Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast
Results 41 to 60 of 75

Thread: [Novel] Bangs4t-Bangs4t Berkelas by Tere-Liye

  1. #41
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Dua petinggi lembaga keuangan itu masih menoleh padaku, menyelidik sejenak. Ini detik yang krusial. Mereka bisa saja sekejap tidak tertarik membahasnya. Urung, berpikir cermat, buat apa menanggapi makian rekan satu pesawat, ada banyak yang harus dipikirkan, urus saja masalah sendiri—peduli amat dengan tampilannya yang meyakinkan, buku keuangan bestseller, majalah terkemuka yang berserak di pangkuan.

    Aku harus segera bertindak sebelum dua orang di sebelahku ini kembali sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri.

    “Ini benar-benar kacau balau. Seharusnya pemerintah lebih tegas, seharusnya bank sentral sejak enam tahun lalu sudah menutup bank ini. Apa saja kerja mereka selama ini? Lihatlah, ribuan nasabah produk hibrid investasi-tabungan bank ini terzalimi, uang mereka sekarang hilang tidak ada yang mengganti. Andaikata sejak dulu sudah ditutup.” Aku mengusap wajah, memasang wajah amat kecewa.

    Nah, dengan kalimatku barusan, aku jelas sudah memecahkan bisul percakapan.

    Inilah peraturan ketiga, peraturan paling penting: dalam sebuah skenario infiltrasi ide, jangan pernah peduli dengan latar belakang lawan bicara kalian. Konsep egaliter menemukan tempat sebenar-benarnya. Bahkan termasuk ketika kalian wawancara pekerjaan misalnya, sekali kalian merasa adalah ‘orang yang mencari pekerjaan’, sementara mereka yang menyeleksi adalah ‘orang yang memegang leher masa depan kalian’, maka tidak akan pernah ada dialog yang sejajar, pantas, dan mengesankan.

    Aku sudah memulai percakapan itu dengan pembukaan ‘gambit menteri’ dalam pertandingan catur. Maka hanya soal waktu, percakapan seru selama satu jam itu bergulir.

    “Tentu saja ini bukan semata-mata salah otoritas pengawas. Dalam sistem paling baik sekalipun, ketika ada individu yang memang sudah jahat dari awal, dia bisa mengakali banyak hal. Usaha preventif, alert peringatan dini, peraturan-peraturan pencegahan, audit berkala, itu semua menjadi sia-sia. Bahkan sebenarnya kita sudah punya peraturan yang melarang kriminal menjadi direksi dan pemilik bank, kita selalu melakukan fit and proper test.” Petinggi bank sentral berusaha menjelaskan dengan arif—meluruskan kalimat kasarku lima menit lalu.

    Aku mengangguk mengamini.

    “Situasi sekarang rumit, Thomas. Kau boleh jadi benar, kita sudah seharusnya menutup Bank Semesta enam tahun lalu, ketika perekonomian global tanpa riak, eskalasi masalah Bank Semesta juga masih kecil. Sekarang orang-orang bicara tentang dampak sistemik. Bahaya kartu remi roboh. Dalam situasi panik, otoritas bank sentral tidak mungkin membiarkan satu bank jatuh, menyeret bank-bank lain, kami bertanggung-jawab penuh atas situasi itu. Nah, ketika situasi terburuk masih mungkin terjadi, maka lebih bijak mengambil situasi buruk yang paling kecil resikonya.” Lima belas menit berlalu, mereka sudah tahu namaku—demi sopan-santun pembicaraan, aku memperkenalkan diri.

    “Tetapi pemiliknya perampok besar, Pak. Dan Bank Semesta, ibarat rumah, adalah rumah perampok besar. Di mana letak rasa keadilannya?” Aku pura-pura masih tidak terima, tiga puluh menit pembicaraan, gelas kopi kedua dari pramugari terhidang.

    Pejabat bank sentral tersenyum, menggeleng, “Kau keliru, Thomas. Aku paham apa yang kau maksud, anak muda seperti kau terkadang terlalu emosional. Boleh jadi bank itu adalah rumah perampok, tapi ketika dia terbakar di tengah angin kencang, musim kemarau krisis dunia, kalau kita biarkan sendiri, apinya akan menjalar ke rumah-rumah lain, bahayanya akan lebih besar lagi. Jadi pilihan terbaiknya boleh jadi memadamkan api rumah itu dulu. Urusan menangkap rampok, mengambil harta yang pernah dia rampok, tentu saja harus dilakukan sesuai koridor hukum yang ada.”

    Aku menghela nafas, masih hendak membantah.

    “Jangan lupakan satu fakta kecil, Thomas.” Kepala lembaga penjamin simpanan ikut menambahkan—dan otomatis dia pasti dalam posisi yang sama dengan pejabat bank sentral, “Kalaupun pemerintah memutuskan memberikan talangan, dana itu diambil dari premi yang dikeluarkan seluruh bank untuk tabungan, deposito dan rekening lainnya milik nasabah. Jadi itu bukan uang rakyat, itu persis seperti premi yang dibayar pemilik kendaraan. Ketika ada satu kendaraan yang meminta klaim rusak, atau bahkan hilang, maka itu diambil dari kumpulan uang premi yang ada. Bukan uang rakyat, Thomas.”

    Empat puluh lima menit berlalu, sebentar lagi pesawat mendarat, hanya soal waktu tanda safety belt kembali menyala. Dua petinggi lembaga keuangan itu sempurna sudah ‘menguasai’ pembicaraan, berhasil memberikan pemahaman yang baik kepadaku tentang wisdom dan berhentilah kasar menilai. Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apapun kau.

    “Kita tidak tahu. Belum.” Pejabat bank sentral menggeleng takjim, “Boleh jadi besok siang, boleh jadi besok malam ketua komite stabilitas sistem keuangan akan mengundang seluruh pihak. Komitelah yang paling berwewenang memutuskan apakah Bank Semesta akan di-bail-out atau tidak. Situasinya bergerak cepat sekali. Dua hari lalu kita masih merahasiakan banyak hal. Hari ini seluruh media massa seperti sudah tahu rilis terbaru dari kami. Ohiya, rasa-rasanya aku pernah bertemu dengan kau, Thomas?”

    Aku ikut tertawa, “Mungkin kita pernah satu pesawat, Pak. Dan Bapak waktu itu juga pernah melihat anak muda yang mengeluarkan makian.”

    Mereka berdua tertawa.

    Lampu safety belt menyala. Pesawat yang kami tumpangi siap mendarat. Satu-dua kalimat basa-basi penutup percakapan, “Terima-kasih banyak atas pembicaraan yang hebat ini, Pak. Aku jadi memahami banyak hal.” Aku mengangguk. Mereka tersenyum.

    Di lorong garbarata turun dari pesawat, gubernur bank sentral sempat menepuk bahuku, “Aku tidak mungkin salah. Aku pernah bertemu dengan kau, Thomas. Kau ikut hadir di konvensi perbankan Jenewa, bukan? Kau *******, eh maksudku anak muda yang berkelas, Thomas. Esok-lusa, siapa tahu jika kau tertarik menjadi pejabat publik, kau bisa menjadi pejabat yang lebih baik, berani, dan taktis dibanding kami. Ini antara kau dan aku saja, dulu waktu masih sibuk mengajar di kampus, kami selalu memanggil mahasiswa paling pintar dengan sebutan *******. Kalimat makian kau tadi mengingatkanku banyak hal.”

    Nah, inilah peraturan kelima, terkadang kita butuh keberuntungan, aku tidak menduga kata ‘*******’ itulah kunci terbaik percakapan kami, aku bergegas menggeleng “Tidaklah, Pak. Saya harus belajar banyak mengendalikan emosi bahkan sebelum memikirkan tentang kemungkinan itu.”

    Mereka berdua hilang di lobi bandara yang ramai.

    Aku bergegas kembali menuju loket penjualan tiket.

    “Satu tiket penerbangan ke Jakarta malam ini.”

    “Kelas eksekutifnya penuh.”

    “Aku harus kembali ke Jakarta segera. Apa saja, tiket bergelantungan, bahkan tiket duduk di toiletnya saja tidak masalah.”

    Gadis yang menjaga loket tertegun sejenak.

    “Aku hanya bergurau. Kau bergegas.”



    ***bersambung

  2. #42
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 19
    by Darwis Tere Liye on Saturday, April 16, 2011 at 4:00pm

    Maggie meneleponku sebelum aku naik pesawat penerbangan kembali ke Jakarta. Dia baru saja mengirim email daftar aset milik Om Liem dan group perusahaan di luar negeri. Aku men-download dan membuka file penting itu lewat aplikasi telepon genggam sambil menunggu jadwal boarding.

    Teringat sesuatu, aku menjeda proses aplikasi spreadsheet, memutuskan menelepon Ram.

    “Kau ada di mana, Thom?” Ram bertanya.

    Aku memakinya dalam hati, sepanjang hari, entah dia yang menelepon atau aku, dia selalu saja bertanya hal yang sama. Terlalu pencemas, terlalu selalu ingin tahu, terlalu ingin semua terkendali.

    “Aku di luar kota. Dan berhentilah bertanya aku di mana. Semua baik-baik saja, Ram.”

    “Luar kota? Apa yang kau lakukan di sana, Thom? Bukankah kau baru dua jam lalu masih mengemudi di jalanan macet Jakarta?”

    “Aku tiba-tiba kangen gudeg, Ram. Hanya makan malam saja, sekarang segera kembali.” Aku nyengir, menatap sekitar, ruang tunggu terlihat ramai. Penerbangan terakhir ke Jakarta selalu saja ramai.

    “Eh?”

    “Lupakan, Ram. Kau bisa membantuku? Ada hal penting yang harus kuurus.” Aku segera fokus pada kenapa aku teringat untuk meneleponnya.

    “Tentu, Thom. Apa saja yang kau minta akan kulakukan.”

    “Baik. Kau bisa suruh salah-satu staf kau, dia pasti punya daftar seratus pemilik rekening terbesar di Bank Semesta, rekening individu, bukan perusahaan. Suruh dia menelepon seluruh daftar itu, minta segera berkumpul di salah-satu hotel, kau bisa sewakan ruang pertemuan private.”

    “Eh, untuk apa, Thom.”

    “Laksanakan saja, Ram. Jangan banyak tanya.” Aku menyergah, “Minta seluruh pemilik rekening itu berkumpul pukul sebelas malam ini, tiga jam lagi.”

    “Astaga, bagaimana mungkin aku melakukannya?”

    “Memangnya kau tidak bisa menyuruh staf kau lembur sekarang? Ini darurat.” Aku memotong. Bahkan Maggie sejak tadi pagi terus berada di posisinya mendukungku. Aku awalnya hendak menyuruh Maggie, tapi dia pasti sedang sibuk mengerjakan urusan lain. Ada banyak staf Bank Semesta yang bisa disuruh.

    “Bukan itu maksudku, Thom. Bahkan bisa saja aku sendiri yang melakukan permintaan kau, daftarnya ada di hadapanku sekarang, lengkap dengan kontak mereka. Tapi bagaimana mungkin kau menyuruh pemilik rekening itu berkumpul pukul sebelas malam. Mereka punya kesibukan. Mereka nasabah private banking, yang ada kita yang datang ke rumah mereka selama ini, beramah-tamah.”

    “Itu mudah, Ram.” Aku mengusap pelipis, langit-langit ruang tunggu bandara terasa gerah, pendingin udaranya tidak kuasa mengusir hawa panas, “Bilang ke mereka, sistem penjaminan simpanan perbankan kita hanya melindungi rekening di bawah dua milyar. Jika Bank Semesta hari Senin dinyatakan pailit, ditutup bank sentral, maka semua rekening dengan nilai di atas itu akan musnah seperti abu kertas dilempar di udara. Nah, sekarang, terserah mereka, bersedia datang segera pukul sebelas di ruang pertemuan kita, atau mereka akan membiarkan abu kertas itu berserakan di kaki mereka.”

