-
pelanggan
Aku nyengir, “Siapa? Sayangnya mungkin aku orang yang paling kau hindari sejak kemarin, Kawan.”
Benar, belum habis kalimatku, Erik sudah mendengus.
Aku tertawa pelan, setidaknya Erik jadi seratus persen bangun mendengar suaraku.
“Kau mau apalagi? Ini hari minggu, tidak bosannya kau mengganggu waktu istirahatku. Aku sudah melakukan yang kau minta. Pejabat bank sentral itu mengalah, dia mentah-mentah mengerjakan apa yang kau suruh, mempermanis laporan. Entah dari mana dia memperoleh angka talangan dua trilyun, dan dia menghapus seluruh laporan rekayasa dan kejahatan keuangan Bank Semesta di seluruh laporan-laporan sebelumnya. Asal kau tahu, mungkin setitik pun tidak lagi tersisa kode etik, integritas, kejujuran, dan sebagainya di hati dia gara-gara permintaan kau.”
Tawaku bungkam, wajahku sedikit mengeras, “Jangan bicara soal kode etik, integritas dan kejujuran, padaku Erik. Ini masih terlalu pagi untuk ceramah. Kita sama-sama tahu, untuk orang-orang seperti kita, kehormatan adalah omong-kosong. Boleh saja kau presentasi tentang good governance, patuhi regulasi, sesuai standar prosedur, membual pada setiap klien, tapi sejatinya kita hidup dari bisnis hipokrasi.”
Erik di seberang sana menelan ludah, terdiam oleh kalimat tajamku.
“Lupakan. Aku menelepon kau hanya untuk bertanya, kau punya nomor telepon ‘putra mahkota’.” Aku menyela lengang sejenak.
“Putra mahkota?”
“Siapa lagi? Salah-satu anggota klub bertarung kita, Erik, junior petinggi partai besar, anak orang paling penting di negeri ini. Kau punya nomor teleponnya?”
“Buat apa?” Erik bertanya ragu-ragu.
“Aku mau mendaftar jadi kader partainya. Siapa tahu bisa bantu-bantu bazar sembako atau berjaga di pos periksa kesehatan gratis.”
“Eh?”
“Berhentilah bertanya, Erik.” Aku menyumpahi Erik dalam hati, “Aku harus menguasai seluruh bidak jika ingin memenangkan permainan ini, menyelamatkan Bank Semesta.”
Erik diam sebentar, helaan nafasnya bahkan terdengar hingga langit-langit taksi.
“Nomor teleponnya langsung, Erik. Bukan nomor kontak sekretaris, ajudan, staf ahli, apalagi orang-orang penjilat di sekitarnya. Aku harus berbicara langsung dengannya.” Aku mengingatkan sebelum Erik menjawab.
“Baik, Thom. Akan kukirimkan business card-nya beberapa detik lagi.”
“Nah, itu baru teman yang baik.”
“Kau berhutang banyak sekali padaku untuk ini semua, Thom”
Aku tertawa, “Tenang saja. Aku akan membayarnya lunas, kau bahkan bisa sekaligus menagih bunga-bunganya setelah hari Senin, Kawan. Asumsi aku masih hidup dan bebas berkeliaran di kota ini.”
Aku menutup pembicaraan, membiarkan dahi Erik terlipat mendengar kalimat terakhirku.
Taksi terus menyalip apa saja di depannya. Sepuluh menit lagi kantor pusat Bank Semesta. Aku menarik nafas dalam-dalam, kalimatku tadi kepada Erik tidak bergurau, dengan situasi yang terus serius jam demi jam, ada banyak kemungkinan buruk di hadapanku, termasuk yang terburuk sekalipun.
Aku menghembuskan nafas, baiklah, telepon ketiga pagi ini.
“Hallo, Thom. Bukankah kau baru dua jam lalu meneleponku, ini membuatku tersanjung, kau amat perhatian padaku,” Suara Julia terdengar renyah, “Tapi kalau kau bertanya apakah aku sudah bersiap-siap menuju kantor Menteri, aku bahkan sudah di gedungnya. Berkumpul bersama belasan wartawan lain yang mencari tahu kabar terakhir. Semoga jadwal pertemuan kita tidak dibatalkan di detik terakhir, banyak sekali orang yang ingin menemui beliau dalam situasi seperti ini.”
Aku nyengir, memutuskan tidak bertanya soal itu.
“Kau memang wartawan terbaik review terkemuka, Julia.” Memuji.
Julia tertawa, “Sepertinya tiga hari lalu, di atas pesawat, kau bahkan melihatku sebelah mata pun tidak, Thom. Aku tidak lebih anak SMA yang baru belajar ekonomi, bukan.”
“Hei, semua orang berubah pikiran, Julia. Lagipula, kalau kau ingin sebuah hubungan berhasil, entah itu pertemanan, atau lebih dari itu, maka kau harus terbiasa menyesuaikan diri, selalu berubah.” Aku ikut tertawa. Setelah kejadian ditembaki satu pasukan polisi tadi pagi, bergegas kembali ke dermaga, naik taksi, menelepon Ram dan Erik, percakapan pendek dengan Julia sepagi ini membuatku lebih santai, dengarlah suaranya yang riang—lupa kalau kemarin siang kami diborgol bersama.
“Kau tidak sedang menggodaku dengan mengatakan kalimat itu, bukan?”
Aku menyumpahi Julia dalam hati, “Tidak mudah menggoda gadis seterus-terang kau, Julia. Nah, kau pagi ini tidak memakai rok dan blouse seperti di pesawat, bukan?”
“Eh? Memangnya kenapa?”
“Karena aku tidak menjamin kebersamaan kita hari ini akan nyaman seperti pasangan pergi berwisata, Julia. Boleh jadi seperti kemarin siang, ngebut, tangan diborgol, mulut dibekap, dibanting duduk.” Aku nyengir.
“Kalau hanya itu, tidak masalah, Thom. Aku pandai berakting, lebih dari adegan telenovela, malah.” Suara Julia masih terdengar santai.
Aku mengusap dahi, membiarkan Julia riang sejenak, “Ini tidak lagi sekadar urusan fernando-esmeralda, Julia. Sepagi ini saja, setelah menelepon kau tadi pagi, aku sudah dikejar polisi. Mereka membabi-buta menembaki kapal. Om Liem, Opa, tiarap di lantai kabin. Aku harus membalas menembaki mereka agar bisa lolos.”
“Astaga? Tetapi kau baik-baik saja, bukan?” Julia berseru, suaranya berubah cemas, “Eh, maksudku tentu saja kau baik-baik saja, kau meneleponku dengan suara santai.” Bergegas menganulir.
“Terimakasih sudah bertanya kabarku, Julia.” Aku tertawa, “Kau amat perhatian kepadaku, jarang sekali ada gadis yang berseru mencemaskanku, padahal tiga hari lalu dia sepertinya bahkan bersedia menimpukku dengan piring kaviar.”
Julia bergumam sebal, “Kau memang pria yang suka membalas, Thomas.”
“Aku tidak membalas, Julia, aku hanya meniru sikap ketus dan sinis dari seorang gadis. Kau harusnya kenal sekali siapa dia, aku baru kenal dia tiga hari terakhir.”
Julia mendengus.
“Nah, semoga kau tidak memakai rok dan blouse hari ini, Julia, jadi bisa lebih gesit berlari. Sampai bertemu pukul sebelas.” Aku segera menutup percakapan.
Mobil taksi sudah keluar dari tol, langsung menuju kantor pusat Bank Semesta.
Aku harus mengurus nasabah besar, pemilik tabungan dan deposito individu dengan nilai puluhan milyar, nasabah yang paling terancam jika Bank Semesta ditutup, tidak sepeserpun uang mereka akan kembali. Sekali mereka bersepakat, urusan dengan putra mahkota dan yang lainnya akan lebih mudah.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas - Episode 28
oleh Darwis Tere Liye pada 09 Mei 2011 jam 9:56
episode 28
“PRANG!!”
Guci berusia ratusan tahun, salah-satu ornamen sederhana—tapi super antik dan mahal, di ruangan rapat lantai 1 Bank Semesta menghantam dinding. Hancur berbeling-beling.
Ruangan besar hening sejenak setelah suara bising yang mengejutkan.
“Kami mau uangnya kembali!” Salah seorang nasabah yang barusaja melempar guci berharga itu, ditilik dari wajah dan bentuk badannya dia pastilah pernah mengikuti dinas kemiliteran menatapku galak.
“Ya, kami mau uangnya kembali.” Nasabah lain berseru menimpali.
“Benar.” Teriakan nasabah lain ikut terdengar. Mengangguk-angguk dengan tampang masam.
“Kami juga ingin bertemu dengan Om Liem, sejak tadi malam kami ingin mendengar penjelasan langsung darinya, bukan staf ahli, orang kedua, wakil, atau apalah kalian menyebutnya.” Salah-satu nasabah di barisan belakang berseru pelan.
“Iya, kami ingin bertemu Om Liem. Dia harus mengembalikan seluruh uang kami.”
Aku menghembuskan nafas jengkel, menggeleng.
Urusan ini sama saja, di pinggiran pasar induk yang becek dan bau, maupun di ruangan dengan lantai keramik mahal dan bergorden beludru; entah para pedagang buah dan sayur meributkan kembalian, maupun nasabah kelas kakap dengan tabungan milyaran, semua orang bertingkah sama, melupakan kesabaran jika urusannya tentang uang.
“Baik!” Aku berseru tegas, berjalan cepat menuju sudut ruangan, kasar menyambar guci antik lain, “Nah, kau lemparkan juga yang ini! Lemparkan semau kau!”
Aku membentak, melotot.
Nasabah setengah baya, berbadan kekar itu terdiam, bingung menatapku.
“PRANG!!” Aku yang lebih dulu melemparkan dua guci mahal itu menghantam dinding cermin dekat proyekot. Suara potongan guci yang hancur beserta serpihan cermin berderai menimpa lantai.
Gumaman puluhan nasabah besar Bank Semesta segera bungkam, mereka sempurna menatap ke arahku.
“Kalian lemparkan semua guci di ruangan ini, kalian rusak semuanya, bahkan gedung besar ini kalian hancurkan, percuma, itu tidak akan mengembalikan uang kalian!” Aku berseru, balas menatap wajah-wajah tidak sabaran.
“Sekali Bank Semesta ditutup oleh Pemerintah, tidak ada sepeser pun uang nasabah diatas dua milyar akan selamat, percuma kalian teriak, marah, demo membakar ban di depan Istana, sia-sia, maka berhentilah bertingkah kekanak-kanakan, mari kita bicara baik-baik.”
Ruangan besar kembali senyap.
Aku menahan nafas.
Pertemuan ini sebenarnya berjalan sesuai dugaanku. Persis aku masuk ruangan, mereka sudah berteriak marah, dan lebih marah lagi saat aku mulai bicara tentang kemungkinan Bank Semesta ditutup. Lima menit berlalu, hanya soal waktu salah-satu nasabah akan berusaha meninju wajahku, pertemuan menjadi gaduh, jadi aku harus bergerak cepat.
Adegan melempar guci tadi sepertinya kurang lugas dan meyakinkan, maka aku mencabut revolver di pinggang. Beberapa nasabah berseru tertahan melihat senjata itu teracung, dua-tiga malah reflek melangkah mundur. Aku tidak peduli, melangkah maju, menyerahkan pistol itu ke tangan nasabah setengah baya berbadan kekar yang berdiri paling dekat.
“Nah, kau tembak saja kepalaku, uang kau tetap tidak akan kembali!” Aku berkata datar dan tajam, memasangkan gagang pistol ke dalam tangannya.
“Ayo, tembak saja!” Aku menyuruh, mengarahkan tangan yang memegang pistol ke kepalaku, moncong S&W itu persis di dahiku sekarang.
Wajah-wajah tidak sabaran itu dengan cepat berubah menjadi pias. Nasabah ibu-ibu menutupi wajahnya dengan tas bermerk atau kedua belah telapak tangan, jerih. Satu-dua malah berteriak panik, berseru ‘jangan’ atau ‘hentikan’.
“Tembak saja!” Aku justeru membentak.
Setengah menit senyap.
Dia menggeleng, menghembuskan nafas.
Tangannya yang memegang pistol terkulai.
Tatapan galak itu telah luntur, delapan menit sejak pertemuan dimulai, aku akhirnya menguasai situasi. Ini rekor terlamaku mengendalikan sebuah pertemuan.
“Kami hanya ingin uang itu kembali, Pak Thom.” Nasabah setengah baya berbadan tegap itu berkata pelan, “Saya lama sekali mengumpulkannya, itu uang pensiun saya setelah berpuluh tahun menjadi tentara. Uang sekolah anak-anak yang masih remaja, biaya makan kami, biaya berobat. Pak Thom pastilah tahu, pensiunan tentara, meski jenderal sekalipun tidak memadai.”
Nasabah lain mengangguk—meski tidak bergumam ribut lagi.
“Baik, kalau demikian, kita bisa bicara baik-baik sekarang.”
Aku memasang kembali revolver ke pinggang, menatap wajah-wajah di sekitarku dengan tatapan pura-pura bersimpati—peduli setan dengan rasa simpatiku, di ruangan ini, banyak sekali nasabah yang tidak masuk akal bisa memiliki deposito puluhan milyar, termasuk pensiunan jenderal di depanku ini.
“Nah, seperti yang telah kusampaikan dalam kalimat pembuka pertemuan kita tadi, aku adalah konsultan keuangan profesional. Aku ditunjuk mewakili Om Liem untuk melakukan negosiasi dengan otoritas yang memutuskan apakah Bank Semesta ditutup atau tidak sebelum pukul 08.00 besok pagi Senin.” Memasang wajah tegak, menatap seluruh peserta pertemuan.
“Kabar buruknya, bapak-bapak, ibu-ibu, menurut perhitungan serta penilaian profesionalku, Bank Semesta bahkan seharusnya ditutup enam tahun lalu. Titik. Kabar baiknya, urusan ini sudah terlanjur rumit dan memiliki implikasi luas, tidak pernah lagi sesederhana enam tahun silam. Lagipula, sebagai orang yang dibayar pihak bank, aku jelas orang pertama yang menentang penutupan Bank Semesta. Aku akan melakukan apa saja untuk mencegah Bank Semesta pailit.”
“Kenapa kita bertemu di sini? Dalam situasi tidak jelas, panik, serta marah? Karena aku butuh bantuan kalian. Apa yang aku butuhkan? Sederhana saja. Kalian jawab pertanyaan ini, dalam situasi darurat, dengan kemungkinan seratus persen uang kalian hilang, apakah kalian akan memilih kehilangan seluruh uang itu atau bersedia mengorbankan sepertiga darinya sebagai biaya penyelamatan?”
