PDA

View Full Version : Bisnis Kopi



AsLan
18-08-2011, 02:06 AM
Kisah Sukses Pengusaha Kopi Instant


Berada di sekitar Martyn Dawes saat dia merasa antusias terhadap sesuatu bisa menjadi pengalaman yang menakutkan.

Dia mengatakan: 'Aku punya kebiasaan untuk mengeluarkan suara bising yang sangat aneh saat sedang merasa sangat bersemangat. Suara bising itu sedikit mirip dengan suara yang dibuat Al Pacino dalam film Scent of a Woman. Suara seperti itu pasti membuat orang kaget, apalagi jika mereka sedang menelpon.'

Saat ini, Dawes sedang merasa sangat senang. Sebab baru-baru ini, dia menjual bisnis Coffee Nation-nya, yang telah menjual lebih dari 750.000 cangkir kopi per bulan dari mesin self-service-nya, seharga 23 juta.

Terlahir di Coventry, Dawes diadopsi saat berumur enam minggu oleh sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut dan tidak bisa mempunyai anak mereka sendiri. Dia mengatakan: 'Aku menjadi pusat perhatian dan banyak mendapat kasih sayang serta dorongan dari mereka.'

Tapi Dawes tidak bisa tenang, antara lain mungkin karena dia selalu memikirkan tentang asal-usulnya yang tidak jelas. 'Aku ingin pergi dari sana dan menunjukkan apa yang bisa aku lakukan. Aku merasa perlu untuk membuktikan diri. Aku pikir itu adalah salah satu cara ku untuk membalas karena tidak tahu dari mana aku berasal.'

Dia begitu ngotot untuk segera memulai, sehingga memutuskan untuk meninggalkan sekolah dia usia 17 tahun dan bekerja di pabrik lokal, dimana ayahnya bekerja. Di waktu luangnya, dia mengambil kursus penerbangan dan bermimpi untuk menjadi seorang pilot. Tapi mimpinya hancur saat mengetahui bahwa dia buta warna. Lalu, saat berusia 21 tahun, dia mendapat pekerjaan di Massey Ferguson, sebuah pabrik pembuat traktor.

Dia melakukan pekerjaannya dengan baik dan setelah satu tahun, dia bertemu dengan calon istrinya, Trudi, lalu memutuskan untuk pindah ke London agar bisa bersamanya. Di London, dia membuka perusahaan konsultant manajemen untuk perusahaan engineering, dan dengan cepat mengetahui bahwa dia punya bakat dibidang itu.

Dia mengatakan: 'Saat anda berusia 23 tahun, anda punya arogansi dan keyakinan diri yang tinggi karena anda belum punya banyak pengalaman yang mengatakan bahwa anda mungkin telah melakukan kesalahan.'

Dalam enam bulan, dia memulai bisnis konsultasinya sendiri, dan tidak beberapa lama kemudian, istrinya yang bekerja dibidang sumber daya manusia ikut bergabung dengannya.

Perusahaannya berkembang dengan cukup baik, tapi pada waktu Dawes berusia 28 tahun dia merasa gelisah. Dia mengatakan: 'Aku merasa berada diambang kebosanan dan akhirnya menyadari bahwa konsultasi bukanlah sesuatu yang benar-benar aku sukai. Aku bisa melihat bahwa bisnis lebih membuat ku tertarik dari pada konsultasi.'

Jadi, dia mengambil 50.000 dari bisnis konsultasinya dan mulai mencari inspirasi untuk memulai bisnisnya sendiri. Akan tetapi, itu ternyata lebih sulit dari yang dia kira. Dia mengatakan: 'Sangat sulit untuk menemukan sesuatu saat anda tidak mengetahui apa yang anda cari. Aku merasa sangat cemas.'

Dia sempat mempertimbangkan untuk membeli perusahan pakaian yang sedang berkembang, juga pernah mempertimbangkan ide tentang membuka taman bermain untuk anak-anak. Dia mengatakan, 'Aku mencari disemua tempat. Aku benar-benar bingung.'

Suatu hari, dia membaca sebuah artikel di koran lokal mengenai sebuah perusahaan yang cukup sukses dengan menempatkan mesin photocopy di kantor-kantor berita dan sudut-sudut toko. Itu membuatnya jadi berpikir.

Dia mengatakan: 'Aku menyukai ide mengenai model bisnis yang bisa menghasilkan sedikit keuntungan dari banyak tempat. Dengan cara itu, anda jadi tidak terlalu bergantung pada salah satunya dan tidak terlalu terekspose pada satu konsumen. Dan anda akan menggunakan traffik dari para pembeli yang sudah memasuki toko tersebut.'

