PDA

View Full Version : Nasib Pengemis di Jakarta



AsLan
14-05-2011, 11:55 AM
Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.





Cak To sekarang juga sudah punya rumah, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004. *** Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap. Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga. Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.

Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya. Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya. Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng. Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya. Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkannya nanti…

AsLan
14-05-2011, 11:58 AM
Copas dari K@skus
-----------------------------------------------------------------------

jadi kronologisnya gini gan, ane tau mau cek atm di daerah mampang jakarta tempat biasa ane cek
kebetulan lumayan ngantri gan di atm nya. trs desebelah ane ada tukang parkir lagi minum teh gitu sama Ibu-Ibu pengemis yang lagi ngitung tumpukan uang kertas ribuan gitu.

dialog nya :

t. Parkir : dari jam brp bu
Ibu pengemis : dari jam 7 pagi tadi
t. Parkir : dapet banyak dong klo dari pagi
Ibu pengemis : SEPIi pak (jawabnya sembari rada ketus gitu)
t. Parkir : sepinya dapet berapa?
Ibu Pengemis : cuma 180 RIBU, SEPIi bgt dah hari ini

(sorry ga ada pic nya gan ga enak mu difoto tadi org nya)

asli gan saya sama yang antri di atm itu pada geleng2 kepala gan, gila aja 180 ribu dibilang sepi,
coba bayangin klo dikali 30 berapa klo rata-rata pendapatan dia 150 ribu 4.5 juta lho gan.
ane ga bermaksud atau menghimbau agan-agan semua untuk ga beramal,
tapi kalau bisa liat-liat dulu kalo mau ngasih uang gan, kayaknya sekarang pengemis udh jadi profesi gan bukan karena keterpaksaan semata!

NB : ane cuma share aja gan

--------------------------------------------------------
another story dari K@skus juga
---------------------------------------------------------\

wah, kejadiannya hampir sama kyk ane tp beda tempat...
kalau ane kejadiannya di tempat foto copy gan daerah jakarta timur, waktu itu ane mau foto copy buku di tempat langganan ane sekitar jam 14.30, pas ampe di sana ane lihat ada pengemis ibu" tua lagi tukerin uang recehannya dari yang coin ampe uang kertas full di meja tempat foto copynya (dlam hati gw, gile nih pengemis uang nya banyak banget)...seteleh pengemis itu tukerin uangnya lalu pulang, ane tanya ama tukang foto copyan nya . kira-kira begini percakapannya :

ane : bang, ibu yg tadi ngapaian bang ?
Tk. Fc : tukerin uang recehan mas..
ane: oooo...td dia tuker berpa duit ?
Tk. FC : sekitar 200ribuan mas ( gila gaji gw sebulan aja kalah ),,..dia tiap hari tukerin uangnya sekitar 200ribuan (sambil mencet kalkulator) jad kalo sebulan bissa dapat 6 juta..gileee benerrr...
ane : wooww...semua pengemis disini dapt segitu juga bang
TK.FC : iya mas , tiap hari ada sekitar 15 pengemis yang nukerin uang nya disini
Pemilik FC : makanya kalau mau kaya jadi kyk pengemis aja..hehehe
Tk. FC : hahahahaha....

gile mengemis di jadikan pekerjaan, pantesan kalau gw kasih Rp.100 atau 200 sering di buang....paaraah dah

ancuur
14-05-2011, 01:48 PM
http://1.bp.blogspot.com/_Sm8NbuNlbx0/Stc11QSm7VI/AAAAAAAAADc/CtypkvbaC00/s320/pengemis.jpg

sumber.. Ken Johnson Pengemis Terkaya di dunia (http://unikboss.blogspot.com/2010/09/ken-johnson-pengemis-terkaya-di-dunia.html)

Ken Johnson, 52, Pengemis Terkaya di dunia, Penghasilan Rp 418 JUTA/tahun. Dia selalu duduk di dekat toko Myer di Sydney’s CBD (Central Business Discrict), 16 jam sehari. Berbekal papan disampingnya, ia bisa mengumpulkan uang mencapai 418 juta dalam setahun dari para dermawan.