    Suara Ram hilang sejenak di seberang sana—bahkan helaan nafas tidak terdengar.

    “Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Thom?” Ram akhirnya berkomentar.

    “Jangan banyak tanya dulu, Ram. Segera lakukan. Dan aku berani bertaruh, mereka akan terbirit-birit datang. Kau segera kirimkan sms padaku hotel yang kau pilih. Nah, itu sudah terdengar pengumuman boarding, aku harus segera masuk pesawat.”

    Ram terdengar mengeluh sesuatu.

    Aku berdiri, memutus percakapan.

    Puluhan penumpang lain juga berdiri, bergegas mengisi antrian di depan petugas.



    ***

  3. #43
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Satu jam lagi di langit.

    Aku melangkah cepat melewati lorong bandara, pukul 21.30, pesawat sudah mendarat beberapa menit lalu. Masih satu setengah jam dari jadwal pertemuan yang kuminta dari Ram, tapi bergegas tiba lebih dulu di tempat pertemuan lebih baik. Menyalakan telepon genggam, Ram seharusnya sudah mengirimkan sms lokasi pertemuan.

    Baru saja loading telepon genggam selesai, satu panggilan masuk berbunyi.

    Nomor telepon satelit milik Kadek.

    “Pak Thom.” Kadek berseru, suaranya setengah panik, setengah lega, “Saya telepon Pak Thom sejak satu jam lalu, tidak masuk juga. Berkali-kali saya coba. Akhirnya.”

    “Saya sedang di pesawat, Kadek, telepon kumatikan. Ada apa?” Aku mendahului beberapa penumpang yang asyik bicara sambil mendorong koper bagasi.

    “Opa, Pak Thom. Opa semaput.”

    Langkah kakiku tertahan.

    “Kau bilang apa, Kadek?” Aku menelan ludah, ini berita buruk.

    “Opa semaput, Pak Thom. Saya, saya pikir tadi saat Pak Thom dan yang lain tiba, Pak Thom sudah membawa keperluan obat Opa. Di kapal sudah sejak sebulan lalu stok insulin habis. Kadar gula Opa naik tajam, Opa hampir pingsan. Saya sungguh minta maaf, lupa memberitahu, Pak Thom.”

    “Posisi kau di mana, Kadek?” Aku memotong kalimat cemas Kadek, sekaligus mengusir selintas pikiran betapa bodohnya urusan ini. Seharusnya aku juga menyadari sejak berangkat dari rumah peristirahatan, tas obat-obatan Opa harus dibawa—semua karena Rudi si boxer sialan, gara-gara pasukan kecil dia aku melupakan detail kecil ini.

    “Posisi kau di mana sekarang, Kadek?” Aku mengulang pertanyaan, Kadek tidak segera menjawab.

    “Eh, 106 derajat, 23 menit bujur timur, 05 derajat, 59 menit lintang selatan—“

    “Bukan itu, Kadek.” Aku berseru kencang, membuat penumpang lain yang memadati lorong menuju lobi kedatangan bandara menoleh, aku mengutuk Kadek dalam hati, dia pastilah sedang tegang mengemudi kapal, dia reflek menyebutkan posisi GPS kapal yang terlihat dari display kemudi, “Kau berapa kilometer lagi dari Sunda Kelapa?”

    “Maaf, Pak Thom, sembilan belas kilometer lagi. Saya sudah berusaha secepat mungkin kembali ke dermaga sejak Opa semaput. Saya menelepon, maksud saya, kalau Pak Thom bisa menghubungi dokter Opa, atau siapa saja, menyuruh mereka bergegas ke dermaga, biar Opa segera mendapat suntikan insulin persis kapal merapat.”

    “Ya, akan aku lakukan.” Aku menjawab cepat.

    “Syukurlah, Pak Thom. Aku akan mengebut sebisa mungkin ke dermaga.”

    “Kau jangan panik, Kadek. Tetap terkendali, selalu berpikir jernih. Paham?” Aku meneriakinya sebelum menutup telepon. Suara Kadek segera hilang, dia telah kembali konsentrasi penuh pada kemudi kapal.

    Aku mendengus, bergegas membuka daftar kontak di telepon genggam, kakiku juga melangkah cepat menuju lobi kedatangan. Masih satu jam lebih sebelum pukul sebelas malam, jika jalanan kota tidak macet, aku bisa ke dermaga sebelum menuju lokasi pertemuan, memastikan sebentar Opa baik-baik saja. Di mana pula aku menyimpan nomor telepon dokter Opa.

    Tidak kutemukan. Jangan-jangan aku tidak menyimpan nomor teleponnya.

    Bergegas hendak menghubungi Maggie, dia bisa mencari tahu segera.

    Kakiku sudah tiba di lobi kedatangan yang gaduh. Orang-orang berteriak, karton bertuliskan nama, tawaran taksi, semua berkeliaran.

    “Jangan bergerak!” Suara tegas dan dingin itu membekukan lobi kedatangan.

    Enam, sepuluh, tidak, lebih dari belasan polisi dengan pakaian serbu lengkap sudah mengepungku, mereka bermunculan dari balik keramaian, senjata mereka teracung sempurna padaku.

    Aku berdiri termangu. Meneguk ludah.

    Sebelum aku sempat bereaksi, bahkan berpikir harus melakukan apa, salah-satu dari mereka telah tangkas menyergap tanganku, telepon genggam terjatuh, aku terbanting duduk, lututku terasa sakit menghantam keramik lobi. Dalam hitungan detik saja, tanganku sudah terborgol.

    “Berdiri!” Moncong senjata laras panjang menyodok punggungku.

    Aku mengaduh pelan, patah-patah berusaha berdiri.

    “Bergegas!” Dua petugas lain sudah kasar membantuku berdiri, tidak sabaran.

    Aku menelan ludah.

    “Jalan, *******.” Wajah dibungkus kedok itu terlihat dingin, tanpa kompromi.

    Aku mengangguk, melangkah menuju arah senjata teracung.

    Situasi kali ini jauh lebih serius dibanding di rumah peristirahatan Opa. Bukan karena jumlah mereka lebih banyak, bukan pula karena ratusan mata penumpang yang baru turun, sanak-keluarga atau teman penjemput, sopir taksi, calo, bahkan tukang sapu pelataran bandara sibuk menonton, berbisik satu sama lain. Tetapi karena ditilik dari pasukan ini, setelah dua kali tertipu olehku, mereka bertindak lebih hati-hati dan penuh perhitungan.

    Belasan senjata masih terarah padaku, seolah takut aku bisa melepas borgol seperti jagoan dalam film, lantas menggebuki mereka satu-persatu.

    “Bergegas, atau kutembak kaki kau.” Salah-satu dari polisi membentak.

    Aku menghembuskan nafas. Melangkah lebih cepat. Mereka menggiringku menuju salah-satu mobil taktis yang terparkir persis di depan lobi kedatangan, membuat kemacetan.

    Pintu mobil taktis terbuka lebar-lebar.

    “Naik.” Popor senjata kembali menyodok perutku.

    Aku mengeluh. Tidak, tidak bisakah mereka berhitung dengan situasi? Dengan belasan polisi, aku pasti menuruti semua perintah, tidak perlu dipaksa dengan kekerasan.

    Sebaliknya, petugas polisi mendorongku kasar, aku untuk kedua kalinya tersungkur.

    “Duduk!” Mereka membentak.

    Aku bergumam sesuatu, patuh duduk.

    Pintu mobil taktis ditutup segera, berdebam.

    Empat polisi mengawalku di dalam, tetap dengan senjata teracung, sisanya berlarian menaiki kendaraan lain. Suara sirene meraung, dengan cepat rombongan mobil meninggalkan bandara. Meninggalkan wajah-wajah ingin tahu yang diterpa semburat cahaya lampu.

    Lengang sejenak. Saling pandang.

    Kesibukan bandara kembali gaduh dengan lenyapnya suara sirene di kejauhan.

    ***

  4. #44
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Selamat malam, Thomas.” Suara berat itu menyapa.

    Aku menoleh, ternyata ada orang lain yang duduk di pojok mobil taktis polisi. Dua orang. Remang cahaya lampu jalanan yang menelisik kisi-kisi kaca membuatnya tidak terlihat jelas.

    Tetapi aku sungguh mengenal mereka.

    Jika saja aku tidak terlatih, tidak ingat situasinya, aku sudah loncat, memukul, menendang, apa saja yang bisa kulakukan pada dua orang di hadapanku. Tidak. Dalam mimpiku, beribu kali aku membayangkan situasi ini. Beribu kali aku menulis jalan ceritanya. Aku selalu membayangkannya dengan penuh kebencian. Tidak, aku akan menunggu saatnya tiba.

    Aku menghela nafas pelan. Berusaha terkendali.

    “Kau cukup hebat, Thomas.” Tertawa pelan.

    “Cukup hebat kau bilang? ******** kecil ini sangat hebat, Kawan. Siapa nama pemimpin pasukan paling tangguh milik kau itu? Rudi? Mudah saja dia menghajarnya. Dan jangan lupa, kemarin malam dia kabur dari penjagaan puluhan petugas kau, permisi menumpang lewat.” Rekan di sebelahnya ikut tertawa.

    “Jangan sebut nama pecundang itu di depanku. Mulai besok, pecundang itu bertugas di perempatan lampu merah, menjadi polisi pengatur lalu lintas.” Temannya melambaikan tangan.

    Mereka berdua tertawa lagi.

    Aku menggerung dalam hati. Berusaha mati-matian tetap terkendali.

    “Siapa kau sebenarnya, Thomas?” Mereka bertanya amat ramah, dengan intonasi seperti sedang menyapa teman karib lama.

    Aku tetap bungkam.

    “Nama kau tidak ditemukan dalam daftar orang-orang kepercayaan Liem, karyawan, staf. Juga dalam daftar keluarganya. Tidak ada. Bahkan nama kau tidak ada di penerima beasiswa, penerima bantuan, pihak terkait, apa saja. Siapa kau sebenarnya, Thomas?”

    Aku masih bungkam.

    “Jangan-jangan kau bekas agen rahasia luar negeri yang baru saja direkrut Liem untuk membantunya? Hebat sekali kau mengelabui kami.”

    Rekannya tertawa, “Hentikan bualan kau, Kawan. Itu berlebihan. Nah, Thomas, siapa kau sebenarnya?”

    Aku terus diam, menelan ludah, setidaknya aku diuntungkan satu hal, mereka tidak tahu hubunganku dengan Om Liem. Sebaliknya, aku tahu sekali siapa dua orang di hadapanku sekarang. Suara sirene terus meraung, konvoi mobil polisi terus menyibak jalanan tol yang cukup padat.

    “Siapa kau, Thomas. Ayolah, jawab saja pertanyaan sederhana ini.” Suara mereka berubah serius setelah dua menit hanya lengang aku tidak kunjung menjawab.

    Aku masih berpikir cepat, memikirkan berbagai kemungkinan.

    Splash, suara kecil dan percik api terlihat di tengah remang.

    “Kau tahu alat apa ini, Thomas. Ini efektif sekali dalam setiap interogasi. Kau jawab, aku singkirkan alat ini. Kau berbelit-belit, mungkin dua-tiga kali kuhujamkan di dada, leher, atau kepala bisa membuat mulut kau terbuka lebar-lebar.”

