PDA

View Full Version : Kisah Poros Tengah



mbok jamu
27-09-2013, 06:45 PM
JAKARTA, KOMPAS.com — Wacana koalisi partai Islam menjelang Pemilu 2014, sering disebut Poros Tengah Jilid II, kembali mengemuka sejak beberapa waktu lalu. Ini bermula saat pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengungkapkan bahwa saat ini merupakan peluang terbaik bagi partai-partai Islam untuk berkoalisi mengusung seorang calon presiden.

"Mungkin partai Islam tidak punya sejarah untuk berkoalisi dan menyodorkan satu calon. Ini saatnya, kalau ini terjadi, luar biasa sekali," kata Siti Zuhro, dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2013).

Salah satu nama yang dimunculkan berpotensi sebagai kandidat capres yang diusung koalisi partai-partai Islam adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, Bachtiar Ali, mengatakan, langkah Mahfud MD menolak ikut Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat seharusnya bisa menjadi pertimbangan partai-partai Islam untuk berkoalisi mengusungnya menjadi calon presiden. Menurutnya, hal ini bisa menguntungkan keduanya, baik koalisi partai maupun Mahfud.

"Saya kira dengan melakukan sosialisasi intens, itu caranya, tidak ada alternatif lain, kecuali melalui koalisi partai Islam karena Pak Mahfud batal ikut konvensi," kata Bachtiar.

Menurut Bachtiar, Mahfud pantas diusung menjadi calon presiden oleh semua partai Islam karena mengerti permasalahan Indonesia, memiliki solusi yang bertumpu pada penegakan hukum, dan berintegritas. Mahfud dinilai lebih menjanjikan karena memiliki basis politik di PKB dan basis sosial di Nahdlatul Ulama.

Dalam perhitungannya, bila partai-partai Islam berkoalisi, perolehan suaranya mencapai lebih dari 20 persen suara nasional. Namun, Bachtiar mengakui, koalisi partai Islam tak mudah dilakukan karena belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Poros Tengah Jilid II

Saat berkunjung ke Redaksi Kompas.com, Kamis (19/9/2013), Mahfud MD mengaku tak terlalu sepakat dengan penyebutan koalisi partai-partai Islam alias Poros Tengah. Menurutnya, koalisi partai Islam sebenarnya sudah tidak lagi relevan melihat perkembangan situasi politik Tanah Air saat ini.

"Agak sulit mengatakan koalisi partai Islam. Islam dalam hal apanya? Apakah identitas ideologi yang membedakan? Menurut saya, identitas atau sekat ideologi itu tidak ada lagi seiring perkembangan politik yang baik. Sekarang, ada partai religius-nasionalis, nasionalis-religius. Apakah partai yang religiusnya di depan itu yang disebut partai Islam?" paparnya.

Kemudian, ia mencontohkan, di Papua, PKS berkoalisi dengan partai Katolik, Partai Katolik Demokrat Indonesia.

"PDI-P yang berbenturan dengan Demokrat di pusat, di daerah bisa berkoalisi. Demikian juga dengan PKB. Artinya, ini suatu perkembangan politik yang sangat bagus dan tidak disadari banyak orang terjadi dengan sendirinya. Bersatu dan kemudian sekat ideologis itu hilang," ungkap Mahfud.

Terkait komunikasi antarpartai Islam, Mahfud mengungkapkan, pertemuan partai politik dan ormas Islam berlangsung setiap dua minggu sekali sejak awal 2013. Namun, tak hanya para politisi dan tokoh dari ormas Islam, forum ini juga diikuti oleh politisi Partai Golkar Priyo Budi Santoso.

"Sebenarnya, ini sudah ada dari sejak awal 2013, sudah ada pertemuan-pertemuan itu. Tapi, memang tidak ada istilah Poros Tengah, pengamat yang kemudian menamakan ini. Tokohnya tidak hanya tokoh parpol Islam, tetapi juga Priyo Budi dari Golkar juga hadir," ujar Mahfud.

Mahfud mengatakan, forum ini awalnya dimotori oleh Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional Amien Rais dan tokoh kiai dari Partai Kebangkitan Bangsa Nur Muhammad Iskandar. Selain kedua tokoh itu, forum, kata Mahfud, juga dihadiri oleh Viva Yoga Mauladi (PAN), Kiflan Zein (PPP), Amidhan (MUI), Saleh Daud (Nahdlatul Ulama), dan perwakilan dari KAHMI.

