil2an
lalu ada pihak yng bersedia membantu meminjaminya dng syarat bagi hasil sesuai kesepakatan
terjadilah akad/perjanjian pinjam-meminjam, ini sah adanya dan bukan riba!.
masalahnya, seberapa besar porsi pembagian keuntungan itu wajarnya?
misal: tingkat suku bunga umumnya yng berlaku adalah 1,5%/bulan atau 12%/tahun
Jika akad pembagian keuntungan dapat disepakati dibawah itu, tentu lebih baik bagi peminjam.


prinsipnya adalah:
Pemilik modal harus diberi bagian keuntungan, jika motif peminjaman adlh untuk usaha
klo tdk diberi bagian keuntungan, brarti peminjam mendzalimi pemilik modal
sebab, klo modalnya itu dipakai usaha sendiri, tentu akan mendatangkan keuntungan juga.

Jika peminjam dituntut untuk memberikan bagian keuntungan diatas batasan yang wajar
kpd pemilik modal, brarti pemilik modal mendzalimi peminjam.
krn, disamping peminjam sudah menanggung resiko usaha lebih besar , ditambah harus
memberikan bagian keuntungan melebihi batas kemampuannya (batas kewajaran).

Soal riba klo mao dibahas secara asyik-masyuk lagi, sebaeknya dibuatkan thread tersendiri.


Memanfaatkan (baca mengambil hikmah) dari buah penafsiran ahli (pihak berkompeten)
memang harus, terutama bila kita merasa belom memiliki kemampuan untuk menafsirkan sendiri
suatu perkara. Tapi berkeras hati untuk menjadikan salah satu karya penafsiran sbg rujukan yng
dianggap paling benar sendiri dng tdk metolelir kemungkinan kebenaran jg dimiliki pihak lain
ini jg sikap yng konyol, atau dlm istilahnya si purba dinamakan "taklid buta" bin fanatisme berlebihan.

faktanya, para ahli tafsir yng jujur jg mengakui bhw
- Subyektivitas sbg pribadi adlh suatu hal yng jg sulit dihindarkan
- Peradaban dan ilmu pengetahuan yng terus berkembang
- Kebenaran versi manusia bersifat relative
ya nasikh-mansukh yg saya maksud cuma salah satu ilmu yang dipakai untuk menafsir.
terlepas dari pro-kontra nya :)

oh iya, kalo boleh tau, ada link yang ngasih tau mengenai pro-kontra ini Mbah? soalnya dari ustadz di tempat saya ngaji, beliau ngga nyebut bahwa nasih-mansukh ini tidak semua ulama sependapat. Mau saya tanya ke beliau untuk pertemuan nanti.


dan untuk riba, maaf saya spoiler mbah karena saya pribadi berpendapat sudah OOT dari topik ini.
sedikit saja yg mau sampaikan bahwa dari tulisan mbah mengenai hal itu di Islam ada yg namanya ekonomi syariah :)
ada pembagian untung-rugi nya juga, biasa dikenal dengan bagi hasil.
Tapi saya ngga bisa diskusi lebih jauh lagi karena ilmu saya cetek banget untuk ekonomi syariah ini.

---------- Post added at 10:36 AM ---------- Previous post was at 10:27 AM ----------

oh iya, saya sudah menyampaikan semua yg saya tahu mengenai topik ini (topik tafsir; siapa yg boleh melakukan?)
kalo ada pembahasan berikutnya saya akan tetap memegang pada postingan2 saya yg dulu.
ditambah dengan postingan hajime_saitoh, saya setuju seluruhnya.
jadi sepertinya saya tidak akan posting lagi di sini (karena akan muter2 aja ;D) , mungkin masih baca2 :)

oh iya, saran tambahan (diulang sebenernya ;D) , buat yg masih ngga puas dengan pembahasan di sini, coba cari ulama/ustadz setempat.
Ga susah kok nyarinya, mereka banyak bertebaran di sekitar kita :)

eh iya, kalo ternyata yg dimaksud bukan menafsir Al-Quran, ya cari ahli agama sesuai dengan kitab yg mau ditafsir itu.
:)

sedgedjenar
26-12-2011, 12:52 PM
di veda, injil, tripitaka, sutta apakah ilahi nya sama dengan ilahi yg dimaksud dengan Al-Quran?
ilahi di Al-Quran adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala
gw ga yakin sama. Ilahi nya Islam tidak menurunkan veda, tripitaka dan sutta
sebelum Al-Quran, yg diturunkan adalah injil, zabur dan taurat.


kalau anda bilang ilahinya beda antara quran dan veda atau tripitaka, anda itu meyakini ada berapa ilah ?
kalo saya meyakini cuma ada satu ilah, karena saya bertauhid
asal kita semua adalah satu sumber, berpulangnya juga kepada sumber
inna lillahi wa inna illaihi rojiun



Kalo menyamakan semua ilahi pada kitab2 berbeda itu, apakah nanti jadi rancu?
misal di islam boleh makan sapi, di hindu engga.


kalo anda bicara dalam tingkat syariat jelas beda
tidak makan sapi itu soal syariat
sama halnya dalam islam tidak makan babi karena soal kesehatan
tidak makan sapi itu karena sapi di tempat asalnya agama hindu adalah hewan yang paling bermanfaat
susunya, dagingnya, kulitnya, tenaganya... makanya disakralkan supaya tidak sembarangan membabi buta di konsumsi

kalo mau bicara lebih dalam, bahas ilmu ketuhanan aja
mbahas syahadatnya hindu om tat sat ekam eva adwityam brahman (sang hyang widhi wasa adalah tunggal/ tidak ada duanya)



menurut gw sih, muslim yg ngga baca injil itu cukup sadar diri
kitab agamanya sendiri belum dikuasai bener, untuk apa membaca kitab agama lain?
kecuali banyak waktu luang untuk mempelajari kitab lain, dengan tujuan untuk modal adu debat, silakan deh. Tapi ujung2nya paling debat kusir (kayak thread ini? ;D), dan malah jadi musuhan ;D
gw sih milih toleran thd agama lain.


ya kalo anda sudah kenal Allah gak cuma namanya, nanti akan ngalami mbaca kitab2 agama lain dengan antusias dan menyenangkan
tenang aja, saya gak akan debat kusir koq. Cuma mendalami sejauh mana kawan diskusi disini, kalo udah tau juga saya akan bicara sesuai kapasitas aja

makasih dah di ingetin

pasingsingan
26-12-2011, 02:50 PM
oh iya, kalo boleh tau, ada link yang ngasih tau mengenai pro-kontra ini Mbah? soalnya dari ustadz di tempat saya ngaji, beliau ngga nyebut bahwa nasih-mansukh ini tidak semua ulama sependapat. Mau saya tanya ke beliau untuk pertemuan nanti.
silakan KLIK ini (http://hanafie.page.tl/Kontroversi-Nasikh_Mansukh-dalam-al_Qur&%238217%3Ban.htm) dan INI (http://kajianislam.wordpress.com/2007/06/26/soal-nasikh-dan-mansukh/)
fokuskan dibab kontroversialnya
itu baru sebagian, sebenarnya banyak
klo mao searching dng kunci "kontroversi nasikh-mansyukh"

hajime_saitoh
27-12-2011, 08:46 AM
Originally Posted by sedgedjenar View Post
gan, kalo udah membaca qalam ilahi artinya gak cuma mbaca quran doang
di veda ada kalam ilahi, di injil ada kalam ilahi, di tripitaka, di sutta juga ada kalam ilahi
bagaimana cara membaca kalam ilahi ? kudu IQRO!

anda penganut pluralisme beragama ya??


kalo anda bicara dalam tingkat syariat jelas beda
tidak makan sapi itu soal syariat
sama halnya dalam islam tidak makan babi karena soal kesehatan
tidak makan sapi itu karena sapi di tempat asalnya agama hindu adalah hewan yang paling bermanfaat
susunya, dagingnya, kulitnya, tenaganya... makanya disakralkan supaya tidak sembarangan membabi buta di konsumsi


lho bukannya sapi tidak dimakan karena sapi disembah sebagai dewa atau tunggangannya dewa.. kalo soal kegunaan dimana2 juga sapi sangat berguna untuk persawahan...

sedgedjenar
27-12-2011, 11:32 AM
anda penganut pluralisme beragama ya??


saya orang yang tidak menyembah agama
tidak terbelenggu dan terdogma oleh agama



lho bukannya sapi tidak dimakan karena sapi disembah sebagai dewa atau tunggangannya dewa..

bukan



kalo soal kegunaan dimana2 juga sapi sangat berguna untuk persawahan...


tapi kalo penduduknya bukan hindu, akan beda perlakuannya kepada sapi

---------- Post added at 11:32 AM ---------- Previous post was at 11:27 AM ----------


anda bukan bertanya tapi anda membuat opini,, setelah saya menyampaikan dalil tentang opini anda anda tetap teguh dengan pendapat anda walaupun bersebrangan dengan fatwa para ulama, silahkan kalo anda mau tetap denagn pendapat anda kita bertanggung jawab masing2 atas tindakan kita...

ya semoga anda bener2 ngarti dengan perkataan anda yang saya bold ya

Alip
27-12-2011, 12:00 PM
Nah itu dia. Dlm sejarah Islam, itu pun sudah terjadi. Adanya suni dan syiah, tidak lepas dari penafsiran Quran yg dimotivasi oleh niat dan agenda berbeda. Sekarang misalnya ada tafsir feminis yg dilatarbelakangi oleh gerakan feminisme (baca: pendobrakan thd dominasi laki-laki). Di sini terlihat Quran ditempatkan sbg alat utk mencapai tujuan tertentu yg mungkin sudah berbeda dari tujuan mula-mula. Contoh lain yg agak gamblang mungkin ketika musim kampanye, banyak politikus yg menafsirkan ayat2 Quran secara serampangan sesuai keperluan politik praktisnya.

Kalo tafsiran ateis, tenang aja mbah... Ateis gak punya surga dan neraka.... :))

Wakakakakkk... aman kalo gituh...::ngakak2::

Harus diakui, salah satu kelebihan tafsir atheis dibanding tafsir lain adalah ketika tafsir lain menyebut diri benar dan aliran lain sesat, tafsiran atheis langsung menyebut diri sendiri aliran sesat ... xixixixixixxx...
::hihi::

Agenda... itulah yang menyebabkan...

Prometheus mendaki ke surga, mencuri api dari para dewa, dan turun lagi ke bumi membagi-bagikan api ke seluruh penjuru bumi...
Aeneas, turun ke neraka, menaklukkan anjing berkepala tiga penjaga neraka, Cereberus, mendengar takdir tentang Roma, dan kembali lagi ke dunia atas untuk mendirikan kota besar itu...
Pangeran Gautama Sakyamuni, meninggalkan istana ayahnya untuk menjadi pertapa miskin terlunta-lunta, agar mendapat jawaban dari rahasia kehidupan... dan menurunkan Agama Buddha...
Musa, memimpin rakyatnya keluar dari tanah mesir, membelah laut merah, dan sampai ke tanah perjanjian - Kana'an - setelah empat puluh tahun...
Yesus, mengajarkan kasih sayang di tengah dunia yang penuh dengan penjajahan dan kekerasan...


... lalu ada Muhammad,

Belum lama lalu kita dengar soal Soekarno, Joseph Broz Tito, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr.,...

... Semua adalah manusia dan "manusia" dengan agenda untuk membawa umat manusia ke keadaan yang lebih baik dibanding sebelum mereka hadir, sebagian bisa kita saksikan sejarahnya, sebagian kita dengar sebagai mitos atau cerita...

...sebagian justru jadi korban interpretasi sejarah ... (contohnya Kakang Ronggolawe dari Majapahit tuh)::elaugh::

... dan sebagian diantara kita bertengkar soal interpretasi kita tentang mereka...
:bye:

pasingsingan
27-12-2011, 05:15 PM
Harus diakui, salah satu kelebihan tafsir atheis dibanding tafsir lain adalah ketika tafsir lain menyebut diri benar dan aliran lain sesat, tafsiran atheis langsung menyebut diri sendiri aliran sesat ... xixixixixixxx...

betul kang Alip
pertama:
krn atheist menafikan tuhan, sehingga dia tdk punya prasangka apa2
spt takut salah hingga mengakibat dosa dan direndam dineraka misalnya :))

kedua:
dia bisa lebih rilek n nothing to loose (baca leluasa) dlm menafsir/menggali maknanya
krn teks atau manuskrip berharga dari manapun dianggap sama.
dlm arti terbebas dari perasaan mensakralkan.

tetapi apakah atheist akan terbebas dari unsur subyektifitas dlm menafsirkan?
jwbnya blom tentu, krn bukan manusia namanya klo tdk memiliki sifat atau watak cenderung kpd sesuatu :D

Asum
27-12-2011, 06:07 PM
misal pertanyaan ini, diajukan seorang anak kelas satu SD kepada bapaknya
lalu bapak menjawab, "maksudnya kerjain sholat nak yang lima waktu"
dan bapak ini ngaji aja gak bisa, baca tulis gak bisa

bapak ini berhak gak nafsirin ?
Loh saya kan tanya : Sholat yang dimaksud apa ya ?

Sama seperti jika saya tanya : Rumah yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Rumah)

atau

Sama seperti jika saya tanya : Tiang yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Tiang)


btw ... memahami pertanyaan saja tidak bisa (kenapa gak tanya kalo gak jelas pertanyaannya ?), bagaimana bisa jawabannya sesuai yang ditanyakan ? ::grrr::

hajime_saitoh
27-12-2011, 08:22 PM
saya orang yang tidak menyembah agama
tidak terbelenggu dan terdogma oleh agama

bberarti??? anda agnostik gitu???

lho bukannya memang sapi di india di sembah dan dianggap dewa ya???

sedgedjenar
28-12-2011, 08:31 AM
bberarti??? anda agnostik gitu???


terserah anda aja mas
saya gak peduli sama istilah
mau dibilang agnostik, kafir, musyrik anda pilih aja yang sesuai dengan daya nalar anda
yang tau kualitas saya kan cuma Tuhan



lho bukannya memang sapi di india di sembah dan dianggap dewa ya???

saya gak akan jawab mas
anda belajar agama sendiri aja dulu
umur anda terbatas, manfaatkan umur sebaik2 nya mudah2 an sebelum ajal sudah khatam belajar agamanya
gak usah mikirin agama orang lain dulu

---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:17 AM ----------


Loh saya kan tanya : Sholat yang dimaksud apa ya ?

Sama seperti jika saya tanya : Rumah yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Rumah)

atau

Sama seperti jika saya tanya : Tiang yang dimaksud apa ya ? (jika kalimatnya Dirikanlah Tiang)


btw ... memahami pertanyaan saja tidak bisa (kenapa gak tanya kalo gak jelas pertanyaannya ?), bagaimana bisa jawabannya sesuai yang ditanyakan ? ::grrr::

mas, esensi jawaban saya itu seperti yang di sampein kang danalingga
bahwa dalam keterbatasan, orang menafsir quran sesuai kemampuannya
seiring perkembangan spiritualnya penafsirannya akan makin luas dan matang

siapa yang menjamin tafsiran ulama ahli tafsir itu benar 100 persen ??!! sini ngacung maju ke saya
quran itu bahasa langit yang dibumikan, kecuali seseorang itu sudah mencapai derajat langit maka penafsirannya masih patut dipertanyakan

tapi biar ente gak penasaran, ane jawab ya
mendirikan sholat ya ?
berdiri itu artinya berdiri hingga ke langit
maksudnya adalah mencapai derajat khusyuk dalam sholat

sholat itu hakekatnya mengingat allah (dzikr)
mengingat allah itu disetiap hela nafas, dalilnya ingatlah allah diwaktu berdiri, bangun...(silakan cari sendiri, biar qurannya di buka, dipelajari)

jadi orang sholat dzuhur itu bisa aja cuma mendirikan 1 rokaat, atau bahkan gak mendirikan sama sekali
orang sholat maghrib cuma mendirikan 2 rokaat aja, dst dst dst..

Asum
28-12-2011, 09:07 AM
...

mas, esensi jawaban saya itu seperti yang di sampein kang danalingga
bahwa dalam keterbatasan, orang menafsir quran sesuai kemampuannya
seiring perkembangan spiritualnya penafsirannya akan makin luas dan matang

Yang berkembang itu bukan spiritual, tapi ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan hal tsb. ::doh::


siapa yang menjamin tafsiran ulama ahli tafsir itu benar 100 persen ??!! sini ngacung maju ke saya
quran itu bahasa langit yang dibumikan, kecuali seseorang itu sudah mencapai derajat langit maka penafsirannya masih patut dipertanyakan

Apalagi tafsiran (penjelasan) anda yang tanpa didukung ilmu ... lebih tidak benar lagi tentunya ... ::grrr::


tapi biar ente gak penasaran, ane jawab ya
mendirikan sholat ya ?
berdiri itu artinya berdiri hingga ke langit
maksudnya adalah mencapai derajat khusyuk dalam sholat

sholat itu hakekatnya mengingat allah (dzikr)
mengingat allah itu disetiap hela nafas, dalilnya ingatlah allah diwaktu berdiri, bangun...(silakan cari sendiri, biar qurannya di buka, dipelajari)

jadi orang sholat dzuhur itu bisa aja cuma mendirikan 1 rokaat, atau bahkan gak mendirikan sama sekali
orang sholat maghrib cuma mendirikan 2 rokaat aja, dst dst dst..
Weleh ... jadi aqimish shalat itu artinya berdirilah untuk mengingat Allah. ::oops::


Jadi sholat itu apa artinya ? mengingat Allah ? <<< ini jawaban dari alam mimpi seorang manusia yang bergelut dalam alam sufi. Kalau yang berpikiran ilmiah, maka ia akan melihat arti kata tsb dalam kamus, jika tidak paham maksud sebenarnya, baru bertanya ... kemana ? ke sumber riwayat, yaitu hadits yang berkiatan soal sholat sehingga jelas apa yang dimaksud sholat dalam firman Allah tsb.

Jadi ada 2 tahapan seorang faqih menjawab persoalan :
1. dengan penjelasan bahasa, apa arti sholat.
2. sumber informasi lain yang menjelaskan maksud sholat tsb.

Orang yang hanya mengandalkan arti secara bahasa saja, bisa terjerumus kepada kesesatan. Misal terjemah dari ayat tsb dalam bhs inggris (terj Yusuf Ali) sbb : And be steadfast in prayer ...

Ntar yang dikerjainnya cuman berdoa sambil berdiri, Atau seperti penjelasan sedge ... atau mengingat tuhan sambil berdiri kali ... ::arg!::

BundaNa
28-12-2011, 09:10 AM
Numpang OOT, sapi tidak disembah dalam agama hindu (setidaknya gue liat ini di bali). Mereka menghormati sapi spt kata segde, ya. Tapi sejauh ini gak ada pura atau ritual yg menyembah sapi.

Asum
28-12-2011, 09:11 AM
- double post -

sedgedjenar
28-12-2011, 11:18 AM
Yang berkembang itu bukan spiritual, tapi ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan hal tsb. ::doh::


Apalagi tafsiran (penjelasan) anda yang tanpa didukung ilmu ... lebih tidak benar lagi tentunya ... ::grrr::


Weleh ... jadi aqimish shalat itu artinya berdirilah untuk mengingat Allah. ::oops::


Jadi sholat itu apa artinya ? mengingat Allah ? <<< ini jawaban dari alam mimpi seorang manusia yang bergelut dalam alam sufi. Kalau yang berpikiran ilmiah, maka ia akan melihat arti kata tsb dalam kamus, jika tidak paham maksud sebenarnya, baru bertanya ... kemana ? ke sumber riwayat, yaitu hadits yang berkiatan soal sholat sehingga jelas apa yang dimaksud sholat dalam firman Allah tsb.

Jadi ada 2 tahapan seorang faqih menjawab persoalan :
1. dengan penjelasan bahasa, apa arti sholat.
2. sumber informasi lain yang menjelaskan maksud sholat tsb.

Orang yang hanya mengandalkan arti secara bahasa saja, bisa terjerumus kepada kesesatan. Misal terjemah dari ayat tsb dalam bhs inggris (terj Yusuf Ali) sbb : And be steadfast in prayer ...

Ntar yang dikerjainnya cuman berdoa sambil berdiri, Atau seperti penjelasan sedge ... atau mengingat tuhan sambil berdiri kali ... ::arg!::

kalo menurut sampeyan sholat itu apa om ?
nanti kita samakan persepsinya

seperti yang anda bilang, kalo belum tau nanya
tapi kalo belum tau langsung bilang jawaban dr alam mimpi itu gak apa2 ya ?

namanya diskusi disamakan koridor dan persepsinya

monggo

purba
28-12-2011, 11:21 AM
Ok, sholat tidak terinci dgn jelas dlm Quran, trus lihat hadits.
Emang ada perintah Quran buat lihat rincian sholat dlm hadits?
Emang ada ayat Quran yg meminta muslim utk melihat hadist sebagai penjelasan detail dari Quran?
Kok Quran jadi bergantung sama hadist, padahal Quran karya Allah swt?

:))

hajime_saitoh
28-12-2011, 11:43 AM
wah bang itulah kaedah tafsir.. dan itulah yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallohu alaihi wassallam... seperti yang beliau katakan kepada muadz, isinya intinya beliau bertanya kepada muadz apa yang kau lakukan bila kau menemukan permasalahan, muadz menjawab aku akan mengembalikannya kepada al-Quran dan bila tidak menemukannya didalam al-Quran maka akua akan merujuk kepada al-Hadits, lalu nabi bertanya apabila kau tidak menemukannya pada keduanya? muadz menjawab maka aku akan berijtihad semampuku, jadi posisi hadits itu sebagai penjelas.... memang ada ibadah2 yang tidak dijelaskan secara detail di al-Quran dan shalat adalah salah satunya namun ada juga yang dijelaskan sangat rinci seperti masalh waris dan nikah di al-Quran sudah sangat jelas dan lengkap..

purba
28-12-2011, 11:53 AM
wah bang itulah kaedah tafsir.. dan itulah yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallohu alaihi wassallam... seperti yang beliau katakan kepada muadz, isinya intinya beliau bertanya kepada muadz apa yang kau lakukan bila kau menemukan permasalahan, muadz menjawab aku akan mengembalikannya kepada al-Quran dan bila tidak menemukannya didalam al-Quran maka akua akan merujuk kepada al-Hadits, lalu nabi bertanya apabila kau tidak menemukannya pada keduanya? muadz menjawab maka aku akan berijtihad semampuku, jadi posisi hadits itu sebagai penjelas.... memang ada ibadah2 yang tidak dijelaskan secara detail di al-Quran dan shalat adalah salah satunya namun ada juga yang dijelaskan sangat rinci seperti masalh waris dan nikah di al-Quran sudah sangat jelas dan lengkap..

Lha yg ente kutip itu kan hadits. Jadi lihat hadits dulu, kemudian lihat Quran, trus kembali ke hadits, gitu?
Orang jahil dulu juga percaya Muhammad adalah rasulullah dari mendengarkan Quran, bukan hadits.
Kemudian yg ane tanya adakah perintah Quran utk mengambil hadits sbg penjabaran detil dari Quran?

:))

hajime_saitoh
28-12-2011, 12:01 PM
Lha yg ente kutip itu kan hadits. Jadi lihat hadits dulu, kemudian lihat Quran, trus kembali ke hadits, gitu?
Orang jahil dulu juga percaya Muhammad adalah rasulullah dari mendengarkan Quran, bukan hadits.
Kemudian yg ane tanya adakah perintah Quran utk mengambil hadits sbg penjabaran detil dari Quran?



ada kok.................................. :ngopi:

---------- Post added at 12:01 PM ---------- Previous post was at 11:57 AM ----------

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah". [Al-Hasyr : 7].

