View Full Version : - Antre Kamar RS Sampai Meninggal -
Kasus jual beli kamar yang mulai terungkap akhir-akhir ini membuat sejumlah pasien yang pernah mendapat pengalaman buruk angkat bicara. Tining misalnya. Warga asal Sidoarjo itu harus rela kehilangan suaminya hanya karena janji kamar yang tidak kunjung ada.
Kejadian itu berawal dua tahun silam ketika sang suami (alm) Sunarto positif menderita kanker lidah. Setelah mendapat perawatan, Sunarto dianjurkan melakukan kemoterapi. Karena bermodal jamkesmas, Tining membawa sang suami masuk melalui kamar terima bedah (KTB).
Namun, dia kurang beruntung. Petugas KTB mengatakan bahwa kamar untuk kemoterapi sudah penuh dan harus mengantre hingga tiga bulan. "Waktu itu, kami kecewa. Padahal, bapak perlu pertolongan secepatnya," ujarnya.
Sesuai arahan dari petugas KTB, Tining selalu aktif menelepon untuk menanyakan kondisi kamar apakah ada yang kosong atau tidak. Bahkan, jika ada kesempatan, dia mendatangi langsung ruangan tersebut. "Rumah saya kan lumayan jauh. Ya, waktu itu saya memantaunya lewat telepon saja. Kadang kalau sempat, saya langsung ke sana," ungkapnya.
Sayang, setelah tiga bulan berlalu, kamar yang dijanjikan tak kunjung ada. Untuk kali kesekian upaya Tining untuk meminta kamar selalu kandas. Padahal, kondisi sang suami waktu itu sangat serius. "Ya, waktu itu saya hampir pasrah. Sebagai orang yang nggak punya, saya hanya bisa merawat bapak di rumah sambil melakukan kontrol ke poli," ujarnya.
Pada akhirnya, tepat satu hari setelah Tining memeriksakan suami ke poli, keesokannya sang suami meninggal. "Ya, waktu itu Jumat kontrol ke poli. Sabtunya bapak sudah nggak ada," ujarnya, lantas tercenung.
Setelah sang suami meninggal, ternyata Tining masih penasaran dengan antrean kamar di RSUD dr Soetomo. Akhirnya, dia kembali menelepon meski sebenarnya sudah tidak berkepentingan lagi dengan kamar tersebut.
Namun, upayanya menanyakan kamar tersebut justru mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan. "Saya waktu itu ditanyai nomor antrean berapa? Ya, saya jawab antrean 200 sekian. Namun, si petugas bilang suruh sabar. Kemudian, saya mendesak lagi, eh dia malah bilang pokoknya kalau belum, ya belum," ungkap Tining.
Nah, kejadian tersebut membuat Tining semakin penasaran. Hingga suatu ketika pada percobaan berikutnya, dia menemukan kecurigaan. "Pada upaya yang terakhir, ketika saya menanyakan kamar, si petugas malah bilang, kalau saya bisa menyiapkan uang Rp 7 juta, suami saya dapat kamar dan segera mendapat perawatan," ujar ibu empat anak itu.
Sontak saja, perkataan tersebut membuat Tining terdiam. Sebagai orang yang sehari-hari bekerja sebagai penjual rujak manis, dia merasa aneh dengan perkataan itu dan akhirnya memilih untuk tidak mau meneruskan lagi.
"Ya buat apa saya terusin, lah wong suami saya sudah meninggal. Cuma saya mbatin, ternyata selama ini yang bikin lama hanya masalah duit. Lagian kalau bapak masih ada, ya saya juga nggak punya duit segitu," jelasnya.
Inspektorat Bertindak
Setelah berhasil menggandeng KPK lagi terkait dengan kasus dugaan suap antrean di kamar terima bedah (KTB) RSUD dr Soetomo, hari ini Inspektorat Jatim resmi membentuk tim pencari fakta di lapangan. Kepala Inspektorat Jatim Bambang Sadono menjelaskan, tindak lanjut tersebut dilakukan setelah mendapat instruksi dari Gubernur Jatim Soekarwo pada Selasa (23/7) untuk mencari fakta praktik suap antrean tersebut.
Dia menyatakan bahwa tim terdiri atas tiga pegawai di lingkungan Inspektorat Jatim. Mulai kemarin (24/7) tim itu resmi bertugas untuk mencari fakta.
Bambang menegaskan, tim tersebut nanti terjun ke RSUD dr Soetomo untuk menelusuri temuan dari media terkait dengan beberapa pasien yang menderita karena ketidakjelasan antrean di KTB. Pada praktiknya nanti, tim menelusuri nama-nama pasien yang muncul dan ditulis di media.
Langkah itu, menurut dia, adalah langkah awal sebelum Inspektorat Jatim menggandeng KPK lagi. Sebab, bila belum terbukti dan melacak nama-nama pasien yang muncul di media, pihaknya belum bisa meminta KPK untuk mengusut ulang.
"Terlebih, permasalahan ketidakjelasan antrean kamar sudah diterima KPK," tegas alumnus UPN Veteran Surabaya itu. Dia berjanji mencari fakta di lapangan sebelum membawanya ke KPK lagi.
Dalam upaya mencari fakta tersebut, pihaknya berharap media memberikan identitas pasien antre KTB yang tidak terlayani dan pernah ditawari untuk menyuap petugas agar antreannya dipercepat.
Menurut dia, karena dugaan itu bermula dari temuan media, pihaknya melalui tim akan menelusuri keberadaan pasien-pasien tersebut. Selanjutnya, pihak inspektorat membuat berita acara tertulis dari nama-nama pasien atau keluarga pasien itu yang pernah memiliki pengalaman soal antrean KTB. "Sebab, kalau hanya omongan kan bisa berubah-ubah, bukti itu kurang kuat," tegasnya.
Soal lamanya penyegaran petugas pengelola KTB, dia menjelaskan bahwa hal itu bisa jadi suatu pelanggaran. "Aturannya, untuk pejabat tingkat eselon ada mutasi setahun sekali," jelasnya.
Namun, kata Bambang, bila petugas yang menjadi penanggung jawab KTB hanya memiliki satu staf, tidak ada ketentuan yang mengatur rotasi.
sumber : http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=183518
AsLan
25-07-2013, 05:42 PM
Kanker tuh begitu ketauan langsung masuk ugd, gak boleh tunda2.
choodee
25-07-2013, 06:01 PM
Kanker tuh begitu ketauan langsung masuk ugd, gak boleh tunda2.
itu awalnya aja aslan masuk ugd, pas maw kemo dan macem2 kan cuman masuk kamar biasa atau ruang kemo, nah ini yang ngantri. kek pengalaman tante gw kemaren2 perawatan kanker, terus kan ada efek samping muntah2, ya pas awalnya aja masuk ugd, selanjutnya kan harus masuk kamar perawatan biasa, waktu itu kamar sampai kelas 1nya penuh semua, antara harus balik ke rumah atau masuk ruang vvip, ya terpaksa masuk ruang vvip.
tapi masalah kesehatan di indonesia ini, emang gw kasian banget kok, terutama buat orang miskin. gw kemaren denger cerita penjaga kosan gw, kalo bawa jamkesmas disuruh nunggu lamaaa banget dan pelayanannya jutek. kalo penyakit2 berat yang harus darurat perawatannya mreka ya terpaksa lewat jalur biasa kalo ga maw koit, ada yang bayar ampe bejuta, buat orang susah uang jutaan itu kan ya berat banget, sampai katanya keluarganya ampe jual tanah dan sawah.
di samarinda juga jamkesmasnya parah, gw diceritain keluarga gw yang pake jamkesmas, kalo maw ambil obat selalu dibilangin obatnya abis dan ga ada dan disuruh beli ke apotek lain (kan otomatis bayar mahal). pokoknya kasihan deh.
