PDA

View Full Version : Apakah Tuhan menciptakan Kejahatan?



Nharura
15-09-2011, 10:39 AM
http://i424.photobucket.com/albums/pp326/xoxomayra94/photography/hsp17.jpg


Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”.

“Tentu saja,” jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Agitho_Ryuki
15-09-2011, 02:17 PM
Dalam benakku.. Apakah Tuhan itu menciptakan kejahatan? Maka aku jawab "Iya"....

kimochi
15-09-2011, 02:29 PM
Mahasiswanya geblek... lain ditanya lain dijawab. ::oops::

Saya ndukung profesornya aja deh. ::oops::

GiKu
15-09-2011, 02:40 PM
Tuhan menciptakan Adam dan Hawa

pertanyaan selanjutnya : Apakah Tuhan menciptakan banci ?

beastmen85
15-09-2011, 02:47 PM
Tuhan menciptakan Adam dan Hawa

pertanyaan selanjutnya : Apakah Tuhan menciptakan banci ?

Dalam benakku.. Apakah Tuhan itu menciptakan banci? Maka aku jawab "Iya"....

Yuki
15-09-2011, 03:37 PM
kejahatan muncul dari nafsu

nafsu memiliki dua opsi, baik dan buruk
kejahatan diciptakan oleh makhluk yg memiliki nafsu yg mana mereka kalah oleh godaan nafsu untuk berbuat jahat ketimbang berbuat baik

pertanyaan selanjutnya : Apakah Tuhan menciptakan banci ?
tetap saja banci itu gendernya laki-laki kan?
yg bersangkutanlah yg memilih menjadi banci

kimochi
15-09-2011, 03:47 PM
kejahatan muncul dari nafsu

nafsu memiliki dua opsi, baik dan buruk
kejahatan diciptakan oleh makhluk yg memiliki nafsu yg mana mereka kalah oleh godaan nafsu untuk berbuat jahat ketimbang berbuat baik

tetap saja banci itu gendernya laki-laki kan?
yg bersangkutanlah yg memilih menjadi banci

Iya bener, tapi ntar kalau ditanya balik:

Yang menciptakan "yg-bersangkutanlah-yg-memilih-menjadi-banci" itu siapa? :)

et dah
15-09-2011, 03:48 PM
kirain nama muridnya komeng :D

beastmen85
15-09-2011, 04:03 PM
Iya bener, tapi ntar kalau ditanya balik:

Yang menciptakan "yg-bersangkutanlah-yg-memilih-menjadi-banci" itu siapa? :)

^ this ::up::

Tuhan maha tahu, trus kenapa ia ciptakan iblis?
saya pernah baca sebuah buku, sesungguhnya yg bikin manusia spesial itu adalah dosa

E = mc²
15-09-2011, 04:35 PM
btw, kisah ini beneran terjadi kah? apa cuma mencatut nama einsteinnya sahaja? :D

Nharura
15-09-2011, 05:52 PM
btw, kisah ini beneran terjadi kah? apa cuma mencatut nama einsteinnya sahaja? :D

http://farm5.static.flickr.com/4043/4603965950_9b18397697.jpg (http://www.flickr.com/photos/50163296@N06/4603965950/)
Sumber : Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 84-86. ISBN 978-6028-686-402.

Nharura
15-09-2011, 05:55 PM
baca artikel ini,, mengingatkan dengan kata2 mama,, "untuk menjadi orang Jahat tidak perlu belajar, karena orang jahatpun bisa menjadi baik, jika ia mau belajar utk menjadi baik"

E = mc²
15-09-2011, 06:10 PM
Sumber : Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 84-86. ISBN 978-6028-686-402.

dan dia mendapatkan sumber ini drmn? jujur, saya sering banget baca kisah seperti ini... kisah ini dikutip di buku2 keagamaan/artikel majalah/blog, tapi setidaknya, belum pernah menemukan sumber yg "valid". dikutip dari satu sumber ke sumber lain... tanpa memberikan sumber referensi pertama... ujung-ujungnya, "katanya". Kalau saya menulis dengan Newton sbg nama si murid, kisahnya pun akan sama :ninja:

E = mc²
15-09-2011, 06:46 PM
sedikit Gugling :)


Einstein Proves That God Exists in a Confrontation with a Professor-Fiction!

Summary of the eRumor : This is an account of a classroom encounter between young Albert Einstein and a professor who was arguing that the Christian faith is a myth. Einstein argues that evil is the absence of God in the same way that darkness is the absence of light and cold is the absence of heat.

The Truth : There is no evidence that this exchange ever took place.
This eRumor has circulated without Einstein's name and someone added it to a version that started circulating in the summer of 2004.
Also, it is not likely that young Einstein would have presented this argument.
In his Autobiographical Notes, he states that even though his Jewish family was not religious, he developed a "deep religiosity" as Jewish child that came to an end when he was 12. He says he developed a skeptical attitude that never left him. He made reference to "God" on many occasions but also said he did not believe some of the stories in the Bible and did not believe in a personal God.

read more: http://www.truthorfiction.com/rumors/e/einstein-god.htm

hal serupa bisa dibaca di sini (http://urbanlegends.about.com/od/religion/a/einstein_god.htm) dan di sini (http://www.snopes.com/religion/einstein.asp)

saya udah baca karya-karya Einstein--5 paper sainsnya (yang mengubah sejarah), buku Relativitas, hingga kumpulan essai dan kutipan2nnya. Tak pernah menemukan kisah seperti di post pertama.

Terlepas dari motif dan tujuannya, saya benci dengan kisah-kisah fiksi yang dibuat seolah fakta untuk mendukung argumen pihak tertentu apalagi mencatut tokoh-tokoh tertentu. Ini sama saja dengan sains-sains hoax yang beredar di internet yang "membuktikan kebenaran ilmiah dari kitab suci"--berbohong bukannya dilarang Tuhan? No offence :)

Nharura
15-09-2011, 06:53 PM
wa'allahualam bi sawab (hanya Allah yang dapat menjawabnya),, saya pun tidak tahu pak rumus,karena belum pernah ketemu sama pak esteinnya:), tapi saya senang saja membaca tulisan ini,, dari seorang penganut yahudi.. tapi dia sudah tahu arti ketauhidan,, apa benar atau tidak, respon awal saya membaca artikel ini, adalah mengembirakan.

tak ada satupun kata yang mampu terucap, selain, Maha suci Allah...^^ (btw ini gak tertuju pada agama satu saja, agama bukannya universal. dan artikel ini pun tidak menjurus kepada agama. Tapi kepada pemikiran dari sebuah perenungan.

Mohon maaf jika membenci artikel ini::maap::

E = mc²
15-09-2011, 07:02 PM
Nope. Einstein sudah jelas-jelas bukan penganut Yahudi. Dia malah tidak menganut agama tertentu. Hanya keturunan bangsa yahudi.

untuk hal-hal seperti ini, saya rasa tidak perlu melibatkan pengetahuan Allah--sedikit gugling akan ditemukan kebenarannya. Hoax yang begitu kelihatan dustanya secara jelas seperti ini saya rasa sangat disayangkan jika dikait-kaitkan dengan semangat "menyebarkan kebaikan". Saya menikmati ceritanya bagaimanapun, tapi caranya yang gak jujur, sangat menodai semangatnya. Saya pikir, Nabi pun gak melakukan hal yang demikian bukan dalam dakwahnya? :)

IMHO

Nharura
15-09-2011, 07:09 PM
Nope. Einstein sudah jelas-jelas bukan penganut Yahudi. Dia malah tidak menganut agama tertentu. Hanya keturunan bangsa yahudi.

untuk hal-hal seperti ini, saya rasa tidak perlu melibatkan pengetahuan Allah--sedikit gugling akan ditemukan kebenarannya. Hoax yang begitu kelihatan dustanya secara jelas seperti ini saya rasa sangat disayangkan jika dikait-kaitkan dengan semangat "menyebarkan kebaikan". Saya menikmati ceritanya bagaimanapun, tapi caranya yang gak jujur, sangat menodai semangatnya. Saya pikir, Nabi pun gak melakukan hal yang demikian bukan dalam dakwahnya? :)

IMHO

Iyap pak rumus,, Inilah dinamakan Logika pemikiran^_^ Jika memang Hoax, ya silahkan. Tapi jika banyak yang menyukai artikel ini, dan menumbuhkan semangat memperbaiki diri, apakah tidak boleh. Sama sekali artikel ini tidak menjurus pada apapun. Hanya sebuah makna, yang bisa di lihat dri sudut pandang dari arah manapun.Jadi saya minta maaf, jika merasa tidak suka.::maap::

Btw,, sepertinya soal Einstein, pak rumus lebih tahu. :)

kimochi
15-09-2011, 07:14 PM
Terus inti ceritanya gimana, bener ga kesimpulan dari diskusi itu?

Terlepas bener apa enggak ceritanya, yaaa... itung-itung ini cuman prolog ke arah sebuah diskusi. ::ungg::

E = mc²
15-09-2011, 07:28 PM
tidak perlu minta maaf. tidak ada yang salah kecuali si penulis awal cerita yang melakukan dusta untuk membuat orang-orang yakin terhadap perkataannya. Atau, sebenernya ada Albert Einstein lain, A.E. dalam cerita itu sebenernya bukan A.E. yang ilmuwan fisika itu? :ninja:

saya sebenernya alih-alih benci malah lebih ke arah sedih. ketidaktahuan orang dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk mempercayai kebohongan-kebohongan ---terus orang yang dibongi itu lantas langsung mempercayai begitu saja. taklid? :(

eh, saya tidak menujukan tulisan ini buat TS lho. piss :)

Nharura
15-09-2011, 07:39 PM
^_^ iyap pak rumus... gak apa2, saya seneng selalu berucap maaf,, gak akan berkurang apapun didiri kita kalau kita minta maaf^_*

oia pak rumus, saya sebenrnya gak begitu suka debat tentang agama,, karena saya merasa agamaku bagiku, dan agamamu bagimu.

soal artikel estein, anggap saja, sebuah tulisan dengan berbagai macam sudut pandang.

karena jujur saja, saya minim ilmu, untuk menjelaskan artikel itu lebih lanjut, apa yang bahasa inggris itu HOAK, atau tulisan artikel ini HOAX, bener2 saya tidak bisa memberi kesimpulan, karena saya tidak pernah bertemu dengan si narasumber, Estein. Artikel ini tulisan yang saya kira unik, tapi orang lain bisa menyangka ini adalah pembodohan publik. Gak apa2,, khan persepsi orang beda2.. jadi santai aja...^_*

karena jika kita berdebat, tanpa Ilmu. serta bukti konkret maupun nyata berupa data primer maupun sekundernya. Artikel ini bisa dikatakan hanya sebuah tulisan yang "ingin mencerahkan". Meski yang lain merasa tidak. Benar2 tidak apa2.. karena pemikiran orang2 khan beda2,, tinggal bagaimana kita menghargai saja^_* Piis juga pak rumus:)>-

E = mc²
15-09-2011, 07:51 PM
sebenernya bisa dibalik kok. orang zaman sekarang kan gak pernah bertemu Nabi. Jadi bagaimana cara dia membuktikan kalo Nabi tsb berkata dengan benar dan bukan berupa dusta? jawabannya dengan membaca buku (kalau ada) karyanya, atau membaca buku2 yg meriwayatkan kisah tentangnya. bagaimana bisa membedakan antara ucapannya yang dusta dan yang benar? dan jika ditemukan kisah yang merupakan dusta, apakah meski dustanya itu bermaksud baik lantas wajib dipercaya?

kita gak pernah bertemu einstein, bukan berarti kita tidak bisa menilai apakah kisah tentang einstein itu salah atau benar. untuk mencari tahunya, yah dg baca karyanya atau baca buku tentangnya.

yah karena kita gak berilmu--atau tidak memiliki ilmu terhadap suatu hal--bukan berarti kita tak boleh mempelajarinya kan yah? justru itu hakikatnya ilmu, kita belajar untuk membedakan mana yang salah dan yang tak benar. membaca adalah kuncinya. Mari kita sama-sama belajar :)



oya, saya tidak membicarakan agama--atau berdebat tentang agama. hanya menanyakan validitas kisah sahaja :)

Nharura
15-09-2011, 07:59 PM
Mari belajar::chearleader::


Nb: tapi kalau soal agama dan pemikiran yang "berperang logika mengenai Tauhid Ketuhanan" harus sama yang ahlinya ya pak rumus,, jangan sama saya, saya bukan ahlinya;D

oia hanya OOT dan promosi buku bagus,, bisa nambahin motivasi karya2nya sean covey tentang 7 kebiasaan efektif remaja. Buku Motivasi^_^,, berpengang pada prinsip,, Yes do it.

^_*

Nharura
15-09-2011, 08:02 PM
oya, saya tidak membicarakan agama--atau berdebat tentang agama. hanya menanyakan validitas kisah sahaja :)

Yup baguslah,, sip klau gitu:jempol:

kimochi
15-09-2011, 08:14 PM
Yah... penonton kecewa. Keburu baikan ::grrr::

Nharura
15-09-2011, 08:33 PM
Yah... penonton kecewa. Keburu baikan ::grrr::

::bwekk:: anda kurang beruntung....

;D

AsLan
15-09-2011, 08:57 PM
Saya juga gak percaya kalau Albert Einstein mengatakan seperti itu.
Tapi ngapain urusan begitu dibahas panjang lebar di topik "Apakah Tuhan menciptakan Kejahatan?"

Topik ini penting sekali dan sudah dibahas oleh banyak filsuf, termasuk pemikir2 sekular.

Sebetulnya pertanyaan lengkapnya :

Kalau Tuhan itu baik dan maha kuasa, mengapa banyak kejahatan dan penderitaan ?
Mungkin Tuhan itu baik tapi tidak maha kuasa sehingga dia gak bisa menyelesaikan kejahatan dan penderitaan.
Mungkin Tuhan itu maha kuasa tapi tidak baik sehingga dia tidak mau menyelesaikan kejahatan dan penderitaan.

Nah salah satu turunan dari problema itu adalah :

Apakah Tuhan itu menciptakan kejahatan ?

beastmen85
15-09-2011, 10:37 PM
dan seandainya kita semua tahu apa yg sebenarnya dikatakan einstein, mungkin kita semua akan masuk surga ;D

Alip
16-09-2011, 07:26 AM
Waktu kuliah saya pernah ditanya temen yang sedang getol-getolnya ikut ministry, sampai ngeriting rambut segala... "apakah menurut kamu Tuhan menciptakan kejahatan?"

Saya jawab, "jelas, ada disebut dalam salah satu ayat di kitab-ku '...berlindung dari kejahatan yang Engkau ciptakan...'"

dia memandangi saya lama banget... sampai saya kuatir dia stroke mendadak::hihi::

E = mc²
16-09-2011, 10:13 AM
Saya juga gak percaya kalau Albert Einstein mengatakan seperti itu.
Tapi ngapain urusan begitu dibahas panjang lebar di topik "Apakah Tuhan menciptakan Kejahatan?"