Aku diam sejenak, membiarkan puluhan nasabah kelas kakap mencerna kalimatku.
“Kalian kehilangan semua, atau sepertiga, pilih yang mana?” Aku mengulang pertanyaan itu setelah mereka saling menoleh, bergumam pelan, mulai mengerti situasinya.
“Tetapi buat apa uang yang sepertiga itu, Pak Thom?”
Aku tertawa prihatin, “Untuk menyumpal semua pihak, apalagi?”
Mereka terdiam.
“Jika itu terjadi, jika Bank Semesta akhirnya diselamatkan komite stabilitas keuangan nasional, itu jelas akan menjadi skandal perbankan terbesar di negeri ini. Semua pihak, terutama media massa, LSM, lembaga, individu yang masih memiliki integritas akan menuntut dilakukan penyelidikan, diusut tuntas. Nah, sebelum itu terjadi, kita harus menyumpal sebanyak mungkin pihak terkait. Pejabat pemerintah, partai politik, petinggi institusi, kroni, teman, kolega, bahkan bila perlu pengurus organisasi olahraga, apapun itu, semakin banyak yang menerima kucuran uang haram itu, maka jangankan melakukan penyidikan secara sistematis dan besar-besaran, menggerakkan satu pion petugas penyidik saja mereka tidak kuasa. Seluruh penjara di negeri ini penuh jika komisi pemberantasan korupsi berani mengutak-atik kasus penyelamatan Bank Semesta.”
“Aku butuh banyak uang untuk melakukannya, bapak-bapak, ibu-ibu. Nah, kalian bersedia menyerahkan sepertiga deposito atau tabungan, atau sebaliknya, kalian bersedia kehilangan semuanya. Putuskan segera, sebelum Pemerintah mengetuk palu. Sekali Bank Semesta ditutup, tidak ada lagi rekayasa yang bisa aku lakukan. Kalian punya waktu setengah jam untuk berdiskusi, aku harus segera pergi, waktuku sempit. Selamat pagi.” Aku balik kanan, meninggalkan keributan yang segera meruap di ruangan.
“Ram, kau pimpin mereka berdiskusi.” Aku menepuk bahu Ram, “Kabarkan segera padaku apapun keputusan mereka.”
Ram mengangguk, bergegas mensejajari langkah kakiku keluar ruangan rapat. Suara bising peserta pertemuan segera memenuhi langit-langit. Satu-dua berseru soal semua ini tidak masuk akal, menyesal telah menabung di Bank Semesta. Satu-dua menangis, mungkin sedih membayangkan uangnya hilang. Tetapi lebih banyak yang mengangguk menyetujui kalimatku, mulai berkumpul dan membahas solusi yang kutawarkan, solusi paling masuk akal bagi mereka.
Aku sudah tidak mendengarkan, sudah pukul sembilan, dua jam lagi jadwal pertemuanku dengan Menteri, aku harus singgah sebentar ke kantor mengambil salinan dokumen Bank Semesta dari Maggie.
Saat itulah, saat aku melintasi pintu, berjalan cepat menuju lobi luas gedung, seseorang telah menungguku. Rambutnya menguban, tubuhnya gempal pendek, wajah khas seperti Opa.
Tersenyum hangat, “Tommi, apa kabar?”
Aku mendongak, menelan ludah. Hanya sedikit orang yang tahu nama panggilan masa kecilku, Tommi, apalagi sejak rumah dibakar puluhan tahun lalu, nama kecil itu hanya diketahui Opa, Om Liem dan Tante. Siapa orang tua ini?
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 29
oleh Darwis Tere Liye pada 11 Mei 2011 jam 13:52
episode 29
“Tidak terbayangkan, Nak. Sungguh tidak pernah berani kubayangkan, bahkan dalam mimpi paling liar orang tua ini sekalipun, kalau kau ternyata selamat dari kejadian puluhan tahun silam. Kupikir hanya Liem, istrinya dan Opa yang selamat, ternyata kau juga selamat.” Orang tua dengan tongkat di tangan itu merentangkan tangannya, dan tanpa bisa kucegah, sudah memelukku takjim.
Aku masih menelan ludah. Berdiri menerima pelukan, mengingat-ingat wajahnya.
Dia melepaskan pelukan, menatapku datar, tersenyum, “Kau dulu masih kecil sekali, Tommi. Setinggi ini. Berpakaian seperti pelayan, berlari-lari kecil membawa nampan berisi gelas air minum dan makanan saat pesta keluarga diadakan. Apa kata Edward, Papa kau, tentu saja dia mau bekerja keras, Shinpei, dia digaji mahal sekali, aku lantas bertanya, mahal? Papa kau menjawab, sebuah sepeda baru, Shinpei. Seperti baru terjadi kemarin sore pesta meriah itu, beberapa bulan sebelum rumah dan gudang kalian dibakar massa mengamuk.”
Aku akhirnya ingat sudah.
Bukan karena orang yang sedang memegang bahuku itu menyebut namanya sendiri, tapi karena aku juga sempurna kembali mengingat masa lalu itu. Tuan Shinpei, orang ini adalah rekanan Papa dan Om Liem jaman berdagang tepung terigu dulu. Salah-satu pengusaha besar yang kudengar tahun-tahun terakhir memiliki bisnis properti hingga negeri tetangga.
“Lihatlah, anak kecil berpakaian pelayan itu sekarang sudah berubah menjadi harimau gagah. Astaga, Nak, aku melihat sendiri bagaimana tadi kau mengendalikan puluhan nasabah kakap yang marah, itu amazing, mengagumkan, Tommi. Kemana saja kau selama ini? Aku tidak pernah mendengar kau dalam rapat perusahaan milik Om Liem dan Opa. Kau sekolah di business school ternama? Dikirim Liem belajar magang di perusahaan raksasa Amerika? Disiapkan sebagai penerus bisnis keluarga? Atau jangan-jangan kau diam-diam sedang membangun imperium bisnis sendiri? Dengan kemampuan kau tadi, itu mengerikan, Nak, tidak akan ada satu pesaing pun yang berani melawan kau.”
Aku untuk pertama kalinya membalas kalimat Tuan Shinpei dengan tersenyum terkendali, menggeleng, “Aku hanya membuka kantor konsultan keuangan skala kecil, Tuan Shinpei.”
Dia menggeleng, “Jangan panggil aku Tuan Shinpei, Tommi. Kau panggil saja Om Shinpei, keluarga kalian sudah seperti keluargaku sendiri.” Tuan Shinpei diam sejenak, mengangguk-angguk, “Ohiya, apa kau bilang tadi? Konsultan keuangan? Aku baru ingat, aku pernah melihat wajah kau sekali dua di majalah atau review ekonomi Hongkong terkemuka. Tetapi aku tidak menduga kau adalah Thomas yang itu. Aku baru tahu beberapa menit lalu, menatap wajah kau mengingatkanku pada Edward. Orang tua ini tinggal di Hongkong, Tommi, tidak tahu banyak urusan bisnis di Jakarta. Bahkan sebenarnya aku baru tiba tadi malam. Perjalanan mendadak yang cukup melelahkan untuk orang setuaku.”
Aku mengangguk sopan, melirik pergelangan tangan, lima menit aku tertahan di lobby gedung Bank Semesta, kalau saja orang tua ini bukan Tuan Shinpei, aku sudah ijin pamit segera, pertemuan super penting menungguku pukul sebelas. Tapi mengingat dia adalah teman dekat Papa dan Om Liem aku memutuskan basa-basi sebentar.
“Perjalanan mendadak? Keperluan bisnis?” Aku bertanya, mencomot sembarang pertanyaan.
Tuan Shinpei mengangkat bahu, “Iya, perjalanan bisnis mendadak, Tommi. Tidak kebetulan aku datang kemari. Ke gedung megah bank yang nyaris kolaps milik Liem. Aku terdaftar dalam nasabah besar Bank Semesta, tadi malam aku dihubungi untuk segera berkumpul.”
Alis mataku sedikit terangkat.
“Tentu saja namaku tidak ada dalam daftar yang kau pegang. Tetapi setidaknya ada lima nama nasabah lain yang mewakili depositoku secara tidak langsung.” Tuan Shinpei menjelaskan tanpa diminta, “Urusan ini rumit sekali, bukan, semua uang nasabah terancam hangus tanpa sisa. Aku sebenarnya pernah dihubungi Liem enam bulan lalu, dia bahkan pernah datang ke Hongkong tiga bulan lalu, mendiskusikan jalan keluar Bank Semesta, sayangnya bisnis properti milikku juga sedang bermasalah, aku tidak bisa membantu banyak. Ini situasi rumit kedua yang harus dihadapi Liem setelah cerita lama tentang arisan berantai itu, bukan?”
Lobby luas tempatku berdiri berhadapan-hadapan dengan Tuan Shinpei dan dua ajudannya meski lengang dari lalu lalang orang tetap berisik, suara perdebatan di ruangan rapat terdengar hingga lobby.
Aku mengangguk, teringat percakapan dengan Om Liem sebelum melarikan diri dengan kamuflase ambulans dua malam lalu. Aku pernah bertanya apakah Om Liem telah meminta bantuan kolega bisnisnya, siapa saja, termasuk dari Tuan Shinpei. Tetapi aku baru tahu pagi ini kalau Tuan Shinpei juga memiliki dana di Bank Semesta.
“Kau sepertinya punya rencana hebat, Tommi?”
“Rencana hebat?”
“Iya, apalagi, rencana hebat menyelamatkan Bank Semesta?” Tuan Shinpei bertanya, menyelidik dengan mata berkerut.
Aku menggeleng perlahan, “Tidak ada rencana hebat. Hanya rencana nekad.”
Tuan Shinpei terkekeh prihatin, “Jangan terlalu merendah, Tommi. Kau pastilah yang terbaik dari ribuan konsultan keuangan yang ada, bukan. Wajah kau ada di halaman depan majalah Hongkong, itu pasti jaminan. Dan lebih dari itu, kau pasti akan melakukan apapun untuk menyelamatkan bisnis keluarga, bukan? Bahkan termasuk mati sekalipun. Mereka punya lawan tangguh sekarang.”
Aku terdiam, menelan ludah, sedetik, aku seperti merasa ada yang ganjil dengan percakapan ini.
“Ini kabar baik. Tentu saja kabar baik.” Tuan Shinpei mengangguk-angguk, tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajahku, “Jadi aku tidak usah mencemaskan banyak hal lagi, bukan? Kehilangan sepertiga jelas lebih baik dibanding semuanya. Itu rumus baku bagi pebisnis ulung. Mengorbankan sebagian, demi keuntungan lebih besar. Mundur dua langkah, untuk maju bahkan lari ribuan langkah. Kau pasti lebih dari paham tentang itu. Nah, bisa kau ceritakan apa yang sedang kau rencanakan, Tommi?”
Aku menggeleng sopan.
“Tentu saja kau tidak boleh bercerita.” Tuan Shinpei tertawa kecil, “Atau kau bisa memberitahuku, Liem sekarang berada di mana? Sejak tadi malam aku berusaha mencari tahu, tentu juga puluhan nasabah lainnya ingin tahu.”
“Om Liem ditempat yang aman.”
“Tempat yang aman?”
Aku lagi-lagi menggeleng sopan, tapi tegas. Lobby luas gedung Bank Semesta masih lengang dari lalu-lalang orang. Suara berisik di ruangan rapat mulai terdengar pelan, Ram sepertinya melakukan apa saja untuk mengendalikan diskusi.
Sejenak aku saling beradu tatapan mata dengan Tuan Shinpei.
“Baiklah, Tommi. Orang tua ini sepertinya terlalu cemas, terlalu ingin tahu. Kau sepertinya sedang terburu-buru. Waktu yang tersisa sempit sekali, bukan? Kau boleh meninggalkanku sekarang.” Tuan Shinpei menepuk-nepuk bahuku, “Aku akan bergabung ke ruangan rapat bersama nasabah lain. Setidaknya aku tidak perlu mencemaskan nasib Bank Semesta sekarang, termasuk nasib uangku, nasibnya sudah ada di tangan orang yang tepat. Aku hanya perlu mencemaskan hal lain.”
“Mencemaskan hal lain?” Aku bertanya.
Tuan Shinpei menyeka pelipis, menatapku sambil tersenyum, “Apalagi selain mencemaskan kau, Tommi. Apapun yang sedang kau lakukan, itu pasti berbahaya. Hati-hatilah, Nak. Apa kata pepatah bijak orang tua dulu, musuh ada di mana-mana, maka berhati-hatilah sebelum kau bisa memegang kerah lehernya. Senang bertemu kau lagi, Tommi.”
Tuan Shinpei sudah melangkah menuju ruangan rapat sebelum aku basa-basi menjawab kalimatnya, dua ajudannya ikut bergerak. Suara tongkat mengetuk lantai keramik terdengar berirama.
Aku menelan ludah. Rombongan Tuan Shinpei sudah menghilang di balik pintu ruangan rapat.
Aku melirik pergelangan tangan, mengumpat dalam hati, waktuku terbuang hampir setengah jam. Aku harus segera menuju kantor, mengambil salinan dokumen dari Maggie. Jadwal audiensiku dengan Menteri satu setengah jam lagi. Aku berlari-lari kecil melintasi lobby luas gedung Bank Semesta.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 30
oleh Darwis Tere Liye pada 13 Mei 2011 jam 10:59
episode 30
Taksi yang kutumpangi dari dermaga yacht masih setia menunggu.
“Kita ngebut lagi, Pak?” Pengemudinya bertanya, menyeringai.
Belum hilang anggukanku, belum genap menyebut tujuan berikutnya, mobil sudah melesat meninggalkan pelataran parkir gedung Bank Semesta.
Hari minggu, jalanan protokol lengang.
Telepon genggamku berbunyi saat aku merebahkan punggung, berusaha rileks sejenak. Nama Erik terpampang di layar telepon genggam. Aku menggerutu, sejak tadi aku menunggu nomor kontak yang akan dikirimkan Erik.
Mengangkat telepon, setengah berseru, “Kau butuh berapa lama lagi untuk mengirimkan business card putra mahkota, Erik?”
“Sabar, Thomas.” Erik berkata santai.
“Astaga, waktuku terbatas.” Aku mulai jengkel.
“Aku harus melewati beberapa prosedur sebelum memberikan nomor kontaknya, Thom. Kau tahu, ini tidak seperti memberikan nomor telepon artis idola atau pengarang kesayangan, atau nomor telepon therapis langganan kau. Lagipula, kabar buruknya, dia tidak otomatis mengangkat setiap telepon yang masuk. Nomor kau tidak dikenali, mau kau telepon belasan kali, jangan harap dia angkat, dilirik pun tidak.” Erik menjawab dengan logika.
Aku terdiam sejenak. Benar juga.
“Nah, kabar baiknya, aku barusaja menelepon dia lima menit lalu, bilang ada teman klub petarung yang ingin menghubungi, membicarakan sesuatu yang amat penting. Dia bersedia kau hubungi, tapi tidak lewat telepon, Kawan, riskan sekali melakukan pembicaraan sensitif lewat telepon, dia menyediakan waktu untuk pertemuan langsung. Kabar baik, bukan?” Erik tertawa.
Aku mengepalkan tinju. Senang mendengarnya.
“Ini jelas lebih baik, Erik. Terima kasih banyak. Kau memang teman yang baik.”
“Berterima kasih saja tidak cukup, Thom, kau harus mencium kakiku.” Erik masih tertawa, “Meminta jadwal pertemuan dengan putra mahkota tidak pernah mudah. Aku harus meyakinkannya berkali-kali kalau kau akan membicarakan sesuatu yang penting sekali.”
“Di mana pertemuannya?” Aku mengabaikan kalimat Erik dan tawanya, bergegas memastikan.
“Nanti sore pukul empat di Denpasar. Dia dan petinggi partai politiknya sedang di sana, urusan partai, membuka munas, musda atau apalah.”
Aku menghembuskan nafas, “Tidak bisakah dia ke Jakarta, Erik. Jadwalku ketat sekali sebelum besok pagi kantor buka.”
Erik tertawa menyebalkan, “Kau gila, Thom. Kau pikir dia klien, teman kantor, atau siapalah yang bisa kau suruh-suruh selama ini. Esok-lusa, boleh jadi kau melihatnya di televisi sedang pidato kenegaraan, dan kita tidak bisa lagi memanggil namanya langsung tanpa sebutan Bapak.”
Aku menelan ludah, “Aku hanya bergurau, Erik. Kau tidak pernah mengerti sarkasme, entah itu dirapat-rapat, atau bahkan dalam percakapan telepon sekalipun. Aku bisa ke Denpasar nanti sore pukul empat, itu hanya perjalanan dua jam. Terima-kasih sudah membantuku.”
“Simpan saja terima-kasih kau sekarang, Thom, aku akan menagihnya diwaktu yang tepat, permintaan yang tepat, dan harga yang mahal.” Erik nyengir.
“Aku akan membayarnya. Pegang janjiku.”
“Great. Adios, Kawan.”
“Sebentar, Erik,“ Aku mencegah Erik menutup telepon, teringat sesuatu, “Tadi kau bilang tidak mudah bertemu dengannya, lantas bagaimana kau hanya butuh waktu lima menit untuk meyakinkan dia?”
“Itu gampang, Thom. Aku tiru mentah-mentah trik kau selama ini. Kubilang, orang ini, yang meminta jadwal bertemu, hendak menyumbang sepuluh milyar untuk dana partai. Brillian, bukan? Dia bahkan lupa untuk bertanya siapa nama kau. Nah, selamat berlibur, jangan lupa bawa sunblock atau papan selancar kau. Selamat bertemu bertemu dengannya, Thom. Ingat, kau harus sopan, dia amat sensitif, maklumlah, anak muda yang tiba-tiba kejatuhan bulan, kekuasaan besar di tangan, banyak sekali penjilat di sekitarnya, salah-salah kata, moodnya bisa rusak, dan kau kehilangan kesempatan. Kalau dia bukan anak siapalah, paling juga sedang keringatan mengepit map lamaran kerja, atau gugup mengerjakan lembar ujian psikotes.” Erik tertawa, menutup telepon.
Aku mendengus pelan, lelucon yang buruk.
Mobil taksi terus membelah jalanan lengang.
Telepon genggamku berbunyi lagi saat aku baru saja rileks meluruskan kaki.
“Kau dimana, Thomas?” Suara Julia, sedikit terdengar panik.
“Aku di taksi, menuju kantor, hendak mengambil berkas. Lantas baru ke tempat kau. Ada apa?”
“Tidak ada waktu lagi, Thomas. Kau harus segera ke sini. Jadwal pertemuan kita dimajukan satu jam. Ajudan menteri baru memberitahuku beberapa detik lalu.”
“Kau yakin?” Aku melirik jam di dashboard taksi, itu berarti tiga puluh menit lagi
“Bergegas, Thomas!” Julia menjawab jengkel, “Atau hanya aku yang akan menemuinya, melakukan wawancara basa-basi sesuai skedul.”
“Tetapi berkas itu penting, Julia. Itu akan membuat perbedaan.”
“Peduli amat dengan berkas itu. Kau suruh siapa saja mengantarnya. Aku tidak bisa menelepon kau lama-lama, lobi gedung ini semakin ramai, sepertinya semua wartawan berebut ingin tahu apa yang sedang terjadi, ada staf khusus Istana yang datang, mobilnya baru merapat, dia sepertinya juga akan bertemu Menteri, teman wartawan lain sudah berlari-lari mengerubungi, aku juga harus mendengar apa yang dia katakan.”
Percakapan telepon diputus.
Baiklah, kepalaku melongok ke depan, menyebut tujuan baru pada sopir taksi.
“Lebih ngebut, Pak?” Pengemudi bertanya polos.
“Terserah kau saja.” Aku menjawab pendek.
“Siap, Pak.”
Taksi dengan cepat meliuk, menyalip dua mobil sekaligus.
Aku menekan nomor telepon genggam Maggie, aku harus meminta Maggie mengantarkan dokumen itu. Tanpa salinan dokumen yang disiapkan Maggie, aku tidak bisa membujuk Ibu Menteri. Kalian tidak akan pernah bisa membujuk wanita berhati baja itu, aku mengenalnya bahkan sejak kuliah. Satu-satunya cara meruntuhkan sebuah keteguhan sikap atas kejujuran dan integritas hidup hanyalah dengan mengurung dia dengan dua pilihan. Hanya dua pilihan, tidak lebih, tidak kurang. Dua pilihan yang sama-sama sulit. Maka ketika skenario itu terjadi, konteksnya menjadi berubah, yaitu: pilihan paling rasional atas dua kemungkinan terburuk.
Dan adalah salinan dokumen yang dipegang Maggie kuncinya.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 31
by Darwis Tere Liye on Thursday, May 19, 2011 at 12:40pm
episode 31
Lobi gedung ramai oleh ‘lalat’ pencari berita. Tetapi tentu saja mereka tidak peduli dengan taksi yang kutumpangi merapat, mereka menunggu pejabat penting. Aku menyeringai, melintasi lobi tanpa gangguan. Seandainya mereka tahu akulah yang sedang berusaha mati-matian menskenariokan banyak hal terkait Bank Semesta, memegang kunci informasi penting, mungkin mereka akan saling sikut, saling dorong mengepungku. Apa kata Opa dulu, di dunia ini, urusan penting dan tidak penting hanya terlihat dari kulit luarnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justeru adalah bagian terpenting dalam hidupnya.
Lupakan kebijaksanaan Opa, aku harus bergegas menemui Julia. Sejak tadi dia menunggu.
Dari gumaman kuli tinta, menuju lift, aku tahu isu tentang rapat komite stabilitas sistem keuangan hanya menunggu waktu digelar, staf Istana sudah hadir, petinggi bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan dalam perjalanan pulang dari luar kota—dari mengisi jadwal kuliah umum. Juga beberapa petinggi bank besar milik negara, pejabat tinggi, anggota komite telah dihubungi.
Aku menekan tombol lift. Pintu lift membuka. Melangkah masuk. Sendirian. Menatap wajah di dinding. Aku menyisir rambut dengan jemari, merapikan jas yang kukenakan, menepuk debu di celana gelap. Mengangguk, semua sudah oke.
Lift mendesing naik, lima belas detik lengang. Kontras dengan di luar tadi.
“Akhirnya kau tiba tepat waktu, Thom.”
“Eh?” Aku menelan ludah.
Wajah dan suara Julia sudah menungguku persis ketika pintu lift terbuka, lantai ruangan Menteri. Julia berseru dengan wajah cemas, dia sepertinya sejak tadi berdiri di lorong lift.
“Beliau sudah datang lima belas menit lalu, Thom.” Julia tidak memberikanku kesempatan bernafas, bergegas melangkah menuju meja resepsionis yang dijaga beberapa petugas keamanan—yang sejauh ini berhasil menghalau siapa saja yang hendak masuk ruangan Menteri.
“Sebentar, Julia. Kita tidak bisa menemui beliau sekarang. Aku harus menunggu Maggie. Ada dokumen penting.” Aku mengingatkan, masih berdiri di lorong.
“Tidak akan sempat, Thom. Ajudan Menteri sudah mengingatkan dua kali, jika kita tidak segera masuk ruangan, jadwal kita dibatalkan.”
“Dua menit, Julia! Ayolah, kita tunggu dua menit.”
“Thomas, kita tidak punya waktu bahkan untuk satu menit.” Wajah Julia terlihat menyebalkan, dia sudah berdiri di depan meja resepsionis, ujung lorong, berseru, ditonton petugas keamanan, “Kau tidak tahu apa yang telah dilakukan pemimpin redaksi review kami untuk mendapatkan jadwal audiensi sepenting ini. Aku masuk duluan kalau kau tidak mau.”
Aku menggeleng. Percuma aku masuk dalam sebuah ‘pertempuran’ tanpa amunisi.
Kabar baiknya, sebelum Julia berseru jengkel, masuk sendirian ke dalam ruangan, atau melemparku dengan tasnya, suara teng pelan berbunyi, pintu lift di belakangku terbuka.
Maggie dengan nafas tersengal datang membawa dokumen.
“Aku tidak terlambat, bukan?” Maggie bertanya cemas.
Demi melihat wajah bergegas Maggie, aku sungguh tertawa lega, “Kau tidak pernah terlambat, Mag. Kau sudah seperti pahlawan super hero yang menyelamatkan dunia, selalu datang tepat waktu”
Maggie menghembuskan nafas, “Syukurlah. Ini dokumennya, Thom. Semua ada di sana.”
Aku memeriksa sebentar, mengangguk.
“Eh, kau bersama Nenek Lampir itu?” Maggie berbisik, menunjuk.
Aku mendongak, menoleh ke belakang, ke arah yang ditunjuk Maggie.
Aku seketika tertawa, menatap Julia yang masih berdiri menunggu di depan meja resepsionis. Maggie pastilah masih sebal karena kemarin Julia merangsek ruanganku, tidak bisa dia cegah.
“Astaga, bahkan wajahnya sekarang tetap sama seperti dia menerobos kantor kemarin. Judes, tidak berperasaan, tidak sabaran. Benar-benar Nenek Lampir.” Maggie bergumam.
“Dia wartawan, Mag, begitulah kelakuannya.” Aku tersenyum pada Maggie, “Nah, terima kasih untuk dokumen ini. Kau bisa segera kembali ke kantor, aku memerlukan beberapa bantuan lainnya, aku harus ke Denpasar nanti sore, ada pertemuan penting pukul empat. Kau bisa bantu menyiapkan perjalanan, juga menghubungi beberapa orang lagi dan beberapa informasi penting.”
“Baik, baik,” Maggie mengusap wajahnya, memasang wajah pura-pura kecewa besar, “Nasib sekali menjadi staf kau, Thom. Bertahun-tahun hanya disuruh mengurus tiket pesawat, kurir dokumen, mengumpulkan informasi, dan remeh-temeh lainnya. Sementara Nenek Lampir tidak jelas yang baru kau kenal kemarin itu kau ajak bertemu dengan Menteri.”
Maggie menekan tombol lift.
Aku tertawa lagi, “Kau lupa kalimatku barusan Mag, kau adalah super hero. Julia hanya Nenek Lampir.”
Pintu lift terbuka.
“Ya, ya, super hero remeh-temeh. Bye, Thom. Salam buat Nenek Lampir itu. Semoga dia tidak naksir kau, kalau kejadian, aku bisa menjadi pesuruh rendahannya kelak.” Maggie sudah masuk ke dalam lift.
Aku mengabaikan gurauan Maggie, melangkah menuju meja resepsionis.
Petugas memberikan kartu pengenal, untuk ketiga kalinya mengingatkan jadwal kami di dalam hanya tiga puluh menit. Aku mengangguk, mengenakan kartu pengenal, itu lebih dari cukup.
“Staf kau itu tadi bilang apa?” Julia bertanya saat kami melangkah menuju pintu ruangan Menteri, sambil merapikan pakaiannya.
“Dia bilang kau Nenek Lampir.” Aku sengaja menjawab lurus.
“Apa?” Dahi Julia terlipat.
“Iya, dia bilang kau Nenek Lampir.” Aku melambaikan tangan.
“Dasar sialan!” Julia bahkan terhenti sejenak.
“Beliau sudah datang lima belas menit lalu, Julia. Kita tidak punya waktu bahkan untuk satu menit membahas tentang Nenek Lampir. Kau tidak tahu apa yang telah dilakukan pemimpin redaksi review untuk mendapatkan jadwal audiensi sepenting ini, bukan?” Aku terus melangkah
Wajah Julia terlihat merah-padam, berbisik ketus, “Kau memang lelaki pembalas, Thomas. Dan staf kau tadi juga mewarisi sikap buruk itu.”
Aku hanya nyengir, mendorong pintu. Inilah pertemuan penting kedua setelah kemarin sore aku sengaja satu pesawat dengan gubernur bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan. Bidak kedua dalam permainan penting ini.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 32
by Darwis Tere Liye on Friday, May 20, 2011 at 7:54am
episode 32
Ruangan Menteri, untuk seseorang yang disebut salah-satu wanita paling perkasa di Asia menurut majalah terkemuka itu, terlihat sederhana. Aku dan Julia (yang masih berusaha memulihkan tampang masam karena dipanggil Nenek Lampir) terus melangkah menuju meja kerjanya. Menteri sudah berdiri sejak melihat kamu masuk, wajahnya datar, tanpa senyum—siapa pula yang bisa tersenyum dengan gejolak krisis dunia.
“Selamat pagi.” Dia lebih dulu menjulurkan tangan, sikap khas seorang gentleman—meski jelas dia seorang woman.
Aku mengangguk takjim, berjabat-tangan, memperkenalkan diri. Julia menyusul kemudian.
“Maaf kami terlambat beberapa detik.” Basa-basi.
“Tidak masalah.” Menteri mengangguk, berkata cepat dengan intonasi tegasnya, “Walaupun terlambat adalah terlambat. Tidak ada bedanya terlambat beberapa detik dengan terlambat beberapa jam, bukan. Tetapi lupakan saja, silahkan duduk.” Menteri menunjuk sofa simpel berwarna gelap di ruangannya. Meja kecil di depan sofa dipenuhi tumpukan berkas.
Aku menelan ludah tanggung, benar-benar tipikal pejabat tinggi yang suka berterus-terang.
Julia melirikku—lirikan yang jelas menyalahkanku.
Telepon di meja kerjanya berbunyi—menyelamatkan situasi kebas barusan. Menteri mengangguk kepada kami, meminta ijin sejenak, dan sebelum kami balas mengangguk dia sudah melangkah cepat ke meja, mengangkat gagang telepon, dan sekejap sudah terlibat percakapan seru berbahasa Inggris mengenai situasi terakhir krisis subprime mortgage di luar sana. Aku sungguh berusaha tidak menguping—karena meskipun aku seorang *******, itu melanggar etika manapun, tetapi Julia dengan senang hati menulis beberapa kalimat penting yang terdengar lantang. Aku menyikut Julia. Dia mengangkat bahu, memasang wajah tanpa dosa.
“Itu dari salah-satu analis dana moneter internasional, IMF.” Ibu Menteri sudah kembali, beranjak duduk di hadapan kamu, “Kolega dekat, dia berbaik hati memberikan briefing kabar terbaru. Ohiya, tidak masalah bukan, kalau wawancara kita diseling oleh pekerjaan, satu-dua telepon? Susah sekali menyisihkan waktu tiga puluh menit dalam situasi seperti sekarang.”
Aku dan Julia (tentulah) mengangguk—kompak, berbarengan.
“Ini situasi rumit, kalian lebih dari tahu. Tadi malam ketika Shambazy menelepon, meminta jadwal audiensi mendadak, saya sebenarnya keberatan, sayangnya, aku tidak pernah bisa menolak permintaan Shambaz, dia teman baik sejak kuliah, ketua senat kami.”
“Aku baru tahu kalau Pak Shambaz pernah jadi ketua senat.” Julia memotong sopan.
Ibu Menteri memperbaiki posisi duduk, “Dia bukan sekadar ketua senat. Tetapi Shambazy tidak pernah tertarik bekerja menjadi birokrat, lebih memilih berkarir menjadi wartawan, lebih nyaman dan tenang mengomentari banyak hal. Tidur lebih nyenyak. Menjadi Menteri yang berdedikasi penuh tidak pernah sesederhana seperti masa lalu. Stres, tekanan politik, kritik, hujatan, sorotan media massa, itu makanan sehari-hari.”
“Tetapi Ibu terlihat selalu segar.” Julia memuji—basa-basi yang keliru.
Ibu Menteri menanggapi pujian itu dengan tersenyum tipis, “Kau tidak akan bertanya tentang trik tampil segar dan cantik seperti wartawan lain dalam jadwal wawancara sepenting ini, bukan?”
“Eh?” Julia menelan ludah, kikuk.
“Tentu tidak, Bu.” Aku tertawa sopan, menyikut Julia agar diam, bergegas memperbaiki situasi, untuk seseorang yang amat berpengaruh, suka berbicara lugas, percakapan basa-basi bisa merusak, “Tetapi karena rekan kerjaku sudah terlanjur, bolehlah kutambahi satu lagi pemanis awal pembicaraan, aku pikir Ibu dulu pastilah seorang pemain bola kasti yang pintar berkelit.”
“Bola kasti?” Menteri bertanya balik.
“Ya, bola kasti. Di bawah ada puluhan wartawan dengan wajah tidak sabaran menunggu Ibu sejak tadi pagi, nah, tidak ada satupun diantara mereka yang punya ide kalau ternyata yang ditunggu sudah berada di ruangan kerjanya. Itu pastilah trik berkelit yang hebat seperti pemain bola kasti yang berlari menghindari terkena bola, bukan.” Aku memasang wajah sungguh-sungguh.
Ibu Menteri sejenak diam, lantas tertawa renyah, “Bola kasti, astaga, itu sungguh pemanis awal percakapan yang orisinil. Kau jelas bukan wartawan kebanyakan. Siapa nama kau tadi?”
“Thomas, Bu.” Aku tersenyum.
“Ya, Thomas, itu mudah saja kalau kau sering diburu wartawan, tidak perlu trik istimewa. Ada beberapa pintu masuk di gedung ini, kau tinggal parkir mobil di luar, berjalan kaki seperti orang kebanyakan, menyelinap lewat pintu belakang, beres. Dan ngomong-ngomong soal bola kasti, waktu SD, saya pemain yang buruk sekali, Thomas. Berkali-kali kena timpuk bola, menjadi sasaran teman lelaki yang lebih besar. Hei, siapa pula diantara kita yang tidak pernah main bola kasti sewaktu kecil? Padahal bolanya itu untuk bermain tennis lapangan, bukan.”
Kami menghabiskan lima menit pertama untuk nostalgia. Sepertinya itu menjadi selingan yang menarik bagi Ibu Menteri dibanding dipuji terlihat selalu cantik dan segar.
“Rapat komite akan diadakan sore ini, segera setelah semua anggotanya berkumpul. Kalian wartawan pertama yang mendengar konfirmasi ini.” Ibu Menteri menjawab pendek pertanyaan pertama Julia, wawancara telah dimulai, lima menit kemudian.
“Belum tahu. Rapat akan dilakukan marathon sepanjang malam hingga keputusan diambil. Ini boleh jadi salah-satu proses pengambilan keputusan yang melelahkan.” Jawaban atas pertanyaan kedua Julia.
“Seandainya Bank Semesta tidak diselamatkan, apakah Pemerintah sudah siap mengatasi—?”
“Saya tidak suka berandai-andai,” Ibu Menteri memotong kalimat Julia, sambil memperbaiki posisi duduknya, “Bahkan keputusan mengenai Bank itu saja belum diambil.”
“Tetapi situasi terburuk bisa terjadi, bukan? Mengingat situasi di luar semakin buruk menyusul tumbangnya beberapa lembaga keuangan besar.” Julia mendesak sopan.
“Soal situasi di luar semakin memburuk, itu benar, terlepas dari kau sepertinya ikut menguping briefing dari staf dana moneter internasional tadi. Tetapi perekonomian kita berbeda dengan mereka. Catat ini, fundamental perekonomian kita jauh lebih tangguh, baik dibandingkan dengan negara luar, maupun dibanding saat krisis menghantam kita satu dekade silam. Pertumbuhan ekonomi sesuai target, surplus neraca perdagangan mencatatkan rekor, sistem berjalan stabil, kebijakan fiskal optimal, semua terkendali, semua lebih mature.”
“Tetapi kemungkinan rush, dampak sistemis yang dikhawatirkan media massa dan pengamat ekonomi dua hari terakhir? Bukankah itu sinyal berbahaya.”
“Sepertinya tidak ya, situasi kita jauh berbeda.” Ibu Menteri menjawab ringan.
“Bukankah indeks saham tumbang seminggu terakhir?”
“Itu masih reaksi yang wajar. Siapa yang tidak ingin bergegas melepas sahamnya? Apalagi sebagian besar pemodal di bursa datang dari dana asing. Mereka cepat pergi dalam situasi ini, menjual rugi. Tetapi pemodal lokal kita masih wait and see, masih membeli saham.”
“Atau nilai tukar yang bergerak cepat, terus melemah?” Julia tidak mudah mengalah.
“Itu juga reaksi normal, semua mata uang dunia bergerak fluktuatif. Pihak bank sentral punya penjelasan lebih baik. Tetapi menurut saya tetap saja situasi masih terkendali.”
“Jika demikian, apakah Ibu Menteri memilih membiarkan Bank Semesta ditutup?” Aku akhirnya ikut bertanya, tidak sabaran dengan prosesi wawancara Julia, saatnya langsung ke topik paling penting.
-
pelanggan
“Rapat komite baru dimulai nanti sore, Thomas.” Ibu Menteri melambaikan tangan, gerakan khasnya, “Sudah kukatakan dua kali. Kau termasuk pelupa untuk orang semuda kau.”
“Ibu benar, baru nanti sore. Tetapi kita terkadang telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu dibuat. Rapat, diskusi, dengar pendapat, itu terkadang hanya proses mencari argumen, alasan sebuah keputusan, bukan memutuskan itu sendiri.” Aku berkata dengan intonasi datar terkendali, menatap lurus ke arah wajah Menteri.
Ruangan menjadi lengang sejenak.
Ibu Menteri balas menatapku, tersenyum tipis, “Kau memang tidak seperti wartawan kebanyakan, Thomas.”
“Apakah Ibu sudah memutuskan?” Aku tersenyum, memastikan.
“Baiklah. Tetapi bagian yang ini off the record, pastikan kalian tidak mengutipnya dalam berita. Kau bertanya apakah saya secara personal, memilih membiarkan Bank Semesta ditutup? Justeru saya akan bertanya balik, apa untungnya bank itu diselamatkan? Dalam teori ekonomi modern, pemberian subsidi, penetapan harga tertentu, pengenaan kebijakan fiskal untuk melindungi sebuah industri, dan sebagainya, adalah merupakan pilihan terakhir. Kita selalu membiarkan pasar bekerja sendiri, apa-adanya. Banyak orang bilang saya penganut neolib, bukan? Kaki tangan kapitalis. Terserah. Tetapi mereka lupa, mengendalikan perekonomian sebuah negara besar, membutuhkan disiplin tinggi, konsistensi, teori serta pengetahuan yang memadai. Kita tidak sedang bicara di lapak becek, sambil tertawa santai. Saya bertanggung-jawab penuh memastikan perekonomian negara dengan penduduk 240 juta orang berjalan baik.
“Apa untungnya menalangi Bank Semesta bagi Pemerintah? Bukan sekadar angka dana talangan dua triliun—pihak bank sentral baru saja merevisi angkanya, bukan pula soal uang itu lebih baik diberikan untuk membangun ribuan sekolah, misalnya, bukan pula tentang kabar kalau pemilik bank melakukan kejahatan dan manipulasi keuangan—meskipun di laporan bank sentral tidak disebutkan, tetapi lebih karena apakah keputusan menyelamatkan Bank Semesta sesuai dengan disiplin, konsistensi kebijakan keuangan Pemerintah selama ini. Bank itu kolaps, berarti pasar telah melakukan seleksi alam. Selesai. Kalian seharusnya paham sekali, ada prinsip-prinsip dalam pengelolaan perekonomian nasional yang harus dipegang teguh, jika tidak, maka omong-kosong bicara good governance, reformasi birokrasi, dan sebagainya itu.”
Aku menelan ludah. Sejak awal aku sudah tahu, jika keputusan urusan ini terserah Ibu Menteri, Bank Semesta tidak akan pernah membuka kantornya lagi, tidak ada matahari esok untuk bank milik Om Liem. Pemberian dana talangan di luar kelaziman yang dipahaminya.
“Nah, apakah akan terjadi rush besar-besaran Senin besok jika Bank Semesta diumumkan pailit? Bahaya dampak sistemik terjadi? Sistem keuangan nasional ikut kolaps? Itu sepertinya harus mendengarkan pendapat anggota komite lainnya. Kau boleh jadi benar, terkadang keputusan telah dibuat sebelum kita memutuskan. Tetapi rapat komite nanti sore jelas adalah proses pengambilan keputusan, bukan mencari argumen. Sejauh ini, saya tidak akan mendahului proses itu dengan preferensi pribadi.” Menteri untuk ketiga kalinya memperbaiki posisi duduk.
“Bagaimana dengan nasabah besar yang harus kehilangan uang kalau Bank Semesta ditutup?” Julia bertanya setelah lengang sejenak.
“Itu resiko mereka. Semua orang seharusnya tahu, lembaga penjamin simpanan kita hanya menjamin tabungan hingga batas tertentu.”
“Ada ratusan nasabah—“
“Tentu saja akan ada ratusan, bahkan ribuan nasabah yang kehilangan uang, tapi bukan nasabah kecil yang dijamin Pemerintah. Ada banyak hal yang harus kami cemaskan, dan jelas itu bukan nasabah kelas kakap, apalagi nasib pemilik bank yang bangkrut.” Menteri menjawab datar.
Ruangan lengang lagi sejenak. Sudah hampir dua puluh menit berlalu.
Baiklah, sudah saatnya, aku mengambil dokumen yang tadi diantarkan Maggie, aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop cokelat, menyodorkan pada Menteri.
“Apakah Ibu pernah membaca data ini dalam laporan-laporan tentang Bank Semesta.”
“Ini apa?” Ibu Menteri menerimanya.
“Daftar deposito perusahaan negara di Bank Semesta.” Aku menjawab pendek, membiarkan sebentar Menteri melihat cepat dokumen itu.
“Apakah ini valid?” Terdengar helaan nafas samar dibalik pertanyaan Menteri—meski wajahnya tetap berusaha tenang dan datar.
“Lebih dari valid, aku mendapatkannya dari pihak internal Bank Semesta.” Aku menjawab lugas, “Seperti yang Ibu lihat sendiri, setidaknya ada delapan perusahaan negara yang menaruh deposito bernilai ratusan milyar di Bank Semesta. Nah, tadi Ibu bertanya padaku, apa untungnya bagi Pemerintah menalangi Bank Semesta? Ibu bisa menyimpulkannya sendiri.”
Ruangan besar itu kembali lengang. Aku sengaja memasang wajah menunggu komentarnya setelah melihat dokumen itu. Boleh saja wanita tangguh ini memilih disiplin dan konsisten, memegang teguh prinsip-prinsipnya, tapi dengan dokumen ini, maka situasinya hanya menjurus dua hal buruk. Biarkan Bank Semesta pailit, maka seluruh deposito delapan perusahaan negara bernilai nyaris satu triliun akan hangus. Kerugian itu akan dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan negara, tidak bisa ditutup-tutupi. Maka dengan cepat, media massa memburu penjelasan. Siapa yang telah memberikan otorisasi menyimpan deposito di bank bermasalah, siapa yang harus bertanggung-jawab. Lingkaran setan masalah ini sama runyamnya dengan pilihan menyelamatkan Bank Semesta.
“Saya tahu, cepat atau lambat, urusan ini tidak pernah sesederhana itu.” Kali ini aku mendengar jelas helaan nafas Menteri, “Saya tidak menemukan data ini dalam laporan bank sentral. Astaga, banyak sekali uang perusahaan negara disimpan di sana.”
Ruangan kembali lengang.
“Saya minta maaf kalau dokumen itu menambah tekanan baru bagi Ibu dalam mengambil keputusan.” Aku berkata sesopan mungkin, berlagak ikut simpati.
“Terima kasih, Thomas. Tanpa dokumen inipun, cepat atau lambat situasinya semakin rumit.” Menteri perlahan meletakkan selembar kertas itu di atas meja, “Sayangnya waktu wawancara kita telah habis, ada banyak pekerjaan yang harus saya tuntaskan.”
Aku dan Julia mengangguk.
Menteri berdiri, “Saya antar kalian ke pintu keluar.”
Kami melangkah menuju pintu depan.
“Salam buat Shambazy.” Menteri berjabat-tangan dengan Julia.
“Dan kau, Thomas, kau tidak cocok menjadi wartawan. Kau bukan tipikal komentator dan penonton seperti Shambaz, kau adalah pemain, pemain kasti yang hebat, tukang timpuk anak-anak perempuan yang lebih kecil.” Menteri menyalamiku, tertawa.
Aku ikut tertawa sopan.
Pertemuan itu telah selesai.
***
“Dari mana kau dapat ide tentang bola kasti itu?” Julia bertanya saat lift meluncur turun.
“Maggie. Dia menuliskan hasil googling-nya dalam kertas lain di dokumen yang dia antar tadi. Berguna, bukan? Detail super kecil seperti itu.”
“Maggie? Staf kau yang memanggil aku Nenek Lampir?” Wajah Julia terlipat.
Aku tertawa, melirik pergelangan tangan, pukul 09.45. Aku masih punya waktu tiga jam sebelum jadwal penerbangan nanti sore.
“Kau sekarang kemana?” Julia bertanya lagi.
“Beberapa pertemuan kecil lagi sebelum nanti sore berselancar di Bali.”
“Berselancar di Bali?”
Aku mengangguk, menatap angka-angka penunjuk lantai di dinding lift, “Kau mau ikut?”
Alis Julia terangkat, “Dalam urusan seperti ini? Kau bergurau atau serius, Thom?”
“Mengajak kau berselancar ke Bali? Tentu saja aku serius, Julia. Itu bisa jadi pengantar yang baik sebelum kita makan malam bersama di tepi pantai misalnya.”
Julia melotot sebal.
Aku tertawa, “Aku harus menemui seseorang di Denpasar pukul empat sore. Itu pertemuan paling penting dari semua skenario, Julia. Kau seharusnya bisa menyimpulkan sendiri dari percakapan tadi, walaupun aku menyerahkan dokumen yang lebih mengenaskan tentang deposito perusahaan negara di Bank Semesta, wanita tangguh itu, boleh jadi tetap akan memilih disiplin dan konsistensinya. Dia kukuh. Dia tidak akan menalangi Bank Semesta sepeserpun. Aku membutuhkan bidak lain untuk memastikan keputusan rapat komite sebaliknya.”
“Kau akan bertemu siapa di Bali?” Julia bertanya.
Pintu lift sudah terbuka sebelum aku sempat menjawab. Lobi gedung langsung terlihat ramai dan bising. Pejabat tinggi bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan (yang kemarin sore satu pesawat denganku) telah tiba dari luar kota, dikerubuti wartawan.
“Bergegas, Julia.” Aku sudah melangkah cepat, berusaha menyelinap pergi.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 33
by Darwis Tere Liye on Wednesday, May 25, 2011 at 6:46am
episode 33-intermezzo
“Injak rem-nya, Tommi.” Opa yang duduk di sebelahku berseru, mengingatkan.
“Eh?” Aku menoleh, menelan ludah, sedikit gugup.
“Injak rem-nya, Tommi! Remnya!” Opa berseru lebih kencang.
“Sudah, Opa! Sudah kuinjak remnya.” Aku balas berteriak, panik, mobil yang kukemudikan bukannya melambat, malah semakin cepat menuruni halaman belakang rumah.
“Remnya, Tommi, astaga, kau justeru menginjak gas-nya!”
“Sudah kuinjak! Mobilnya tidak bisa berhenti! Eh, sebenarnya remnya yang mana, Opa?”
“Yang tengah, Tommi! Injak remnya.” Opa berseru panik, dengan cepat menyambar kemudi, berusaha membanting mobil ke kanan.
Terlambat, mobil melaju terlalu kencang, sedetik sudah menghantam gundukan taman. Mobil kodok klasik itu seperti kodok sungguhan melompat. Aku terhenyak, terbanting, kepalaku membentur kemudi, suara klakson terdengar nyaring tidak sengaja terkena dahiku. Opa yang berusaha membantu mengendalikan mobil mengaduh tertahan, siku kiriku menghantam wajahnya. Urusan semakin kapiran, lepas gundukan tanah, menerabas barisan bunga bougenvile yang segera porak-poranda, mobil tidak terkendali terus meluncur ke bibir waduk.
Dan sebelum kami bisa melakukan apapun, mobil berdebum loncat ke dalam air, dengan cepat tenggelam. Gelembung udara menyeruak permukaan air.
“Keluar, Tommi! Cepat keluar dari mobil!” Opa menggerutu, berteriak—dengan masih meringis menahan sakit dan kaget. Berusaha membuka daun pintu, terkunci, macet.
Aku lebih cepat, sudah mendorong pintu mobil sebelah kanan, mobil sudah separuh tenggelam di sisiku, segera berenang ke sebelah Opa, membantunya menjebol pintu.
Adalah dua menit berkutat, Opa berhasil keluar, aku menyeretnya ke tepi Waduk.
“Dasar anak ceroboh, kau hampir membuat kita celaka. Untuk kesekian kalinya.” Opa bersungut-sungut, badannya basah kuyup, nafasnya tersengal.
Aku tertawa, membungkuk, memegangi pahaku yang nyeri terhantam entahlah tadi.
“Kau jangan pernah memintaku mengajari mengemudi lagi.”
“Ini seru, Opa. Hebat.”
“Omong kosong, kau membuat mobil klasikku tenggelam di waduk.” Opa berseru sebal
“Namanya juga kodok, Opa.” Aku nyengir.
Opa mengacungkan tinju, marah.
“Kemarin lusa kau menabrakkan speedboat, kemarinnya lagi kau mematahkan kail kesayanganku, belum terhitung kaca jendela rumah yang pecah, anjungan dermaga somplak, atap genteng pecah. Aku tidak mau lagi mengajari kau apapun. Kau sama seperti Papa kau dulu. Perusak nomor satu.” Opa mendengus, mendorong pelan bahuku, menyuruh menyingkir, lantas melangkah ke beranda rumah.
Aku mengibaskan rambut, tertawa lagi.
Tetapi Opa bergurau, setelah ditertawakan Tante yang hari itu juga datang ke rumah peristirahatan, kami berganti baju kering, menghabiskan kue lezat buatan Tante di beranda belakang, Opa sudah lupa urusan mobil kodok itu. Staf rumah peristirahatan mengontak pemilik alat berat, belalai pengeduk tanah itu tiga jam setelah kejadian sudah terjulur ke waduk, beberapa penyelam mengikat mobil di dalam air, berusaha menariknya keluar.
“Kau besok mau melakukan apa lagi, Tommi?” Opa bertanya, kami asyik menonton proses evakuasi mobil kodok.
“Belajar mengemudi lagi, Opa.”
“Astaga!” Opa menepuk jidatnya, “Tidak mau. Kau jangankan menyentuh mobilku, berada dekat dengan garasi saja tidak boleh, setidaknya hingga berusia delapan belas.”
“Kau membantu Tante masak saja, Tommi. Akan kuajari membuat kue-kue. Siapa tahu berguna saat kau kembali ke sekolah.” Tante ikut bicara, duduk di salah-satu kurs santai, menyeduh teh hijau.
Opa terkekeh, “Ide bagus, lebih baik kau belajar memasak saja. Resikonya lebih kecil.”
Aku memonyongkan bibir, “Bukankah Opa sudah berjanji akan mengajariku apa saja?”
“Enak saja, janji itu batal dengan sendirinya kalau kau merusak sesuatu.” Opa melambaikan tangan, menunjuk mobil kodoknya yang mulai ditarik keluar dari permukaan waduk. Orang-orang berseru memberi aba-aba, belalai penciduk tanah itu sedikit bergetar.
Kami kembali asyik menonton.
Tetapi lagi-lagi tentu saja Opa bergurau, esok pagi-pagi kami sudah asyik belajar menembak.
Opa meminjamiku pistol tua, memberikan penutup telinga, lantas kami sibuk dar-der-dor di halaman kanan rumah yang disulap jadi tempat latihan tembak dadakan.
Itu untuk kedua kalinya aku berkunjung ke rumah peristirahatan Opa, liburan sekolah, usiaku belum genap lima belas. Opa semangat menyusun jadwal agar aku betah, membuatku melupakan banyak hal, apalagi untuk sekadar bertanya tentang kejadian masa lalu. Aku tidak keberatan, lagipula aku tidak tertarik membahas kenangan buruk itu.
“Dari mana Opa belajar menembak?” Kami sedang beristirahat, duduk di dermaga, betis terendam di dinginnya air waduk.
“Kalau kau bertanya demikian, berarti kau mau bilang orang tua ini termasuk jago menembak, Tommi.” Opa tertawa senang.
Aku nyengir.
“Otodidak, Tommi. Tidak ada yang mengajari orang tua ini.”
“Mengemudi speed? Merawat mobil?” Aku menguap, berusaha mengisi sesuatu dengan percakapan.
“Itu juga otodidak, Tommi. Sama seperti bermain musik, meski itu satu-satunya yang Opa tidak berbakat sama sekali,” Opa tertawa.
“Berbisnis?”
“Ya, sama seperti berbisnis. Mana ada sekolah bisnis di jamanku masih muda, aku lulus sekolah rakyat pun tidak. Semuanya dipelajari sendiri. Dicoba, gagal. Dicoba, gagal lagi. Terus saja kau lakukan. Lama-lama kau tahu sendiri bagaimana seharusnya, trik terbaik, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu adalah sekolah terbaik. Apa kata bijak itu? Pengalaman adalah guru terbaik.”
Aku mengangguk, “Aku akan menjadi otodidak seperti, Opa.”
Opa mengacak rambutku, “Itu bagus. Sepanjang kau punya semangat untuk itu, kau bisa ahli dalam banyak hal tanpa harus duduk di kelasnya.”
Kami diam sejenak, sebuah perahu nelayan melintas, beberapa penumpangnya melambai. Opa balas melambai.
“Hanya saja, esok lusa, dunia akan berubah banyak, Tommi.” Opa menatap hamparan permukaan waduk yang kembali lengang setelah perahu tadi pergi, kabut turun membungkus pebukitan.
“Hari ini, misalnya, semua pebisnis seperti Opa memilih hidup susah untuk mengumpulkan modal. Menahan diri untuk belanja, agar tabungan cukup untuk memperbesar bisnis, bersabar, konsisten, hati-hati. Esok lusa, orang-orang lebih memilih meminjam uang di bank, menerbitkan surat utang, atau jenis hutang-hutang lainnya. Tidak sabaran, mengambil resiko. Dan saat dia gagal membayar hutangnya, maka dia akan menutupnya dengan pinjaman yang lebih besar.”
Aku mengangguk—meski belum mengerti kalimat Opa. Aku baru tahu saat mengambil kuliah, di kelas-kelas manajemen keuangan modern, kalian akan dicekoki dengan dogma: meminjam lebih baik daripada mengeluarkan modal sendiri. Secara teoritis, ‘pengungkit’-nya lebih besar.
“Hari ini, misalnya juga, semua pebisnis hanya mengurus preman-preman, pungutan-pungutan dari pejabat rendahan, tikus-tikus busuk kelas bawah, makelar murahan. Esok lusa, bahkan anggota dewan terhormat menjadi calo, tidak beda dengan calo tiket di stasiun kereta. Pejabat tinggi menjadi penghubung, dan tidak terhitung aparat keamanan yang seharusnya melindungi, siap menggebuk bisnis kita jika tidak mendapat bagian.”
Aku lagi-lagi hanya mengangguk.
“Nah, semoga kalau kau nanti otodidak, kau akan lebih hebat dibanding Opa. Situasi kau berubah, masalah kau juga berubah. Dicoba, gagal, dicoba lagi, gagal lagi, jangan pernah putus asa, mengeluh, apalagi berhenti dan melangkah mundur. Kau mewarisi darah seorang perantau, mewarisi tabiat seorang pejuang tangguh, Tommi. Tidak terbayangkan, ribuan kilometer Opa kau ini menaiki perahu kayu tua, bocor—”
“Tante memanggil kita.” Aku memotong kalimat Opa.
“Eh?” Opa menoleh ke beranda belakang, dia tidak mendengar apapun.
“Opa tidak mendengar suara Tante?”
Opa menggeleng, tidak mengerti.
“Kata Tante, makan siang sudah siap. Tommi duluan.” Aku sudah lompat berdiri, dan sebelum Opa menyadarinya, aku sudah berlari-lari kecil melintasi dermaga, kakiku yang basah membentuk barisan jejak telapak kaki.
Opa menggerutu, meneriaki dasar anak tidak tahu sopan-santun.
Aku tertawa, sudah mendorong pintu belakang. Sepagi tadi saja, Opa sudah dua kali bercerita tentang perahu nelayan bocor itu. Tiga kali bahkan belum tengah hari, itu berlebihan.
***
-
pelanggan
Opa benar.
Tanpa kita sadari, dalam hidup ini, potongan-potongan kecil menjadi tempat kita belajar sesuatu dengan efektif. Misalnya, anak kecil belajar mengendarai sepeda, hanya karena teman bermainnya membawa sepeda, dan dia iseng mencoba, orang-tuanya terpesona saat tahu anaknya sudah bisa mengendarai sepeda. Dalam kasus lebih ekstrem, anak kecil usia tiga-empat tahun, dibiarkan sendirian menonton acara televisi yang mengajari membaca, dan dia fokus memperhatikan—entah bagaimana konsentrasi itu datang, orang-tuanya terpesona saat tahu anaknya bisa membaca tanpa pernah diajari.
Ada banyak momen-momen spesial ketika kita belajar sesuatu. Termasuk saat kita sudah remaja atau tumbuh dewasa. Kata Opa, melakukan perjalanan, bertemu dengan banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat belajar. Kau bisa jadi tukang kayu yang baik jika berhari-hari mengunjungi lapak tukang kayu yang sedang sibuk membuat meja, kursi, pintu, dan sebagainya. Kau juga bisa menjadi tukang las, tukang cat, pembalap, penembak, penjahat, atau apapun jika kau menghabiskan waktu bersama orang-orang dengan profesi itu. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadarinya, menghabiskan hari dengan rutinitas itu-itu saja tapi pengetahuannya tidak berkembang. Bagaimana mungkin, misalnya, kau setiap hari menumpang kereta, tapi kau tidak pernah tahu bentuk ruangan masinis, Opa terkekeh, “Kalau kau otodidak yang baik, kau bahkan sudah bisa mengemudikan kereta, Tommi.”
Aku belajar banyak hal dari kunjungan singkat ke rumah peristirahatan itu setiap liburan sekolah. Tidak sempurna otodidak, Opa mengajariku dengan cara uniknya. Apa saja, termasuk keahlian kecil yang kadang buat apa pula kupelajari.
“Esok lusa, kau akan tahu apa gunanya, Tommi.”
Aku mengangguk, aku selalu percaya kalimat Opa.
Dua puluh tahun berlalu, hari ini, di lobi parkiran gedung Kementerian yang ramai, setelah menemui Menteri yang kukuh itu, berlari-lari kecil bersama Julia, kalimat itu menemukan konteksnya.
Telepon genggamku berbunyi. Langkah kaki melamban, dari layar telepon genggam aku tahu Maggie yang menelepon.
“Hallo, Maggie, cepat sekali kau sudah meneleponku? Kau sudah di kantor? Tiketnya sudah siap? Atau ada sesuatu yang hendak kau laporkan.”
“Hallo, Thomas."
Langkah kakiku sempurna terhenti.
"Sepertinya kami terlalu meremehkan kau.” Tertawa fals.
Julia hampir menabrakku, menggerutu, wajah sebalnya bertanya, siapa yang menelepon.
“Kau punya waktu lima belas menit, Thomas. Menyerahkan diri, kami menunggu di kantor kau yang mewah ini. Atau staf kau yang begitu cekatan ini esok-lusa sudah bergabung dengan penghuni penjara perempuan, ah, itu tidak seru, bagaimana kalau dengan sedikit intrik licik, kujebloskan saja ke penjara laki-laki, bagian tahanan khusus untuk para penjahat, pembunuh, dan pengedar obat-obatan terlarang. Ide bagus bukan? Sepertinya gadis kau ini tidak akan bertahan satu hari.”
Aku membeku.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 34
by Darwis Tere Liye on Thursday, May 26, 2011 at 5:16am
episode 34
disclaimer: kalian dilarang meniru, menggunakan, atau bahkan sekadar iseng memanfaatkan pengetahuan di episode ini dalam kehidupan nyata, saya tidak bergurau menulisnya.
“Kau diajarkan tentang Socrates di sekolah?” Opa bertanya takjim.
Aku mengangguk, “Itu salah-satu pelajaran favoritku, Opa.”
“Oh ya?” Opa tertawa, “Tetapi apakah guru kau bilang kalau Socrates, orang bijak, filosof, penemu banyak pengetahuan itu mati bunuh diri?”
Aku menggeleng, menelan ludah.
Itu jadwal ketiga kalinya akau ke rumah peristirahatan, Opa mengajakku ke kebun miliknya dekat waduk Jatiluhur, mengenakan topi bambu, bersepatu boot, santai berjalan di bawah rimbun pohon durian, mangga, alpukat, nangka dan sebagainya.
“Tentu saja tidak.” Opa menepuk bahuku, “Itu akan merusak imajinasi kalian tentang orang hebat itu. Tetapi adalah fakta, ia bunuh diri dengan racun hemlock.”
Aku menyeka keringat di pelipis, sejak tadi pagi, saat Opa meneriakiku agar bangun, tertawa menyiramkan air di kepalaku—kami semalam tidur terlalu larut karena terlalu asyik memancing di waduk, aku sudah menebak-nebak Opa akan mengajariku apalagi pagi ini.
“Indah bukan?” Opa menunjuk serumpun bunga di semak belukar.
Aku tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Insting remajaku menebak, bunga ini pasti ada hubungannya dengan kematian Socrates.
“Itulah water hemlock, Tommi. Bunga dan batangnya aman kau kunyah, tapi akarnya, yang dipenuhi getah, amat berbahaya. Inilah salah-satu tumbuhan paling berbahaya di dunia. Socrates yang agung, mati setelah menelan racun hemlock. Tubuhnya kejang-kejang, lantas maut segera datang. Mengerikan, bukan?”
Bulu kudukku berdiri. Aku menghela nafas.
Opa sudah melangkah ringan, berpindah ke bagian lain kebun, seperti sedang mengajakku berjalan-jalan di lorong Mall.
“Nah, itu pohon strychnine. Tidak lazim kau dengar. Tetapi Cleopatra, memaksa pelayannya memakan biji buah pohon ini, untuk mengetahui apakah biji pohon ini cara terbaik untuk bunuh diri. Racun pohon ini terkenal sekali, Tommi, disebut brucinne, beberapa cerita legendaris menyebut-nyebut racun burcine. Kembali lagi ke Cleopatra tadi, kabar baiknya, setelah melihat pelayannya meninggal dengan cara yang amat menyakitkan, Cleopatra berubah pikiran. Kabar buruknya, dunia ini memang aneh sekali dalam kasus tertentu, Cleopatra memilih racun ular untuk bunuh diri. Dia mati dengan memasukkan tangannya ke dalam keranjang ular berbisa.”
Astaga, aku paham sudah apa pelajaranku pagi ini. Opa mengajakku mengenal begitu banyak racun. Inilah sesi paling senyap. Aku lebih banyak diam, menatap wajah tua Opa yang terlihat riang. Aku tidak memikirkan dari mana Opa tahu banyak hal, karena jelas, dengan pengalaman hidupnya, meski Opa tidak pernah sekolah, pengetahuannya luas dan membekas, aku lebih memikirkan, buat apa aku diajari soal ini. Ini berbeda dengan belajar mengemudi speedboat, menembak, atau menyetir mobil.
Awalnya hanya bunga, pohon atau tanaman yang memang tidak lazim, tidak pernah kudengar, dan langka tumbuh di iklim tropis, tetapi semakin siang, Opa mulai menunjuk jenis tanaman yang sejatinya banyak sekali berada di halaman rumah kebanyakan. Aku menelan ludah, bahkan satu-dua, jenis tanaman itu dihidangkan di meja makan.
“Kau pernah makan singkong mentah-mentah, Tommi?” Opa menyeringai.
Aku buru-buru menggeleng.
“Jangan pernah lakukan. Beberapa jenis singkong, ketela pohon, atau apalah orang menyebutnya mengandung racun sianida dengan kadar yang lebih dari cukup untuk membunuh kau.” Dengan suara perlahan, Opa menjelaskan.
“Masa-masa itu, ketika kehidupan semakin sulit, banyak orang-orang kampung yang mencari tumbuhan yang bisa dimakan dalam hutan. Kemarau panjang, paceklik, gagal panen, tidak ada bantuan, mereka memakan apa saja yang bisa dimakan. Di beberapa tempat disebut gadung, aku akan menyebutnya ubi kayu hutan saja, jika kau tidak becus memasaknya, tidak cukup matang prosesnya, maka satu keluarga penuh, atau seluruh kampung bisa binasa dalam satu malam.”
Aku bergidik, teringat tadi pagi Tante menghidangkan cake dari ketela pohon.
Opa tertawa, “Tenang, Tommi, kalau kau masak dengan benar, racun sianida-nya akan hilang bahkan tidak semua orang tahu kalau singkong itu berbahaya. Kita tidak akan bisa berjalan-jalan dikebun lagi jika Tante kau salah memasaknya.”
Itu sungguh bukan gurauan yang menarik. Aku perlahan menghembuskan nafas.
Persis saat matahari di atas kepala, terik membakar ubun-ubun, Opa melambaikan tangan, mengajakku kembali ke rumah peristirahatan. Aku lebih banyak diam saat Opa mengemudi mobil.
“Kau tidak suka pelajaran hari ini, Tommi.” Opa berkata takjim.
Aku bergumam antara terdengar dan tidak.
***
-
pelanggan
Dua puluh tahun berlalu sejak pelajaran itu.
“Ada berapa orang di atas sana?” Aku bertanya cepat.
“Setidaknya enam orang, Pak Thom.” Satpam kantor menjawab ragu-ragu, “Mungkin juga lebih, aku tidak sempat menghitung. Mereka baru tiba setengah jam lalu, berseragam taktis dan bersenjata, beberapa memakai topeng, mereka langsung menerobos meja depan, jangankan menahannya, bertanya saja kami tidak berani.”
Aku mengusap dahi, urusan ini serius sekali. Itu pasti rombongan sama yang tadi malam menangkapku. Seharusnya aku segera menyuruh Maggie menyingkir, bekerja dari lokasi alternatif yang lebih aman. Dengan telepon genggamku dipegang bintang tiga itu, maka soal waktu mereka bisa menyisir satu per-satu orang kepercayaanku, dan Maggie jelas ada di urutan pertama.
“Apakah mereka yang kemarin menyergap kita di waduk Jatiluhur?” Julia bertanya cemas—sepertinya sakit hati dibilang Nenek Lampir menguap cepat oleh situasi ini.
Aku mengangguk cepat, “Mereka juga orang yang sama yang telah menembaki kapal Opa tadi pagi di dermaga yacht.” Melirik jam di pergelangan tangan, meski jadwalku super ketat, aku sungguh tidak bisa membiarkan Maggie ditangkap, tadi dari parkiran gedung kementerian, mengambil alih kemudi mobil Julia, kami ngebut di jalanan protokol ibukota, tiba dua menit lebih awal dibanding tenggat waktu yang diberikan oleh penelepon, suara fals yang amat kukenal. Segera merapat di gerbang belakang kantor, bertanya pada satpam yang berjaga—yang justeru lebih dulu melaporkan situasi.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Pak Thom?” Satpam kantor bertanya, cemas.
“Mereka menggeledah kantorku.”
“Menggeledah kantor, Pak Thom? Memangnya ada apa di sana? Ada bom?”
“Mana aku tahu. Mereka sekarang menahan Maggie.”
“Ibu Maggie yang cantik dan baik hati itu? Aduh!” Satpam kantor kontan mengeluh.
Aku mengabaikan wajah terlipat satpam.
“Apa yang harus kita lakukan, Pak Thom?”
“Aku belum tahu, dan berhentilah bertanya, kau tidak membantu situasi dengan pertanyaan itu.” Aku menjawab ketus, biarkan aku berpikir dulu.
Bagaimana aku bisa menyelamatkan Maggie dari sana? Dengan jumlah polisi lebih dari setengah lusin, jangankan menyelamatkan Maggie, mendekati lantai kantorku saja tidak mudah. Sejak ngebut tadi aku sudah memikirkan skenario, buntu. Tidak ada celah. Jangankan Maggie yang sendirian, dijaga oleh setengah lusin pasukan, kami berempat, aku, Julia, Opa dan Om Liem kemarin sore bahkan tidak bisa kabur jika tidak ada bantuan Randy.
Telepon genggamku berbunyi.
Nomor telepon Maggie.
“Hallo, Thomas. Kau butuh berapa lama lagi, hah?” Suara berat itu langsung bertanya, intonasinya tidak main-main.
“Aku masih dalam perjalanan—”
“Waktu kau habis, Thomas.”
“Aku perlu waktu untuk tiba di kantor. Ayolah, lima belas menit lagi. Aku pasti datang.” Aku berseru, mengucapkan apa saja yang terpikir di kepala, termasuk kemungkinan menunda-nunda, memperlambat.
“Sayangnya, aku tidak punya waktu selama itu, Thomas. Jika, lima menit dari sekarang kau tidak menampakkan hidung di ruangan kantor ini, staf kau yang cekatan ini sudah terlanjur dibawa ke penjara, dan tidak akan ada lagi jalan kembali untuknya.” Pembicaraan diputus.
Aku berseru jengkel, hampir membanting telepon genggam, hei, tidak bisakah dia bicara lagi sebentar, bernegosiasi. Dasar tabiat pengecut. Dia seharusnya tidak melibatkan orang lain dalam urusan ini—apalagi Maggie.
“Bagaimana?” Julia bertanya cemas.
Sebuah motor bebek pengantar pizza melintasi gerbang satpam.
“Kau tidak akan menyerbu langsung ke atas, bukan?” Julia bertanya panik saat melihat tanganku bergerak ke arah revolver di pinggang, di balik jas rapi.
“Aku akan menyerbu mereka. Kita lihat saja akan seperti apa.”
“Kau gila, Thomas. Kau kalah jumlah. Dan sejak kapan kau pintar menembak?” Julia berteriak.
“Pak Thom? Apa yang akan Pak Thom lakukan?” Satpam gerbang juga reflek melangkah mundur, jerih melihat revolver di tanganku—beruntung hari minggu, pintu masuk gedung perkantoran sepi, keributan kecil ini tidak menarik perhatian siapapun.
Motor bebek pizza yang barusan melintas sudah parkir rapi. Petugasnya sambil bersiul, menenteng kantong plastik besar berisi kotak pizza lezat.
Aku sudah melangkah cepat.
“Tunggu, Thomas.”
Aku tidak mendengarkan Julia.
“Kau benar-benar kehilangan akal sehat, Thomas. Kau sama saja bunuh diri.”
Aku sekarang bahkan berlari-lari kecil, membiarkan Julia mengejarku.
Sekejap, aku sudah mencengkeram kerah baju petugas pengantar pizza, mengacungkan pistol, berkata tegas, “Ikut denganku, segera!”
***
Dalam hitungan detik, aku mendapatkan ide itu.
Opa benar, tidak ada pengetahuan yang tersia-siakan, termasuk tentang pengetahuan racun sekalipun. Kalian tahu, di sekitar rumah, di halaman, di trotoar, terkadang tumbuh tanaman yang sangat beracun tanpa kita sadari. Bunga terompet mekar tidak berbilang di taman gedung perkantoran. Indah. Tetapi apakah ada karyawan yang sering berlalu-lalang tahu kalau bunga itu amat berbahaya.
Aku menyeret petugas pengantar pizza itu berjalan ke toilet lantai dasar gedung, menyuruhnya melepas baju seragam pengantar pizza. Dia takut-takut, nanar melihat revolver, mulai melepas baju dan celana. Aku melemparkan pistol ke Julia, mengganti pakaianku dengan cepat.
“Hei, sebentar!” Aku meneriaki pengantar pizza yang hendak lari terbirit-birit setelah pertukaran baju selesai.
“Untuk kau! Cukup untuk mengganti pizza dan seragam kerja kau.” Aku melemparkan gumpalan uang yang kutarik dari dompet.
Dia takut-takut mengambilnya di lantai toilet.
“Sekali saja kau cerita tentang kejadian ini, bahkan dalam mimpi kau pun aku akan datang. Hei, kau dengar?”
Pengantar pizza itu sudah mendorong pintu toilet, berlari cepat menuju motornya, melintasi gerbang, membuat satpam menatap heran, sejak kapan pengantar pizza ini berganti pakaian jas rapi?
Aku menyuruh Julia memetik beberapa bunga terompet di taman gedung perkantoran, gadis itu, yang mulai mengerti, berlari cepat seperti mengejar informan berita setimpal hadiah pullitzer.
“Kandungan aktifnya adalah atropine, hyoscyamine dan scopolamine, zat penghilang kesadaran. Kau bisa meninggal jika overdosis.” Aku menjawab cepat pertanyaan Julia, seberapa berbahaya, sambil memeras bunga terompet yang diberikan Julia.
Julia menelan ludah, wajahnya pias.
“Kau tidak sungguh-sungguh, Thomas?”
“Aku lebih dari serius. Sekali saja mereka tidak sopan menyentuh Maggie, aku akan membunuh mereka semua.” Aku menjawab dingin, sekarang memotong bunga itu kecil-kecil, menjadikannya topping.
Julia berpegangan ke pintu toilet.
Sempurna sudah. Potongan bunga terompet sudah bergabung. Tersamar seperti bagian dari resep lezat pizza. Aku memasukkan kembali dua pizza ukuran jumbo itu ke dalam kotak, meletakkannya dalam kantong plastik, memasang topi khas pengantar pizza, memasang kaca mata besar bundar milik pengantar pizza tadi, menyamarkan tampilan, “Kau tunggu di sini, Julia. Jika lima belas menit aku tidak turun, kau beritahu satpam depan untuk menelepon siapa saja, meminta bantuan.”
Julia kehilangan komentar, dia mencengkeram pintu toilet.
Aku sudah bergegas menuju lift.
Entah siapa yang memesan pizza ini, tidak penting. Aku akan membawanya langsung menuju ruangan kantorku, bilang ada kiriman pizza untuk penghuni ruangan itu, meninggalkannya.
Apakah mereka akan tertarik mengunyahnya? Waktuku sekarang adalah detik, aku menekan tombol lift. Keliru atau benar, berhasil atau gagal rencana ini sekarang hanya soal detik. Aku akan memikirkan cara terbaik agar setengah lusin lebih anggota pasukan itu tertarik memakannya sepanjang lift bergerak naik.
***bersambung
-
pelanggan
*******-******* Berkelas -- Episode 35
by Darwis Tere Liye on Wednesday, June 1, 2011 at 11:14am
episode 35
Keliru, mereka sama sekali tidak tertarik mengunyah pizza yang kubawa.
Pintu lift lantai lima terbuka, aku melangkah layaknya seorang pengantar pizza yang baik, bergegas masuk ke ruang resepsionis kantorku.
Segera, dua dari petugas berseragam taktis langsung menghadang.
“Pagi, bos. Saya hendak mengantar pizza ke dalam.”
"Kau tidak boleh masuk!” Salah-satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk lorong, menyuruhku pergi. Tangan satunya mengangkat senjata mesin otomatis, teracung padaku.
“Eh?” Aku pura-pura bingung, memastikan nama perusahaan yang ditulis dengan batu pualam di belakang meja resepsionis, “Bukankah ini kantor Thomas & Co, ada karyawannya yang memesan pizza, aku harus mengantar ke dalam.” Dan aku, seperti gaya pengantar pizza yang terburu-buru, mengabaikan dua petugas itu, melangkah menuju pintu di sebelah meja resepsionis.
“Kau tidak boleh masuk!” Salah-satu dari mereka membentak, sigap loncat, tangannya yang terlatih dengan cepat mencengkeram kerah seragam pizzaku.
Sial! Aku menelan ludah, sedikit tercekik.
“Eh, aku, aku tahu ruang kerja yang memesan pizza ini, bos. Biar kuantar ke dalam langsung, tidak akan lama. Mereka sudah biasa pesan.” Aku berusaha mengangkat tinggi kotak pizza, menunjukkannya, memasang wajah seperti tersiksa oleh cengkeraman kasar itu.
Petugas yang memegang kerahku sedikit melonggarkan genggaman tangannya demi cicit suara kesakitanku, “Tidak ada yang memesan pizza kau! Tidak ada siapa-siapa di dalam sana.”
“Ada yang pesan, pak, eh bos.” Aku menunjukkan sekilas resi pesanan, “Aku sungguh harus mengantarkannya tepat waktu, atau mereka berhak menerima pizza gratis karena terlambat dan pizzanya terlanjur dingin. Gajiku akan dipotong manajer gerai, belum lagi dia akan marah-marah.” Aku membungkuk, menghembuskan nafas, pura-pura tersengal dan pias oleh kejadian barusan.
Petugas itu menoleh temannya, meminta pendapat.
Temannya mengangkat bahu. Tangannya terus siaga memegang senjata—terarah padaku.
“Baik. Sekarang kau serahkan pizzanya, biar kami yang bawa ke dalam.”
“Eh, aku harus mengantarnya sendiri, pak bos.” Aku buru-buru menggeleng. Aku harus masuk ke dalam, aku harus melihat sendiri posisi Maggie, dan seberapa banyak mereka yang sedang menahan Maggie.
“Sama saja!” Petugas itu berseru kesal, dia mulai tidak sabaran lagi melihat wajahku, “Kau tinggal bilang di mana meja pemesan pizza ini. Biar aku yang antar. Kau tunggu di sini saja.”
Aku berpikir sejenak, berusaha mencari akal untuk bernegosiasi diijinkan masuk.
Petugas itu sudah merampas kantong plastik besar berisi kotak pizza di tanganku.
“Di mana meja pemesannya?” Mendesak, menatap galak.
“Eh, Ibu Maggie. Mejanya paling pojok.” Aku terbata-bata menjawab.
Petugas itu melangkah dengan cepat.
Aku ikut melangkah masuk, mengiringinya.
“Astaga.” Petugas menoleh, tangannya bergerak cepat, senjata mesin otomatisnya terangkat, larasnya menahan dadaku, “Alangkah susah memberi perintah pada kau. Tunggu di luar aku bilang berarti kau tunggu. Atau kau tidak akan pernah bisa lagi mengantar pizza walau sekotak kecil jika kutarik pelatuk senjata ini.”
Aku menahan nafas. Mata kami bersitatap satu sama lain.
“Maaf, pak, eh, bos. Maaf.” Aku menelan ludah, mengangkat tangan, perlahan melangkah mundur.
Setidaknya satpam gerbang belakang gedung perkantoran benar. Jumlah mereka enam. Meski berpura-pura gentar menatap senjata, sebelum melangkah mundur, aku sekejap bisa melirik dengan jelas ujung ruangan. Maggie didudukkan di salah-satu kursi, tangannya diborgol. Empat petugas berada di sekitarnya, berjaga penuh. Bintang tiga polisi itu terlihat santai menikmati pemandangan jalanan kota yang lengang dari dinding kaca, dua tangannya di saku celana, dia tidak memperhatikan keributan kecil dua petugasnya yang berjaga di meja resepsionis dengan pengantar pizza.
“Apalagi yang kau tunggu, hah? Pizza kau sudah kuletakkan di atas meja pemesannya.” Petugas yang membawa kotak pizza kembali.
“Eh.” Aku menggaruk kepala, melonggarkan topi seragam, “Biasanya mereka memberiku tips, bos.”
“Apa kau bilang?” Dia membentak, melotot.
“Eh, tips, pak bos. Biasanya ada.” Aku masih berusaha melirik kesana-kemari, memastikan apakah masih ada petugas lain yang berjaga di lokasi berbeda.
“Lupakan tips kau. Segera menyingkir dari sini.” Dia mendorongku kasar, “Dan jangan pernah cerita pada siapapun apa yang kau lihat.”
Petugas yang satunya mendekat, bersiap memukulkan popor senjata jika aku tidak segera pergi.
Aku mengangguk. Baiklah, tidak ada yang bisa lagi kulakukan. Dengan situasi seperti ini, jangankan menyelamatkan Maggie, mendekatinya saja aku tidak bisa. Segeram apapun aku, segemas apapun, termasuk ingin meninju petugas yang sekarang kasar sekali menusuk-nusukkan laras senjatanya ke perut, aku tidak punya pilihan selain pura-pura pergi. Setidaknya aku tahu persis Maggie baik-baik saja, dia tidak diperlakukan kasar. Sesuai skenario, aku hanya bisa menunggu. Dan berharap, setengah lusin polisi berpakaian tempur ini akan mengunyah pizza dengan topping spesial bunga terompet.
Aku perlahan melangkah keluar.
Sayangnya skenario itu gagal total. Jangankan memakan, mereka menyentuh kotaknya pun tidak.
***
-
pelanggan
Lima menit yang dijanjikan bintang tiga polisi itu berlalu.
Aku menunggu tegang di lorong lift, di balik tanaman hias besar, di dekat pintu menuju tangga darurat. Mengintip ke arah kantorku, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda pizza itu disentuh oleh mereka. Dua petugas yang berjaga di meja resepsionis kantor tetap siaga, berjaga-jaga atas segala kemungkinan.
Bintang tiga polisi itu membuktikan ucapannya, dia akan membawa Maggie pergi jika aku tidak menunjukkan batang hidung sesuai tenggat yang diberikan. Lima menit berlalu, dia bahkan tidak perlu repot-repot lagi berusaha meneleponku. Dia berteriak memberi perintah pada empat anak buahnya untuk segera membawa tahanan. Mereka bergerak. Senjata-senjata teracung, Maggie disuruh berdiri.
Dari balik tanaman hias, aku mendengar bentakan-bentakan menyuruh Maggie segera melangkah, suara mengaduh tertahan Maggie. Tanganku mengepal, situasi semakin serius. Kalau saja hendak menurutkan emosiku, saat ini juga aku akan menyerbu ruangan. Tapi itu tidak bisa kulakukan. Julia benar, itu hanya bunuh diri, dan aku bisa membahayakan Maggie secara tidak langsung.
Maggie melangkah patah-patah keluar. Dua petugas di meja resepsionis bergabung mengawal, seperti sedang mengawal penjahat besar paling berbahaya.
Bintang tiga polisi itu melangkah santai di belakang.
Aku mendongak, menatap langit-langit lorong. Apa yang harus kulakukan sekarang? Nafasku sungguhan tersengal, tegang, mencengkeram paha, berusaha mengendalikan diri.
Rombongan itu sudah menuju lift. Satu-dua kali Maggie didorong agar berjalan lebih cepat.
Tanganku mengepal keras. Hanya hitungan detik, dan Maggie sudah dibawa pergi entah kemana. Aku tidak akan pernah bisa lagi menyelamatkannya.
Rombongan itu beberapa langkah lagi menuju lift.
Aku kehabisan kesabaran, sekarang atau tidak sama sekali, aku siap lompat dari persembunyian, berlari menyerbu rombongan itu.
“Psst!”
Seperseribu detik. Bisikan pelan itu membuat gerakanku tertahan.
“Psst!”
Aku menoleh. Kejutan besar.
Adalah Rudi, si boxer sejati klub petarung. Kepalanya muncul di balik pintu tangga darurat dua langkah di sebelahku.
“Ikuti aku, Thomas. Waktu kita terbatas.” Dia tersenyum, matanya bersinar meyakinkan.
Aku menelan ludah, tertahan menoleh pada Rudi sejenak, menoleh lagi ujung sana, rombongan yang membawa Maggie sudah persis di depan lift.
“Cepat, Kawan. Atau staf kau yang cantik itu tidak punya kesempatan lagi.” Wajah Rudi hilang dibalik pintu darurat, suara kakinya yang menuruni anak tangga terdengar berderap dibalik pintu.
Aku mengusap wajah. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba Rudi muncul dan menawarkan bantuan. Aku menoleh ke ujung lorong, salah-satu polisi menekan tombol ke bawah. Menunggu lift terbuka.
Baiklah. Pilihanku terbatas. Aku bergegas membuka pintu darurat, dengan cepat menyusul Rudi yang sudah satu lantai di bawah. Aku loncat ke pegangan tangga, dengan bantalan paha, meluncur.
“Jangan banyak bertanya dulu, Kawan.” Rudi menoleh, tertawa.
“Anggap saja aku sakit hati hanya bertugas mengatur lalu lintas di perempatan.”
Aku menelan ludah, kami sudah tiga lantai turun dengan cepat.
“Dari dulu aku selalu berharap bisa bertarung bersisian bersama kau, Thomas.” Rudi memicingkan matanya, “Itu pasti akan seru. Tetapi Theo dan pendiri klub petarung terlalu konservatif. Aku sudah mengusulkan berkali-kali agar kita membuat jenis pertarungan baru di klub. Dua lawan dua, misalnya. Atau empat lawan empat. Itu jelas lebih seru, bukan?”
Kami tinggal satu lantai lagi tiba di lantai lobi gedung.
Rudi mendorong pintu darurat, keluar, berlarian di lobi yang lengang, “Nah, inilah kesempatan besarnya. Dua lawan enam. Ini akan menjadi pertarungan hebat, Thomas. Pertarungan legendaris.”
Aku menelan ludah, dari tadi tidak berkomentar, terus mengikuti langkah kaki Rudi.
“Kita masuk dengan cepat, Kawan. Seperti angin puyuh.” Rudi mengatur nafas, menatapku yakin, “Lima detik pertama adalah segalanya.”
Aku akhirnya paham. Kami sudah berdiri persis di depan pintu lift lantai lobi. Aku mendongak, menatap petunjuk posisi lantai, lift masih bergerak turun, dua lantai lagi.
“Kau pasti tahu, senjata mesin otomatias yang mereka pegang tidak akan berguna dalam pertarungan jarak pendek. Ruangan lift terlalu sempit untuk mengambil ancang-ancang menembak. Kita akan menyerbu masuk persis pintu lift terbuka, kita langsung beradu punggung, Thomas. Kau urus tiga atau empat petugas, aku urus tiga yang lainnya.” Rudi bersiap-siap, mengenakan kedok di kepala, hanya terlihat matanya saja sekarang, dia memasang posisi bertinju.
Aku ikut memasang posisi, gigiku bergemeletuk oleh sensasi pertarungan, tanganku mengepal sempurna membentuk tinju, bedanya tidak ada sarungnya di sana sekarang.
Rudi benar, ini akan jadi pertarungan hebat.
“Pukul bagian badan yang mematikan, Thomas. Jangan mengasihani lawan kau. Aku tahu, dalam setiap pertarungan klub, kau bukan tipikal petarung pembunuh, kau kadang berbaik hati. Tetapi enam polisi yang akan kita hadapi ini terlatih untuk membunuh, aku tahu persis, mereka mantan anak buahku, jika kau tidak segera melumpuhkan mereka, maka mereka dengan senang hati melakukannya lebih dulu. Ingat, Thomas, satu kali pukulan yang mematikan. Tidak akan ada kesempatan tinju kedua atau ketiga”
Aku mengangguk. Lobi gedung yang lengang hanya menyisakan dengus nafas kami, tegang.
“Bersiap, Kawan. Bel ronde pertama sekaligus terakhir akan terdengar!” Rudi mendesis.
Cengklang! Lift berbunyi pelan, tanda lift sudah tiba di lobi.
Pintunya bergerak membuka. Amat perlahan rasa-rasanya.
Enam petugas bersenjata langsung terlihat. Satu bintang tiga polisi yang berdiri bersandar.
Maggie yang persis di tengah.
Aku dan Rudi sudah lompat masuk, bahkan sebelum pintu sempurna terbuka.
Lihatlah! Kami sudah bertarung puluhan kali di klub.
Tetapi ini sungguh pertarungan paling hebat yang pernah kulakukan. Kami seperti penari mahsyur yang sedang ekstase menari mengikuti gerakan tangan dan kaki, atau seperti konduktor orkestra yang sedang memimpin pertunjukan dengan segenap sensasi, atau seperti pelukis besar yang setengah sadar mencampur warna, menumpahkannya di kanvas, corat-coret penuh irama, membuat karya agung.
Master-piece.
Tanganku sudah bergerak cepat dalam ketukan pertama, satu tinju menghantam dagu salah-satu polisi. Tubuhnya terbanting, kepalanya menghantam dinding lift, senjatanya terlepas. Rekannya berteriak, “Awas!” belum hilang kata awas itu di langit-langit lift yang terasa sempit karena ada tujuh orang ada di dalamnya, tubuh polisi itu sudah menghantam dinding lift, Rudi meninju pelipisnya.
Aku dan Rudi adalah petarung terbaik klub, beringas menghabisi lawan, dua detik kemudian, dua polisi lain menyusul terkapar, salah-satu polisi itu terduduk, tanpa sengaja menarik pelatuk senjata mesin di tangannya, rentetan peluru melukis atap lift, lampu terburai, cermin pecah berderai, suara tembakan yang memekakkan telinga, aku dan Rudi menunduk, tanganku mendorong Maggie agar tiarap.
Tembakan terhenti, polisi itu sudah terkapar pingsan.
Aku lompat dengan cepat, meninju dagu polisi yang tersisa, pukulan yang mematikan. Petugas itu melenguh kesakitan, giginya rontok, keluar bercampur darah dan ludah. Rudi dalam waktu yang sama, sudah menghajar polisi lainnya, menghantam leher, polisi itu sejenak berdiri, lantas roboh tanpa suara.
Pertarungan selesai di detik kelima belas.
Rudi dengan cepat memegang kerah bintang tiga polisi yang sejak tadi termangu menatap kejadian super-cepat, ibarat menonton kereta shinkansen yang sedang melintas di hadapannya. Sekejap, enam anak buahnya sudah terkapar, tumpang tindih di ujung kakinya.
“Kau bahkan tidak layak untuk menerima tinjuku.” Rudi menggeram, mendorong bintang tiga itu jatuh terduduk. Meloloskan pistol di pinggang petinggi polisi itu. Membuang isi pistol, peluru berkelotakan di lantai lift.
“Ayo, Thomas, bawa staf kau pergi!” Rudi menoleh padaku, sembarang melemparkan pistol kosong.
Aku mengangguk, mencari kunci borgol di salah-satu pinggang petugas.
Membuka borgol Maggie, lantas membantunya berdiri. Wajah Maggie pias, tangannya gemetar tidak terkendali, matanya basah, dia menangis ketakutan, tetapi dia baik-baik saja.
Aku memapah Maggie keluar dari lift. Rudi berjalan di belakangku.
Lobi gedung lengang.
Jam besar yang diletakkan di salah-satu dinding lobi berdentang sebelas kali.
Kami sudah melangkah keluar, Julia menyusul bergabung dari toilet.
***bersambung
-
coba-coba
owh tere liye itu cowo ya.... aku kirain dari dulu cewe lho...
-
*******-******* Berkelas -- Episode 36
by Darwis Tere Liye on Wednesday, 24 Juni 2011 pukul 8:00
episode 36
“Hallo, Mag.” Aku tersenyum, kepalaku melongok ke jok belakang, menyerahkan sekotak tissu—kuambil sembarang dari dashboard mobil yang dikemudikan Rudi dengan cepat, “Nampaknya situasi kau buruk sekali, Mag. Sembab, menangis, kotor, rambut berantakan, baju kusut. Kau persis seperti gadis ditinggal tanpa kejelasan bertahun-tahun, atau setidaknya, dalam level paling rendah, seperti pembaca cerbung yang berlama-lama tidak jelas menunggu lanjutan cerita.”
“Jangan ganggu dia dulu, Thom.” Julia mendorong kepalaku, menyuruh kembali ke posisi di jok depan sambil mencemooh kotak tissu. Julia mengambil tissu basah—yang jelas lebih baik—dari tasnya.
Maggie tidak berkomentar, menerima tissu dari Julia, bilang terima-kasih pelan, lantas menyeka wajahnya yang cemong karena tersungkur di lift yang hingar bingar oleh pertarungan dan tembakan senjata lima belas menit lalu. Sementara Rudi di sebelahku seperti besok matahari terbit dari barat, terus memacu kecepatan mobil, meninggalkan gedung perkantoran.
“Tetapi terlepas dari situasinya, harus kuakui kau tetap staf-ku yang paling cantik, Mag.” Aku masih berusaha memastikan Maggie baik-baik saja—dengan caraku sendiri.
“Astaga, Thomas, tidak bisakah kau berhenti mengganggunya.” Julia melotot, menepuk-nepuk ujung kemeja putih Maggie, membersihkan debu.
Aku menyeringai, menatap Julia yang siap mendorong badanku kembali.
“Sana!” Julia mengacungkan telunjuknya.
Aku mengangkat bahu, tetap melihat Maggie yang sekarang mengelap tangannya yang luka.
“Hanya lecet, bukan? Kalau sampai membekas, kau tidak bisa lagi memakai baju lengan pendek, Mag. Bekas lukanya akan terlihat mengerikan.”
Julia hampir memukulku dengan kotak tissu, tetapi Maggie lebih dulu berkomentar, “Aku baik-baik saja, Thom.”
“Kau tidak sedang berbohong, bukan? Tidak sekadar menyenangkan atasan?”
“Aku baik-baik saja, Thom. Sungguh. Aku tadi menangis karena kaget dan takut. Kau tidak pernah menulis deskripsi pekerjaan seperti ini saat merekrutku dulu, aku pasti segera minta kenaikan gaji, Thom. Dan soal staf paling cantik, omong kosong, karena seluruh staf kau memang laki-laki.” Kalimat Maggie terdengar sengau, sisa kaget dan gentarnya, dia memperbaiki rambutnya yang berantakan, memasang ikat rambut dari Julia.
Nah, aku akhirnya tertawa lebar, itu baru Maggie yang kukenal. Kalau dia sudah menyebut-nyebut pekerjaan, gaji, dan sebagainya berarti dia memang baik-baik saja.
“Tadi…. suara tembakan tiba-tiba membuatku takut sekali.” Maggie menghela nafas, suaranya sedikit tercekat, “Di dalam lift yang sempit dan bergetar, kaca berhamburan, percikan nyala api dari lampu yang pecah, delapan orang berkelahi. Semua kacau balau. Tidak ada yang mendengarkan teriakanku.”
Aku menelan ludah. Gerakan tangan Julia terhenti.
“Saat tiarap, aku sempat berpikir semua akan berakhir di lift, ada peluru yang mengenaiku, darah mengalir, mati…. Kakiku bahkan masih gemetar sekarang.” Maggie menyeka wajahnya sekali lagi dengan tissu basah, “Aku takut sekali….”
Kabin mobil lengang sejenak. Maggie hendak menangis lagi.
“Kau salah-satu wanita tangguh yang pernah kukenal, Mag.” Julia membesarkan hati, “Tidak semua orang bisa bertahan di dalam lift dengan kejadian seperti itu, bahkan aku tidak yakin bisa pergi dari sana tanpa ditandu, pingsan.”
“Terima-kasih.” Maggie sejenak menatap Julia, tersenyum lebih baik.
Julia balas tersenyum, mengangguk.
Aku nyengir, “Kalian sekarang terlihat akrab sekali. Kau seperti lupa saja, dua jam lalu Maggie masih memanggil kau Nenek Lampir, Julia.”
Julia kali ini sungguhan melemparku dengan kotak tissu.
---------- Post Merged at 09:38 PM ----------
Lima belas menit lalu, Rudi memimpin rombongan keluar dari lobi kantor, dia berlari menuju parkiran, mengambil mobilnya. Aku dan Julia memapah Maggie naik ke atas mobil. Dalam situasi seperti ini, aku tidak sempat menyusun rencana cadangan, Rudi yang segera menekan pedal gas bertanya: kemana, aku menjawab sekenanya, pelabuhan yacht. Itu satu-satunya tempat aman. Setidaknya hingga semua urusan selesai, Maggie bisa bersembunyi di sana bersama Opa, Om Liem, dari kejaran petinggi kepolisian itu.
“Depan belok kiri atau kanan, Thom?” Rudi menyikutku.
Aku kembali memasang posisi duduk, meletakkan kotak tissu di dashboard. Mobil yang dikemudikan oleh Rudi memasuki gerbang pelabuhan. Hanya butuh lima belas menit, aku pikir, Rudi menyetir sebaik dia menghajar anggota klub dalam sebuah pertarungan—terlepas dari mobil yang dia bawa.
Hari minggu, hampir pukul dua belas siang, dermaga terlihat ramai.
Beberapa kapal pesiar melepas sauh, satu-dua dipenuhi pencinta memancing, satu-dua oleh sosialita kelas atas yang bosan menghadiri pesta, atau kongsi bisnis penuh kelicikan, beberapa lainnya tidak jelas benar siapa saja penumpangnya. Di dermaga ini tidak ada yang peduli aktivitas orang lain, lebih tidak peduli dibanding komplek mahal yang kenal tetangga sebelah pun tidak. Itu menguntungkan, tidak ada yang memperhatikan mobil yang merapat di dekat PACIFIC.
“Tidak usah dibantu, Julia. Aku bisa sendiri.” Maggie menolak halus.
“Kau yakin?” Suara Julia terdengar rasa-rasanya seperti menganggap Maggie saudara kembarnya saja sejak kejadian di lift. Aku tertawa tipis, melangkah menuju tangga kapal—Julia mengacungkan tinjunya padaku.
Maggie tersenyum meyakinkan, mengangguk, dia lebih dari sehat untuk naik kapal tanpa dibantu.
“Pak Thom? Cepat sekali kembali? Ada apa?” Kadek langsung menyambut saat kepalaku melongok pintu kabin belakang.
“Ada peserta baru yang ikut mendaftar.” Aku menjawab santai.
“Eh, peserta baru?” Kadek menatap bingung, dia masih memakai celemek masak. Bisa dimaklumi, sebentar lagi jadwal makan siang, aroma masakan tercium lezat dari dapur kapal pesiar.
Opa dan Om Liem menyusul di belakang Kadek, membuat kabin belakang sedikit ramai.
“Kenalkan, itu Maggie, salah-satu stafku di kantor. Yang satunya—”
“Aku tahu dia.” Opa terkekeh pelan, memotong, “Sejak kemarin sore diborgol bersama-sama di rumah peristirahatanku, kau sepertinya tidak terpisahkan lagi dari Tommi, Nona.”
Julia mengangguk sopan, “Selamat siang, Opa.”
“Bukankah dia polisi?” Om Liem ragu-ragu menatap Rudi yang terakhir kali masuk.
“Iya, dia memang polisi.”
“Astaga?” Kadek seperti bersiap lari mengambil Kalashnikova di dapur.
“Dia di pihak kita sekarang. Setidaknya hingga detik ini.” Aku melambaikan tangan.
Kadek masih ragu-ragu.
“Kalian seperti habis berkelahi?” Opa menyelidik.
Aku tertawa pelan, tidak menjawab. Lima menit yang terlalu lama, aku harus bergegas.
“Aku harus segera pergi, Opa.” Aku mengangguk kepada Opa, lantas menoleh, memegang bahu Kadek, “Maggie akan tinggal di sini hingga semua jelas, dia peserta baru yang harus kau jaga. Julia—”
“Aku tidak akan tinggal di sini, Thom.” Julia memotong kalimatku, “Aku tidak perlu bersembunyi. Dalam situasi seperti ini, tidak akan ada yang terlalu bodoh menangkap wartawan, lagipula aku tidak tersangkut apapun sebelumnya. Aku harus kembali ke kantor, ada laporan penting yang harus kuketik. Kau masih butuh amunisi tambahan untuk pembenaran penyelamatan Bank Semesta, bukan?”
“Terima-kasih, Julia. Aku akan menghubungi kau jika ada sesuatu.”
Julia mengangguk.
“Kau hendak pergi lagi, Tommi? Tidak bisakah kau makan siang bersama sebentar? Kadek sedang memasak bebek panggang lezat.” Opa menyela, selalu suka dengan acara makan bersama.
Aku menggeleng, melirik pergelangan tangan, “Aku harus mengejar jadwal penerbangan, Opa. Ada ikan besar yang harus kutangkap.”
“Ikan besar?” Opa diam sejenak, tersenyum, “Baiklah, kalau begitu kau harus hati-hati, Tommi. Jika ikan itu terlalu besar untuk ditangkap, jangan sampai joran kail kau terlanjur patah, apalagi sampai kau terseret jatuh ke dalam air.”
“Aku tidak akan menangkapnya dengan kail, Opa. Aku akan menombaknya dengan bergaya, dia tidak akan lolos.” Aku balas menatap tatapan Opa yang penuh makna.
Om Liem yang mengerti maksud percakapan kami menghela nafas perlahan, dia bijak, memutuskan tidak ikut berkomentar, khawatir aku akan menyuruhnya tutup mulut.
“Aku akan menjaga Maggie, percayakan saja, Pak Thom.” Kadek berjanji.
Aku menepuk lengannya, “Kau selalu bisa kuandalkan, Kadek.”
Saatnya aku pergi, menoleh Rudi, “Kau bisa mengantarku ke bandara, sekarang?”
Rudi tertawa, “Kenapa tidak. Itu mungkin lebih seru dibanding mengatur perempatan lalu lintas.”
Aku dan Rudi melangkah menuju dermaga.
“Sebentar, Thom.” Suara pelan Maggie menahan langkahku.
“Ada apa?”
Maggie menarik kertas terlipat dari saku celananya.
“Tiket kau ke Denpasar. Kau harus membawanya.”
Aku tersenyum lebar, menatap Maggie penuh penghargaan, “Terima-kasih, Mag. Kau tahu, tanpa bantuan kau, aku tidak akan bisa melakukan apapun dengan baik.”
Aku loncat dua-tiga menuruni anak tangga kapal.
Rudi sudah menghidupkan mobilnya.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules