PDA

View Full Version : 2 Muka



nicelin
11-04-2014, 11:46 PM
​2 Muka

Part 1
Nostalgia


Harfert adalah kota yang sangat indah. Kota yang dinanti – nantikan oleh Jesselyn, seorang pengusaha muda. Dia datang ke kota ini bersama Amira, pembantu dia yang sangat setia. “AHH, akhirnya aku sampai!!” Teriak Jesselyn setelah turun dari kapal. “Aku sangat memimpikan datang ke kota ini Amira!” “Aku senang kalau kamu senang.” Senyum Amira. “Kalau begitu, ayo kita cari penginapan!” Mereka berdua berjalan mencari penginapan. “Aku ingin menginap di penginapan yang mirip dengan rumah kita!” kata Jesselyn. “Tapi .. apa ada?” Tanya Amira. “Harus ada!”
Akhirnya Jesselyn menemukan penginapan yang ia inginkan. Penginapan yang mewah dan elegan. Mereka berdua masuk ke kamar. Jesselyn memberikan tas yang ia bawa ke Amira dan melompat ke kasur. “Ini sangat menyenangkan!” Teriak Jesselyn. “Ingat Jesselyn, kamu di sini untuk mengurus beberapa barang yang belum kamu beli” kata Amira. “Ya, ya.. aku tau. Tapi tidak ada salahnya kan kita bersantai dulu?” “Ok. Kamu ingin mandi jam berapa? Aku siapkan airnya.” Tanya Amira. “Tidak usah, aku mau ke pantai saja. Kau mau ikut Amira?” Tanya Jesselyn. “Tidak ah, aku mau merapihkan baju – baju ini” tolak Amira.

Jesselyn pergi ke pantai yang ada di belakang penginapannya. Terik matahari, tidak mengalahkan Jesselyn untuk menikmati keindahan pantai itu. Jesselyn duduk sendirian di pinggir pantai, merebahkan badanya dan membiarkan terik matahari menghitamkan kulitnya. Sesekali Jesselyn memandang sekeliling, ‘pantainya sepi sekali’ pikir Jesselyn. Saat ia melihat dari arah kanan, ada seorang perempuan muda yang ia kenal. ‘sepertinya aku mengenal dia, jangan – jangan’ tanpa pikir panjang, Jesselyn melangkah mendekati perempuan itu. “Rie,” Jesselyn memanggil pelan. “Ya?” perempuan itu menoleh. “AH! Ternyata benar Rie!” Jesselyn memeluk Rienne, sahabat masa kecilnya.
“Kamu gak pernah bilang kalau mau balik ke Melltan” Kata Jesselyn. “Ah, aku juga tidak tahu kapan balik. Setelah insiden itu, aku tidak ingat apa – apa. Orang tuaku yang membawa ku balik.” Kata Rienne. “Aku sangat mengkhawatirkan mu. Pyna dan Gina juga mengkhawatirkan mu! Sangat sangat!” kata Jesselyn “Maaf ya, gara – gara aku sakit tidak sadarkan diri beberapa bulan, kalian jadi khawatir.” “Iya tidak apa – apa. Aku senang dapat melihat mu lagi. Selama ini kami bertiga mencari mu, menghubungi mu. Tapi kamu menghilang begitu saja. Kamu kemana sih?” Kata Jesselyn. “Ah, ceritnya panjang untuk diceritakan.” Jawab Rienne.