Topik ini penting sekali dan sudah dibahas oleh banyak filsuf, termasuk pemikir2 sekular.


pertanyaan ini tak akan pernah bisa dijawab secara memuaskan, karena konsep ketuhanan yang ada di kepala dan hati setiap orang berbeda-beda.

dan mengenai kisah ini, bayangkan jika di akhir cerita ditulis, "Nama Mahasiswa itu Asep Ucok Pangalila". See? Cerita ini gak akan "dianggap". Punchline-nya bakal gagal. Efek twist bakal buyar, ceritanya gak akan sama sekali dikenang dan pertanyaan di kisahnya akan dianggap gak penting. Makanya, beberapa orang berpikir bahwa perlu ada dusta untuk dilibatkan di sini :ninja:

GiKu
16-09-2011, 10:53 AM
jadi ini semua masalah strategi cari nafkah lewat buku yg isinya fiksi
::ungg::

Nharura
16-09-2011, 10:57 AM
pertanyaan ini tak akan pernah bisa dijawab secara memuaskan, karena konsep ketuhanan yang ada di kepala dan hati setiap orang berbeda-beda.

dan mengenai kisah ini, bayangkan jika di akhir cerita ditulis, "Nama Mahasiswa itu Asep Ucok Pangalila". See? Cerita ini gak akan "dianggap". Punchline-nya bakal gagal. Efek twist bakal buyar, ceritanya gak akan sama sekali dikenang dan pertanyaan di kisahnya akan dianggap gak penting. Makanya, beberapa orang berpikir bahwa perlu ada dusta untuk dilibatkan di sini :ninja:

sejujrnya saya tidak ingin berdebat, pak rumus,, karena "lemparan" kata2 yang seharusnya tak usah dikatakan:), karena kita sudah sama2 dewasa...

dari sudut pandang bapak rumus sendiri,, apakah bapak yakin ini adalah tulisan "dusta", tolong sebutkan sumber selain data sekunder, terpenting adalah data primer, wawancara narasumber, dokumentasi, dan orang terdekat aissten sendiri ada menyakan ini dusta?

kalau hanya sebuah wancana ,,literatur,, yang menyatakan ini dusta, dan di karang oleh "orang yang tidak menyukai artikel ini", apakah anda yakin kalau artikel ini dusta?

kalau saya... lebih pada prinsip,, saya tidak bisa menyatakan dua hal ini dusta, maupun tidak benar,, karena siapa tahu saja dua hal ini adalah benar:),, karena belum tentu yang kita anggap baik itu,, baik juga untuk orang lain.

oleh karena itu, saya memandang, ini sebuah wancana yang mencerahkan, meskipun HOAX (katanya, belum dibuktikan secara sepesifik ,data primernya udah gak bisa ditemukan lagi,, ke validitasnya, reabilitasnya, serta penelitian tentang artikel ini sendiri belum pernah dilakukan*itu yang saya tahu)

karena sesuatu hal yang positif,, mengapa selalu dipandang negatif?,, dan sesuatu hal yang dianggap negatif,, selalu dipandang "positif"?

apakh itu sebuah cara untuk membenarkan "ego" kita?

Right. Masing2 hati ada jawabannya.


*Kimochi=> keanya penonton siap2 baca lagi ,dan gak keciwa;D

GiKu
16-09-2011, 11:08 AM
di buku yg disebutkan di atas, pasti ada semacam daftar pustakanya
kalau bukunya non-fiksi, penulisnya pasti patuh pada metode pengumpulan data yg benar

silakan bagi yg punya bukunya boleh diinfokan di marih

E = mc²
16-09-2011, 11:36 AM
seperti sudah saya tulis sebelumnya--dan juga kalau anda mau meluangkan waktu sedikit untuk membaca dengan baik sumber yang sudah saya cantumkan-- cerita ini TAK PERNAH ditemukan di berbagai buku, karya pribadi, artikel wawancara, apapun, tentang seorang Einstein. Cerita ini muncul di internet SEJAK tahun 2004 lewat milis-milis (jaman segitu milis adalah media internet paling efektif untuk menyebarkan info). Dan selalu, semuanya saling forward-memforward tanpa pernah disebutkan satu pun buku (atau naskah yang Einstein yang belum terpublikasikan) buat dijadikan rujukan.

Semua peninggalan Einstein sudah terdokumentasikan dengan baik, baik itu catatan pribadi, tulisan ilmiah, surat, diary, dll. Dan kisah seperti post pertama tak pernah ditemukan dalam dokumentasi yang sudah terpublikasikan. Cek saja semua buku apapun baik itu buku motivasi atau buku biografi lainnya, kisah ini tak pernah ada sebelum tahun 2003. Lantas, kita menyebut kisah seperti ini sebagai apa? Orang sudah membuat kosakata baru untuk fenomena ini, namanya "hoax". Bukan berarti karena kita gak bisa melakukan wawancara langsung dengan Einstein, tak semata-mata kisah tentang Einstein langsung tak bisa dinilai benar dan salahnya. Jika ada kisah yang menuliskan Einstein pernah datang ke Bandung, sudah dapat dipastikan bahwa kisah ini HOAX. Mengapa? kan kita belum tanya Einstein? Sederhana jawabannya, karena gak pernah ditemukan dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa Einstein pernah jalan-jalan ke Bandung.

Begini, jika sekarang ada orang yang nulis cerita, katakanlah, tentang kisah seorang sahabat Nabi, tapi kisah ini tak pernah ditemukan di literatur manapun sebelumnya, bahkan si penulis kisah tak bisa menunjukan BUKTI OTENTIK yang menjadikan rujukan buat kisahnya yang belum terpublikasikan dan bisa dipertanggungjawabkan, maka dengan yakin saya akan menyebut kisah ini sebagai hoax juga.

Sekali lagi, saya tak membahas (belum) sisi positif kisah ini, tapi saya baru membahas sisi validitas kisah ini. Saya pribadi, saya tak beriman dengan cara seperti ini--mengandalkan pada kisah-kisah manipulatif dan semu. Jika ada jauh banyak kisah yang lebih JUJUR dan juga memberi sisi positif, saya akan mengambil kisah yang lain, bukan kisah yang tak bisa dipertanggungjawabkan. :)

Contoh ekstrem ada dalam hadits--sorry bawa-bawa agama, biar contohnya mudah dan gampang. Dikenal istilah-istilah seperti shahih, hasan, dhaif, dsb. Jika saya tanya, apakah kita akan mengamalkan ajaran yang udah jelas-jelas dhaif meski itu sangat positif? sebagian besar hadits dhaif penuh dengan hal-hal positif, seperti hadist-hadist mengenai fadhilah amalan-amalan tertentu. Toh setiap muslim yang baik akan menolak hadist2 tsb apapun isi positif hadistnya kan?

Untung saja kisah ini masih pada level "aman". Pada banyak kasus, lebih banyak lagi kisah bohong yang diklaim sebagai "kebenaran ilmiah" untuk meyakinkan orang-orang tertentu akan kebenaran tertentu. Kisah ini diulang, over and over, nyaris menjadi propaganda. Ironisnya, propaganda yang "menunjukan bukti ilmiah ini", justru cacat sama sekali menurut standar ilmiah. Tragisnya, banyak orang yang percaya :(

beastmen85
16-09-2011, 11:42 AM
seharusnya kisah2 ilmiah (dan bukti2 ilmiah) yg hoax, yg mana digunakan sbg pembenaran agama, diletakkan di thread tersendiri sahaja ::hihi::

Nharura
16-09-2011, 12:31 PM
saya tidak bisa berkata banyak pak rumus.

Karena saya sendiri, tidak yakin apakah artikel ini dusta, ataupun sebaliknya. Karena tidak ada penelitian khusus yang memembahas tentang "betul atau tidaknya artikel ini" yang disertai para penelis yang menguji kebenaran penelitian tersebut.

Kenapa artikel ini di taruh di tread mutiara perenungan. Karena memang sengaja. Artikel ini bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk di renungkan, diambil hikmah postifnya. Jika merasa terganggu, dn tidak suka. Maka tidak usah di baca, itu saran saya^_^, agar semuanya aman terkendali.

tentang kenapa orang2 "tertipu" dengan cerita fiksi begini? saya ada jawabannya, karena cerita ini menginspirasi orang, yang terpenting, ia dapat membuka mata hati sebagian orang yang membacanya.

dan ini juga jawaban, mengapa orang2 "tertipu" akan cerpen, cerita fiksi yang hanya "khayalan", "imajinasi" akan cerita2 yang postif didalamnya? karena ada naluri positif di hati pembaca, yang menyukai dan "tertarik" seperti magnet, membuat orang lain menciptakan insiprasi, ide2 baik, dan ilham yang baik.

dan juga, tidak semua orang mampu membuat tulisan fiksi yang bisa menginsipasi orang lain. Karena Sesuatu hal tulisan, apa saja yang kita tulis, akan menandakan siapa kita sebenarnya.

maka Biarkan lah,, orang2 di area "sebagian" menyukai fiksi2 ini,, mengapa? karena manusia hidup dengan harapan. cerita fiksi kebanyakan menawarkan harapan, dan mengilham orang lain. untuk berbuat lebih baik.

jangan ibaratkan sebuah sesuatu kekurangan. Karena ini prinsip orang lain, baik di diri dia, meskipun kita sendiri tidak menyukai prinsip dia. Tidak masalah. Yang terpenting adalah bagaimana prinsip orang yang menyukai artikel ini,, tidak di "rendahkan" dengan kata2 yang seharusnya tidak dikeluarkan.

soal kebenaran atau tidak, hanya Allah dan pak Estein yang tahu. karena sebuah kebenaran,masing2 hati berbeda apa yang diyakini dan dipercayai.

dan ada satu hal lagi,, orang2 selalu mengganggap sesuatu yang fiksi adalah sesuatu yang omong kosong. serta hanya imajinasi saja.

Tapi tidak sadarkah Imajinasi maupun khayalan itu hadir,, karena manusia pernah melihat, sehingga ingin mencontohnya. Berarti jika sudah dilihat, cerita fiksi itu sebanrnya selalu ada dikehidupan kita,

tetapi kita saja yang tidak menyadarinya atau tidak mau menerimanya.

:)

E = mc²
16-09-2011, 12:46 PM
soal kebenaran atau tidak, hanya Allah dan pak Estein yang tahu. karena sebuah kebenaran,masing2 hati berbeda apa yang diyakini dan dipercayai.

ah, karena pernyataan ini sudah keluar, ya sudahlah. saya hanya sedih karena internet, buku, film dokumenter, dll menjadi sama sekali tak berguna. i hated google :(

OOT kelas berat (http://www.perpustakaan-islam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=296:hukum-membuat-cerita-fiksi&catid=38:manhaj)

Nharura
16-09-2011, 12:51 PM
saya hanya sedih karena internet, buku, film dokumenter, dll menjadi sama sekali tak berguna. i hated google :(

Jangan sedih pak rumus,, Jangan sedih akan hal yang seharusnya tak perlu kita untuk bersedih, karena di luar sana banyak orang lebih bersedih dari kita,, jadi musti postiv thingking... semangat^_*

kimochi
16-09-2011, 02:05 PM
Wah, wah wah, udahan napa sih. Bahas intinyanya aja getooo.

GiKu
16-09-2011, 02:11 PM
soal kebenaran atau tidak, hanya Allah dan pak Estein yang tahu.

:)


beruntunglah kita
Pak Einstein ada di KM

purba
16-09-2011, 02:17 PM
Jadi kesimpulannya apa nih, apakah tuhan menciptakan kejahatan atau kagak? :))

GiKu
16-09-2011, 02:21 PM
Wah, wah wah, udahan napa sih. Bahas intinyanya aja getooo.

ada beberapa hal yg menarik
Pak Einstein mengingatkan kepada kita bahwa validitas data itu penting.
Nharura memberikan motivasi melalui cerita ringan tapi tepat sasaran.
Bagaimana memotivasi orang lain dengan artikel sederhana tanpa memanfaatkan nama-nama besar orang lain kecuali kejadian tersebut memang pernah terjadi sehingga tidak dianggap sebagai kebohongan apalagi jika kebohongan itu disampaikan secara berantai dan bercabang.


kopiers boleh ikut ambil kesimpulan masing-masing

et dah
16-09-2011, 02:22 PM
beruntunglah kita
Pak Einstein ada di KM

huss ...jangan di sebut-sebut entar doi geer lagih

Nharura
16-09-2011, 02:24 PM
Wah, wah wah, udahan napa sih. Bahas intinyanya aja getooo.
emang udahan kok;D... intinya,, biar penonton gak keciwa ya kimochi? ntran kalau dibahas panjang lebar tanpa Ilmu-nya,, nanti malah menjurus ke arah yang tidak aman terkendali::oops::


beruntunglah kita
Pak Einstein ada di KM
::hihi::


Jadi kesimpulannya apa nih, apakah tuhan menciptakan kejahatan atau kagak? :))

persepsi dan sudut pandang orang khan banyak. Tinggal hati kita masing2 aja yang bisa menjawabnya:)>-

Nharura
16-09-2011, 02:26 PM
huss ...jangan di sebut-sebut entar doi geer lagih

;D hihihi...

:run:

E = mc²
16-09-2011, 02:35 PM
saya pikir, iman tak bisa berlandaskan pada kebohongan. ada agama-agama yang bisa bertahan sampai ribuan tahun, ada juga yang bertahan cuma hitungan tahun bahkan hari karena dipenuhi manipulasi. saya hanya ingin iman saya berlandaskan pada hal-hal yang jujur.

oyah, untuk mencari tahu suatu hal itu hoax tau bukan, gampang banget. Gunakan internet--(dan buku) karena kita gak bisa bertanya langsung kpd orang yg udah meninggal-- copas berita tertentu, dan copy-kan di gugel toolbar. Jika berita tsb seragam sampai titik komanya dan per katanya tanpa menyediakan versi lain (karena emang sumber beritanya cuma satu dan tidak bisa dimodifikasi lagi karena gak ada bahan), terus sumber yang menyertakan itu lingkaran setan (copas dr satu blog ke blog lain), maka itu adalah hoax. apalagi jika berita itu baru muncul saat internet udah ada tapi tidak terpublikasikan oleh media lain yang terpercaya. for your information :)

Nharura
16-09-2011, 02:40 PM
Hayuk ajah saya pak rumus...bagaimana pendapat orang lain, keyakinan saya seperti angin.. meski saya tak dapat melihatnya,, saya bisa merasakannya (mirip kutipan filmnya walk to remember^_^) btw makasih buat informasinya.... ::bye::

beastmen85
17-09-2011, 01:42 AM
Jadi kesimpulannya apa nih, apakah tuhan menciptakan kejahatan atau kagak? :))

nimbrung ya...

Tuhan itu dualitas.

neraka DAN surga
hitam DAN putih
yin yang
percaya DAN tidak percaya
baik DAN jahat

saya sendiri berpikir tuhan itu kejahatan, tp sekaligus kebaikan...
pendapat kop purba sendiri gmn? saya pgn tahu... ::bye::

AsLan
17-09-2011, 02:03 AM
Jadi karena gak ada bukti otentik bahwa yg mengatakan pernyataan ini adalah Einstein maka berita ini adalah Hoax ?

Sama dong kayak Teori Evolusi, cuma teori2 tanpa bukti otentik = Hoax.

E = mc²
17-09-2011, 02:55 PM
telanjur OOT,

are you sure teori evolusi itu hoax? tanpa bukti? are you joking me? Evolusi sbg satu-satunya TEORI ILMIAH yang diterima secara global, teori yang udah ditulis di buku2 sains mulai dari SMP sampai S3 di seluruh dunia, itu disebut hoax? diakui di semua tempat akademik seluruh dunia, ditulis di ribuan jurnal ilmiah kredibel, itu semua hoax?

wow... pasti melibatkan Freemason Tingkat 33!


Untuk yang kasus dongeng Einstein itu, lihat dong kronologisnya. tiba-tiba tersebar di milis di internet sekitar tahun 2003-2004, tapi tak menyertakan sumber terpercaya.. hampir semua dokumentasi tentang Einstein sudah terkumpul dengan baik, tapi sebelum tahun 2004 tak ada satupun yang menuliskan kisah tersebut.. tak ada satupun orang yang mengenal dekat Einstein, baik bekas teman kuliah maupun profesor yang mempublikasikan kisah ini sebelumnya (lalu siapa yang nulis? cenayang yang bertemu arwah Einstein?)

Untuk orang sengetop Einstein, penelitian sejarahnya udah lengkap banget. Bahkan ampe kakek pangkat tiganya udah terekam sejarahnya (kakek dari kakek dari kakek-nya Einstein udah kecatat sejarahnya)

Lihat juga dong struktur ceritanya kayak apa, dimulai dg kalimat yang mengandung kata-kata, "di suatu universitas terkenal...." ahahaha
Kalau mau membaca tentang riwayat Einstein bakal tahu kalau Einstein kuliah cuma di satu tempat, yakni Eidgenössische Polytechnische Schule di Zurich. ini sama sekali bukan universital terkenal dan bergengsi (jadi universitas "terkenal" apa yang dimaksud? Satu-satunya universitas terkenal yang jadi kediaman Einstein adalah Universitas Princenton yang dijadikan tempat ngajar Einstein setelah dia ngungsi ke Amrik, tapi tentu saja posisi dia bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai dosen). Jika cuma satu tempat itu saja tempat kuliah Einstein, mengapa tak disebutkan di ceritanya? Okelah, nama universitas disamarkan demi menimbulkan efek twist di ujung cerita, tapi tetap saja, dialog "fenomenal" ini mestilah terdokumentasikan setidaknya oleh kolega2 Einstein yang ikut kuliah pada masa itu, nyatanya tidak. Tahun anonim, tempat anonim, saksi sejarah anonim, dan secara ajaib tiba-tiba saja kisah ini muncul di tahun 2004 tanpa ada bukti yang bisa DIPERTANGGUNGJAWABKAN. Dengan amat-sangat yakin, saya akan menyebut berita ini sebagai HOAX! (huruf kapital, dicetak bold dan disertai tanda seru--dan seharusnya pake font arial bold 3000)

Kalau mau baca-baca tentang kisah Einstein yang lengkap, bahkan kejadian2 masa kecil Einstein dan kuliah, semuanya udah terdokumentasikan dengan baik. apalagi ada buku tentang Einstein--lupa judul, maaf--yang disusun berdasarkan wawancara dengan istri pertama Einstein, Mileva. Mileva udah pacaran sejak kuliah. Masa sih dia gak tau dialog "fenomenal" ini (kalau terjadi), soalnya gak ada tulisan tentang dialog ini di buku tsb.