"Artinya : Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah". [An-Nisaa : 80]

"Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (As-Sunnah)". [An-Nisa' : 59]

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul".(QS.An-Nisa:59)

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah".(QS.An-Nisa:80)

sedgedjenar
28-12-2011, 12:06 PM
ada kok.................................. :ngopi:

---------- Post added at 12:01 PM ---------- Previous post was at 11:57 AM ----------

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah". [Al-Hasyr : 7].

"Artinya : Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah". [An-Nisaa : 80]

"Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (As-Sunnah)". [An-Nisa' : 59]

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul".(QS.An-Nisa:59)

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah".(QS.An-Nisa:80)

itu quran boss
belum ditafsir kan ?
soalnya gak disebut2 hadist tuh di ayat quran itu, disebutnya rasul rasul rasul

hajime_saitoh
28-12-2011, 12:17 PM
perkataan rasullullah bukan hadits ya????

pasingsingan
28-12-2011, 01:11 PM
Ok, sholat tidak terinci dgn jelas dlm Quran, trus lihat hadits.
Emang ada perintah Quran buat lihat rincian sholat dlm hadits?
Emang ada ayat Quran yg meminta muslim utk melihat hadist sebagai penjelasan detail dari Quran?
Kok Quran jadi bergantung sama hadist, padahal Quran karya Allah swt?

:))
perdefinisi aja dulu pur, misal
sholat dlm pengertian yng bgmn dulu maksudnya
hadist dlm pengertian yng spt apa.

dua hal tsb klo mao dibikin thread tersendiri
tentu akan seru juga. (silakan klo ada yng mao inisiasi)


oke
kembali keleptop
yakni : seputar tafsir/penafsiran

"orang spt apa yng berhak/memiliki otoritas menafsirkan makna kitab suci?"

sedgedjenar
28-12-2011, 02:54 PM
perkataan rasullullah bukan hadits ya????

konsisten dong om
katanya gak sembarangan orang boleh nafisirin quran
purba nanya, koq dikasihnya dalil ayat quran ? terus purba disuruh nafsirin sendiri gitu ??

hajime_saitoh
28-12-2011, 09:12 PM
kapan saya suruh nafsirin?? ayat2 diatas sudah jelas maksud dan tujuannya...

oke ne penafsirannya... “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)”. [An-Nisa' : 59]

Maksud “mengembalikan kepada Allah” dalam ayat ini adalah mengembalikan kepada kitab-Nya yaitu Al-Qur’an, sedangkan mengembalikan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau telah wafat “adalah kembali kepada Sunnah beliau”. Selanjutnya Al-Baihaqi menyebutkan suatu hadits riwayat Abu Daud dari Abu Rafi’i, ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘laihi wa sallam.

---------- Post added at 09:10 PM ---------- Previous post was at 09:08 PM ----------

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. [Al-Hasyr : 7].

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mentato tubuhnya, wanita yang meminta di tato tubuhnya, wanita yang mencabut bulu (alis dan bulu mata) dan wanita yang membuat cela diantara giginya untuk memperindah (dirinya) dengan merubah bentuk ciptaan Allah”, kemudian ucapan Ibnu Mas’ud ini sampai kepada seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Ummu Yaq’ub, maka Ummu Yaq’ub datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau mengucapkan begin dan begitu”, maka Ibnu Mas’ud berkata : “Apa tidak boleh saya melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan hal itu telah disebutkan dalam Kitabullah”, lalu Ummu Yaq’ub berkata : “Sesungguhnya saya telah membaca seluruh Al-Qur’an dan saya tidak mendapatkan tentang hal itu”, Ibnu Mas’ud berkata : “Jika engkau telah membaca Al-Qur’an maka engkau telah mendapatkan tentang itu, apakah engkau membaca firman Allah.

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan”. [Al-Hasyr : 7]

Wanita itu menjawab : “Ya”, Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu”.

---------- Post added at 09:11 PM ---------- Previous post was at 09:10 PM ----------

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. [Al-Hasyr : 7].

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mentato tubuhnya, wanita yang meminta di tato tubuhnya, wanita yang mencabut bulu (alis dan bulu mata) dan wanita yang membuat cela diantara giginya untuk memperindah (dirinya) dengan merubah bentuk ciptaan Allah”, kemudian ucapan Ibnu Mas’ud ini sampai kepada seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Ummu Yaq’ub, maka Ummu Yaq’ub datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau mengucapkan begin dan begitu”, maka Ibnu Mas’ud berkata : “Apa tidak boleh saya melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan hal itu telah disebutkan dalam Kitabullah”, lalu Ummu Yaq’ub berkata : “Sesungguhnya saya telah membaca seluruh Al-Qur’an dan saya tidak mendapatkan tentang hal itu”, Ibnu Mas’ud berkata : “Jika engkau telah membaca Al-Qur’an maka engkau telah mendapatkan tentang itu, apakah engkau membaca firman Allah.

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan”. [Al-Hasyr : 7]

Wanita itu menjawab : “Ya”, Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu”.

---------- Post added at 09:12 PM ---------- Previous post was at 09:11 PM ----------

“Artinya : Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. [An-Nisaa : 80]

Imam Syafi’i berkata : ” Dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada mereka bahwa membai’at Rasulullah berarti sama dengan membai’at Allah dan taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah taat kepada Allah, maka Allah berfirman.

Asum
29-12-2011, 07:53 AM
kalo menurut sampeyan sholat itu apa om ?
nanti kita samakan persepsinya
...
Anda gak baca terjemahan Yusuf Ali di atas ?

And be steadfast in prayer .

Atau anda gak percaya ? BUKA KAMUS DONG, emangnya arti kata tsb bisa anda peroleh dari alam mimpi ::hihi::

Ini arti shalat
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/386212_320157008007689_100000401786395_1086275_531 555241_n.jpg

Ini arti do'a
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/401169_320157114674345_100000401786395_1086276_130 1038248_n.jpg

Keduanya saya kutip dari Kamus Al-Munawwir.

Jadi, sesuai bahasa : aqimish shalat, jika diterjemahkan seluruhnya menjadi "Dirikanlah do'a (permintaan/permohonan)"



kafir... kafir dah lo, dan saya nyatakan berlepas diri jika sesudah ini ada yang sesat ::ngakak2::

sedgedjenar
29-12-2011, 08:02 AM
kapan saya suruh nafsirin?? ayat2 diatas sudah jelas maksud dan tujuannya...

oke ne penafsirannya... “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)”. [An-Nisa' : 59]



di tulisan asli yang arab, farudduuhu illallahi wa rosul (kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul)
terus kenapa diterjemahannya dikasih tambahan kembalikanlahia kepada Allah (Al-Quran) ??

kenapa dikasih tambahan Al-Quran ? Bukankah kalau dikembalikan kepada Allah maknanya lebih luas ? Karena Allah gak sebatas cuma Qur'an aja.
sekalian ya, yg dikembalikan kepada Rasul kenapa ditambahin jadi as-sunnah ? emangnya Rasul cuma satu ??

Asum
29-12-2011, 08:13 AM
di tulisan asli yang arab, farudduuhu illallahi wa rosul (kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul)
terus kenapa diterjemahannya dikasih tambahan kembalikanlahia kepada Allah (Al-Quran) ??

...
Emangnya lo sekarang kalo mau jawab soal agama lo komunikasi langsung ame Tuhan dan Rasul-Nya ?? ::ngakak2::

Udah pastilah dibalikin jawabannya ke Al-Qur'an selaku firman Allah SWT dan Al-Hadits selaku sunnah Utusan Tuhan ::doh::

sedgedjenar
29-12-2011, 08:24 AM
Anda gak baca terjemahan Yusuf Ali di atas ?


Atau anda gak percaya ? BUKA KAMUS DONG, emangnya arti kata tsb bisa anda peroleh dari alam mimpi ::hihi::

Ini arti shalat
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/386212_320157008007689_100000401786395_1086275_531 555241_n.jpg

Ini arti do'a
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/401169_320157114674345_100000401786395_1086276_130 1038248_n.jpg

Keduanya saya kutip dari Kamus Al-Munawwir.

Jadi, sesuai bahasa : aqimish shalat, jika diterjemahkan seluruhnya menjadi "Dirikanlah do'a (permintaan/permohonan)"



kafir... kafir dah lo, dan saya nyatakan berlepas diri jika sesudah ini ada yang sesat ::ngakak2::

::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::

anda bicara sholat secara bahasa (teori)
saya bicara sholat secara hakekat (praktek)

jelas aja kaga nyambung, seperti kata pepatah : mensana incorpore sano
gue bicara ke sana elu jawab ke sono

dan pembahasan ini akan makin ke sono ketika anda mulai sebut2 kafir, dijamin arti kafir bagi kita juga bakal beda

gak apa2, namanya aja forum dialog lintas agama dan keyakinan
ane yakin karena udah ngejalanin, ente yakin karena kitab

---------- Post added at 08:24 AM ---------- Previous post was at 08:21 AM ----------


Emangnya lo sekarang kalo mau jawab soal agama lo komunikasi langsung ame Tuhan dan Rasul-Nya ?? ::ngakak2::

Udah pastilah dibalikin jawabannya ke Al-Qur'an selaku firman Allah SWT dan Al-Hadits selaku sunnah Utusan Tuhan ::doh::

tergantung kapasitasnya mas
kalo orang yang sudah ketemu Tuhan dan Rasul, buat apa nanya ke buku ?

Asum
29-12-2011, 08:31 AM
anda bicara sholat secara bahasa (teori)
saya bicara sholat secara hakekat (praktek)
...
Hakikat pala lo, apoa sih yang lo tau soal hakikat ? secata bahasa hakikat itu secara sebenarnya. Emang lo tau cara sholat dari siape ? dari tuntunan tuhan ?

Yang jelas lo niru-niru atau dikasih tau guru lo bahwa sholat itu begini dan begitu. Coba lo berpikir sebagai non Islam yang belajar otodidak, dan baca kitab suci agama Islam terus nemu kalimat tsb. Apa yang terpikir dalam otak lo ?


Oooohhh .... sholat itu doa, Dan kalo terjemahan depan Dirikanlah sholat diterjemahkan seluruhnya jadi Diirkanlah do'a. Saya yakin, besok lo jadi Qur'aniyyin (inkar sunnah) karena menyakini bahwa shlat tuh cuman do'a. Ngapain jungkir balik kyk orang sarap ? ::ngakak2::::ngakak2::

btw, jadi sudah 2 terjawan kenapa tafsir musti dilakukan oleh ulama BUKAN AWAM

1. penguasaan bahasa
2. peguasaan ilmu hadits

nanti yang lainnya akan terbukti seperti sebab turunnya ayat, nasikh-mansukh, dll.

:)

---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:29 AM ----------


...
tergantung kapasitasnya mas
kalo orang yang sudah ketemu Tuhan dan Rasul, buat apa nanya ke buku ?
::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::

Gua emang dah tau, lo mah aliran tarikat BUKAN ISLAM.

Lo gak berhukum dengan al-Qur'an dan hadits selaku 2 sumber hukum pokok agama Islam, tapi lo bertumpu pada mimpi .... ::ngakak2::::ngakak2::::ngakak2::

sedgedjenar
29-12-2011, 08:32 AM
Hakikat pala lo, apoa sih yang lo tau soal hakikat ? secata bahasa hakikat itu secara sebenarnya. Emang lo tau cara sholat dari siape ? dari tuntunan tuhan ?

Yang jelas lo niru-niru atau dikasih tau guru lo bahwa sholat itu begini dan begitu. Coba lo berpikir sebagai non Islam yang belajar otodidak, dan baca kitab suci agama Islam terus nemu kalimat tsb. Apa yang terpikir dalam otak lo ?


Oooohhh .... sholat itu doa, Dan kalo terjemahan depan Dirikanlah sholat diterjemahkan seluruhnya jadi Diirkanlah do'a. Saya yakin, besok lo jadi Qur'aniyyin (inkar sunnah) karena menyakini bahwa shlat tuh cuman do'a. Ngapain jungkir balik kyk orang sarap ? ::ngakak2::::ngakak2::

btw, jadi sudah 2 terjawan kenapa tafsir musti dilakukan oleh ulama BUKAN AWAM

1. penguasaan bahasa
2. peguasaan ilmu hadits

nanti yang lainnya akan terbukti seperti sebab turunnya ayat, nasikh-mansukh, dll.

:)


sederhana aja mas
yang saya tau soal hakikat
orang yang sudah menjalani hakikat sholat, bicaranya sopan halus dan lemah lembut, tidak dikuasai ego
contohnya Nabi Muhammad

sebaliknya
yang tidak tau hakikat sholat
bicaranya kasar, emosional dan suka maki2

Asum
29-12-2011, 08:41 AM
sederhana aja mas
yang saya tau soal hakikat
orang yang sudah menjalani hakikat sholat, bicaranya sopan halus dan lemah lembut, tidak dikuasai ego
contohnya Nabi Muhammad

sebaliknya
yang tidak tau hakikat sholat
bicaranya kasar, emosional dan suka maki2
Orang kafir juga banyak yang bicara halus, apakah bakalan dapat tiket surga sesuai keyakinan Islam ? KAGAK

Pembeda antara keislaman dan kekafiran adlaah meninggalkan shalat. Lo (misal) shalat tidak sesuai tuntutan sang mursalin LO KAFIR ... simple dan orang kafir KEKAL di Neraka.


Back to topik, jadi itulah gunanya bertanya sama ulama untuk memahami tafsir al-Qur'an.

danalingga
29-12-2011, 08:48 AM
@Asum:

Gini, semisal nih. Ada orang yang nanya gimana caranya sholat ke Ulama, dan ada orang seperti Sedge lah. Nah, ternyata orang yang nanya ke ulama itu rajin melakukan gerak sholat sesuai petunjuk ulama tersebut tapi rajin juga korupsi di kantornya. Sedangkan Sedge mungkn melakukan sholat yang gerakanya tidak sesuai petunjuk si ulama, tapi tidak pernah korupsi.

Nah, jadinya siapa kira-kira masuk surga tuh?

Rasanya ya nggak sesimple nanya ulama berarti dah pasti benar toh. Itulah yang saya katakan pas diskusi dengan Pasingsingan, bahwa dalam membaca terjemahan dari para ahli, kita jga hendaknya menguasai faktor esensi itu.

hajime_saitoh
29-12-2011, 08:57 AM
Emangnya lo sekarang kalo mau jawab soal agama lo komunikasi langsung ame Tuhan dan Rasul-Nya ??

Udah pastilah dibalikin jawabannya ke Al-Qur'an selaku firman Allah SWT dan Al-Hadits selaku sunnah Utusan Tuhan

hussshh.. kan mas sedge bisa ketemu ama TUhan jadi dia yakin2 aja..


Gini, semisal nih. Ada orang yang nanya gimana caranya sholat ke Ulama, dan ada orang seperti Sedge lah. Nah, ternyata orang yang nanya ke ulama itu rajin melakukan gerak sholat sesuai petunjuk ulama tersebut tapi rajin juga korupsi di kantornya. Sedangkan Sedge mungkn melakukan sholat yang gerakanya tidak sesuai petunjuk si ulama, tapi tidak pernah korupsi.

Nah, jadinya siapa kira-kira masuk surga tuh?

dalam islam masalah ibadah itu sudah diatur sedemikian rupa mas.. seperti shalat misalanya shalat subuh itu dua rakaat dengan satu salam terus ada yang shalat subuh 3 rakaat dengan satu salam ya jelas dia salah.. dan masalah korupsinya itu masalah lain itu berarti dia cuman mengerjakan shalat tidak mendirikan shalat.... karena seharusnya shalat itu menghindari manusia dari perbuatan keji dan mungkar... tapi apabila shalatnya si koruptor itu sudah sesuai rukun dan hukumnya maka shalatnya diterima, namun masalah dapat pahala apa nggak itu kembali ke Allah azza wa jalla.. sedangkan shalatnya orang yang tidak sesuai tuntunan nabi jelas tidak diterima.. karena nabi Muhammad shallohu alaihi wasallam bersabda " shalatlah sebagaimana aku shalat"

sedgedjenar
29-12-2011, 09:00 AM
dalam islam masalah ibadah itu sudah diatur sedemikian rupa mas.. seperti shalat misalanya shalat subuh itu dua rakaat dengan satu salam terus ada yang shalat subuh 3 rakaat dengan satu salam ya jelas dia salah.. dan masalah korupsinya itu masalah lain itu berarti dia cuman mengerjakan shalat tidak mendirikan shalat.... karena seharusnya shalat itu menghindari manusia dari perbuatan keji dan mungkar... tapi apabila shalatnya si koruptor itu sudah sesuai rukun dan hukumnya maka shalatnya diterima, namun masalah dapat pahala apa nggak itu kembali ke Allah azza wa jalla.. sedangkan shalatnya orang yang tidak sesuai tuntunan nabi jelas tidak diterima.. karena nabi Muhammad shallohu alaihi wasallam bersabda " shalatlah sebagaimana aku shalat"

fokus mas, fokus
harus jelas
pertanyaannya sederhana : siapa yang masuk surga ??

Asum
29-12-2011, 09:01 AM
@Asum:

Gini, semisal nih. Ada orang yang nanya gimana caranya sholat ke Ulama, dan ada orang seperti Sedge lah. Nah, ternyata orang yang nanya ke ulama itu rajin melakukan gerak sholat sesuai petunjuk ulama tersebut tapi rajin juga korupsi di kantornya. Sedangkan Sedge mungkn melakukan sholat yang gerakanya tidak sesuai petunjuk si ulama, tapi tidak pernah korupsi.

Dia dapat pahala karena shalatnya, dan berdosa karena perbuatan korupsinya. MAsing2 amal mendapat ganjarannya, namun sholat, dapat mengapus dosa, sedangkan amal kebaikan, tidak dapat menggantikan amala sholat.

Antum pahama yang saya maksud ?


Nah, jadinya siapa kira-kira masuk surga tuh?

Yang masuk surga itu yang bersyahadat alias tidak kafir. Itu sudah pasti. terlepas apakah dia berbuat maksiat atau tidak.


Rasanya ya nggak sesimple nanya ulama berarti dah pasti benar toh. Itulah yang saya katakan pas diskusi dengan Pasingsingan, bahwa dalam membaca terjemahan dari para ahli, kita jga hendaknya menguasai faktor esensi itu.
esensi apa ?

Yang disebutkan hajime, gogon, dan sebagian mbah pasing tidak saya sangkal bukan. Dan saya mencoba mengurutkan mulai dari tahapan awal yaitu "bahasa".

Boleh saja anda pakai terjemahanan, tapi belum tentu terjemahan merepresentasikan makna sebenarnya dari bhs asal. manaknya saya pilihkan contoh ayat yang berisi firman : aqimish shalat ... (dirikanlah shalat)

:)

danalingga
29-12-2011, 09:01 AM
hussshh.. kan mas sedge bisa ketemu ama TUhan jadi dia yakin2 aja..



dalam islam masalah ibadah itu sudah diatur sedemikian rupa mas.. seperti shalat misalanya shalat subuh itu dua rakaat dengan satu salam terus ada yang shalat subuh 3 rakaat dengan satu salam ya jelas dia salah.. dan masalah korupsinya itu masalah lain itu berarti dia cuman mengerjakan shalat tidak mendirikan shalat.... karena seharusnya shalat itu menghindari manusia dari perbuatan keji dan mungkar... tapi apabila shalatnya si koruptor itu sudah sesuai rukun dan hukumnya maka shalatnya diterima, namun masalah dapat pahala apa nggak itu kembali ke Allah azza wa jalla.. sedangkan shalatnya orang yang tidak sesuai tuntunan nabi jelas tidak diterima.. karena nabi Muhammad shallohu alaihi wasallam bersabda " shalatlah sebagaimana aku shalat"

Nah, itu, soal makna mendirikan shalat itulah yang telah berbusa-busa diterangkan teman teman sebelumnya (kalo tidak salah Alip dan Sedgejenar), tapi Asum terus "membantah" dengan menggunakan arti bahasa shalat inilah, itulah.

Oh iya, mengenai "shalatlah seperti aku shalat" bisa dibahas lagi panjang lebar, toh kita sama-sama (dan banyak ulama juga) tidak langsung menyaksikan bagaimana Nabi shalat, dan jika menyaksikanpun, hanya gerakan (phisiknya) saja, tapi kondisi batinnnya tidak bukan? Tapi itu persoalan nantilah.

Nah, sekarang pertanyaan saya belum dijawab. Kira-kira ibadah dari kedua orang itu, Allah menerima siapa masuk surga? Itu shalat diterima berarti si korupsi masuk surga?

Ralat, Asum sudah menjawab diatas soal siapa yang masuk surga. Tapi kalo sampean punya pendapat lain, ya nggak apa apa dikemukakan saja.

sedgedjenar
29-12-2011, 09:06 AM
Orang kafir juga banyak yang bicara halus, apakah bakalan dapat tiket surga sesuai keyakinan Islam ? KAGAK


gak masalah gak masuk surga sesuai keyakinan islam, bisa jadi akan masuk surga sesuai keyakinan orang2 yg bersikap halus
karena surga itu milik Allah, bukan milik agama tertentu aja



Pembeda antara keislaman dan kekafiran adlaah meninggalkan shalat. Lo (misal) shalat tidak sesuai tuntutan sang mursalin LO KAFIR ... simple dan orang kafir KEKAL di Neraka.



kafir itu artinya terhalang, tertutup
tertutup dari apa ? dari cahaya Tuhan
apanya yang tertutup cahaya Tuhan ? hatinya
apa yang menutupi hati dari cahaya Tuhan ? ego
Apa sebagian ciri2 ego ? emosional

Ya, saya setuju sama anda, orang kafir emang akan kekal di neraka

::hihi::

Asum
29-12-2011, 09:07 AM
sekedar mengingatkan
anda tau kan etika/adab orang berdiskusi?
saya yakin anda paham maksud saya.
...
Iya saya paham, namnaya manusia kan tidak luput dari salah, apalagi menghadapi perkataan orang yang asal-asalan dan memandang rendah orang yang belajar ilmu agama :ngopi:

pasingsingan
29-12-2011, 09:08 AM
hmm ....
ini udah melebar n mulai gak fokus neh
kembali keleptop

"orang spt apa yng berhak/memiliki otoritas menafsirkan makna kitab suci?"




Hakikat pala lo, apoa sih yang lo tau soal hakikat ? secata bahasa hakikat itu secara sebenarnya. Emang lo tau cara sholat dari siape ? dari tuntunan tuhan ?
sekedar mengingatkan
anda tau kan etika/adab orang berdiskusi?
saya yakin anda paham maksud saya.



note:
bila ingin fokus ke pengertian/pemahaman ttg "shalat"
silakan membuat bahasan/thread tersendiri.

hajime_saitoh
29-12-2011, 09:12 AM
Oh iya, mengenai "shalatlah seperti aku shalat" bisa dibahas lagi panjang lebar, toh kita sama-sama (dan banyak ulama juga) tidak langsung menyaksikan bagaimana Nabi shalat, dan jika menyaksikanpun, hanya gerakan (phisiknya) saja, tapi kondisi batinnnya tidak bukan? Tapi itu persoalan nantilah.


para sahabat banyak yang menyaksikan gerakan sahalat dan dalam hadits yang sahahih banyak kok tertera panduan sshalat yang dimulai dari takbiratul ihram samapai salam.. masalah kondisi bathin itu masalah khusuk.. dan memang khususk itu susah bagi kita2 yang ilmunya cetek, masih aja dalam shalat mikirin yang lain2...


gak masalah gak masuk surga sesuai keyakinan islam, bisa jadi akan masuk surga sesuai keyakinan orang2 yg bersikap halus
karena surga itu milik Allah, bukan milik agama tertentu aja

hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa LLah berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ::doh::..