Dia memutuskan untuk mengunjungi Amerika dalam usahanya untuk mencari inspirasi, mulai dari New York sampai ke Minnearpolis, yang pada saat itu punya shopping mall terbesar di dunia.

Saat berada disana, Dawes mempunyai ide untuk membeli franchise dari bisnis yoghurt beku yang berada di Inggris. Tapi disaat-saat terakhir dia menyadari bahwa itu mungkin bukanlah sebuah ide yang bagus karena di Inggris matahari tidak terlalu banyak bersinar.

Dia juga merasa tertarik dengan sebuah restaurant yang bernama The Screening Room dimana didalamnya terdapat beberapa mini sinema untuk sekelompok orang yang ingin nonton bareng. Tapi dengan cepat dia menyadari bahwa untuk membuka sesuatu yang sama di Inggris akan membutuhkan modal investasi yang besar.

Ide besarnya akhirnya muncul saat dia berdiri di sebuah toko di New York. Dia memperhatikan bahwa sejumlah besar orang yang masuk cuma karena ingin membeli secangkir kopi untuk dibawa, dan menyadari bahwa mungkin ada kebutuhan yang sama di Inggris.

Dengan mengikuti model bisnis photocopy yang dia baca, dia akan menginstall mesin kopi instant di sudut-sudut toko dan memberikan sebagian keuntungannya kepada pemiliki toko.

Saat kembali ke Inggris, Dawes mulai bekerja. Dia membujuk empat orang pemiliki toko agar mau memberikan tempat untuk mesinnya, yang dia isi dengan bubuk kopi dan susus instant. Tapi kemudian dia mengetahui bahwa tidak banyak orang yang benar-benar ingin membeli kopi instant dari sebuah mesin di sebuah toko kecil yang kumuh.

Dia mengatakan: 'Aku ingat saat berjalan di Peckham sambil memikirkan tentang apa yang telah aku lakukan. Itu adalah produk yang salah di toko yang salah dan di lokasi yang salah.'

Jadi, dia mulai menempatkan mesin pembuat kopi instantnya di toko-toko besar misalnya Spar dan Alldyas. Tapi di tahun 1997 dia menyadari bahwa produk dan lokasinya masih tetap salah. Dia mengatakan: 'Aku cuma bisa menjual 50-60 cangkir per minggu dan itu tidak akan pernah bisa membuat bisnis ku berkembang.'

Sementara itu, kehidupan pribadinya juga sedang mengalami masalah. Dia dan istrinya lalu memutuskan untuk berpisah, dan Dawes terpaksa harus menumpang di rumah seorang teman.

Kemudian suatu hari, saat sedang berdiri di sebelah mesinnya sambil berbicara dengan konsumen, kata-kata dari salah seorang dari konsumen tersebut membuatnya tersentak. Dawes mengatakan, 'Orang itu mengatakan pada ku, "Mengapa aku mau mengeluarkan 59p untuk secangkir kopi jika aku bisa membuatnya sendiri di kantor? Jika anda ingin menjual sesuatu ditoko seperti ini, itu berarti anda harus benar-benar membuat ku tertarik."'

Secara tiba-tiba, Dawes mendapatkan jawaban atas masalah bisnisnya yaitu dengan cara menyediakan mesin yang bisa membuat kopi dengan susu dan biji kopi yang masih segar. Jadi, dia membujuk beberapa pabrik untuk meminjamkan beberapa mesin expresso mereka untuk di uji coba, dan segera melihat peningkatan dalam penjualannya. 'Itu adalah sebuah momen eureka. Aku merasa sangat senang.'

Sayangnya, moment-moment membahagiakan tersebut tidak berlangsung lama. Pada masa-masa tersebut modalnya sudah sangat menipis dan dia tidak lagi mempunyai uang.

Lalu, dia mendatangi seorang praktisi insolvency di sebuah perusahaan accountant untuk meminta petunjuk mengenai perusahannya yang hampir bangkrut. Tapi saat berada di sana, dia menemukan seorang penasehat yang mengatakan bahwa dia mungkin mampu untuk menemukan investor untuk bisnis Dawes.

Jadi, secepatnya Dawes menuliskan sebuah bisnis plan dan dia diberikan kesempatan untuk mengajukannya ke sebuah forum investor. Di penghujung hari, dia mendapatkan investasi sebesar 100,000 dengan pembagian keuntungan sebesar 20 pesen. Dan itu memberikannya peluang untuk mendapatkan pinjaman dari bank sebesar 90,000, Dawes pun kembali berbisnis.