Sebagai perbandingan, perhatikan dialog Einstein vs Bohr yang Einstein sampai mengeluarkan kata-kata terkenal, "tuhan tidak bermain dadu". dialog ini terdokumentasikan secara lengkap, siapa saksi sejarahnya, kapan dan dimana kejadiannya. Atau kisah insiden keagamaan Einstein saat dia masih SD (SD = Sekolah Dasar!!!). Dia diajar oleh seorang guru Katolik yang berikat liberal, namun agak antisemit. Suatu hari si guru bawa paku ke dalam kelas dan nanya bilang kalo paku ini sejenis dg paku yang digunakan yahudi buat menyalib Yesus! Jika kejadian zaman Einstein SD aja ada tulisannnya dg bukti yang valid (selain pengakuan Einstein, juga ada berdasarkan penelitian penulis biografi spesialis Einstein Walter Isaacson). Jika kejadian pas SD aja kalo kejadian ada di buku2 ttg Einstein, masa kejadian pas masa kuliah gak pernah ada yang nyatet?

di buku yang berisi segala uneg-uneg ttg pemikiran Einstein yang bersifat personal (mulai dr ekonomi, politik, pendirian negara Israel, hingga masalah ketuhanan) dan ditulis Einstein sendiri yang berjudul The World as I See It, Einstein sama sekali tak menyinggung dialognya dengan profesor siapa-tuh-namanya.

Makanya, saya curiga, Albert Einstein yang dimaksud kisah ini adalah Albert Einstein yang lain, yang kuliah di Universitas Oxford atau di Harvard...

Dan ngomong-ngomong... perhatikan juga dong isi dialog tsb lalu bandingkan dengan pandangan religius Einstein (tuhan versi Einstein begitu unik dan berbeda dengan tuhan versi agama manapun). Bukan hanya bentrok, pandangan religius yang terselip di dialog tersebut sama sekali gak mencerminkan pandangan Tuhan versi Einstein. Alih-alih menggambarkan konsep Tuhan yang diyakini Einstein, isi dialog itu malah lebih berafiliasi terhadap keyakinan agama tertentu tentang konsep Tuhan (yang sudah pasti Einstein tidak menganut agama tsb)--dan ajaib, kisah ini pertama kali muncul di milis-milis agama tersebut :-"

uh.... ::oops::




bonus, pernyataan Einstein ttg posisi keyakinan Tuhannya plus masalah kebaikan dan kejahatan, (dan bandingkan dengan dialog versus propesor tsb) :cengir:

My position concerning God is that of an agnostic. I am convinced that a vivid consciousness of the primary importance of moral principles for the betterment and ennoblement of life does not need the idea of a law-giver, especially a law-giver who works on the basis of reward and punishment.

source: Albert Einstein in a letter to M. Berkowitz, 25 October 1950; Einstein Archive 59–215; from Alice Calaprice, ed., The New Quotable Einstein, Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 2000, p. 216.

Saya rasa bukan di sini tempatnya buat bahas "Teori Evolusi, cuma teori2 tanpa bukti otentik = Hoax". Tapi bandingkan ketiadaan bukti untuk kisah Einstein versus propesor tsb dg teori evolusi, jauh banget (apakah kisah Einstein versus propesor itu pernah dipublikasikan di jurnal/buku ilmiah--baik sains, sejarah, maupun filosopi? kalo nyata, gak mungkin banget dialog ini kelewat ma mereka, atau ini melibatkan konspirasi Freemason Tingkat 33 juga?). ide menyamakan dan menyebutnya sebagai sama-sama hoax saja udah menggelikan ;D

beastmen85
17-09-2011, 03:10 PM
srsly, dr awal gw baca trit ini udah ada unsur "keyakinan", meski hoax klo diyakini bener oleh org yg meyakininya ya ga bisa diganggu gugat, dan juga sebaliknya ;D

dan ada bbrapa user yg terlalu bersemangat disini :))

purba
18-09-2011, 12:17 AM
nimbrung ya...

Tuhan itu dualitas.

neraka DAN surga
hitam DAN putih
yin yang
percaya DAN tidak percaya
baik DAN jahat

saya sendiri berpikir tuhan itu kejahatan, tp sekaligus kebaikan...
pendapat kop purba sendiri gmn? saya pgn tahu... ::bye::

Kejahatan adalah hal yg tidak disukai manusia, sedangkan kebaikan adalah hal yg disukai manusia. Berhubung suka atau tidak suka adalah relatif, jadi apa yg jahat dan apa yg baik juga relatif. Utk mengurangi derajat kerelatifan tsb, maka dibuatlah kesepakatan2 ttg apa yg jahat dan apa yg baik. Mengapa perlu dikurangi derajatnya, supaya tidak timbul kekacauan akibat benturan ketika yg satu bilang jahat tetapi yg lain bilang baik.

:))

beastmen85
18-09-2011, 09:16 AM
Kejahatan adalah hal yg tidak disukai manusia, sedangkan kebaikan adalah hal yg disukai manusia. Berhubung suka atau tidak suka adalah relatif, jadi apa yg jahat dan apa yg baik juga relatif. Utk mengurangi derajat kerelatifan tsb, maka dibuatlah kesepakatan2 ttg apa yg jahat dan apa yg baik. Mengapa perlu dikurangi derajatnya, supaya tidak timbul kekacauan akibat benturan ketika yg satu bilang jahat tetapi yg lain bilang baik.:)) jawabannya agak ngeblursaya nangkepnya gini dr postingan kop purbaTuhan = imej sgl sesuatu yg baikIblis = imej sgl sesuatu yg jahatkop purba atheis bukan?nah, jadi maksudnya baik dan jahat itu bikinan manusia? (krn akal-lah yg digunakan untuk membedakan mana yg baik & buruk)*saya tidak menyebut Tuhan disini lho ;Dnah jd kalo saya tanyakan pda kop purba? "apakah Tuhan menciptakan kejahatan?"jadi jawabnya apa?apakah "baik & jahat itu tidak ada, yg ada adalah siapa, bagaimana & apa yg membedakan kejahatan"gituh? :D*sambil nyodorin secangkir kopi ke purba

Alip
18-09-2011, 09:28 AM
Kalau pemahaman saya dari Eyang Kakung Purba dan Oom Wallpapur,

... kita segitu kepinginnya membayangkan Tuhan yang baik, maka kita memisahkan kejahatan dan keburukan dari Tuhan... sebagian malah memberi label tersendiri yang 'bukan tuhan'...

Kesimpulan saya sendiri, kalau di dunia ini ada hal yang bukan diciptakan oleh tuhan, maka kita perlu mencari tuhan lain yang lebih berkuasa dari tuhan yang satu itu...;D

... sedangkan kalau kejahatan, keburukan, kesedihan, masalah, duka dan sebagainya merupakan ciptaan Tuhan, maka kita perlu mengaji ulang peranan kejahatan dalam kehidupan kita... mungkin dengan berhenti melihat kebaikan dan keburukan sebagai dua kutub yang bertentangan... penderitaan dan kebahagiaan sebagai dua lawan yang saling memusuhi...

Siapa punya aspirin?%...

Ronggolawe
18-09-2011, 09:36 AM
seperti sudah saya tulis sebelumnya--dan juga kalau anda mau meluangkan waktu sedikit untuk membaca dengan baik sumber yang sudah saya cantumkan-- cerita ini TAK PERNAH ditemukan di berbagai buku, karya pribadi, artikel wawancara, apapun, tentang seorang Einstein. Cerita ini muncul di internet SEJAK tahun 2004 lewat milis-milis (jaman segitu milis adalah media internet paling efektif untuk menyebarkan info). Dan selalu, semuanya saling forward-memforward tanpa pernah disebutkan satu pun buku (atau naskah yang Einstein yang belum terpublikasikan) buat dijadikan rujukan.

Semua peninggalan Einstein sudah terdokumentasikan dengan baik, baik itu catatan pribadi, tulisan ilmiah, surat, diary, dll. Dan kisah seperti post pertama tak pernah ditemukan dalam dokumentasi yang sudah terpublikasikan. Cek saja semua buku apapun baik itu buku motivasi atau buku biografi lainnya, kisah ini tak pernah ada sebelum tahun 2003. Lantas, kita menyebut kisah seperti ini sebagai apa? Orang sudah membuat kosakata baru untuk fenomena ini, namanya "hoax". Bukan berarti karena kita gak bisa melakukan wawancara langsung dengan Einstein, tak semata-mata kisah tentang Einstein langsung tak bisa dinilai benar dan salahnya. Jika ada kisah yang menuliskan Einstein pernah datang ke Bandung, sudah dapat dipastikan bahwa kisah ini HOAX. Mengapa? kan kita belum tanya Einstein? Sederhana jawabannya, karena gak pernah ditemukan dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa Einstein pernah jalan-jalan ke Bandung.

Begini, jika sekarang ada orang yang nulis cerita, katakanlah, tentang kisah seorang sahabat Nabi, tapi kisah ini tak pernah ditemukan di literatur manapun sebelumnya, bahkan si penulis kisah tak bisa menunjukan BUKTI OTENTIK yang menjadikan rujukan buat kisahnya yang belum terpublikasikan dan bisa dipertanggungjawabkan, maka dengan yakin saya akan menyebut kisah ini sebagai hoax juga.

Sekali lagi, saya tak membahas (belum) sisi positif kisah ini, tapi saya baru membahas sisi validitas kisah ini. Saya pribadi, saya tak beriman dengan cara seperti ini--mengandalkan pada kisah-kisah manipulatif dan semu. Jika ada jauh banyak kisah yang lebih JUJUR dan juga memberi sisi positif, saya akan mengambil kisah yang lain, bukan kisah yang tak bisa dipertanggungjawabkan. :)

Contoh ekstrem ada dalam hadits--sorry bawa-bawa agama, biar contohnya mudah dan gampang. Dikenal istilah-istilah seperti shahih, hasan, dhaif, dsb. Jika saya tanya, apakah kita akan mengamalkan ajaran yang udah jelas-jelas dhaif meski itu sangat positif? sebagian besar hadits dhaif penuh dengan hal-hal positif, seperti hadist-hadist mengenai fadhilah amalan-amalan tertentu. Toh setiap muslim yang baik akan menolak hadist2 tsb apapun isi positif hadistnya kan?

Untung saja kisah ini masih pada level "aman". Pada banyak kasus, lebih banyak lagi kisah bohong yang diklaim sebagai "kebenaran ilmiah" untuk meyakinkan orang-orang tertentu akan kebenaran tertentu. Kisah ini diulang, over and over, nyaris menjadi propaganda. Ironisnya, propaganda yang "menunjukan bukti ilmiah ini", justru cacat sama sekali menurut standar ilmiah. Tragisnya, banyak orang yang percaya :(
gw setuju banget ama loe bro. Sama juga halnya
dengan Surat Cinta Nabi Muhammad SAW kepada
Biarawan St. Catherine’s Monastery (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?2411-Surat-Cinta-Nabi-Muhammad-SAW-kepada-Biarawan-St.-Catherine%E2%80%99s-Monastery&highlight=biara)

Cerita/kisah palsu yang mencatut nama tokoh terten-
tu, lalu ketika derajad kebenaran cerita tersebut di-
ragukan, malah berlindung dengan dalih "isi dan hikmah"
lebih penting daripada benar tidaknya kisah tersebut.

Kalau memang Isi lebih penting, ngapain juga dari
awal nyatut-nyatut nama si tokoh :)

beastmen85
18-09-2011, 09:42 AM
busyet saya dipanggil oom2 ::ngakak2::

nah karena itu kop Alip, pendapat saya sendiri Tuhan itu merupakan dualitas, jadi itu merupakan sesuatu yg bertentangan namun saling melengkapi dan hanya bisa eksis jika kedua "kutub" ada ;D

kita harus mencari Tuhan baru jika masih ada dimensi yg lebih tinggi diatas baik & jahat :D

*monggo diminum kopinya, kop

Ronggolawe
18-09-2011, 09:45 AM
Apakah Tuhan menciptakan Kejahatan?
Manusia lahir dengan membawa semua potensi yang
dibutuhkan untuk hidup dan berkehidupan di muka
bumi.

Ketika potensi itu digunakan secara melanggar batas-
batas (terserah loe mau pakagi batasan siapa), maka
disitulah aktualisasi dari potensi tersebut dinamakan
kejahatan.

purba
18-09-2011, 10:10 AM
jawabannya agak ngeblursaya nangkepnya gini dr postingan kop purbaTuhan = imej sgl sesuatu yg baikIblis = imej sgl sesuatu yg jahatkop purba atheis bukan?nah, jadi maksudnya baik dan jahat itu bikinan manusia? (krn akal-lah yg digunakan untuk membedakan mana yg baik & buruk)*saya tidak menyebut Tuhan disini lho ;Dnah jd kalo saya tanyakan pda kop purba? "apakah Tuhan menciptakan kejahatan?"jadi jawabnya apa?apakah "baik & jahat itu tidak ada, yg ada adalah siapa, bagaimana & apa yg membedakan kejahatan"gituh? :D*sambil nyodorin secangkir kopi ke purba

Kalo ane ditanya "Apakah tuhan menciptakan kejahatan?", ya ane gak bisa jawab. Sebab buat ane pertanyaan tsb sudah salah dgn sendirinya, lha wong tuhan kagak ada, kok ditanyain seolah2 tuhan ada. Pertanyaan itu cocok buat para teis yg meyakini tuhan ada. Makanya di posting sebelumnya ane sempat bertanya "Jadi kesimpulannya apa nih, apakah tuhan menciptakan kejahatan atau kagak?". :))

Ok, penjelasan ane begini. Di sini ada tiga terminologi yg sedang diperbincangkan: Tuhan, kejahatan, dan kebaikan. Sebagai ateis tulen, ane punya pemahaman tersendiri dari term2 tsb. Semuanya adalah persepsi manusia ttg hal-hal di sekitarnya. Tuhan adalah persepsi ttg sesuatu yg tidak dikuasai manusia, kejahatan adalah persepsi ttg sesuatu yg negatif, dan kebaikan adalah persepsi ttg sesuatu yg positif . Yg ada adalah persepsi2 tsb. Semuanya adalah karya cipta manusia.

Ketidakmampuan manusia dilimpahkan pada sosok yg lebih kuat, yaitu tuhan. Ketika seorang teis gagal dalam suatu ujian masuk PNS, dia akan mengatakan "Aku sudah berusaha maksimal, tetapi tuhanlah yg menentukan." Buat ane yg ateis, kegagalan tsb bukan karena campur tangan tuhan, tapi karena ada sesuatu yg ane kurang kuasai sehingga ane gagal dlm ujian tsb. Dgn kata lain ane tidak qualified utk dijadikan PNS.

Rekan sekantor ane, seorang teis religius, melihat kegagalannya dlm promosi jabatan sebagai ujian dari tuhannya. Dia tidak melihat itu sebagai kekurangan dirinya. Dia merasa apa yg dilakukannya sudah benar dan sempurna, tetapi campur tangan tuhan menentukannya lain. Sikap atau keyakinan seperti ini cukup berbahaya. Dia akan cenderung menyalahkan faktor di luar dirinya atas segala kegagalan yg terjadi pada dirinya. :))

Alip
18-09-2011, 11:34 AM
Seorang atheis teman saya menjawab bahwa seandainya Tuhan itu ada, maka kejahatan pastilah hasil rekayasa si tuhan itu... namun karena menurutnya tuhan itu tidak ada, maka kejahatan cuma definisi yang muncul atas tindakan-tindakan yang merugikan kepentingan mayoritas... murni hasil interaksi antar manusia dan hasil dari fenomena alam.