---------- Post added at 09:12 AM ---------- Previous post was at 09:12 AM ----------

hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa ALLah azza wa jalla berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ..

Asum
29-12-2011, 09:14 AM
...
kafir itu artinya terhalang, tertutup
tertutup dari apa ? dari cahaya Tuhan
apanya yang tertutup cahaya Tuhan ? hatinya
apa yang menutupi hati dari cahaya Tuhan ? ego
Apa sebagian ciri2 ego ? emosional
...
Look who's talking ?

Trus siapa yang tertutup dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulnya dan hanya bersandar kepada kebatinan ? ::hihi::

danalingga
29-12-2011, 09:16 AM
Biar balik ke laptop, ini rangkuman saya:

Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi". Soal faktor bahasa, bisa memanfaatkan orang yang ngerti bahasa dan esensi. Nah, yang kita-kita ini tinggal memanfaatkannya. Tapi yang utama menurutku, adalah esensi bukan bahasa.

Note: menafsir disini dalam arti mengartikan ini esensinya apa sih? maksudnya apa sih? tujuannya apa sih? Jadi saya bedakan menafsir dengan menerjemahkan ya.

Ok, lanjut.

---------- Post added at 09:16 AM ---------- Previous post was at 09:14 AM ----------


para sahabat banyak yang menyaksikan gerakan sahalat dan dalam hadits yang sahahih banyak kok tertera panduan sshalat yang dimulai dari takbiratul ihram samapai salam.. masalah kondisi bathin itu masalah khusuk.. dan memang khususk itu susah bagi kita2 yang ilmunya cetek, masih aja dalam shalat mikirin yang lain2...



hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa LLah berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ::doh::..

---------- Post added at 09:12 AM ---------- Previous post was at 09:12 AM ----------

hmmm bukan milik agama tertentu?? jadi buat apa ALLah azza wa jalla berfirman tetnag kesempurnaan agama islam dalam ayat terakhir yang turun??? wah ..

Saya tertarik juga bahas soal gerakan shalat ini secara dulu saya sering membaca soal debat antara yang katanya memakai hadist dan tidak memakai hadist. Tapi harusnya di thread sendiri. Mau membuatkan threadnya?

Asum
29-12-2011, 09:16 AM
...
note:
bila ingin fokus ke pengertian/pemahaman ttg "shalat"
silakan membuat bahasan/thread tersendiri.
Itu cuma 1 contoh, dimulai dari pemahaman secara bahasa, kemudian nanti akan merujuk kepada penjelasan Rasulullah saw sebagaimana yang tercantum dalam hadits.

Jadi step awal tafsir :
1. ngerti bahasa kitab yang mau ditafsirkan
2. mengambil rujukan lain yang berkaitan erat dengan kitab


kalo bh kerennya Alip mah sumber primer dan sekunder gituh (walau gak jelas penempatan maksudnya)

hajime_saitoh
29-12-2011, 09:27 AM
Saya tertarik juga bahas soal gerakan shalat ini secara dulu saya sering membaca soal debat antara yang katanya memakai hadist dan tidak memakai hadist. Tapi harusnya di thread sendiri. Mau membuatkan threadnya?

silahkan saja dibuat nanti saya sampaikan hadits2nya dari buku sifat shlat nabi karangan Nhasirudin al-Albani rahimahullah jilid 1 sampai 2. jilid 3 nya belon beli gw...

Asum
29-12-2011, 09:39 AM
Biar balik ke laptop, ini rangkuman saya:

Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi".

"Esensi" yang anda maksud ada sih ? ::ungg::


Soal faktor bahasa, bisa memanfaatkan orang yang ngerti bahasa dan esensi. Nah, yang kita-kita ini tinggal memanfaatkannya. Tapi yang utama menurutku, adalah esensi bukan bahasa.
...

Terjemahan mana yang anda pilih untuk firman Allah SWT "aqimish shalat" ? Apakah terjemahan Depag RI atau Yusuf Ali ? atau anda punya rujukan terjemahan lain ?

Terjemahan mana yang mudah anda pahami maksud (esensi ?) dari firman Allah SWT di atas ?


itu saja dulu pertanyaan saya.

pasingsingan
29-12-2011, 09:47 AM
@Asum:

yng dimaksud dana itu kriteria orang yng boleh menafsirkan
bkn ente condong ketafsir mana, dana condong ketafsir mana
dlm suatu persolan. :-?

sedgedjenar
29-12-2011, 09:49 AM
Look who's talking ?

Trus siapa yang tertutup dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulnya dan hanya bersandar kepada kebatinan ? ::hihi::

ya mungkin akar pemahaman kita udah beda
mau diterusin kemana juga bakal mensana incorpore sano
ente ngaji quran berupa buku
ane ngaji quran yang gak cuma buku

mengenai quran yang bukan buku, quran yang ada di dalam dada
ane udah ketemu Manusia yang sering didatangin ulama dan habib
sampe suatu waktu ada habib datang dr pekalongan buat silaturahmi
selese silaturahim, habib ini bilang gini "Guru kamu itu adalah quran yang hidup, bisa dibilang sebagai abuya"

itu sebabnya saya meyakini quran itu gak sekedar buku aja
karena kalo cuma sekedarbuku, rentan di perkosa dan politisasi
apalagi sama orang yang masih emosional dan penuh ego

mudah2 an kita semua dijauhkan dari sifat2 semacam itu

amin

Asum
29-12-2011, 09:52 AM
@Asum:

yng dimaksud dana itu kriteria orang yng boleh menafsirkan
bkn ente condong ketafsir mana, dana condong ketafsir mana
dlm suatu persolan. :-?
Maksudnya ?



saya tidak paham maksud "esensi" yang dimaksud dan penjelasan mbah di atas. Jadi tidak ada salahnya saya tanya ulang supaya jelas dan tidak salah menangkap maksud pernyataan tsb.

---------- Post added at 09:52 AM ---------- Previous post was at 09:50 AM ----------


...
itu sebabnya saya meyakini quran itu gak sekedar buku aja
karena kalo cuma sekedarbuku, rentan di perkosa dan politisasi
apalagi sama orang yang masih emosional dan penuh ego
...
emangnya guru lo atau habib lo gak suka memperkosa buku dimaksud ? ::hihi::::hihi::

purba
29-12-2011, 09:59 AM
"Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (As-Sunnah)". [An-Nisa' : 59]


Yg di dalam kurung itu (Al-Quran dan As-Sunnah) hasil tafsir juga atau memang terpapar begitu di dalam Quran?

Seandainya benar tafsirnya begitu, maka posisi Sunnah sudah sepenting Quran, mengingat itu (An-Nisa:59) perkataan tuhan. Tidak mungkin Nabi saw hanya menyuruh menghafal Quran, tapi Sunnah tidak, padahal Allah menyuruh kembali ke Quran dan Sunnah.

Sesuatu yg sulit diterima akal sehat jika Allah swt menyuruh kembali ke Quran dan Sunnah, sementara utusannya (Muhammad saw) hanya mengurusi Quran (mencatat dan menghafal).

Juga dgn akal sehat (entah buat orang beriman mungkin akal jahil :)) ), perbedaan pendapat umumnya terjadi karena masalah yg makin spesifik, makin sempit, dan makin detil. Menjadi sangat logis jika Allah swt menyuruh utk kembali ke pokok-pokok ajaranNya yg lebih umum, yaitu Quran, utk menyelesaikan masalah tsb. Jadi, perintah kembali kepada Allah dan Rasul lebih mengenai sasaran jika ditafsirkan sbg kembali kepada Quran semata sebagai referensi umum umat Islam.

Mungkin umat Islam perlu berimajinasi sedikit. Someday in the future, umat Islam sudah membuat koloni di sebuah planet X constelasi Y sekian ribu tahun cahaya dari Bumi, lingkungan yg sama sekali asing dibandingkan Bumi. Bagaimana menjalankan syariat Islam di sana? Mau tidak mau, you kembali ke pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Quran, karena pokok-pokok tsb bersifat umum, punya daya adaptasi yg tinggi utk segala jenis lingkungan yg dihadapi.

Atau umat Islam tidak kesampaian berimajinasi seperti itu karena mungkin berpikiran sudah keburu kiamat dan takut neraka? ::hihi::

pasingsingan
29-12-2011, 10:01 AM
@Asum:

klo itu yng ente mau
mustinya cukup dng
"apa yng dimaksud esensi dlm penafsiran menurut anda titik"

bukan spt misal:
apa makna "shalat" menurut penafsiran/pemahaman anda?

itu mah udah specific case banget
makanya saya sarankan buka thread baru aja
klo permasalahanya sudah menjurus semacam itu #-o

hajime_saitoh
29-12-2011, 10:04 AM
mengenai quran yang bukan buku, quran yang ada di dalam dada
ane udah ketemu Manusia yang sering didatangin ulama dan habib
sampe suatu waktu ada habib datang dr pekalongan buat silaturahmi
selese silaturahim, habib ini bilang gini "Guru kamu itu adalah quran yang hidup, bisa dibilang sebagai abuya"

jadi menurut bung sedge Quran itu makhluk atau sekedar kalam illahi???

sedgedjenar
29-12-2011, 10:09 AM
jadi menurut bung sedge Quran itu makhluk atau sekedar kalam illahi???

quran itu bukan mahluk, tapi ada didalam mahluk
kalam ilahi itu ada dalam mahluk, ada juga di dalam quran

---------- Post added at 10:09 AM ---------- Previous post was at 10:07 AM ----------



emangnya guru lo atau habib lo gak suka memperkosa buku dimaksud ? ::hihi::::hihi::

tolong moderator
dijadikan catatan nih

hehehehhe,,,


underline text quote by pasing
untuk menghindarkan kesalah pahaman

pasingsingan
29-12-2011, 10:30 AM
Sesuatu yg sulit diterima akal sehat jika Allah swt menyuruh kembali ke Quran dan Sunnah, sementara utusannya (Muhammad saw) hanya mengurusi Quran (mencatat dan menghafal).
Juga dgn akal sehat (entah buat orang beriman mungkin akal jahil ), perbedaan pendapat umumnya terjadi karena masalah yg makin spesifik, makin sempit, dan makin detil. Menjadi sangat logis jika Allah swt menyuruh utk kembali ke pokok-pokok ajaranNya yg lebih umum, yaitu Quran, utk menyelesaikan masalah tsb. Jadi, perintah kembali kepada Allah dan Rasul lebih mengenai sasaran jika ditafsirkan sbg kembali kepada Quran semata sebagai referensi umum umat Islam.
I like this ::up::

Mungkin akan lebih seru klo komen (baca colekan ente)
itu dikembangkan di TOPIK ini (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3382-silang-siur-seputar-HADIST) pur

---------- Post added at 11:30 AM ---------- Previous post was at 11:21 AM ----------


jadi menurut bung sedge Quran itu makhluk atau sekedar kalam illahi???
waah ...
ini sama juga samimawon
yng dibahas adalah
siapa yng boleh/berhak menafsirkan
bukan apa yng ditafsirkan


klo masih tidak mau fokus ntar tak gembok neh
prasaan dah mulai bandel yak #-o

sedgedjenar
29-12-2011, 10:40 AM
I like this ::up::

Mungkin akan lebih seru klo komen (baca colekan ente)
itu dikembangkan di TOPIK ini (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?3382-silang-siur-seputar-HADIST) pur[COLOR="Silver"]



yang ngasih jawaban bagus malah orang yg selama ini di cap atheist dan disebrangi orang yang (katanya) beragama ya ?
jadi benang merahnya dimana ? apa ? clue apa yang bisa diambil nih ?

::ngakak2::

Asum
29-12-2011, 10:48 AM
@Asum:

klo itu yng ente mau
mustinya cukup dng
"apa yng dimaksud esensi dlm penafsiran menurut anda titik"

bukan spt misal:
apa makna "shalat" menurut penafsiran/pemahaman anda?

itu mah udah specific case banget
makanya saya sarankan buka thread baru aja
klo permasalahanya sudah menjurus semacam itu #-o
Loh ...

danalingga kan bilang

Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi".
Trus saya tanya :

"Esensi" yang anda maksud ada sih ?

anda berusaha menjelaskan ;

yng dimaksud dana itu kriteria orang yng boleh menafsirkan

Sekarang saya substitusi saja penjelasan anda ke dalam kalimat danalingga menjadi : Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi kriteria orang yng boleh menafsirkan" ? kalimat apa ini ::grrr::

Kalaulah pertanyaannya : Siapa yang berhak melakukan tafsiran (penjelasan) ?

Jawabannya cukup : orang-orang yang mengetahui ('ulama).

Apa kriteria ulama ? <<< pertanyaan ini tergantung kriteria ulama yang dimaksud, jika ulama tafsir al-Qur'an maka minimal dia menguasai bahasa al-Qur'an. Karena bahasa adalah media komunikasi, dan dalam komunikasi itu, ada kalimat yang jelas maksudnya atau petunjuknya (tidak perlu tafsir atau penjelasan) dan ada yang tidak jelas kalimatnya (perlu tafsir atau penjelasan lanjutan).

CMIIW

Jadi kalo mau disimpulkan oleh danalingga, seharusnya menjadi : Yang berhak menafsir adalah orang yang paham "esensi maksudnya" <<< kalimat ini lebih jelas dibanding kalimat sebelumnya.


Itu pendapat saya, tidak setuju juga tidak apa2.

---------- Post added at 10:48 AM ---------- Previous post was at 10:46 AM ----------


yang ngasih jawaban bagus malah orang yg selama ini di cap atheist dan disebrangi orang yang (katanya) beragama ya ?
jadi benang merahnya dimana ? apa ? clue apa yang bisa diambil nih ?

::ngakak2::
Itu kan akalnya dia (yang atheis), beda dengan akalnya yang non atheis. Jadi gak masuk akal bagi atheis, belum tentu gak masuk akal bagi non atheis ... ::hihi::

sedgedjenar
29-12-2011, 11:00 AM
Itu kan akalnya dia (yang atheis), beda dengan akalnya yang non atheis. Jadi gak masuk akal bagi atheis, belum tentu gak masuk akal bagi non atheis ... ::hihi::

makanya ada dalil naqli dan aqli
keduanya kudu jalan seimbang

kalo cuma pake alil naqli, jadinya terdogma (menyembah agama)
kalo cuma dalil aqli jadinya atheist

Asum
29-12-2011, 11:14 AM
makanya ada dalil naqli dan aqli
keduanya kudu jalan seimbang

kalo cuma pake alil naqli, jadinya terdogma (menyembah agama)
kalo cuma dalil aqli jadinya atheist
Trus elo pake apa ? naqli (kutipan dalil)+'aqli (akal) atau cuman pake bathin ?

Saya yakin lo gak tau arti naqli dan 'aqli ::hihi::

danalingga
29-12-2011, 11:16 AM
Esensi yang saya maksud seperti analogi dari Mbah Pasing berikut:




sbg analogi
ada buku/diktat kedokteran berbahasa inggris
siapa yng berhak/punya otoritas untuk menafsirkan kedlm bhs.Indonesia?
- apakah sembarang orang asal dapat membaca?
- apakah sembarang orang asal dapat berbahasa inggris?

Dan seperti yang sudah saya sebutkan kalo urusan bahasa dapat diserahkan ke yang mengerti bahasa itu, dan kita tinggal memanfaatkannya saja. Nah, disini yang terpenting adalah mengerti kedokterannya, entah itu bisa bahasa inggris atau tidak.

Kalo dalam konteks agama, berarti mengerti agamanya, entah bisa bahasa agama itu diturunkan atau tidak.

Asum
29-12-2011, 11:23 AM
Esensi yang saya maksud seperti analogi dari Mbah Pasing berikut:
...
Dan seperti yang sudah saya sebutkan kalo urusan bahasa dapat diserahkan ke yang mengerti bahasa itu, dan kita tinggal memanfaatkannya saja. Nah, disini yang terpenting adalah mengerti kedokterannya, entah itu bisa bahasa inggris atau tidak.

Kalo dalam konteks agama, berarti mengerti agamanya, entah bisa bahasa agama itu diturunkan atau tidak.
lumayan lah ... walau anda menghilangkan unsur bhs di atas.

sedgedjenar
29-12-2011, 12:27 PM
Trus elo pake apa ? naqli (kutipan dalil)+'aqli (akal) atau cuman pake bathin ?

Saya yakin lo gak tau arti naqli dan 'aqli ::hihi::

saya pake keduanya
yang naqli, lalu masuk di akal saya (karena saya praktekkan) dan saya buktikan

kalo mau bahas terjemahan kata2 buka thread baru aja ya
mungkin di forum bahasa sana

Asum
29-12-2011, 12:34 PM
saya pake keduanya
yang naqli, lalu masuk di akal saya (karena saya praktekkan) dan saya buktikan
...
jadi yang gak masuk akal lo, lo gak akan percaya ... bahkan klo al-Qur'an bilang ada malaiakat yang bersayap 3, lo ak percaya karena menurutu akal lo, saya malaikat cuman 2 sesuai di film2 (sbagai bukti) ::hihi::

ya sudahlah ... itukan cuman claim elo, toh buktinya lo selalu mendahulukan akal lo dibanding dalil (naqli). Terbukti dengan beberapa post lo, duluan ngomong dibanding memberikan sumber rujukan dulu. ::ngakak2::

sedgedjenar
29-12-2011, 01:03 PM
jadi yang gak masuk akal lo, lo gak akan percaya ... bahkan klo al-Qur'an bilang ada malaiakat yang bersayap 3, lo ak percaya karena menurutu akal lo, saya malaikat cuman 2 sesuai di film2 (sbagai bukti) ::hihi::

ya sudahlah ... itukan cuman claim elo, toh buktinya lo selalu mendahulukan akal lo dibanding dalil (naqli). Terbukti dengan beberapa post lo, duluan ngomong dibanding memberikan sumber rujukan dulu. ::ngakak2::

saya gak percaya sama inderawi saya
saya gak percaya ama mata, lidah, kulit, telinga saya

kalo saya percaya sama indera saya nanti saya ketipu sama jenggot, sama jubah pemuka agama, sama jidat item
itu artinya saya juga gak percaya dengan malaikat bersayap dua seperti yang di pilm

kalo ada dalil naqli yang saya gak tau, saya akan endapkan dulu
saya anggap Allah belum membukakan pengetahuannya kepada saya
tiadalah saya berilmu melainkan ilmu dari Allah

ya kalo ente anggap mendahulukan akal silakan aja
kalo masih terhijab, tertutup, kafaro wajar aja kalo berprasangka, menuduh dan berpersepsi
kita bersikap, bertutur kata dan berdiskusi bukan sesuai ilmu kita
tapi sesuai derajat kita

yang derajatnya mulia, diskusinya dengan cara mulia dan sopan

Asum
29-12-2011, 01:12 PM
..
yang derajatnya mulia, diskusinya dengan cara mulia dan sopan
walaupun otaknya kosong ? cuman AsMa (Asal Mangap) ? ::ngakak2::

dahulukan sumber rujukan jika anda berdiskusi secara ilmiah. <<< lebih baik dibanding ucapan orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya, atau seperti istilah kata al-Quran, "seperti keledai yang memanggul kitab-kitab tebal". <<< ntar lo bilang Allah SWT gak sopan dan tidak mulia karena berfirman seperti itu ... Padahal semua ucapan itu sesuai pada tempatnya ::hihi::


Tidaklah mungkin ucapan bodoh disematkan kepada orang yang pintar, kecuali jika memang keadaanya demikian. Afalaa ta'qilun ? (bhs prokemnya : lo gak pake otak kaliii ...) ::ngakak2::

sedgedjenar
29-12-2011, 01:36 PM
walaupun otaknya kosong ? cuman AsMa (Asal Mangap) ? ::ngakak2::

dahulukan sumber rujukan jika anda berdiskusi secara ilmiah. <<< lebih baik dibanding ucapan orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya, atau seperti istilah kata al-Quran, "seperti keledai yang memanggul kitab-kitab tebal". <<< ntar lo bilang Allah SWT gak sopan dan tidak mulia karena berfirman seperti itu ... Padahal semua ucapan itu sesuai pada tempatnya ::hihi::


Tidaklah mungkin ucapan bodoh disematkan kepada orang yang pintar, kecuali jika memang keadaanya demikian. Afalaa ta'qilun ? (bhs prokemnya : lo gak pake otak kaliii ...) ::ngakak2::

tergantung mau diskusi apa ?
kalo diskusi yang gontok2 an ya otak jangan kosong
kalo kosong nanti gak ada modal buat ngebenturin

tapi kalo diskusi hakekat, otak harus kosong, bahkan kepala harus dipenggal
(maaf ini bahasa kiasan, harus saya kasih catatan supaya gak disalah artikan seperti kasus nanya buku udah makan apa belum)

seperti saya bilang, kalo anda bilang bilang saya bicara tanpa rujukan, anda keliru
rujukan saya adalah apa yang sudah saya alami dan praktekkan yang sesuai dengan quran
(quran yang bukan sekedar buku, harus saya kasih catatan lagi supaya gak salah persepsi)

terbukti kan saya bilang
mensana incorpore sano
akarnya sudah beda, diterusin sejauh ini ya tetep aja gue kesana, elu ke sono

::ngakak2::

hajime_saitoh
30-12-2011, 08:58 AM
seperti saya bilang, kalo anda bilang bilang saya bicara tanpa rujukan, anda keliru
rujukan saya adalah apa yang sudah saya alami dan praktekkan yang sesuai dengan quran
(quran yang bukan sekedar buku, harus saya kasih catatan lagi supaya gak salah persepsi)

anda berkata sesuai al-Quran??? padahal pengalaman yang anda maksud selalu bertentangan dengan tafsir al-Quran dari para ulama sendiri... jadi sesuai darimananya..

dan dimana2 kaedah ilmiah dalam diskusi memang harus membawakan rujukan dari sumber2 yang dipercaya bukan dari pengalaman sendiri.... karena pengalaman sendiri masih bersifat subyektif dan belum tentu bisa diterima semua orang

---------- Post added at 08:57 AM ---------- Previous post was at 08:56 AM ----------


terbukti kan saya bilang
mensana incorpore sano
akarnya sudah beda, diterusin sejauh ini ya tetep aja gue kesana, elu ke sono

ya pastinya akan gak ketemu.. karena kami berpegang teguh kepada tafsir al-Quran yang jelas dan anda berpegang teguh pada pengalaman kebathinan anda...

---------- Post added at 08:58 AM ---------- Previous post was at 08:57 AM ----------

tapi ya memang begitu dalam suatu diskusi memang tidak harus ada titik temu.. masing2 pihak hanya bertugas menyajikan pendapat dan keyakinannya berdasarkan sumber2 yang mereka percayai.. soal hasil itu belakangan...

sedgedjenar
30-12-2011, 09:23 AM
anda berkata sesuai al-Quran??? padahal pengalaman yang anda maksud selalu bertentangan dengan tafsir al-Quran dari para ulama sendiri... jadi sesuai darimananya..

dan dimana2 kaedah ilmiah dalam diskusi memang harus membawakan rujukan dari sumber2 yang dipercaya bukan dari pengalaman sendiri.... karena pengalaman sendiri masih bersifat subyektif dan belum tentu bisa diterima semua orang

---------- Post added at 08:57 AM ---------- Previous post was at 08:56 AM ----------



ya pastinya akan gak ketemu.. karena kami berpegang teguh kepada tafsir al-Quran yang jelas dan anda berpegang teguh pada pengalaman kebathinan anda...