Dia mulai mencari tempat-tempat yang lebih baik untuk mesinnya, dan dua tahun kemudian mampu meningkatkan nilai perusahaannya menjadi 4 juta, dengan 25 persen keuntungan untuk dirinya.

Perusahaan Coffee Nation-nya sekarang sudah memiliki lebih dari 400 outlet termasuk di toko-toko Tesco dan bengkel-bengkel Welcome Break, dimana mereka menyediakan kopi espresso yang dibuat dengan susu dan buah kopi yang masih segar.

Dawes juga menempatkan mesin-mesinnya di Odeon Cinemas dan outlet-outlet W H Smith di airport dan stasiun, dan telah berkembang hingga keseluruh daratan Eropa. Di tahun 2008, Dawes menjual bisnisnya pada perusahaan Milestone Capital seharga 23 juta.

Saat ini, Dawes yang baru berusia 42 tahun, merasa sangat bangga dengan pencapainnya. Dia mengatakan, 'Seringkali, aku merasa tergoda untuk menyerah. Tapi jika anda menyerah dan orang lain sukses dengan ide anda, maka anda akan menyesalinya seumur hidup.'

Dawes banyak memuji istinya, Trudi, atas dukungannya, sehingga dia bisa sukses dengan mengatakan: 'Dia adalah dan selalu menjadi sumber inspirasi ku. Saat pertama kali aku menjadi pengusaha di usia 23 tahun, dia bisa melihat ke dalam diri ku apa yang aku sendiri tidak bisa melihatnya. Aku tidak akan berada disini saat ini, dan aku tidak akan mempunyai keyakinan diri tanpa dirinya.' Mereka akhirnya merencanakan untuk menikah kembali.

Dawes juga sukses dalam pencariannya untuk menemukan identitas dirinya. Delapan tahun yang lalu, dia akhirnya bisa menemukan ibu kandungnya. Dia merasa kaget saat mengetahui bahwa ibunya juga ternyata seorang pengusaha.

Dawes mengatakan: 'Saat bertemu dengan ibu ku, aku bisa melihat sifatnya yang sama dengan ku, dan itu membuat ku bisa merasa sedikit tenang mengenai diri ku. Aku selalu berpikir, mengapa aku seperti ini, mengapa aku selalu menginginkan lebih? Dan sekarang aku jadi tahu.'

deddy
19-08-2011, 09:12 AM
betu2l penuh perjuangan dan semangat ......

AsLan
22-08-2011, 08:48 PM
Belakangan ini banyak Franchise Kopi lokal, contohnya :

http://3.bp.blogspot.com/_trQ4lvVTxFw/TCMFw0Na-3I/AAAAAAAAAKc/WbuEYH2dh6M/s320/Jember+01.JPG
http://2.bp.blogspot.com/_4WO5KTfNUIQ/TC1a3lZAhJI/AAAAAAAAC7U/px2-wByREyE/s400/torabika_station_kkt_outlet.jpg
http://waralabaku.com/UserFiles/semerbakcoffee/Image/semerbak_coffee_booth1.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_CbSavz9mehY/SWYsSTD5sJI/AAAAAAAAAm8/zLCMb_oqQb4/s320/coffee+toffee+Kiosk.jpg

mang jami
21-09-2011, 09:43 PM
kemaren di sini ada promosi kopi dari indonesia ... namanya BANDAR KOPI ... (untung bukan bandar narkoba) ...

biomedical
17-04-2012, 09:54 PM
http://waralabaku.com/UserFiles/semerbakcoffee/Image/semerbak_coffee_booth1.jpg

yang ini menurut saya enak loh, porsinya mantap hehehe,,,

lily
18-07-2012, 12:34 PM
yang kopi lokal di post om Aslan , belom ada kayanya di Surabaya...

TFS om :ngopi:

deddy
18-07-2012, 01:02 PM
yang kopi lokal di post om Aslan , belom ada kayanya di Surabaya...

TFS om :ngopi:

peluang emas tuh...... laksanakan segera... ntar peresmiannya ngundang anak2 ::KM::

lily
18-07-2012, 05:50 PM
^^
Hahahaha di Surabaya adanya yang laen om... Merk lain ::hihi::

Peresmian ngundang anak KM , semua yakin mau dateng ke Surabaya hahahahaha ::hihi::