Begitulah atheis yang saya kenal menjawab pertanyaan ini...


***

Theis yang saya kenal terbagi dua kubu, yaitu yang menganggap Tuhan sebagai kutub berlawanan dari kejahatan, dan yang menganggap bahwa kejahatan adalah bagian dari keberadaan Tuhan. Saya ikut golongan kedua.

Soal kegagalan,

Jika seorang atheis ketika menghadapi kegagalan akan meninggalkan faktor Tuhan dan bangkit lagi mencari keberhasilan dengan segala daya upaya sendiri, theis yang saya kenal ketika menghadapi kegagalan akan melirik ke atas sambil nyengir kuda, "you really have a sense a humour, don't you?", lalu sama-sama memulai lagi untuk mencari keberhasilan. Theis ataupun atheis, keberhasilan tetap lebih menyenangkan daripada kegagalan. It doesn't take theology to raise and keep moving forward, all it takes is just a destinantion ... ;D

danalingga
18-09-2011, 04:23 PM
Konsep yang saya pahami tentang Tuhan adalah meliputi dualitas -- dia baik dan jahat sekaligus dan diatas baik dan jahat itu sendiri. Moga ngerti soale susah juga nerangin pake kata-kata. :D

bradon heat
18-09-2011, 05:01 PM
Contoh ekstrem ada dalam hadits--sorry bawa-bawa agama, biar contohnya mudah dan gampang. Dikenal istilah-istilah seperti shahih, hasan, dhaif, dsb. Jika saya tanya, apakah kita akan mengamalkan ajaran yang udah jelas-jelas dhaif meski itu sangat positif? sebagian besar hadits dhaif penuh dengan hal-hal positif, seperti hadist-hadist mengenai fadhilah amalan-amalan tertentu. Toh setiap muslim yang baik akan menolak hadist2 tsb apapun isi positif hadistnya kan?




gw setuju banget ama loe bro. Sama juga halnya
dengan Surat Cinta Nabi Muhammad SAW kepada
Biarawan St. Catherine’s Monastery (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?2411-Surat-Cinta-Nabi-Muhammad-SAW-kepada-Biarawan-St.-Catherine%E2%80%99s-Monastery&highlight=biara)

Cerita/kisah palsu yang mencatut nama tokoh terten-
tu, lalu ketika derajad kebenaran cerita tersebut di-
ragukan, malah berlindung dengan dalih "isi dan hikmah"
lebih penting daripada benar tidaknya kisah tersebut.

Kalau memang Isi lebih penting, ngapain juga dari
awal nyatut-nyatut nama si tokoh :)

jadi apakah semua buku harus dipandang kebenaran dari kutipan nya ...
bukan karena isi ???

validasi adalah hal terpenting dalam membaca buku ??? ::ungg::

kalau hadist saya tidak mau membahasnya ..... seperti yang di katakan kop Nharura

purba
18-09-2011, 05:39 PM
Apa maksudnya tuhan di atas baik dan jahat? :))

Teis bisa juga mengatakan tidak ada kejahatan, yg ada adalah kebaikan yg berjenjang. Tuhan menciptakan kebaikan yg berjenjang. Kebaikan terendah adalah kejahatan tertinggi dan begitu juga sebaliknya. Tapi sama saja dgn tuhan menciptakan kejahatan berjenjang. Sulit 'kan mempertahankan keberadaan tuhan? Utk mengatasi kesulitan2 tsb, teis mengambil jalan pintas dgn mengatakan tuhan di atas kejahatan dan kebaikan. Piye iki?

Ketakutan mencampakkan tuhan karena konsep tuhan sudah diajarkan sedari kecil. Tuhan diperkenalkan dengan segala keberingasannya. Awas! Masuk neraka kalau tidak mempercayaiKu! Begitu ancaman tuhan. Seandainya tidak ada ancaman tsb, manusia akan dgn mudah melupakan tuhan. Tuhan hanya akan diingatnya kembali ketika si manusia merasa kesepian atau kesusahan.

Ronggolawe
18-09-2011, 06:09 PM
jadi apakah semua buku harus dipandang kebenaran dari kutipan nya ...
bukan karena isi ???

validasi adalah hal terpenting dalam membaca buku ??? ::ungg::

Silahkan saja bro, bila nanti loe bikin skripsi dengan
memakai kutipan wikipedia misalnya :)

Seperti penjelasan E=MC2, cerita ini tadinya biasa
saja, tapi begitu, sampai pada pernyataan "maha-
siswa itu Albert Einstein", maka ia menjadi luar
biasa.

nerissa
18-09-2011, 06:10 PM
*ijin duduk di kelas yaa..
Wah ramai sekali..penuh orang orang pintar...

Jika isi ujian essai saya adalah sepenggal kalimat : apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Jawaban saya adalah : Mungkin. Saya tidak tau pasti, tapi kalau memang tidak menciptakan kejahatan, lalu untuk apa dia menciptakan polisi?

*:D
Silakan di lanjut bapak bapak...

Ronggolawe
18-09-2011, 06:16 PM
Kalo ane ditanya "Apakah tuhan menciptakan kejahatan?", ya ane gak bisa jawab. Sebab buat ane pertanyaan tsb sudah salah dgn sendirinya, lha wong tuhan kagak ada, kok ditanyain seolah2 tuhan ada. Pertanyaan itu cocok buat para teis yg meyakini tuhan ada. Makanya di posting sebelumnya ane sempat bertanya "Jadi kesimpulannya apa nih, apakah tuhan menciptakan kejahatan atau kagak?".

Ok, penjelasan ane begini. Di sini ada tiga terminologi yg sedang diperbincangkan: Tuhan, kejahatan, dan kebaikan. Sebagai ateis tulen, ane punya pemahaman tersendiri dari term2 tsb. Semuanya adalah persepsi manusia ttg hal-hal di sekitarnya. Tuhan adalah persepsi ttg sesuatu yg tidak dikuasai manusia, kejahatan adalah persepsi ttg sesuatu yg negatif, dan kebaikan adalah persepsi ttg sesuatu yg positif . Yg ada adalah persepsi2 tsb. Semuanya adalah karya cipta manusia.

Ketidakmampuan manusia dilimpahkan pada sosok yg lebih kuat, yaitu tuhan. Ketika seorang teis gagal dalam suatu ujian masuk PNS, dia akan mengatakan "Aku sudah berusaha maksimal, tetapi tuhanlah yg menentukan." Buat ane yg ateis, kegagalan tsb bukan karena campur tangan tuhan, tapi karena ada sesuatu yg ane kurang kuasai sehingga ane gagal dlm ujian tsb. Dgn kata lain ane tidak qualified utk dijadikan PNS.
yah elo, udah tahu loe bukan bagian dari sample
yang diinginkan oleh surveyor, kok ya loe masih
mau disurvey? ngisi jawaban di quisioner pula.

rusak dong hasil surveynya, jadi ngga valid :)

purba
18-09-2011, 08:54 PM
Jadi? :))

Yg Islam cenderung mengatakan tuhan di atas kejahatan dan kebaikan. Kejahatan adalah alat seleksi manusia2 yg takwa. Tuhan mengizinkan iblis utk mempengaruhi manusia melakukan kejahatan, tapi hanya manusia yg takwa yg akan terhindar dari pengaruh iblis.

Yg Kristen cenderung mengatakan tuhan tidak menciptakan kejahatan, melainkan iblis. Tuhan akan menyelamatkan manusia dari kejahatan2 yg diciptakan iblis, sang malaikat tuhan yg mbalelo.

Yg Yahudi cenderung mengatakan bahwa kejahatan adalah ciptaan orang Arab. :))

Alip
18-09-2011, 09:46 PM
Jadi ada tiga topik dalam satu thread... soal peran Albert dalam kisah pengantar thread ini, soal Tuhan menciptakan atau tidak kejahatan, dan soal kejahatan menurut pandangan atheis... heheheh... di mana tombol untuk ngasih tanda bintang?
::bye::


Apa maksudnya tuhan di atas baik dan jahat? :))

Teis bisa juga mengatakan tidak ada kejahatan, yg ada adalah kebaikan yg berjenjang. Tuhan menciptakan kebaikan yg berjenjang. Kebaikan terendah adalah kejahatan tertinggi dan begitu juga sebaliknya. Tapi sama saja dgn tuhan menciptakan kejahatan berjenjang. Sulit 'kan mempertahankan keberadaan tuhan? Utk mengatasi kesulitan2 tsb, teis mengambil jalan pintas dgn mengatakan tuhan di atas kejahatan dan kebaikan. Piye iki?

Saya malah baru denger konsep ini?::ungg::
Saya 'gak paham tentang Tuhan berada di atas kebaikan atau kejahatan, yang saya tangkap adalah Dia menciptakan kejadian, dan kita mengategorikan itu sebagai kebaikan atau kejahatan, sesuai dengan persepsi kita terhadap dampaknya. Per definisi ini, maka iya, Tuhan menciptakan kejahatan... tapi tanpa perlu segala menempatkan Dia di atas kejahatan atau kebaikan segala... memangnya kenapa kalau Tuhan adalah pencipta kejahatan?

Gak salah dong pembuatan kategori macam itu, karena dengannya kita bisa memilih kejadian yang lebih produktif bagi kemajuan pribadi maupun masyarakat. Lalu pemahaman ini diturunkan ke generasi berikut sebagai sebuah ketentuan baku... berupa tradisi, budaya, atau agama. Kadang apa yang dulu produktif sekarang tidak lagi produktif, maka diadakan interpretasi ulang... dibakukan lagi... dan begitu terus.


Ketakutan mencampakkan tuhan karena konsep tuhan sudah diajarkan sedari kecil. Tuhan diperkenalkan dengan segala keberingasannya. Awas! Masuk neraka kalau tidak mempercayaiKu! Begitu ancaman tuhan. Seandainya tidak ada ancaman tsb, manusia akan dgn mudah melupakan tuhan. Tuhan hanya akan diingatnya kembali ketika si manusia merasa kesepian atau kesusahan.

Sekarang topiknya beralih ke pemilihan Theis atau Atheis....::ngakak2::
mana nih yang mau diomongin?

Alip
18-09-2011, 09:48 PM
Yg Yahudi cenderung mengatakan bahwa kejahatan adalah ciptaan orang Arab. :))
Wakakakakakkkkkkk ::ngakak2::
.... dan begitu pula sebaliknya... isn't belief such interesting topic? ::hihi::

Yuki
19-09-2011, 04:23 AM
Iya bener, tapi ntar kalau ditanya balik:

Yang menciptakan "yg-bersangkutanlah-yg-memilih-menjadi-banci" itu siapa?
ya Tuhan, tapi manusia-lah yg memilih untuk menjadi banci

Tuhan maha tahu, trus kenapa ia ciptakan iblis?
karena Tuhan memberikan kebebasan, walaupun setiap kebebasan yg dipilih pasti ada konsekuensinya, iblis memilih kebebasan untuk membangkang

saya pernah baca sebuah buku, sesungguhnya yg bikin manusia spesial itu adalah dosa
keunikan yg dimiliki manusia dan jin adalah memiliki akal dan nafsu, hanya 2 golongan makhluk ini saja yg memiliki keduanya

purba
19-09-2011, 07:13 AM
Saya malah baru denger konsep ini?::ungg::


Itu model saja utk menghindari tuhan sbg pencipta kejahatan. Kebaikan berjenjang dan surga berjenjang (neraka adalah surga yg nilai kenikmatannya terendah) adalah cara melihat tuhan dgn berbaiksangka. :))


Saya 'gak paham tentang Tuhan berada di atas kebaikan atau kejahatan, yang saya tangkap adalah Dia menciptakan kejadian, dan kita mengategorikan itu sebagai kebaikan atau kejahatan, sesuai dengan persepsi kita terhadap dampaknya. Per definisi ini, maka iya, Tuhan menciptakan kejahatan... tapi tanpa perlu segala menempatkan Dia di atas kejahatan atau kebaikan segala... memangnya kenapa kalau Tuhan adalah pencipta kejahatan?

Gak salah dong pembuatan kategori macam itu, karena dengannya kita bisa memilih kejadian yang lebih produktif bagi kemajuan pribadi maupun masyarakat. Lalu pemahaman ini diturunkan ke generasi berikut sebagai sebuah ketentuan baku... berupa tradisi, budaya, atau agama. Kadang apa yang dulu produktif sekarang tidak lagi produktif, maka diadakan interpretasi ulang... dibakukan lagi... dan begitu terus.


Ok mbah Alip berpendapat tuhan menciptakan kejadian (genderless). Kemudian yg memilah2 kejadian ini jahat dan itu baik adalah manusia (aktor bias gender). Sampai di sini, tuhan masih selamat dari tuduhan pencipta kejahatan. Tapi tuhan sendiri memberikan pengajaran melalui para utusannya bahwa yg ini jahat dan yg itu baik. Di sini, tuhan benar2 menjadi pencipta kejahatan. Juga peran tsb menjadi bertabrakan dgn peran aktor bias gender tadi. Gimana solusinya, mbah? :)

Ok tuhanlah pencipta kejahatan, tapi mengapa manusia yg disiksa di neraka nanti, padahal tuhan biangkeroknya? :)

purba
19-09-2011, 07:19 AM
ya Tuhan, tapi manusia-lah yg memilih untuk menjadi banci

karena Tuhan memberikan kebebasan, walaupun setiap kebebasan yg dipilih pasti ada konsekuensinya, iblis memilih kebebasan untuk membangkang

keunikan yg dimiliki manusia dan jin adalah memiliki akal dan nafsu, hanya 2 golongan makhluk ini saja yg memiliki keduanya

Itu kebebasan semu. Kebebasan sejati adalah bebas memilih apa saja dgn konsekuensi yg sama. Jika jahat ganjarannya neraka dan baik ganjarannya surga, sebenarnya tidak ada kebebasan. Mana ada manusia yg mau memilih utk disiksa.

Manusia yg melakukan kejahatan adalah manusia yg lupa utk memilih kebaikan. Lha yg menciptakan lupa siapa, bukannya tuhan juga? :))

Alip
19-09-2011, 08:13 AM
Ok mbah Alip berpendapat tuhan menciptakan kejadian (genderless). Kemudian yg memilah2 kejadian ini jahat dan itu baik adalah manusia (aktor bias gender). Sampai di sini, tuhan masih selamat dari tuduhan pencipta kejahatan.
Nggak kok... saya melihat Tuhan memang sebagai pencipta kejahatan, tidak perlu diselamatkan. Seperti saya bilang di awal, saya tidak tertarik berurusan dengan Tuhan yang Omnipotent tapi cuma menciptakan separuh dari alam semesta ;D


Tapi tuhan sendiri memberikan pengajaran melalui para utusannya bahwa yg ini jahat dan yg itu baik. Di sini, tuhan benar2 menjadi pencipta kejahatan.
Betulll... cocok dengan jawaban saya di atas kan? Beberapa hal sudah dilabeli sendiri oleh Tuhan sebagai kejahatan... anggaplah ini sebagai bantuan bagi kita supaya tidak memulai pendefinisian kita dari nol kecil
::bye::


Juga peran tsb menjadi bertabrakan dgn peran aktor bias gender tadi. Gimana solusinya, mbah? :)
Nggak tabrakan kok? Kan memang beberapa hal secara obyektif menimbulkan kerusakan bagi kemanusiaan...


Ok tuhanlah pencipta kejahatan, tapi mengapa manusia yg disiksa di neraka nanti, padahal tuhan biangkeroknya? :)
Saya mungkin bakal dicegat oleh beberapa Theis yang saya kenal for saying this,;D Bagi saya neraka adalah sebuah alat. Suatu konsep sederhana untuk menggambarkan konsekuensi logis dari perilaku yang destruktif-nya dominan, apalagi kalau neraka dihubungkan dengan istilah 'siksaan'. Hey, it is just a bunch of burning fire, isn't it?

Saya memakai metode neraka untuk mendidik diri saya sendiri untuk misalnya, tidak berusaha memperkosa perempuan dengan rok mini, membunuhnya, dan get away with it. Katakanlah saya punya kemampuan hebat sehingga bisa melakukan semua kejahatan itu tanpa meninggalkan jejak forensik. Saya menggunakan metode neraka untuk mengingat konsekuensi yang akan saya terima di alam sana (karena di alam sini saya too damn good to get captured)... sayangnya the tool only work when you believe in it, so I took the first step and believe::bye::

Mengenai kebenaran obyektif tentang keberadaan neraka dan siksaannya... well... itu masalah keyakinan dan tentu pembicaraannya nggak nyambung dengan seorang atheis (two of my cousins are atheis, by the way, and we enjoy good companionship nevertheless). Saya memilih percaya, dan saya menggunakan beberapa penggambaran yang ada untuk memasukkan konsep baik buruk ke bawah sadar saya. Jadi tiap kali saya mau berbuat kejahatan, otomatis bulu tengkuk saya merinding... such a way to control my behaviour ;D

Saya tidak keberatan dengan atheis yang pandai macam Eyang Purba, yang bisa memilah baik dan buruk secara obyektif dan kemudian menyusun perilaku sedemikian rupa agar bisa berkontribusi positif bagi masyarakat. You don't need the tool. Great. Saya tidak sependapat dengan keyakinan sebagian Theis yang mengatakan bahwa kaum Atheis karena tidak punya Tuhan, dus tidak punya aturan soal baik-buruk. Damn... many of the atheists are good and nice people. Kalau soal konsekuensi dari kepercayaan atau ketidakpercayaan kita terhadap Tuhan ... let's mind our own business...

Again... it is just me. Theis lain mungkin punya pandangan berbeda, dan bisa jadi mereka yang benar dan saya keliru besar.
::maap::

danalingga
19-09-2011, 12:14 PM
Itu Tuhan diatas baik dan jahat maksud saya ya melingkupi baik dan jahat itu sendiri. Jadi kejahatan juga punya Tuhan seperti halnya kebaikan.

E = mc²
19-09-2011, 03:11 PM
jadi apakah semua buku harus dipandang kebenaran dari kutipan nya ...
bukan karena isi ???

validasi adalah hal terpenting dalam membaca buku ??? ::ungg::

Lalu, kenapa orang membuat istilah "fiksi" dan "nonfiksi"? "fakta" dan "kebohongan"? "metode ilmiah" dan "asal-asalan"?

lihat dong Don, kasus di Einstein ini. Pencatutan nama Einstein ini bukan sembarangan asal milih. Pencatutan nama Einstein ini adalah DALIH untuk membenarkan pendapatnya agar orang percaya bahwa pendapatnya benar. Seolah ini kebenaran mutlak karena Einstein Sang Jenius saja mengakui pendapatnya--dalam kasus ini, pendapat dia yang mengatakan bahwa kejahatan bukan bagian dari ketuhanan.

Dalih untuk membenarkan opini pribadi secara membabibuta dan menciptakan dusta. Ih -_-

Kalau ada buku yang isinya menceritakan adanya nubuat tentang Indonesia yang bakal damai sejahtera jika dipimpin oleh si X. Kamu menerimanya begitu saja? Isinya kan bagus banget,tapi si X ternyata si Nazarudin yang kabur ke Kolombia...

Banyak yang mengeluh kalau media informasi telah menjerumuskan orang pada sikap fanatisme buta, anarkis, gampang terprovokasi, dsb adalah karena mereka suka menelan apa saja tanpa mengecek keabsahannya.


Kembali ke topik, jadi, inti masalah ini adalah tentang Personal God vs Impersonal God yah?

beastmen85
19-09-2011, 03:21 PM
kok jadi Tuhan diatas kebaikan dan kejahatan? ntar malah ada dimensi yg lebih tinggi, dan tuhanlah itu ;D


Itu Tuhan diatas baik dan jahat maksud saya ya melingkupi baik dan jahat itu sendiri. Jadi kejahatan juga punya Tuhan seperti halnya kebaikan.

gw setuju.

jadi gini, ada baik ada jahat, Tuhan adalah pemilik keduanya namun bukan berarti lebih tinggi, kata2 "lebih tinggi" membuat saya berpikir bahwa tanpa kejahatan dan kebaikan tuhan bisa eksis dengan sendirinya ::bwekk::
menurut saya, Tuhan hanya eksis jika ada kebaikan dan kejahatan, nah... apa itu kebaikan dan kejahatan? itu seperti yg kop @Purba bilang ttg persepsi



Ok, penjelasan ane begini. Di sini ada tiga terminologi yg sedang diperbincangkan: Tuhan, kejahatan, dan kebaikan. Sebagai ateis tulen, ane punya pemahaman tersendiri dari term2 tsb. Semuanya adalah persepsi manusia ttg hal-hal di sekitarnya. Tuhan adalah persepsi ttg sesuatu yg tidak dikuasai manusia, kejahatan adalah persepsi ttg sesuatu yg negatif, dan kebaikan adalah persepsi ttg sesuatu yg positif . Yg ada adalah persepsi2 tsb. Semuanya adalah karya cipta manusia.

im agree ::bye::

tapi persepsi tiap orang pun berbeda2 jadi kita tidak akan pernah jelas mana yang baik mana yg jahat, itu tidak mungkin ;D jadi dengan orang yg berbeda persepsi pun akan berbeda...
persepsi akan mana yg baik pada tiap orang berbeda
persepsi akan mana yg jahat pada tiap orang jg berbeda
so, persepsi akan Tuhan pun berbeda

mungkin theis menyebutnya sebagai dewa, Tuhan, allah, atau apapun itu
tapi atheis juga punya, meski tidak jelas apa sebutannya... karma? nasib? hukum alam?

::bye::

Ronggolawe
19-09-2011, 04:10 PM
menurut saya, Tuhan hanya eksis jika ada kebaikan dan kejahatan,

mungkin theis menyebutnya sebagai dewa, Tuhan, allah, atau apapun itu
tapi atheis juga punya, meski tidak jelas apa sebutannya... karma? nasib? hukum alam?


gw dari dulu sudah geli mendengarnya. Kenapa sih
Atheis selalu mengurusi Theis? Kenapa selalu mem-
mencari versi Atheis dari sesuatu yang dimiliki Theis?

mbo' ya bikin konsep sendiri yang orisinil. Tapi bisa
ngga ya, secara menamakan diri saja masih tidak
orisinil, masa kata Theis cuma diawali A :)

beastmen85
19-09-2011, 04:27 PM
gw dari dulu sudah geli mendengarnya. Kenapa sih
Theis selalu mengurusi Atheis?

like dis post ::up::

Yuki
19-09-2011, 09:28 PM
Itu kebebasan semu. Kebebasan sejati adalah bebas memilih apa saja dgn konsekuensi yg sama. Jika jahat ganjarannya neraka dan baik ganjarannya surga, sebenarnya tidak ada kebebasan. Mana ada manusia yg mau memilih utk disiksa.
berarti anda lebih memilih kebebasan yg tidak berkeadilan, silahkan saja
orang jahat pasti ada ganjarannya, siapa suruh berbuat kejahatan, yg berbuat kejahatan pasti siksaanlah ganjarannya, itulah keadilan, keadilan bagi para korban yg telah menjadi korban kejahatannya

kebebasan yg saya maksud adalah kebebasan dalam memilih, ketika saya hendak menyeberang jalan saya diberikan kebebasan apakah ingin menyeberang jalan dengan hati-hati atau menyeberang jalan dengan ceroboh, jika saya memilih menyeberang jalan dengan hati-hati tentu konsekuensi yg akan saya terima adalah saya akan selamat di seberang jalan, namun jika saya memilih menyeberang jalan dengan ceroboh, maka konsekuensi yg akan saya terima adalah mati disambar mobil

Manusia yg melakukan kejahatan adalah manusia yg lupa utk memilih kebaikan. Lha yg menciptakan lupa siapa, bukannya tuhan juga?
tidak, manusia yg melakukan kejahatan benar-benar sadar betul bahwa pilihannya adalah salah, tetapi tetap saja melakukan kejahatan karena godaan yg menginginkan kenikmatan secara instan

purba
19-09-2011, 09:31 PM
Saya mungkin bakal dicegat oleh beberapa Theis yang saya kenal for saying this,;D Bagi saya neraka adalah sebuah alat. Suatu konsep sederhana untuk menggambarkan konsekuensi logis dari perilaku yang destruktif-nya dominan, apalagi kalau neraka dihubungkan dengan istilah 'siksaan'. Hey, it is just a bunch of burning fire, isn't it?

Saya memakai metode neraka untuk mendidik diri saya sendiri untuk misalnya, tidak berusaha memperkosa perempuan dengan rok mini, membunuhnya, dan get away with it. Katakanlah saya punya kemampuan hebat sehingga bisa melakukan semua kejahatan itu tanpa meninggalkan jejak forensik. Saya menggunakan metode neraka untuk mengingat konsekuensi yang akan saya terima di alam sana (karena di alam sini saya too damn good to get captured)... sayangnya the tool only work when you believe in it, so I took the first step and believe::bye::


Mbah Alip juga mengatakan tuhan adalah pencipta kejadian. Ketika mbah Alip melakukan kejahatan, itu adalah sebuah kejadian. Balasan kejahatan adalah neraka. Itu berarti tuhan yg berbuat tetapi mbah Alip yg merasakan siksaan di neraka. Piye?

:)

Yuki
19-09-2011, 09:42 PM
Mbah Alip juga mengatakan tuhan adalah pencipta kejadian. Ketika mbah Alip melakukan kejahatan, itu adalah sebuah kejadian. Balasan kejahatan adalah neraka. Itu berarti tuhan yg berbuat tetapi mbah Alip yg merasakan siksaan di neraka. Piye?
tampaknya anda tidak bisa membedakan apa yg disebut dengan perbuatan yg dikehendaki oleh Tuhan dan perbuatan yg bisa diperbuat karena suatu kemampuan

manusia diberikan kemampuan untuk berbuat, berbuat baik dan juga bisa berbuat jahat

berbuat baik itulah perbuatan yg dikehendaki oleh Tuhan
berbuat jahat itulah perbuatan yg bisa diperbuat karena suatu kemampuan

Ronggolawe
19-09-2011, 09:54 PM
Mbah Alip juga mengatakan tuhan adalah pencipta kejadian. Ketika mbah Alip melakukan kejahatan, itu adalah sebuah kejadian. Balasan kejahatan adalah neraka. Itu berarti tuhan yg berbuat tetapi mbah Alip yg merasakan siksaan di neraka. Piye?

:)
Tuhan bisa saja menghapus kemampuan manusia
untuk berbuat kejahatan, cuma apa enaknya hidup
tanpa "tantangan" dan "ujian"?

purba
19-09-2011, 10:13 PM
kebebasan yg saya maksud adalah kebebasan dalam memilih, ketika saya hendak menyeberang jalan saya diberikan kebebasan apakah ingin menyeberang jalan dengan hati-hati atau menyeberang jalan dengan ceroboh, jika saya memilih menyeberang jalan dengan hati-hati tentu konsekuensi yg akan saya terima adalah saya akan selamat di seberang jalan, namun jika saya memilih menyeberang jalan dengan ceroboh, maka konsekuensi yg akan saya terima adalah mati disambar mobil

Tidak mungkin anda memilih menyeberangi jalan dengan sembrono kalau tujuannya memang ingin menyeberang jalan, kecuali tujuan anda mau bunuh diri dgn cara ditabrak kendaraan maka bolehlah anda bilang memilih sembrono.



tidak, manusia yg melakukan kejahatan benar-benar sadar betul bahwa pilihannya adalah salah, tetapi tetap saja melakukan kejahatan karena godaan yg menginginkan kenikmatan secara instan

Bagaimana mungkin orang yg ditabrak kendaraan ketika menyeberang adalah sadar akan ditabrak. Konyol ah... :))

purba
19-09-2011, 10:18 PM
Tuhan bisa saja menghapus kemampuan manusia
untuk berbuat kejahatan, cuma apa enaknya hidup
tanpa "tantangan" dan "ujian"?

Jadi ente gak sudi masuk surga? :))

Alip
20-09-2011, 06:47 AM
Mbah Alip juga mengatakan tuhan adalah pencipta kejadian. Ketika mbah Alip melakukan kejahatan, itu adalah sebuah kejadian. Balasan kejahatan adalah neraka. Itu berarti tuhan yg berbuat tetapi mbah Alip yg merasakan siksaan di neraka. Piye?

:)

Oooo... kalau pertanyaannya seperti itu, it is simply an invitation for barbecue...%heh Eyang Purba suka yang setengah mateng atau yang gosong? Ibarat kata pepatah, "di surga denger kutut manggung, di neraka bikin api unggun..."
::hihi::

As far as I concern,
Sesudah memperkosa dan membunuh perempuan cantik nan seksi yang mengenakan rok mini di metromaksi, saya masuk penjara... karir dan nama baik saya hancur, istri saya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan anak-anak, mereka harus hidup menanggung malu dan menahan hukuman sosial dari masyarakat yang memang kejam... mmm... nope... not a good option...

Karenanya setiap ketemu perempuan yang mengenakan rok mini dan saya merasakan -menurut istilah Foke- ada yang "bergerak"::cabul::, maka saya memilih menahan diri dan menjaga kesejahteraan semua orang. Itulah yang bisa saya lakukan di tataran kesadaran saya. Nggak gampang sih... apalagi kalau "sudah lama tidak" (Aslan!! bobok sanah... ini bukan buat anak kecil!!!:gebuk:)... Dalam kasus ini mengingat Tuhan dan neraka lebih mudah buat saya daripada mengingat penjara dan hukuman sosial, khususnya kalau waktunya mepet dan "gerakan" sudah demikian kuat. Geez... I have a powerful tool ::bye::

Bahwa di tataran kesadaran Illahiah segala sesuatunya sudah ditentukan mengikuti sebuah skenario besar dan bahwa sesungguhnya saya tidak membuat pilihan apapun... well, I let God minds his own business, saya tidak membutuhkan pengetahuan ketuhanan untuk membuat saya memilih... I do my part, He does His... then we enjoy coffee in nearby cafe...

Eyang Purba doyan Tenderloin?::bye::

Ronggolawe
20-09-2011, 08:11 AM
Jadi ente gak sudi masuk surga? :))
Definisi Surga (versi Theis) yang loe pahami ngga
sama dengan definisi Surga yang gw pahami, brur :)

bradon heat
20-09-2011, 09:34 AM
yah elo, udah tahu loe bukan bagian dari sample
yang diinginkan oleh surveyor, kok ya loe masih
mau disurvey? ngisi jawaban di quisioner pula.

rusak dong hasil surveynya, jadi ngga valid :)

ini yg dihindari kalau bisa 100% referensi buku ...
untuk data valid sih saya lebih refer ke jurnal2 , bukan source semacam blog yg sering copy-paste terlalu riskan, contohnya seperti yg di bahas sekarang tentang kutipan atau lebih tepatnya pencatutan nama orang2 besar blm tentu kebenarannya.

maaf oot ::maap::


Lalu, kenapa orang membuat istilah "fiksi" dan "nonfiksi"? "fakta" dan "kebohongan"? "metode ilmiah" dan "asal-asalan"?

lihat dong Don, kasus di Einstein ini. Pencatutan nama Einstein ini bukan sembarangan asal milih. Pencatutan nama Einstein ini adalah DALIH untuk membenarkan pendapatnya agar orang percaya bahwa pendapatnya benar. Seolah ini kebenaran mutlak karena Einstein Sang Jenius saja mengakui pendapatnya--dalam kasus ini, pendapat dia yang mengatakan bahwa kejahatan bukan bagian dari ketuhanan.

Dalih untuk membenarkan opini pribadi secara membabibuta dan menciptakan dusta. Ih -_-

Kalau ada buku yang isinya menceritakan adanya nubuat tentang Indonesia yang bakal damai sejahtera jika dipimpin oleh si X. Kamu menerimanya begitu saja? Isinya kan bagus banget,tapi si X ternyata si Nazarudin yang kabur ke Kolombia...

Banyak yang mengeluh kalau media informasi telah menjerumuskan orang pada sikap fanatisme buta, anarkis, gampang terprovokasi, dsb adalah karena mereka suka menelan apa saja tanpa mengecek keabsahannya.


Kembali ke topik, jadi, inti masalah ini adalah tentang Personal God vs Impersonal God yah?

sure, that's why, i am ask for that question ..
tentang bobot isi dan kebenaran kutipannya ....

maaf oot ::maap::

purba
24-09-2011, 08:34 PM
Oooo... kalau pertanyaannya seperti itu, it is simply an invitation for barbecue...%heh Eyang Purba suka yang setengah mateng atau yang gosong? Ibarat kata pepatah, "di surga denger kutut manggung, di neraka bikin api unggun..."
::hihi::

Wah tergantung yg ngundang. Yg masih ada darahnya bisa, yg gosong lebih terbiasa. :))



As far as I concern,
Sesudah memperkosa dan membunuh perempuan cantik nan seksi yang mengenakan rok mini di metromaksi, saya masuk penjara... karir dan nama baik saya hancur, istri saya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan anak-anak, mereka harus hidup menanggung malu dan menahan hukuman sosial dari masyarakat yang memang kejam... mmm... nope... not a good option...

Karenanya setiap ketemu perempuan yang mengenakan rok mini dan saya merasakan -menurut istilah Foke- ada yang "bergerak"::cabul::, maka saya memilih menahan diri dan menjaga kesejahteraan semua orang. Itulah yang bisa saya lakukan di tataran kesadaran saya. Nggak gampang sih... apalagi kalau "sudah lama tidak" (Aslan!! bobok sanah... ini bukan buat anak kecil!!!:gebuk:)... Dalam kasus ini mengingat Tuhan dan neraka lebih mudah buat saya daripada mengingat penjara dan hukuman sosial, khususnya kalau waktunya mepet dan "gerakan" sudah demikian kuat. Geez... I have a powerful tool ::bye::

Ane percaya deh keteguhan mbah Alip dlm memegang keyakinan. :)



Bahwa di tataran kesadaran Illahiah segala sesuatunya sudah ditentukan mengikuti sebuah skenario besar dan bahwa sesungguhnya saya tidak membuat pilihan apapun... well, I let God minds his own business, saya tidak membutuhkan pengetahuan ketuhanan untuk membuat saya memilih... I do my part, He does His... then we enjoy coffee in nearby cafe...


Ok, ini hanya obrolan ttg tuhan.. santai aja. :))

Bener, pilihan tidak butuh pengetahuan ketuhanan, tetapi ketika mbah Alip (hanya contoh saja) menahan utk tidak melakukan kejahatan karena teringat siska eh siksa neraka, itu menunjukkan mbah Alip mengakui kredibilitas tuhan sbg penentu jahat dan baik. Bagaimana mbah Alip bisa "bersandar" pada tuhan yg penuh dgn konflik?

Alip
25-09-2011, 08:02 AM
Ok, ini hanya obrolan ttg tuhan.. santai aja.

Hohohoho... betul Eyang, rileks saja kok...::bye::


Bener, pilihan tidak butuh pengetahuan ketuhanan, tetapi ketika mbah Alip (hanya contoh saja) menahan utk tidak melakukan kejahatan karena teringat siska eh siksa neraka, itu menunjukkan mbah Alip mengakui kredibilitas tuhan sbg penentu jahat dan baik. Bagaimana mbah Alip bisa "bersandar" pada tuhan yg penuh dgn konflik?

Saya kenal satu orang di kantor yang namanya Siska, dan akan berbuat banyak hal supaya tidak disiksa dia.... wkwkwkwkwkkkk... she is hell ;D

Itu cuma pilihan saja, Eyang Purba, berdasarkan informasi dan daya olah saya yang terbatas. Saya tidak merambah ke analisa takdir atau teologi eksistensial karena informasinya memang paradoks, seperti yang sudah disebut sendiri oleh Eyang Purba dan saya setujui kenyataannya.

To lots of people’s disappointment, pencarian keagamaan (religius pursuit) bagi saya bukanlah pencarian atas kebenaran sejati atau pengetahuan hakiki (ultimate truth/knowledge), tapi lebih kepada upaya aktif untuk terus menerus menjadi manusia produktif yang berkontribusi bagi bangunan masyarakat dan kemanusiaan. IMHO, "kebenaran" tanpa fungsi aktif dalam kehidupan tidak lain dari sekedar pembenaran (excuses).


***

Yang saya lakukan cuma telaah sebab-akibat sederhana. Dokumen-dokumen baku konsep ketuhanan yang dipercaya masyarakat luas di seluruh dunia semuanya menginginkan kebaikan bagi manusia, pelarangan kekuasaan absolut, dominasi ekonomi, dan penindasan terhadap manusia atau alam. Secara konsisten ada penekanan atas cinta kasih dan kesejahteraan bersama umat manusia. Di agama yang saat ini saya anut -setahu saya- tidak ada pemaksaan atas kepemilihan kita atas Tuhan, dan tidak ada konsekuensi buruk yang harus dijatuhkan pada orang yang memilih Tuhan yang berbeda. Hukuman yang tegas dan jelas dalam catatan agama saya semuanya terkait dengan tindakan-tindakan kriminal antar manusia, kerugian-kerugian badaniah, finansial, ataupun psikis yang disebabkan oleh manusia pada manusia lain, bukan manusia kepada Tuhan.

Buat saya itu adalah sebuah konsistensi dan kredibilitas...::bye::

... meskipun Tuhan-nya sendiri adalah konsep yang paradoks, tapi kehadiran-Nya memiliki dampak yang baik bagi manusia. Atau kalau kita menggunakan bahasa yang lebih netral, Tuhan adalah sebuah teknologi sosial yang menyejahterakan dan meninggikan martabat manusia.

Jadi, seandainya Tuhan ternyata memang tidak ada, konsep ini adalah sebuah teknologi yang membudayakan manusia, sehingga sisi paradoksnya adalah ekses yang bisa ditinggalkan, toh, Tuhan-nya sendiri memang tidak ada, kenapa paradoks tentang eksistensi-nya harus direnungkan lagi?

... seandainya Tuhan itu ada, Dia adalah sosok yang bertujuan baik bagi manusia... seluruh konsep baku-nya mengarah ke sana. Adapun mengenai eksistensi dan atributnya yang menjadi paradoks, ya seperti saya sebut sebelumnya, tidak ada relevansinya dengan fungsi kehadiran Dia dalam kehidupan kita, jadi bukan hal yang penting untuk diselami.


***

Nah, dengan berfokus pada "manfaat" konsep Tuhan, mengapa saya memilih percaya dan bersandar pada Tuhan ketimbang tidak? apalagi konsep ini kan penuh dengan kekacauan dan kebalauan...

Lagi-lagi masalah praktis... lebih mudah untuk menggunakan teknologi ini kalau kita percaya pada keberadaan-Nya... hihihi::hihi::... maaf kalau kurang canggih filsafatnya ya, Eyang Purba.
::maap::

Saya bukan orang yang cukup cerdas atau peduli untuk memahami konsep penciptaan, eksistensialisme, personfikasi Tuhan dan sebagainya itu... singkatnya, kalau saya percaya bahwa Dia ada di dekat urat leher saya ketika saya sedang latihan menjadi manusia baik -misalnya sholat-, maka latihan itu akan jauh lebih efektif. Begitu pula halnya bila saya dihadapkan pada perempuan seksi yang mengenakan rok mini...
::cabul::

Jadi saya termasuk orang yang mungkin dianggap terbelakang oleh teman-teman theis... saya memilih untuk percaya, lalu melatih diri, memupuk kepercayaan itu berdasarkan fakta-fakta terbatas yang bisa saya cerna. Keyakinan saya dipupuk dari akumulasi hal-hal sederhana yang sangat duniawi... bukan pemahaman tinggi tentang ketuhanan.Saya bukan tipe-tipe yang telah memecahkan teka-teki ketuhanan sehingga menjadi manusia berkeyakinan sempurna...


***

Mungkin kalau dirangkum, kecintaan saya terhadap Tuhan adalah akumulasi dari kebersamaan kami. Seperti saya mencintai istri yang telah bersama-sama saya melewati suka duka kehidupan selama bertahun-tahun. Meskipun di mata saya perempuan satu ini adalah paradoks besar, susah dimengerti (bahkan setelah menikah sekian lama), dan suka melanggar rencana keuangan yang sudah saya buat dengan rapih dan teliti -_-, tapi yang namanya cinta mati... ya terima nasib :mrgreen:... semua itu jadi tidak lagi penting...

Mungkin cinta ini cuma ilusi, cuma endhorphine di otak, cuma bayangan yang tidak penting... but hey, it works

purba
01-10-2011, 10:00 PM
Yang saya lakukan cuma telaah sebab-akibat sederhana. Dokumen-dokumen baku konsep ketuhanan yang dipercaya masyarakat luas di seluruh dunia semuanya menginginkan kebaikan bagi manusia, pelarangan kekuasaan absolut, dominasi ekonomi, dan penindasan terhadap manusia atau alam. Secara konsisten ada penekanan atas cinta kasih dan kesejahteraan bersama umat manusia. Di agama yang saat ini saya anut -setahu saya- tidak ada pemaksaan atas kepemilihan kita atas Tuhan, dan tidak ada konsekuensi buruk yang harus dijatuhkan pada orang yang memilih Tuhan yang berbeda. Hukuman yang tegas dan jelas dalam catatan agama saya semuanya terkait dengan tindakan-tindakan kriminal antar manusia, kerugian-kerugian badaniah, finansial, ataupun psikis yang disebabkan oleh manusia pada manusia lain, bukan manusia kepada Tuhan.

Ane hargai cara mbah Alip "melihat" tuhan. :)



...Tuhan adalah sebuah teknologi sosial yang menyejahterakan dan meninggikan martabat manusia.

Mungkin lebih tepatnya tuhan seperti pisau, dapat utk membunuh tapi dapat juga utk memotong apel. Tapi jangan lupa, makan apel pun bisa tanpa perlu kehadiran pisau. :))



... seandainya Tuhan itu ada, Dia adalah sosok yang bertujuan baik bagi manusia... seluruh konsep baku-nya mengarah ke sana. Adapun mengenai eksistensi dan atributnya yang menjadi paradoks, ya seperti saya sebut sebelumnya, tidak ada relevansinya dengan fungsi kehadiran Dia dalam kehidupan kita, jadi bukan hal yang penting untuk diselami.

Bagaimana mbah Alip melihat kenyataan adanya (misalnya) genocide atas nama tuhan? Bukankah kehadirannya justru jadi bikin masalah?



Mungkin kalau dirangkum, kecintaan saya terhadap Tuhan adalah akumulasi dari kebersamaan kami. Seperti saya mencintai istri yang telah bersama-sama saya melewati suka duka kehidupan selama bertahun-tahun. Meskipun di mata saya perempuan satu ini adalah paradoks besar, susah dimengerti (bahkan setelah menikah sekian lama), dan suka melanggar rencana keuangan yang sudah saya buat dengan rapih dan teliti -_-, tapi yang namanya cinta mati... ya terima nasib :mrgreen:... semua itu jadi tidak lagi penting...

Mungkin cinta ini cuma ilusi, cuma endhorphine di otak, cuma bayangan yang tidak penting... but hey, it works

I see... ;)

Alip
03-10-2011, 11:03 AM
Mungkin lebih tepatnya tuhan seperti pisau, dapat utk membunuh tapi dapat juga utk memotong apel. Tapi jangan lupa, makan apel pun bisa tanpa perlu kehadiran pisau. :))
Saya sendiri lebih suka makan apel tanpa pisau, gragot is the best ::cabul::
Tapi menghilangkan pisau sama sekali dari budaya kita kok rasanya tidak bisa. Bagaimanapun juga bilah pisau atau apapun yang memiliki sisi tajam adalah penemuan teknologi dasar yang menjadi pondasi bagi teknologi lainnya. Demikian pula konsep ketuhanan, banyak sekali teknologi sosial yang kita nikmati dan taken for granted saat ini didasari oleh teknologi ketuhanan. Misalnya HAM, kemerdekaan, egalitarianisme, dan beberapa aliran psikologi eksistensial.


Bagaimana mbah Alip melihat kenyataan adanya (misalnya) genocide atas nama tuhan? Bukankah kehadirannya justru jadi bikin masalah?
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri. Sejarah memang mencatat banyak kegiatan biadab dilakukan atas nama Tuhan. Tapi seperti halnya rok mini yang kita bahas di sebelah, kita perlu memisahkan antara rok mini dan otak pemerkosa. Rok mini tetap hanya sebuah teknologi, yaitu memberi informasi maksimal dengan biaya minimal::hihi::, yang kehadirannya terpisah dari naluri psikopatik yang sudah tertanam di otak para pemerkosa.

Kalau kita mencermati banyak kasus genosida, kita akan termukan bahwa Tuhan dalam kasus-kasus tersebut adalah pelengkap penderita, akar genosida biasanya bisa dilacak pada dendam antar etnis atau suku tertentu.

Satu hal yang saya perhatikan, bahwa identitas keagamaan biasanya menyatu dengan identitas lainnya. Kecuali pada kasus-kasus pindah agama yang luar biasa, pada umumnya kepemelukan agama ditentukan oleh etnis, kondisi budaya, identitas sosial, pandangan politik, dan bahkan status kewargaan. Akibatnya, kita seringkali rancu menerjemahkan genosida oleh satu etnis terhadap etnis lain sebagai bagian dari proyek yang mengatasnamakan ketuhanan. Saya sih percaya, kitab suci agama-agama besar yang saat ini masih dipeluk oleh manusia di muka bumi ini, tidak satupun yang mendukung kegiatan genosida semacam itu.

Mungkin berbeda dengan sebagian orang, saya lebih berharap bahwa konsep ketuhanan akan berkembang sampai pada tahap di mana agama sudah lepas dari ikatan keetnisan. Bahwa ketuhanan bukan lagi masalah identitas, yaitu saya umat apa, tapi kepada apa yang bisa saya lakukan untuk kesejahteraan semua umat di muka bumi... bahwa perbedaan ada untuk membuat kita saling mengenal dan bekerja sama dengan menyinergikan kekuatan dan kelemahan kita masing-masing... bukan untuk diperuncing dan membuat kita saling bertikai.

Jadi bukan menghilangkan teknologinya, tapi menelitinya lebih dalam dan menggunakannya dengan lebih produktif ::bye::

purba
03-10-2011, 05:23 PM
Mungkin berbeda dengan sebagian orang, saya lebih berharap bahwa konsep ketuhanan akan berkembang sampai pada tahap di mana agama sudah lepas dari ikatan keetnisan. Bahwa ketuhanan bukan lagi masalah identitas, yaitu saya umat apa, tapi kepada apa yang bisa saya lakukan untuk kesejahteraan semua umat di muka bumi... bahwa perbedaan ada untuk membuat kita saling mengenal dan bekerja sama dengan menyinergikan kekuatan dan kelemahan kita masing-masing... bukan untuk diperuncing dan membuat kita saling bertikai.

Jadi bukan menghilangkan teknologinya, tapi menelitinya lebih dalam dan menggunakannya dengan lebih produktif ::bye::

Kalau ane lihat penjelasan mbah Alip, tampaknya mbah Alip lebih memperhatikan ajaran (yg diyakini dari) tuhan dari pada tuhan itu sendiri. Kemudian mbah Alip melihat bahwa ajaran tuhan pada esensinya adalah kebaikan. Tapi bagaimana dengan ajaran Kristen yg mengatakan keselamatan hanya melalui Yesus dan ajaran Islam ttg tauhid sbg pintu surga? Apakah ajaran seperti itu adalah sebuah kebaikan?

:)

Alip
03-10-2011, 05:39 PM
::ungg::
terus terang saya nggak terlalu ngerti pertanyaannya, Eyang Purba. Mungkin karena terlalu lama pakai kacamata orang Theis, jadinya tidak langsung nangkep...
::maap::

Dalam hal apa klaim Kristen bahwa keselamatan hanya melalui Yesus dan klaim Islam bahwa tauhid sebagai pintu surga bukan merupakan kebaikan?

purba
03-10-2011, 09:35 PM
...Dokumen-dokumen baku konsep ketuhanan yang dipercaya masyarakat luas di seluruh dunia semuanya menginginkan kebaikan bagi manusia, pelarangan kekuasaan absolut, dominasi ekonomi, dan penindasan terhadap manusia atau alam. Secara konsisten ada penekanan atas cinta kasih dan kesejahteraan bersama umat manusia. Di agama yang saat ini saya anut -setahu saya- tidak ada pemaksaan atas kepemilihan kita atas Tuhan, dan tidak ada konsekuensi buruk yang harus dijatuhkan pada orang yang memilih Tuhan yang berbeda...