---------- Post added at 08:58 AM ---------- Previous post was at 08:57 AM ----------

tapi ya memang begitu dalam suatu diskusi memang tidak harus ada titik temu.. masing2 pihak hanya bertugas menyajikan pendapat dan keyakinannya berdasarkan sumber2 yang mereka percayai.. soal hasil itu belakangan...

anda tau akar perbedaannya ?
anda sama asum berpegang teguh bahwa quran itu cuma kitab atawa mushaf
saya berkeyakinan quran itu bukan cuma mushaf
ayatnya sudah saya kasih, tentang quran yang ada di dalam dada
anda gak ngejawab, yang ngejawab asum

menurut asum, maksudnya di dalam dada itu adalah quran itu benar dari Tuhan
gak tau deh tu nafisirin sendiri atau dr kitab ulama

nah dr situ aja dah beda, mau dibawa kemana juga beda

Asum
30-12-2011, 09:32 AM
...
anda sama asum berpegang teguh bahwa quran itu cuma kitab atawa mushaf
saya berkeyakinan quran itu bukan cuma mushaf
ayatnya sudah saya kasih, tentang quran yang ada di dalam dada
anda gak ngejawab, yang ngejawab asum

menurut asum, maksudnya di dalam dada itu adalah quran itu benar dari Tuhan
gak tau deh tu nafisirin sendiri atau dr kitab ulama

nah dr situ aja dah beda, mau dibawa kemana juga beda
Jelas bedalah,

Saya bertumpu pada tafsir ulama dan petunjuk bahasa alias kontks ayat, anda bertumpu pada pemahaman bathin.

Kalau dasar anda ayat di atas, itu sudah terjawab dengan sendirinya bahwa pandangan anda keliru. Masalah anda mau terima itu sebagai suatu kekeliruan atau tidak, itu lain soal. Yang jelas sudah terlihat anda keliru baik dari sisi pemahaman konteks ayat, ataupun rujukan tafsir ... ::hihi::

sedgedjenar
30-12-2011, 09:46 AM
Jelas bedalah,

Saya bertumpu pada tafsir ulama dan petunjuk bahasa alias kontks ayat, anda bertumpu pada pemahaman bathin.

Kalau dasar anda ayat di atas, itu sudah terjawab dengan sendirinya bahwa pandangan anda keliru. Masalah anda mau terima itu sebagai suatu kekeliruan atau tidak, itu lain soal. Yang jelas sudah terlihat anda keliru baik dari sisi pemahaman konteks ayat, ataupun rujukan tafsir ... ::hihi::

sebenernya jawaban tafsir yg anda sajikan, jalalain itu tidak disebutkan spesifik makna di dalam dada. Anda langsung nulis maknanya adalah quran benar dari Tuhan. Dan saya gak tau itu penafsiran anda sendiri atau dari kitab ?

tapi ya sudah lah, saya gak perlu nerusin lagi

saya akan ikut langkah purba aja, gak usah nerusin masalah ini dengan anda
karena dari sekian banyak bertukar kata, gaya diskusi anda penuh dengan persepsi dan prasangka
belum lagi bumbu2 lainnya yang gak perlu saya sebutkan, karena yang lain udah bisa baca

[meditasi][meditasi]

Asum
30-12-2011, 10:13 AM
sebenernya jawaban tafsir yg anda sajikan, jalalain itu tidak disebutkan spesifik makna di dalam dada. Anda langsung nulis maknanya adalah quran benar dari Tuhan. Dan saya gak tau itu penafsiran anda sendiri atau dari kitab ?

yang pertama jelas tafsiran saya, yang kedua adalah tafsiran ulama tafsir, dan keduanya tidak sama dengan anda. trus tafsir mana yang anda pilih ? saya atau imam Jalalain ? anda anda milih pemahaman anda yang sudah jelas anda tidak punya kapasitas ilmu yang cukup untuk menafsir ?

Jika anda pilih pendapat pribadi, silahkan. Itu hak anda, tapi jangan katakan bahwa itu dalil "bahwa al-Qur'an yang sebenarnya ada dalam dada, sedangkan yang berbentuk mushaf bukan al-Qur'an" <<< ini mah bhs dukun ... alias ilmu kebatinan ...


tapi ya sudah lah, saya gak perlu nerusin lagi

saya akan ikut langkah purba aja, gak usah nerusin masalah ini dengan anda
karena dari sekian banyak bertukar kata, gaya diskusi anda penuh dengan persepsi dan prasangka
belum lagi bumbu2 lainnya yang gak perlu saya sebutkan, karena yang lain udah bisa baca

[meditasi][meditasi]
Monggo .... jika menurut anda itu jalan terbaik, dan yang sebaiknya memang anda bersandar pada nash qur'an dan al-hadits.

Ini gaya saya dalam berdiskusi sebagaimana gaya anda dalam berdiskusi. Tidaklah sama saya terapkan, tergantung siapa yang saya hadapi.

Ma'af saja jika anda merasa tidak nyaman, toh saya juga tidak nyaman dengan cara anda berbicara soal agama.


http://kopimaya.com/forum/images/smilies/oldforum/meditate.gif

Agitho_Ryuki
31-12-2011, 05:20 AM
Wah.. kok jadi ndak enak gini suasananya.. begini, saya adalah S1 Matematika, sedang studi S2 Matematika. Sudah 6 tahun saya berkecimpung di dunia pembelajaran matematika. Bolehkah saya menafsirkan Al-Quran? Atau apakah saya harus mengikuti ulama saja?

Ronggolawe
31-12-2011, 05:26 AM
Wah.. kok jadi ndak enak gini suasananya.. begini, saya adalah S1 Matematika, sedang studi S2 Matematika. Sudah 6 tahun saya berkecimpung di dunia pembelajaran matematika. Bolehkah saya menafsirkan Al-Quran? Atau apakah saya harus mengikuti ulama saja?
loe harus ikut ulama, Gith. Karena ilmu tafsir itu
sudah paripurna... ngga ada lagi yang bisa digali
dari Al Quran, kalau menurut Asum dan Saito sih :)

Agitho_Ryuki
31-12-2011, 05:34 AM
Kalo gitu, ulama yg mana? Banyak tuh yg tafsirannya beda2.. :)

sedgedjenar
31-12-2011, 06:30 AM
Wah.. kok jadi ndak enak gini suasananya.. begini, saya adalah S1 Matematika, sedang studi S2 Matematika. Sudah 6 tahun saya berkecimpung di dunia pembelajaran matematika. Bolehkah saya menafsirkan Al-Quran? Atau apakah saya harus mengikuti ulama saja?

menurut hajime saitoh gak boleh, seperti kasus anak sd yg nanya bapaknya di posting belakang
tapi asum ada menafsirkan sendiri ayat quran yg didalam dada, apakah dia ulama ? ente tanya aja langsung

::ngakak2:: ::ngakak2::

Ronggolawe
31-12-2011, 06:55 AM
Kalo gitu, ulama yg mana? Banyak tuh yg tafsirannya beda2.. :)
loe pilih saja yang cocok ama hati loe :)

Agitho_Ryuki
31-12-2011, 07:47 AM
loe pilih saja yang cocok ama hati loe :)

Lah bedanya sama nafsirin sendiri apa?

Ronggolawe
31-12-2011, 07:57 AM
Lah bedanya sama nafsirin sendiri apa?
mana gw tahu.. gw sih senang nafsirin sendiri :)

hajime_saitoh
31-12-2011, 12:10 PM
terserah deh anda mau nafsirin sendiri atau kagak.. yang jelas Rasullullah shallohu alaihi wa sallam saja sudah menyampaikan agar kita menafsirkan al-Quran kalo gak tau ilmunya... kalo mau nurut ama rasull silahkan nggak juga itu tanggung jawab anda..

ndableg
31-12-2011, 04:02 PM
Ud ambil gampangnya..

Khusus dewasa dan berilmu, tapsir ndiri (termasuk memilih ahli tapsir).. dibawah umur, kirim ke ahlinya...

Dosa? masing2...
This is islam man..

Ronggolawe
31-12-2011, 07:41 PM
terserah deh anda mau nafsirin sendiri atau kagak.. yang jelas Rasullullah shallohu alaihi wa sallam saja sudah menyampaikan agar kita menafsirkan al-Quran kalo gak tau ilmunya... kalo mau nurut ama rasull silahkan nggak juga itu tanggung jawab anda..
salah tulis ya, bro :)

Asum
31-12-2011, 10:49 PM
loe harus ikut ulama, Gith.

Betul !


Karena ilmu tafsir itu
sudah paripurna... ngga ada lagi yang bisa digali
dari Al Quran, kalau menurut Asum dan Saito sih :)
Kata siapa ?

Anda tau kang Aam Aminuddin ?

Beliau membuat tafsir kontemporer al-Qur'an. Ybs berhak menafsir karena ybs memiliki perangkat ilmu tafsir, yang salah satunya adalah penguasaan bahasa Arab. Dan sebelum beliau kan ada Bapak Quraisy Shiha dengan tafsir Al-Mishbah nya. Beliau berdua adalah orang-orang yang capable dalam bidang tsb, jadi tidak ada masalah.

Anda bisa bayangkan jika syekhjenar melakukan tafsir (contoh soal ayat al-qur'an yang bener ada di dada kaum muslimin), yang terjadi adalah mushaf ditinggalkan dan beralih kepada paham kebatinan. Besok-besok muncul tafsir al-Qur;an versi kebatinan ... ::arg!::

Jadi, orang awam memang tidak layak lah menafsir sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Saya heran akalu ada yg masih ngotot berpaham boleh ... klo bicara boleh sih boleh aja, sama kyk sdr Agitho yang S2 Matematika, memberi penjelasan (tafsiran) soal perencanaan struktur beton prategang untuk jembatan bentang panjang ke awam lainnya. Pinteran saya lah kalo soal beginian, karena memang jurusan saya teknik sipil, dan paham soal tsb karena belajar secara khusus dibanding Agitho. Dan begitu pula sebaliknya, gak mungkin saya menjelaskan (misal) perhitungan statistik secara mendalam, karena saya tidak mendalami hal tsb secara serius. Ntar salah menjelaskan gimana ?

Intinya, jika Agitho mengusai bidang yang akan dijelaskannya, silahkan. Dia berhak. Tapi jika tidak menguasai bidang tsb ... kenapa merasa sok kepinteran ? ::doh::

Agitho_Ryuki
31-12-2011, 10:59 PM
Ikut ulama yg mana? syiah? Sunni? Muhammadiyah? NU?

Ronggolawe
31-12-2011, 11:00 PM
Betul !


Kata siapa ?

Anda tau kang Aam Aminuddin ?

Beliau membuat tafsir kontemporer al-Qur'an. Ybs berhak menafsir karena ybs memiliki perangkat ilmu tafsir, yang salah satunya adalah penguasaan bahasa Arab. Dan sebelum beliau kan ada Bapak Quraisy Shiha dengan tafsir Al-Mishbah nya. Beliau berdua adalah orang-orang yang capable dalam bidang tsb, jadi tidak ada masalah.

Anda bisa bayangkan jika syekhjenar melakukan tafsir (contoh soal ayat al-qur'an yang bener ada di dada kaum muslimin), yang terjadi adalah mushaf ditinggalkan dan beralih kepada paham kebatinan. Besok-besok muncul tafsir al-Qur;an versi kebatinan ... ::arg!::

Jadi, orang awam memang tidak layak lah menafsir sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Saya heran akalu ada yg masih ngotot berpaham boleh ... klo bicara boleh sih boleh aja, sama kyk sdr Agitho yang S2 Matematika, memberi penjelasan (tafsiran) soal perencanaan struktur beton prategang untuk jembatan bentang panjang ke awam lainnya. Pinteran saya lah kalo soal beginian, karena memang jurusan saya teknik sipil, dan paham soal tsb karena belajar secara khusus dibanding Agitho. Dan begitu pula sebaliknya, gak mungkin saya menjelaskan (misal) perhitungan statistik secara mendalam, karena saya tidak mendalami hal tsb secara serius. Ntar salah menjelaskan gimana ?

Intinya, jika Agitho mengusai bidang yang akan dijelaskannya, silahkan. Dia berhak. Tapi jika tidak menguasai bidang tsb ... kenapa merasa sok kepinteran ? ::doh::
emangnya kapan gw membolehkan orang awam
mempublikasikan tafsirannya kepada orang lain,
bro :)

Dipublikasikan sekalipun, ngga bakal ada orang
yang mau beli, apalagi baca... rugi dong pener
bitnya.

Asum
31-12-2011, 11:05 PM
Ikut ulama yg mana? syiah? Sunni? Muhammadiyah? NU?
Anda suka ikut ulama yang mana ?

Pilih yang anda suka sesuai ulama yang anda yakini. Tidak mungkin umat Islam Sunni mau ngambil tafsiran ulama Syi'ah. Begitu pula sebaliknya.

Beres masalah ... btw, dan bukan karena anda S2 Matematika, maka anda merasa punya hak ngajarin saya soal konsep beton pratengang bukan ? tuker ilmu boleh, tapi ngajarin saya ? ... gak mungkin lah, kcuali jika adan belakar ilmu tsb maka kita bisa tuker pikiran, kalo gak tau ilmunya ? ya lo belajar sama gua lah.

Begitu pula sebaliknya. Bisa anda pahami ? jadi jangan ngototo pengen nafsirin bidang ilmu yang anda sendiri tidak menguasai ilmu tsb ... ::hihi::

---------- Post added at 11:05 PM ---------- Previous post was at 11:04 PM ----------


emangnya kapan gw membolehkan orang awam
mempublikasikan tafsirannya kepada orang lain,
bro :)

Dipublikasikan sekalipun, ngga bakal ada orang
yang mau beli, apalagi baca... rugi dong pener
bitnya.
Konsumsi pribadi ? TERSERAH ELO AJA ... ::hihi::

Ronggolawe
31-12-2011, 11:10 PM
Konsumsi pribadi ? TERSERAH ELO AJA ...
hahaha... jadi ngapain loe ngelarang-larang :)

---------- Post added at 11:10 PM ---------- Previous post was at 11:07 PM ----------

lihat pertanyaan awal Dana Lingga


Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?
jadi rakyat kebanyakan boleh dong mentafsirkan
untuk konsumsi pribadi atau keluarga yang menja
di tanggungannya? :)

case closed kalau begitu :)

Asum
31-12-2011, 11:19 PM
jadi rakyat kebanyakan boleh dong mentafsirkan
untuk konsumsi pribadi atau keluarga yang menja
di tanggungannya? :)

Silahkan, jika anda tidak takut dengan dosa jariyah. Dosa yang lo terima terus-terusan karena orang lain salah dalam beramal atas petunjuk elo.


case closed kalau begitu :)
Jika itu membuat anda lega ... ::hihi::

Ronggolawe
31-12-2011, 11:29 PM
hahaha... gw baru tahu ada Dosa Jariyah :)
Tafsiran loe ya?

Setahu gw, Iblis saja menolak dipersalahkan oleh
mereka yang disesatkannya, dan itu dengan tegas
dinyatakan dalam Al Quran :)

Asum
31-12-2011, 11:42 PM
hahaha... gw baru tahu ada Dosa Jariyah :)
Tafsiran loe ya?

Rasulullah saw yang ngasih tau ... :ngopi:

Lo kalo gak tau, TANYA ... jangan nebak-nebak trus ngakak. Bukankah Allah SWT dan Rasul-Nya nyuruh elo nanya klo gak tau ? ::grrr::


Setahu gw, Iblis saja menolak dipersalahkan oleh
mereka yang disesatkannya, dan itu dengan tegas
dinyatakan dalam Al Quran :)
Itu namanya lempar batu sembunyi tangan. Sesama penyesat ya masuk neraka, yang ngajak dan yang diajak. Ada kok ayatnya, tanya di forum Agama Islam ya ... jangan cuman berdasarkan pengetahuan elo yang jelas kurangnya.

Ronggolawe
31-12-2011, 11:45 PM
Rasulullah saw yang ngasih tau ... :ngopi:

Lo kalo gak tau, TANYA ... jangan nebak-nebak trus ngakak. Bukankah Allah SWT dan Rasul-Nya nyuruh elo nanya klo gak tau ? ::grrr::


Itu namanya lempar batu sembunyi tangan. Sesama penyesat ya masuk neraka, yang ngajak dan yang diajak. Ada kok ayatnya, tanya di forum Agama Islam ya ... jangan cuman berdasarkan pengetahuan elo yang jelas kurangnya.

kalau loe punya ilmu, dibuka dong, jangan disembu
nyikan... bukankah begitu perintah Allah?

Asum
31-12-2011, 11:53 PM
kalau loe punya ilmu, dibuka dong, jangan disembu
nyikan... bukankah begitu perintah Allah?
Gua bilang apa di atas :

tanya di forum Agama Islam ya ...
Pakai mata buat membaca dan memahami kata-kata lawan diskusi sehingga lo gak salah memahami lawan bicara lo. ::grrr::

hajime_saitoh
02-01-2012, 09:25 AM
salah tulis ya, bro

iye salah ketik.. harusnya tidak punya ilmu..


Originally Posted by Agitho_Ryuki View Post
Ikut ulama yg mana? syiah? Sunni? Muhammadiyah? NU?

sunni, muhammadiuyah, Nu itu satu cabang, bedany tipis.. na kalo ama syiah baru bedanya banyak banget dan bertentangan satu sama lain........

yups... kita bertanggung jawab atas ilmu kita yang ssesat dan menyesatkan orang lain........ ada sih haditsnya cmn wa lupa en silahkan bro ronggo cari aja di forum2 agama islam atau beli aja kitab haditsnya bukhari muslim dijamin lebih lengkap broo...

pasingsingan
02-01-2012, 10:43 AM
@hajime:

NU, Muhammadiyah masuk geng Sunni yak
lalu HTI, Al-Irsyad, Masyumi dlsb masuk mana neh? :-?

hajime_saitoh
02-01-2012, 10:49 AM
saya rasa HTI, Masyumi juga masuk geng suni dah.. nah al-irsyad ini saya gak tahu yang kayak gimana..... ikhwanul muslimin juga sunni... karena semua golongan yang anda sebutkan ini memegang salah satu dari 4 mahzab sunni

pasingsingan
02-01-2012, 11:00 AM
saya rasa HTI, Masyumi juga masuk geng suni dah.. nah al-irsyad ini saya gak tahu yang kayak gimana..... ikhwanul muslimin juga sunni... karena semua golongan yang anda sebutkan ini memegang salah satu dari 4 mahzab sunni
meskipun faktanya, diantara mereka jg terjadi beti gitu?


beti = beda2 tipis :))

hajime_saitoh
02-01-2012, 11:28 AM
iya memank beda2 tipis... beda dengan syiah yang beda2 tebel

DH1M4Z
02-01-2012, 11:58 AM
ehehehe, kok dibikin sulit sih..

Kita bikin gambaran gini saja, misalnya di bidang kesehatan :

cuci tangan sebelum makan.

Untuk orang awam, cuci tangan sebelum makan agar bersih dari kuman. Kuman bisa menyebabkan sakit.
Kalau anak kecil nanya ke orang tuanya (yang awam) , dijawab biar bersih dari kuman, biar nggak sakit.
Kalau mau jawaban yang lebih spesifik, bisa tanya ke dokter atau ahli kesehatan lainnya. Berdasarkan keilmuannya di bidang kesehatan dokter akan menerangkan secara lebih rinci.

Jadi pengetahuan orang bertingkat-tingkat, ada yang tidak tau sama sekali, ada yang tau tingkat dasar , menengah, dan lanjutan.

Anak TK yang belum tahu sama sekali nanya ke orang tua (kebetulan tau tingkat dasar) :
"Pa..... kenapa kita sebelum makan harus cuci tangan? " dijawab oleh orang tuanya ; "Agar tanganmu bersih dari kuman nak... karena kuman sumber penyakit" (jawaban tingkat dasar).
Bolehkah orang tua itu memberi jawaban / penafsiran : boleh karena memang jawaban tersebut tidak bertentangan dengan kaidah kesehatan.
Kalau mau lebih jelas lagi bisa bertanya ke tingkat menengah ataupun yang sudah expert , dokter ataupun ahli kesehatan akan menjelaskan secara terperinci mengenai masalah tersebut didukung dengan keilmuannya.

Dalam kasus tersebut kalau yang berhak memberi jawaban / menafsirkan hanya dokter / ahli kesehatan , alangkah repotnya kalau setiap anak kita bertanya masalah kesehatan, matematika, pengetahuan alam, sosial, harus kita bawa ke ahlinya.

Jadi kita semua sudah mempunyai pengetahuan hanya masing -masing berbeda, ada yang tingkat basic, intermediate, atau advance. Kalau yang punya pengetahuan dasar ditanya dan memberikan jawaban sebatas pengetahuannya dan tidak menyalahi kaidah yang ada, bukan suatu masalah.

Asum
03-01-2012, 11:37 AM
...
Jadi pengetahuan orang bertingkat-tingkat, ada yang tidak tau sama sekali, ada yang tau tingkat dasar , menengah, dan lanjutan.

Betul!


...
Dalam kasus tersebut kalau yang berhak memberi jawaban / menafsirkan hanya dokter / ahli kesehatan , alangkah repotnya kalau setiap anak kita bertanya masalah kesehatan, matematika, pengetahuan alam, sosial, harus kita bawa ke ahlinya.

Jadi kita semua sudah mempunyai pengetahuan hanya masing -masing berbeda, ada yang tingkat basic, intermediate, atau advance. Kalau yang punya pengetahuan dasar ditanya dan memberikan jawaban sebatas pengetahuannya dan tidak menyalahi kaidah yang ada, bukan suatu masalah.
Betul, itulah 'ulama (orang yang tahu), dan tingkatan 'ulama juga kan beda2 tidak sama. Jawablah sesuai yang dia ketahui, jika tidak tahu ... ya tanya, jangan menerka-nerka ... :ngopi:

sedgedjenar
03-01-2012, 01:54 PM
Betul!


Betul, itulah 'ulama (orang yang tahu), dan tingkatan 'ulama juga kan beda2 tidak sama. Jawablah sesuai yang dia ketahui, jika tidak tahu ... ya tanya, jangan menerka-nerka ... :ngopi:

dari sekian banyak tingkatan ulama, ukuran kebenaran tafsirannya gimana ?
apakah berdasarkan kesepakatan atau gimana ? contohnya kalo banyak ulama yg menafsir ayat A dimana artinya adalah ABCD, maka itu adalah yg paling benar

karena ane ngalamin sendiri, ketika bersebrangan pendapat maka kata2 nya yg keluar adalah : pandangan anda tidak sesuai dengan kesepakatan kebanyakan ulama

Agitho_Ryuki
03-01-2012, 02:06 PM
jadi agama berdasarkan kesepakatan para ulama gitu???

sedgedjenar
03-01-2012, 02:28 PM
jadi agama berdasarkan kesepakatan para ulama gitu???

nunggu dulu, belum dijawab
jangan langsung ambil kesimpulan dunk akh!

::arg!:: ::arg!:: ::arg!::

pasingsingan
03-01-2012, 02:57 PM
@agitho:

sepakat untuk tidak sepakat
itu juga buah kesepakatan lo :))

DH1M4Z
03-01-2012, 03:57 PM
Betul!


