View Full Version : Kedelai Lokal, Kerikil, dan Impor
kandalf
09-09-2013, 04:54 PM
Rasanya beberapa tahun lalu, aku pernah membaca sebuah wawancara pengrajin tahu di Kediri yang mengatakan alasan mengapa ia menggunakan kedelai impor. Seingatku alasannya adalah karena kedelai lokal sering dicampur dengan kerikil sehingga merusak mesinnya. Awalnya ia sempat menyuruh pegawainya untuk menyaring kedelai dengan kerikil yang dicampur tetapi lama-lama karena tidak produktif akhirnya dia memilih kedelai impor.
Saya tidak bisa menemukan kembali wawancara tersebut.
Sebagai gantinya saya menemukan artikel tahun lalu.
http://www.tempo.co/read/news/2012/07/27/058419650/Harga-Naik-Kedelai-Malah-Dicampur-Kerikil
Melambungnya harga kedelai memicu kenakalan tengkulak, pemasok, dan pedagang perantara. Sejumlah pedagang kedelai di pasar tradisional Kediri, Jawa Timur, mengeluhkan banyaknya batu kerikil yang dicampur dalam kedelai.
Hariani, pedagang kedelai di Pasar Pamenang, Kecamatan Pare, Kediri, mengatakan sejak beberapa hari terakhir kualitas kedelai yang dia terima dari pemasok cukup jelek. Dalam satu sak kedelai dengan kapasitas 50 kilogram, ditemukan campuran kerikil di antara butiran kedelai. "Bisa sampai seperempat kilo batunya," kata Hariani, Jumat 27 Juli 2012.
Batu kerikil itu dicampurkan dalam sak kedelai oleh pemasok. Hal itu baru diketahui setelah pedagang membongkar kedelai di lapak dan menghitungnya. Mereka menemukan kerikil di antara butiran kedelai hingga mengurangi berat bersih.
Coba kita lihat versi Metro TV soal keengganan memakai kedelai lokal
http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/09/08/6/182778/Pengusaha-Tahu-Tempe-enggan-Gunakan-Kedelai-Lokal
Meski demikian, perajin tahu dan tempe tak beralih ke kedelai lokal. Menurut mereka, kedelai impor memiliki kadar air tak sebanyak jenis impor. Sehingga mengelola kedelai lokal lebih lama dan mahal ketimbang jenis impor.
Padahal di artikel tahun lalu dinyatakan
Namun bagi sebagian perajin tahu, kedelai lokal masih dianggap lebih bagus. Sebab kedelai itu bisa dihaluskan untuk kemudian disaring. "Jadi yang diambil sarinya saja," kata Mariono, perajin tahu.
Di artikel Republika di bulan ini juga dikatan bahwa kedelai lokal lebih bagus tetapi tidak ada stoknya.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/07/msr4dz-perajin-tempe-kedelai-lokal-lebih-bagus
Ketua II Gabungan Koperasi Pengerajin Tahu Tempe, Sutaryo, mengatakan, "Kan kedelai sebenarnya lebih bagus kedelai lokal. Tapi karena tidak ada, makanya kami pakai yang impor," ujar Sutaryo di Diskusi tentang kedelai bertema Lunglai karena Kedelai, Sabtu (7/9).
Menurut Sutaryo, 80 persen kebutuhan kedelai nasional yang menyerap adalah pengerajin tempe dan tahu. Sisanya, 15 persen digunakan kebutuhan lain.
Pemerintah, menyatakan ada produksi kedelai lokal. Tapi, faktanya di pasar yang ada adalah kedelai impor. Tentu, harganya mengikuti nilai dolar.
Artinya, alasan yang dikemukakan di Metro TV tentang kualitas kedelai lokal mungkin tidak benar dan sekedar 'penyembunyian keengganan pengusaha tempe-tahu menggunakan kedelai lokal'.
Jadi
sebenarnya salah siapa kita ketergantungan kedelai impor?
Ngomong2, ini berita lain dari tahun lalu tentang kerikil dan kedelai lokal.
Sumbernya Antara
http://www.antarabali.com/berita/25923/kontribusi-kedelai-lokal-minim
Kedelai impor kualitasnya lebih baik, bersih, dan mengembang lebih besar untuk dijadikan bahan baku tempe. Sementara kedele lokal kurang bersih, bahkan kadang bercampur dengan kerikil
---------- Post Merged at 05:54 PM ----------
Colek2 orang yang punya sangkut dengan pertanian. cha_n, david faisal, noodles maniac
tuscany
09-09-2013, 05:23 PM
pemasoknya kurang ajar dong kalo gitu. atau ada permainan yang lebih tinggi ya...
porcupine
09-09-2013, 05:32 PM
Tapi bersadarkan interview ku dengan @Redhair minggu lalu di angkringan, doi bilang kalau kualitas kedelai lokal ngga bagus kalo dibikin Tahu ::ungg::
kandalf
09-09-2013, 05:38 PM
Nah, mBak red>,<hair, mohon pencerahannya.
Apakah kedelai lokal gak bagus dibikin tahu?
jangan2 sama seperti ngomongin beras
jenisnya ada banyak
yg gak bagus tuh yg mana aja
Silvercheeks
09-09-2013, 06:57 PM
emg kualitas kedelai lokal ga bisa ditingkatkan ya? kok sampe impor?
ancuur
09-09-2013, 07:11 PM
semua permainan orang maruk, kita do'ain aja biar matinya gak bisa dikubur.. ::doa::
bayangin kalau kedelai campur krikil yang makan apa giginya gak rontok tuh .. gila banged dah ::doh::
Tapi bersadarkan interview ku dengan @Redhair minggu lalu di angkringan, doi bilang kalau kualitas kedelai lokal ngga bagus kalo dibikin Tahu ::ungg::
padahal itu katanya ngga full lokal lo, cuma dicampuri kedelai lokal, hasilnya tetep ga bagus.. ::ungg::
itsreza
09-09-2013, 11:41 PM
masalah kedelai di Indonesia lebih utama bukan kualitas, tapi kuantitas
produksi kedelai lokal masih kurang, jauh dibawah yang dibutuhkan
urusan kualitas sih dipengaruhi banyak faktor, tapi selama memenuhi
standar, kualitasnya bisa diadu dengan impor kok
semua permainan orang maruk, kita do'ain aja biar matinya gak bisa dikubur.. ::doa::
bayangin kalau kedelai campur krikil yang makan apa giginya gak rontok tuh .. gila banged dah ::doh::
Hihihihi...
Om , saya beli tempe di pasar ato di pedagang sayur yang naek motor , ga pernah lo dapet tempe kerikil :D
Paling bedanya ya rasa tempenya. Ada yang ga enak , ada yang enak.
Sekarang susah cari tahu tempe. Kecuali di supermarket yang emang udah nyetok banyak.
cha_n
10-09-2013, 12:28 AM
kalau kata mas david, indonesia sebenarnya ga cocok untuk tanaman kedelai. bagus itu di negara 4 musim. mau diapain juga kualitasnya bakal susah dinaikkan, kalaupun bisa dinaikkan bakal ga efisien dari segi biaya.
Silvercheeks
10-09-2013, 12:32 AM
padahal tempe di Malang sini enak lho ;D
apa itu juga impor ya? ;D
Dulu pernah ngobrol sama pengrajin sari/susu kedelai, kalo gak salah
ingat dia bilang kedelai lokal lebih kecil dan lebih keras dibandingkan
dengan kedelai luar. Jadi gak cocok dijadiin bahan baku susu kedelai..
itsreza
10-09-2013, 12:49 AM
bener tuh bu, salah satu penyebab produksi kedelai rendah karena
iklim, mau gimana juga pasti kalah dengan negara produsen di subtropis
urusan efisiensi produksi dibanding jumlah lahan, sebenarnya lebih efisien
cuma lahan disini sendiri terbatas, bibit pupuk mahal, panen dikeringkan,
harga jual fluktuatif, jadi relatif sedikit petani yang mau tanam kedelai,
lebih pilih komoditi pertanian lain yang lebih bernilai tinggi dan/atau lebih
mudah ditanam e.g. kelapa sawit
ancuur
10-09-2013, 12:54 AM
Hihihihi...