Perhatikan yg digarisbawahi.

Dlm Islam ada ajaran tauhid dimana pengingkaran thd tauhid adalah dosa tidak terampuni (sebuah konsekuensi buruk). Juga orang bisa disebut muslim setelah mengucapkan syahadat. Apakah ini sebuah ajaran kebaikan?

Dlm Kristen ada ajaran bahwa hanya melalui Yesuslah manusia akan selamat. Artinya penolakan kepada Yesus berakibat tidak selamat (juga sebuah konsekuensi buruk). Apakah ini juga sebuah ajaran kebaikan?

Alip
04-10-2011, 06:04 AM
Oooo.... gituuuu....

Moga-moga pemahaman saya atas pertanyaan Eyang Purba nggak keliru...

Soal konsekuensi buruk,
Dari apa yang saya pahami atas agama saya, tidak ada penghakiman atau hukuman boleh dijatuhkan pada seseorang semata-mata atas pemilihan agama. Penghakiman hanya boleh dilakukan atas tindakan seseorang di masyarakat, bukan karena pilihan agamanya. Bahkan memaksakan agama juga bukan hal yang dianjurkan.

Adapun soal ketentuan untuk menerima Tuhan dari satu agama tertentu ketika kita ingin menjalani agama tersebut, itu adalah sebuah syarat perlu. Seperti kita bicarakan sebelumnya, susah juga sholat kalau tidak menerima kehadiran Allah, atau menjadi Kristen yang pengasih tanpa menghayati kehadiran Yesus.

Lalu mungkin ini yang dimasalahkan Eyang Purba, kalau ada dua klub besar yang mengklaim kebenaran, jadi siapa yang akan masuk neraka? Penganut Liverpool atau Manchester United? Secara para fans fanatik pada keagungan klub mereka masing-masing...

Dalam benak saya, selama tidak ada hooligan terlibat, tidak ada masalah ;D.
Selesai pertandingan, masing-masing fans bisa pergi ke pub terdekat untuk minum bir dan membicarakan pertandingan seru yang baru mereka tonton. Besoknya mereka bisa kembali ke tempat kerja masing-masing dengan lebih fresh...
::bye::

AsLan
04-10-2011, 09:36 AM
Pusing bacanya %heh

Tuhan itu BAIK.

Kejahatan timbul karena manusia diciptakan dengan FREE WILL.
Konsekuensi logis dari Free Will adalah kebaikan dan kejahatan.

Dengan adanya FREE WILL maka manusia BERTANGGUNG JAWAB 100% atas semua yg dia perbuat,
tanggung jawab bukan berada pada sang penciptanya.

Kalau masih ada orang yg berusaha mengatakan bahwa kejahatan manusia akibat Tuhan memberikan Free Will sehingga timbul kejahatan, artinya orang itu belum paham yg namanya Free Will.

FREE WILL memutus tanggung jawab sang pencipta terhadap kelakuan ciptaannya karena 100% kebebasan ada ditangan ciptaan.

Urzu 7
04-10-2011, 03:13 PM
Harusnya judulnya diganti kenapa tuhan memberi free will kepada manusia yang mengakibatkan munculnya perilaku jahat pada manusia;D

purba
04-10-2011, 09:53 PM
Soal konsekuensi buruk,
Dari apa yang saya pahami atas agama saya, tidak ada penghakiman atau hukuman boleh dijatuhkan pada seseorang semata-mata atas pemilihan agama. Penghakiman hanya boleh dilakukan atas tindakan seseorang di masyarakat, bukan karena pilihan agamanya. Bahkan memaksakan agama juga bukan hal yang dianjurkan.

Di Iran, seorang muslim diancam hukum gantung jika keluar dari Islam dan mereka melakukan itu atas keyakinan bahwa itu adalah perintah tuhan. Jika mbah Alip menolak pemahaman seperti di Iran itu, itu boleh saja. Tapi bukan itu yg ane maksud.. :)

Mbah Alip melihat bahwa ajaran tuhan adalah ajaran kebaikan. Banyak sekali ajaran tuhan tsb. Ane ambilkan satu contoh dari ajaran tuhan tsb misalnya pengakuan tauhid dlm Islam atau percaya Yesus dlm Kristen sbg pintu keselamatan (ini bisa dicek di dlm kitab2 yg dianggap punya otoritas kesucian dlm agama2 tsb). Tuhan dlm Islam mengajarkan bahwa hanya pengakuan tauhidlah pintu masuk keselamatan. Juga tuhan dlm Kristen mengajarkan bahwa hanya percaya Yesuslah pintu masuk keselamatan. Itu artinya tuhan2 tsb menunjukkan bahwa orang2 yg tidak percaya mereka adalah orang2 yg tidak selamat. Nah, apakah ajaran tuhan seperti itu adalah ajaran kebaikan?

Misalnya si purba berbuat kebaikan, misalnya juga menolong seorang nenek menyeberangi jalan (contoh klasik ;) ). Tetapi karena si purba tidak mengakui Allah swt sbg tuhan atau tidak percaya Yesus sbg tuhan, maka bagi tuhan2 tsb, si purba adalah orang yg merugi, orang yg tidak selamat, orang yg celaka, orang yg tidak berbuat baik, dst. Nah, apakah ajaran tuhan seperti itu adalah ajaran kebaikan?

:))

purba
04-10-2011, 10:03 PM
FREE WILL memutus tanggung jawab sang pencipta terhadap kelakuan ciptaannya karena 100% kebebasan ada ditangan ciptaan.

Nah, apakah keputusan tuhan utk memberikan 100% freewill kepada manusia adalah sebuah keputusan yg bijak? :))

AsLan
04-10-2011, 11:19 PM
Di Iran, seorang muslim diancam hukum gantung jika keluar dari Islam dan mereka melakukan itu atas keyakinan bahwa itu adalah perintah tuhan. Jika mbah Alip menolak pemahaman seperti di Iran itu, itu boleh saja. Tapi bukan itu yg ane maksud.. :)

Mbah Alip melihat bahwa ajaran tuhan adalah ajaran kebaikan. Banyak sekali ajaran tuhan tsb. Ane ambilkan satu contoh dari ajaran tuhan tsb misalnya pengakuan tauhid dlm Islam atau percaya Yesus dlm Kristen sbg pintu keselamatan (ini bisa dicek di dlm kitab2 yg dianggap punya otoritas kesucian dlm agama2 tsb). Tuhan dlm Islam mengajarkan bahwa hanya pengakuan tauhidlah pintu masuk keselamatan. Juga tuhan dlm Kristen mengajarkan bahwa hanya percaya Yesuslah pintu masuk keselamatan. Itu artinya tuhan2 tsb menunjukkan bahwa orang2 yg tidak percaya mereka adalah orang2 yg tidak selamat. Nah, apakah ajaran tuhan seperti itu adalah ajaran kebaikan?

Misalnya si purba berbuat kebaikan, misalnya juga menolong seorang nenek menyeberangi jalan (contoh klasik ;) ). Tetapi karena si purba tidak mengakui Allah swt sbg tuhan atau tidak percaya Yesus sbg tuhan, maka bagi tuhan2 tsb, si purba adalah orang yg merugi, orang yg tidak selamat, orang yg celaka, orang yg tidak berbuat baik, dst. Nah, apakah ajaran tuhan seperti itu adalah ajaran kebaikan?

:))

Dalam Kristen, orang bisa selamat apabila 100% tidak berdosa, jadi Purba tidak usah percaya Yesus dan bisa masuk sorga kalau tidak pernah berdosa.
Dosa adalah hutang, Neraka adalah tempat pembayaran hutang.


Nah, apakah keputusan tuhan utk memberikan 100% freewill kepada manusia adalah sebuah keputusan yg bijak?

Beberapa Filsuf seperti Hegel sudah membahas masalah ini, kesimpulannya adalah dunia yg sekarang adalah option terbaik dari pilihan2 apapun.
Bila manusia diciptakan tanpa Freewill maka manusia bisa dicipta 100% baik tapi tanpa moral, sama seperti robot, ini adalah option yg lebih buruk daripada pemberian Freewill.

purba
05-10-2011, 12:35 AM
Dalam Kristen, orang bisa selamat apabila 100% tidak berdosa, jadi Purba tidak usah percaya Yesus dan bisa masuk sorga kalau tidak pernah berdosa.
Dosa adalah hutang, Neraka adalah tempat pembayaran hutang.

Kristen mengajarkan bahwa manusia berdosa sejak Adam terbuang dari surga. Artinya apa? Tidak ada orang yg 100% tidak berdosa. Semua orang berdosa dan hanya bisa bersih dari dosa tsb jika percaya Yesus tuhan. Apakah ini sebuah ajaran tuhan yg baik? :)



Beberapa Filsuf seperti Hegel sudah membahas masalah ini, kesimpulannya adalah dunia yg sekarang adalah option terbaik dari pilihan2 apapun.
Bila manusia diciptakan tanpa Freewill maka manusia bisa dicipta 100% baik tapi tanpa moral, sama seperti robot, ini adalah option yg lebih buruk daripada pemberian Freewill.

Jadi surga lebih buruk dari dunia? :))

AsLan
05-10-2011, 12:53 AM
Kristen mengajarkan bahwa manusia berdosa sejak Adam terbuang dari surga. Artinya apa? Tidak ada orang yg 100% tidak berdosa. Semua orang berdosa dan hanya bisa bersih dari dosa tsb jika percaya Yesus tuhan. Apakah ini sebuah ajaran tuhan yg baik? :)


Dosa Adam memang mengakibatkan kerusakan di dunia, tapi manusia tetap harus mempertanggung jawab kan perbuatannya masing2, jadi kalau Purba tidak berdosa ya tidak usah bayar hutang apa2 alias masuk surga.


Jadi surga lebih buruk dari dunia? :))


Surga baru bisa disebut baik karena merupakan konsekuensi dari Freewill

Alip
05-10-2011, 05:39 AM
Oooo... antara penerimaan dan perbuatan....
Maap... sudah jawab panjang-panjang ternyata salah nangkep ;D


Mbah Alip melihat bahwa ajaran tuhan adalah ajaran kebaikan. Banyak sekali ajaran tuhan tsb. Ane ambilkan satu contoh dari ajaran tuhan tsb misalnya pengakuan tauhid dlm Islam atau percaya Yesus dlm Kristen sbg pintu keselamatan (ini bisa dicek di dlm kitab2 yg dianggap punya otoritas kesucian dlm agama2 tsb). Tuhan dlm Islam mengajarkan bahwa hanya pengakuan tauhidlah pintu masuk keselamatan. Juga tuhan dlm Kristen mengajarkan bahwa hanya percaya Yesuslah pintu masuk keselamatan. Itu artinya tuhan2 tsb menunjukkan bahwa orang2 yg tidak percaya mereka adalah orang2 yg tidak selamat. Nah, apakah ajaran tuhan seperti itu adalah ajaran kebaikan?
Sejauh yang saya pahami, klaim tentang kebenaran yang spesifik dikeluarkan kedua agama tersebut berbicara tentang jalan yang lebih baik ketimbang yang ada pada saat itu.

Ketika Yesus berjalan kaki dan kadangkala naik keledai menyebarkan ajaran kebaikan di daerah yang sekarang kita sebut Timur Tengah, di sana sedang menjadi protektorat Romawi dengan segala keburukan Kekaisaran itu di akhir masa kejayaannya. Begitu pula pemuka agama setempat, mereka tidak lain cuma pengekor penjajah yang menggunakan agama sebagai justifikasi atas ambisi mereka sendiri. Maka Yesus berbicara kepada para petani, nelayan, gembala, pemungut pajak, budak, hamba sahaya dan lainnya... "Akulah akan membawa kalian pada kebaikan" (redaksi aslinya mungkin berbeda, tapi maksudnya itu ;D). Dan kita sampai sekarang masih mengenal ajaran Yesus yang sangat mengutamakan cinta kasih. Sebuah revolusi dalam sistem kemanusiaan.

Lima ratus tahun kemudian di sebuah kota kecil di tengah gurun pasir, Muhammad membawa pesan dari Tuhannya melawan sekelompok bangsawan lokal yang menggunakan kuil kuno berbentuk persegi berikut patung-patung di dalam dan sekelilingnya sebagai justifikasi atas kekuasaan mereka. Para bangsawan itu memraktekkan sistem ekonomi ultra-kapitalis yang menyebabkan orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin, bahkan sampai timbulnya perbudakan. Maka Muhammad mengemban misi menghancurkan sumber kekuatan mereka dan mengembalikan ekonomi dan masyarakat kepada kondisi saling asah dan asuh. Sebuah konsep masyarakat egalitarian, meskipun terdiri atas banyak suku dan agama. Lagi-lagi sebuah revolusi sosial.

Itulah konteks jalan kebenaran yang saya pahami sesuai sejarahnya.
Apakah orang-orang yang tidak menerima konsep ini adalah orang yang tidak selamat? Ya betul dalam konteks itu. Mereka adalah orang-orang yang tindakannya merusak dan menyebabkan kesulitan bagi orang lain dan masyarakat sekitar.

Lalu dua ribu tahun kemudian, yaitu saat ini, apakah orang-orang yang tidak menerima konsep itu adalah orang yang tidak selamat? Masih betul... sejauh kita bicara tentang anggota DPR yang sedang disidik.

Tapi apakah tidak menerima Tuhan dari agama tertentu berarti tidak selamat? Tindakan baiknya tidak diterima?

Bahwa kemudian muncul interpretasi tentang nilai kebenaran dibandingkan dengan perbuatan kita, itu adalah perkembangan yang muncul belakangan, datang dari kebutuhan akan adanya identitas sebagai manusia yang paling benar. Eyang Purba tidak usah jauh-jauh berbicara tentang perbuatan baik, karena bagi beberapa orang tertentu, bahkan cara mencukur alis yang keliru bisa menyebabkan seseorang masuk neraka, meski Tuhan-nya sama. Kira-kira begitulah yang terjadi ...

Bagi saya, karena saya tidak dapat berbicara atas nama Tuhan, maka saya hanya menganalisa di wilayah kemanusiaan kita. Tindakan Eyang Purba membantu seorang nenek menyebrang jalan tentu punya nilai kemanusiaan yang amat baik... maka kita bisa menjadi tetangga yang baik bagi satu sama lain. Adapun mengenai nilai perbuatan tersebut di mata Tuhan, dihubungkan dengan ke-atheis-an Eyang Purba, itu bukan wewenang saya untuk menjatuhkan putusan. Yang saya tahu, karena kita tidak dianjurkan untuk membujuk orang lain agar pindah ke agama kita sendiri, itu pertanda bahwa saya tidak perlu membedakan (discriminate) Eyang Purba berdasarkan keyakinan yang Eyang Purba anut.

Tuhan sendiri mungkin geleng-geleng kepala kalau melihat saya yang hanya mau membantu perempuan seksi yang mengenakan rok mini...;D

purba
05-10-2011, 09:59 AM
Sejauh yang saya pahami, klaim tentang kebenaran yang spesifik dikeluarkan kedua agama tersebut berbicara tentang jalan yang lebih baik ketimbang yang ada pada saat itu.

Ketika Yesus berjalan kaki dan kadangkala naik keledai menyebarkan ajaran kebaikan di daerah yang sekarang kita sebut Timur Tengah, di sana sedang menjadi protektorat Romawi dengan segala keburukan Kekaisaran itu di akhir masa kejayaannya. Begitu pula pemuka agama setempat, mereka tidak lain cuma pengekor penjajah yang menggunakan agama sebagai justifikasi atas ambisi mereka sendiri. Maka Yesus berbicara kepada para petani, nelayan, gembala, pemungut pajak, budak, hamba sahaya dan lainnya... "Akulah akan membawa kalian pada kebaikan" (redaksi aslinya mungkin berbeda, tapi maksudnya itu ;D). Dan kita sampai sekarang masih mengenal ajaran Yesus yang sangat mengutamakan cinta kasih. Sebuah revolusi dalam sistem kemanusiaan.