Betul, itulah 'ulama (orang yang tahu), dan tingkatan 'ulama juga kan beda2 tidak sama. Jawablah sesuai yang dia ketahui, jika tidak tahu ... ya tanya, jangan menerka-nerka ... :ngopi:

sudah saya sebutkan kop, memberikan jawaban sebatas pengetahuannya dan tidak menyalahi kaidah yang ada.

pasingsingan
04-01-2012, 06:45 AM
@asum & sedge:

saya bilang jg apa?
dihalaman atas sudah saya sarankan
klo mao fokus bahas tafsir/makna shalat
silakan buka thread baru, mao di DLA atau Agama Islam
daripada eyel-eyelan alias saling ngotot ditopik ini :D




kembali keLEPTOP

DH1M4Z
04-01-2012, 09:59 AM
kembali ke TABLET (sekarang lagi musim tablet yak.. ehehe)

Masalah penafsiran, menurut saya, seperti di atras. Kita tidak mungkin expert di segala hal. Boleh jadi kita menguasai hal A, tapi hal B dan C pengetahuan kita masih tingkat dasar, atau bahkan belum ada pengetahuan sama-sekali. Kewajiban yang belum ada pengetahuan adalah bertanya kepada yang lebih tahu, jangan 'ngecap' seolah-olah sudah tahu. Nah ...... tipe yang seperti ini seperti yang disebutkan oleh hadits Nabi, (intinya) apabila dia menafsirkan tapi tidak ada pengetahuan padanya maka akan masuk neraka. Karena akibat penafsirannya padahal dia tidak ada pengetahuan sama sekali tentangnya, bisa membahayakan penanya.

Untuk yang mempunyai pengetahuan dasar, bisa menafsirkan sepanjang yang dia tau (biasanya garis besar atau yang umum) dan tidak menyalahi kaidah yang berlaku.
Demikian selanjutnya, sampai tingkat paling atas.

Yang perlu diperhatikan, penyampaian ke penanya juga perlu teknik. Kita menyampaikan suatu hal ke anak kita yang masih kecil, apakah perlu kita sampaikan dengan bahasa "ilmiah" berikut segala literatur pendukungnya? Demikian juga seorang Kiai menyampaikan suatu hal kepada ibu-ibu pengajian , tentu tidak sama dengan dosen menyampaikan kepada mahasiswa atau juga Professor menyampaikan kepada mahasiwa S-3 nya.

Bahasa penyampaian boleh berbeda, tapi esensinya tetap sama.

hajime_saitoh
04-01-2012, 10:06 AM
dari sekian banyak tingkatan ulama, ukuran kebenaran tafsirannya gimana ?
apakah berdasarkan kesepakatan atau gimana ? contohnya kalo banyak ulama yg menafsir ayat A dimana artinya adalah ABCD, maka itu adalah yg paling benar

karena ane ngalamin sendiri, ketika bersebrangan pendapat maka kata2 nya yg keluar adalah : pandangan anda tidak sesuai dengan kesepakatan kebanyakan ulama

yang jadi masalah adalah apakah pendapat anda itu sudah sesuai dengan kaedah penafsiran. apakah anda sudah memilkiki dasar2 ilmu tafsir... nah bisa kita lihat penafsiran anda sebelum2nya semua berdasarkan prasangka saja bukan berdasarkan ilmu beda dengan para ulam yang menghabiskan hidupnya hanya untuk mengkaji al-Quran dan al-Hadits.. padahal sudah dikatakan oleh rasullullah shallohu alaihi wa sallam jgn menafsirkan al-Quran tanpa ilmu anda masih juga ngeyel ya terserah anda.. kita masing akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita masing2....


Originally Posted by Agitho_Ryuki View Post
jadi agama berdasarkan kesepakatan para ulama gitu???

yup kesepakatan para ulama yang tentu saja berdasarkan dalil al-Quran dan al-hadits.. agama bukanlah penafsiran para awam....

sedgedjenar
04-01-2012, 10:10 AM
yang jadi masalah adalah apakah pendapat anda itu sudah sesuai dengan kaedah penafsiran. apakah anda sudah memilkiki dasar2 ilmu tafsir... nah bisa kita lihat penafsiran anda sebelum2nya semua berdasarkan prasangka saja bukan berdasarkan ilmu beda dengan para ulam yang menghabiskan hidupnya hanya untuk mengkaji al-Quran dan al-Hadits.. padahal sudah dikatakan oleh rasullullah shallohu alaihi wa sallam jgn menafsirkan al-Quran tanpa ilmu anda masih juga ngeyel ya terserah anda.. kita masing akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita masing2....



yup kesepakatan para ulama yang tentu saja berdasarkan dalil al-Quran dan al-hadits.. agama bukanlah penafsiran para awam....

kriteria awam itu apa ? kayak gimana ?

hajime_saitoh
04-01-2012, 10:32 AM
1. umum; am; kebanyakan; biasa; tidak istimewa; 2 n orang kebanyakan; orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);
meng·a·wam·kan v 1 mengumumkan; menyampaikan; (me-nyiarkan dsb) kpd orang banyak; 2 mengutarakan; menganjurkan; mengusulkan;
ke·a·wam·an n perihal awam: ~ bangsa kita di bidang teknologi canggih, kini semakin mengecil dng dapatnya menguasai teknologi kedirgantaraan;
peng·a·wam n penganjur: ia bertindak sbg ~ penanaman padi unggul

Agitho_Ryuki
04-01-2012, 01:26 PM
Bilamana seseorang itu dikatakan awam dengan agama?

sedgedjenar
04-01-2012, 01:38 PM
1. umum; am; kebanyakan; biasa; tidak istimewa; 2 n orang kebanyakan; orang biasa (bukan ahli, bukan rohaniwan, bukan tentara);
meng·a·wam·kan v 1 mengumumkan; menyampaikan; (me-nyiarkan dsb) kpd orang banyak; 2 mengutarakan; menganjurkan; mengusulkan;
ke·a·wam·an n perihal awam: ~ bangsa kita di bidang teknologi canggih, kini semakin mengecil dng dapatnya menguasai teknologi kedirgantaraan;
peng·a·wam n penganjur: ia bertindak sbg ~ penanaman padi unggul

berarti yg bukan awam adalah yang ahli
nah, ahli tafsir ini apakah HARUS yg lulusan sastra arab, atau apalah istilahnya sekolah tinggi tafsir atau universitas tafsir ?

gak usah muter2 ya, jawabannya HARUS atau NGGAK HARUS

pasingsingan
04-01-2012, 01:40 PM
Untuk yang mempunyai pengetahuan dasar, bisa menafsirkan sepanjang yang dia tau (biasanya garis besar atau yang umum) dan tidak menyalahi kaidah yang berlaku.
Demikian selanjutnya, sampai tingkat paling atas.
I like this ::up::

atau dng ungkapan lainnya
"sebatas yng dia mampu/usahakan"

Adalah terlalu naïf bila bertanya kpd yng lebih mengetahui itu
semata-mata dipahami sbg keharusan pergi menemui/menghadap
pemuka agama atau ahli ilmu agama/ahli dibidangnya, hare gene gitu loh
arus informasi semakin mudah diakses/didapatkan, dari manapun sumbernya :mrgreen:

sedgedjenar
04-01-2012, 01:49 PM
I like this ::up::

atau dng ungkapan lainnya
"sebatas yng dia mampu/usahakan"

Adalah terlalu naïf bila bertanya kpd yng lebih mengetahui itu
semata-mata dipahami sbg keharusan pergi menemui/menghadap
pemuka agama atau ahli ilmu agama/ahli dibidangnya, hare gene gitu loh
arus informasi semakin mudah diakses/didapatkan, dari manapun sumbernya :mrgreen:

sepakat nih
kembaliin aja ke niat
segala sesuatu berawal dari niat
kalo niat belajar buat ngalahin debat agama lain, supaya agamanya terlihat benar... ya gitu lha
tapi kalo niat semata2 mendekatkan diri kepada Allah, demi mencari kebenaran.... PASTI suatu saat akan sampai

seperti kisahnya bima dalam lakon dewa ruci
tapi cerita ini asalnya dari jawa, mungkin yg belum tau dan minat baca saya kasih tau dari awal kalo didalamnya gak ada bau2 arab ya

::hihi::

hajime_saitoh
04-01-2012, 07:24 PM
bukan hanya ahli sastra arab.. pan di awal2 sudah dijelaskan syarat2 menjadi ahli tafsir lha nanya lg disini... ckckck


Adalah terlalu naïf bila bertanya kpd yng lebih mengetahui itu
semata-mata dipahami sbg keharusan pergi menemui/menghadap
pemuka agama atau ahli ilmu agama/ahli dibidangnya, hare gene gitu loh
arus informasi semakin mudah diakses/didapatkan, dari manapun sumbernya



nah karena akses informasi sekarang yang begitu gampang itulah seharusnya kita bjuga bisa dengan gampang mengakses informasi2 dari pihak2 yang memang ahlinya.. kalo masalah agama islam kita tinggal browsing tentang tafsir ibnu katsir rahimahullah atau tafsir jallallain... atau kalo masalah fatwa cari aja fatwa2 lajnah daimah pimpinan syaikh Abdullah bin baz.. bukannya malah cari situs2 aneh yang melakuykan penafsiran seenaknya sesuai hawa nafsunya....

Ronggolawe
04-01-2012, 07:32 PM
bukan hanya ahli sastra arab.. pan di awal2 sudah dijelaskan syarat2 menjadi ahli tafsir lha nanya lg disini... ckckck



nah karena akses informasi sekarang yang begitu gampang itulah seharusnya kita bjuga bisa dengan gampang mengakses informasi2 dari pihak2 yang memang ahlinya.. kalo masalah agama islam kita tinggal browsing tentang tafsir ibnu katsir rahimahullah atau tafsir jallallain... atau kalo masalah fatwa cari aja fatwa2 lajnah daimah pimpinan syaikh Abdullah bin Baz.. bukannya malah cari situs2 aneh yang melakuykan penafsiran seenaknya sesuai hawa nafsunya....
hehehe... ngga ah....
Kelakuan anggota kerajaan Royal Saudi yang ngga
benar saja, ngga dilurusin oleh Bin Baz :)

sedgedjenar
05-01-2012, 09:19 AM
hehehe... ngga ah....
Kelakuan anggota kerajaan Royal Saudi yang ngga
benar saja, ngga dilurusin oleh Bin Baz :)

kenal nama
gak kenal orangnya
gak kenal sifatnya
gak kenal kesehariannya

kenal sholat
gak kenal takbiratul ihramnya
gak kenal sedakepnya
gak kenal hakekatnya

hajime_saitoh
05-01-2012, 09:48 AM
kenal sholat
gak kenal takbiratul ihramnya
gak kenal sedakepnya
gak kenal hakekatnya

hakekat??
makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....

sedgedjenar
05-01-2012, 10:21 AM
hakekat??
makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....

walah, tunjukin hadist ?
saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya

::hihi::

hajime_saitoh
05-01-2012, 10:33 AM
walah, tunjukin hadist ?
saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya


ckckckckck lagi ngimpi ya... bagun bangun dah siang ne....::ngakak2::

sedgedjenar
05-01-2012, 11:14 AM
ckckckckck lagi ngimpi ya... bagun bangun dah siang ne....::ngakak2::

::ngakak2:: ::ngakak2::

ini mengingatkan saya seperti ceritanya Yang Mulia Abu Yazid dari Bustham

Suatu ketika dalam perjalananya, Yang Mulia Bayazid Bisthami berpapasan dengan sesama musafir. Sang musafir, yg mengendarai onta, melihat keledai milik Bayazid Bisthami membawa barang 2 kali lebih banyak daripada yg dibawa ontanya. Sang musafirpun merasa kasihan kepada keledai dan menyalahkan Bayazid atas perlakuannya yg tidak berperikehewanan.

"Tuan, tidakkah anda memiliki sedikit belas kasihan? Tega sekali kau thd keledaimu?", sergah sang musafir,

Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"

Selanjutnya keduanya melanjutkan perjalannya masing-masing. Ketika sang musafir melewati Bayazid Bisthami dan melihat keledainya lebih dekat. Dia saksikan bahwa sesungguhnya beban berat tsb tidaklah menyentuh punggung keledai. Melainkan terdapat jarak 10 cm. Dia baru sadar bahwa beban itu ngambang diatas punggung keledai.



Sungkem hormat saking dalem teruntuk Yang Mulia Abu Yazid dari Bustham

hajime_saitoh
05-01-2012, 11:21 AM
wadoh malah bawa2 cerita mistik sufi... ckckckck... emank dah kebathinan....

sedgedjenar
05-01-2012, 11:36 AM
wadoh malah bawa2 cerita mistik sufi... ckckckck... emank dah kebathinan....

mas itu aja di jawab pertanyan ronggolawe
anda bersandar kepada seseorang yang tidak meluruskan tindakan royalti arap saudi
kenapa anda bisa gitu ?

hajime_saitoh
05-01-2012, 11:42 AM
hakekat??
makanya saya tanya sama anda apakah nabi pernah mengatakan dalam suatu hadits tentang hakekat gerakan2 shalat?? kalo memang tunjukkan donk haditsnya.....!! jangan cuman dari prasangka saja....

ayo jawab juga pertanyaan saya... donk...

sedgedjenar
05-01-2012, 11:58 AM
ayo jawab juga pertanyaan saya... donk...

udah dijawab tuh di atas
maap kalo gak memuaskan
karena saya bukan alat pemuas

::ngakak2:: ::ngakak2::

hajime_saitoh
05-01-2012, 12:04 PM
walah, tunjukin hadist ?
saya lebih baik langsung nanya aja ke Kanjeng Nabi Muhammad mas
enak bisa liat wajahnya, bisa liat senyumnya atau dengerin guyonannya


ini mah bukan jawaban.. saya tanya tunjukin haditsnya.. anda malah bilang enakan nanya langsung.. bilang aja to the point kagak ada dalilnya.. dan itu cuman prasangka anda kok jawabnya muter2.

sedgedjenar
05-01-2012, 12:53 PM
ini mah bukan jawaban.. saya tanya tunjukin haditsnya.. anda malah bilang enakan nanya langsung.. bilang aja to the point kagak ada dalilnya.. dan itu cuman prasangka anda kok jawabnya muter2.

ada dalilnya mas
tapi cuma Allah yang tau

::ngakak2::

Asum
05-01-2012, 03:56 PM
ada dalilnya mas
tapi cuma Allah yang tau

::ngakak2::
Luar biasa ... hanya Allah yang tau, tapi anda bisa yakin tau ada dalilnya ?

Atau anda adalah Allah karena anda tau dalilnya ?


Na'udzubillah min dzalik ... tercapai sudah cita-cita anda menjadi syaikh Siti Djenar. Tinggal nunggu siapa yang mau jadi Sunan Kalijogonya ...:iamdead:

sedgedjenar
05-01-2012, 04:47 PM
Luar biasa ... hanya Allah yang tau, tapi anda bisa yakin tau ada dalilnya ?

Atau anda adalah Allah karena anda tau dalilnya ?


Na'udzubillah min dzalik ... tercapai sudah cita-cita anda menjadi syaikh Siti Djenar. Tinggal nunggu siapa yang mau jadi Sunan Kalijogonya ...:iamdead:

::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::

saya belum sampe praktek jalan kematian syekh siti jenar, jadi saya masih belum sampe ke sana
tapi alhamdulillah kalo anda sudah doain

:jempol:

seperti kisah abu yazid di atas mas
kalo saya cerita anda gak akan percaya
kalo gak cerita anda mencela


Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"

Asum
05-01-2012, 04:56 PM
::ngakak2:: ::ngakak2:: ::ngakak2::

saya belum sampe praktek jalan kematian syekh siti jenar, jadi saya masih belum sampe ke sana
tapi alhamdulillah kalo anda sudah doain

:jempol:

seperti kisah abu yazid di atas mas
kalo saya cerita anda gak akan percaya
kalo gak cerita anda mencela


Yang Mulia Bayazid menjawab, "wahai musafir, apabila kusampaikan hal yang sesungguhnya kepadamu niscaya kau takkan percaya. Tetapi apabila tidak kusampaikan hal yang sebenarnya kepadamu, kau akan mencela. Lalu katakan, bagaimanakah aku harus bersikap kepadamu ???"
Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan apa yang anda cita-citakan.

::bye::

hajime_saitoh
05-01-2012, 10:56 PM
Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan apa yang anda cita-citakan.



amin ::bye::

Darrul_Iman
09-01-2012, 02:00 PM
salam

jawabannya mudah.......

harus bisa di pertanggungjawabkan....??

nah cara mempertanggungjawabkannya ini yang terkadang berujung kepada DEBAT KUSIR

sesungguhnya Allah tidak menyukai manusia saling berdebat

barang siapa yang melakukan sesuatu yang bukan AHLI nya maka tunggulah kehancurannya

yang AHLI mari kita berbincang....:) untuk mempertanggung jawabkan statemen si biasa

jika satu visi, maka yang biasa akan menjadi AHLI dalam hal itu

jika DEBAT KUSIR.........maka team penguji ada yang bukan AHLI nya.......

Dadap serep
30-01-2012, 11:42 PM
Wahhh udaah lama nggak main kesini , masih ada pak momod mbah Pasing , Aden Dana sang TS dan dll dll dll , salaam deh untuk anda smua.

Ijinkanlah saya ikutan share disini , bila telah ada yg mempost , ma'af , bisa diabaikan saja.

Bagi saya kegiatan "menafsir " ini merupakan kegiatan yg tak terpisahkan dalam kehidupan beragama kita , sebagai kegiatan setiap individue.
Betapa tidak , kalau pun kita akan merujuk kepada pendapat para ulama mufasir , ternyata yg ada tidaklah hanya satu , ternyata ada beberapa kalau tak boleh dibilang banyak !

Sehingga menurut saya pada hakekatnya penafsiran itu malahan "harus" kita lakukan sendiri berdasarkan "masukan masukan/referensi" yg ada pada kita . Toh Allah tidak menuntut pertanggung jawaban diluar kemampuan kita.

Sebagai suatu contoh ibadah sholat sendiri , kita dapati berapa banyak ulama yg punya pendapat yg berbeda , mulai dari manafsirkan "sholat" itu sendiri , menghadap kemana , gerakan sholat , bacaan sholatnya , sholat apa saja dll dll dll
Maka ternyata kemudian tafsir mana yg akhirnya kita pakai , berpulang kepada kitanya sendiri !
Dan yg lebih mendasar bahwa kita lah yg akan mempertanggung jawabkan perbuatan amal ibadah kita itu dihadapan Allah , bukan orang lain !

Just share.

sedgedjenar
31-01-2012, 04:07 PM
Wahhh udaah lama nggak main kesini , masih ada pak momod mbah Pasing , Aden Dana sang TS dan dll dll dll , salaam deh untuk anda smua.

Ijinkanlah saya ikutan share disini , bila telah ada yg mempost , ma'af , bisa diabaikan saja.

Bagi saya kegiatan "menafsir " ini merupakan kegiatan yg tak terpisahkan dalam kehidupan beragama kita , sebagai kegiatan setiap individue.
Betapa tidak , kalau pun kita akan merujuk kepada pendapat para ulama mufasir , ternyata yg ada tidaklah hanya satu , ternyata ada beberapa kalau tak boleh dibilang banyak !

Sehingga menurut saya pada hakekatnya penafsiran itu malahan "harus" kita lakukan sendiri berdasarkan "masukan masukan/referensi" yg ada pada kita . Toh Allah tidak menuntut pertanggung jawaban diluar kemampuan kita.

Sebagai suatu contoh ibadah sholat sendiri , kita dapati berapa banyak ulama yg punya pendapat yg berbeda , mulai dari manafsirkan "sholat" itu sendiri , menghadap kemana , gerakan sholat , bacaan sholatnya , sholat apa saja dll dll dll
Maka ternyata kemudian tafsir mana yg akhirnya kita pakai , berpulang kepada kitanya sendiri !
Dan yg lebih mendasar bahwa kita lah yg akan mempertanggung jawabkan perbuatan amal ibadah kita itu dihadapan Allah , bukan orang lain !

Just share.

mantap nih
yang begini nih yang namanya beragama dengan pembuktian
akalnya dioptimalkan

Dadap serep
01-02-2012, 10:09 AM
Ehhhh aki Jenar , assalamua'alaiku waromatullah wabarokatuh Aki ,.................
Aki ini bisa aja ,..... jadi malu nih.
Saya hanya mau mencoba menyampaikan cara pandang yg mungkin belum dipakai saja , meskipun dalam AQ Allah bolak balik ngingetkan lho !

Tapi ngomong ngomong saya jadi tertarik sama "don(g)eng" sampeyan mengenai mbah Bayashid van Bustham tsbt aki. Saya dapat cerita/hikayat itu dari mbah buyut saya. Namun ada sedikit perbedaan , karena cerita itu masih berlanjut.
Begini lanjutannya :

Setelah sang Tokoh tersebut melihat keheranan yg terpancar dari wajah sang musafir , sang Tokoh kemudian tercenung. Dia jadi berpikir alangkah dzolimnya saya , membiarkan seorang manusia untuk berpikir macam macam yg mungkin saja bisa menimbulkan prasangka buruk pada orang itu kepada saya , bahwa saya menggunakan bantuan jin atau setan atau kekuatan sihir , karena dia melihat "keanehan" tersebut .
Padahal saya hanya mau berlaku jujur . Sebab ketika saya sewa keledai itu dari pemiliknya saya bilang untuk saya kendarai , untuk itu saya membayar sejumlah ongkos/sewa . Saya lupa bahwa saya juga harus membawa barang barang bawaan . Jadi beban itu adalah beban saya , tidak termasuk "kuwajiban" sikeledai sesuai dg kesepakatan .
Maka untuk menghindari perbuatan yg curang , saya gunakan saja "ilmu" atau kemampuan saya , agar meski sikeledai kelihatannya mengangkut barang tetapi sebetulnya sang keledai tidak mengnggung berat barang bawaan saya . Saya pikir tindakan saya itu bisa mencegah orang untuk berprasangka , karena jamak seokor keledai membawa barang dipunggungnya sambil dituntun si empunya yg berjalan disampingnya. Eh ternyata malahan bisa mnimbulkan fitnah, prasangka buruk !
Sang tokoh menjadi sangat menyesal , merasa sangat berdosa.

Kemudian setelah berfikir dengan keras dia segera bergegas kepasar membeli sebuah gerobak. Kemudian dilepaskannya ke dua rodanya , dan bantalan besi (bearing) yg terpasang ditengah roda dibuangnya , kemudian dengan "ilmu" (tehnologi mutakir) yg dikuasainya , digantilah bearing tsbt dg "bantalan udara" (spt yg diletakkan dipunggung keledainya tadi) , dg demikian poros gerobak tidak bersinggungan langsung dengan as roda , sehingga sang roda bisa berjalan/berputar dengan sangat ringan meskipun dalam gerobak diisi beban. Kemudian diikatkanlah gerobak itu ke kekeledainya , sang keledai dapat melenggang seringan sebelumnya.
Maka berjalanlah sang tokoh dengan riangnya sambil seskali menyapa orang orang yg ditemuinya tanpa mendapatkan "pandangan keheranan penuh prasangka dan tanda tanya" dari orang orang yg berpapasan dgnya.