Tulisan yang dibawanya berbunyi ”Butuh bantuan untuk biaya hidup keluarga dan beli obat. Pembayaran penuh sangat membosankan. Tinggalkan saya sendirian jika anda orang yang tidak sopan dan kasar”. Dengan cara bertahan dalam kegiatan monoton itulah Pria asal Newcastle ini menghidupi dirinya di George and Market St. Pada hari biasa, ia mendapat uang antara 600 ribu hingga 1,2 juta rupiah sehari. Jika beruntung, 3,3 juta rupiah bisa masuk kantong dalam sehari.

“Saya kecewa jika mengemis sepanjang Jumat dan hanya mendapat 2 juta rupiah,” katanya. Ia menambahkan ia pulang saat sudah mendapat cukup uang atau memang ingin pulang, tapi di hari baik ia selalu duduk lebih lama dari hari biasa. Ketika Sunday Telegraph menemuinya, hari sedang baik. Dalam 20 menit, ia mendapat sekitar 250 ribu rupiah.

ancuur
14-05-2011, 01:54 PM
http://1.bp.blogspot.com/_1IO8M95icXA/TTFHgaOi-II/AAAAAAAAAIs/4e5OqVvvcAo/s1600/pengemis+tercantik2.jpg

sumber.. Inilah Pengemis Wanita Tercantik Di Dunia (http://pelangidelapan.blogspot.com/2011/01/inilah-pengemis-wanita-tercantik-di.html)

Kalo kita mendengar kata Pengemis mungkin identik dengan badan kumal, rambut acak-acakan, baju compang camping, atau bau badan yang kurang sedap. Tapi lain dengan pengemis yang satu ini, Dia seksi, cantik atau bahkan dia berhak mendapat predikat pengemis tercantik di dunia. Dan bayangkan bukan hanya uang koin yang iya dapatkan tapi lebih dari itu,” Kartu Kredit” gan.
Kalau Pengemis Cantik Ini ada Di Indonesia mungkin bukan hanya kartu kredit yang iya dapatkan ,tapi buku tabungan beserta suku bunganya kali ya. Atau bahkan Rumah Mewah Berserta Isinya karena akan menjadi rebutan Cowok-cowok jomblo yang kaya.

ancuur
14-05-2011, 01:58 PM
http://2.bp.blogspot.com/_pYOYDFNDZZg/TPmMgdg5_5I/AAAAAAAAACs/czzzUtK6eWk/s400/anjing-jadi-pengemis.jpg

kira2 siapakah yg paling banyak akan mendapatkan uang.. \:D/

keremus
14-05-2011, 02:09 PM
Hahaha...sy suka yang anjing...

Kalo di jogja, Sri Sultan tegas2 mengkampanyekan Say No to Anjal dan Pengemis..

ancuur
14-05-2011, 02:41 PM
jadi inget humornya pengemis...

di depan UI Salemba selalu mangkal bapak2 tua.. pada suatu hari dia di tanya oleh salah seorang siswi fakultas kedokteran universitas indonesia tersebut.. maka terjadilah dialog sbb..
Siswi: "Selamat siang pak..." (sambil tarok duit seribu.. di tangan si pak tua..)
Pengemis: "Selamat siang non.. terima kasih yah.."
Siswi: "Mau tanya pak.. berapa penghasilan satu hari?.."
Pengemis: "Oh yaa.. silahken.. satu hari sekitar 20rb s/d 40rb non.."
Siswi: "Memang keluarga bapak ada berapa?.." (serius.. kasihan liat si bapak..)
Pengemis: "Istri sudah meninggal.. tinggal anak saya ada dua.. dan mereka sudah besar2 non.."
Siswi: "Oww.. begitu... mereka kuliah apa kerja..?"
Pengemis: "Yang paling besar di UKI di dekat cawang... dan yg satu lagi di Trisakti.. grogol.."
Siswi: "Wahhhh... hebat dong... bisa sekolah tempat yang baik.. bapak hebat!"
Pengemis: "Ah.. biasa aja tuh non.. sama aja sama bapak..."
Siswi: "Lho sama bagaimana.. saya tidak mengerti maksut bapak...???" (serius banget...)
Pengemis: "Sama saja penghasilannya non..."
Siswi: "Lho memang mereka ngapain ???"
Pengemis: "Mereka sama seperti saya non... MENGEMIS.."
Siswi: "???..!!@#$%%&**,,,??" :piso:

sumber Nasib seorang pengemis (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?1373-Nasib-seorang-pengemis&p=25378#post25378)

komporminyak
14-05-2011, 02:53 PM
yah begitulah, pengemis yang sukses :))
di kota asal, saya juga tahu di perempatan dekat rumah ada yang 'bekerja' sebagai pengemis
kalau dah di lokasi, lalu nitipin sepeda motornya dan ganti baju.
konon katanya sepeda motor itu juga hasil dari pendapatan mengemis.

ndugu
14-05-2011, 03:07 PM
yang di cerita pertama... saya herannya kok dia dapet setoran karena apa gitu loh? maksudnya kok ada yang nyetor ke dia? dan cara kerjanya gimana tuh?