"Jadi, ini forum lintas ormas dan parpol Islam. Waktu itu memang gagasannya bagaimana organisasi Islam bersatu dan mengajukan calonnya, itu gagasannya. Diskusi pun dilakukan terkait kriteria kepemimpinan ke depan dan selalu dipimpin Amien Rais," ungkap Mahfud.

"Mentok" saat bicara nama

Dalam perjalanannya, kata Mahfud, niat awal forum itu untuk memunculkan satu nama yang bisa diusung partai politik dan ormas Islam berjalan tak mulus. Menurutnya, kekikukan terjadi ketika diskusi membahas nama-nama yang dianggap layak sebagai capres.

"Jadi, ketika sudah bicara nama, sudah mulai agak kikuk karena setiap orang di sana sudah ada jagoannya," kata Mahfud.

Setelah itu, diskusi tak lagi membahas soal pencapresan. Tetapi, fokus membahas masalah bangsa. Ia mencontohkan, kasus-kasus Migas, Papua, dan Aceh juga turut didiskusikan dalam forum tersebut.

"Isu pencapresan ini pun akhirnya menjadi cair, lalu kemudian saya menyatakan tak ikut Konvensi Partai Demokrat," ujar Mahfud.

Koalisi partai Islam, mungkinkah?

Sebelumnya, sejumlah partai Islam, seperti Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Keadilan Sejahtera, serta ormas Muhammadiyah menyambut baik wacana koalisi partai Islam. (http://nasional.kompas.com/read/2013/09/02/2018187/Koalisi.Partai.Islam.Usung.Mahfud.MD.Sulit.Terwuju d)

Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin bahkan menyerukan seluruh partai Islam untuk bersatu dan merumuskan strategi bersama menghadapi Pemilu 2014. Jika partai Islam "ngotot" maju sendiri-sendiri, partai Islam berpotensi ditinggalkan pendukungnya.

"Saya sudah lama mengusulkan agar partai-partai Islam duduk bersama membangun koalisi strategis. Jangan menonjolkan keakuan yang justru merugikan umat. Dan kalau itu dilakukan, justru tidak mustahil mereka ditinggalkan," ujar Din di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2013).

Ia mengatakan, partai-partai yang memboyong ideologi Islam harus bermusyawarah memutuskan sikap politiknya dan arah dukungannya pada calon presiden (capres) tertentu. Capres tersebut, menurutnya, bisa saja dari partai Islam. Namun, katanya, tidak tertutup kemungkinan partai Islam menjagokan capres yang tidak berlatar belakang partai Islam.

"Terserah mereka. Kalau sudah duduk bersama, bermusyawarah, capres bisa diambil dari partai Islam, bisa dari luar, entah siapa pun," tegas Din.

Sementara itu, anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jazuli Juwaini, mengungkapkan keinginannya agar partai-partai Islam bersatu dan mengusung satu calon presiden pada pemilihan presiden tahun depan. Untuk menentukan tokoh yang diusung, ia mengusulkan agar partai-partai Islam melakukan seleksi bersama untuk mengerucutkan dan memilih tokoh yang mencuat.

Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyambut baik wacana koalisi partai-partai Islam untuk mengusung calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014. Menurutnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD merupakan salah satu tokoh yang layak diusung sebagai calon presiden dari koalisi partai Islam.

Dari PPP, anggota Dewan Pakar Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ahmad Yani, mengatakan, koalisi partai-partai Islam untuk mengusung seorang calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014 harus direalisasikan. Menurutnya, koalisi itu tidak hanya membawa keuntungan politik, tetapi juga sebagai bentuk persatuan partai-partai Islam.

---------- Post Merged at 08:45 PM ----------


Poros Tengah Jilid I, seperti yang ditulis @kandalf (http://www.kopimaya.com/forum/member.php?u=41)

Jangan salah, partai-partai seperti PAN, PBB, dan PK punya calon presiden sendiri. PAN punya capres Amien Rais, PBB punya capres Yusril Ihza Mahendra, PK punya calon Didin Hafidhudin. Waktu itu, Kang Didin cakep deh dengan jenggot tebalnya.. gak kalah macho dengan Bang Raden Haji Oma Irama.

Tapi kalau nekad mengajukan capres sendiri, percuma. Jadi dengan semangat "asalkan bukan Mega" (ABM), Amien Rais punya ide sangat brilian, yang ketika aku mendengarnya aku mau muntah-muntah, dan aku ngamuk di mushola Babul Jannah di depan kawan-kawan liqa. Ide briliannya adalah ... partai-partai Islam bersatu dan memilih musuh besar mereka sebagai capres... siapakah musuh besar partai-partai Islam saat itu? KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.


Benar, brilian!
Dengan mengajukan nama Gus Dur, mau gak mau sekutu utama PDIP saat itu, PKB berpikir ulang dan menarik dukungan. Biar bagaimanapun Gus Dur adalah pendiri PKB.

Tapi juga MENJIJIKKAN!
Karena di kampanye-kampanye Partai Keadilan, di kampanye-kampanye Partai Bulan Bintang, selalu ada buku-buku berjudul Bahaya Pemikiran Gus Dur yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz.

Jadi sebenarnya sudah sangat bisa ditebak kalau Gus Dur pasti akan diturunkan di tengah-tengah masa jabatannya. Karena Gus Dur dulu dipilih oleh Amien Rais dan para pejabat partai-partai Islam untuk menghindari dilema Mega vs Habibie.

Jadilah ada tiga calon seimbang: Megawati, Gus Dur, Habibie.

Kemudian saat pidato pertanggungjawaban, baik pendukung Mega maupun pendukung Gus Dur sama-sama menolak pidato.
Habibie, kemudian memutuskan untuk TIDAK BERSEDIA DICALONKAN KEMBALI SEBAGAI PRESIDEN!

Dan malam itu juga, Akbar Tanjung, ketua Partai Golkar saat itu, dikeroyok, digebukin oleh kader-kader Golkar dari Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Nah, ke manakah suara PPP dan Golkar pasca penolakan Habibie?
Sudah bisa ditebak.. ke Gus Dur.

BundaNa
27-09-2013, 06:51 PM
^mbok...mungkin gak poros tengah jilid 2 itu mau bikin "asal jangan jokowi"?

choodee
27-09-2013, 07:01 PM
Kenapa ya mreka ga maw jokowi, padahal kan jokowi islam

kandalf
27-09-2013, 07:07 PM
Jokowi kan belum tentu mau jadi presiden.

Yang jelas kemungkinan cukup kuat adalah capres dari Gerindra, Prabowo.
Masih belum jelas siapa yang akan muncul dari Demokrat dan PDIP.

Hatta Rajasa setahuku jadi capres PAN tetapi dengan kondisi PAN sekarang terlalu sulit untuk mengandalkan PAN saja, apalagi kemarin Hatta Rajasa tidak ikut konvensi berarti tidak mengandalkan kekuatan Demokrat. Eh.. ngomong2, hubungan Hatta Rajasa dengan Pengajian Nurussalam SBY itu apa ya?

Poros tengah pertama lebih gampang terbentuk karena dua kekuatan utama sudah bisa ditebak.
Sementara hasil pemilu juga sudah ada, jumlah kursi jelas. Itu sebabnya memilih capres-nya juga mudah, untuk menarik pemilik kursi terbanyak ketiga.

Sampai hasil konvensi Demokrat jelas dan keputusan PDIP sudah ada, terlalu dini kalau mau buat poros-porosan dengan asas "asal jangan si fulan jadi presiden".
Lain cerita kalau pengen 'menyatukan partai dengan asas sama' walau, lagi-lagi perlu dipertanyakan definisinya.

BundaNa
27-09-2013, 07:16 PM
Kenapa ya mreka ga maw jokowi, padahal kan jokowi islam

Itu cuma pertanyaan selewat, kog. Mengingat dulu poros tengah jilid 1 solid banget ketika ingin menggusur megawati. Ya kira2 yang jilid 2 ini agenda utamanya apa? mau sama2 mengusung siapa buat capres? mengingat lagi masih ada "dendam" mungkin di pilkada DKI kemaren, orang2 anti jokowi mencoba memanfaatkan semua celah.

jadi inget, ada situs voice of islam...gila disana parah banget kalau jelek2in jokowi

ndableg
27-09-2013, 08:02 PM
T'rus pilihan mereka siapa? Rhoma irama atau.... johny iskandar?

choodee
27-09-2013, 08:08 PM
Baru sadar, mahfud md orang pkb, lah pkb kenapa kejauhan nyalonin roma irama sih ::doh::

pasingsingan
27-09-2013, 08:30 PM
dulu (jaman presiden dipilih parlemen) emang bisa muncul kongkalikong model poros tengah
sekarang?, jelas gak bisalah make taktik semacam itu lagi, wong presiden dipilh langsung kok

katakanlah seorang capres hanya didukung oleh satu parti, trus partai lainnya pada gak dukung
klo capres dimaksud diinginkan/disukai mayoritas rakyat, bisa aja menang suara kan?

mbok jamu
27-09-2013, 09:21 PM
^mbok...mungkin gak poros tengah jilid 2 itu mau bikin "asal jangan jokowi"?

Asal jangan Jokowi, atau Asal jangan PDI?

---------- Post Merged at 11:21 PM ----------


Kenapa ya mreka ga maw jokowi, padahal kan jokowi islam

Mungkin karena melihat siapa yang di belakang Jokowi sekarang?

Ngomong-ngomong, Jokowi tadinya memang dari PDI atau baru digandeng?

tuscany
27-09-2013, 09:24 PM
gile....daku ketinggalan bloodie bath episode dua di warung sebelah. sekarang warungnya kena gembok dah
*nangis guling-guling

kalo jokowi memang jagoan PDIP, memang statusnya lebih baik tidak dibikin jelas dulu.

Ronggolawe
27-09-2013, 11:39 PM
Jokowi itu tidak murni kader PDIP, dia cuma pengusa
ha yang diusulkan PDIP sebagai balon walikota Solo,
nah PDIP kebagian durian runtuh, karena ternyata Jo
kowi punya kinerja yang sangat bagus.

Masalahnya PDIP sendiri meski berlabel Demokrasi, cu
ma partai feodal yang tidak berani maju melepaskan
diri dari trah Soekarno, padahal ada Maurarar, ada ju
ga Ganjar, tapi malah tokoh penting PDIP masih men
coba memajukan Puan, yang sampai sekarang gw ngga
pernah dengar dia diwawancarai soal perkara apapun,
padahal dia anggota DPR RI :)

---------- Post Merged at 10:28 PM ----------

Mahfud MD bukan orang PKB, melainkan orang Gus
Dur, sama seperti AS Hikam. Dan PKB saat ini yang
dipimpin oleh Muhaimin, meski keponakan Gus Dur,
namun sudah "meng-kudeta" Gus Dur dari jabatan
Ketua Dewan Syuro PKB (the True Power of PKB
saat itu, persis Ketua Dewan Pembina Demokrat,
saat Anas jadi Ketua Umum).

---------- Post Merged at 10:31 PM ----------

Sekarang ini Umat Islam (baca pemimpi romantisme)
poros tengah, sebaiknya fokus saja merebut jabatan
wapres-nya Jokowi (dan wacana ini sudah dilempar
oleh Surya Dharma Ali sumber (http://www.aktualpost.com/2013/07/04/2807/jokowi-dan-suryadharma-ali-jadi-pasangan-capres-cawapres/#.UkWkd3_4IzQ) ) karena itu adalah
pilihan yang paling realistis dan bermartabat bagi u
mat Islam.

---------- Post Merged at 10:39 PM ----------

oh ya, Gus Dur diturunkan, karena dianggap melang
gar Konstitusi, yaitu mengganti Kapolri (Suroyo Biman
toro) dengan Chaerudin Ismail, tanpa persetujuan
DPR.

waktu itu sampai rebutan tongkat komando kapolri, se
olah-olah tongkat komando itu cuma satu biji, dan me
ngandung tuah kesaktian :)

cha_n
28-09-2013, 12:33 AM
wacana poros tengah (islam) ini kan kemaren udah diangkat oleh pks. ditawarkan ke semua partai yang dianggap islami, pkb, ppp, pan, semua menolak mentah2.

tapi ya ga tau juga kedepannya namanya politik bisa saja berubah

cha_n
28-09-2013, 12:40 AM
gile....daku ketinggalan bloodie bath episode dua di warung sebelah. sekarang warungnya kena gembok dah
*nangis guling-guling

kalo jokowi memang jagoan PDIP, memang statusnya lebih baik tidak dibikin jelas dulu.

pukpukpuk... sabar ya tuscy. nantikan episode yang berikutnya *kalo ada* xixixi


jokowi udah pasti jadi jagoan pdip walo bukan jadi presiden. pas ada pilkada kemana2 pasti diajak kampanye

BundaNa
28-09-2013, 09:43 AM
^tapi sukses kemaren di pilkada jateng, jokowi jadi jurkamnya ganjar pranowo. Jadi deh sekarang ganjar gubernur jateng *gwe juga milih ganjar sih, abis pilihannya ganjar sama bibit....ya milih ganjar deh

PDIP sekarang sedang mengusung orang muda jadi pemimpin. Ini disukai oleh generasi muda. PDIP diajak kumpul2 poros tengah ga ya?

danalingga
28-09-2013, 09:47 AM
PDIP keknya jalan talent scoutnya ya?