Waktu itu saya sih ndomblong saja mendengar "don(g)eng" sang embah buyut atau seringnya udah ngiler duluan , ketiduran , ataupun kalau toh masih melek ya kurang bisa nangkep moral ceritanya atau minta diceritakan kisah nabi.
Sekarang , itu jadi salah satu guide saya dalam berinteraksi dg sesama.

Ehhhh kok jadi ngedongeng , moga moga nggak kena semprit eyang Momod !
Salaam aki Jenar , smoga saja "frekwensi" yg saya pancarkan ini bekerja pada bandwith umum shg bisa ditangkap dengan Ten Four (10-4), loud n clear!. Smoga.

ishaputra
04-02-2012, 08:08 AM
Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya pemuka agama saja yang berhak, para rakyatnya bakal jadi robot sahaja dan juga belum tentu pemuka agama pasti benar. Nah, jika rakyat boleh menafsir, bisa jadi tafsirannya ngawur (karena ilmunya kurang).

Bagaimana pendapat teman-teman?

Pendapat saya sederhana. Dan sebenarnya apa yang anda persoalkan memang sederhana jawabannya. Yang berhak menafsir sebuah teks adalah para ahli di bidangnya (scholars). Ini berlaku pada semua disiplin ilmu. Orang awam juga boleh memberi tafsir, tetapi bagaimanapun tetap merujuk pada pendapat scholars sebagai referensi dan menggunakan metodologi yang ilmiah.

Bukan "pemuka agama", tapi SCHOLARS (para sarjana). "Scholars" di sini bukan dalam arti sempit sebagai orang yang mengimani agama tersebut saja, tapi dalam pengertian ilmiah (luas). Misalnya: Cristoph Luxenberg ahli filologi itu juga memiliki kapasitas dalam menafsir teks-teks Alquran. Kemudian ada Marmaduke Picthall, dan sejenisnya.

---------- Post added at 08:03 AM ---------- Previous post was at 07:57 AM ----------


dalam islam sendiri ilmu tafsir itu sangat rumit, harus menguasai bahasa arab, harus menghafal al-Quran dan al-Hadits dan menguasai ilmunya, mengusai ilmu nasiskh mansukh, sampai2 di universitas madinah itu diajarkan hingga S3 jurusan tafsir.... jadi gak gampang menafsirkan al-Qura.....

Secara umum, menafsir sebuah teks ada ilmunya. Namanya HERMENEUTIKA. Jadi anda jangan berpikir bahwa ihwal tafsir Alquran dan Hadis cuma monopoli Islamic Scholars saja. Itu umum dan ilmiah kok, dan metode tersebut, yakni Hermeneutika, dipakai untuk menafsir teks apapun. Tak cuma Alquran dan Hadis saja.

Gak cuma menguasai bahasa dari yang ditafsir, gak cuma menguasai nasakh dan mansukh, tapi juga harus menguasai antropologi manusia di jaman pada saat teks tersebut muncul. Jadi, pekerjaan menafsir memang tidak mudah, benar kata anda. Pekerjaan menafsir teks melibatkan berbagai disiplin ilmu.

---------- Post added at 08:08 AM ---------- Previous post was at 08:03 AM ----------


Nah, pertanyaan saya menjadi bagaimana jika ternyata "rakyat" telah menguasai ilmu tafsir tapi karena dia tidak menonjolkan diri sebagai ulama atau cendikiawan, maka tidak dikenal orang-orang? Apakah masih "layak" untuk menafsirkan?

Masih. Asal dia bisa mempresentasikan tafsirnya dengan baik di hadapan khayalak (melalui buku misalnya) dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Serta, jangan lupa, jelas metodologinya.

Inget loh bung, biasakanlah memandang persoalan kajian agama dari sudut pandang ilmiah, bukan sudut pandang kajian normatif agama tsb saja.

Kajian ilmiah terhadap agama dimulai dari "desakralisasi" objek yang akan dikaji. Ini beda dengan kajian normatif agama yang dimulai dari iman dan keyakinan bahwa "agama ini benar dan oleh kaena itu sakral".

Ronggolawe
04-02-2012, 08:14 AM
Secara umum, menafsir sebuah teks ada ilmunya. Namanya HERMENEUTIKA. Jadi anda jangan berpikir bahwa ihwal tafsir Alquran dan Hadis cuma monopoli Islamic Scholars saja. Itu umum dan ilmiah kok, dan metode tersebut, yakni Hermeneutika, dipakai untuk menafsir teks apapun. Tak cuma Alquran dan Hadis saja.

Gak cuma menguasai bahasa dari yang ditafsir, gak cuma menguasai nasakh dan mansukh, tapi juga harus menguasai antropologi manusia di jaman pada saat teks tersebut muncul. Jadi, pekerjaan menafsir memang tidak mudah, benar kata anda. Pekerjaan menafsir teks melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Masih. Asal dia bisa mempresentasikan tafsirnya dengan baik di hadapan khayalak (melalui buku misalnya) dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Serta, jangan lupa, jelas metodologinya.

Inget loh bung, biasakanlah memandang persoalan kajian agama dari sudut pandang ilmiah, bukan sudut pandang kajian normatif agama tsb saja.

Kajian ilmiah terhadap agama dimulai dari "desakralisasi" objek yang akan dikaji. Ini beda dengan kajian normatif agama yang dimulai dari iman dan keyakinan bahwa "agama ini benar dan oleh kaena itu sakral".
Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
filosofi yang berbeda.

Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
sudah dipastikan kebenarannya.

ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
Tafsir ilmu khusus..

Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
perselisihan atasnya.

ishaputra
04-02-2012, 08:31 AM
Pemuka agama ya yang sudah diakui sebagai ulama, cendikiawan agama, pastor, pendeta, biksu dll.

Istilah yang tepat bukan "pemuka agama", tapi SCHOLARS. Atau "para sarjana".

Walaupun bukan pastor, bukan biksu, bukan pendeta, bukan ustad, bahkan walaupun gak beriman sama sekali, tapi sejauh dia SCHOLARS, dalam arti dia memiliki kapasitas kesarjanaan/akademik di bidangnya, maka dia memiliki kapasitas melakukan hal tersebut.


Menafsir teks dalam hal ini adalah pekerjaan para ilmuwan (scholars). Dan hasil kerja para ilmuwan TIDAK BISA DAN TIDAK BOLEH MENGANDUNG BIAS IMAN PRIBADI. Ini berkenaan dengan profesionalitas kerja.

---------- Post added at 08:31 AM ---------- Previous post was at 08:24 AM ----------


Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
filosofi yang berbeda.

Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
sudah dipastikan kebenarannya.

ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
Tafsir ilmu khusus..

Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
perselisihan atasnya.

Hermeneutika itu metode menafsir teks secara umum, bukan metode khusus untuk menafsir Bible. Parah deh anda ini. Dan hermeneutika juga bukan untuk mencari "mana yang benar dan palsu", tapi UNTUK MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.
Karena apa? Karena BAHASA VERBAL bukan cuma sekedar alat berkomunikasi, tapi juga mengandung pandangan dunia dari para penuturnya.

Dan satu lagi: Hermeneutika itu BUKAN "TAFSIR", tapi METODA TAFSIR. ::bwekk::

Ronggolawe
04-02-2012, 08:37 AM
Hermeneutika itu metode menafsir teks secara umum, bukan metode khusus untuk menafsir Bible. Parah deh anda ini. Dan hermeneutika juga bukan untuk mencari "mana yang benar dan palsu", tapi UNTUK MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.
Karena apa? Karena BAHASA VERBAL bukan cuma sekedar alat berkomunikasi, tapi juga mengandung pandangan dunia dari para penuturnya.

Dan satu lagi: Hermeneutika itu BUKAN "TAFSIR", tapi METODA TAFSIR.
emang yang ngembangin Hermeneutika, sapa Ish?
Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?
Obyek yang diteliti apa? Alquran? Wedha? atau?

---------- Post added at 08:37 AM ---------- Previous post was at 08:33 AM ----------

loe baca lagi tulisan gw yang gw kerengin.

Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
filosofi yang berbeda.

Hermeneutika berangkat dari upaya mencari mana
yang benar dari yang palsu, sedangkan Tafsir be
rangkat dari upaya memahami makna dari teks yang
sudah dipastikan kebenarannya.

ngga bisa loe samakan keduanya... apalagi seolah
olah Hermeneutika adalah ilmu Umum, sedangkan
Tafsir ilmu khusus..

Padahal Hermeneutika adakah ilmu khusus untuk
menelaah teks-teks Alkitab yang berserakan, ten
tu berbeda dengan narasi AlQuran yang tidak ada
perselisihan atasnya.

ishaputra
04-02-2012, 08:50 AM
nah kebanyakan orang yg berderajat tinggi ini dijadikan pemuka agamapadahal, tidak semua pemuka agama itu berderajat tinggi (contohnya banyak lha di koran2 dan infotainment)

karena untuk memperoleh derajat tinggi, gak cukup dengan sekolah sampe S3, atau dengan belajar bahasa arab sampe lidahnya bisa mlintir2
untuk memperoleh derajat tinggi harus melalui olah bathin, perenungan dalam, perjalanan ke dalam diri di bawah bimbingan Guru Mursyid
.

“Batin”, hehehehe… nggak ilmiah.


Apakah penafsiran ajaran suatu agama itu menjadi hak preogratif pemuka agama ya? Sehingga rakyat kebanyakan tidak berhak sama sekali melakukan tafsir sendiri?

menurut pendapat saya gak selalu
karena bisa jadi ada seorang biasa, yang berguru pada Guru Mursyid yang sudah sampai level tinggi bisa melebihi seseorang yang cuma belajar S3 atau S10 tentang quran tapi tanpa dibimbing oleh Guru Mursyid.

Bung, apa definisi anda tentang “ilmu” sih? “Ilmu” itu adalah sistematisasi pengetahuan, sehingga dengan disistematisasi, kita memperoleh pemahaman yang utuh (atau sekurang-kurangnya pemahaman yang terbaik) atas sesuatu tsb.

Nah, hal-hal yang bersifat “batin” itu bukan sistematisasi pengetahuan dan tidak bisa dijadikan patokan dalam berdiskusi.

Mari kita berdiskusi dalam platform ilmiah, bukan “kebatinan”.


emang yang ngembangin Hermeneutika, sapa Ish?
Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?
Obyek yang diteliti apa? Alquran? Wedha? atau?

Yang mengembangkan hermeneutika ya para scholars. Objek yang diteliti? TEKS! Pertanyaan anda aneh, karena anda berangkat dari pemahaman yang sempit dan keliru tentang hermeneutika. Anda "mengira" hermeneutika adalah metoda menafsir bible tok.


loe baca lagi tulisan gw yang gw kerengin.

Sudah. Dan menunjukkan anda TIDAK PAHAM apa itu hermeneutika.

Sekali lagi: Hermeneutika adalah UPAYA MEMAHAMI DENGAN BENAR MAKSUD DARI TEKS YANG MUNCUL DI MASA LAMPAU, DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KONTEKS ADAT-TRADISI, ANTROPOLOGI DAN "WELTANSCHAUUNG" (PANDANGAN DUNIA) MASYARAKAT PADA ZAMANYA.


Sejarawan Islam, Hindu Budha? atau ?

Bung, anda emang gak punya background mindset ilmiah, makanya pertanyaannya awam banget. Bung, kalo bicara "ilmiah" itu gak ada istilahnya "sejarawan Islam, Hindu dsb". Sejarawan ya sejarawan! Bahwa dia agamanya Islam itu urusan pribadi dan tidak ada urusannya dengan profesi sebagai sejarawan. Bahwa dia meneliti sejarah Islam, juga bukan berarti dia harus beragama Islam.

Diskusi ini kembali ke masalah dasar, soal mindset dan platform yang digunakan dalam diskusi ini. Mindset ilmiah memandang agama sebagai semata objek studi yang dikaji dengan jarak, bukan sesuatu yang diimani lantas dikaji.

Saya terbiasa dengan mindset ilmiah, sementara anda tidak. Pemahaman anda terhadap "kajian agama" adalah dalam kerangka normatif agama tsb. Ya nggak bisa begitu bung.

Ronggolawe
04-02-2012, 08:58 AM
sebelum gw ngomong sejarawan Islam, Hindu dsb,
gw sudah ngomong dulu, soal Obyek yang menjadi
kajian dalam Hermeneutika....

Artinya, kalau loe pake logika, loe harusnya tahu,
ketika gw ngomong sejarawan Islam, gw bicara
tentang sejarawan yang meneliti Islam, bukan se
jarawan yang beragama Islam :)

nih gw kutipin sejarah Hermeneutika, biar loe nyaho,
kalau Hermeneutika berangkat dari tradisi keilmuan
Yudeo-Kristian, yang sekarang loe mau paksakan
harus digunakan oleh semua Agama lain, khususan
Islam :)

http://alkitab.plusadvisor.com/hermeneuti/302-pengantar-hermeneutika-metode-tafsir-alkitabiah-bab-iii-sejarah-hermeneutika-bab-iii


HERMENEUTIK DALAM SEJARAH

Kapan ilmu menafsir Alkitab mulai berkembang? Aliran-aliran penafsiran apa saja yang yang ada?

PERKEMBANGAN HERMENEUTIK DI KALANGAN ORANG YAHUDI

Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel. Oleh karena itu untuk mempelajari sejarah Hermeneutik kita harus kembali paling tidak lima abad sebelum Kristus lahir.

A. Hermeneutik Yahudi

PUSAT IBADAH YAHUDI.

Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra (457SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan. Pusat ibadah orang Yahudi dahulu adalah Yerusalem dimana mereka beribadah dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali pengajaran dari Kitab-kitab Taurat. Pengajaran Taurat itu menjadi sumber penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk mempertahankan diri dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah menghilangkan gap bahasa yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu, khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik Pertama. Ref.: Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20

TEMPAT IBADAH SINAGOGE.

Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat, didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah Bait Suci (Yerusalem). Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa, membaca Taurat dan mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka memelihara tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

Sinagoge Agung adalah kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini adalah menafsirkan kitab-kitab Taurat. {Ne 8:9-13} Oleh karena itu bisa dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama didirikan.

Setelah semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah Palestina, tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap dibawa ke tanah air mereka dan sinagoge lokal pun mulai didirikan di tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah dibangun kembali). Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak sinagoge di kota-kota di Israel, yang dipimpin oleh seorang yang disebut "kepala rumah ibadah". {Mr 5:22 Lu 13:14 Ac 13:5 14:1}

SEKOLAH-SEKOLAH MENAFSIR YAHUDI.

Melihat pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam perkembangan selanjutnya, (setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah menafsir formal, diantaranya:

Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir kitab-kitab Taurat, yaitu menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas mutlak Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan Hukum-Hukum Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman itu, sehingga tulisan ini dikemudian hari dikenal dengan nama "Tradisi Lisan" (the Oral Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan otoritas yang sejajar yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.

Pada abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang disebut "Mishna" yang artinya "doktrin lisan dan pengajarannya". Dalam Mishna ini terdapat dua macam tafsiran:

Halakah

Penafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.

Hagadah

Penafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum, yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama. Perkembangan selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku Mishna, yang disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya membentuk buku (kitab)

Talmud.

Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok masyarakat Yahudi yang sudah tercampur dengan budaya dan pikiran Yunani (kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama adalah menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai hasilnya adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab Apokrifa dalam Septuaginta menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.

Namun sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi mengalami kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran Taurat. Sebagai jalan keluar muncullah cara interpretasi alegoris yang dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang bertentangan itu.

Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis Yahudi yang pertama menggunakan metode alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat melalui penafsiran alegoris.

Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip menafsir yang dipakai oleh Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum dewasa karena hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan penafsiran alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti yang tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa).

Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi lisan dan juga metode penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode penafsiran literal, kecuali bila sifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai akibatnya mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.

Selain sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal, yaitu Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.

ishaputra
04-02-2012, 08:58 AM
Hermeneutika dan Tafsir itu berangkat dari dasar
filosofi yang berbeda.

Sekali lagi, hermeneutika itu bukan tafsir, tapi metode tafsir. Kalo anda ngotot mendikotomi antara hermeneutika dengan tafsir, itu menunjukkan dengan jelas anda gak paham apa itu hermeneutika.

Ronggolawe
04-02-2012, 09:00 AM
Lanjutannya :)


B. Hermeneutik Apostolik

Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah metode penafsiran literal. Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.

YESUS KRISTUS, PENAFSIR SEMPURNA.

Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak memberikan penafsiran kitab-kitab PL. {Joh 5:39 Lu 24:27,44} Dengan cara demikian Yesus telah membuka pikiran murid-muridNya untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat (mis: Mat 15:1-9; Mar 7:1-7 Mat 23:1-33 Mat 22:29). Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: Mt 10:5,6 12:1-4,15-21 13:1-9 18:23 19:3-9 21:42-44 22:41-46 24:36-39 Lu 11:29,30 21:20-24 24:27-44.

PARA RASUL, PENULIS-PENULIS YANG MENDAPATKAN INSPIRASI DARI ALLAH.

Mereka adalah contoh penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: Ro 3:1-23 9:6-13 Ga 3:1-29; 4:21-31 1Co 9:9-12 10:1-11 Heb 6:20-7:21 8-8-12 10:1-14,37-11:40; 1Pe 2:4-10; 2Pe 3:1-13.

C. Hermeneutik Bapak-bapak Gereja

Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:

95 - 202 M (CLEMENT DARI ROMA SAMPAI IRENAEUS).

Tidak ada banyak catatan penting mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.

202 - 325 M (SEKOLAH ALEKSANDRIA).

Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.

Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.

Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.

325 - 600 M (SEKOLAH ANTIOKIA).

Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat diringkaskan sbb.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode tipologi.

Tokoh-tokoh Sekolah Antiokia adalah:

Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah. Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.

Gereja Bagian Timur

Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).

Gereja Bagian Barat

Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).

---------- Post added at 09:00 AM ---------- Previous post was at 08:59 AM ----------

lanjutannya lagi:


D. Hermeneutik Abad Pertengahan

Masa periode tahun 600 - 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi gereja. Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.

Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.

Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah: THOMAS AQUINAS. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.

JOHN WYCLIFFE.

Ia sering disebut sebagai "Bintang Fajar Reformasi" karena kegigihannya menyerang pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.

Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.

E. Hermeneutik Reformasi

Periode ini terjadi pada tahun 1517 - 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.

PERJUANGAN REFORMASI.

Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang memperjuangkan "sola scriptura" (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:

Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.

Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.

Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.

Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.

Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.

Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.

Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.

TOKOH REFORMASI.

Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.

Prinsip penafsiran Martin Luther:

Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.

Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.

Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah.

Penafsiran alegoris tidak berlaku.

Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.

Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.

Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.

John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.

Prinsip penafsiran John Calvin:

Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.

Alkitab akan menafsirkan Alkitab.

Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi kata dan memeriksa tata bahasa.

Menolak penafsiran alegoris.

Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.

Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat. Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.

Ronggolawe
04-02-2012, 09:04 AM
dan berikutnya:


F. Hermeneutik Paska-Reformasi

Periode ini adalah antara tahun 1600 - 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.

SESUDAH REFORMASI. Terjadi banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya menjadi kepahitan di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme mulai meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk membenarkan dogma dan teologia mereka sendiri.

GERAKAN PEITISME.

Gerakan ini muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena Alkitab telah disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu mempelajari Alkitab dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan memperkaya aplikasi kehidupan rohani. Meskipun motivasi ini baik, tetapi berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan lagi untuk mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah kelompok-kelompok seperti Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh gerakan Pietisme ini adalah:

Philipp Jakob Spener - Bapak Pietisme. Ia percaya bahwa kemurnian hati lebih berharga daripada kemurnian doktrin. Ia mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari sendiri Firman Allah dan mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.

August Hermann Francke.

Sebagai murid Spener, ia juga mengikuti prinsip-prinsip Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir baru yang dapat mengerti arti berita Alkitab. Ia juga mengkombinasikan antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi negatif dari gerakan ini muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang bukan anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.

KRITISISME.

Melihat kelemahan Pietisme dengan metode devotional, banyak teolog mulai melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha dilakukan dalam bidang kritik teks. Naskah-naskah Alkitab mulai dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk mengetahui keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann August Ernesti.

RASIONALISME.

Dari Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas yang seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang lebih tinggi dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah, dianggap cukup untuk mengetahui Penyataan Allah. Apabila ada hal yang tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus dibuang. Sebagai akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti buku-buku yang lain. Dua tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes, Spinoza dan Semler.

G. Hermeneutik Modern

Masa periode ini adalah tahun 1800 - sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:

LIBERALISME.

Rasionalisme telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara umum diringkaskan pendekatan mereka adalah:

Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak.

Inspirasi didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia (penulis Alkitab).

Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia.

Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran teologis modern.

Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologianya. Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.

NEO ORTODOKS.

Karl Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl Barth menolak baik inspirasi maupun ketidakbersalahan Alkitab karena menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru akan terjadi apabila ada pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab. Alkitab sendiri bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena itu penafsiran Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah sendiri yang bertemu dengan manusia.

KONSERVATISME/INJILI.

Gerakan Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiran-pikiran modern. Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain: Rasio harus ditaklukkan di bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk menginterpretasi Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan penerangan supaya kita mengerti.

Pendekatan penafsiran literal, karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab. Percaya pada Penyataan yang progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu sehingga berlaku di sepanjang jaman.


---------- Post added at 09:01 AM ---------- Previous post was at 09:00 AM ----------

dan yang terakhir


HERMENEUTIK BARU.

Tokohnya adalah Rudolf Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir adalah kita harus membaca sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak boleh mengabaikan inteleknya. Otoritas Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Mereka bahkan meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan utama Hermeneutik Baru adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki Liberalisme.

C. Aliran-aliran Hermeneutik

Telah kita pelajari sebelumnya bahwa sejak permulaan berdirinya sinagoge sampai gereja, bahkan sampai saat ini terdapat berbagai metode untuk melakukan penyelidikan/penafsiran Alkitab. Metode penafsiran dari kelompok-kelompok tertentu mengikuti aliran tertentu. Diantara aliran-aliran yang timbul dan berkembang tsb. akhirnya dapat digolong-golongkan sbb.:

METODE ALEGORIS.

Metode Alegoris berangkat dari suatu asumsi bahwa dibalik arti harafiah yang sudah biasa dan jelas itu terdapat arti sesungguhnya (kedua) yang lebih dalam yang perlu ditemukan oleh orang Kristen yang lebih dewasa. Dalam menafsirkan perikop Alkitab mereka membandingkan masing-masing fakta/informasi yang sudah jelas untuk membuka kebenaran rohani tersembunyi dibalik pengertian literalnya.

Metode Alegoris tidak hanya populer di gereja-gereja purba, karena dalam gereja modern sekarangpun masih banyak ditemukan cara penafsiran Alkitab seperti ini. Mereka sering berpendapat bahwa apa yang Allah katakan melalui penulis-penulis Alkitab bukanlah arti yang sesungguhnya. Bahaya dari metode ini adalah tidak adanya batasan dan aturan secara Alkitabiah untuk memeriksa kebenaran beritanya. Bahkan tujuan dan maksud penulisanpun akhirnya diabaikan sama sekali.

METODE MISTIS.

Banyak ahli tafsir Alkitab menggolongkan metode penafsiran Mistis sama dengan metode penafsiran Alegoris, karena memang sangat mirip. Penganut metode ini biasanya bercaya bahwa ada arti rohani dibalik semua arti harafiah yang kelihatan. Dan mereka memberikan botot yang lebih berat kepada hasil penafsiran mistis daripada arti yang sudah biasa.