Dibawah tenda sambil meminum segelas sampanye, mereka bernostalgia terntang masa lalu mereka. Rienne adalah seorang detektif. Dia ke kota Harfert untuk berlibur. Jesselyn adalah sahabat Rienne sejak umur 15 tahun. Mereka satu sekolah dan rumah mereka berdekatan di kota Melltan. “Kamu sedang apa disini Rie?” tanya Jesselyn. “Berlibur. Hanya itu.” Kata Rienne. “Aku juga sedang berlibur!” kata Jesselyn. Rienne tersenyum. “Kenapa kamu tersenyum?” tanya Jesselyn. “ah tidak, bukan apa – apa. Aku hanya senang bertemu kamu disini. Karna kita sudah lama tidak bertemu.” Kata Rienne. “Oh begitu, yah aku juga senang.”
“Hm,,.. ngomong – ngomong Jesselyn. Gimana, kamu udah ketemu sama pembunuh orang tua kamu?” Tanya Rienne. ‘Eh, kenapa tiba – tiba’ pikir Jesselyn. “ehhmm, mengenai itu....” diam Jesselyn. ‘Aku yakin jawabannya pasti tidak’ pikir Rienne. “Oh, baiklah, aku tidak bermaksud untuk mengingatkan mu pada masa lalu mu. Aku hanya, masih penasaran. Karna kamu tahu, aku sudah menjadi detektif.” Senyum Rienne. “Oh, sungguh?” tanya Jesselyn. “Ya! Aku berharap bisa menemukan pelakunya. Ini bukan sekedar rasa penasaran ku, tapi aku juga ingin menangkap pelakunya untuk mu.” Kata Rienne. “Kamu tidak perlu begitu. Aku sudah melupakannya. Ya walau pun sampai sekarang masih saja aku kepikiran dan menangis. Hahaha... itu lucu, penjahatnya masih belum ketemu sampai sekarang. Aku bingung apa yang dilakukan oleh polisi.” Kata Jesselyn. “Bayangkan Rie, 10 tahun penjahat itu bebas berkeliaran di dunia ini!” tambah Jesselyn. Rienne hanya terdiam mendengar itu semua. Jesselyn menundukkan kepalanya. “Aku tidak tahu lagi harus berharap penjahat itu tertangkap atau merelakannya.” “Sudahlah, kamu tenang saja. Aku bisa membantumu.” “Apa? Tapi kamukan lagi liburan disini. Aku gak mau ngerepotin kamu!” Tolak Jesselyn. “Gak kok, gak ngerepotin. Ini udah jadi tugas ku!” Senyum Rienne. “Baiklah kalau kamu memaksa.” Terima Jesselyn. “Gitu dong.” Rienne tersenyum gembira begitu juga Jesselyn.
Senja tiba, Jesselyn dan Rienne pergi bersama – sama ke penginapan mereka. “Senangnya hari ini! Aku benar – benar senang!” teriak Jesselyn saat tiba di penginapan. “Kamu kenapa?” Tanya Amira. Jesselyn menceritakan semuanya yang terjadi kepada dirinya hari ini kepada Amira. “dan kamu tahu Amira? Rie satu penginapan sama kita juga!!!” “Wow, kamu pasti seneng banget” Kata Amira. “YA! Aku gak sabar nunggu hari besok.”




Part 2
Dugaan


Keesokan harinya, Rienne mendatangi kamar Jesselyn. “Jesselyn ada Rie disini.” Teriak Amira. “Jesselyn masih tidur deh kayanya. Aku bangunin dulu ya. Kamu duduk aja dulu Ri.” Kata Amira kepada Rienne. Rienne duduk di ruang tamu. Amira mengetuk pintu kamar Jesselyn. “Jesselyn, bangun.” Jesselyn membuka pintu. “Rie ada disini?” “Iya, nunggu kamu di ruang tamu.” “Ohh... ok ok.” Jesselyn berjalan menuju ruang tamu. “Rie..” Jesselyn duduk di samping Rienne. “Ada apa pagi – pagi datang kesini?” “Jesselyn, kalau kamu mau aku mecahin masalah mu, kita pulang ke Melltan sekarang!” Semangat Rienne. “APA?” Kaget Jesselyn. “Ya, kita pulang. Dan izinkan aku menginap di rumah mu untuk menyelidiki.” Tambah Rienne. “Tapi .. tapi.. ini terlalu tiba – tiba. Aku baru saja sampai kemarin, kamu juga. Dan kita sudah harus pulang??” kita Jesselyn. “Kamu mau masalah ini cepat selesai atau tidak?” tanya Rienne. “Aku mau.. tapi ..” “Yasudah kalau begitu, semakin cepat kita pulang, semakin cepat masalah ini terpecahkan.” Kata Rienne. “Baiklah, aku turuti mau mu.” Terima Jesselyn.

Siang harinya, mereka pergi meninggalkan Harfert. Jesselyn terlihat sangat sedih. Amira yang melihat Jesselyn seperti itu, mencoba menghibur Jesselyn. Sementara Rienne pergi ke kamar yang ada di kapal itu. “Jesselyn, aku yakin. Kamu akan pergi ke kota ini lagi suatu hari nanti.” Kata Amira. “Ya, aku juga berharap begitu. Tapi aku lupa untuk membeli barang.” Kata Jesselyn. “Tenang, aku sudah membelikannya untuk mu.” “Apa? Tapi kapan?” tanya Jesselyn. “Kemarin saat kamu pergi ke Pantai. Aku yakin kamu lupa, jadi aku yang membelikannya. Semuanya ada di tas.” Jelas Amira. Jesselyn memeluk Amira. “Terima kasih Amira. Kamu yang terbaik.” Amira tersenyum.
Malam harinya mereka tiba di Kota Melltan dan langsung pergi ke rumah Jesselyn. “Amira tolong tunjukkan kepada Rienne kamar dia.” Kata Jesselyn. “Baik. Kemari Rienne.” Ajak Amira. Rumah Jesselyn sangat luas dan mewah. Berbagai barang antik dan mahal terpajang di setiap sudut ruang. Halaman yang luas dan kamar yang banyak membuat rumah ini sepi karna hanya di tempati 2 orang. Makan malam tiba. Rienne pergi ke ruang makan di antar oleh Amira. Jesselyn sudah duduk menunggu di meja makan. Jesselyn tersenyum saat Rienne tiba dan duduk di samping dia. Mereka makan berdua dengan tenang, sementara Amira berdiri di belakang Jesselyn.
“Aku berharap kamu bisa memecahkannya dengan cepat Rie.” Kata Jesselyn. “Aku sudah tidak tahan dengan ini semua. Aku ingin sekali menemukan pelakunya dan menangkap dia.” “Tenang, besok aku akan menyelidiki semuanya.” Kata Rienne. “Maaf Rie, besok aku harus pergi mengurus beberapa urusan.” Kata Jesselyn. “Tidak apa – apa. Aku bisa mengerjakannya sendirian.” Malam itu, mereka hanya membicarakan masalah Jesselyn. Setelah pembicaraan itu, Jesselyn dan Rienne pergi ke kamar dan tidur.

Pagi hari, Jesselyn pamit pada Rienne. Amira ikut bersama Jesselyn. Riene tinggal di rumah yang besar itu sendirian. “Aku tidak akan pulang malam.” Kata Jesselyn. “Sekali lagi maaf aku meninggalkan mu.” “Aku mengerti.” Kata Rienne. Jesselyn dan Amira pergi naik mobil pribadi Jesselyn. “Memangnya ada masalah apa? Aku mendengarkan pembicaraan kalian. Sepertinya sangat penting.” Tanya Amira. “Begini, Rienne ingin membantu aku memecahkan masalah yang terjadi kepada kedua orang tua ku. Siapa yang membunuh mereka.” Kata Jesselyn. “Oh begitu... aku tidak yakin Rienne akan memecahkannya.” Ragu Amira. “Kenapa kamu berbicara begitu?” Tanya Jesselyn. “Ya karna, itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu Jesselyn.. Apa kamu yakin dengan semua omongan dia? Aku tidak.” Jujur Amira. “Aku yakin. Aku yakin Rie bisa memecahkannya. Dia dari dulu memang ingin menjadi detektif. Dan dia memang cocok menjadi itu, karna dia pintar sekali. Aku sangat kenal Rie” Kata Jesselyn. Amira terdiam.
Sore harinya, Jesselyn pulang. Rienne menyambut Jesselyn. “Bagaimana Rie? Kau menemukan sesuatu?” tanya Jesselyn. “Ya, ada yang janggal.” Kata Rienne. Jesselyn, Rienne dan Amira duduk di ruang keluarga. Dengan perapian menyala, mereka membicarakan kejanggalan yang ditemukan Rienne. “Begini, tadi aku memeriksa ruang kamar orang tua mu. Kenapa sangat rapih? Siapa yang membersihkannya?” Tanya Rienne. “Saya.” Jawab Amira. Rienne menatap Amira. “Bagaimana kamu memberishkannya tanpa ada noda sedikitpun?” tanya Rienne. “Aku membersihkannya saat polisi sudah memeriksa semuanya.” Jawab Amira. Rienne terdiam. “Seharusnya ada jejak atau sidik jari tertinggal.” Tambah Rienne. “Aku tidak mengerti maksud mu Rie.” Kata Jesselyn. “ya seharusnya ada. Atau Amira telah membersihkan semuanya, sehingga tidak ada yang tersisa untuk.....” “Kau menuduhku?” potong Amira. “Aku menuduh? Tidak. Itu hanya dugaan.” Bela Rienne. “Amira tenang. Dia hanya menduga.” Kata Jesselyn. Amira terdiam.
“Hm... kalau ibu mu dan ayah mu meninggal di kamar, siapa yang pertama kali menemkannya?” Tanya Rienne. “Amira.” Kata Jesselyn. “Bagaimana kau menemukannya amira?” Tanya Rienne. “Aku menemukan ayah dan ibu Jesselyn terbaring di lantai. Dan ada gelas terjatuh di lantai. Dari aromanya, sepertinya mereka habis meminum segelas anggur.” Kata Amira. “Ada yang memasukkan racun kedalam gelas mereka.” Kata Rienne. “Racun??” Kaget Jesselyn. “Ya. Siapa yang menyiapkan gelasnya?” tanya Rienne. “Amira” Menoleh Jesselyn ke Amira. Amira terdiam. “Siapa yang menyiapkan anggurnya?” Tanya Rienne. “Seingat ku, anggur itu adalah telah di bawa mereka pulang dari negri Precty.” Jawab Jesselyn. “berarti tidak mungkin anggurnya. Gelasnya dan Amira.” Rienne menatap tajam Amira. ‘Amira? Apa mungkin’ bingung Jesselyn didalam hati. Amira balik melihat Rienne dan berkata, “Terserah kamu mau menuduhku apa. Tapi bukan aku yang membunuh orang tua Jesselyn. Aku memang menyiapkan gelasnya dan aku tidak melakukan apa – apa dengan gelasnya.” Bela Amira. Amira lalu berdiri dan pergi.
“Aku berpikir apa yang kamu simpulkan kepada Amira terlalu berlebihan.” Kata Jesselyn. “Tapi itu sudah jelas. Apa kamu tidak percaya kepadaku?” Tanya Rienne. “Tidak... aku tidak percaya. Kamu hanya menyimpulkan Rie. Itu sama saja menuduh.” Kata Jesselyn. “Aku tidak menuduh. Aku akan berikan bukti kepada mu.” Bela Rienne. “Baiklah.” Kata Jesselyn. “Oh ya satu lagi, aku ingin memeriksa seluruh isi rumah ini.” Kata Rienne. “Kamu boleh memeriksanya. Aku percayakan semuanya kepadamu.” Jesselyn beranjak pergi meninggalkan Rienne yang duduk melihat perapian.





---------- Post Merged at 09:46 PM ----------


AKAN DI UPDATE KALAU DAPAT FEEDBACK YANG BANYAK ::hohoho::
terima kasih ::hihi::