PDA

View Full Version : [Berita] Keraton Surakarta Dikudeta



Fere
27-08-2013, 11:53 AM
Kisruh Panjang Keraton Solo, Apa Sebabnya?
Rakyat merangsek masuk malam hari.

Selasa, 27 Agustus 2013, 08:22 Hadi Suprapto, Fajar Sodiq (Solo)

VIVAnews - Konflik di Keraton Solo kian sengit. Juga dramatis. Senin malam, 26 Agustus 2013, warga sekitar Keraton mendobrak gerbang Istana. Pintu yang kokoh itu dijebol dengan cara menabrakan sebuah mobil Hardtop Land Cruiser berwarna putih. Warga bahu membahu. Dan begitu sukses, mereka merangsek masuk. Suasana Keraton kacau balau.

Salah seorang warga bernama Hartono, kepada VIVAnews mengatakan bahwa mereka mendobrak pintu dan merangsek masuk, “Demi mengetahui kondisi keluarga Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi.” Anggota polisi dan TNI terpaksa diturunkan bersiaga, menjaga agar tidak terjadi bentrok fisik.

Sinuhun Pakubuwono XIII yang disebut Hartono itu adalah Raja Keraton Kasunanan Surakarta, orang yang memang paling dihormati, dijaga martabat dan marwahnya di Keraton itu. Karena warga merasa keselamatan sang raja terancam, mereka lalu berkeras masuk Istana.

Kisruh semalam itu, sesungguhnya berhulu dari konflik panjang di tubuh para pewaris Keraton itu. Siang hari sebelum penyerbuan itu, Sang raja hendak menobatkan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan sebagai Maha Menteri, di Sasono Narendro, yang juga menjadi kediaman raja di dalam kompleks Keraton itu. Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta yang menolak pelantikan itu, membubarkan secara paksa acara ini.

Dewan Adat yang menolak figur Tejdowulan itu, juga dipimpin oleh anggota keturunan Keraton itu sendiri, GRAy Koes Murtiyah. Saat acara pelantikan itu dibubarkan secara paksa, raja dan permaisurinya masih berada di dalam Keraton itu. Koes Murtiyah memastikan bahwa raja masih berada di dalam. Dia berjanji bahwa sesudah suasana kondusif dan steril, akan menemui langsung sang raja. Suasana kian genting setelah warga menyerbu masuk itu.

Dan demi memulihkan suasana, sekitar pukul 8 lewat 45 menit malam hari, Kapolresta Surakarta Kombes Asdjiam'in dan Dandim 0735 Surakarta, Letkol Inf Sumirating Baskoro , masuk ke dalam kediaman Raja Paku Buwono XIII di Sasana Narendra.

"Masyarakat jangan ikut-ikutan. Biar masalah ini diselesaikan oleh mereka yang ada di dalam," kata dia sembari meminta kepada warga yang berkumpul di dalam sasana putra untuk meninggalkan lokasi tersebut. Kapolresta dan Dandim berjalan keliling untuk memantau kondisi yang terjadi di dalam keraton. "Kanjeng ratu di dalam aman. Polisi dan kodim sudah menyatakan kondisi steril di dalam keraton," kata salah satu abdi dalem, KRAT Sapari Hadinagoro kepada para wartawan di luar Istana.

Juru Bicara Dewan Adat Kanjeng Pangeran Edi Wirabumi menegaskan bahwa mereka menolak pelantikan Tejdowulan itu karena dia bermasalah. "Tedjowulan itu kan orang salah, kok malah mau diberi jabatan," protesnya.

Juru bicara Tedjowulan, Bambang Pradotonagoro, menilai penolakan pengukuhan Tedjowulan oleh kelompok Dewan Adat tidak mendasar. Pasalnya, sejak adanya rekonsiliasi, Tedjowulan ditetapkan sebagai Maha Menteri. "Jabatan Maha Menteri itu sah sejak ada rekonsiliasi, tapi baru dikukuhkan saat ini," katanya.

Beruntung aparat cepat terjun dan suasana kisruh itu tidak berbuntut panjang. Selain mengamankan Keraton, aparat polisi juga membantu memulangkan ratusan pesilat, yang dibawa Dewan Adat, ke rumah mereka masing-masing.





Kerap panas

Kisruh ini bermula dari dualisme kepemimpinan di Keraton itu. Dan dualisme itu muncul setelah meninggalnya Pakubuwono XII pada 11 Juni 2004. Keraton terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama di bawah kepemimpinan PB XIII Hangabehi dengan tahta di Keraton Kasunanan Surakarta. Kubu kedua di bawah kepemimpinan PB XIII Tedjowulan yang menetap di kawasan Kota Barat, Solo.

Perselisihan dua raja tersebut muncul setelah masing-masing mengklaim sebagai pewaris sah tahta keraton. Dampaknya, setiap even budaya keraton digelar, selalu saja muncul dua versi. Dan itu sudah berlangsung selama delapan tahun.

Kedua kubu yang meruncing itu berdamai pada 2011. Pada 11 Maret 2011, salah satu kerabat Keraton Kasunanan Surakarta yang juga adalah cucu Sri Susuhan Pakubuwono X, BRA Mooryati Sudibyo, mengakui sudah ada pembicaraan antara pemerintah dengan keluarga Keraton. Proses perdamaian ini berlanjut hingga 2012. Pada awal Mei 2012, Tedjowulan rela melepas gelar rajanya. Dia pun mengaku mendukung kakaknya memimpin kerajaan dan dia menjadi wakil raja.

Pada 16 Mei 2012, perjanjian damai pun ditandatangani kedua raja dengan disaksikan Wali Kota Solo Joko Widodo dan sesepuh Keraton Surakarta BRA Mooryati Sudibyo. Tedjowulan pun melepas gelar rajanya dan berganti menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan.

Tapi, damai belum berakhir sampai di situ. Saat ingin masuk keraton, Kamis 24 Mei 2012, dua raja ini dihadang dan dilarang masuk. Sejak semula, pengurus keraton memang tidak mengakui Pakubuwono XIII Tedjowulan. Dewan Adat keraton yang tidak menerima rekonsiliasi ini memutuskan tidak mau menerima pasangan dwi tunggal itu. Mereka beralasan Tedjowulan sudah bersalah. Sang raja dan panembahan itu tertahan hampir satu jam di luar keraton. Proses masuk keraton ini pun diwarnai adu mulut.

Kedua raja pun pergi ke tempat lain. Sempat misterius, publik akhirnya tahu bahwa kedua raja ini semedi di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Juru bicara KGPH PA Tedjowulan, KPH Bambang Pradoponagoro, mengatakan tujuan Sinuhun dan Gusti Tedjowulan melakukan ritual di Parangkusumo supaya situasi konflik di Keraton Solo segera membaik tanpa ada kekerasan. "Parangkusumo memang tempatnya semedi raja-raja Mataram. Karena di pantai itu dianggap menjadi tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul," kata Pradoponagoro.

Tedjowulan yang sebelumnya ditolak masuk Keraton Kasunanan Surakarta, akhirnya bisa menembus barikade Dewan Adat Keraton Solo, Jumat 15 Juni 2012. Tedjowulan hadir di Keraton Solo untuk mengikuti prosesi tingalan jumenengan dalem Pakubuwono XIII Hangabehi.

Masuknya Tedjowulan ke lingkungan keraton mendapatkan jaminan keamanan dari Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjima'in. Sebelum masuk, Tedjowulan bersama para sentana dalem dan abdi dalem sempat berkumpul di Sasana Mulya yang berjarak 100 meter dari keraton.

Tedjowulan pun akan tinggal lagi di dalam keraton setelah delapan tahun berada di luar tembok karena berkonflik dengan kakaknya. Tedjowulan berjanji akan membantu Raja Solo dan memberi masukan terkait berbagai masalah yang dihadapi Kerajaan.


Sumber (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/439386-kisruh-panjang-keraton-solo--apa-sebabnya-?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter)

Bener2 kaco..

Ronggolawe
27-08-2013, 12:01 PM
Gusti Moeng dan Dewan Adat Keraton kelakuannya sudah kaya Kardinal Richeliu di Three Musketteers

cha_n
27-08-2013, 12:04 PM
maha menteri itu apa ya?

Fere
27-08-2013, 12:10 PM
Gusti Moeng menyerbu keraton bawa ratusan pesilat dari persaudaraan
Setia Hati Terate (SHT) yang berasal dari Yogyakarta, Sragen dan daerah
lainnya. Untung warga nggak tinggal diam..

---------- Post Merged at 11:10 AM ----------


maha menteri itu apa ya?
Kalo gak salah semacam Perdana Menteri

kandalf
27-08-2013, 12:37 PM
Ya ampun.. sejak tahu 2004 masih ribut juga? Fere: Dari mana sumbernya SHT ikut terlibat? Boleh tahu?

Di keluarga yang-gak-boleh-disebutkan-namanya pasti bakal seru isunya nih.

Fere
27-08-2013, 12:50 PM
Hindari Bentrok, Pesilat SHT Dievakuasi Keluar Keraton

VIVAnews - Ratusan pesilat dari persaudaraan Setia Hati Terate (SHT) yang ikut berjaga di lingkungan Keraton Surakarta, malam ini, Senin 26 Agustus 2013, telah dievakuasi untuk dipulangkan ke daerah asalnya.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan dengan warga sekitar keraton. Pantauan VIVAnews, setelah dievakuasi dari Keraton Surakarta, ratusan pesilat itu selanjutnya dikumpulkan di siti hinggil keraton.

Dengan penjagaan ketat dari aparat polisi dan TNI, mereka diminta pulang. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan menaiki kendaraan sendiri maupun dengan diangkut truk dari kepolisian.

Dandim 0735 Surakarta, Letkol Inf Sumirating Baskoro, mengatakan bahwa pihak TNI bersama dengan kepolisian mengawal pemulangan para anggota SHT. Pengawalan ini dilakukan untuk menghindari bentrokan kembali dengan warga.

"Nanti takutnya ada ledek-ledekan dengan warga. Para anggota SHT itu berasal dari Yogyakarta, Sragen dan daerah lainnya," ujar dia.

.....



http://fokus.news.viva.co.id/news/read/439366-hindari-bentrok--pesilat-sht-dievakuasi-keluar-keraton

opera
27-08-2013, 12:54 PM
http://krjogja.com/news_image/img/184939
GKR Wandansari alias Gusti Moeng (kiri) dan putri PB XIII, GKR Timoer Rumbay (Foto: Andjar HW)

t_cl
27-08-2013, 02:05 PM
edi wirabumi tuh yg kemaren kalah telak lawan jokowi pas pemilihan walikota solo. untung solo gak dipimpin orang kayak dia. rusuh keraton juga dr dulu gara gara duo itu. gak pernah enggak

sedgedjenar
27-08-2013, 03:17 PM
Ya ampun.. sejak tahu 2004 masih ribut juga? Fere: Dari mana sumbernya SHT ikut terlibat? Boleh tahu?

Di keluarga yang-gak-boleh-disebutkan-namanya pasti bakal seru isunya nih.

ini semua gara-gara etca nih, efek HBH ::ngakak2::

tuscany
27-08-2013, 03:21 PM
Orangnya sudah damai tapi malah dibikin rusuh. Piye toh wong2 iki?
GRAy Koes Moertiyah ini dulu pernah maen film silat kan? Jadi Gayatri.

cha_n
27-08-2013, 03:30 PM
siap bener siapa salah? gra ini siapanya sultan itu?

Shaka_RDR
27-08-2013, 04:22 PM
eh, temen gw keturunan keraton surakarta. gw tanya dia ah ;D

AsLan
27-08-2013, 04:23 PM
Keraton dapet duit dari mana ya? APBD?
Gede gak uang yg mengalir disitu ?

opera
27-08-2013, 04:39 PM
keraton kan punya banyak tanah... sewa2in aja udah jadi uang...
lum lagi masuk parpol dgn pengaruh keratonnya pasti udah byk pengikutnya

spears
27-08-2013, 04:50 PM
Br plg dr solo kmrn.
And i think solo is beautiful country lho :D

Dulu pas msh tinggal di jogja, aku ga suka ke solo. Imho..sepi en gimanaaa gitu
Tapi..
Pas kmrn ke Solo..aku kok merasakan sesuatu perasaan cinta ama Solo. Hallagghh
Hehehehe
Mungkin krn pemandangannya tuh mengasyikkan
Masih ada becak...
Trus tiap bangunan dan papan jalan masih menggunakan tulisan jawa
Truss kbtulan hotel tempat gw tinggal tuh musiknya gamelan 24 hour
Jd berasa terlempar ke zaman majapahit *ambil kemben ama blangkon*

Aku vote Solo dijadiin kota budaya :D

Maaf komen saya oot. Soalnya ga ngerti soal kasunanan Solo

kandalf
27-08-2013, 05:05 PM
Trus tiap bangunan dan papan jalan masih menggunakan tulisan jawa
Truss kbtulan hotel tempat gw tinggal tuh musiknya gamelan 24 hour
Jd berasa terlempar ke zaman majapahit *ambil kemben ama blangkon*


Solo dan Jogja dari dulu sudah pakai tulisan jawa di papan nama jalan.
Sekarang kota2 lain mulai ikut2an. Termasuk kota-kota di Jawa Barat seperti Cianjur dan Bandung, pakai abjad Sunda.

cha_n
27-08-2013, 07:04 PM
kota2 di sumsel juga udah mulai pakai huruf jaman dulu. ga tau itu huruf apa

Fere
27-08-2013, 11:07 PM
spears nginep dimana..?


Solo dan Jogja dari dulu sudah pakai tulisan jawa di papan nama jalan...
Betul..


Orangnya sudah damai tapi malah dibikin rusuh. Piye toh wong2 iki?
GRAy Koes Moertiyah ini dulu pernah maen film silat kan? Jadi Gayatri.
Gw malah gak tau dia pernah main pilem apa kagak. Yang pasti dia sangat populer di
Solo, bahkan lebih pouler dibandingin rajanya sendiri..


siap bener siapa salah? gra ini siapanya sultan itu?
GRAy Koes Murtiyah (Gusti Moeng) ini adiknya PB XIII KGPH Hangabehi, entah satu ibu
ato bukan, gw kurang paham. Jadi PB XII itu punya 6 selir, tapi nggak punya permaisuri.
Dari para selir ini PB XII punya 35 anak. Diantaranya KGPH Hangabehi (anak tertua),
KGPH Tedjowulan (anak kelima) dan Gusti Moeng (anak kesembilan—kalo gak salah).

Masalah timbul ketika PB XII wafat, dia nggak punya putra mahkota, kecuali anak2 dari
para selirnya. KGPH Hangabehi sebagai anak tertua merasa paling berhak untuk menjadi
raja, namun klaim tsb dianggap melangkahi wewenang dari ketiga Pengageng Keraton,
yaitu Pengageng Parentah, Pengageng Parentah Keputren dan Pengageng Sentana Dalem.

Ketiga Pengageng tsb menilai KGPH Hangabehi tidak layak jadi raja, sehingga mereka
mengangkat KGPH Tedjowulan sebagai raja. Sebagian pihak mendukung pengangkatan
putra tertua, KGPH Hangabehi sebagai raja (termasuk Gusti Moeng). Sementara sebagian
lainnya mendukung KGPH Tedjowulan. Jadi sejak saat itu (2004) Keraton Surakarta punya
2 raja. Dualisme ini berlangsung hingga lebih dari 7 tahun, sampai akhirnya pada tahun lalu
diadakan rekonsiliasi diantara kedua belah pihak. Salah satu kesepakatan dalam rekonsiliasi
tsb menyatakan bahwa KGPH Tedjowulan bersedia mundur dari kedudukannya sebagai raja
dan dia akan diberi jabatan sebagai Maha Menteri.

Namun masalah baru timbul, Gusti Moeng sebagai ketua Dewan Adat menolak kesepakatan
tsb. Dia menganggap KGPH Tedjowulan telah melakukan aksi makar, jadi tidak layak diberi
jabatan dalam Keraton, bahkan seharusnya dihukum dan dikeluarkan dari silsilah kerajaan.

Jadi sejak saat itu KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan berada di satu kubu, sementara
Gusti Moeng dan Lembaga Dewan Adat yang dulunya mendukung KGPH Hangabaehi, kini
berada di kubu yang berseberangan.

Jadi, siapa yang salah..?

cha_n
28-08-2013, 12:02 AM
berarti yang salah pakubuwono XII. kenapa ga punya permaisuri

Fere
28-08-2013, 12:45 AM
^
Mungkin ukurannya gak ada yang cocok.. ::ungg::


Keraton dapet duit dari mana ya? APBD?
Gede gak uang yg mengalir disitu ?
- Dari Pemkot sekitar RP. 300 juta
- Dari Pemprov sekitar Rp. 1,176 M



Ini Dia Data Keuangan Keraton Surakarta
SoloBlitz - Jumat, 24/05/2013 07:15 WIB

Pengeluaran:

1. Ada sembilan even besar di Keraton Surakarta, seperti Gerebek Mulud, Gerebek Poso, Gerebek Besar, Maheso Lawung, Kirab 1 Suro, Pengetan Hadeging Nagari Surakarta, Malem Selikuran, Tingalan Jumenengan, dan Maklumat 1 September. Setiap even memakan anggaran antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta.

2. Biaya gaji untuk sekitar 506 abdi dalem mencapai Rp 900 juta per tahunnya.

3. Biaya perawatan dan pemeliharaan bangunan Keraton Surakarta mencapai Rp 100 juta per tahunnya.

4. Biaya upacara dan sesaji harian mencapai Rp 10 juta per bulannya.

Pemasukan tetap:

1. Dari hasil Gerebek Mulud atau Sekatenan sekitar Rp 200 juta.

2. Dari Pemkot Surakarta Rp 300 juta per tahun (mulai macet sejak tahun 2010)

3. Dari Pemprov Jawa Tengah Rp 1,2 miliar per tahun (mulai macet sejak tahun 2012)

sumber: Sasana Wilapa Keraton Surakarta
Editor : Deniawan

http://www.soloblitz.co.id/2013/05/24/ini-dia-data-keuangan-keraton-surakarta/

AsLan
28-08-2013, 01:37 AM
Abdi dalem gajinya kecil banget...

opera
28-08-2013, 09:15 AM
abdi dalem kan punya pekerjaan diluar
bisa jadi dokter, tukang becak, pecel, insinyur, preman, tukang parkir, polisi dll dll

BundaNa
28-08-2013, 12:22 PM
Abdi dalem gajinya kecil banget...

kan ngabdi, bukan kerja -_-

etca
28-08-2013, 02:18 PM
Fere
ampe huruhara ga sih?
ga sampe bakar2an kan? ;D
Gw dari dulu males tuh ngikutin berita dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Ronggolawe
28-08-2013, 02:29 PM
dualismenya sendiri sudah berakhir kok. Malah seka
rang rukun. Masalahnya ini ada Dewan Adat Keraton
yang seolah lebih berkuasa dibandingkan Sunan sen
diri :)

spears
28-08-2013, 03:26 PM
spears nginep dimana..?


Betul..


Gw malah gak tau dia pernah main pilem apa kagak. Yang pasti dia sangat populer di
Solo, bahkan lebih pouler dibandingin rajanya sendiri..


GRAy Koes Murtiyah (Gusti Moeng) ini adiknya PB XIII KGPH Hangabehi, entah satu ibu
ato bukan, gw kurang paham. Jadi PB XII itu punya 6 selir, tapi nggak punya permaisuri.
Dari para selir ini PB XII punya 35 anak. Diantaranya KGPH Hangabehi (anak tertua),
KGPH Tedjowulan (anak kelima) dan Gusti Moeng (anak kesembilan—kalo gak salah).

Masalah timbul ketika PB XII wafat, dia nggak punya putra mahkota, kecuali anak2 dari
para selirnya. KGPH Hangabehi sebagai anak tertua merasa paling berhak untuk menjadi
raja, namun klaim tsb dianggap melangkahi wewenang dari ketiga Pengageng Keraton,
yaitu Pengageng Parentah, Pengageng Parentah Keputren dan Pengageng Sentana Dalem.

Ketiga Pengageng tsb menilai KGPH Hangabehi tidak layak jadi raja, sehingga mereka
mengangkat KGPH Tedjowulan sebagai raja. Sebagian pihak mendukung pengangkatan
putra tertua, KGPH Hangabehi sebagai raja (termasuk Gusti Moeng). Sementara sebagian
lainnya mendukung KGPH Tedjowulan. Jadi sejak saat itu (2004) Keraton Surakarta punya
2 raja. Dualisme ini berlangsung hingga lebih dari 7 tahun, sampai akhirnya pada tahun lalu
diadakan rekonsiliasi diantara kedua belah pihak. Salah satu kesepakatan dalam rekonsiliasi
tsb menyatakan bahwa KGPH Tedjowulan bersedia mundur dari kedudukannya sebagai raja
dan dia akan diberi jabatan sebagai Maha Menteri.

Namun masalah baru timbul, Gusti Moeng sebagai ketua Dewan Adat menolak kesepakatan
tsb. Dia menganggap KGPH Tedjowulan telah melakukan aksi makar, jadi tidak layak diberi
jabatan dalam Keraton, bahkan seharusnya dihukum dan dikeluarkan dari silsilah kerajaan.

Jadi sejak saat itu KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan berada di satu kubu, sementara
Gusti Moeng dan Lembaga Dewan Adat yang dulunya mendukung KGPH Hangabaehi, kini
berada di kubu yang berseberangan.

Jadi, siapa yang salah..?

Nginep di Lor-in yg jl. Adi sucipto ;D

Btw, imho itu salah semua.
Baik Hangabehi maupun tedjowulan dll tuh ga berhak sama tahta.
Yg berhak adiknya PB XII dunk..beserta keturunan2nya..

Mereka (yg dr selir) itu ud mud blood..bukan blue blood lg

tuscany
28-08-2013, 04:01 PM
berarti yang salah pakubuwono XII. kenapa ga punya permaisuri

Iya nih gimana atuh sang raja? status permaisuri itu salah satu tujuannya untuk menunjuk putera mahkota, biar nggak saling silang karena kebanyakan selir.


Nginep di Lor-in yg jl. Adi sucipto ;D

Btw, imho itu salah semua.
Baik Hangabehi maupun tedjowulan dll tuh ga berhak sama tahta.
Yg berhak adiknya PB XII dunk..beserta keturunan2nya..

Mereka (yg dr selir) itu ud mud blood..bukan blue blood lg

Emang HP ::elaugh:: pake mud blood segala.
Siapa yang berhak sebaiknya dimusyawarahkan sajalah, biar sama-sama enak. Abis itu jangan lupa tunjuk permaisuri.
Keraton Jogja malah nggak ada putera mahkota toh...nah liat aja ntar gimana urusannya.

BundaNa
28-08-2013, 06:51 PM
Yg berhak jd permaisuri biasanya msh ada keturunan rajanya. Ga tau istri2nya ini ada yg begitu ato gak

AsLan
28-08-2013, 08:44 PM
Berarti bener, mud blood semua, sama jelatanya sama member KM...

Artinya raja gak punya keturunan, ya adiknya raja yg berhak megang tahta.

Fere
28-08-2013, 11:24 PM
Fere
ampe huruhara ga sih?
ga sampe bakar2an kan? ;D
Gw dari dulu males tuh ngikutin berita dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Ndak sampe segitu cak, karena pada dasarnya warga menganggap kisruh yang terjadi
adalah masalah internal keraton, jadi nggak mau ikut campur. Kalopun kemaren sempet
terjadi aksi pendobrakan pintu gerbang kraton, itu dikarenakan warga khawatir dengan
keselamatan PB XIII yang terkurung di dalam istana bersama geng Dewan Adat..


dualismenya sendiri sudah berakhir kok. Malah seka
rang rukun. Masalahnya ini ada Dewan Adat Keraton
yang seolah lebih berkuasa dibandingkan Sunan sen
diri :)
Seperti yg udah gw bilang sebelumnya, Gusti Moeng itu sangat populer, cukup berpengaruh
dan banyak pengikutnya, termasuk keluarga kraton sendiri. Malah itu anaknya raja bukannya
mendukung bapaknya malah ikutan Gusti Moeng..



Gusti Moeng Desak Pencabutan Wewenang PB XIII
________________________________________
Tomi Sujatmiko | Senin, 26 Agustus 2013 | 16:23 WIB |

SOLO (KRjogja.com) - GKR Wandansari alias Gusti Moeng sebagai Pengageng Sasana Wilapa merangkap Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) mendesak pencabutan tugas dan wewenang raja Kraton Surakarta ISKS Pakoe Boewono XIII Hangabehi oleh lembaga adat karena dinilai telah menyalahi adat (paugeran kraton Surakarta).

Dalam rapat yang dihadiri Lembaga adat dan representasi dari perwakilan trah PB II hingga PB XIII (diwakili anak Hangabehi) GKR Timoer Rumbay diputuskan Hangabehi tidak lagi menjadi raja, sedang raja dijabat secara kolegial akan diumumkan kemudian hari.

Gusti Moeng kepada wartawan saat terjadi ontran-ontran halal bihalal, Senin (26/8) mengatakan Minggu (25/8) malam Lembaga Dewat Adat (LDA) Kraton Surakarta beserta perwakilan trah PB II hingga PB XIII melakukan rapat di Kraton Surakarta. “Hasil rapat memutuskan sejak 25 Agustus Hangabehi tidak lagi menjadi raja. Dicabut tugas dan wewenangnya karena menyalahi paugeran kraton,”ujar Gusti Moeng.

Dicontohkannya Hangabehi sebagai Raja PB XIII telah diingatkan namun membandel tidak mau hadir dalam acara jumenengan beberapa waktu lalu yang didalamnya ditarikan Bedhoyo Ketawang. Padahal secara adat PB XII almarhum sudah dawuh tugas seorang raja adalah menjaga kelestarian Bedhoyo Ketawang.

Yang juga dilanggar oleh Hangabehi adalah mengangkat seorang yang salah (melakukan makar yakni KGPA Tedjowulan) namun malah diberi kedudukan Patih hingga Maha Menteri. (Hwa)

http://kr.co.id/read/184939/gusti-moeng-desak-pencabutan-wewenang-pb-xiii.kr




Legitimasi Lembaga Dewan Adat Keraton Solo dipertanyakan

Rendra Saputra Selasa, 27 Agustus 2013 − 08:11 WIB

Sindonews.com - Lembaga Dewan Adat Keraton Solo yang belakangan selalu muncul di permukaan dalam kisruh perebutan tahta dua raja, dikritik. Pasalnya legitimasi Lembaga Dewan Adat yang melakukan pengambilalihan kewenangan Paku Buwono XIII Hangabehi dipertanyakan.

Menurut Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS), Tunjung W Sutirta, sejak pemimpin keraton pertama kali ada, tak ada istilah Lembaga Dewan Adat apalagi bisa mengultimatum dan mencabut kewenangan seorang raja.

"Keraton bukanlah suatu lembaga. Dewan adat dari dulu tidak ada dalam sistem keraton. Rajalah yang memiliki kewenangan penuh dan berhak mengatur UU keraton," papar Tunjung kepada Sindonews, Selasa (27/8/2013).

Tunjung bahkan menyebut jika Lembaga Dewan Adat tak ubahnya seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ataupun organisasi masyarakat (ormas).

“Dari PB II sampai PB XII tidak ada Lembaga Adat. Itu bentukan siapa? Itu kan ormas yang terdaftar di Kesbangpolinmas. Sinuhun sendiri tidak pernah mengakui Lembaga Adat," jelasnya.

Atas kondisi tersebut, Tunjungpun meminta masyarakat tak menganggap Lembaga Dewan Adat, karena dinilai tidak memiliki kewenangan apapun di keraton. "Ini memprihatinkan, kewenangan Lembaga Adat lah yang seharusnya dicabut," gusar Tunjung.

http://daerah.sindonews.com/read/2013/08/27/22/775730/legitimasi-lembaga-dewan-adat-keraton-solo-dipertanyakan

cha_n
28-08-2013, 11:39 PM
makin aneh aja cerita nya

Ronggolawe
28-08-2013, 11:48 PM
si Moeng ini ngetop karena pernah main sinetron
di TPI dulu, jadi Gayatri ibu kandungnya Brama Kum
bara :)


mau melestarikan Budaya Leluhur Kraton, kok mem
bangkang ama Sinuhun :)