Bahaya dari cara penafsiran ini terletak pada keragaman dan ketidak-konsistenan hasil penafsiran mereka, sehingga tidak terkontrol banyaknya ragam hasil penafsiran mereka yang sering kali justru memecah belah jemaat. Hal ni juga memberikan kesulitan dalam mempertanggung jawabkan doktrin kejelasan (clarity) Alkitab, dan justru sebaliknya mereka membuat Alkitab tidak jelas dan Allah seakan-akan bermain tebak-tabakan dengan penafsir untuk menemukan arti rohani dari setiap ayat. Dan bahaya yang paling besar adalah penafsir menjadi otoritas tertinggi dalam menentukan kebenaran penafsirannya.

METODE PERENUNGAN (Devotional).

Tujuan metode penafsiran ini adalah hanya pada pengaplikasiannya saja sehingga penganut metode ini menafsirkan Alkitab dalam konteks pengalaman hidup mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa Alkitab ditulis memang untuk tujuan pengkudusan pribadi semata-mata oleh karena itu arti rohani ayat-ayat tsb. hanya akan dapat ditemukan dari terang pergumulan rohani pribadi. Oleh karena itu yang paling penting dalam mengerti Alkitab adalah apa yang Tuhan katakan kepada saya pribadi.

Bahaya dari metode penafsiran ini adalah menjadikan Firman Tuhan menjadi pusat aplikasi pribadi saja dan mengabaikan memahami karya Tuhan dan campur tangan Tuhan dalam sejarah. Kelemahan yang lain dari metode ini adalah akhirnya jatuh pada kesalahan yang sama dengan metode Alegoris dan Mistis, karena mereka akhirnya mengalegoriskan dan merohanikan Firman Tuhan untuk bisa sesuai dengan kebutuhan pribadi.

METODE RASIONAL.

Metode Rasional sangat digemari pada masa sesudah Reformasi, namun demikian dampaknya masih terasa sampai jaman modern ini dalam berbagai macam bentuk penafsiran yang pada dasarnya bersumber pada metode Rasional. Penganut metode Rasional berasumsi bahwa Alkitab bukanlah otoritas tertinggi yang harus menjadi panutan. Alkitab ditulis oleh manusia maka berarti merupakan hasil karya rasio manusia. Oleh karena itu kalau ada bagian-bagian Alkitab yang tidak dapat diterima oleh rasio manusia maka bisa dikatakan bahwa bagian Alkitab tsb. hanyalah mitos saja.

Meskipun metode ini disebut sebagai "rasional" dalam kenyataan metode penafsiran ini adalah metode yang paling tidak rasional. Jelas bahwa penganut metode ini sebenarnya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab, sebaliknya mereka hanya memperhatikan pada apa yang mereka pikir penulis Alkitab katakan. Rasio mereka pakai menjadi standard kebenaran yang lebih tinggi dari Firman Tuhan (Alkitab). Mereka menafsirkan Alkitab hanya untuk mencari aplikasi bagi standard moral mereka saja.

METODE LITERAL (HARAFIAH).

Metode Literal adalah metode penafsiran Alkitab yang paling tua, karena metode inilah yang dipakai pertama kali oleh Bapak Hermeneutik Ezra. Metode ini juga yang dipakai oleh Tuhan Yesus dan pada rasul. Metode penafsiran Literal berasumsi bahwa kata-kata yang dipakai dalam Alkitab adalah kata-kata yang memiliki arti seperti yang diterima oleh manusia normal pada umumnya, yang memiliki arti yang yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan oleh akal sehat manusia. Tujuan Allah memberikan FirmanNya adalah supaya dimengerti oleh manusia oleh karena itu Allah memakai bahasa dan hukum-hukum komunikasi manusia untuk menafsirkan arti dan maksudnya.

Yang dimaksud dengan "literal" (harafiah) adalah arti yang biasa yang diterima secara sosial dan adat istiadat setempat dalam konteks dimana penulis Alkitab itu hidup. Oleh karena itu apabila arti ayat-ayat Alkitab tidak jelas maka penafsir harus kembali melihat konteks bahasa dan budaya (sejarah) dimana penulis itu hidup dan penafsir harus menafsirkan ayat-ayat itu sesuai dengan terang dan pertimbangan konteks bahasa dan budaya (sejarah) itu.

Hal-hal yang perlu dipahami dalam menggunakan metode Literal:

Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti figuratif dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.

Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya ari rohani dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.

Metode Literal tidak berarti mengabaikan tujuan aplikasi pribadi dalam penafsiran. Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti yang dalam yang harus ditemukan dalam penafsiran.

Sumber Bacaan:

Hasan Sutanto, Hermeneutik; Prinsip dan Metode - (Hal. 29-111)

John H. Hayes & Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab – (Hal. 18-24)

Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 17-41)

Louis Berkhof, Principles of Biblical Interpretation - (Hal. 19-31)

Kevin J. Conner, Interpreting the Scripture - (Hal. 13-16)

---------- Post added at 09:04 AM ---------- Previous post was at 09:01 AM ----------


Sekali lagi, hermeneutika itu bukan tafsir, tapi metode tafsir. Kalo anda ngotot mendikotomi antara hermeneutika dengan tafsir, itu menunjukkan dengan jelas anda gak paham apa itu hermeneutika.
Indonesia punya tradisi batik Tulis, sekarang yang
ngetop Batik Cetak/Mesin.

hanya orang yang ngga mengerti Filosofi batik tu
lis, yang ngotot untuk mengganti Batik Tulis de
ngan Batik Cetak/Mesin.

dan loe, yang ngga mengerti Ilmu Tafsir (Batik Tulis),
memaksakan Hermeneutika (Batik Cetak/Mesin), pa
da orang-orang Islam (pengrajin/seniman Batik Tulis)

ngerti ora son?

ishaputra
04-02-2012, 09:33 AM
nih gw kutipin sejarah Hermeneutika, biar loe nyaho,
kalau Hermeneutika berangkat dari tradisi keilmuan
Yudeo-Kristian, yang sekarang loe mau paksakan
harus digunakan oleh semua Agama lain, khususan
Islam.

Banyak digunakan untuk tafsir Bible, bukan berarti METODA TSB milik eksklusif Yudeo Kristen. Hermeneutika itu sendiri asalnya istilah Yunani, dan berasal dari nama dewa yaitu "Hermes" yang bertugas sebagai "kurir pesan" dari Tuhan kepada manusia. Di sinilah kata hermeneutika berasal. Tujuan dari metoda hermeneutika adalah memahami dengan sebenar-benarnya, dengan setepat mungkin maksud dari sebuah teks dengan mempertimbangkan konteks adat tradisi, antropologi dan "pandangan dunia" (weltanschauung) masyarakat di mana teks tersebut muncul.

Pengertian hermeneutika sebagaimana dijelaskan bersifat umum. Apakah upaya interpretasi terhadap Alquran dan Hadis, atau teks apapun, bisa lepas dari pengertian hermeneutika di atas? TIDAK! Di Islam pun dikenal dengan "asbabun nuzul", dan itu mirip dengan metoda hermeneutika, cuma bahasanya saja yang berbeda. Saya pernah ngobrol sama mahasiswa UIN Jogja tahun 2009 dalam sebuah seminar, dan dia sama sekali nggak keberatan dengan metoda hermeneutika. Adapun penolakan Muslim terhadap hermeneutika, menurut dia, lebih banyak karena ketidakpahaman (atau pemahaman yang keliru) terhadap apa itu hermeneutika.


yang sekarang loe mau paksakan
harus digunakan oleh semua Agama lain.

Bukan hanya "semua agama lain", tapi UNTUK SEMUA TEKS terutama yang muncul di masa lampau. Kenapa diperlukan hermeneutika? Salah satunya karena faktor adanya GAP budaya dan pandangan dunia manusia selama ribuan tahun.

Bung, ini saya jelaskan:

Mengabaikan hermeneutika dalam menafsir Alquran dan Hadis, menyebabkan munculnya pemahaman yang literalistik terhadap teks-teks Alquran dan hadis. Dan itu jelas berbahaya.

Contoh aplikasi hermeneutik terhadap hadis: Ada satu hadis sahih yang berbunyi "a’ful liha", yang artinya "panjangkan jenggot kalian". Bagaimana anda menyikapi hadis tersebut?

Hadis itu bersifat perintah lho, dan diucapkan oleh rosul, sahih pula. Tapi, dengan pendekatan hermeneutis kita akan paham bahwa rosul, bagaimanapun, adalah anak dari zamannya. Perintah beliau itu memiliki konteks kultur tertentu, dalam hal ini kultur Arab. Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti.

Biasanya, ayat-ayat Alquran maupun hadis yang harus dikaji dengan pendekatan hermeneutis adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan "kehidupan dan hubungan bermasyarakat".

---------- Post added at 09:33 AM ---------- Previous post was at 09:25 AM ----------


Indonesia punya tradisi batik Tulis, sekarang yang
ngetop Batik Cetak/Mesin.

hanya orang yang ngga mengerti Filosofi batik tu
lis, yang ngotot untuk mengganti Batik Tulis de
ngan Batik Cetak/Mesin.

dan loe, yang ngga mengerti Ilmu Tafsir (Batik Tulis),
memaksakan Hermeneutika (Batik Cetak/Mesin), pa
da orang-orang Islam (pengrajin/seniman Batik Tulis)

ngerti ora son?

False analogy. Menunjukkan anda tidak mengerti apa itu hermeneutika babar-blas. Dan susah diskusi sama orang yang tidak bertatapikir ilmiah.

Di halaman awal, sudah dijelaskan berbagai tafsir berdasarkan metodologinya. Dan hermeneutika BUKAN metoda yang bersifat menggantikan metoda-metoda tersebut, melainkan melengkapi.

Kutipan yang anda uraikan mengenai "sejarah hermeneutika" adalah uraian bagaimana hermeneutika digunakan dalam tafsir Alkitab (dan memang berasal dari situs kristen jadi wajar saja yang ditekankan adalah sejarah tafsir bible), dan TIDAK MENUNJUKKAN bahwa metode tersebut eksklusif milik Yudeo Kristen.

Nih baca dan perhatikan yang saya bold:

"Traditional hermeneutics is the study of the interpretation of written texts, especially texts in the areas of literature, religion and law. A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible. Modern hermeneutics encompasses everything in the interpretative process including verbal and non-verbal forms of communication as well as prior aspects that affect communication, such as presuppositions, preunderstandings, the meaning and philosophy of language, and semiotics."

http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutics

Hermeneutika sebagai metoda tafsir Bible cuma salah satu bentuk aplikasi metoda ini, bukan satu-satunya, bukan pula milik eksklusif Yudeo-Kristen.

Situs yang anda kutip adalah situs kristen, ya WAJAR dan SANGAT WAJAR kalo menekankan pembahasa sejarah hermeneutika dalam konteks tafsir Bible.

Makanya, belajar Islam itu sama scholars yang memang punya background akademik Islam, bukan sama yang punya background akademik dokter hewan alumni IPB. ::hihi::::hihi::::hihi:: (tau dong yang saya mangsut)

Ronggolawe
04-02-2012, 09:39 AM
harusnya loe kerengin yang itu tuh :)

Nih baca dan perhatikan yang saya bold:

"Traditional hermeneutics is the study of the interpretation of written texts, especially texts in the areas of literature, religion and law. A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible. Modern hermeneutics encompasses everything in the interpretative process including verbal and non-verbal forms of communication as well as prior aspects that affect communication, such as presuppositions, preunderstandings, the meaning and philosophy of language, and semiotics."

http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutics
modern hermeneutic encompases everything?

mana ilmiahnya, bro?
ngga ada tuh, yang namanya encompases every
thing, kalau loe benar-benar berpegang pada prin
sip-prinsip keilmiahan :)

---------- Post added at 09:39 AM ---------- Previous post was at 09:37 AM ----------




Kutipan yang anda uraikan mengenai "sejarah hermeneutika" adalah uraian bagaimana hermeneutika digunakan dalam tafsir Alkitab (dan memang berasal dari situs kristen jadi wajar saja yang ditekankan adalah sejarah tafsir bible), dan TIDAK MENUNJUKKAN bahwa metode tersebut eksklusif milik Yudeo Kristen.
Menunjukkan bahwa Hermeneutika berangkat dari
tradisi keilmuan Yudeo-Christian.

kalau umat Islam punya metode tafsir sendiri, nga
pain loe maksa-maksa make metode dari luar Islam?
Itu yang menjadi inti persoalan.

hajime_saitoh
04-02-2012, 09:44 AM
Originally Posted by ishaputra
Bukan hanya "semua agama lain", tapi UNTUK SEMUA TEKS terutama yang muncul di masa lampau. Kenapa diperlukan hermeneutika? Salah satunya karena faktor adanya GAP budaya dan pandangan dunia manusia selama ribuan tahun.

Bung, ini saya jelaskan:

Mengabaikan hermeneutika dalam menafsir Alquran dan Hadis, menyebabkan munculnya pemahaman yang literalistik terhadap teks-teks Alquran dan hadis. Dan itu jelas berbahaya.

Contoh aplikasi hermeneutik terhadap hadis: Ada satu hadis sahih yang berbunyi "a’ful liha", yang artinya "panjangkan jenggot kalian". Bagaimana anda menyikapi hadis tersebut?

Hadis itu bersifat perintah lho, dan diucapkan oleh rosul, sahih pula. Tapi, dengan pendekatan hermeneutis kita akan paham bahwa rosul, bagaimanapun, adalah anak dari zamannya. Perintah beliau itu memiliki konteks kultur tertentu, dalam hal ini kultur Arab. Dan tentu perintah itu tidak perlu kita ikuti.

Biasanya, ayat-ayat Alquran maupun hadis yang harus dikaji dengan pendekatan hermeneutis adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan "kehidupan dan hubungan bermasyarakat bermasyarakat".


buat yang gw bold...
pertama. Rasullullah Shallohualaihi wa sallam itu diturunkan buat umat manusia bukan buat bangsa ARAB saja so perintahnya tersebut diberlakukan untuk semua umatnya dan waktu tidak mengikat...
kedua. metode tafsir hermeneutika yang memisah2kan perintah berdasarkan waktu, tempat turunnya sehingga perintah2 tersebut nantinya dimasa depan atau di tempat lain bisa ditiadakan bukanlah konsep Islam saudaraku.... perintah2 ya perintah dan itu berlaku hingga akhir zaman dan dibelahan bumi manapu... tinggal umatnya yang mau melaksanakan perintah itu atau tidak, tentu denganreward dan punishment yang ada.....

ishaputra
04-02-2012, 09:51 AM
harusnya loe kerengin yang itu tuh :)

Baca dong yang bener:

"A type of traditional hermeneutic is Biblical hermeneutics which concerns the study of the interpretation of The Bible".


modern hermeneutic encompases everything?

Yup. "...encompasses everything in the interpretative process..."

Hermeneutika itu metoda tafsir teks, bukan "metoda tafsir bible". Pahami pengertian hermeneutika yang saya ungkapkan di atas.


Menunjukkan bahwa Hermeneutika berangkat dari
tradisi keilmuan Yudeo-Christian.

Dan itu BUKAN BERARTI hermeneutika menjadi milik eksklusif Yudeo-Kristen, karena ilmu itu berkembang.


kalau umat Islam punya metode tafsir sendiri, nga
pain loe maksa-maksa make metode dari luar Islam?
Itu yang menjadi inti persoalan.

Duh, bocah. Pahami dulu APA ITU HERMENEUTIKA baru ngomong. Saya sudah uraikan pemahaman saya tentang hermeneutika dan saya berangkat dari situ.

Nah, anda sendiri, apa yang anda pahami dari hermeneutika? Bung, mari kita diskusi dalam platform ilmiah, bukan keimanan.

Ronggolawe
04-02-2012, 09:55 AM
Dan itu BUKAN BERARTI hermeneutika menjadi milik eksklusif Yudeo-Kristen, karena ilmu itu berkembang.
kalau atheis, hindu, budhis mau make silahkan saja :)

Sebagai Muslim dan mayoritas muslim ngga mau
make tuh... tapi loe paksain, :)



Duh, bocah. Pahami dulu APA ITU HERMENEUTIKA baru ngomong. Saya sudah uraikan pemahaman saya tentang hermeneutika dan saya berangkat dari situ.

Nah, anda sendiri, apa yang anda pahami dari hermeneutika? Bung, mari kita diskusi dalam platform ilmiah, bukan keimanan.
loe pahami dulu, Hermeneutika itu berangkat dari
apa? Baru ngemeng!

Dalam Islam "Innamal a'malu bin niat"
Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
Alkitab,.... berarti niat awalnya udah ngga cocok
dengan Islam.

hajime_saitoh
04-02-2012, 10:02 AM
setuju ama bung Ronggo.. dalam Islam sendiri Nabi Muhammad Shallohu alaihi wa sallam sering mengingatkan untuk menyelisishi kaum Yahudi.. nah kalo dalam masalah memanjangkan jenggot dan memotong kumis aja disuruh menyelisihi apalagi masalah metode tafsir.... so tafsir hermeneutika kagak dipake dalam Islam.. ntahlah kalo metode tafsir ini digunakan oleh kalangan Islam Liberal....

ishaputra
04-02-2012, 10:22 AM
buat yang gw bold...
pertama. Rasullullah Shallohualaihi wa sallam itu diturunkan buat umat manusia bukan buat bangsa ARAB saja so perintahnya tersebut diberlakukan untuk semua umatnya dan waktu tidak mengikat...
kedua. metode tafsir hermeneutika yang memisah2kan perintah berdasarkan waktu, tempat turunnya sehingga perintah2 tersebut nantinya dimasa depan atau di tempat lain bisa ditiadakan bukanlah konsep Islam saudaraku.... perintah2 ya perintah dan itu berlaku hingga akhir zaman dan dibelahan bumi manapu... tinggal umatnya yang mau melaksanakan perintah itu atau tidak, tentu denganreward dan punishment yang ada.....

Tidak ada sesuatu ajaran atau perintah yang diturunkan "untuk semua manusia". Anda harus belajar apa itu logika komunikasi bung. Klaim bahwa "Islam diturunkan untuk semua manusia" adalah klaim tidak berdasar dan tidak logis, dan hanya bentuk superioritas Muslim saja.

Bung, dalam komunikasi itu ada yang namanya segmentasi audience. Anda ngomong sama anak kecil, dengan anda ngomong sama orang dewasa itu beda caranya. Kalo anda kerja di biro iklan, mendesain iklan itu harus lihat-lihat dulu apa dan siapa segmen yang dituju. Iklan Coca Cola untuk audience remaja Amerika tahun 60-an beda dengan format iklan Coca Cola untuk remaja Indonesia 2000-an, walau produk yang ditawarkan sama: Coca Cola. Itu namanya komunikasi. Tidak ada dan tidak mungkin ada iklan yang ditujukan untuk remaja di seluruh dunia dari segala jaman. Itu jelas menyalahi logika komunikasi.

Alquran itu muncul dalam konteks masyarakat tertentu di masa lampau, dalam hal ini masyarakat Arab di abad ke 7 M yang tentu saja secara otomatis (mau tidak mau) dipengaruhi oleh weltanschauung (pandangan dunia) masyarakat pada zamannya.

Contoh sederhananya, kenapa Alquran berbahasa Arab? Karena audiencenya di awal munculnya Alquran adalah ORANG ARAB. Kalo Alquran berbahasa mandarin, orang pada bingung. Jadi kalo kita asumsikan Alquran muncul di Jawa pada abad ke 10, pasti Alquran muncul dalam bahasa dan tulisan yang dipakai orang Jawa pada masa itu. Ini saja sudah menunjukkan sempit segmentasi audiencenya. Dan memang HARUS BEGITU, itu benar. Jadi jangan bilang teks-teks Alquran itu diperuntukkan untuk seluruh dunia dari segala zaman.

Alquran muncul di tengah-tengah problematika masyarakat Arab pada zamannya, dan tentu, solusi yang ditawarkan Alquran adalah solusi untuk masalah pada zamannya.

Kenapa dalam Islam, mencuri itu dipotong tangan? Karena pada masa itu, hukuman itu bersifat "cash and carry". Dulu tidak ada konsep penjara.

Kenapa dalam Islam, berzinah itu dirajam hukumannya? Orang Arab dulu, terbiasa punya isteri banyak. Sudah isterinya banyak, eh masih ngembat perawan orang, jelas keterlaluan. Jadi, rajam itu ada konteks masalahnya, bukan sesuatu yang bisa dibakukan segala jaman.

Kenapa dalam hadis, rosul memerintahkan membunuh orang murtad? Karena masa di mana ucapan itu muncul, adalah dalam konteks perang, dan "murtad" sama saja dengan desersi. (Bahkan Musailamah yang jelas-jelas ngaku nabi aja nggak dibunuh sama rosul.)

Kalo kita melupakan hermeneutika dalam konteks ajaran tersebut, hasilnya adalah aplikasi agama yang kaku, kolot dan ahistoris.

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Alquran dari hukuman potong tangan, rajam, dan sebagainya? Yaitu nilai KETATASUSILAAN dan KEADILAN. Ini adalah nilai dasar yang ditawarkan Alqurn pada masyarakat jahiliyah dulu dengan cara yang sesuai pada masa itu.

Nah, yang harus dilakukan oleh umat Muslim jaman sekarang, bukan menampik seluruh isi Alquran, tapi MELAKUKAN RE-INTERPRETASI TERHADAP ALQURAN. Di sinilah peran hermeneutika.

PS: Baca buku karangan Budhy Munawar Rachman: "Reorientasi Pembaruan Islam: Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme". Menarik.

---------- Post added at 10:17 AM ---------- Previous post was at 10:16 AM ----------


Dalam Islam "Innamal a'malu bin niat"
Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
Alkitab,.... berarti niat awalnya udah ngga cocok
dengan Islam.

Wajar kalo anda menolak hermeneutika. Lah pemahaman anda tentang hermeneutika saja KELIRU.

---------- Post added at 10:22 AM ---------- Previous post was at 10:17 AM ----------


Lah, Hermeneutika niat awalnya untuk mengkritisi
Alkitab,.... berarti niat awalnya udah ngga cocok
dengan Islam.

Hermeneutika adalah metode tafsir teks untuk memahami dengan sebenar-benarnya, dengan setepat mungkin maksud dari sebuah teks dengan mempertimbangkan konteks adat tradisi, antropologi dan "pandangan dunia" (weltanschauung) masyarakat di mana teks tersebut muncul.

Ketika Rosul memerintahkan memanjangkan jenggot, apa maksud dari perintah itu? Tentu, untuk memahaminya kita harus mengetahui dalam konteks kultur dan jaman apa rosul itu hidup.

Ada hadis lagi, saya lupa tepatnya, tapi kira-kira isinya begini: Rosul melarang para sahabatnya untuk pake jubah yang menggelambir sampe ke tanah, dan memerintahkan untuk pake jubah pendek saja, di atas mata kaki. Hal ini kemudian ditiru mentah-mentah oleh orang-orang salafi yang dangkal pemikirannya, makanya mereka doyan pake celana ngatung.