Selain Jokowi, itu ibu Risma juga diangkat tuh. Walikota Surabaya kan ya?

tuscany
28-09-2013, 01:10 PM
Ibu Risma bukan kader, tapi dicalonkan oleh PDIP jadi walikota karena kinerjanya sebagai kepala dinas pertamanan sungguh cemerlang. kalo elit asli PDIP yang muda macam Puan belom ada keliatan prestasi apa2. Katanya Prananda lebih banyak wawasan dan main di belakang layar. Tapi untuk jadi pemimpin level nasional masih jauh lah. Coba jadi gubernur dulu mereka itu, jadi kinerjanya keliatan.

Btw, Rieke Pitaloka kalah kok walo Jokowi jadi jurkam. Bukan semata faktor Jokowi, tapi balik ke kualitas calon yang diusung. Kalo Mega maju dan Jokowi jadi jurkam, aku yho ogah pilih Mega.

BundaNa
28-09-2013, 01:26 PM
jokowi juga bukan kader kog awalnya. Kayaknya kemaren jago PDIP di cagub jatim juga kalah...siapa ya?

ancuur
28-09-2013, 01:41 PM
Btw, Rieke Pitaloka kalah kok walo Jokowi jadi jurkam. Bukan semata faktor Jokowi, tapi balik ke kualitas calon yang diusung. Kalo Mega maju dan Jokowi jadi jurkam, aku yho ogah pilih Mega.

setubuh sama komen yang ini :jempol:
note: oneng.. ngeliatnya aja kepengen muntah ::hihi::

mbok jamu
28-09-2013, 09:30 PM
Kenapa partai-partai Islam ndak bisa berkoalisi?

BundaNa
28-09-2013, 10:15 PM
Bisa kog mbok berkoalisi, asal satu kepentingan macam poros tengah edisi 1

Neptunus
28-09-2013, 11:22 PM
BundaNa : koalisi jilid satu nya kan karena 'terpaksa' jadi satu kepentingan. Dengan melanggar idealismenya mereka sendiri (pikiran2 Gus Dur terutama ttg pluralusme ditentang) :D

Nah bisakah mereka koalisi TANPA melanggar idealisme mereka?

cha_n
28-09-2013, 11:39 PM
kondisi saat ini partai2 islam punya agenda masing2.
terlebih kemaren yang nawarin koalisi adalah pks dimana partai ini lagi disorot dan dicap buruk di masyarakat, partai lain pada kabur lah didekati, takut dianggep buruk juga

BundaNa
29-09-2013, 01:19 AM
^tapi kalau kepentingannya sama...asal jangan PDIP umpamanya lho. Mengingat bukan Jokowi yang jadi keberataan mereka, tapi Puan Maharani yang dipaksa masuk jadi cawapres...kan bisa aja. Siapa sih yang dulu nyana poros tengah jilid 1 mencapreskan Gus Dur? Karena PKS, PAN dan Golkar punya capres sendiri2. Seandainya waktu itu Habibie ngotot tetep nyalon, Golkar pasti mau jadi kendaraannya kan?

Saya ingat omongannya si kumis yang sekarang disel, "Dalam politik itu tidak ada kawan yang abadi. Adanya kepentingan yang abadi."

Ya...apa aja bisa terjadi

mbok jamu
29-09-2013, 09:08 AM
Betul, yang seperti disebutkan Neptun yang mbok maksud. Berkoalisi dengan satu kepentingan yang ndak melanggar idealisme mereka.

Ada yang bilang koalisi itu ndak akan pernah tercapai karena partai-parti itu sendiri punya mahzab yang berbeda-beda. Is that really the case atau alasan saja, karena toh tiap partai dan para anggotanya punya agenda masing-masing (seperti Chan tulis).

Kata "Islam" dalam istilah Koalisi Partai Islam, apakah masih relevan?

cha_n
29-09-2013, 11:54 AM
iya, seperti yang sudah kutulis sebelumnya, saat ini masih blom busa menyatu karena masih beda kepentingan. tapi kita ga tahu ntarnya.
pks menawarkan "islam" sebenarnya untuk mencari benang merah kepentingan yang sama.