BundaNa
26-07-2013, 04:33 AM
Kalo di rs dr sutomo bukannya itu kasus lama ya? Jawa pos udah pernah investigasi itu soalnya. Unit KTBnya emang ga beres, suka minta duit ke pasien kalo pengen dilayani cepet
surjadi05
26-07-2013, 10:33 AM
mewakili bapak presiden kita saya hendak mengucapakan "SAYA PRIHATIN"::arg!::::arg!::
sedikit cerita.
waktu Papa saya jatuh , patang tulang lengan , kan dibawa ke RS , trus langsung diproses.
pas ada seorang ibu dari keluarga ga mampu , datang melahirkan , mungkin kesakitan , dia teriak - teriak , susternya bilang , "pas buat aja keenakan , pas melahirkan teriak - teriak kesakitan. mau enak aja." -> bayangin !!! itu suster , cewek , bilang kayak gitu. padahal saya juga ga yakin , ekonomi dia lebi baik dari ibu yang teriak itu.
kedua , pas Grandpa saya kecelakaan ditabrak motor , Grandpa saya digeletakin di RS , ga diproses , padahal sekarat , karena dianter sopir taxi.
begitu Cici Papa saya yang dokter spesialis datang , langsung suster ama dokternya semburat berlarian cepet masukin Grandpa saya ke kamar operasi.
please deh , kalo emang mo jadi suster ato dokter , kerja pake hati , jangan semua diliat dari materi dong !!!
makanya saya mending ke RS yang gede dan terkenal , daripada saya harus ke RS pinggiran jalan.
saya juga pernah operasi tangan di RS pinggiran , saya takut dan nangis , trus dokter ama susternya bercandaan dan ketawa - ketawain saya.
pernah juga di RS terkenal di Surabaya , karena saya takut disuntik , saya tegang , dan pembuluh darah saya pecah terus. pas saya sampe ruang operasi , susternya nyeletuk - nyeletuk , "ibu ini lo , udah gede masi takut disuntik , mungkin biasa di rumah , nontonnya film Tom and Jerry kali ya." -> dia bilang gitu ke suster laen.
sayang banget ya , saya ga perhatian nama susternya dll.
pokoknya kalo kerja pake hati lah , jangan semua diliat dari materi. apalagi kalo jadi suster trus ngomongnya menjatuhkan pasien.
surjadi05
26-07-2013, 12:30 PM
sedikit cerita.
waktu Papa saya jatuh , patang tulang lengan , kan dibawa ke RS , trus langsung diproses.
pas ada seorang ibu dari keluarga ga mampu , datang melahirkan , mungkin kesakitan , dia teriak - teriak , susternya bilang , "pas buat aja keenakan , pas melahirkan teriak - teriak kesakitan. mau enak aja." -> bayangin !!! itu suster , cewek , bilang kayak gitu. padahal saya juga ga yakin , ekonomi dia lebi baik dari ibu yang teriak itu.
kedua , pas Grandpa saya kecelakaan ditabrak motor , Grandpa saya digeletakin di RS , ga diproses , padahal sekarat , karena dianter sopir taxi.
begitu Cici Papa saya yang dokter spesialis datang , langsung suster ama dokternya semburat berlarian cepet masukin Grandpa saya ke kamar operasi.
please deh , kalo emang mo jadi suster ato dokter , kerja pake hati , jangan semua diliat dari materi dong !!!
makanya saya mending ke RS yang gede dan terkenal , daripada saya harus ke RS pinggiran jalan.
saya juga pernah operasi tangan di RS pinggiran , saya takut dan nangis , trus dokter ama susternya bercandaan dan ketawa - ketawain saya.
pernah juga di RS terkenal di Surabaya , karena saya takut disuntik , saya tegang , dan pembuluh darah saya pecah terus. pas saya sampe ruang operasi , susternya nyeletuk - nyeletuk , "ibu ini lo , udah gede masi takut disuntik , mungkin biasa di rumah , nontonnya film Tom and Jerry kali ya." -> dia bilang gitu ke suster laen.
sayang banget ya , saya ga perhatian nama susternya dll.
pokoknya kalo kerja pake hati lah , jangan semua diliat dari materi. apalagi kalo jadi suster trus ngomongnya menjatuhkan pasien.
aduh ly, ga boleh gitu loh, emang dokter ama suster bukan manusia, gw rasa hampir semua manusia indonesia empathy nya udah jauh berkurang, kamu tahu ga gaji dokter yg baru tamat cuma 2.5jt loh, trus kalo bayar sekolah anak emang bisa dengan memelas ke sekolah anaknya, belum lagi banyak kejadian di indo pasien buron ga sanggup bayar, nah menurut kamu yg tanggung ntar biayanya siapa? yah dokter/suster yg pertama kali menerimanya, bukan management RS ::bye::
ga bole apaan ?
saya cuma bilang kerja pake hati.
itu emang kenyataan , mereka milih pasien diliat dari materi. yang kaya bisa langsung lolos.
BundaNa
26-07-2013, 04:39 PM
Masalah rmh skt itu memang kompleks apalagi yg swasta, profitnya bener2 dari pasien. Mau ga pake dp takut ga jalan operasionalnya, pake dp kog tega bener. Buat yg rmh skt plat merah, stempelnya terlanjur melekat, mau murah jangan ngarep fasilitas lebih, mau enak yg byr lbh
AsLan
26-07-2013, 05:57 PM
Masalahnya, biaya sudah ditanggung pemerintah eh karyawan rumah sakitnya masih meres pasien, oknum2 yg kayak gini musti di penjara.
choodee
26-07-2013, 07:39 PM
setuju ama lily, walaupun mnurut gw ga perlu pake hati amat, tapi harus profesional. ya calon dokter pasti taw dong resiko dan pendapatannya sebagai dokter. jangan mentang2 merasa gaji kecil ga sepadan dengan titel trus seenaknya ga profesional. masalah resiko pasien buron, ya sama lah kek pekerja lain, semuanya ada resikonya.
dan soal profesional ini gw tekankan buat semua profesi, bukan cuman dokter aja. dan dokter pun ga ada special privilege.
dokter dan suster di kampung gw malah suka lebih parah. yah gw bandingin kalo gw sakit dan ke rs jokja, susternya ramah2, senyum, dokternya juga senyum2. coba kalo di kampung, hedeeewww.... masa ada dong ya suster ga maw mandiin pasien, disuruh keluarganya yang mandiin ::grrr:: itu gw yang keluarganya bayar rs nya, bayangin aja itu kalo orang2 miskin yang modal jamkesmas, gimana perlakuannya.
BundaNa
26-07-2013, 07:44 PM
Setau gw ga gitu slan. Duit dari pemerintah keluar kalo ada klaim dari rumkit, itu juga bisa beberapa bulan kemudian, kalo pake jamkesmas ato askeskin, kalo askes klaimnya lancar. Itu kenapa rumkit daerah pd gampang jutek ke pasien jamkesmas. Padahal salahnya di penyelenggara, bukan pasien
thin.king
26-07-2013, 08:47 PM
yup, klaim" dana RS itu kadang sulit.
kemaren waktu klarifikasi penolakan pasien jamsostek aja pada lempar"an tanggung jawab, dari RS bilang belom dapet dana, dari jamsostek bilang udah cair dananya ::doh::
dilema kan jadinya.
yg penting itu hidup sehat, kurangi minuman beralkohol,dan berhenti merokok. ::oops::
btw gimana sih cara tau RS swasta ama RS pemerintah ?
dua kejadian yang saya tulis di atas itu di RS yang sama ama RS yang ditulis di Jawa Pos. yang kejadian ibu ga mampu melahirkan dan Grandpa saya ditelantarin.
kalo yang saya operasi lengan itu di Klinik pinggiran kali.
kalo yang pembuluh darah saya pecah , kayanya itu RS swasta deh , soalnya di Jakarta juga ada.
thin.king
26-07-2013, 09:19 PM
^
platnya merah ly.
:run:
BundaNa
26-07-2013, 09:24 PM
btw gimana sih cara
tau RS swasta ama RS pemerintah ?
dua kejadian yang saya tulis di atas itu di RS yang sama ama RS yang
ditulis di Jawa Pos. yang kejadian ibu ga mampu melahirkan dan Grandpa
saya ditelantarin.
kalo yang saya operasi lengan itu di Klinik pinggiran kali.
kalo yang pembuluh darah saya pecah , kayanya itu RS swasta deh ,
soalnya di Jakarta juga ada.
Rumkit pemerintah tuh labelnya RSUD, RSUP, dr sutomo punya pemerintah ly. kalo yg pemerintah mesti terima pasien jamkesmas, kalo yg swasta t'gantung kesepakatan sama pemerintah
RSUD itu singkatan apa ya ? rumah sakit umum daerah ya bun ?
ancuur
26-07-2013, 09:40 PM
RSUD itu singkatan apa ya ? rumah sakit umum daerah ya bun ?
RSUD = Rumah Sakit Umum Daerah.. klo RSUDS = Rumah Sakit Umum Daerah Sekitarnya :jempol:
RSJ - KM = Rumah Sakit Jiwa Kopi Maya :ngopi:
AsLan
26-07-2013, 11:45 PM
Kalo memang yg salah adalah oknum pemerintahnya ya harus dicari dan dipenjara.
Harus ada penegakkan hukum bagi orang2 yg mencurangi sistim.
surjadi05
27-07-2013, 11:26 PM
ga bole apaan ?
saya cuma bilang kerja pake hati.
itu emang kenyataan , mereka milih pasien diliat dari materi. yang kaya bisa langsung lolos.
ga boleh langsung nge judge, kamu kan ga tahu apa yg terjadi sebenarnya?::ungg::::ungg::, selalu ada 2 sisi dari 1 cerita
Masalahnya, biaya sudah ditanggung pemerintah eh karyawan rumah sakitnya masih meres pasien, oknum2 yg kayak gini musti di penjara.
kalo ini kan beda kasus::bye::
BundaNa
29-07-2013, 12:41 PM
Kalo memang yg salah adalah oknum pemerintahnya ya harus dicari dan dipenjara.
Harus ada penegakkan hukum bagi orang2 yg mencurangi sistim.
Yah itu kan maunya kita Slan...nyatanya sering ada investigasi, ya lolos mulu...mau gimana? Yang mencurangi sistem itu ibaratnya orang yang apal sistem itu berlaku kayak gimana. Gwe pernah beberapa kali berurusan sama rumkit, semua dimudahkan karena gwe selalu minta tolong sodara yang jadi perawat senior di sana. Gwe ga pernah ribet ngurus DP atau pas pulang ya pulang aja dulu, minggu depan baru ngelunasin semua, misalnya. Atau bokap pake askes juga digampangin, asal mau ngikut di kelasnya.
Ada tetangga dia pake jampersal, masuk udah dijutekin perawatnya (orang yang sama yang ngurus gwe pas caesar, tapi sama gwe ramahnya luar biasa), udah dicaci "Orang miskin mau cari gratisan."
Omongan gitu aja sebenernya bisa diusut, tapi orang2 males memperpanjang masalah, paling banter itu perawat dibales dimaki kalau kamu berani. Apalagi urusan sogok menyogok gitu...lo ngadu, eh taunya pas investigasi ga ada pembuktiannya, lo juga yang rugi. Lo diem dan ngikutin mau orang rumkit, eh metong juga.
Sebenernya kalau klaim2 itu beres, rumkit gwe rasa juga ga bakal memperumit masalah. Tapi kasus yang diajuin lily ini emang udah lama, dan beberapa kali investigasi, ga tau kenapa lolos mulu...mungkin tim investigasinya juga harus dipertanyakan
kalo misal omongan gitu , susah ya bun semisal ga direkam...
BundaNa
29-07-2013, 12:57 PM
^kalau ada lebih dari dua saksi benernya bisa...tapi kan mereka yang dapet jampersal itu seolah2 tau konsekuensinya kalau gratisan, harus rela dijutekin pihak rumah sakit. Seperti kata gwe, karena klaim jampersal atau askeskin itu susah, makanya pihak rumah sakit nge-bt in pasiennya
Dulu dana kesehatan masyarakat miskin dikelola oleh Askes, jadi askeskin itu tadi. Tapi gara2 suka luamaaaaaaaaaaaaa klaimnya bahkan gak bisa cair juga, maka pemerintah menarik dana kesehatan dari pt askes, kayaknya dikelola sama pemda masing2. Nah sekarang, eh penyakitnya sama. sama2 doyan duit
kok aneh sih , kasi gratis , tapi ga ikhlas , gimana sih...
kalo kasi gratis , ya tetep dong smile , layani dengan hati , kerja ya kerja profesional.
tapi emang ya suster itu ada yang baik , ada yang ga bermutu.
Grandma saya aja masuk VIP , susternya tetep mulutnya monyong , dan cemberut kalo Grandma saya minta kakinya dikasi bantal ato diturunin dari bantal.
padahal tante saya yang dokter aja , ga begitu ama pasien laen.
surjadi05
29-07-2013, 04:07 PM
Dulu dana kesehatan masyarakat miskin dikelola oleh Askes, jadi askeskin itu tadi. Tapi gara2 suka luamaaaaaaaaaaaaa klaimnya bahkan gak bisa cair juga, maka pemerintah menarik dana kesehatan dari pt askes, kayaknya dikelola sama pemda masing2. Nah sekarang, eh penyakitnya sama. sama2 doyan duit
nah ini alasan sebenarnya kenapa RS rata2 menerapkan trauma menerima pasien miskin, gw pernah baca beberapa lap keu Rumah sakit swasta di batam, hutang "pemerintah" ke rumah sakit itu hitungannya bukan ratusan juta lagi tapi udah sampe Milyar, bokap gw dari kecil selalu ajarin ke gw, kalo miskin jangan sakit, kalo ga bisa cari duit yg banyak ya ga boleh sakit, PERIOD ::bye::
sakit mana bisa milih om , mo ke orang miskin ato kaya...
saya liat TV , ada tuh orang miskin kena kanker serviks , sampe kelaminnya penuh belatung.
kasian kan...
BundaNa
29-07-2013, 04:11 PM
kok
aneh sih , kasi gratis , tapi ga ikhlas , gimana sih...
kalo kasi gratis , ya tetep dong smile , layani dengan hati , kerja ya
kerja profesional.
tapi emang ya suster itu ada yang baik , ada yang ga bermutu.
Grandma saya aja masuk VIP , susternya tetep mulutnya monyong , dan
cemberut kalo Grandma saya minta kakinya dikasi bantal ato diturunin
dari bantal.
padahal tante saya yang dokter aja , ga begitu ama pasien
laen.
bukan masalah ikhlas ato kagak. Gini deh, lily jualan telur. Trus si A
dibolehin ambil telur dgn mutu sedang ditempat lily, tapi yg byr tante
lily. Nah si A udah banyak ambil telur di lily, tapi tante lily ga juga
bayarin, gmn perasaan lily? dan A tetap boleh ambil telur di lily meski
pembayaran dari tante lily seret, padahal kalo pembayaran itu seret merugikan usaha lily, terutama modal buat kulakan. gimana sikap lily?
surjadi05
29-07-2013, 04:11 PM
sakit mana bisa milih om , mo ke orang miskin ato kaya...
saya liat TV , ada tuh orang miskin kena kanker serviks , sampe kelaminnya penuh belatung.
kasian kan...
maksd papa saya supaya giat cari duit Ly, itu kan cuma Majas, mana ada orang yg ga sakit ::::oops::::oops::
ya mana ngerti kalo itu majas , kan ga ditulis itu majas ::bwekk::
ow jadi maksudnya pembayaran dari pemerintah seret ya...
tapi tetep ah , menurut saya , suster ga berhak judesin pasien , soalnya dia kan cuma kerja di RS , dimana dia juga digaji ama pihak RS.
itu bukan urusan dia sih harusnya , kan permasalahan ada di pihak RS ama pemerintah :D
BundaNa
29-07-2013, 04:21 PM
ya
mana ngerti kalo itu majas , kan ga ditulis itu majas ::bwekk::
ow jadi maksudnya pembayaran dari pemerintah seret ya...
tapi tetep ah , menurut saya , suster ga berhak judesin pasien , soalnya
dia kan cuma kerja di RS , dimana dia juga digaji ama pihak RS.
itu bukan urusan dia sih harusnya , kan permasalahan ada di pihak RS ama
pemerintah :D
buat rumkit plat merah, ada tenaga medis yg pns mungkin ga terlalu masalah, karena gaji lsg dari pemerintah. tapi gmn yg tenaga honorer yg gajinya dr rmh skt langsung? dan gaji mereka agak bermasalah krn keuangan rumkit bermasalah. ato pelaratan dan obat2an juga menipis krn masalah seretnya pencairan klaim? akhirnya rumkit bikin skala prioritas kan? yg ketauan byr aja yg diduluin. menurut lily gmn?
ow jadi kalo RS pembayaran dari pemerintah seret berimbas ke pegawai disana ?
baru tau saya...
soalnya kalo di tempat saya , walopun kita belom terima pembayaran dari customer , kita tetep bayar gaji karyawan sesuai tanggal tiap bulannya.
ya kalo begitu , ya no comment sih. cuma kalo saya jadi suster nya , palingan saya usahain menolong semampu saya sih , dan ga pake memaki pasien dengan kata - kata ga enak.
kan kasian udah miskin , ga mampu , eh masi dikatain ga enak.
AsLan
29-07-2013, 04:44 PM
Masalah sikap itu personal, kalo orang pribadinya jahat maka dia akan menemukan seribu macam alasan untuk menjahati orang.
Gw jadi inget waktu kecil pernah opname di RS, waktu ada bokap semua suster sikapnya baik, tapi waktu ditinggal sendiri banyak suster yg membully gw secara verbal karena gw nangis.
Temen gw ada beberapa yg dokter muda, banyak loh dokter2 yg takut sama suster, suster2 itu seperti penguasa di RS.
Sebagai manusia, suster ada yg baik dan ada yg jahat, semua bidang sama saja.
iya om , saya setuju.
waktu kemaren saya lairan , saya nangis , juga saya di bully.
BundaNa
30-07-2013, 05:27 AM
Kalo tindakan tidak menyenangkan para tenaga medis sih itu habbit, di macam2 profesi kita pasti nemu. Kalo mau ya laporkan ke manajemen rumkit biar mrk kapok. Tapi kalo kasus KTB spt postingan pertama, itu imbas dari jampersal yg klaimnya susah dan mengganggu keuangan rumkit. Akibatnya fasilitas dan obat juga terbatas, akhirnya muncul lah kebijakan yg tidak memihak pemegang kartu jamkesmas
---------- Post Merged at 04:27 AM ----------
Seinget gw, investigasi jawa pos memperlihatkan, si pemegang jamkesmas dpt antrian yg kalo normal itu dpt kamar di KTB 6 bulan lg. Trus krn kepepet dia daftar sbg pasien swasta/umum dan byr dp yg diminta, eh ajaib, saat itu juga dia bisa dilayani n dpt kamar di KTB. Jadi ya kesimpulannya emg di jamkesmas itu tadi
nurdin
30-07-2013, 12:16 PM
Saya prihatin.
Powered by vBulletin® Version 4.2.5 Copyright © 2026 vBulletin Solutions Inc. All rights reserved.