AsLan
14-05-2011, 03:23 PM
Mungkin dia sediain "lokasi" buat mengemis, kalo gak nyetor ke dia ya gak boleh ngemis di lokasi itu.
Mungkin dia juga sediain perlengkapan mengemis seperti baju rombeng, perban, obat merah dll
Dan yg pasti dia menyediakan perlindungan kalau anak buahnya ditangkap petugas maka dia yg akan menjemput dan menebus.

ndableg
14-05-2011, 04:48 PM
Gw ga anti pengemis (bukan pemalak) dan tetep respek sama profesi. Gw rasa ga gampang juga jadi pengemis. Apalagi menjaga agar dia tetep menjadi pengemis bukan pemalak, dgn cara maksa. Gw rasa gw ga bisa jadi pengemis. Selama ada rutinitas bangun pagi, bisa jadi sebuah profesi.

Masalahnya pake pakean kotor dan penampilan lusuh aja yg bikin risih.. Coba para pengemis dikasih subsidi sabun dan pakean bersih. Ato bikin UU hanya beri uang pada pengemis yg bersih..

itsreza
14-05-2011, 07:51 PM
Di daerah Ciheuleut Bogor ada tempat yang jadi perkampungan pengemis, mereka berasal dari luar daerah kota Bogor dan terkoordinir, setiap pagi diangkut menggunakan pickup dan di drop di beberapa tempat strategis untuk mengemis. Jadi ingat dulu waktu sekolah saya pernah lihat pengemis bawa uang ribuan segepok dan disetorkan kepada seniornya, dengan uang setebal itu saya perkirakan sekitar 200-300rb. sewaktu kuliah, saya ingat sekali saya makan di warteg, ada pengemis yang membeli nasi padang, ketika saya jalan kaki ke masjid, saya melihat dari tempat yang sama pengemis naik angkot untuk mengemis di masjid tujuan saya. [-X Ada beberapa hal pengalaman yang unik tentang pengemis yang saya alami. Walau begitu saya tidak anti pengemis, karena banyak orang menjadi pengemis karena memiliki kekurangan fisik, malah saya kenal baik dengan beberapa pengemis karena sering bertemu dan mengobrol. Untuk orang dengan fisik yang baik dan terlihat sehat, saya lebih menghargai bila mereka bekerja (berjualan atau usaha lainnya) dibandingkan menjadi pengemis.

gembel
14-05-2011, 08:16 PM
mengemis agak sedikit lebih baik daripada mencuri apalagi mencuri uang negara :mrgreen:

AsLan
15-05-2011, 08:22 PM
mengemis agak sedikit lebih baik daripada mencuri apalagi mencuri uang negara :mrgreen:

curhatan seorang gembel :))

keremus
15-05-2011, 08:58 PM
Pernah baca di koran, ada pasutri pengemis yang sehari-harinya tinggal
di sebuah hotel kecil di Banda Aceh. Kalo mau kerja, ganti kostum lah
mereka. Akhirnya diringkus aparat. Keterlaluan deh.

etca
15-05-2011, 09:37 PM
Gw ga anti pengemis (bukan pemalak) dan tetep respek sama profesi. Gw rasa ga gampang juga jadi pengemis. Apalagi menjaga agar dia tetep menjadi pengemis bukan pemalak, dgn cara maksa. Gw rasa gw ga bisa jadi pengemis. Selama ada rutinitas bangun pagi, bisa jadi sebuah profesi.

baca postingan ndableg, jadi teringat tulisan lama saya.
bercerita tentang kejadian 10 tahun yang lalu, tahun 2001.
waktu itu menemani seorang kawan yang kebetulan usai sukuran bday dia.
uhmmm kalau your_love dan kunderemp masih ingat,
yup kalian berdua ikutan mencicipi nasi kuning buatan kawan kita dan tertawa ngakak dibuatnya. :))

dan.... nasinya ada lebih, malam itu kawanku berinisiatif untuk membagikan nasi itu pada kaum pemulung.
ga gampang ternyata nyari pemulung :)
waktu itu jelang dini hari di kota Yogyakarta.
Kami berdua bertemu dengan lelaki tua umur 78 berjalan keluar dari rumahnya.
Lalu kami pun sempat bercakapcakap.

“Sejak tanganku terputus 3 tahun yang lalu, kini hanya bisa mengemis”
“Malu sesungguhnya…”
“Mau pulang kampung tak berani”
“Mengemispun aku tak berucap meminta”
“Hanya menuduk saja, karena mengemis minta uang rasanya tak pantas”
“……………………..”

“Masuk dan singgah mbak”
(rumah dari kardus, anyaman bambu dan atap seadanya yang sangat jauh untuk layak disebut rumah, melihat kedalamnya hanya ada lampu teplok, kardus tempat pakaian, bed tidur dari bambu dan meja kecil dengan segelas air di atasnya)
“Sudah larut pak, kami harus pulang”
“Temannya lain ke mana pak?” tanyaku lagi.
“Sedang bekerja…”, lantas disambungnya dengan tertawa.
“Kami menyebutnya memulung sebagai sebutan bekerja”
“Mengumpulkan apa saja yang bisa dijual”

.................................................. ...................

di Jakarta saat ini, sering kali kita temui pengemis yang sama sekali tak mengundang simpati,
karena cara mereka, punya tubuh gagah, males kerja, dan lebih milih mengulurkan tangan mereka.
namun masih ada satu dua orang yang memiliki cerita lain,
seperti yang saya copas di atas barusan.

ndableg
15-05-2011, 11:08 PM
mosok ada pengemis bertubuh gagah..? Ngemisnya ama tante2 girang kali ye... :))

ndableg
15-05-2011, 11:13 PM
Pernah baca di koran, ada pasutri pengemis yang sehari-harinya tinggal
di sebuah hotel kecil di Banda Aceh. Kalo mau kerja, ganti kostum lah
mereka. Akhirnya diringkus aparat. Keterlaluan deh.

Jangankan profesi pengemis, profesi wakil rakyat aja ada yg penipu..

Urzu 7
16-05-2011, 01:18 PM
Ada juga yg sengaja jadi pengemis karena faktor penghasilan jauh lebih besar..
Katakan sehari bisa dapat 50ribu jadi sebulan bisa 1,5juta..

GiKu
16-05-2011, 01:31 PM
mengemis agak sedikit lebih baik daripada mencuri apalagi mencuri uang negara :mrgreen:

apanya yg lebih baik ?

dari tulisan2 di atas, sepertinya banyak pengemis yg sejatinya adalah penipu

E = mc²
16-05-2011, 01:49 PM
di Bandung, saya pernah menjumpai seorang pengemis yg saat masih sepi, dia mengeluarkan henpong Nokia N73ME--yg saat itu (sekitar 3-4 tahunan lalu) merupakan kamera paling bergengsi yg beredar di pasaran.

Pengemis yg sering mangkal di depan kampus saya, setahunan yg lalu, pas saya mau mudik, ketemu di terminal--mengenakan jaket jeans baru dan menenteng tas travel yg masih bagus dan baru--tiba2 saja saya menyesal sudah pernah memberikan uang kepada ybs :ninja:

ancuur
16-05-2011, 03:42 PM
di lampu merah deket rumah di mall bekasi.. di pertigaan banyak banget tukang minta2 anak2, gw coba bilang: "Dik ikut om yuuk.. di rumah banyak temen2 yg kayak mau.. nanti adik gak usah minta2 lagi, di sana bisa belajar dan macem2 maenan banyak" .. alhasil setelah denger begitu, si anak kabur.. gak mau deketin mobil gw lagi..

so.. artinya mereka sudah kena brainwashing dari para bosnya.. yg drop dia disitu.. (klo gak percaya besok2 klo ketemu.. cobain bilang.. sama anak2 itu seperti yg gw bilang.. )

GiKu
16-05-2011, 03:53 PM
di lampu merah deket rumah di mall bekasi.. di pertigaan banyak banget tukang minta2 anak2, gw coba bilang: "Dik ikut om yuuk.. di rumah banyak temen2 yg kayak mau.. nanti adik gak usah minta2 lagi, di sana bisa belajar dan macem2 maenan banyak" .. alhasil setelah denger begitu, si anak kabur.. gak mau deketin mobil gw lagi..