Padahal, konteks perintah rosul adalah: Dulu, orang Arab itu dibilang kaya kalo mampu pake jubah yang menggelambir sampe ke tanah. Maklum, tekstil barang mahal pada waktu itu. Nah, banyak orang kaya menyombongkan kekayaannya dengan bergaya seperti itu. Rosul mengajarkan orang supaya jangan sombong, maka dilaranglah para sahabat-sahabatnya yang kaya untuk pake jubah panjang. Yang pendek saja, di atas mata kaki. Jadi tidak ada gap antara kaya dan miskin. Itu maksudnya. Tentu, problematika kesombongan di masyarakat kita beda dong. Tidak bisa kita ikutin mentah-mentah perintah rosul itu karena konteks jaman yang berbeda.

danalingga
04-02-2012, 10:22 AM
Setuju ama Isha soal melihat konteks sejarah (atau situasi kondisi kemasyarakatan) suatu ayat kitab suci (bukan cuma Al Quran), tapi semua kitab suci atau bahkan kitab sejarah.

sedgedjenar
04-02-2012, 01:19 PM
oooo jadi hermeneutika ini salah satu metoda tafsir ?
kalo pake metode hermeneutika alif lam mim itu maknanya apa ? (al baqarah ayat 1)

saya lebih percaya metode batin Rasulullah dalam memaknai tafsir alif lam mim
kalo hermeneutika gimana menafsirkan alif lam mim itu ?

danalingga
04-02-2012, 08:23 PM
^konteks bisa membantu menjelaskan loh bro. Misalnya soal syahadat Jenar itu, kalo ngerti konteksnya nggak akan dibilang sesat.

ishaputra
04-02-2012, 08:50 PM
oooo jadi hermeneutika ini salah satu metoda tafsir ?
kalo pake metode hermeneutika alif lam mim itu maknanya apa ? (al baqarah ayat 1)

saya lebih percaya metode batin Rasulullah dalam memaknai tafsir alif lam mim
kalo hermeneutika gimana menafsirkan alif lam mim itu ?

Nah, bagaimana kita MEMAHAMI "metode batin" rosululloh kalo mengabaikan konteks kultur dan antropologi masyarakat Arab di jaman dulu?

Ada peserta di sini yang nggak paham betul apa itu "hermeneutika". Hanya karena itu "istilah kristen", "istilah asing", "istilah barat", maka ujug-ujug membabi buta pasang sikap anti. Ngerti aja enggak.

Liat tuh uraian si Ronggolawe, jan... ngaco banget. Wajar dia nolak hermeneutika, lah wong pemahamannya aja keliru.

sedgedjenar
04-02-2012, 09:18 PM
Nah, bagaimana kita MEMAHAMI "metode batin" rosululloh kalo mengabaikan konteks kultur dan antropologi masyarakat Arab di jaman dulu?

Ada peserta di sini yang nggak paham betul apa itu "hermeneutika". Hanya karena itu "istilah kristen", "istilah asing", "istilah barat", maka ujug-ujug membabi buta pasang sikap anti. Ngerti aja enggak.

Liat tuh uraian si Ronggolawe, jan... ngaco banget. Wajar dia nolak hermeneutika, lah wong pemahamannya aja keliru.

Gak usah bawa2 urusan ronggolawe ke ane.
Jawab aja pertanyaan ane, kalo pake metoda permenikah itu bagaimana menafsirkan alif lam mim. Apa maknanya?

Ronggolawe
04-02-2012, 09:35 PM
Nah, bagaimana kita MEMAHAMI "metode batin" rosululloh kalo mengabaikan konteks kultur dan antropologi masyarakat Arab di jaman dulu?

Ada peserta di sini yang nggak paham betul apa itu "hermeneutika". Hanya karena itu "istilah kristen", "istilah asing", "istilah barat", maka ujug-ujug membabi buta pasang sikap anti. Ngerti aja enggak.

Liat tuh uraian si Ronggolawe, jan... ngaco banget. Wajar dia nolak hermeneutika, lah wong pemahamannya aja keliru.
wah gw baru tahu, kalau loe yang menjunjung
tinggi HAM, malah ngatur-ngatur agama lain
(dalam hal ini Islam) untuk ikut pemahaman loe :)

Asum
05-02-2012, 07:38 AM
Yang berhak menafsir sebuah teks adalah para ahli di bidangnya (scholars). Ini berlaku pada semua disiplin ilmu.

Sepakat!


Orang awam juga boleh memberi tafsir, tetapi bagaimanapun tetap merujuk pada pendapat scholars sebagai referensi dan menggunakan metodologi yang ilmiah
Kalau masih merujuk pada pendapat ahli (scholars), maka itu namanya belum berhak selain hanya menuruti apa kata ahli (scholars) :D

---------- Post added at 07:38 AM ---------- Previous post was at 07:33 AM ----------


Sekali lagi, hermeneutika itu bukan tafsir, tapi metode tafsir
Betul !

Hermeneutika merupakan salah satu metode tafsir yang awalnya digunakan sebagai alat untuk menafsir maksud yang ingin di sampaikan dalam Bible. Dan dalam perkembangan selanjutnya, Hermeneutika digunakan untuk menafsir semua teks (termasuk teks al-Qur'an dan Al-hadits dalam literatur Islam).

Dadap serep
10-02-2012, 11:00 AM
He he he lha dari "pangkal" nya saja sudah berbeda ! Khusus untuk Al Qur'an. Apakah semua partisipan punya pandangan yg sama thdp Al Qur'an ini ? Dan sudahkah ada yg "menanyakan" langsung kepada Al Qur'annya sendiri ? Seolah olah pada berhak menjadikan Al Qur'an itu obyect yg bisa diletakkan di meja "bedah" bisa semaunya dibongkar dipreteli ,dibolak balik , karena dia sudah disuntik dengan serum "desacralisasi" ?! Seolah olah Al Qur'an itu adalah tulisan manusia yg dipengaruhi oleh pola pikir sang penulis , yg tidak bisa terlepas dari kondisi sosial budaya nya.Sehingga untuk memahami "tulisannya" itu kita perlu mengkonsider itu semua! Padahal jelas Al Qur'an adalah bagi mereka yg beriman !
Ayat Al Qur'an memang bicara kepada manusia dan hal yg erat hubungannya dg manusia yg tak bisa disangkal punya budaya dan terpengaruh oleh kondisi sosialnya. Maka Al-Qur'an berbahasa Arab , maka ada ayat mengenai perkawinan , ada ayat mengenai zakat. Tetapi juga ada "Alif lam mim","Yaa Siin" , "Tho haa" dan lain danlain danlainnya , spt yg sudah disampaikan oleh Sedgejenar.
Mungkin ada yg berhujjah bahwa Al Qur'an (mushaf) kan ditulis oleh team yg dibentuk Ustman , jadi ya dianggap sebagai object penellitian. Itu terserah saja ,tapi hendaknya diingat bahwa Al Qur'an dalam Islam itu adalah firman Allahnya , Al Qur'an diturunkan bukan adalam bentuk buku !

Jadi hermeneutika kah , metode lain syah syah saja dipakai mestinya ya untuk mereka yg mau menggunakanya toh yg membutuhkan AQ sang manusianya ! Tapi jelas umat Islam menafsirkan dengan keimanan , dan karena intelektual umat Islam tidak sama , ada yg awam ada yg punya kemampuan keilmuan (ulama) maka bagi yg awam --sesuai dengan perintah dalam AQ-- bertanyalah pada yg mengetahuinya (ulama /SCHOLARS). Namun karena sesuai dg keimanan umat Islam bahwa akan ada pengadilan akhir Allah yg tidak bisa sesuatu disembunyikan atau tersembunyi dihadapanNya , maka spt yg pernah saya post kan , kita lah yg akan mempertanggung jawabkan thdp setiap pilihan/amalan yg kita lakukanbukan orang lain , orang lain termasuk para ulama juga akan mempertanggung jawabkan setiap pilihan /amalan yg telah mereka lakukan ! Termasuk mereka yg tidak mengimani AQ sebagai Kalamullah , tafsir hanyalah "pakaian/tool" dunia , akherat adalah hakekat ,yg ada didalam pakaian itu , hidup yg sesungguhnya !
Sekali lagi just share.

sedgedjenar
10-02-2012, 03:33 PM
He he he lha dari "pangkal" nya saja sudah berbeda ! Khusus untuk Al Qur'an. Apakah semua partisipan punya pandangan yg sama thdp Al Qur'an ini ? Dan sudahkah ada yg "menanyakan" langsung kepada Al Qur'annya sendiri ? Seolah olah pada berhak menjadikan Al Qur'an itu obyect yg bisa diletakkan di meja "bedah" bisa semaunya dibongkar dipreteli ,dibolak balik , karena dia sudah disuntik dengan serum "desacralisasi" ?! Seolah olah Al Qur'an itu adalah tulisan manusia yg dipengaruhi oleh pola pikir sang penulis , yg tidak bisa terlepas dari kondisi sosial budaya nya.Sehingga untuk memahami "tulisannya" itu kita perlu mengkonsider itu semua! Padahal jelas Al Qur'an adalah bagi mereka yg beriman !
Ayat Al Qur'an memang bicara kepada manusia dan hal yg erat hubungannya dg manusia yg tak bisa disangkal punya budaya dan terpengaruh oleh kondisi sosialnya. Maka Al-Qur'an berbahasa Arab , maka ada ayat mengenai perkawinan , ada ayat mengenai zakat. Tetapi juga ada "Alif lam mim","Yaa Siin" , "Tho haa" dan lain danlain danlainnya , spt yg sudah disampaikan oleh Sedgejenar.
Mungkin ada yg berhujjah bahwa Al Qur'an (mushaf) kan ditulis oleh team yg dibentuk Ustman , jadi ya dianggap sebagai object penellitian. Itu terserah saja ,tapi hendaknya diingat bahwa Al Qur'an dalam Islam itu adalah firman Allahnya , Al Qur'an diturunkan bukan adalam bentuk buku !

Jadi hermeneutika kah , metode lain syah syah saja dipakai mestinya ya untuk mereka yg mau menggunakanya toh yg membutuhkan AQ sang manusianya ! Tapi jelas umat Islam menafsirkan dengan keimanan , dan karena intelektual umat Islam tidak sama , ada yg awam ada yg punya kemampuan keilmuan (ulama) maka bagi yg awam --sesuai dengan perintah dalam AQ-- bertanyalah pada yg mengetahuinya (ulama /SCHOLARS). Namun karena sesuai dg keimanan umat Islam bahwa akan ada pengadilan akhir Allah yg tidak bisa sesuatu disembunyikan atau tersembunyi dihadapanNya , maka spt yg pernah saya post kan , kita lah yg akan mempertanggung jawabkan thdp setiap pilihan/amalan yg kita lakukanbukan orang lain , orang lain termasuk para ulama juga akan mempertanggung jawabkan setiap pilihan /amalan yg telah mereka lakukan ! Termasuk mereka yg tidak mengimani AQ sebagai Kalamullah , tafsir hanyalah "pakaian/tool" dunia , akherat adalah hakekat ,yg ada didalam pakaian itu , hidup yg sesungguhnya !
Sekali lagi just share.

jadi tergantung perlakuannya ya ?
kalo yg memperlakukan Quran sebagai buku, cara menafsirkannya ya dengan sekolah belajar sampe jadi sekolor, sekolar (SCHOLAR)
prosesnya pun sama dengan belajar lainnya, ngapal, banyak baca literature, diskusi, debat de el el

kalo yang memperlakukan Quran sebagai firman Tuhan, cara menafsirkannya ya dibaca, rajin sholat rajin puasa sambil berdoa yaa Allah bukakanlah kepada saya pemahaman akan kalam-Mu

kalo saya mending yang kedua lha tuh
hemat biaya bonusnya hati jadi luas dan tenang

Dadap serep
10-02-2012, 05:10 PM
^ atasku , Kasingihan aki Jenar , sing penting ngamale kang ikhlas , lainnya biar Allah , kita sih tawakal sajaahhhh , mathukkkk kiyaiiiiii,..................:)

Darrul_Iman
16-02-2012, 01:41 PM
Salam

Menafsirkan Al Qur'an itu dengan Kepala dan Hati

jika hanya salah satu maka akan pincang

barang siapa berucap ATAS NAMA KEBENARAN...maka sudah dipastikan bahwa ia telah SIAP DIMINTAI PERTANGGUNG JAWABKANNYA

ingatlah....DUA hal

ingatlah DUA hal

dan ingatlah DUA hal

sebab segala sesuatu di dunia ini selalu ada yang mengiringinya......berjalan berdampingan

DUA HAL.....

tidak dengan hanya kalamullah saja....
tidak dengan Ilmu saja.....

sebab jika kamu baca maka bacalah dengan DUA hal tersebut

sebab Nabi mewariskan DUA HAL

syahadat adalah DUA HAL

makhluk ada DUA HAL

gerak melingkar adalah DUA HAL

dan tahukah kamu...bahwa Al Qur'an itu bertujuan untuk DUA HAL...??

dan tahukah kamu bahwa setelah pintu gerbang kematian itu adalah DUA HAL

dan tahukah kamu bahwa diri kita terdiri dari DUA HAL

dan tahukah kamu AL Qur'an itu dibagi menjadi DUA HAL

dan tahukah kamu........apa itu DUA HAL....??

ishaputra
18-02-2012, 07:43 PM
Darul, mari kita berdiskusi secara ilmiah. Paparan anda itu omong kosong, tidak ilmiah. Bukan argumentasi, dan pointless. Cuma racauan retoris yang cocoknya anda lontarkan di mimbar-mimbar awam.

---------- Post added at 06:51 PM ---------- Previous post was at 06:51 PM ----------

Silakan presentasikan ide/pikiran anda tentang agama secara ilmiah dan argumentatif. Jangan bernada CERAMAH/KHOTBAH.

---------- Post added at 07:19 PM ---------- Previous post was at 06:51 PM ----------


Kalau masih merujuk pada pendapat ahli (scholars), maka itu namanya belum berhak selain hanya menuruti apa kata ahli (scholars)

Pertama: Yang dimaksud “orang awam” bukan selalu orang bodoh. Tapi orang yang tidak memiliki kapabilitas akademik (yang direpresentasikan dengan gelar kesarjanaan) di bidang ini. Bahasa kerennya, “amateur”.

Contoh, ”amateur astronomer” memiliki sejumlah pengetahuan astronomi yang baik. Namun kalangan ini menjadi astronom semata hobi, bukan profesi. Demikian juga pada terma ”amateur mufassir”.

Kedua: Setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, termasuk para “amateur”. Sikap kita terhadap pendapat yang dilontarkan para amatir tersebut, adalah lihat dan nilai substansinya. Jika ada yang salah, koreksi. Jika ada yang kurang, tambahi. Itu namanya diskusi yang fair. Jadi ada dialektika.

Dan seperti kita tahu, “berpendapat” juga ada tata-caranya. Ada polanya, tidak asal njeplak. Siapapun yang melontarkan pendapat, baik itu kalangan scholars maupun amatir, tetaplah diikat oleh tata cara tersebut.

Pola pendapat itu kan sederhananya begini: Kumpulan fakta --> Analisis --> Kesimpulan.

“Merujuk pendapat ahli” itu bersifat umum, tidak milik para amatir saja. Para ahli pun tak segan-segan merujuk pendapat ahli lainnya. Kenapa? Karena ilmu itu demikian luas, sehingga tidak bisa ada satu orang yang menguasai banyak bidang sekaligus. Lihat saja disertasi S3, pastilah daftar pustakanya penuh.

Yang penting, pendapat atau ide yang dilontarkan itu disampaikan secara RUNTUT/LOGIS (terstruktur dan konseptual) sehingga bisa ditangkap apa maksudnya. Ini teknis dasar berpendapat.

---------- Post added at 07:29 PM ---------- Previous post was at 07:19 PM ----------


He he he lha dari "pangkal" nya saja sudah berbeda ! Khusus untuk Al Qur'an. Apakah semua partisipan punya pandangan yg sama thdp Al Qur'an ini ? Dan sudahkah ada yg "menanyakan" langsung kepada Al Qur'annya sendiri ? Seolah olah pada berhak menjadikan Al Qur'an itu obyect yg bisa diletakkan di meja "bedah" bisa semaunya dibongkar dipreteli ,dibolak balik , karena dia sudah disuntik dengan serum "desacralisasi" ?! Seolah olah Al Qur'an itu adalah tulisan manusia yg dipengaruhi oleh pola pikir sang penulis , yg tidak bisa terlepas dari kondisi sosial budaya nya.Sehingga untuk memahami "tulisannya" itu kita perlu mengkonsider itu semua! Padahal jelas Al Qur'an adalah bagi mereka yg beriman !

Kajian akademik atas kitab suci ya memang harus dengan pendekatan desakralisasi. Dan ini berlaku pada semua kitab suci. Kajian ilmiah terhadap kitab suci itu tidak boleh mengandung bias iman pribadi. Karena kajian ilmiah atas kitab suci BUKAN AJANG DAKWAH AGAMA.

Alquran bukan cuma milik Muslim, tapi milik dunia. Alquran adalah heritage. Demikian pula semua kitab suci yang ada di dunia.

Makanya harus dipisah antara: Kajian kitab suci dalam ranah normatif keimanan (yang memang bertujuan untuk dakwah agama, contoh di pesantren dan di sekolah-sekolah teologi), dengan kajian kitab suci dalam ranah ilmiah-akademis.

---------- Post added at 07:43 PM ---------- Previous post was at 07:29 PM ----------


Seolah olah pada berhak menjadikan Al Qur'an itu obyect yg bisa diletakkan di meja "bedah" bisa semaunya dibongkar dipreteli ,dibolak balik , karena dia sudah disuntik dengan serum "desacralisasi" ?!

Coba anda lihat tulisannya Darul Iman di atas. Itu contoh “khotbah”, bukan paparan ilmiah. Di forum macam gini “pendapat” macam Darul Iman itu nggak kena.

Jadi sebelum kita mulai diskusi, sebaiknya kita rapihkan dulu “platform”-nya. Supaya nyambung.

Saya lebih senang dengan pendekatan ilmiah-akademik dalam kajian agama. Pertama, karena lebih rasional. Kedua, lebih “bebas nilai”. Dan ketiga, bisa diikuti secara lintas agama.

Coba anda main ke Utan Kayu (Kajian Islam Utan Kayu). Dalam suatu forum diskusi, lihat peserta diskusi yang datang. Anda akan tahu bahwa para peserta yang datang cenderung lintas agama (sekurangnya ada mahasiswa dari STT Jakarta di situ). Hal ini berbeda dengan “pengajian” di masjid-masjid atau di forum-forum internal Islam yang lebih cenderung “kajian dalam kerangka ibadah”.

Kenapa begitu? Karena kajian Islam di Utan Kayu disajikan seperti kuliah, jadi nggak bawa-bawa sorga-neraka. Tidak bergaya “tausyiah” seperti anda dengar ceramahnya Mamah Dedeh, Yusuf Mansur, Zainuddin MZ dan seterusnya.

Paham kan bedanya?

hajime_saitoh
19-02-2012, 05:28 AM
Kajian akademik atas kitab suci ya memang harus dengan pendekatan desakralisasi. Dan ini berlaku pada semua kitab suci. Kajian ilmiah terhadap kitab suci itu tidak boleh mengandung bias iman pribadi. Karena kajian ilmiah atas kitab suci BUKAN AJANG DAKWAH AGAMA.

Alquran bukan cuma milik Muslim, tapi milik dunia. Alquran adalah heritage. Demikian pula semua kitab suci yang ada di dunia.

Makanya harus dipisah antara: Kajian kitab suci dalam ranah normatif keimanan (yang memang bertujuan untuk dakwah agama, contoh di pesantren dan di sekolah-sekolah teologi), dengan kajian kitab suci dalam ranah ilmiah-akademis.


nha ini yang jadi masalah broo isha bagi umat Islam Al-Quran itu kalamullah dan bersifat sakral karena itu merupakan kata2 atau firman Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shallollohu alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril alaihissalam....
masalah kalo orientalis mengkaji Al-Quran secara akademis dengan metode hermeunetika ya itu hak mereka dan kami tidak bisa melarangnya... namun jangan harap hasil tafsir hermeuneutika itu akan diterima oleh para syaikh hafidzahullah dan para ahli ilmu hadits dan fiqh Islam...
itu saja kok...
intinya.. orientalis mau menggunakan metode hermeneutika dalam mengkaji isi Al-Quran silahkan.. namun kami umat Islam sudah memiliki cara sendiri dalam mentafsir Al-Quran... dan bukankan prinsip barat adalah kebebasan... jadi kami umat Islam juga bebas untuk tidak menggunakan metode hermeneutika ini.. :ngopi:

Ronggolawe
19-02-2012, 05:31 AM
hehehe, padahal gw sudah ingatkan si Isha :)


wah gw baru tahu, kalau loe yang menjunjung
tinggi HAM, malah ngatur-ngatur agama lain
(dalam hal ini Islam) untuk ikut pemahaman loe :)

ternyata ia berstandar ganda :)

bidawang
19-02-2012, 09:02 PM
Menarik, metode hermenutika, Saya baru mendengarnya agak lebar. selama ini konotasinya agak miring terkait tokoh-tokoh jil yang disinyalir sering menggunakan metode ini.

Terkait dengan hukum potong tangan, ada dari sebagian faham SyiAh, mengartikan bahwa arti hukum potong tangan itu tidak melulu difahami secara literal bahwa pencuri=protol/potong tangane. Mereka mengartikan tangan sebagai "kekuasaan" sebagaimana mengartikan tangan Tuhan = kekuasaan Tuhan.

Al-hasil setiap kasus pencurian bisa diartikan memotong kekuasaan pencuri, baik diturunkan dari jabatan, pengasingan /penjara sesuai besaran kasus pencuriannya. agak jauh bila ditemukan kasus pencurian tetapi si pencuri tidak mempunyai 2 tangan, hukum potong tangan yang diartikan sebagai memotong kekusaan mencuri masih bisa jalan. atau agak jauh apakah sama beratnya hukuman antara pencuri seekor kerbau dengan pencuri 10 onta sama-sama dipotong tangan sama pula panjangnya, misalnya.

apakah metode semacam itu juga bisa dikatakan metode hermenutika?
:ngopi:

Darrul_Iman
24-02-2012, 04:01 PM
salam


Darul, mari kita berdiskusi secara ilmiah. Paparan anda itu omong kosong, tidak ilmiah. Bukan argumentasi, dan pointless. Cuma racauan retoris yang cocoknya anda lontarkan di mimbar-mimbar awam.

:)....baiklah kita langsung praktik saja...:)

kalaulah anda merasa bukan awam.....maka saya berikan ini lalu tafsirkan

http://quran.com/images/ayat/9_14.png
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

kemudian bisakah anda tolong tafsirkan ke kami yang awam ini ayat yang dibawah ini

http://c00022506.cdn1.cloudfiles.rackspacecloud.com/5_66.png
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

hajime_saitoh
25-02-2012, 10:55 PM
Pendapat Imam Ibnu Katsir tentang penafsiran Al-Qur'an

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.

2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.

4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.



Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:

“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

sedgedjenar
26-02-2012, 11:30 AM
Pendapat Imam Ibnu Katsir tentang penafsiran Al-Qur'an

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.

2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.

4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.



Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:

“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

sampe sejauh ini pertanyaan saya soal tafsir alif laam mim juga belum dijawab ishaputra tuh
pengen tau kalo pake so-called hermeunetika akan seperti apa hasil tafsirnya alif lam mim itu

::hihi::

red_pr!nce
19-08-2012, 01:38 PM
Ada 6 milyar manusia di dunia ini, masing-masing dengan pemikirannya sendiri-sendiri, sehingga ada 6 milyar tafsir terhadap segalanya, termasuk terhadap agama yang dianut.

Kenapa tidak? Bukankah manusia itu diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi satu sama lain? ::bye::

sedgedjenar
21-08-2012, 04:07 AM
Kenapa tidak?
Ya supaya eksklusipitas tetap terjaga kali

:run: