PDA

View Full Version : Diterima Bupati, Pendemo Bangga



Junvie
29-04-2011, 01:32 PM
Sebanyak 30 orang warga Dusun Sawen Desa Tanjung Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik Jawa Timur, mengaku senang sekaligus bangga terhadap Bupati Gresik H Sambari Halim Radianto.

Pasalnya, kedatangan mereka ke kantor bupati, Kamis (28/4) siang adalah untuk berdemo terkait penutupan pembuangan limbah di dusun mereka oleh pemkab. Sebab selama ini, warga tersebut bekerja di industri tersebut.

Namun kedatangan mereka yang berniat demo, justru disambut sebaliknya oleh Bupati Sambari Halim Radianto. Pendemo malah diajak dialog di ruangan rapat di lantai dua. Tidak hanya itu, dalam suasana mewah kantor bupati pendemo malah disuguhi nasi kotak.

”Terus terang, kami senang sekaligus bangga terhadap bapak bupati Sambari. Niat kami ke sini adalah demo, tetapi justru disambut seperti tamu penting,” ujar Sudiono (46), juru bicara warga membuka dialog.

Mendengar itu, Bupati Sambari didampingi Sekkab M Najib dan Kepala Badan Lingkungan hidup Sumarno mengatakan, meski berniat demo semua yang datang adalah tamu dan warga Gresik sehingga sudah layak mendapat penghormatan. ”Saya rasa dengan dialog, kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada kekerasan,” pinta Bupati Sambari.

Sudiono mengaku keberatan dengan penutupan salah satu areal limbah diantara 2 areal limbah yang ada. Areal limbah yang ditutup tersebut lebih layak dibanding areal yang lain, “Kalau salah satu ditutup, keduanya harus ditutup,” pinta Sudiono.
news source (http://www.surya.co.id/berita_terkini/diterima-bupati-pendemo-bangga.html)
__________________________________________________ ____________________

Sudah selayaknya seorang kepala daerah menerima masyarakatnya dengan tangan terbuka. Daripada menghindar dengan alasan "Bapak lagi diluar kota" lebih baik disambut baik-baik.

Kebijakan bupati Gersik ini mengingatkan kepada Walikota Solo yang saat mau memindahkan lokasi PKL.


Menggusur Tanpa Pukul
Penertiban pedagang kaki lima hampir selalu dilakukan secara paksa. Saking seringnya terjadi, sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun angkat bicara. Inilah yang menggerakkan Wali Kota Solo, Joko Widodo, mencari solusi ideal.

Solo sempat dikenal memiliki masalah dengan peningkatan jumlah PKL yang semakin semrawut. Salah satunya adalah di kawasan Monumen '45 Banjarsari. Alih-alih menggusur mereka, Joko justru memilih melobi langsung para pedagang melalui makan bersama maupun diskusi. "Cara berbeda, jangan sampai dilakukan dengan penggusuran," kata Joko.

Meski bukan langkah yang mudah, usaha persuasif berhasil. Sekitar seribu pedagang mau dipindahkan dari Monumen '45 Banjarsari ke Pasar Klithikan Notoharjo. Proses itu dilakukan melalui kirab yang berlangsung meriah. Sebagai timbal balik, Jokowi, begitu panggilan Sang Wali Kota menyediakan kios gratis dan promosi.

Relokasi lainnya dilakukan kepada para PKL di Gladak Langen Bogan atau Galabo. Hasilnya, kota menjadi jauh lebih tertata. Langkah berikutnya adalah memindahkan atau merapikan sekitar 30 lebih lokasi PKL lain.

Sejauh ini semua langkah sesuai dengan visi Sang Wali Kota, menjadikan Solo sebagai kota budaya dimana warganya bangga dengan sejarah dan tradisi sejak lahir. Maka makin solidlah dukungan bagi Jokowi yang juga berlatar belakang pengusaha perabotan. Bahkan dari mereka yang semula menentangnya

E = mc˛
29-04-2011, 02:00 PM
Saya prihatin... rakdjat baru pertamakali makan nasi kotak. *sebeye mode: on*

jd pengen demo... lumayan dapat nasi kotak gratis :ninja:

Junvie
29-04-2011, 02:06 PM
^ bayarannya dobel ya om...dari kordinator plus dari bupati..:))

mending dikasih makanlah daripada digebugin...

indraprime
29-04-2011, 02:38 PM
contoh bupati yang baik :)

BundaNa
29-04-2011, 04:23 PM
jangan2 itu yg demo disetir orangnya bupati *teori konspirasi mode on* =))

gembel
29-04-2011, 04:27 PM
terlepas dari prasangka buruk, salut lah buat pak bupati :mrgreen:

beastmen85
29-04-2011, 05:19 PM
jangan2 itu yg demo disetir orangnya bupati *teori konspirasi mode on* =))

^ this :))

AsLan
29-04-2011, 09:38 PM
Kalau di kota kecil gampang ketauan koq, mana pendemo yg tulus mana pendemo bayaran.

Kasus diatas itu sepertinya memang warga kota tersebut secara tulus mau menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, lalu diterima dengan baik.
Kalau preman2 yg disuap jadi pendemo lalu diterima masuk kantor jangan2 malah diobrak abrik kantornya.

Junvie
01-05-2011, 03:39 AM
sayangnya banyak demo sekarang yg berpotensi ricuh. Terutama kalo ada 3 unsur ini didalamnya:

- Pihak yang bermain, seperti: provokator, perusahaan, partai, ormas
- pendemo yg disetir/bayaran, biasanya rusuh dan anarkis
- pemerintah, aparat, perusahaan yang represif
hasil dari demo2 sejenis ini membuat masyarakat jadi apatis ma demo-demoan.

Sauron
01-05-2011, 06:31 PM
Kadang-kadang yang lebih tragis, kalau ada masyarakat yang berdemo. Tapi ga ngerti apa yang sebenarnya lagi didemoin. Cuman ngikut teriak sana teriak sini.

cha_n
01-05-2011, 07:58 PM
like this!
gini harusnya pejabat, pejabat itu pelayan masyarakat yang dipimpinnya, bukan sbaliknya