Om , saya beli tempe di pasar ato di pedagang sayur yang naek motor , ga pernah lo dapet tempe kerikil :D
Paling bedanya ya rasa tempenya. Ada yang ga enak , ada yang enak.
Sekarang susah cari tahu tempe. Kecuali di supermarket yang emang udah nyetok banyak.
lily betul sekali :jempol:
aku paling suka banget sama tahu/tempe,
di medan lebih parah loh.. aku selalu beli dari langganan yg datang pakai
speda motor agak mahal sih.. tapi bisa dapetin yg bagus, klo di pasar2 parah !!!
itsreza
10-09-2013, 12:58 AM
bahas tempe, jadi pengen makan tempe mendoan atau tempe kemul malem-malem ::cabul::
itsreza
10-09-2013, 01:10 AM
tempe goreng om
Ronggolawe
10-09-2013, 07:15 AM
Tahu Tempe bukan makanan asli Indonesia, termasuk
kedelainya, bukan holtikultura asli, dan sepertinya pihak
luar (ngga tahu belanda ngga tahu siapa) berhasil mem
buat bangsa Indonesia mencandu pada produk yang ngga
bisa diproduksi sendiri..
Persis Outcast yang meracuni seluruh Sektor Sirius de
nga candu Cardamine :)
danalingga
10-09-2013, 07:19 AM
Hem ... berarti selama ini telah telah salah kaprah menjadikan tahu dan tempe sebagai makanan rakyat.
Bahannya nggak bisa tumbuh baik di Indonesia.
Kenapa nggak yang berbahan padi, singkong, sagu, atau ikan saja ya yang jadi makanan rakyat?
choodee
10-09-2013, 10:24 AM
Tempe itu lauk rakyat
kandalf
10-09-2013, 11:20 AM
Nasi itu juga bukan asli Indonesia.
cha_n
10-09-2013, 11:25 AM
padi bukan asli indonesia tapi bisa tumbuh dengan baik di indonesia. beda dengan kedelai.
udah lama banget diskusi soal kedelai ini sama suami, ya memang begitu agak lucu juga, kita bukan daerah pemintakadan kedelai tapi tempe makanan rakyat kita. jadi ironis gitu.
soal protein juga kan gembar gembor tempe itu sumber protein murah meriah. doktrinnya harus diubah tuh. masyarakat keberatan tempe tahu mahal karena mereka didoktrin tempe tahu murah. pada kenyataannya mahal
jadi kalo dibilang mental tempe, kita harus bangga atau bingung ?
kandalf
10-09-2013, 11:38 AM
Hihihihi...
Om , saya beli tempe di pasar ato di pedagang sayur yang naek motor , ga pernah lo dapet tempe kerikil :D
lily,
Tempe mah gak ada kerikilnya.
Yang ada itu di kedelai lokal, yang dijual ke pengrajin tahu dan tempe. Jadi para pembuat tahu dan tempe harus memisahkan lagi antara kerikil dan kedelai. Karena itu akhirnya mending mengimpor kedelai daripada sakit hati dicurangi pedagang kedelai lokal.
cha_n
10-09-2013, 11:38 AM
masih ga ngerti ama istilah itu. tapi setahuku dianalogikan dengan bentuk tempe yang gampang hancur. jadi maksudnya mentalnya lemah.
itsreza
10-09-2013, 01:00 PM
tempe jadi makanan mahal
rakyat kecil makan kerikil
kandalf
10-09-2013, 01:23 PM
Dari kawan FB (Lakshita):
ini fokusnya lagi bahas kulitas kedelai lokal vs impor atau tentang kisruh stok kedelai nasional?
soal kulitas[sic], bisa dijamin, kedelai lokal sangat bisa bersaing dengan kedelai luar, apalagi kedelai kita masih kedelai murni bukan rekayasa genetika seperti kedelai di amerika
Kalau bicara soal kisruh stok kedelai nasional baru yg beribet. Tahun 2006 di draft Rencana Pembangunan Pertanian 2005-2009 sudah jelas disebutkan permasalahan utama pertanian kita adalah: berkurangnya luas lahan akibat alih fungsi, kualitas SDM petani yang rendah, dan posisi tawar lembaga petani. Di Renstra Pertanian 2010-2014 masalahnya tetap sama. Solusinya udah ditetapin: Tujuh Gema Revitalisasi sdh ditetapkan. Nah, sekarang gimana pelaksanaannya????
Untuk penyediaan kebutuhan pangan, Pemerintah lebih suka impor, alasannya biaya impor lebih murah/efisien ketimbang kita harus produksi sendiri. Kalau untuk berdagang dan jangka pendek ini gak masalah. Tapi untuk konteks kemandirian,ini bahaya, selamanya kita akan terjerat dalam praktik impor bahan pangan.
Jadi pertanyaan penting buat pemerintah kita adalah 1. Beranikah pemerintah menolak alih fungsi lahan-lahan pertanian kelas 1 ? 2. Seberapa besar keinginan mengangkat harkat petani sejajar dg profesi lainnya? 3. Bisa gak memperbaiki infrastruktur pertanian tanpa korupsi? 4. Berani gak membuat paradigma baru: biar mahal asal produksi dalam negeri?
Industrialisasi, kemiskinan, posisi tawar yg lemah dan kekecewaan petani thd manajemen yg buruk dari pemerintahlah yang lama lama akan memicu menghilangnya profesi petani. kalau sudah begini terima kenyataan 100% impor bahan pangan.
cha_n
10-09-2013, 01:39 PM
secara pribadi aku sih lebih milih kita konsentrasi ke penanaman bahan pangan yang efisien, artinya ga usah maksain nanem kedelai secara susah payah.
harga kedelai mahal karena di indonesia nanem nya susah, biaya pengolahan tinggi. ga efisien banget dibandingkan emang daerah dengan iklim mendukung untuk kedelai.
di kita untuk dapat kualitas bagus musti usaha dan biaya lebih. buang2 energi.
mending fokus ke hal yang lebih realistis. swasembada beras, kalau bisa malah kita ekspor, tebu, ketela dll yang memang cocok dengan iklim kita.
kalau soal peran pemerintah, aku setuju banget harusnya pemerintah lebih banyak berperan. memberikan insentif pada petani, menjaga harga jual produk pertanian dlsb ga hanya untuk petani kedelai tapi semua petani.
itsreza
10-09-2013, 01:54 PM
memang pada mau jadi petani kedelai? kalau pun mau, lahannya aja ga ada.
kedelai murni? jangan salah, di indonesia juga udah banyak yang pake bibit
transgenik, petani yang kena tuntutan aja udah banyak.
pemerintah sendiri yang ga fokus: buat program swasembada beras, garam,
daging, gula, kedelai, dll. trus ditarget tahun 2014, karena di tahun 2009
dan tahun 2011 ga tercapai. mana duluan yang mau swasembada?
jangan langsung berorientasi ekspor, swasembada definisi pemerintah lebih
ke produksi untuk pemenuhan kebutuhan nasional, untuk cadangan tetap
pakai impor lho.
cha_n
10-09-2013, 02:02 PM
iya setuju. kita ga fokus. mustinya realistis aja deh. coba satu dulu fokus. beras dulu deh swasembada karena itu kebutuhan pokok. ga usah yang aneh2.
danalingga
10-09-2013, 03:19 PM
Mungkin nggak efisiennya cuma pas awal aja. Untuk menerapkan teknologinya (misalnya buat rumah kaca, dll). Tapi ke sononya malah jadi efisien. Jadi bisa memenuhi pasar dalam negri bahkan diekspor. Itu kalo memang susah mengubah masyarakat yang doyan tempe ama tahu. Jalan tercepat sih tetap nggak usah makan tahu ama tempe.
ndableg
10-09-2013, 05:09 PM
Tahu Tempe bukan makanan asli Indonesia, termasuk
kedelainya, bukan holtikultura asli, dan sepertinya pihak
luar (ngga tahu belanda ngga tahu siapa) berhasil mem
buat bangsa Indonesia mencandu pada produk yang ngga
bisa diproduksi sendiri..