Lima ratus tahun kemudian di sebuah kota kecil di tengah gurun pasir, Muhammad membawa pesan dari Tuhannya melawan sekelompok bangsawan lokal yang menggunakan kuil kuno berbentuk persegi berikut patung-patung di dalam dan sekelilingnya sebagai justifikasi atas kekuasaan mereka. Para bangsawan itu memraktekkan sistem ekonomi ultra-kapitalis yang menyebabkan orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin, bahkan sampai timbulnya perbudakan. Maka Muhammad mengemban misi menghancurkan sumber kekuatan mereka dan mengembalikan ekonomi dan masyarakat kepada kondisi saling asah dan asuh. Sebuah konsep masyarakat egalitarian, meskipun terdiri atas banyak suku dan agama. Lagi-lagi sebuah revolusi sosial.

Itulah konteks jalan kebenaran yang saya pahami sesuai sejarahnya.
Apakah orang-orang yang tidak menerima konsep ini adalah orang yang tidak selamat? Ya betul dalam konteks itu. Mereka adalah orang-orang yang tindakannya merusak dan menyebabkan kesulitan bagi orang lain dan masyarakat sekitar.

Ya itu artinya ada klaim sepihak dari Yesus ataupun Muhammad, bahwa merekalah yg benar pada saat itu, sementara orang2 di luar mereka diidentifikasikan sbg perusak dan pembuat keonaran. Nah, apakah itu juga sebuah ajaran kebaikan? :)



Lalu dua ribu tahun kemudian, yaitu saat ini, apakah orang-orang yang tidak menerima konsep itu adalah orang yang tidak selamat? Masih betul... sejauh kita bicara tentang anggota DPR yang sedang disidik.

Tapi apakah tidak menerima Tuhan dari agama tertentu berarti tidak selamat? Tindakan baiknya tidak diterima?

Bahwa kemudian muncul interpretasi tentang nilai kebenaran dibandingkan dengan perbuatan kita, itu adalah perkembangan yang muncul belakangan, datang dari kebutuhan akan adanya identitas sebagai manusia yang paling benar. Eyang Purba tidak usah jauh-jauh berbicara tentang perbuatan baik, karena bagi beberapa orang tertentu, bahkan cara mencukur alis yang keliru bisa menyebabkan seseorang masuk neraka, meski Tuhan-nya sama. Kira-kira begitulah yang terjadi ...

Coba lihat yg digarisbawahi. Itu pun dapat berlaku pada masa Yesus dan Muhammad dulu. Apa yg mbah Alip ceritakan di atas adalah interpretasi Yesus dan Muhammad ttg nilai kebenaran sehingga mereka menyalahkan orang2 di luar mereka pada masa itu. Perkembangan yg muncul belakangan adalah pengulangan yg terdahulu. Yg kita lihat sekarang sbg klaim kebenaran adalah juga yg dilakukan oleh Yesus dan Muhammad dulu. Gimana mbah? :)



Tuhan sendiri mungkin geleng-geleng kepala kalau melihat saya yang hanya mau membantu perempuan seksi yang mengenakan rok mini...;D

Wkwkwkwk... :))

Alip
05-10-2011, 05:30 PM
Ya itu artinya ada klaim sepihak dari Yesus ataupun Muhammad, bahwa merekalah yg benar pada saat itu, sementara orang2 di luar mereka diidentifikasikan sbg perusak dan pembuat keonaran. Nah, apakah itu juga sebuah ajaran kebaikan? :)

Pemaksaan kehendak secara sepihak memang bukan suatu hal yang nyaman, tentu saja. Saya sendiri sering keki kalau dibegitukan::nangis::.
Tapi kelihatannya klaim sepihak bukan hal yang selalu salah.

Saya melarang keras anak saya bermain api dan pisau, saya memaksa dia melatih sopan-santun di lingkungan keluarga, memaksanya bermain sepeda ketimbang menonton TV ... dia dapat bertanya dan protes kenapa Bapaknya melakukan klaim sepihak macam itu, tapi saya tidak akan mundur dari aturan main yang saya buat. Ini contoh pemaksaan dan klaim kebenaran yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya tahu saya benar dan semoga anak saya kelak akan belajar bahwa bapaknya melakukan hal yang benar untuk kepentingan dia.

Katakanlah kita melihat deretan orang-orang disiksa dan disalib dalam keadaan telanjang di pinggir jalan sepanjang wilayah Yudea, perempuan-perempuan direnggut paksa dari keluarga mereka untuk dijadikan pelayan kuil (berikut segala konsekuensinya), semua anak laki-laki yang baru lahir harus dibunuh karena raja setempat mendapat mimpi buruk, rantai kekerasan dan pembalasan terjadi di mana-mana ... jika ada seseorang yang maju ke depan dan mengatakan, "ini salah dan harus kita akhiri... mari menuju ke jalan yang lebih baik", maka kita layak mendengarkan dia, dan bahwa dia mengklaim jalannya yang benar, bolehlah kita coba.

Pada kenyataannya, sejarah mencatat hasil yang memang baik.


Coba lihat yg digarisbawahi. Itu pun dapat berlaku pada masa Yesus dan Muhammad dulu. Apa yg mbah Alip ceritakan di atas adalah interpretasi Yesus dan Muhammad ttg nilai kebenaran sehingga mereka menyalahkan orang2 di luar mereka pada masa itu. Perkembangan yg muncul belakangan adalah pengulangan yg terdahulu. Yg kita lihat sekarang sbg klaim kebenaran adalah juga yg dilakukan oleh Yesus dan Muhammad dulu. Gimana mbah? :)

Jika kita menghadapi hal yang identik, tentu saja bisa kita rujuk kembali ke interpretasi awal. Itulah mengapa ajaran-ajaran waktu itu dimaktub dalam sebuah kitab ajaran. Dengan begitu kita tidak reinventing the wheel. Sejauh secara obyektif interpretasi itu masih produktif, maka selalu bisa kita gunakan.

Yang saya maksud adalah orang-orang yang memiliki interpretasi sendiri dari pemakluman yang sudah ada, dan memaksakan interpretasi itu pada orang lain sebagai suatu kebenaran mutlak, apalagi sampai menggunakan kekerasan dan ancaman.

Sayangnya mereka memang ada...

purba
05-10-2011, 06:42 PM
Yang saya maksud adalah orang-orang yang memiliki interpretasi sendiri dari pemakluman yang sudah ada, dan memaksakan interpretasi itu pada orang lain sebagai suatu kebenaran mutlak, apalagi sampai menggunakan kekerasan dan ancaman.

Sayangnya mereka memang ada...

Seruput dulu kopinya mbah... ~O)

Hehehe.. siapa mereka ini? Katakanlah Habib Riziq dgn FPI-nya. Apakah yg dilakukan oleh Habib Riziq tidak terjadi pada Muhammad? Jawabnya kembali pada kita masing2 bagaimana melihat sejarah Muhammad dan bagaimana menginterpretasikannya. Ane melihat apa yg dilakukan oleh Habib Riziq juga terjadi pada Muhammad dulu. Habib Riziq meyakini bahwa yg dilakukannya sekarang adalah juga yg dilakukan oleh junjungannya dulu. Tentunya dgn penampakan yg berbeda. Yg tidak setuju dgn Habib Riziq akan mengatakan bahwa sang Habib telah salah dlm menginterpretasikan sejarah atau ajaran Muhammad. Tapi siapa yg punya otoritas utk menentukan bahwa ini adalah interpretasi yg benar dan itu yg salah selama semua setuju bahwa itu adalah sebuah interpretasi. Gimana menurut mbah? :)

keremus
05-10-2011, 06:43 PM
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan--ini topiknya.


Ini bisa menuju ke pertanyaan dan masalah berikut :

1. Konsepsi Tuhan yang bagaimana ?
2. Apakah anda percaya Dia itu pencipta ?
3. Kejahatan adalah kelakuan. Dilakukan pelaku.
4. JIka anda percaya Tuhan dan bahwa Dia sebagai pencipta manusia sebagai pelaku kejahatan,
apakah dia mengurusi hal-hal detil (Aha, ini perdebatan klasik sejak zaman A;l Ghazali) atau
tidak ?

5. Jika anda percaya Tuhan sebagai pencipta, bagaimana dengan konsep Kehendak Bebas, takdir
atau nasib ?

6. Jika TUhan pencipta kejahatan atau kebaikan lalu Dia meminta pertanggungjawaban kita,
bukankah Dia sungguh kurang kerjaan dan tidak adil ?

Alip
06-10-2011, 09:00 AM
Seruput dulu kopinya mbah... ~O)
Asyiiikkk... moga-moga yang de-cafeinated ;D


Hehehe.. siapa mereka ini? Katakanlah Habib Riziq dgn FPI-nya. Apakah yg dilakukan oleh Habib Riziq tidak terjadi pada Muhammad? Jawabnya kembali pada kita masing2 bagaimana melihat sejarah Muhammad dan bagaimana menginterpretasikannya. Ane melihat apa yg dilakukan oleh Habib Riziq juga terjadi pada Muhammad dulu. Habib Riziq meyakini bahwa yg dilakukannya sekarang adalah juga yg dilakukan oleh junjungannya dulu. Tentunya dgn penampakan yg berbeda. Yg tidak setuju dgn Habib Riziq akan mengatakan bahwa sang Habib telah salah dlm menginterpretasikan sejarah atau ajaran Muhammad. Tapi siapa yg punya otoritas utk menentukan bahwa ini adalah interpretasi yg benar dan itu yg salah selama semua setuju bahwa itu adalah sebuah interpretasi. Gimana menurut mbah? :)

Setuju sekali, Eyang Purba. Apalagi kita bicara tentang satu periode seribu lima ratus tahun lalu, siapa yang bisa mengatakan secara persis apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kita bisa jelas tanpa keliru membedakan antara mitos, fakta sejarah, atau manipulasi sejarah?

Hanya saja, kita bisa berpegang pada satu hal, yaitu bahwa di dalam Agama Islam (berhubung Abang Riziq membawa agama ini) tidak ada otoritas yang berhak menentukan kebenaran suatu interpretasi, tidak ada lembaga inkuisisi yang menghitam-putihkan kehidupan, yang ada hanya gerakan komunal untuk membangun interpretasi yang produktif dan semua penganut Agama Islam adalah bagian dari gerakan ini.

Kaum muslim perlu menerima Habib Riziq sebagai bagian dari dinamika hidup beragama Islam. Setuju atau tidak, dia adalah bagian dari sebuah tindakan interpretasi. Selanjutnya tinggal kita lihat, jejak macam apa yang ditinggalkan beliau sepanjang perjalanannya...

kimochi
06-10-2011, 11:57 AM
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan--ini topiknya.


Ini bisa menuju ke pertanyaan dan masalah berikut :

1. Konsepsi Tuhan yang bagaimana ?
2. Apakah anda percaya Dia itu pencipta ?
3. Kejahatan adalah kelakuan. Dilakukan pelaku.
4. JIka anda percaya Tuhan dan bahwa Dia sebagai pencipta manusia sebagai pelaku kejahatan,
apakah dia mengurusi hal-hal detil (Aha, ini perdebatan klasik sejak zaman A;l Ghazali) atau
tidak ?

5. Jika anda percaya Tuhan sebagai pencipta, bagaimana dengan konsep Kehendak Bebas, takdir
atau nasib ?

6. Jika TUhan pencipta kejahatan atau kebaikan lalu Dia meminta pertanggungjawaban kita,
bukankah Dia sungguh kurang kerjaan dan tidak adil ?

1. Tuhan yang maha pencipta
2. Emang ada konsep Tuhan yang enggak pencipta?
3. Benar.
4. Ya.
5. Sama, itu juga diciptakan sama yang bersangkutan.
6. Bisa dibilang begitu. Mau gimana lagi.

Kesimpulan, Tuhan memang menciptakan kejahatan. Tapi, itu tetap gak mengurangi rasa hormat gw atas misteri yang ditimbulkannya pada alam semesta ini.

Kepusingan yang masih gw bawa-bawa sejak SD sampai sekarang. ;D

mencari_makna
14-12-2011, 02:01 PM
Itulah mengapa Nietze percaya bahwa tuhan sudah mati. Jika tidak kita sulit memahami tuhan yang menciptakan kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kesengsaraan.

Namun jika kita ikut juga dengan kekacauan paham di atas maka nerakalah bagian kita.

Tuhan adalah segalanya yang awal yang ahir, yang zahir dan yang bathin, jadi termasuk kita didalamnya. Anna al haq kata Al Hallaj, Tri tunggal kata ummat kristiani. Atau di post lain rekan kita danalingga mengatakan mati selagi hudup atau mati sebelum mati. Intinya adalah kita meniadakan ego kita.

BundaNa
15-06-2012, 03:57 AM
Mau nanya dong dari cerita TS, jaman einstein sekolah udah ada tipi ya? Udah ada acara buser gitu?

daylight
15-06-2012, 11:38 AM
Nharura;72
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Bundana, anda jeli ya hahahaha::ngakak2::

just info

http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
Pada tahun yang sama pula, Philo Farnsworth (http://id.wikipedia.org/wiki/Philo_Farnsworth) berhasil membuat sistem televisi pertama di dunia dengan pemindai elektronik pada kedua perangkat tampilan dan pickup,[13] (http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi#cite_note-autogenerated1-12)dimana temuannya ini pertama kali ia demonstrasikan di depan media pers pada 1 September (http://id.wikipedia.org/wiki/1_September) 1928 (http://id.wikipedia.org/wiki/1928)

http://id.wikipedia.org/wiki/Einstein
Dia mendapatkan gelar doktor (http://id.wikipedia.org/wiki/Doktor_Filosofi) setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 (http://id.wikipedia.org/wiki/1905) dari Universitas Zürich (http://id.wikipedia.org/wiki/Z%C3%BCrich).

Case closed, cerita di atas adalah Hoax, hoeks , whateverlah::hohoho::




- - - Updated - - -

Kalau saya jadi muridnya, pasti saya jawab, ya iyalah pak, Tuhan kan maha segalanya, termasuk yg ini nih, kalau dia gak kepo menciptakan dunia dan seisinya, kan gak bakalan ruwet begini dan gue gak usah jawah pertanyaan tololmu pak.::bwekk::

BundaNa
15-06-2012, 11:55 AM
Content perenungannya truly, bagus. Hanya saja pencatutan nama orang ngetop menjadikan perenungan ini jadi tidak baik.

Seperti buku kisah2 abunawas atau nasrudin, tidak perlu mencatut tokoh terkenal untuk mengajak orang berpikir

spears
15-06-2012, 03:12 PM
kita sepakat bahwa Tuhan itu Maha ideal

kita juga sepakat bahwa tidak ada manusia yang Ideal (termasuk isi kepalanya)


dengan demikian, membicarakan keidealan Tuhan, dengan menggunakan logika2 kepala yg tidak ideal, sampe dunia kiamat 7x pun nggak akan pernah nyampe or terpecahkan.

kesimpulan : menimpakan semua kejahatan yg tjd di dunia ini kepada Tuhan adalah contoh nyata betapa bodohnya manusia ::doh::

mencari_makna
17-06-2012, 09:53 AM
Tuhan tidak terlibat secara langsung dengan dunia phisik, sehingga kebaikan dan kejahatan tidak melibatkan Tuhan.

sedgedjenar
22-06-2012, 03:51 PM
Tuhan tidak terlibat secara langsung dengan dunia phisik, sehingga kebaikan dan kejahatan tidak melibatkan Tuhan.

ah masa ? kayaknya tergantung kacamata mana yg dipake deh

mencari_makna
30-06-2012, 08:46 PM
ah masa ? kayaknya tergantung kacamata mana yg dipake deh

Manusia adalah sebuah kemungkinan yang terbuka, menjadi ada atau menjadi tidak ada. Manusia "ada" adalah manusia yang menzahirkan Tuhan pada dirinya. Anna Al Haqq kata Al Hallaj, dengan demikian Tuhan menjadi terlibat pada dunia nyata. Pada manusia "tidak ada", seperti kata Nietze Tuhan sudah mati, pada manusia semacam ini Tuhan menjadi tidak terlibat pada dunia nyata...

menyan
25-08-2012, 11:47 AM
widih keren banget broh si einstein
gw banget broh :udud:

baru gw mo bilang :

tuhan itu kaga ciptain kejahatan, tapi ciptain free will - tabiat manusia yg layaknya binatang, abis itu barulah tuhan ciptain kebaikan/agama dan tuhan berdiri di sisi itu

nah kapan kejahatan nongol ? ya sejak tuhan create kebaikan, kaga semua mau terima alias ada yg nolak. namanya evil/iblis. jadilah ada kejahatan.

napa jadi tuhan disalahin nohope bgt dah ::grrr::