so.. artinya mereka sudah kena brainwashing dari para bosnya.. yg drop dia disitu.. (klo gak percaya besok2 klo ketemu.. cobain bilang.. sama anak2 itu seperti yg gw bilang.. )

ooww...
itu loe ya

kalo tau gitu gw gak kabur

gogon
16-05-2011, 04:02 PM
penghasilan berlimpah itu mereka dapatkan dengan cara menjual harga diri
ya, mengemis berarti sudah tidak punya harga diri
tapi peduli setan dengan harga diri, mereka butuh uang.
itulah mengapa aku tak pernah mau ngasih uang lagi kepada pengemis
sejak bertahun2 yang lalu.

sekarang yg juga makin marak adalah pengamen cilik
ngamen di angkot, bawa gitar kecil
aku juga gak pernah ngasih
wong aku gak naik angkot...
tapi naik motor..
hehe..

ancuur
16-05-2011, 04:09 PM
ooww...
itu loe ya

kalo tau gitu gw gak kabur

makanya jgn suka mangkal di dpn mall bekasi... http://www.gifmix.net/3d-smiley.php?image=bad-3d-smilies/0058.gif

ndableg
16-05-2011, 04:25 PM
apanya yg lebih baik ?

dari tulisan2 di atas, sepertinya banyak pengemis yg sejatinya adalah penipu

Berapa kena tipunya sih? 100 rpiah? 500? 10000?

ndableg
16-05-2011, 04:28 PM
di Bandung, saya pernah menjumpai seorang pengemis yg saat masih sepi, dia mengeluarkan henpong Nokia N73ME--yg saat itu (sekitar 3-4 tahunan lalu) merupakan kamera paling bergengsi yg beredar di pasaran.

Pengemis yg sering mangkal di depan kampus saya, setahunan yg lalu, pas saya mau mudik, ketemu di terminal--mengenakan jaket jeans baru dan menenteng tas travel yg masih bagus dan baru--tiba2 saja saya menyesal sudah pernah memberikan uang kepada ybs :ninja:

Ya.. tetep itu hasil mengemis.. ngumpulin rupiah demi rupiah..
Beda dgn merampok.. Gw masih salut.. Karena kalo dibandingin dgn pengemis di belanda, duit mereka habis buat beli heroin.

GiKu
16-05-2011, 04:36 PM
mau dikembalikan ya bleg ?

asyiiik....

ancuur
16-05-2011, 04:38 PM
mau dikembalikan ya bleg ?

asyiiik....

antri di belakang giku ... :jempol:

ndableg
16-05-2011, 04:42 PM
Huehehehe.. abis dihujat, ditiru..

ancuur
16-05-2011, 04:44 PM
yah klo yg namanya mau bagi2 sedekah.. pasti ada yg antri...
inget gak pembagian sembako yg sampai menelan jiwa di berbagai tempat :cilukba:

E = mc²
16-05-2011, 07:43 PM
Ya.. tetep itu hasil mengemis.. ngumpulin rupiah demi rupiah..
Beda dgn merampok.. Gw masih salut.. Karena kalo dibandingin dgn pengemis di belanda, duit mereka habis buat beli heroin.

masalahnya, dlm menjalankan modus operandinya, mereka kan selalu berusaha tampil semenderita mungkin... apakah itu termasuk proses penipuan?

belum masalah geng yg buka penyewaan bayi buat disewa pengemis biar menambah kesan iba -_-

ndableg
16-05-2011, 10:28 PM
yea.. apa bedanya sama aktor/aktris filem? Musti acting juga toh? Lalu kalo kerja di helpdesk, musti senyum terus walaupun lagi sedih ato gondok dgn klien.. so.....

AsLan
17-05-2011, 02:45 AM
Aktor/aktris dan pesulap itu menipu tapi jujur mengakui bahwa mereka sedang menipu dan yang pasti ---> orang tidak dirugikan oleh penipuan mereka, malah dihibur.

Customer Service yg tersenyum saat gondok, itu juga tidak merugikan orang lain.

Tapi pengemis-penipu itu selain merugikan si penderma, mereka juga mencelakai image pengemis2 yg lain yg benar2 jujur sudah hopeless dan butuh bantuan. Gara2 mereka banyak orang tidak mau lagi menolong pengemis.


Saya jadi ingat kata2 seorang engkong yg sudah tua
"kamu jangan takut membantu orang yg kesusahan, meskipun ada kemungkinan kamu bisa ditipu olehnya, karena diantara banyak penipu2 itu ada juga orang yg benar2 kesusahan dan butuh bantuan"

AsLan
17-05-2011, 02:56 AM
Dari K@skus lagi............




pas ane lagi foto copy di samping kampus, ane liat ibu2 yang udah lansia a.k.a nenek2, kira2 umurnya 65-70thun, sambil jalan terpogoh2 bawa barang jualannya yaitu jambu biji dan jambu air. walaupun keliatannya berat+cape tapi nenek itu tetep senyum gan sambil jalan dan menjajakan dagangannya ke orang2 yang lalu lalang.
sementara di pinggir jalan itu ada bpak2+ibu2 yang umurnya lebih muda dan masih keliatan seger/sehat badannya duduk sambil menadahkan bekas minuman gelas(ngemis gan).
ane ngeliatnya miris gan,nenek2 yang udah 70thn(bdan krus,jlan bungkuk,masih mau usaha buat nyari uang,gak ngemis)padahal umur segitu harusnya tinggal uncang2 kaki di rumah(istirahat).akhirnya ada beberapa orang yang bantu nenek tersebut gan.
sedangkan yang ngemis merasa gak malu ngeliat nenek itu.
yang parahnya lagi gan, menurut tukang foto copy, pengemis itu pendapatan perharinya rp.70rb.(soalnya pas pulang duit recehan hasil ngemis ditukerin ke tukang foto copy buat kembalian)
ane kesel banget gan sama orang indo yang begitu
ane juga pernah ngeliat pengemis itu mkan dengan "lauk" yang buat ane aja lumayan mahal (biasanya ane makan pake tempe

ancuur
17-05-2011, 03:02 AM
Dari K@skus lagi............




pas ane lagi foto copy di samping kampus, ane liat ibu2 yang udah lansia a.k.a nenek2, kira2 umurnya 65-70thun, sambil jalan terpogoh2 bawa barang jualannya yaitu jambu biji dan jambu air. walaupun keliatannya berat+cape tapi nenek itu tetep senyum gan sambil jalan dan menjajakan dagangannya ke orang2 yang lalu lalang.
sementara di pinggir jalan itu ada bpak2+ibu2 yang umurnya lebih muda dan masih keliatan seger/sehat badannya duduk sambil menadahkan bekas minuman gelas(ngemis gan).
ane ngeliatnya miris gan,nenek2 yang udah 70thn(bdan krus,jlan bungkuk,masih mau usaha buat nyari uang,gak ngemis)padahal umur segitu harusnya tinggal uncang2 kaki di rumah(istirahat).akhirnya ada beberapa orang yang bantu nenek tersebut gan.
sedangkan yang ngemis merasa gak malu ngeliat nenek itu.
yang parahnya lagi gan, menurut tukang foto copy, pengemis itu pendapatan perharinya rp.70rb.(soalnya pas pulang duit recehan hasil ngemis ditukerin ke tukang foto copy buat kembalian)
ane kesel banget gan sama orang indo yang begitu
ane juga pernah ngeliat pengemis itu mkan dengan "lauk" yang buat ane aja lumayan mahal (biasanya ane makan pake tempe

http://infogue.com/upload/picture_1/20110420-123016_7955.jpg

ndableg
17-05-2011, 03:09 AM
Saya jadi ingat kata2 seorang engkong yg sudah tua
"kamu jangan takut membantu orang yg kesusahan, meskipun ada kemungkinan kamu bisa ditipu olehnya, karena diantara banyak penipu2 itu ada juga orang yg benar2 kesusahan dan butuh bantuan"

Yup.. lagipula orang menipu dengan cara mengemis apa bukan orang susah? Kalo enggak ud jadi penipu di DPR mereka..
Masalahnya orang berderma itu kadang ada maunya juga sih...