Persis Outcast yang meracuni seluruh Sektor Sirius de
nga candu Cardamine :)
Hmm... pantesan bung karno bilang mental tempe..
AsLan
10-09-2013, 05:35 PM
gw setuju sama chan, fokus ke tanaman yg cocok di indonesia.
rakyat suka tahu tempe ?
gak masalah.
kita tanam sawit. minyak sawit diekspor ke luar, kita impor kedelai, gak semua harus produksi sendiri, ini yg namanya perdagangan... win win solution.
kita kan bukan korut, kita negara yg aktif berdagang, jual dan beli, wajar aja.
mbok jamu
10-09-2013, 05:43 PM
Jadi yang asli Indonesia itu apa?? :why:
danalingga
10-09-2013, 06:09 PM
kita tanam sawit. minyak sawit diekspor ke luar, kita impor kedelai, gak semua harus produksi sendiri, ini yg namanya perdagangan... win win solution.
Ini kan udah berjalan sekarang ini.
Tapi malah masih gonjang ganjing gitu. Kira2 apa yang salah ya?
mbok jamu
10-09-2013, 07:04 PM
Penebangan liar untuk perkebunan kelapa sawit bukannya yang bikin gundul hutan-hutan di Indonesia?
AsLan
10-09-2013, 07:05 PM
Sawit tuh kebanggaan indonesia malaysia.
Kemaren ribut2 karena orang berpikir kedelai itu cocoknya ditanam di indonesia, ngapain impor?
Yah gw juga baru tau sih kalau kedelai gak cocok dinegara tropis.
itsreza
10-09-2013, 07:13 PM
setuju sawit... biarin deh dibilang ga sehat,
dimusuhin greenpeace, wwf, walhi, us, eu,
sampe harrison ford loncat-locat di meja ;D
tuscany
10-09-2013, 07:22 PM
Kok pake setuju? Kan sudah terjadi kalo Indonesia pengekspor sawit terbesar. Tapi pertanyaannya adalah: siapa yang menikmati keuntungan tsb?
Kayaknya bener juga beberapa pendapat di sini yang menyatakan bahwa persepsi masyarakat tempe itu makanan murah makanya pada mencak2 kalo harganya naik sedikit aja.
mbok jamu
10-09-2013, 07:24 PM
Oh.. Jadi Jaja setuju dengan deforestasi? 1.7 juta hektar luas hutan ditebang tiap tahun? Begitu? :mad:
danalingga
10-09-2013, 08:25 PM
Kayaknya bener juga beberapa pendapat di sini yang menyatakan bahwa persepsi masyarakat tempe itu makanan murah makanya pada mencak2 kalo harganya naik sedikit aja.
Ya, masalahnya sepertinya karena persepsi. Harusnya persepsinya tempe itu makanan pengganti daging yang lebih sehat. Nggak heran harganya mahal kan kalo gitu persepsinya. ::hihi::
serendipity
10-09-2013, 08:51 PM
Gw search kok ada kubu yang mengatakan kedelai Indo bagus ya? itu yang ngomong malah pembuat tempe tahu
aniwey, emang kedelai gak cocok tumbuh di Indo. Jadinya gak bagus. Udah terima nasib aja kalo harus import
atau kalo gak mau terima nasib, paksa anak-anak IPB supaya bikin rekayasa gen supaya kedelai kita bagus -_-
contoh donk hacker yg segitu niatnya ngehack situs deptan supaya rekaya gen...
itsreza
10-09-2013, 09:48 PM
bibit transgenik udah banyak tersedia dan banyak ditanam. kalau dikasih
pilihan hibrida vs transgenik memang masih pada mau makan transgenik?
GM food ditentang, terutama di eropa. jaman sekarang pada maunya organik,
mungkin Indonesia masih price sensitive, jadi butuhnya GM, murah sekarang,
mahal kemudian hari, karena ketergantungan bibit, pupuk, dan lainnya ke
perusahaan macam monsanto, syngenta, bayer basf, dll. kasian deh petani
bisa makin miskin aja.
mbok jamu
saya mendukung agri industri berkelanjutan. masalah deforestasi
kompleks, bukan cuma karena produksi sawit, banyak faktor lain
yang menyebabkannya. izin pertambahan lahan produksi sawit sendiri
stagnan semenjak moratorium 2010. pun deforestasi terjadi. kalau ga boleh
tanam sawit yang katanya "merusak ozon" dan "berbahaya bagi kesehatan"
terus gimana? apa kita lebih baik impor canola oil, corn oil, dll yang
katanya "lebih sehat" dan diproduksi di pertanian modern berbiaya tinggi
"ramah lingkungan" dan menggunakan bibit genetik?
tuscany
10-09-2013, 10:25 PM
Soal sawit vs minyak lain rasanya memang ada bau-bau kompetisi, makanya aku juga nggak percaya penuh alasan lingkungan dari WWF dsb. Palm oil itu dipake di hampir semua produk, bukan cuma makanan. Mereka demo2 sekarang kalo sampe nggak pake sawit mau mandi aja susah kali karna sabun mandi bahan dasarnya termasuk palm oil. So beruntunglah Indonesia dengan lahan yang amat sangat cocok dengan sawit. Tapi kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, siapa itu yang menikmati? Semua ato beberapa?
Kalo semua keuntungan bisa disalurkan buat beli impor kedelai, rasanya nggak bakalan heboh kek begini deh.
ndugu
10-09-2013, 11:46 PM
bibit transgenik udah banyak tersedia dan banyak ditanam. kalau dikasih
pilihan hibrida vs transgenik memang masih pada mau makan transgenik?
GM food ditentang, terutama di eropa. jaman sekarang pada maunya organik,
mungkin Indonesia masih price sensitive, jadi butuhnya GM, murah sekarang,
mahal kemudian hari, karena ketergantungan bibit, pupuk, dan lainnya ke
perusahaan macam monsanto, syngenta, bayer basf, dll. kasian deh petani
bisa makin miskin aja.
eh, sebenarnya realita di lapangan, petani2 yang ada di indo ini apakah menggunakan GM seed? bbrp waktu yang lalu saya nonton dokumentari mengenai bibit GM dan perusahan2 seperti mansanto ini yang ada di india (judul dokunya "bitter seed"), rasanya kok membuat petani terbelenggu banget ya. dan bener, malah makin miskin. cyclenya ngga bener aja. makin ga ada yang mo jadi petani kalo gitu ::elaugh:: dan saya juga penasaran dengan impact dari pengkonsumsian produk yang menggunakan bahan GM sebagai bahan dasar.
AsLan
10-09-2013, 11:51 PM
siapa yg menikmati sawit ? buanyaaak !
beberapa karyawan gw ada yg pindah kerja di perkebunan sawit, gajinya bagus.
tenaga kerja kepake banyak, negara dapet pajak, rakyat dapet mintak murah, pngusaha lokal untung dll
tapi sawit digempur habis oleh amerika dan eropa, dijelek2in, difitnah bahkan di ban.
urusan dagang tuh.
itsreza
11-09-2013, 12:05 AM
ndugu
ada. itu perusahaan disebutkan diatas punya bisnis besar di Indonesia
mungkin karena mayoritas belum paham permasalahan pertanian, juga
isu transgen dan food security yang debatnya ga akan beres. itu sebabnya
ekspos media terhadap nasib petani kecil kurang. padahal ada banyak
yang kena tuntutan juga karena dianggap melanggar paten karena
mengembangkan bibit sendiri. susah jadi petani -_-
ndugu
11-09-2013, 12:10 AM
iya, isu pematenan bibit GM gini buatku sangat dilematis seperti isu pematenan obat. saya rada2 ga sreg dengan siklusnya. sangat disayangkan. kurasa perlu ada support lebih gede dari pemerintah mengenai ini (mungkin dari segi hukum), memandang produk akhir dari ini kan kebutuhan yang sangat mendasar buat manusia. kuharap petani2 di indo ngga terjerat seperti kasus petani2 yang ada di doku itu.
cha_n
11-09-2013, 12:21 AM
kalau isu penggundulan hutan ozon blablabla... mending negara maju ngaca dulu deh, mereka sudah lebih dulu melakukan penggundulan itu, itu sebabnya mereka kaya, industrialisasi mereka kan jalan gara2 gunduli hutan diubah jadi ladang jagung, kedelai dll. pas giliran negara berkembang mau punya industri pertanian langsung isu ini itu digulirkan.
itu sebabnya ada usulan carbon trading, kalo lo negara2 maju mau larang indonesia ga gundulin hutan, bayar dong. enak banget lo dapet duit dari industrialisasi, masih juga mau dapat udara bersih gratis dari negara berkembang. trus negara berkembang ga dapat apa2. dipaksa jadi paru2 dunia dan dibiarin miskin. enak di dia.
Silvercheeks
11-09-2013, 12:22 AM
mau nanya...
sebenernya negara ini miskin ato kaya sih?
cha_n
11-09-2013, 12:24 AM
iya, isu pematenan bibit GM gini buatku sangat dilematis seperti isu pematenan obat. saya rada2 ga sreg dengan siklusnya. sangat disayangkan. kurasa perlu ada support lebih gede dari pemerintah mengenai ini (mungkin dari segi hukum), memandang produk akhir dari ini kan kebutuhan yang sangat mendasar buat manusia. kuharap petani2 di indo ngga terjerat seperti kasus petani2 yang ada di doku itu.
terjerat apa ya? pelanggaran hak paten? maksudnya melanggar itu kondisinya gimana?
trus maksudnya ketergantungan itu gimana?
itsreza
11-09-2013, 01:06 AM
jadi bibit tanaman transgen yang tahan hama dan produksinya
bisa melimpah ruah itu dipaten bu chan oleh para penemunya
atau perusahaan. nah tiap musim panen, petani harus beli bibit
baru. ini siklus pemiskinannya
ga bisa ambil dari yang ada, terus ditanam lagi, ini namanya
mengembangkan bibit sendiri dan melanggar paten. susah buat
petani tradisional yang biasa 'sisain' hasil panennya buat jadiin
bibit di musim tanam berikutnya.
---------- Post Merged at 12:06 AM ----------
iya, isu pematenan bibit GM gini buatku sangat dilematis seperti isu pematenan obat. saya rada2 ga sreg dengan siklusnya. sangat disayangkan. kurasa perlu ada support lebih gede dari pemerintah mengenai ini (mungkin dari segi hukum), memandang produk akhir dari ini kan kebutuhan yang sangat mendasar buat manusia. kuharap petani2 di indo ngga terjerat seperti kasus petani2 yang ada di doku itu.
dilematis. tapi kenyataan seperti itu. ini salah satu kasus yang pernah terjadi
http://goo.gl/hShkgu
di sini lebih gampang, petani sering jadi korban gara-gara program bagi benih
AsLan
11-09-2013, 01:11 AM
china, jepang, india.
tiga negara ini berani melanggar patent.
kalau harga paten wajar, dibayar.
kalau si pemilik paten jual mahal, langsung diterabas, produknya di copy secara resmi oleh negara.
terutama paten obat dan iptek.
red>,<hair
11-09-2013, 01:41 AM
nambah dikit soal bgus mana kedele lokal ma impor gw kurang tau pasti
cuman d sini -tempat gw sedesa pengrajin tahu semua ;D- yg dominan d pke yg impor
lokal paling buat campuran
perna denger babe bilang klo lokal emang lebih ribet ngolahnya
uda pas bersihin kudu extra banget -karena dapat material td plus tanah n kulit kedele-
pas d giling juga lama , saripati yg d hasilkan sedikit membuat hasil tahunya mudah hancur -biasanya d akalin harus d rebus lama -
oot dikit 2 hri ini ada razia yg jualan tempe ma tahu ... d larang produksi
ada yg ngakalin ga gelar lapak dagangan tp uda d bungkus tahunya n langsung kasi k langganan dia
ndugu
11-09-2013, 02:18 AM
terjerat apa ya? pelanggaran hak paten? maksudnya melanggar itu kondisinya gimana?
trus maksudnya ketergantungan itu gimana?
jadi bibit tanaman transgen yang tahan hama dan produksinya
bisa melimpah ruah itu dipaten bu chan oleh para penemunya
atau perusahaan. nah tiap musim panen, petani harus beli bibit
baru. ini siklus pemiskinannya
ga bisa ambil dari yang ada, terus ditanam lagi, ini namanya
mengembangkan bibit sendiri dan melanggar paten. susah buat
petani tradisional yang biasa 'sisain' hasil panennya buat jadiin
bibit di musim tanam berikutnya.
chan: itu, seperti yang udah dijelaskan sama pak reza :cengir:
dan problemnya juga, bibit GM ini dijanjikan bisa tahan ini itu, dan bisa panen banyak dll, tapi realita tidak selalu semulus itu. mungkin ada success stories di luar sana, tapi ada juga yang tidak. dan menurutku bibit yang dimodified genetically gini, ada saatnya juga kekebalan bibit ini berkurang / hilang terhadap parasit yang tadinya bisa dihindari. ibaratnya seperti relasi antara obat dan virus / bakteri deh ya. obat kan selalu diimprove terus juga untuk menahan bakteri/virus yang semakin resistan. tentu saja perusahaan bibit akan terus memodify dan mengimprove bibitnya. ini permainan kucing-tikus.
petani2 di amrik juga sebenarnya mempunyai masalah yang sama. tapi kondisi mereka lebih mending karena subsidi dari negara cukup gede. in fact, it can be ridiculous, karena saya pernah baca studi bahwa biaya produksi lebih tinggi (kalo ditotalin dengan subsidi) daripada hasil, lupa untuk tanaman apa, pokoknya bahan makanan juga ::elaugh:: seingatku ada juga petani2 di amrik juga yang memprotes ke perusahaan2 seperti ini. ada dokumentarinya juga mengenai ini (uda lupa judul).
sedangkan dari doku india yang saya nonton ini, petani2 ini udah pada dasarnya miskin, sampe ngejual ternak dan ngutang ke loan shark untuk membeli bibit GM yang sekali pakai. sedangkan hasil kadang tidak memuaskan (at least yang disorot). investasi gagal. dan alhasil, dikatakan kota itu jumlah petani yang bunuh diri ternyata sangat tinggi karena dililit hutang. yah, kondisi mereka memang tidak seberuntung petani di negara laen karena dukungan negara kurang ada kali ya.
dilematis. tapi kenyataan seperti itu. ini salah satu kasus yang pernah terjadi
http://goo.gl/hShkgu
di sini lebih gampang, petani sering jadi korban gara-gara program bagi benih
iya, sepertinya para petani memang perlu bersatu dan saling membantu. ntah apa pemerintah bisa ikut membantu mengorganize ngga, seperti movement fair-trade gitu loh.
china, jepang, india.
tiga negara ini berani melanggar patent.
kalau harga paten wajar, dibayar.
kalau si pemilik paten jual mahal, langsung diterabas, produknya di copy secara resmi oleh negara.
terutama paten obat dan iptek.
ini yang tricky. soalnya buatku ini daerah abu2. kapan dan di mana ditarik garis antara penghargaan intellectual property dan mengurangi kekuasaan monopoli.
oot dikit 2 hri ini ada razia yg jualan tempe ma tahu ... d larang produksi
ada yg ngakalin ga gelar lapak dagangan tp uda d bungkus tahunya n langsung kasi k langganan dia
loh, kenapa dilarang?
ndugu
11-09-2013, 02:39 AM
kalau isu penggundulan hutan ozon blablabla... mending negara maju ngaca dulu deh, mereka sudah lebih dulu melakukan penggundulan itu, itu sebabnya mereka kaya, industrialisasi mereka kan jalan gara2 gunduli hutan diubah jadi ladang jagung, kedelai dll. pas giliran negara berkembang mau punya industri pertanian langsung isu ini itu digulirkan.
itu sebabnya ada usulan carbon trading, kalo lo negara2 maju mau larang indonesia ga gundulin hutan, bayar dong. enak banget lo dapet duit dari industrialisasi, masih juga mau dapat udara bersih gratis dari negara berkembang. trus negara berkembang ga dapat apa2. dipaksa jadi paru2 dunia dan dibiarin miskin. enak di dia.
bukannya menentang pertanian nih, saya juga mendukung pengembangan sawit.
tapi kesanku yang menjadi masalah sekarang adalah regulasi kita yang lemah dan penegakan hukum yang juga lemah. akhirnya malah kebablasan. contohnya aja pas masalah kabut kemaren, saling menuding. kurasa seandainya kalo prakteknya lebih transparan dan penegakan hukum ada, harusnya ngga sampe separah itu, bahkan bisa mengambil langkah preventive.
biarpun saya mendukung industri sawit untuk ekonomi negara, tapi saya juga merasa penting untuk menjaga alam. isu ini seperti masalah paten di atas, daerah abu2. kapan dan bagaimana kita mengambil kebijakan yang bisa mem-balance tujuan ekonomi dan kesejahteraan (maupun kesehatan) rakyat. dan untuk hal ini saya melihat dari kacamata "warga dunia" ya. bukan warga elo warga gue, bukan enak di dia enak di saya, bukan negaraku "dipaksa" negaranya "memaksa". toh, the end result, saya merasa ini juga untuk keuntungan warga indonesia sendiri di masa depan (maupun dunia). di luar 'dipaksa' ato ngga, justru warga indonesia yang berada di epicenter masalah ini, warga indonesia juga lah yang menjadi benefector pertama yang diuntungkan, atau korban pertama yang dirugikan, tergantung kebijakan apa yang diambil negara.
red>,<hair
11-09-2013, 03:20 AM
ndugu : kan lg demo ::ungg::
tuscany
11-09-2013, 03:39 AM
siapa yg menikmati sawit ? buanyaaak !
beberapa karyawan gw ada yg pindah kerja di perkebunan sawit, gajinya bagus.
tenaga kerja kepake banyak, negara dapet pajak, rakyat dapet mintak murah, pngusaha lokal untung dll
tapi sawit digempur habis oleh amerika dan eropa, dijelek2in, difitnah bahkan di ban.
urusan dagang tuh.
+1
Kurasa memang urusan dagang. Minyak mereka nggak mungkin bersaing dengan sawit. Tapi ke mana saja duit keuntungan itu mengalir? Bukan ke rakyat banyak toh, pasti ke investor yang banyakan juga orang luar. Maksudku, kalo memang sukses dengan sawit masa pemerintah nggak bisa menstabilkan harga kedelai dengan keuntungan tersebut? Apa aku aja yang naif mengira semudah itu pemerintah bikin subsidi silang? :mikir:
ndugu
11-09-2013, 03:43 AM
+1
Kurasa memang urusan dagang. Minyak mereka nggak mungkin bersaing dengan sawit. Tapi ke mana saja duit keuntungan itu mengalir? Bukan ke rakyat banyak toh, pasti ke investor yang banyakan juga orang luar. Maksudku, kalo memang sukses dengan sawit masa pemerintah nggak bisa menstabilkan harga kedelai dengan keuntungan tersebut? Apa aku aja yang naif mengira semudah itu pemerintah bikin subsidi silang? :mikir:
:lololol:
that's my suspicion too :cengir: at least the big players.
pemerintah ada ngga sih yang mengelola sawit ini sendiri? ato selalu pihak swasta?
kandalf
11-09-2013, 08:06 AM
nambah dikit soal bgus mana kedele lokal ma impor gw kurang tau pasti
cuman d sini -tempat gw sedesa pengrajin tahu semua ;D- yg dominan d pke yg impor
lokal paling buat campuran
perna denger babe bilang klo lokal emang lebih ribet ngolahnya
uda pas bersihin kudu extra banget -karena dapat material td plus tanah n kulit kedele-
pas d giling juga lama , saripati yg d hasilkan sedikit membuat hasil tahunya mudah hancur -biasanya d akalin harus d rebus lama -
oot dikit 2 hri ini ada razia yg jualan tempe ma tahu ... d larang produksi
ada yg ngakalin ga gelar lapak dagangan tp uda d bungkus tahunya n langsung kasi k langganan dia
red>,<hair
Makasih.
Yang kucetak tebal, itu poin yang kuangkat.
Walau tanpa kerikil. :P
Kawan FB berbagi status ini:
https://www.facebook.com/destika.cahyana/posts/10151810699970256
Ini analis teman ngopi pahit saya, Mas Tejo Pramono, tentang kedelai. Bisa membuka mata kita mengapa petani kedelai kita mirip liliput melawan raksasa petani mancanegara. Berikut:
Geopoliti Tempe
Tejo Pramono
Kali ini, melonjaknya harga kedelai kembali membuat geger negeri agraris. Dipicu oleh menurunnya nilai tukar rupiah atas dolar, harga kedelai impor tak mampu lagi dijangkau oleh perajin tahu dan tempe. Pejabat pemerintah tidak bisa berbuat banyak.
Memberikan subsidi kepada perajin untuk membeli kedelai dianggap memboroskan anggaran raja. Terlebih, pada saat perdagangan luar negeri terus defisit. Sementara, produksi dalam negeri jelas jauh dari mencukupi kekurangan karena beberapa dekade sudah telanjur mengandalkan kedelai impor. Akhirnya, tersisa pilihan untuk membebaskan tanpa tarif impor kedelai. Membebaskan tarif impor pangan dan bahan baku pangan bagi negara agraris adalah lonceng kematian bahwa Indonesia telah masuk dalam jebakan pangan, food trap.
Anehnya, bagai seekor keledai yang selalu jatuh di lubang yang sama, berulang kali kita masuk jebakan pangan. Untuk keluar dari jebakan, kita mesti paham geopolitik tempe. Geopolitik tempe meliputi berbagai aspek, seperti produksi dan perdagangan kedelai global sampai politik pertanian dalam negeri kita sendiri. Kita perlu membandingkan tentang bagaimana kondisi di sentra produksi kedelai utama dunia dan perdebatan utama soal distribusi kedelai di tingkat global.
Misalnya, mengapa petani kedelai Indonesia tidak mampu bersaing dengan petani Amerika Serikat atau Argentina? Bukankah di Amerika Serikat upah petani sangat mahal dan harus dibayar pakai dolar? Ditambah biaya traktor dan mesin, juga pengapalan antarbenua, harusnya kedelai Amerika harusnya berlipat kali lebih mahal dibanding kedelai lokal.
Tapi, nyatanya harga per kilo kedelai impor lebih rendah dari kedelai lokal. Penjelasannya adalah pertama, luas lahan kedelai di AS saat ini tidak kurang dari 26 juta hektare atau seluas dua kali lebih total lahan sawah di Indonesia. Ditambah dengan investasi perusahaan AS di Argentina dan Brasil, AS memimpin pasar kedelai di dunia.
Sungguh sangat tidak fair membandingkan produksi kedelai kita dengan AS. Mengapa pemerintah tidak pernah mengalokasikan lahan untuk petani guna memproduksi kedelai, bila benar ingin ada solusi atas krisis kedelai? Sungguh penuh dusta wacana dan niat pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai, tapi tanpa ada distribusi lahan bagi keluarga tani untuk memproduksinya. Reforma agraria adalah prioritas dalam solusi kedelai. Kedua, kedelai memiliki kecocokan untuk tumbuh di daerah, seperti Amerika dan Argentina, dengan suhu yang nilainya 20-30 derajat Celsius.
Varietas kedelai dibagi berdasarkan golongan lintang yang berkorelasi pada umur. Makin tinggi lintangnya, umurnya semakin pendek. Varietas di Iowa AS pada golongan tiga. Sedangkan, varietas di Indonesia golongan sembilan. Kondisi agroklimat dan varietas ini yang membuat produktivitas kedelai di AS 2,5-tiga ton/hektare. Sedangkan, produktivitas kita 1,5-dua ton/hektare.
Ini soal karakter tanaman dan tidak perlu kita memaksa untuk menyamai produktivitas mereka. Karena, produktivitas tanaman tropis kita juga jauh melebihi produktivitas mereka. Bukankah kita juga tidak memaksakan manggis tumbuh di Amerika? Produksi kedelai dalam negeri perlu diperluas dan mendorong untuk merotasi tanaman pangan lain dengan kedelai. Cara ini sebagai solusi untuk mengompensasi kekurangan agroklimat. Lupakanlah pola berpikir rendahnya produktivitas kedelai dengan solusi mengimpornya.
Ketiga, produksi kedelai di AS, Argentina, dan Brasil yang berlimpah membuat mereka harus memaksa negara lain untuk menyerapnya melalui liberalisasi perdagangan pangan. Di AS, kondisi ini tercipta setelah proses panjang sejarah pertanian yang kelebihan produksi sejak habis perang dunia kedua. Bahkan, pada masa Presiden Franklin D Rossevelt pada 1933 diterbitkan Agricultural Adjustment Act (AAA). Isinya, petani yang mau menelantarkan lahannya dengan tidak ditanami akan mendapat subsidi agar harga terdongkrak naik.
Kini, AAA sudah tidak ada lagi, sebagai gantinya, Farm Bill memberikan subsidi lebih besar kepada petani berlahan luas karena kelebihan produksi di paksakan dijual ke negara lain. Pasal-pasal Doha Development Agenda dalam perundingan WTO, APEC, G-20, dan bilateral and regional trade agreement, isinya adalah pemaksaan penurunan tarif, termasuk pertanian.
Kesalahan terbesar pemimpin kita adalah membiarkan liberalisasi perdagangan merangsek bebas ke pangan dan pertanian. Harusnya, sebagai negara agraris besar, Indonesia bisa menginisiasi untuk menggandeng negara-negara berkembang lain membangun perdagangan altematif yang berkedilan untuk pangan dan pertanian di tingkat dunia. Ketika hari ini petani kedelai merasa bisa untung dengan harga Rp 7.000/ kg, harusnya pemerintah bisa menetapkannya sebagai harga dasar awal.
Sekaligus, menjadi referensi untuk menentukan tarif impor ke depannya. Bila konsumen keberatan, itu tugas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen supaya memiliki kemampuan membeli pangan lebih baik. Sungguh mengoyak nurani bila perajin tempe dan konsumen terus menindas petani dengan harga rendah. Bukankah kita sepakat untuk tidak mau terus berada dalam ketergantungan impor seperti sekarang? Geopolitik pangan global adalah medan perang pangan. Kunci memenanginya bukan dengan cara kompetisi untuk ekspansi pasar, misalnya, dengan mengundang investor besar masuk.
Food war hanya bisa kita menangi apabila petani kita berdaulat. Syaratnya adalah menyediakan lahan untuk petani, mematok harga yang menyejahterakan, dan berproduksi dengan pangan yang menyehatkan. Lupakan menggunakan kedelai rekayasa genetika karena itu justru membuka pintu lebih besar pada korporasi untuk mengendalikan geopolitik kedelai.
Lagi pula, kita perlu mentransformasikan tempe dari paparan kimia glyposate atau kontaminasi bakteri Bacillus thuringiensis yang kita impor selama Tempe berbahan kedelai hasil pertanian alami jauh lebih menyehatkan tidak hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi ekosistem pertanian kita. Langkah awal untuk membuat bangsa ini berdaulat makan tempe bisa menjadi langkah besar menjadi bangsa berdaulat pangan lebih luas lagi.***
itsreza
11-09-2013, 09:45 AM
Kalau mau murah cukup impor aja, ga perlu memaksakan swasembada kedelai.
para ekonom pertanian pasti paham makna keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif. Kondisi rasanya ga memungkinkan berdaulat atas segala bentuk pangan,
walau orang indonesia berkorban dengan diversifikasi pangan, ganti nasi dengan
singkong, ubi, talas, bergiliran. Setuju dengan tulisan mas Tejo petani di US merugi
puluhan US/ha, tapi dengan crop subsidy yang diberikan pemerintah tetap untung dan
bisa terus produksi. Sedang di Indonesia, kasih subsidi pupuk aja diributin, penikmat
subsidi justru perusahaan pupuk bukan petani, penentuan harga dasar diserahkan
mekanisme pasar. Coba fungsi bulog dikembalikan ke model sebelum dimodifikasi
IMF, masa orde baru, dengan demikian petani bisa mendapat kepastian harga.
Kalau mau pertanian berkelanjutan, pakai bibit hibrida, produksi mungkin lebih kecil
dari transgenik, harga kedelai dan komoditas pertanian lain pun jadi mahal (biar
terjangkau subsidi pangan, bukan BBM). Tapi memang sewajarnya demikian, sudah
waktunya pangan dihargai secara wajar, bukan murah, dan taraf hidup petani Indonesia
meningkat :)
AsLan
11-09-2013, 09:47 AM
kwik kian gie bilang bahwa bulog harus turun tangan, bulog harus rugi.
bulog harus beli mahal, jual murah, itu fungsi bulog.
katanya sekarang bulog gak mau melakukan hal itu lagi.
gak boleh kita terus menekan petani supaya pangan murah.
kandalf
11-09-2013, 11:28 AM
Aku agak gregetan dengan langkah yang ditempuh oleh Pak Menteri yang kubaca di kompas tadi.
Malah jadi membeli kedelai impor dan menjual dengan murah ke pengrajin tahu. ::doh::
Bukannya memulihkan lagi fungsi bulog, sekaligus mengendalikan mutu kedelai lokal, tapi malah membuang2 duit ke luar negeri.
cha_n
11-09-2013, 11:36 AM
Kalau mau murah cukup impor aja, ga perlu memaksakan swasembada kedelai.
para ekonom pertanian pasti paham makna keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif. Kondisi rasanya ga memungkinkan berdaulat atas segala bentuk pangan,
walau orang indonesia berkorban dengan diversifikasi pangan, ganti nasi dengan
singkong, ubi, talas, bergiliran. Setuju dengan tulisan mas Tejo petani di US merugi
puluhan US/ha, tapi dengan crop subsidy yang diberikan pemerintah tetap untung dan
bisa terus produksi. Sedang di Indonesia, kasih subsidi pupuk aja diributin, penikmat
subsidi justru perusahaan pupuk bukan petani, penentuan harga dasar diserahkan
mekanisme pasar. Coba fungsi bulog dikembalikan ke model sebelum dimodifikasi
IMF, masa orde baru, dengan demikian petani bisa mendapat kepastian harga.
Kalau mau pertanian berkelanjutan, pakai bibit hibrida, produksi mungkin lebih kecil
dari transgenik, harga kedelai dan komoditas pertanian lain pun jadi mahal (biar
terjangkau subsidi pangan, bukan BBM). Tapi memang sewajarnya demikian, sudah
waktunya pangan dihargai secara wajar, bukan murah, dan taraf hidup petani Indonesia
meningkat :)
nah ini bener banget, ngapain kita maksain. negara subtropis memang cocok dengan kedelai karena punya keunggulan komparatif.
indonesia kan bisa cari komoditas lain yang emang jadi keunggulan komparatif kita, ngapain malah bersaing. mending lakukan trading.
bukannya menentang pertanian nih, saya juga mendukung pengembangan sawit.
tapi kesanku yang menjadi masalah sekarang adalah regulasi kita yang lemah dan penegakan hukum yang juga lemah. akhirnya malah kebablasan. contohnya aja pas masalah kabut kemaren, saling menuding. kurasa seandainya kalo prakteknya lebih transparan dan penegakan hukum ada, harusnya ngga sampe separah itu, bahkan bisa mengambil langkah preventive.
biarpun saya mendukung industri sawit untuk ekonomi negara, tapi saya juga merasa penting untuk menjaga alam. isu ini seperti masalah paten di atas, daerah abu2. kapan dan bagaimana kita mengambil kebijakan yang bisa mem-balance tujuan ekonomi dan kesejahteraan (maupun kesehatan) rakyat. dan untuk hal ini saya melihat dari kacamata "warga dunia" ya. bukan warga elo warga gue, bukan enak di dia enak di saya, bukan negaraku "dipaksa" negaranya "memaksa". toh, the end result, saya merasa ini juga untuk keuntungan warga indonesia sendiri di masa depan (maupun dunia). di luar 'dipaksa' ato ngga, justru warga indonesia yang berada di epicenter masalah ini, warga indonesia juga lah yang menjadi benefector pertama yang diuntungkan, atau korban pertama yang dirugikan, tergantung kebijakan apa yang diambil negara.
wow mulia sekali ya pemikiran ndugu.
tapi sayang itu cuma bisa dipikirkan orang yang "kenyang"
"keuntungan di masa depan" itu terlalu kejauhan, untuk Indonesia yang penting perut dulu.
kalau amrik, eropa dll mau paru2, silakan tutup perkebunan mereka dan lakukan reboisasi, ngapain maksain negara lain.
bagi yang ga punya lahan atau mau simpel, lakukan perdagangan karbon. cukup adil kan?
cha_n
11-09-2013, 11:47 AM
semalam ngobrol ama mas david lagi soal ini.
kalau dia bilang sih, dari pada maksain lahan indonesia, mending beli lahan di australia aja, iklimnya cocok. pembelian melalui bumn.
oiya, katanya di indonesia emang ada larangan tanaman transgenik untuk konsumsi ya?
kalau kapas gitu masih boleh
beras yg kita konsumsi udah transgenik
kandalf
11-09-2013, 12:01 PM
Setahuku belum ada larangan transgenik di Indonesia. Koreksi bila aku salah.
BUMN boleh punya lahan di luar gak?
Ngomong2, tempe zaman dulu lebih enak daripada zaman sekarang.
Dan tempe2 di luar negeri rasanya aneh.
Itu masalah ragi yang digunakan atau masalah tempe zaman sekarang dicampur bahan aneh-aneh, atau dari bahan baku kedelainya?
mungkin dari cara nyuci kedelainya gak bersih, jadi hasil akhirnya si tempe rada apek
air yg dipake kudu bersih juga
danalingga
11-09-2013, 12:08 PM
Aku agak gregetan dengan langkah yang ditempuh oleh Pak Menteri yang kubaca di kompas tadi.
Malah jadi membeli kedelai impor dan menjual dengan murah ke pengrajin tahu. ::doh::
Bukannya memulihkan lagi fungsi bulog, sekaligus mengendalikan mutu kedelai lokal, tapi malah membuang2 duit ke luar negeri.
Habis itu bingung pas dollar naik. ::hihi::
ndugu
11-09-2013, 12:18 PM
wow mulia sekali ya pemikiran ndugu.
tapi sayang itu cuma bisa dipikirkan orang yang "kenyang"
"keuntungan di masa depan" itu terlalu kejauhan, untuk Indonesia yang penting perut dulu.
kalau amrik, eropa dll mau paru2, silakan tutup perkebunan mereka dan lakukan reboisasi, ngapain maksain negara lain.
bagi yang ga punya lahan atau mau simpel, lakukan perdagangan karbon. cukup adil kan?
:lololol:
amrik eropa dll mah bukan daerah tropis, lewat musim gugur dan musim dingin juga botak jadinya :cengir:
saya ngga ngeliat ini sebagai urusan negara laen, wwf ato negara2 laen mo protes kan urusan mereka, ga usah dikait2kan ke mereka dan ga usah nyalahin negara yang laen. mereka mo berkoar2 ya cuman bisa berkoar2, paling masuk media aja. yang membuat peraturan kan tetep masih harus negara indo sendiri. dan saya bukan menentang pembukaan lahan sama skali. silakan aja mah. problem saya lebih ke regulasinya dan caranya, dan tentu dengan mindful akan konservasi lingkungan sewajarnya, misal dengan lokalisasi yang lebih teratur untuk menjaga habitat alam. bukan asal dibuldozer semua (analogi aja nih :cengir: ), karena menurutku yang paling dirugikan malah negara indonesia sendiri kalo maen asal cukur.
saya mempunyai skeptisme yang diangkat tuscany. investor2 big player yang dituding kan selalu negara laen. dan kupikir, perusahaan besar ini masuk ke indo, dan 'mengkontrak' petani2 lokal untuk memproduksi yang kemudian disetor ke investor gede ini. ga masalah. tapi berhubung isu baru2 ini menyebabkan saling penudingan, harusnya kita belajar dari masalah ini. jika seandainya transparan dan regulasi dan penegakan hukumnya jelas, pemerintah maupun publik seharusnya bisa menginvestigasi sebenarnya pihak mana yang bertanggung jawab. dan kalo diperlukan, misalnya dibikin regulasi pula bahwa membuka lahan dilakukan dengan cara ini itu yang lebih ramah ke lingkungan. jika metode itu dirasakan berat untuk petani lokal, maka pemerintah kan bisa bikin regulasi yang memberikan tanggung jawab itu ke pihak 'pengontrak' (perusahaan investor gede itu), maka petani lokal ga terbebani. lah, sekarang aja sapa bekerja untuk siapa aja masih ga jelas.
sama halnya dengan masalah ilegal logging misalnya. dari dulu juga sering denger kalimantan sering ada masalah ini, dan yang dituding adalah malaysia. menurutku yang bersalah ya dua pihak, supplier dan buyer, dalam kasus ini indo dan malaysia sendiri. tapi lagi2, ini menurutku masalah ya di ketidaktegasan dalam penegakan hukum dan regulasi.
kalo pun kita mo menarik urusan global warming lah dan sebagainya, sure, seluruh negara di bumi jatuh ke shithole, termasuk indonesia. sama2 lose-lose situation :cengir: tapi ini udah perbahasan laen :cengir:
cha_n
11-09-2013, 12:19 PM
semalam ngobrol ama suami katanya ya itu ada larangan transgenik untuk konsumsi atau bahan pangan binatang yang dikonsumsi. cuma saya blom sempat search.
cha_n
11-09-2013, 12:29 PM
:lololol:
amrik eropa dll mah bukan daerah tropis, lewat musim gugur dan musim dingin juga botak jadinya :cengir:
saya ngga ngeliat ini sebagai urusan negara laen, wwf ato negara2 laen mo protes kan urusan mereka, ga usah dikait2kan ke mereka dan ga usah nyalahin negara yang laen. mereka mo berkoar2 ya cuman bisa berkoar2, paling masuk media aja. yang membuat peraturan kan tetep masih harus negara indo sendiri. dan saya bukan menentang pembukaan lahan sama skali. silakan aja mah. problem saya lebih ke regulasinya dan caranya, dan tentu dengan mindful akan konservasi lingkungan sewajarnya, misal dengan lokalisasi yang lebih teratur untuk menjaga habitat alam. bukan asal dibuldozer semua (analogi aja nih :cengir: ), karena menurutku yang paling dirugikan malah negara indonesia sendiri kalo maen asal cukur.
saya mempunyai skeptisme yang diangkat tuscany. investor2 big player yang dituding kan selalu negara laen. dan kupikir, perusahaan besar ini masuk ke indo, dan 'mengkontrak' petani2 lokal untuk memproduksi yang kemudian disetor ke investor gede ini. ga masalah. tapi berhubung isu baru2 ini menyebabkan saling penudingan, harusnya kita belajar dari masalah ini. jika seandainya transparan dan regulasi dan penegakan hukumnya jelas, pemerintah maupun publik seharusnya bisa menginvestigasi sebenarnya pihak mana yang bertanggung jawab. dan kalo diperlukan, misalnya dibikin regulasi pula bahwa membuka lahan dilakukan dengan cara ini itu yang lebih ramah ke lingkungan. jika metode itu dirasakan berat untuk petani lokal, maka pemerintah kan bisa bikin regulasi yang memberikan tanggung jawab itu ke pihak 'pengontrak' (perusahaan investor gede itu), maka petani lokal ga terbebani. lah, sekarang aja sapa bekerja untuk siapa aja masih ga jelas.
sama halnya dengan masalah ilegal logging misalnya. dari dulu juga sering denger kalimantan sering ada masalah ini, dan yang dituding adalah malaysia. menurutku yang bersalah ya dua pihak, supplier dan buyer, dalam kasus ini indo dan malaysia sendiri. tapi lagi2, ini menurutku masalah ya di ketidaktegasan dalam penegakan hukum dan regulasi.
kalo pun kita mo menarik urusan global warming lah dan sebagainya, sure, seluruh negara di bumi jatuh ke shithole, termasuk indonesia. sama2 lose-lose situation :cengir: tapi ini udah perbahasan laen :cengir:
nah kalau fokus ke regulasi dan peranan pemerintah itu lebih jelas, ga usah kejauhan global warming soalnya masih kontroversi hati...
saya setuju harus ada keberpihakan yang jelas dari pemerintah
ndugu
11-09-2013, 12:49 PM
menurutku sih harus ada keseimbangan. regulasi akan prosedur yang jelas yang juga ramah ke lingkungan. menurutku negara indo yang berada di negara tropis dengan keberagaman alam yang ada, sebenarnya kan harta yang sangat berharga. kalo dirusaki, belum tentu bisa kembali ke kondisi alami sebelumnya, malah mendorong habitat yang sudah hampir punah jadi bener punah. makanya menurutku yang paling dirugikan itu sebenarnya indo sendiri kalo harta kaya gini tidak dihargai. hutan lindung yang sudah ada, kalo bisa ya tetep dilindungi. dan di amrik sendiri pun banyak kok hutan2 lindung begitu. bukan brarti bukan tidak bisa buka lahan, tapi lebih mindful aja. pengzonaan hutan mana yang bisa ditebas mana yang perlu dilindungi, menurutku perlu dipertimbangkan juga. tapi ya itu, art of balancing ini yang susah :cengir:
itsreza
11-09-2013, 12:55 PM
untuk mendukung keseimbangan, penegakan hukum harus jelas dan transparan
hukumnya sendiri udah ada kok. carbon trading via redd+ udah jalan, pemerintah
mau dibayar US$1b oleh norwegia tahun 2011 buat moratorium sawit konversi
lahan sawit selama 2 tahun. hebat, sampai ada negara lain yang mau bayarin
agar produksi sawit terbatas. miris, karena kalau perizinan dan penegakan hukum
pemerintah yang jelas, tanpa perlu carbon trading kerusakan alam pun dapat
dibatasi, yang bisa dikelola adalah hutan produksi, sedangkan hutan lindung
tetap harus terjaga.
tuscany
11-09-2013, 01:54 PM
Isu lingkungan bagaimana pun juga penting untuk diperhatikan sebagai tujuan jangka panjang. Kalo bukan kita siapa lagi yang menjaga negara ini. Regulasi memang sudah bertebaran, tapi kurasa masih banyak kekurangan di tahap implementasi. Entah sampe kapan belajarnya supaya implementasi jalan bener, karena yang kulihat ini masalah kronis di semua bidang bukan cuma di pertanian sahaja.
Sekarang ini sepertinya tren penggundulan hutan sudah menurun, tapi masih signifikan. Itu karena sisi implementasinya masi separo jalan.
Dalam jangka pendek, selain impor kedelai saya setuju perlu adanya usaha dari pemerintah untuk memperluas lahan tanam sehingga mengurangi ketergantungan impor. Kalo rencana bikin peternakan di OZ jadi, mestinya skema yang sama juga bisa diikuti dengan kedelai. Sayang memang kalo menteri itu orang partai, kompetensi teknisnya jauh kalo dibanding kerja menteri dari jalur profesional.
Mau nambah satu kondisi lagi kayaknya buat presiden selanjutnya.
et dah
11-09-2013, 02:03 PM
tanaman kedelai itu ini kan?
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQiKC0jFFxSjT9yZBk7vhSCcmJCH8HkH SSupGIzHxEqKrzZdqXo2w
enakkan yang suka jadi snack
AsLan
11-09-2013, 02:12 PM
loh adamame itu kedelai ya ?
tuscany
11-09-2013, 02:16 PM
iya edamame itu kedelai. pernah nyoba jadiin snack nggak doyan. terlalu sehat kali ya ::elaugh::
serendipity
11-09-2013, 02:19 PM
gw doyan nyemil edamame, selama udah direbus sih... kalo di resto jepang cemilan itu entah kenapa rasanya lebih enak ;D
et dah
11-09-2013, 04:01 PM
enak nih edamame apa lg minumnya bajigur ::ngakak2::
http://farm7.staticflickr.com/6044/6383171085_dffecf49f6_z.jpg
jepang banget ;D
porcupine
11-09-2013, 05:58 PM
Ok stupid question, Kedelai ama kacang ijo sama ngga sih? ;D
choodee
11-09-2013, 06:00 PM
Ya bedalah... Cobain aja minum sari kacang hijau sama susu kedele ;D
porcupine
11-09-2013, 06:04 PM
Nah itu dia bingungnya, kalo pohon kedele gw tau kayak apa karena gw pernah liat
nah kalo kacang ijo itu dari phon apa yah? ;D
oh jadi sari kacang ijo ama susu kedelai juga beda? yg sering gw beli itu yang mana yak ;D
---------- Post Merged at 05:04 PM ----------
setelah google emng beda pohon nya ;D
choodee
11-09-2013, 07:04 PM
Malah ga pernah liat pohon kedele, tapi kalo pohon kacang ijo yang kayak kecambah bukan, eksperimen jaman esde dulun;D
AsLan
11-09-2013, 08:21 PM
Kacang ijo itu toge.
porcupine
11-09-2013, 08:56 PM
Gw tanya ama istri malah dimarahin @_@
katanya, makanya seringin ke dapur!
Bisa nya cuma makan bubur kacang ijo!
ndugu
11-09-2013, 09:22 PM
saya suka edamameeee
enak banget lagi. saya suka yang direbus, trus disprinkle garam dikit :mrgreen:
btw, ada ga sih yang bermasalah dengan istilah kedelai dan keledai ::elaugh::
i mean, saya tau yang satunya tanaman satunya binatang, tapi saya sering ketuker2 namanya ::arg!::
Gw tanya ama istri malah dimarahin @_@
katanya, makanya seringin ke dapur!
Bisa nya cuma makan bubur kacang ijo!
:lololol:
TheCursed
12-09-2013, 01:29 AM
...
lakukan perdagangan karbon. cukup adil kan?
THIS. Kenapa nggak ?
Serius. Charge aja negara2 kaya itu dengan biaya "Ongkos Napas", atau "Ozone Recycling Service".
We can 'blackmail' them with something that even More Valuable than Oil ?! And our government do nothing about it ?
Tapi sayangnya, boss2 di atas itu udah di bikin kenyang perutnya dan kosong balls-nya oleh perusahaan macam Monsanto.
Makanya strategi ekonomi yang beneran emang hak kita nggak berjalan.
BundaNa
12-09-2013, 07:24 AM
Edamame bisa dibikin tempe?
Powered by vBulletin® Version 4.2.5 Copyright © 2026 vBulletin Solutions Inc. All rights reserved.