Lagian ngapain juga ngasih duit sama pengemis kalo ngerasa rugi? makanya kasih duit kecil aje.. yg penting iklas..

ndableg
17-05-2011, 03:16 AM
Dari K@skus lagi............




pas ane lagi foto copy di samping kampus, ane liat ibu2 yang udah lansia a.k.a nenek2, kira2 umurnya 65-70thun, sambil jalan terpogoh2 bawa barang jualannya yaitu jambu biji dan jambu air. walaupun keliatannya berat+cape tapi nenek itu tetep senyum gan sambil jalan dan menjajakan dagangannya ke orang2 yang lalu lalang.
sementara di pinggir jalan itu ada bpak2+ibu2 yang umurnya lebih muda dan masih keliatan seger/sehat badannya duduk sambil menadahkan bekas minuman gelas(ngemis gan).
ane ngeliatnya miris gan,nenek2 yang udah 70thn(bdan krus,jlan bungkuk,masih mau usaha buat nyari uang,gak ngemis)padahal umur segitu harusnya tinggal uncang2 kaki di rumah(istirahat).akhirnya ada beberapa orang yang bantu nenek tersebut gan.
sedangkan yang ngemis merasa gak malu ngeliat nenek itu.
yang parahnya lagi gan, menurut tukang foto copy, pengemis itu pendapatan perharinya rp.70rb.(soalnya pas pulang duit recehan hasil ngemis ditukerin ke tukang foto copy buat kembalian)
ane kesel banget gan sama orang indo yang begitu
ane juga pernah ngeliat pengemis itu mkan dengan "lauk" yang buat ane aja lumayan mahal (biasanya ane makan pake tempe

Sebenernya tingkah laku dan mentalitas spt ini kan meniru kaum yg lebih intelek dan punya kedudukan. Contohnya buruk ya jadinya buruk.
Yg dipikir, "Yg di atas aja tukang tipu, kenape gw kagak?"

E = mc²
17-05-2011, 08:39 AM
yea.. apa bedanya sama aktor/aktris filem? Musti acting juga toh? Lalu kalo kerja di helpdesk, musti senyum terus walaupun lagi sedih ato gondok dgn klien.. so.....

saya pikir, beda bgt antara aktor/pesulap/petugas CS dengan pengemis yg menipu. jika kita berakting mengatakan kondisi tubuh kita sehat agar saat ditanyakan kabar, ini kan gak menjadikan akting kita sama dengan pengemis. lagian, berapa persen sih pengemis yg murni ngemis karena keadaan dibanding karena pilihan? apalagi pengemis2 yg dikomando ma preman, dimana uang terbesar mengalir ke saku-saku preman

kecuali memberi ke pengamen (yg suaranya bagus atau sopan), saya sudah tidak memberikan uang di jalan-jalan lagi. lebih baik diberikan ke kotak amal/lembaga amal. lebih tepat sasaran dan mengurangi jumlah pengemis (bukan menambah pengemis. saya percaya bahwa jika kita ngasih uang ke pengemis, maka kita akan menambah pengemis baru.... )

Urzu 7
17-05-2011, 10:20 AM
Dari K@skus lagi............




pas ane lagi foto copy di samping kampus, ane liat ibu2 yang udah lansia a.k.a nenek2, kira2 umurnya 65-70thun, sambil jalan terpogoh2 bawa barang jualannya yaitu jambu biji dan jambu air. walaupun keliatannya berat+cape tapi nenek itu tetep senyum gan sambil jalan dan menjajakan dagangannya ke orang2 yang lalu lalang.
sementara di pinggir jalan itu ada bpak2+ibu2 yang umurnya lebih muda dan masih keliatan seger/sehat badannya duduk sambil menadahkan bekas minuman gelas(ngemis gan).
ane ngeliatnya miris gan,nenek2 yang udah 70thn(bdan krus,jlan bungkuk,masih mau usaha buat nyari uang,gak ngemis)padahal umur segitu harusnya tinggal uncang2 kaki di rumah(istirahat).akhirnya ada beberapa orang yang bantu nenek tersebut gan.
sedangkan yang ngemis merasa gak malu ngeliat nenek itu.
yang parahnya lagi gan, menurut tukang foto copy, pengemis itu pendapatan perharinya rp.70rb.(soalnya pas pulang duit recehan hasil ngemis ditukerin ke tukang foto copy buat kembalian)
ane kesel banget gan sama orang indo yang begitu
ane juga pernah ngeliat pengemis itu mkan dengan "lauk" yang buat ane aja lumayan mahal (biasanya ane makan pake tempe
ya benar...nenek itu paling gampang dapet duit ... karena itu kalo ada nenek yg dateng minta2 apalagi biasa lewat daerah itu ga bakal gw kasih

E = mc²
17-05-2011, 10:28 AM
oyah, hampir lupa. kakak saya pernah ngewawancarai seorang pengemis. pendapatan perharinya bisa nyampai 200rb/hari. rasanya gak adil jika bandingin dg pendapatan para buruh kuli angkut di pasar, para buruh petani di desa-desa yg garap lahan punya orang lain... :|

ndableg
18-05-2011, 01:55 AM
Ya bisa jadi.. tapi toh para buruh ga memilih menjadi pengemis.. karena pengemis adalah pekerjaan yg ......? titik2..

Tugas pemerintah meregulasi pengemis. Tapi apa daya..

AsLan
18-05-2011, 02:26 AM
Yup.. lagipula orang menipu dengan cara mengemis apa bukan orang susah? Kalo enggak ud jadi penipu di DPR mereka..
Masalahnya orang berderma itu kadang ada maunya juga sih...

Lagian ngapain juga ngasih duit sama pengemis kalo ngerasa rugi? makanya kasih duit kecil aje.. yg penting iklas..

Kita yg berkecukupan pasti punya keinginan membantu mereka yg kesusahan.
Masalahnya kalau uang derma kita masuk kantong yg salah, nanti yg benar2 butuh gak kebagian.

Anggaplah disepanjang jalan kita ketemu 5 pengemis, kita pilih 1 atau 2 yg kita kasi uang hari itu, sebisa mungkin harus terpilih orang2 yg benar2 susah.

AsLan
18-05-2011, 02:28 AM
oyah, hampir lupa. kakak saya pernah ngewawancarai seorang pengemis. pendapatan perharinya bisa nyampai 200rb/hari. rasanya gak adil jika bandingin dg pendapatan para buruh kuli angkut di pasar, para buruh petani di desa-desa yg garap lahan punya orang lain... :|

Buruh tani di kampung bayarannya kira2 Rp 20rb, itupun kerjanya benar2 capek.

ndableg
18-05-2011, 02:41 AM
Kita yg berkecukupan pasti punya keinginan membantu mereka yg kesusahan.
Masalahnya kalau uang derma kita masuk kantong yg salah, nanti yg benar2 butuh gak kebagian.

Anggaplah disepanjang jalan kita ketemu 5 pengemis, kita pilih 1 atau 2 yg kita kasi uang hari itu, sebisa mungkin harus terpilih orang2 yg benar2 susah.

Yah.. kalo gitu mending kagak usah ngasih sama sekali. Ketauan ga iklas kan?

Lagian bagaimana elu bisa tau kalo orang bener2 susah? Orang kaya aja ada idupnya stress... susah... apalagi mengemis, walaupun nipu.. tetep aja... pengemis.. Sudah cukup terlihat spt orang susah karena tidak tau cara menipu yg keliatan lebih elit dan lebih gede. Coba kasih duit sambil ngomong... "duh kesian ya kamu"

Tapi saya setuju kalo ada razia pengemis di indonesia.

AsLan
18-05-2011, 02:54 AM
Iklas apa gak ?

Kalau ngasi ke pengemis yg benar2 butuh, iklas.
Kalau ngasi ke penipu, gak iklas.

Jangan disama ratakan, jangan dibilang semuanya gak iklas.

ndableg
18-05-2011, 03:09 AM
T'rus gimana lu tau yg menipu mana yg nggak mana? kalo ga tau, keputusan mu apa?

AsLan
18-05-2011, 03:29 AM
ya seperti kata si engkong itu, kasi aja... itu kasusnya adalah kalau gak tau.

Tapi setelah banyak cerita2 pengemis penipu semacam di forum ini, kita harus lebih waspada menilai. Meskipun kita tidak takut ditipu, tapi kita tidak mau ditipu.

deddy
18-05-2011, 09:44 AM
pernah dikaltim di drop rombongan pengemis dari jawa ....... untungnya pihak satpol PP tegas jadi langsung diiangkut ke truk utk dipulangkan .... jadi saat ini bisa dikatakan bahwa dikotaku bebas dari pengemis, dan pengamen.....

Urzu 7
18-05-2011, 10:21 AM
gw ngasih ke pengemis cuma yg cacad fisik aja itu pun ga selalu ngasih ke orang yg sama

gogon
18-05-2011, 05:54 PM
gw ngasih ke pengemis cuma yg cacad fisik aja itu pun ga selalu ngasih ke orang yg sama

kira2 loe kepikiran ga, kenapa orang cacad bisa nyampe ke tempat mangkal tsb? ::elaugh::