    Aku menatap jerih alat sentrum di tangan salah-satu dari mereka.

    “Aku konsultan keuangan profesional.” Akhirnya bersuara.

    Sia-sia, belum habis kalimatku, alat sentrum itu telak menghujam perutku. Rasanya seperti dicabik, seperti disengat, tidak bisa dijelaskan. Aku berteriak, satu persen karena kaget, sisanya karena sakit yang teramat. Membuat ruangan pengap mobil taktis sejenak terasa beku.

    “Jawaban yang salah, Thomas.” Mereka menatapku dingin. “Kami lebih dari tahu kau konsultasn keuangan. Spesialis merger dan akuisisi. Lulus dari dua sekolah bisnis ternama luar negeri. Kami tahu itu, bahkan aku punya nama guru kau di sekolah berasrama. Siapa kau sesungguhnya, Thomas?”

    Suara itu tidak membentak, tapi itu lebih dari cukup.

    Aku tersengal, masih dengan sisa sakit sentrum di perut. Tetapi ada yang lebih sakit, yang membuatku tersengal sesak bernafas. Lihatlah, bayangan kejadian puluhan tahun silam telah sempurna kembali di kepalaku. Botol susu yang tumpah di jalanan. Aku ingat sekali suara dan tatapan mereka.

    Semua tetap sama.



    ***bersambung

  5. #45
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 20
    by Darwis Tere Liye on Sunday, April 17, 2011 at 8:05pm

    “Siapa kau sebenarnya, Thomas?”

    “Aku, aku konsultan keuangan profesional.”

    “Jawaban yang keliru lagi, Thomas.”

    Alat sentrum itu kembali menghujam perutku. Aku menggelinjang, tubuhku gemetar menahan sakit.

    “Ayolah, Thomas. Kenapa kau tidak membuat percakapan kita jadi lebih mudah?” Orang yang duduk di hadapanku itu menatap dingin, intonasinya datar terkendali.

    Sementara di luar, rombongan mobil polisi berjalan tersendat, keluar pintu tol bandara jalanan macet—sirene galak mereka tidak membantu banyak.

    Aku menggerung, kepalaku tertunduk, nafas menderu.

    “Siapa kau sebenarnya, Thomas?” Bertanya lagi.

    “Aku, aku konsultan profesional.”

    “Jawaban yang keliru, Thomas.”

    Untuk ketiga kalinya alat sentrum itu menusuk perutku tanpa bisa kucegah—bagaimana aku bisa melawan, dua tanganku terborgol di belakang punggung. Percikan nyala apinya seperti petir kecil yang menyambar tubuh. Rahangku mengeras, gigiku bergemeletuk menahan rasa sakit. Aku bertahan mati-matian tidak berteriak. Satu karena teriakan hanya akan mengundang rasa jumawa dan kesenangan pada mereka, dua, sia-sia juga berteriak di tengah suara sirene yang memekakkan telinga, kalaupun ada yang mendengar di luar sana, siapa pula yang akan peduli.

    “Jangan main-main padaku, Thomas. Siapa kau sebenarnya?”

    Aku mendongak, menggigit bibir, masih dengan sisa sakit sengatan barusan, menggeleng pelan, “Aku konsultan keuangan profesional.”

    Tangan orang itu kembali hendak menghujamkan alat sentrumnya.

    Mataku terpejam.

    “Cukup, Susdi. Kau akan membuatnya terkapar pingsan, dan kita kehilangan kesempatan untuk segera mengetahui posisi Liem.” Rekan di sebelahnya menahan, “Lagipula, sepertinya dia berkata jujur.”

    Aku antara mendengar dan tidak kalimat itu, masih menggerung menahan rasa sakit. Tetapi aku belum pingsan, aku masih lebih dari sadar untuk paham situasinya.

    “Percuma.” Aku berkata pelan, dengan suara bergetar.

    Dua orang yang duduk di pojok mobil taktis polisi menatapku.

    “Percuma kalian memainkan peran polisi baik, polisi buruk, good cop, bad cop.” Aku gemetar, berusaha menegakkan badan dan kepala, berbicara dengan posisi lebih baik, “Percuma…. Jawabanku tetap sama, aku konsultan, konsultan keuangan. Tidak lebih, tidak kurang, aku bekerja profesional.”

    Aku berusaha mengendalikan nafas, berusaha bicara lebih lancar, balas menatap mereka di tengah remang, “Om Liem, Om Liem membayarku mahal sekali untuk pekerjaan ini beberapa hari lalu. Menyelamatkan Bank Semesta dan group bisnisnya.”

    “Di bayar mahal? Apa maksud kau?” Salah-satu dari mereka bertanya.

    “Dia, dia berjanji akan memberikan sepuluh persen dari jumlah yang bisa kuselamatkan. Tidak hanya dari Bank Semesta dan group bisnis lokal, tapi juga dari aset Om Liem di luar negeri.” Aku tertawa kecil, diam sejenak, “Meski hanya sepuluh persen, nilainya triliunan, lebih besar dari yang kalian bayangkan, harga yang mahal sekali. Sebanding dengan resikonya.”

    Dua orang itu saling toleh.

    “Kalian tidak tahu itu, bukan?” Aku kembali tertawa kecil, “Taipan tua itu jauh lebih pintar dibanding siapapun. Ambil semua kekayaannya, dia masih tetap lebih kaya dibanding yang hilang. Dia menyimpan banyak aset di luar negeri, dan itu di luar daftar pendek yang kalian miliki. Daftar aset yang belum tentu juga puluhan tahun berhasil kalian kuasai.”

    “Apa maksud kau?” Rekannya yang tidak memegang alat sentrum agak maju ke depan.

    Aku menggeram, berusaha mengendalikan diri, untuk pertama kalinya aku melihat wajah petinggi jaksa ini dari jarak dekat setelah puluhan tahun. Seringai liciknya terlihat jelas.

    “Apa maksudku? Aku seorang profesional sejati. Sama dengan kalian. Berapa tahun kalian mengejar Om Liem? Berusaha mengambil alih kekayaannya? Kalian pikir akan berhasil mengambil semuanya setelah Bank Semesta ditutup, asetnya dijual murah?” Aku menggeleng, tersenyum sinis.

    “Bebaskan aku, maka aku akan memihak siapa saja yang memberikan bayaran paling tinggi. Om Liem percaya padaku, dia tidak akan curiga sedikit pun jika aku mengkhianatinya.”

    “Kau hanya membual.” Orang yang menilik wajahku menyeringai.

    “Terserah. Tapi aku punya daftar paling lengkap seluruh aset Om Liem di luar negeri. Daftar yang tidak pernah kalian ketahui, meski mengerahkan polisi atau petugas kejaksaan terbaik sekalipun.”

    Mobil taktis polisi lengang sejenak, hanya menyisakan suara sirene yang memekakkan telinga.

    Dua orang di hadapanku menimbang sesuatu.

    “Aku punya daftarnya. Aku tidak membual.” Aku memecah senyap.

    Mereka berdua saling toleh lagi.

    “Bebaskan aku, maka aku bisa menjadi orang paling berguna buat kalian.”

    “Lantas apa untungnya buat kau?” Orang yang memegang sentrum menyelidik.

    “Kalian bisa memberikan dua puluh persen dari aset Om Liem yang kudapatkan. Aku akan bekerja dan setia pada orang yang membayarku lebih mahal.”

    Salah-satu dari mereka terkekeh, “Kau naif, Thomas. Buat apa kami memberikan kau dua puluh persen jika kami bisa mendapatkannya gratis.”

    Aku menggeleng, berkata dengan suara bergetar, “Tidak, urusan ini tidak sesederhana seperti kalian mengambil akte tanah, surat-menyurat pabrik, gedung dari seseorang, lantas membiarkan mereka terbakar bersama semua bukti-bukti. Aset Om Liem sekarang terdaftar lintas negara, kalian butuh seseorang yang tahu persis caranya.”

    Tawa itu tersumpal, menatapku tajam, menyelidik.

    Aku pura-pura tidak peduli dengan tatapannya, menganggap kalimatku tadi kosong, bukan menyindir masa lalu, “Percayalah. Aset luar negeri Om Liem itu nyata, jika kita bisa sepakat, aku bisa memberikan daftarnya pada kalian saat ini juga.”

    “Mana daftarnya?” Orang yang memegang sentrum mengangkat alatnya.

    Aku menggeleng, “Kita harus bersepakat lebih dahulu.”

    “Aku bisa memaksa kau memberikannya.” Percik nyala api hanya lima senti dari wajahku.

    “Tidak. Aku tidak akan memberitahu sebelum kalian berjanji. Silahkan. Percuma saja kalian siksa aku sampai pingsan atau mati sekalipun. Daftar aset itu akan hilang bersama dengan hilangnya informasi di mana Om Liem saat ini.”

    “Omong kosong. Kau akan memberitahu kami.” Tangan orang itu bergerak. Kilat kecil bergemeletuk dari alat di tangannya.

    Aku menatapnya jerih, bersiap menerima sentrum berikutnya.

    “Cukup, Susdi. Dia benar. Kita tidak sedang berhadapan dengan penjahat kacangan yang bisa kau takuti dengan cara interogasi kuno.” Rekannya menahan tangan itu.

    Rekannya bergumam keberatan, tapi tidak protes.

    “Baik. Kami berikan dua puluh persen dari nilai aset luar negeri yang bisa kau dapatkan ditambah bonus kebebasan segera.” Orang itu ramah memegang lenganku, “Nah, di mana daftar aset dan Liem saat ini, Thomas?”

  6. #46
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Bebaskan aku dulu.”

    Orang itu terdiam sejenak, mengangguk.

    “Baik, lepaskan borgolnya.” Dia meneriaki salah-satu polisi.

    Salah-satu petugas meletakkan senjata, meraih kunci borgol, membebaskan tanganku.

    Aku menarik nafas panjang. Tiga petugas lain masih mengarahkan senjata mereka ke tubuhku. Secepat apapun aku bereaksi, tidak akan bisa mengalahkan kecepatan peluru. Aku hanya bisa mengurut pergelangan tangan yang sakit, kembali menghela nafas.

    “Nah, mana daftar asetnya, Thomas? Dan di mana Om Liem sekarang berada?”

    Aku menggeleng, “Soal Om Liem, lebih baik dia sementara dibiarkan bebas, jika kalian menahannya sekarang, kalian tidak akan leluasa mengambil seluruh aset miliknya. Ada banyak petugas lain yang ikut tertarik, belum lagi puluhan wartawan yang ingin tahu. Terlalu banyak yang curiga. Dia bisa ditangkap kapan saja setelah urusan selesai, mudah saja melakukannya.”

    Aku diam sebentar, menatap wajah dua orang di hadapanku.

    “Soal daftar aset, ada di telepon genggamku. Salah-satu anak buah kalian mengambil telepon itu tadi.”

    Orang di hadapanku segera menoleh ke arah empat polisi dengan moncong senapan terarah padaku. Sebelum diperintah, salah-satu dari polisi merogoh saku, memberikan telepon genggam itu.

    Aku menyeringai, urusan ini benar-benar berubah kapiran sejak setengah jam lalu, aku ibarat bidak catur yang dikepung benteng dan kuda lawan, tidak ada tempat berkelit selain mengorbankan menteri, senjata terakhir, aku menghembuskan nafas, membuka file spreadsheet yang diemailkan Julia.

    Dua orang di hadapanku menunggu tidak sabaran, segera merampas telepon genggam itu persis setelah file itu terbula. Membacanya cepat.

    “Isi file ini sungguhan?” Mata mereka berdua membesar.

    Aku mengangguk—bahkan daftar awalnya saja pasti membuat siapapun terbelalak.

    “Kau memang bisa menjadi orang paling berguna buat kami.” Salah-satu dari mereka terkekeh, senang dengan daftar di tangannya.

    Aku tidak berkomentar, menyeka keringat di pelipis.

    “Borgol dia kembali.” Dia menyuruh salah-satu petugas.

    Aku terlonjak. Apa maksudnya?

    “Bawa dia segara ke penjara.” Orang itu berkata tegas.

    “Hei, hei.” Aku berusaha melawan, tapi gerakan dua polisi lebih cepat, tanganku segera ditelikung ke belakang, borgol terpasang.

    “Kau sudah berjanji akan membebaskanku!” Aku berseru.

    “Anggap saja aku suka melanggar janji, Thomas. Selalu menyenangkan melakukannya.” Dia tertawa lagi, “Nah, terimakasih untuk dua hal. Pertama untuk saran kau soal Liem. Kau memang konsultan yang hebat, aku setuju, mungkin lebih baik membiarkan Liem berkeliaran di luar sana sementara waktu. Setelah semua urusan kami selesai, siapapun bisa dengan mudah menangkap orang tua bangkrut. Kedua untuk daftar aset ini, Thomas. Kau baik sekali dengan kami.”

    “Kau harus membebaskanku!” Aku berteriak marah, “Kau membutuhkanku!”

    “Buat apa lagi? Tidak ada lagi yang bisa kau tawarkan.”

    “Kalian, kalian membutuhkan orang yang bisa mengurus aset itu di luar negeri, kalian, kalian memerlukan dokumen-dokumen aset itu, surat-menyurat, aku tahu tempatnya.” Aku berseru panik, menyebutkan apa saja yang terpikirkan.

    “Kami bisa mencari orang lain, Thomas. Yang tidak selihai kau dalam urusan kabur atau menipu. Soal dokumen, itu bisa kami cari di setiap jengkal rumah, kantor, properti milik Liem. Mudah saja.”

    “Tidak.” Aku bergegas menggeleng, “Dokumen-dokumen itu tidak ada di mana-mana, dokumen itu disembunyikan di tempat yang tidak pernah kalian pikirkan.”

    “Ohya? Dan kau tahu tempatnya?” Tertawa, dia menoleh pada rekannya, “Sudah pukul sebelas malam, Susdi, aku ada urusan lain. Kau mau ikut?”

    Rekannya mengangguk, melemparkan alat sentrum ke salah-satu polisi, “Kalian kawal dia sampai dijebloskan dalam sel. Sentrum saja sampai pingsan kalau dia terus berusaha kabur.”

    Mereka berdua bangkit, memukul dinding mobil, memberi kode ke sopir agar menepi.

    Aku menggerung, berteriak, “Kalian membutuhkan aku!”

    Mobil taktis berhenti, pintu belakang terpentang lebar-lebar. Dua orang itu melangkah turun.

    “Aku tahu tempatnya! Aku tahu di mana dokumen-dokumen itu.”

    Mereka tidak mendengarkan, hanya santai melambaikan tangan.

    “Dokumen-dokumen itu ada di kapal!”

    Pintu belakang mobil taktis sudah berdebam ditutup kembali. Gelap.

    Bintang tiga polisi dan jaksa senior itu sudah berpindah ke mobil lain, melesat pergi.

    Aku tertunduk dalam-dalam.

    Urusan ini kacau balau sudah. Mereka mengambil daftar aset itu, Om Liem pingsan, entah apa kabarnya sekarang, dan jadwal pertemuan jam sebelas malam dengan nasabah besar Bank Semesta gagal total. Dan di atas segalanya, lihatlah, tanganku terborgol, terhenyak duduk tanpa daya di dalam mobil yang melaju kencang menuju sel tahanan polisi.

    Aku sungguh butuh skenario ajaib untuk memulihkan semua situasi.



    ***bersambung

  7. #47
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 21
    by Darwis Tere Liye on Tuesday, April 19, 2011 at 7:53am

    Pukul 02.00 dini hari Minggu. Waktuku tinggal 30 jam lagi sebelum pukul 08.00 hari Senin besok, ketika hari pertama Bank Semesta buka di tengah berbagai kemungkinan yang terjadi: bank itu ditutup, rush besar-besaran terjadi, antrian panjang di setiap cabang, nasabah yang panik, dan boleh jadi ditambah dengan kepanikan nasabah bank lain. Atau kemungkinan kedua, bank itu diselamatkan, pemerintah memberikan dana talangan, memberikan jaminan bahwa seluruh uang nasabah aman.

    Aku bergumam kosong, mengusap rambut yang berantakan, menatap sekitar ruangan. Sel penjara ini tidak dingin dan lembab seharfiah dalam cerita-cerita atau film, lampu terang tergantung di langit-langit sel berukuran dua kali tiga, dan udara terasa pengap, gerah. Aku sudah melepas jas, menggulung kemeja sembarangan, melempar sepatu. Satu jam lalu mobil taktis merapat ke salah satu markas polisi, mereka menyuruhku turun, lantas mendorongku kasar memasuki gerbang tahanan. Sipir bertanya, petugas bersenjata menyuruhnya jangan banyak tanya, siapkan sel yang kosong. Sipir mengangguk, bergegas melihat daftar selnya yang kosong, mengambil kunci, lantas memimpin rombongan melewati lorong. Sudah lewat tengah malam, penghuni sel lain kebanyakan sudah tidur. Lengang, hanya menyisakan klotak sepatu yang memantul di lorong penjara.

    Borgolku dilepas, salah-satu polisi bersenjata mendorongku dengan telapak sepatunya, membuatku hampir terjerambab ke dalam sel. Mereka menyeringai puas melihatku, tertawa pelan. Sipir mengunci pintu sel. Lima belas detik, balik kanan bersama rombongan itu, meninggalkanku sendirian yang masih kebas dengan banyak hal.

    Aku menghela nafas untuk kesekian kali.

    Kabar baiknya, tidak banyak nyamuk di penjara ini. Mereka juga punya toilet di dalam sel, bersih, tidak bau. Tempat tidur hotel prodeo ini lumayan, jangan bandingkan dengan kasur busa king size hotel sungguhan, tapi tetap lebih baik dibanding kamar ranjang berasramaku dulu yang dua tingkat, selalu kriut-kriut batang besinya jika penghuni atasnya gelisah dan mengigau.

    Aku menghela nafas lagi.

    Entahlah apa yang dilakukan Kadek tiga jam lalu saat tiba di dermaga, dan aku tidak ada di sana, juga tidak ada dokter dengan suntikan insulin. Dia seharusnya bisa bertindak cepat dan tenang, ada banyak cara menyelamatkan Opa. Entahlah pula apa yang terjadi di pertemuan nasabah besar Bank Semesta pukul sebelas tadi, seharusnya Ram bisa mengatasinya setelah aku tidak kunjung datang. Maggie, aku mengusap wajah lagi, semoga dia tidak menghubungi telepon genggam itu empat jam terakhir, celaka benar urusan kalau dua ******* yang menyita telepon genggamku menyadari Maggie menyimpan banyak data tersisa. Dan Julia, apakah dia berhasil meminta jadwal audiensi dengan Menteri, aku sungguh melibatkan banyak orang dalam pelarian ini.

    Aku menghembuskan nafas kencang. Cukup. Cukup sudah mengenang banyak hal. Memikirkan banyak kemungkinan. Percuma, jangankan mengurus bidak yang paling penting, satu bidak Menteri yang ini saja tidak bisa. Andaikata Julia berhasil, aku tetap tidak bisa bernegosiasi dengan ketua komite stabilitas sistem keuangan, jeruji sel sialan ini tidak bisa kuremukkan dengan mudah.

    Aku berdiri. Menyeka telapak tangan dengan ujung kemeja, menyisir rambut dengan jemari. Melemaskan seluruh tubuh. Tidak akan ada yang bisa menolongku. Saatnya membuat keajaiban sendiri untuk lolos dari penjara sialan ini. Dua jam berlalu, pasukan yang menangkapku pasti sudah pergi jauh, mereka tidak akan ikut berjaga di gedung penjara. Dua ******* itu boleh jadi sudah tidur lelap di ranjang empuk masing-masing, dengan mimpi indah tentang menguasai aset Om Liem.

    Urusanku hanya dengan petugas penjara yang berjaga malam ini.

    “Hei!” Aku memukul-mukul jeruji besi.

    “Hei!” Lebih kencang lagi, membuatnya terdengar hingga meja sipir di depan sana.

    Satu-dua tetangga selku yang terganggu, mengomel, balas berteriak, menyuruh diam.

    “HEI!” Aku tidak peduli.

    Suara kelotak sepatu terdengar, dua petugas jaga melangkah cepat menuju selku.

    Aku menelan ludah, bersiap. Mereka tinggal lima langkah.

    “Apa yang kau inginkan.” Salah-satu dari sipir menyergah galak, ujung pentungannya mengarah padaku.

    “Aku ingin keluar dari sel ini.” Aku menjawab santai.

    Dua sipir itu melangkah lebih dekat, mata mereka melotot mengancam.

    “Aku akan membayarnya mahal sekali, Bos.” Aku balas menatap, menyeringai

    Dua sipir itu saling toleh, gerakan mereka yang hendak memukul jeruji sel tertahan. Salah-satu dari mereka bahkan memasukkan pentungan ke pinggang.

    “Kami tidak bisa disuap.” Intonasi kalimatnya justeru sebaliknya.

    “Ohya? Bagaimana kalau dua? Cukup?” Aku tidak peduli, tersenyum.

  8. #48
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Dua puluh?” Rekannya menggeleng, tertawa sinis, “Bahkan dua ratus tetap tidak.”

    Aku balas tertawa, “Dua M, Bos. Kau terlalu menganggapku rendah. Jangan bandingkan aku dengan pegawai pajak yang kalian tahan dan cukup ratusan juta saja untuk membiarkan dia pergi plesir, atau orang-orang tua pesakitan yang post power syndrom setelah tidak berkuasa lagi, dikejar-kejar penyidik komisi pemberantasan korupsi, hanya puluhan juta sudah kalian pergi biarkan berobat kemanalah. Dua M, Bos. Tertarik?”

    Inilah yang akan kulakukan. Ajaib? Tentu saja. Hanya ditempat-tempat ajaiblah hal ini bisa terjadi.

    Sepuluh menit negosiasi.

    “Ini tidak mudah.” Komandan jaga ikut bernegosiasi di pos jaga. Aku sudah ‘digelandang’ ke sana, biar lebih nyaman bicara—mereka bahkan menawarkan minuman hangat.

    “Mudah saja, Bos.” Aku berkomentar santai, bersandar nyaman di sofa, “Namaku bahkan tidak ada dalam daftar kalian, bukan? Hanya tahanan yang dititipkan mendadak. Kalian bisa mengarang, aku kabur, lihai sekali memukuli petugas. Bos besar kalian paling juga hanya marah, dan kalian paling hanya dipindahtugaskan menjadi juru masak, tidak akan dipecat, apalagi dipenjara. Tapi demi dua M, itu resiko yang berharga bukan?”

    Mereka berlima berbisik-bisik.

    “Bagaimana kau akan membayarnya?” Komandan menyelidik.

    “Baik. Ada yang punya telepon genggam? Aku transfer satu M sekarang, sisanya aku transfer setelah aku berada di luar gedung penjara kalian. Setuju?” Aku bersidekap.

    Lima menit, dengan telepon genggam pinjaman dari komandan sipir, aku menelepon call center 24 jam, melakukan transfer ke rekening milik komandan.

    “Selesai. Nah, kalau kau tidak percaya, kau telepon istri kau sekarang, suruh dia pergi ke ATM, maka dia boleh jadi pingsan melihat saldo rekening yang ada di layar ATM.”

    Dasar bodoh, mereka sungguhan melakukan saranku. Aku terpaksa menunggu setengah jam, sementara istrinya, yang pastilah masih memakai daster, mata belekan, terbirit-birit menghidupkan motor yang masih kredit belum lunas, pergi ke ATM terdekat.

    Komandan jaga menelan ludah, mendengar laporan istrinya di seberang sana, mematikan telepon genggam, mengangguk padaku, “Bagaimana dengan sisanya?”

    “Tentu saja, satu M lagi aku transfer setelah aku bebas, Bos.”

    Mereka berbisik-bisik, melirik licik.

    “Tidak. Kalian tidak boleh bermain-main denganku.” Aku menatap mereka tajam, “Jika aku tidak menelepon lagi petugas bank lima belas menit ke depan, dana yang barusan kutransfer akan batal dengan sendirinya, itu transfer bersyarat, kembali ke rekening semula tanpa otorisasi lanjutan. Sekarang terserah kalian saja, hilang semuanya, atau kutambahkan satu M lagi setelah aku di luar gedung.”

    Komandan sipir diam sejenak, berbisik-bisik.

    Aku menunggu, menyeringai.

    Komandan sipir mengangguk.

    Bukan main, aku sudah setengah bebas, aku tersenyum tipis, berdiri.

    “Boleh kuminta telepon genggam kau, Bos?” Aku menunjuk, sebelum beranjak keluar.

    Komandan menatapku, hendak menggeleng.

    “Ayolah, untuk orang yang sudah mengantongi satu M, kau bisa membeli ratusan telepon genggam seperti ini, bukan?” Aku tertawa. Sebenarnya aku butuh telepon untuk segera menghubungi Kadek, Maggie dan yang lain.

    Komandan mengangguk, “Antar dia hingga keluar gedung, pastikan dia mentransfer sisanya.”

    “Terima-kasih, Bos. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi, menyapa.”

    Dua sipir mengantarku hingga halaman gedung penjara, salah-satu dari mereka bahkan berbaik hati memberikan motornya setelah aku memberikannya jam tangan milikku, “Kau jual, kau bisa membeli dua motor baru.” Dia mengangguk senang. Aku kembali menelepon call center 24 jam. Memberikan perintah pada petugas bank, transaksi beres. Memasukkan telepon ke dalam saku, menaiki motor, mengangguk pada dua sipir yang mengantar untuk terakhir kalinya, lantas melesat meninggalkan bangunan penjara.

    Hanya itu. Itulah keajaibannya.

    Motor yang kukemudikan membelah jalanan lengang, secepat mungkin meninggalkan markas polisi. Dasar bodoh, jika kalian pemilik rekening eksklusif di bank besar, kalian selalu punya cara untuk membatalkan transaksi. Ini lelucon yang baik, apakah aku orang yang suka mengkhianati janji? Seumur hidupku tidak pernah, aku adalah petarung, janji seorang petarung. Tetapi kali ini, akan aku batalkan sebagian besar transfer tadi, hanya menyisakan dua R saja.

    Petinggi kejaksaan tadi benar, ternyata menyenangkan melakukannya.



    ***bersambung

  9. #49
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 22
    by Darwis Tere Liye on Wednesday, April 20, 2011 at 5:42pm

    Lima menit, jarakku cukup jauh dari markas polisi dan bangunan penjara sialan itu.

    Motor yang kukemudikan menepi, aku bergegas menghubungi telepon satelit Kadek, tidak sabaran menunggu nada panggil. Lima kali, tujuh kali, sampai habis, tetap tidak diangkat. Aku menelan ludah. Sekali lagi mengulanginya. Tetap tidak diangkat. Astaga. Gumam cemasku mengambang di langit gelap.

    Baiklah, aku loncat ke atas motor, rahangku mengeras, memacu motor secepat yang aku bisa, melesat menuju dermaga modern dekat Sunda Kelapa. Pukul tiga dini hari, jalanan lengang, menyisakan orang-orang yang pulang dari kafe, diskotik dan tempat hiburan lainnya. Selang-seling dengan mobil pickup dan gerobak sayur-mayur yang memenuhi pasar-pasar tradisional, luber hingga ke jalan.

    Aku tidak memedulikan kontras yang kulewati, konsentrasiku ada di tangan, mata dan kaki.

    Dua puluh menit, dengan kecepatan tinggi motorku melintasi gerbang dermaga. Dua petugasnya yang selalu disiplin berjaga, bergegas berdiri, hendak memeriksa, urung setelah melihat wajahku. Mereka melambaikan tangan, membiarkanku lewat.

    Aku tidak menghentikan kecepatan melintasi pelataran dermaga yang licin. Belasan kapal pesiar kecil tertambat, bergoyang anggun. Lampu di sepanjang dermaga menerangi dinding luar dan tiang-tinga kapal. Sisanya lengang, hanya debur ombak memukul dermaga. Angin bertiup pelan, bulan sabit menghias langit. PACIFIC tertambat paling ujung, mataku segera membesar melihat kapal itu. Berhenti persis di buritan, loncat dari motor, dengan cepat naik ke atas kapal.

    “Pak Thom.” Kadek yang lebih dulu menyapaku.

    Aku sedikit tersengal, menatap ruang tengah kapal tempat biasa berkumpul. Ada Om Liem, tidur di salah-satu sofa, selimutnya berantakan.

    “Di mana Opa?” Aku menyergah.

    “Easy, Pak Thom, Opa di kamar. Opa baik-baik saja, dia sedang beristirahat, mungkin sedang bermimpi indah dia naik kapal mengungsi dari negeri China puluhan tahun silam.” Kadek nyengir.

    Aku menghembuskan nafas lega, mengabaikan gurauan Kadek. Astaga, ini kabar terbaik yang kudengar seminggu terakhir, mengalahkan apapun. Aku menunduk, masih berusaha mengendalikan nafas.

    “Selepas menelepon Pak Thom, saya memutuskan untuk segera mencari bantuan.” Kadek berbaik hati menjelaskan dan mengambilkan teko air dari kulkas, “Daripada harus ke dermaga yang masih sembilan kilometer, lima belas menit, saya memilih merapat ke salah-satu kapal besar yang sedang melintas di perairan Kepulauan Seribu, menekan sirene kapal, menyalakan lampu darurat, meminta perhatian mereka. Setiap kapal besar, pastilah membawa obat-obatan.”

    Kadek menuangkan air ke dalam gelas, “Tebakan saya benar, Pak Thom, bukan hanya insulin, bahkan di atas kapal itu juga ada dokter yang bertugas. Opa segera mendapat pertolongan.”

    Aku menerima gelas air segar dari Kadek, menghabiskannya sekaligus, ikut nyengir lega, “Kau memang selalu bisa diandalkan, Kadek.”

    Kadek tertawa kecil, “Bukankah Pak Thom sendiri yang berpesan, saya jangan panik, saya tetap terkendali, saya selalu berpikir jernih. Nah, saya mendapat pencerahan dari pesan itu. Pak Thom lah yang secara tidak langsung menyelamatkan Opa.”

    Aku menepuk-nepuk bahu Kadek, menatapnya penuh respek.

    “Setelah memberikan pertolongan, dokter kapal itu menyarankan agar kami kembali ke darat segera, Opa butuh istirahat dia bilang. Setelah saya timbang-timbang, benar juga, itu jauh lebih penting dibanding terus mengambang di laut, menghindar dari kejaran orang seperti perintah Pak Thom sebelumnya. Semoga Pak Thom tidak marah melihat kapal ini merapat di dermaga. Dari tadi aku menelepon nomor Pak Thom untuk memberitahukan, sekaligus khawatir Pak Thom menunggu terlalu lama di dermaga dengan alat suntik insulin, tapi tidak ada nada panggil. Telepon genggam Pak Thom mati? Kehabisan batere?”

    “Telepon genggamku diambil orang, Kadek. Diambil maling besar.” Aku menjawab sekenanya, “Tentu saja aku tidak keberatan kau kembali merapat, kau selalu mengambil keputusan yang benar.”

    Kadek menatapku riang.

    “Ngomong-ngomong, kapal besar apa yang memberikan pertolongan? Kapal pesiar Star Cruises?” Aku mengambil teko air di atas mini bar.

    Kadek menggeleng, menyeringai, “Bukan, Pak Thom.:

    “Kapal kontainer? Atau tanker minyak raksasa?” Aku menebak lagi, sambil mengisi gelas kosong. Itu pastilah kapal besar yang penting hingga punya dokter sendiri.

    “Bukan, Pak Thom. Kapal armada tempur angkatan laut. Mereka sedang persiapan latihan perang dua-tiga hari ke depan di Laut China Selatan. Dokter militer yang membantu Opa.”

    Astaga, aku hampir tersedak.

    Kadek nyengir, “Easy, Pak Thom, mereka tidak tahu siapa Opa. Aku karang-karang saja kalau Opa warga negara Singapore yang sedang melaut dan tiba-tiba jatuh sakit. Dan Om Liem membantu dengan menceracau berbahasa China. Mereka tidak banyak tanya lagi, hanya dokternya yang pandai berbahasa Inggris, jangan tanya bahasa China.”

    Aku meletakkan gelas, menggeleng perlahan, entahlah, hendak tertawa atau menepuk dahi. Kadek ternyata jauh lebih lihai dibanding yang kuduga—atau boleh jadi dia sama seperti Maggie, bertahun-tahun bekerja denganku, jadi ketularan akal bulusnya.

    Ruangan tengah kapal lengang sejenak.

    “Kau sudah kembali, Tommi?” Om Liem menyapa, dia menggeliat di atas sofa, selimutnya terjatuh. Dia sepertinya terbangun oleh percakapan kami.

    Aku menoleh, “Sudah bangun kau?”

    Om Liem mengangguk.

    “Kenapa kau tidak tidur di kamar, hah? Bukankah Kadek sudah menyiapkan kamar?”

    “Om Liem tidak mau, Pak Thom. Dia sejak tadi duduk-duduk saja di ruang tengah, hingga ketiduran.” Kadek yang menjawa lebih dulu.

    “Sama saja, Tommi. Di kamar aku tidak bisa tidur nyenyak, ada banyak yang melintas di kepala orang tua ini. Lebih baik duduk di sini, di ruangan yang luas.” Om Liem menjawab pelan, “Dari mana saja kau? Terlihat kusut sekali? Seperti habis dipukuli banyak orang?”

    “Jangan tanya. Setengah jam lalu aku baru kabur dari penjara. Masih beruntung aku tidak memakai seragam tahanan.” Aku menjawab sekenanya.

    Om Liem menatapku sejenak, lantas tertawa pelan, “Orang tua ini sepertinya lebih menyukai kau waktu kecil, Tommi. Dulu kau selalu pandai melucu dan menyenangkan orang tua.”

    Aku tidak menjawab, sudah melangkah menuju kamar, hendak melihat Opa.

    “Oh iya, tadi ada kabar dari Ram, dia bilang Tante baik-baik saja, sudah boleh pulang ke rumah. Mungkin berita ini bisa mengurangi sedikit dari banyak urusan yang melintas di kepala kau.” Aku sempat menoleh pada Om Liem, sebelum mendorong pintu kamar.

    Om Liem diam sejenak, mencerna kalimatku, lantas mengangguk, “Terima kasih untuk kabarnya, Tommi. Sungguh terima kasih. Ini bahkan bisa mengurangi separuh kecemasanku sepanjang hari.”

    Aku tertegun sejenak. Seperti bisa menatap wajah Papa dari wajah Om Liem yang sedang terharu mendengar kabar tentang Tante. Wajah seorang Ayah yang selalu menyayangi anak-anaknya—terlepas dari seberapa jahat dia pada dunia. Wajah orang yang selalu kurindukan sejak usia enam tahun.

    Om Liem menyeka ujung matanya. Aku bergegas menutup pintu kamar.



    ***

  10. #50
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Aku tetap berada di kapal hingga pukul lima pagi.

    Menelepon Maggie, memastikan dia baik-baik saja. “Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor, Thom. Jangan tanya aku pulang jam berapa tadi malam. Hei, kau pakai nomor telepon baru? Hampir saja tidak kuangkat, curiga ada polisi atau malah agen FBI mencariku.” Dia mengomel. Aku mengangguk, tidak berkomentar apalagi bertanya, yang paling penting Maggie tidak terlanjur menghubungi telepon genggamku yang dikuasai oleh dua orang itu. Maggie baik-baik saja.

    “Kau bisa mencari kontak ke beberapa orang, Mag? Dan juga beberapa dokumen tambahan yang kuperlukan.” Aku mulai merinci apa yang harus dia kerjakan.

    “Astaga, Thom, aku sedang mengemudi, tidak bisakah kau mengirimkan email? Dan asal kau tahu, aku terpaksa memutar jalan, lewat belakang gedung, jalan protokol ditutup, car free day, alangkah banyak sepeda melintas di hadapanku, dengan wajah-wajah riang, berlibur, berolahraga, berkeringat. ” Maggie menyahut sebal.

    Aku lagi-lagi mengangguk, tidak berkomentar.

    “Baik. Akan segera ku-email, Mag. Terima kasih banyak.” Menutup percakapan.

    Semburat merah muncul di kaki langit timur. Matahari terbit. Aku duduk sendirian di geladak depan kapal, Kadek berbaik hati menyediakan segelas kopi panas, beserta peralatan kerja yang selalu tersimpan di kapal. Lima menit aku menulis email untuk Maggie, mengklik tombol send.

    Masih terlalu pagi. Tetapi beberapa kapal beranjak keluar dari dermaga, penumpangnya melambai. Hari minggu, ada banyak pemilik kapal yang memutuskan berlayar, meski jarak pendek. Membawa peralatan mancing, atau sekadar bekal makan siang, lantas menuju salah-satu pulau sudah lebih dari menyenangkan. Maggie benar, wajah-wajah riang, berlibur, berolahraga dan berkeringat.

    Aku meraih telepon genggam, teringat sesuatu, menelepon Julia.

    Suara Julia terdengar serak, dia sepertinya terbangun oleh teleponku.

    “Kau tidur jam berapa semalam?” Aku basa-basi bertanya.

    Julia tertawa kecil, menguap, “Kau tahu, Thom, terakhir kali pertanyaan ini kudengar, itu berasal dari pacarku dua tahun lalu. Sebulan setelah itu, kami berpisah.”

    Aku ikut tertawa, menatap permukaan laut yang beriak pelan, mengkilat oleh cahaya matahari pagi, melanjutkan basa-basi percakapan, “Apa yang terjadi? Dia selingkuh?”

    “Tidak, dia tipikal lelaki yang setia. Aku yang bosan, karena setelah itu, dia seperti mendapat inspirasi gila, memutuskan setiap pagi meneleponku, bertanya, kau tidur jam berapa semalam, honey? Apakah tidur kau nyenyak, honey? Mimpi indah? Merusak hidupku dengan menjadi weker.”

    Kami berdua tertawa.

    “Kau sudah mendapatkan jadwal audiensi dengan Menteri, Julia?” Aku memotong tawa.

    Julia terdengar menggeliat, menggerutu, “Tentu saja.”

    “Jam berapa?”

    “Astaga, Thom, maksudku, tentu saja kau tidak seperti pacarku itu. Aku tahu kau meneleponku hanya untuk memastikan jadwal yang kau minta, tidak lebih, tidak kurang. Sejak dari London aku sudah tahu, kau jelas bukan lelaki yang romantis, kalaupun ada jejak romantisme dalam potongan yang amat kecil di kepala kau, segar kau membuangnya jauh-jauh.”

    “Fokus, Julia. Jam berapa?” Aku memotong kalimat Julia.

    “Pukul sebelas nanti siang, Sir. Di kantornya. Puas?” Julia berseru.

    Aku tertawa, “Terima kasih, Julia. Dan satu lagi sebelum telepon ini kututup, kau jelas keliru, bukankah kubilang di atas pesawat penerbangan dari London, jika kau tertarik tentangku, kita bisa diskusikan hal itu di lain kesempatan, mungkin sambil makan malam yang nyaman.”

    Julia mengeluarkan suara puh pelan.

    Aku masih tertawa sambil mengucap salam, memutus percakapan.

    Aku melirik jam di layar laptop. Sekarang hampir pukul enam pagi, masih lima jam lagi sebelum pertemuan penting itu. Aku kembali menulis email untuk Maggie, teringat kalau semua data paling mutakhir tentang Bank Semesta tertinggal di rumah peristirahatan Opa, meminta Maggie menyiapkan beberapa salinan di kantor. Aku membutuhkannya.

    Waktuku semakin sempit, hanya 26 jam lagi sebelum Senin pukul 08.00 besok pagi. Selain pertemuan dengan ketua komite stabilitas sistem keuangan, ada satu bidak super penting yang harus kuamankan. Aku menyisir rambut dengan jemari. Sebelum sore berganti malam, sebelum rapat komite memutuskan, aku harus sudah memastikan bidak super penting ini bisa mengintervensi di detik terakhir.

    “Kau mau bergabung sarapan dengan kami, Tommi?”

    Aku menoleh. Opa dengan tongkat di ketiak berdiri di pintu menuju geladak, tersenyum.

    “Kadek membuat nasi goreng spesial, Tommi. Kau pasti suka. Semakin lama, kupikir masakan Kadek sama lezatnya dengan masakan Mama kau dulu.”

    Aku balas tersenyum, mengangguk, melipat laptop, bangkit dari kursi.

    Apa salahnya sarapan sebentar bersama Opa. Setelah kejadian tadi malam, rasa cemas Opa tidak tertolong, apa salahnya aku menghabiskan waktu setengah jam untuknya. Besok-lusa, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Entah apakah Bank Semesta dan group bisnis Om Liem hancur lebur, entah apakah Pemerintah memutuskan memberikan dana talangan, Om Liem terpaksa menyerahkan sebagian besar bahkan seluruh sahamnya, setidaknya pagi ini aku punya waktu berharga bersama orang-orang yang juga amat berharga. Sejak Papa dan Mama hangus terbakar bersama rumah kami puluhan tahun silam, hanya Opa dan Tante yang kumiliki.

    Kecil sekali keluarga kami. Itupun tetap kecil meski sudah menghitung Om Liem.

    Aku membantu Opa melangkah menuju dapur, dan segera aroma masakan Kadek tercium lezat.



    ***bersambung

  11. #51
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 23
    by Darwis Tere Liye on Friday, April 22, 2011 at 6:37pm

    Suara sendok terdengar diantara lenguh kapal yang meninggalkan dermaga.

    “Mereka berdua sudah merencanakan ini sejak lama, Opa.” Aku menatap Opa lurus, “Situasinya sama dengan puluhan tahun lalu. Bahkan nyaris serupa, ada sesuatu yang rasa-rasanya ganjil. Ada potongan yang hilang, tidak pernah terjelaskan.”

    Opa balas menatapku, meletakkan sendok, nasi goreng spesial buatan Kadek masih tersisa separuh di atas piring, “Ganjil seperti apa, Tommi?”

    “Aku belum tahu, Opa. Yang aku tahu, mereka tidak sepintar itu, walaupun amat berkuasa, mereka juga tidak sekuat yang mereka bayangkan, pasti ada orang lain di belakang mereka.”

    Opa menggeleng perlahan, “Aku sudah terlalu tua untuk berimajinasi seperti kau, Tommi. Maksudku, imajinasi dalam artian positif, mengerti kaitan masalah, sambung-menyambung sebuah penjelasan. Aku hanyalah pemain musik amatir. Sejak dulu aku sudah bilang pada Liem dan Papa kau, Edward. Cukup. Keluarga kita sudah lebih dari diberkahi dewa-dewa. Bahkan kapal yang indah ini, tidak terbayangkan waktu aku masih berdesak-desakan di kapal kayu bocor, mengungsi, mencari dunia yang lebih baik. Boleh jadi kau benar, mereka sekali lagi memang hendak berniat jahat pada keluarga kita. Boleh jadi kau juga benar soal ada orang lain di belakang mereka, yang lebih jahat, lebih kuat, menginginkan semua perusahaan keluarga. Maka semua ini seperti tidak ada ujungnya, bukan? Bukankah Liem, Edward, dan aku sendiri juga tamak? Seharusnya kita berhenti sejak arisan berantai itu, seharusnya aku bilang tidak pada Liem sejak lama, maka boleh jadi keluarga kita tetap utuh. Papa kau, Mama kau, boleh jadi bisa duduk di salah-satu kursi, ikut sarapan bersama.”

    Meja makan lengang, ombak membuat kapal bergerak pelan. Udara laut di pagi hari terasa kering. Sudah lama sekali Opa tidak ikut berkomentar dalam urusan keluarga, kalimat panjangnya barusan bahkan membuatku menelan ludah, urung bertanya beberapa hal tentang kejadian masa lalu yang mungkin bisa jadi petunjuk masa sekarang.

    “Ternyata kau tidak bergurau, Tommi.” Setelah satu menit melanjutkan sarapan, Om Liem yang pertama kali memecah debur ombak, “Kau sungguhan baru saja keluar dari penjara. Apa kabar mereka berdua? Letnan satu Susdi dan jaksa muda Tonga itu?”

    Aku tertawa hambar, “Mereka sehat. Bahkan lebih sehat dibanding kau. Tidak ada yang berubah dengan mereka, tapi ibarat foto, warnanya semakin cemerlang, piguranya semakin gagah. Aku amat mengenali suara mereka saat menghujamkan alan sentrum ke perutku.”

    Om Liem terdiam, menelan ludah. Opa menghela nafas.

    Kami sudah hampir lima belas menit sarapan. Setelah semua duduk di kursi, Kadek membagikan piring nasi goreng yang mengepul, menguar aroma lezat, lantas dia cekatan mengisi gelas dengan teh hangat. Sarapan dimulai. Opa bertanya dari mana saja aku sepanjang malam, aku menceritakan berbagai kejadian, termasuk reuni dengan bintang tiga polisi dan jaksa senior itu.

    Satu-dua burung camar memekik nyaring.

    “Cepat atau lambat, mereka akan menemukan kita. Di masa lalu, mereka berdua tidak akan pernah berhenti sebelum tujuan mereka berhasil, bahkan dengan cara-cara paling licik sekalipun.” Om Liem bersandar pelan, setelah tawaku reda.

    “Ya, kali ini aku sepakat dengan kau. Mereka tidak akan pernah berhenti.” Aku mengangguk, “Dan selain pertanyaan siapa orang kuat di belakang mereka berdua, masih ada hal lain yang perlu dicemaskan.”

    Om Liem dan Opa menatapku.

    “Ada pengkhianat di antara kita.” Aku berseru datar.

    “Astaga? Kau tidak sedang bergurau, Tommi?” Om hampir tersedak.

    Aku menggeleng, menatap tajam Om Liem, “Bukankah itu jelas sekali. Kau seharusnya bisa menyimpulkan sendiri. Ada yang memberitahu banyak hal kepada dua orang itu, menjadi mata-mata. Pengkhianat itu boleh jadi orang-orang yang kau percayai selama ini, letnan bisnis yang kau miliki.”

    Om Liem menepuk pelipisnya, tidak percaya.

    Opa menggelengkan kepalanya, “Kali berlebihan, Tommi. Kau keliru.”

    “Aku tidak mungkin keliru, Opa, dan aku tidak pernah berlebihan. Ada pengkhianat di antara kita. Jadi sebelum waktu membuka wujud aslinya, lebih baik semua orang yang ada di kapal ini berhati-hati.”

    “Astaga, Tommi, kau membuat situasi semakin rumit dengan berprasangka buruk ke orang-orang yang selama ini dekat dengan keluarga atau perusahaan.” Opa mengetukkan tongkatnya ke lantai kapal, “Kau tidak mungkin menuduh Kadek misalnya, atau Ram, atau siapa saja orang kepercayaan Om Liem.”

    Aku menggeleng, “Aku tidak menuduh Kadek, Opa, tentu saja, karena aku tahu persis siapa dia. Tetapi orang lain, orang-orangnya dia, mana aku tahu.”

    “Apa alasannya, Tommi? Buat apa mereka berkhianat?”

    “Aku tidak tahu, Opa. Mereka tidak perlu alasan besar untuk melakukannya, sedikit janji manis, iming-iming, itu sudah lebih dari cukup bagi seorang pengkhianat bahkan untuk menusuk balik induk semang, orang yang selama ini membantu, memberikan kesempatan, membesarkannya.” Aku menjawab kalimat Opa dengan intonasi datar.

    Opa menatapku lamat-lamat, menghela nafas.

  12. #52
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Dapur kembali lengang, menyisakan suara televisi yang samar-samar. Kadek masih dengan celemek di dada sedang menyiapkan menu penutup sarapan, roti kecil yang lezat.

    Aku menatap televisi mungil tergelantung di atas tiang.

    Mereka sedang menyiarkan berita pagi, liputan Menteri yang dikerumuni banyak wartawan.

    Aku meraih remote, tertarik, membesarkan volume televisi.

    “Ibu Menteri, kapan komite akan memutuskannya?” Salah-satu wartawan menyeruak, mik terjulur ke depan, lampu sorot kamera bersinar terang.

    “Besok pagi, besok pagi. Keputusan diselamatkan atau tidak, semua ada di tangan komite. Kami sedang mengumpulkan banyak data dan informasi, besok pagi baru akan diputuskan apakah rapat komite stabilitas sistem keuangan, apa? Ya?.” Dengan wajah khasnya yang berpendidikan tinggi, Menteri berusaha menjawab santai pertanyaan yang mengepung. Salah-satu wartawan sudah memotong, mendesak.

    “Belum tahu. Jika situasinya terus memburuk, kecemasan meninggi, rapat komite bisa dilakukan kapan saja. Kami sudah punya beberapa data, bank sentral bilang setidaknya membutuhkan dana 1,3 trilyun untuk menalangi Bank Semesta. Ya? Tidak sekarang lah, ini pukul sebelas malam.” Menteri tersenyum, terus melangkah, ajudannya berusaha membuka jalan menuju mobil.

    Aku bergumam pelan, 1,3 trilyun, sepertinya Erik dan sobat dekatnya di bank sentral melakukan tugas dengan baik. Itu angka pembuka yang baik, lebih rendah dari yang kuminta, 2 trilyun. Angka ini kecil saja dibandingkan resiko dampak sistemik, siapapun akan tutup mata jika angkanya hanya sebesar itu. Nanti malam, atau kapan saja rapat dilaksanakan, Ibu Menteri pasti pening ketika melihat angka yang ada berkali-kali direvisi oleh otoritas bank sentral,—dan situasinya mendesak, kadung harus diputuskan.

    “Tidak ada. Tidak ada laporan seperti itu.” Menteri menggeleng, menanggapi pertanyaan berikut, tetap tersenyum meski sepertinya dia bekerja keras sepanjang hari ini, “Bank sentral hanya melaporkan rasio kecukupan modal terus turun beberapa minggu terakhir, melebihi ambang batas yang diperbolehkan, pengelolaan banknya buruk, kesalahan manajemen, tapi kami belum menerima laporan kalau Bank Semesta bobrok, pemiliknya jahat, atau melakukan kecurangan.”

    Aku bergumam lagi, sepertinya Erik dan temannya bahkan sekarang terlalu serius mempermanis laporan paling mutakhir Bank Semesta. Layar televisi sejenak masih memperlihatkan belasan wartawan yang terus mendesak, ajudan menteri yang berhasil menyibak kerumunan, Menteri bergegas melangkah masuk ke dalam mobil, pintu ditutup segera, dia melambai meninggalkan halaman depan kantornya. Layar televisi kembali ke pembawa acara.

    Aku mengusap rambut dengan telapak tangan. Itu pernyataan menteri tadi malam, setelah konferensi pers yang juga dihadiri Julia. Pembawa acara yang selalu cantik dan tidak beperasaan itu –bahkan dalam berita paling buruk sekalipun dia tetap semangat siaran—sudah asyik berbicara dengan pengamat ekonomi terkemuka, membahas berbagai kemungkinan. Aku sudah memindahkan saluran ke televisi lain, loncat satu per satu, memeriksa headline berita pagi mereka, aku menyeringai tipis, pertemuan kecil dengan belasan wartawan senior dan kepala editor di salah-satu restoran kemarin berhasil. Pagi ini semua orang sibuk membicarakan tentang kemungkinan dampak sistemik.

    Koran pagi yang dilemparkan loper ke kapal juga dipenuhi berita sama. Padahal pertanyaan yang paling penting, yang justeru seolah lupa mereka bahas adalah: di mana pemilik Bank Semesta sekarang? Di mana Om Liem. Tidak ada yang sibuk memuatnya, walau sepotong paragraf. Lebih sibuk membahas tentang kalimat sakti: bahaya dampak sistemik. Esok lusa, ketika masalah Bank Semesta meletus bagai bisul bernanah, barulah orang-orang sibuk memuat pernyataan salah-satu pejabat negara yang bilang seharusnya Om Liem segera dijebloskan ke dalam penjara. Dua orang ******* itu sepertinya berhasil melokalisir isu pelarian Om Liem dan kami selama ini menjadi agenda pribadinya saja, belum ada wartawan yang tahu. Mereka leluasa sekali memanfaatkan institusinya demi kepentingan pribadi.

    Aku menghabiskan teh di dalam gelas, berdiri, sudah setengah jam, waktuku habis.

    “Kau hendak pergi lagi, Tommi?” Opa bertanya.

    Aku mengangguk. Ada banyak yang harus kukerjakan.

    “Selalu hati-hati, Tommi.” Opa berpesan.

    Aku mengangguk, mendekati Kadek.

    “Terima kasih atas sarapan lezatnya, Kadek. Aku menitipkan lagi mereka berdua pada kau, hidup mati.” Aku menepuk bahu Kadek, hendak melangkah menuju buritan kapal.

    Telepon satelit Kadek lebih dulu berdering kencang, sebelum Kadek menjawab kalimatku. Dia bergegas meraih telepon yang tergantung di dinding. Berbicara sejenak.

    “Pak Thom!” Kadek berseru.

    Aku yang sudah di ruang tengah kapal terhenti, menoleh, ada apa?

    “Ada satu mobil penuh dengan polisi berseragam tempur merapat di pos jaga dermaga.” Kadek berseru, suaranya bergetar, “Mereka mencari Om Liem, Opa dan Pak Thom.”

    Astaga? Aku menatap Kadek, memastikan dia tidak sedang mabuk laut.

    “Petugas pos jaga bilang mereka sedang berusaha menahan mobil polisi memasuki dermaga, tapi mereka tidak akan bertahan lama. Bagaimana ini, Pak Thom?” Kadek bertanya cemas.

    Aku meremas jemari, cepat sekali mereka menemukan posisi kami, sepertinya petinggi polisi itu sudah bangun, dan menyadari tahanannya kabur, “Bergegas, Kadek! Lepaskan ikatan kapal, aku akan segera menghidupkan mesin, memegang kemudi, kita berlayar! Kabur.”

    Kadek tidak perlu menunggu diteriaki dua kali, dia melemparkan telepon satelit, berlari tangkas menuju buritan kapal.



    ***bersambung

  13. #53
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 24 (Intermezzo)
    by Darwis Tere Liye on Thursday, April 28, 2011 at 9:31am

    Usiaku masih sepuluh tahun saat mengantar botol susu untuk terakhir kalinya.

    Sepedaku menikung masuk ke jalan menuju rumah, bersenandung riang karena seluruh botol susu yang kubawa habis, ditukar dengan botol kosong oleh tetangga yang membeli. Suara botol beradu di kotak belakang sepeda terdengar bergemerincing, membuatku menyeringai, Mama akan memberiku uang jajan tambahan, aku perlu banyak uang untuk membeli buku-buku yang kusuka.

    Sayangnya tidak ada lagi uang jajan dari Mama. Persis habis tikungan, mendongak ke depan, bersiap mengayuh pedal sepeda secepat mungkin seperti yang aku biasakan, ngebut, aku menatap bingung kerumunan, masih enam ratus meter, tapi asap hitam terlihat mengepul tinggi, sirene mobil pemadam kebakaran dan teriakan orang terdengar nyaring bersahut-sahutan. Dan sebelum sempat aku bergumam ingin tahu, sepedaku sudah disambar oleh seseorang.

    Aku berseru kaget, hampir terbalik.

    “Jangan kesana, Thomas. Jangan kesana.”

    Dua, tiga, empat orang sudah menarikku masuk ke dalam gang sempit. Wajah-wajah cemas, wajah-wajah takut.

    Aku balas menatap mereka, bingung, apa yang telah terjadi? Kenapa aku tidak boleh pulang? Salah-satu dari mereka justeru menangis, memelukku erat-erat, berbisik tentang, bersabar, Nak. Tuhan sungguh sayang dengan orang sabar.

    Sejak hari itu, bagai kapal berputar haluan, kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat.

    Terlepas dari ambisi besar Om Liem dan Papa Edward, cara-cara mereka berbisnis yang seringkali tegas dna keras, seluruh tetangga menyayangi keluarga besar kami, terutama Mama. Bagi kebanyakan keluarga yang tinggal di dekat rumah sekaligus gudang tepung terigu kai, Mama adalah segalanya. Mama memberikan mereka pekerjaan, membantu anak-anak sekolah, mengirimkan dokter jika ada yang sakit, memberikan bingkisan setiap hari besar, dan tidak terhitung botol susu serta makanan yang kubagikan.

    Merekalah yang mati-matian menahanku sampai malam. Ketika halaman rumah kami benar-benar sepi dari orang. Karena aku terus berteriak, mendesak, bertanya apa yang telah terjadi, dini hari, beberapa tetangga dengan membawa senjata, berjaga-jaga, mengantarku ke sana. Aku hanya bisa jatuh terduduk, menatap gentar puing hitam yang ditimpa cahaya sepotong bulan. Satu-dua bara masih menyala, terlihat merah, terdengar bergemeletuk pelan. Aku membeku.

    Aku sungguh tidak menangis, tidak berteriak, hanya menatap kosong sisa rumah dan gudang.

    Kejam sekali kehidupan. Kejam sekali orang-orang itu.

    Persis saat matahari pagi menerpa kota, setelah tetangga berembug satu sama lain, memastikan Papa dan Mama seratus persen telah meninggal, ikut terbakar, kabar Opa dan Tante yang berhasil lari tetapi tidak diketahui kemana, berusaha menghubungi Om Liem yang juga tidak jelas di mana, apakah masih di pelabuhan, atau entahlah, mereka akhirnya memutuskan mengirimku pergi ke kota lain, ada kenalan yang menjadi pengajar di sekolah untuk anak-anak yatim-piatu. Itu pilihan yang paling aman, karena banyak petugas, dan orang-orang tidak dikenal masih berusaha mencari anggota keluarga kami yang tersisa. Wajah-wajah sangar dan penasaran.

    Aku diberikan bekal sekotak roti, tas ransel berisi pakaian, hasil patungan tetangga.

    Satu-dua ibu-ibu tetangga memelukku, menangis, berbisik tentang, esok lusa semua akan kembali baik, esok lusa semua akan pulih, janji-janji masa depan. Aku mengangguk datar, bilang, “Thomas akan baik-baik saja, Ibu.” Dan mereka tambah keras menangis. Aku diantar ke stasiun kereta, membawa selembar tiket, duduk rapi, menatap rumah-rumah, bangunan, pohon-pohon berbaris seiring roda baja kereta berderak berangkat.

    Satu hari sejak kejadian, aku resmi tinggal di sekolah berasrama.

    Meninggalkan jasad Papa, Mama yang menjadi abu.

    Pengajar sekolah berasrama menghapus riwayat hidupku. Tidak ada lagi nama keluarga di namaku, hanya satu kata Thomas, isian berikutnya hanya: anak yang ditemukan di jalanan, tidak diketahui Bapak, Ibunya. Mulailah kehidupan baruku. Makan dijatah, tidur diranjang tingkat, berbagi kamar dengan belasan anak lain. Kabar baiknya, sekolah berasrama itu hebat, aku punya teman senasib.

    Enam bulan kemudian aku membaca kabar Om Liem dipenjarakan. Beritanya ada di koran, nyempil di halaman dalam, tidak mencolok. Satu tahun berlalu, aku tetap tidak tahu apa kabar Opa dan Tante.

    Usiaku dua belas, barulah aku tahu kabar mereka.

    Waktu itu aku persis sedang ujian akhir. Guru pengawas bilang ada seseorang yang ingin bertemu, mendesak, mengijinkanku meninggalkan ujian sebentar. Aku berjalan ragu-ragu menuju ruangan kepala sekolah. Dua tahun terakhir, aku selalu cemas bertemu dengan orang asing, jangan-jangan mereka adalah orang jahat yang dulu membakar rumah kami.

    Pintu ruangan kepala sekolah dibuka, Tante berdiri dengan mata berkaca-kaca. Aku tertegun. Tante sudah loncat, memelukku erat-erat, menangis. Tante bilang, dia, Opa, bibi, semua yang berhasil lari pindah ke Jakarta, dengan uang tabungan milik Opa, dibantu karyawan gudang yang masih setia, mereka mengontrak rumah dan memulai bisnis baru. Tante menceritakan banyak hal, membuatku terdiam lima belas menit kemudian.

    Tetapi aku menggeleng saat Tante mengajakku pulang.

    Inilah keluarga baruku sekarang. Sekolah berasrama. Aku akan menamatkan sekolah di sini. Melupakan banyak hal. Lebih dari tiga kali seminggu kemudian, Tante bolak-balik ke sekolah, membujukku. Di kunjungan ketiga, dia datang bersama Opa, bibi, semua orang-orang yang kukenal, berusaha membujuk.

    Jawabanku tetap tidak.

  14. #54
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Opa tersenyum, mengacak rambutku yang tidak pernah kupotong sejak kejadian, “Kalau begitu, maka sekali dua berkunjunglah melihat kami, Tommi. Aku akan senang sekali jika kau melakukannya.”

    Aku mengangguk mantap. Hanya Tante yang terus keberatan, dia masih terus mengunjungi setiap bulan, membawa pakaian, makanan, apa saja yang membuatku nyaman tinggal di asrama. Bagiku, dia menjadi pengganti Mama yang baik.

    Di penghujung tahun ketiga, libur panjang, dengan membawa ransel aku pergi ke rumah Opa. Itu kunjungan pertama. Bukan rumah yang di Jakarta, tapi yang di Waduk Jatiluhur.

    “Kau benar-benar berubah, Tommi.” Opa memelukku, amat riang dengan kedatanganku, “Maksudku, lihatlah, kau ternyata telah memotong rambut. Kupikir kau akan terus membiarkan rambut kau tumbuh berantakan sejak kejadian itu.”

    Aku tersenyum, menatap wajah Opa yang semakin tua.

    Sepanjang hari dia mengajakku melakukan apa saja. Belajar menyetir mobil—aku membuat mobilnya menggelinding masuk ke dalam waduk, belajar mengemudi speedboat, duduk mencangkung di atas kapal nelayan, memancing, atau duduk meluruskan kaki di belakang rumah sambil memainkan klarinet. Tertawa, bergurau, dan tentu saja kebiasaan buruk Opa, menceritakan masa mudanya, persis seperti kaset rusak. Membahas bisnis baru Opa yang maju pesat, sebenarnya dia jauh lebih pandai berbisnis dibanding memainkan alat musik.

    Saat ulang-tahunku yang kedelapan belas, Opa menghadiahkan mobil balap itu. Aku tidak datang, bilang sedang ujian akhir. Alasan sebenarnya adalah: Om Liem sudah keluar dari penjara, bergabung kembali dengan keluarga. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku hanya berkunjung ke rumah peristirahatan Opa jika Om Liem tidak ada di sana.

    Usia dua puluh dua, satu minggu sebelum keberangkatanku kuliah di sekolah bisnis, Opa memintaku menemaninya pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa.

    “Ini kapal kau, Tommi.” Opa terkekeh saat melihatku bingung.

    Aku menoleh, bolak-balik, wajah Opa, kapal besar yang merapat anggun di dermaga.

    “Kau boleh memberinya nama apa saja, Tommi.”

    Aku menelan ludah. Opa tidak sedang bergurau, bukan? Opa tertawa lagi. Opa selalu baik padaku. Meski Papa dulu berkali-kali memaksakan pemahaman bahwa tidak ada hadiah untuk Tommi kalau dia tidak bekerja keras di rumah, Opa selalu memberiku hadiah spesial, amat dermawan.

    “Berapa usia kau sekarang? Dua puluh dua bukan? Waktu aku seusia kau sekarang, Tommi, aku persis berada di perahu kayu yang sempit dan sedanya. Terombang-ambing melintasi lautan bersama belasan pengungsi, berusaha mencari negeri yang lebih baik.”

    Aku mengangguk, Opa sepertinya kembali bercerita tentang masa lalunya.

    “Lihatlah, kau jauh bernasib baik, anakku, kau tumbuh menjadi anak muda yang pintar, gagah, penuh kesempatan. Apa nama sekolah bisnis kau itu? Astaga, kudengar hanya orang-orang paling pintar di dunia yang bisa sekolah di sana?”

    Aku tertawa pelan, tidak menanggapi gurauan Opa, konsentrasi mengemudi kapal.

    “Waktu itu,” Suara Opa terdengar pelan, sedikit bergetar, “Aku tidak takut mati, Tommi.”

    Aku menoleh, sepertinya ada yang berbeda dengan cerita Opa kali ini.

    “Apa pula yang harus ditakutkan anak muda yatim-piatu, miskin, mengungsi dari perang saudara dan kemiskinan di daratan China sepertiku. Mati boleh jadi pilihan terbaik. Semua orang di dalam perahu nelayan itu juga tidak takut mati. Kami senasib, sepenanggungan. Berjudi dengan masa depan.”

    Opa diam sejenak, menatap bintang-gemintang. Kapal yang kukemudikan maju perlahan, membelah ombak, terus menuju perairan Kepulauan Seribu.

    “Badai, perahu kayu bocor, melintasi kapal perang Belanda, ditembaki, kehabisan bekal, air minum, semua biasa saja. Itu makanan sehari-hari. Rasa-rasanya tidak ada cerita seram tentang lautan yang membuat kami gentar. Hingga suatu hari, salah-satu nelayan yang membantu kami mengungsi bercerita. Itu sungguh sebuah cerita yang membuat bulu kuduk merinding.”

    Aku menoleh pada Opa, membiarkan kemudi terlupakan beberapa detik.

    “Aku bahkan masih merinding saat mengingat, Tommi.” Opa mengusap wajahnya.

    Di luar kelaziman, aku kali ini benar-benar menunggu kalimat berikut Opa, persis seperti pencinta cerita bersambung di koran-koran yang tidak sabaran.

    Sial, Opa ternyata hanya terkekeh, melambaikan tangan, kembali dengan takjimnya menatap gelap yang menyelimuti lautan.



    ***bersambung

  15. #55
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - Episode 25
    by Darwis Tere Liye on Friday, April 29, 2011 at 6:27am

    Usiaku duapuluh empat, kembali dari sekolah bisnis, Opa sudah menunggu di bandara.

    “Kita harus merayakan ini, Tommi.” Tubuh kurus tinggi Opa memelukku.

    Aku balas memeluknya, bertanya ragu-ragu, “Merayakan?”

    Opa mengangguk, menyikut pinggangku, “Tenang saja. Om Liem tidak ikut serta, dia tahu diri. Hanya berdua, kita berlayar menapaktilasi perjalanan Opa puluhan tahun lalu. Dengan kecepatan 30 knot per jam, setidaknya butuh satu-dua minggu, akan menyenangkan, bukan?”

    Aku ikut tertawa—untuk kalimat Om Liem tidak ikut. Sejak dulu Opa selalu ingin menghabiskan waktu bersamaku, berusaha menebus hari-hari di sekolah berasrama. Aku mengangguk, tidak ada salahnya. Sudah lebih dari belasan tahun aku tidak pernah libur panjang sungguhan, biasanya segera kembali ke buku-buku, membaca banyak hal, belajar banyak hal—bahkan di hari libur.

    Kami melepas jangkar kapal pesiar. Ada dua orang pembantu Opa yang ikut, dua-duanya kelasi, bukan nahkoda kapal sebaik Kadek, tapi mereka jago masak dan berguna menyelesaikan pernak-pernik pekerjaan di kapal.

    “Belum ada namanya?” Aku memukul lambung kapal yang bergerak cepat meninggalkan siluet gedung tinggi kota Jakarta yang terbungkus kabut pagi.

    Opa tertawa, “Ini kapal kau, Tommi. Kau yang harus memberinya nama.”

    Aku memperbaiki anak rambut, angin laut menerpa wajah. Berarti sudah dua tahun kapal ini belum mengalami prosesi melempar botol sejak dikirimkan dari galangan kapal di Eropa.

    “Aku tidak punya ide.” Aku menjawab pelan.

    “Astaga? Untuk seorang yang berpendidikan tinggi, memberi nama kapal saja kau tidak punya ide?” Opa jahil memicingkan mata, “Kenapa tidak kau beri nama ‘Thomas’, atau nama Papa kau, ‘Edward’?”

    Aku menggeleng perlahan.

    Ruang kemudi kapal lengang sejenak.

    Opa ikut menggeleng pelan, “Seharusnya kita tidak menyebut nama Papa kau dalam perjalanan ini. Maafkan aku yang terlalu riang.”

    “Tidak masalah, Opa.” Aku menepuk bahu Opa, “Nanti akan kupikirkan nama yang baik. Sesuatu yang istimewa. Ohiya, aku belum bilang terima-kasih sejak dua tahun lalu, bukan? Terima kasih atas hadiah kapal yang hebat ini. Opa selalu nomro satu.”

    Wajah Opa kembali riang.

    Menjelang siang, aku membantu dua kelasi memasang layar. Ditambah angin kencang, kekuatan mesin ribuan horsepower, kapal melaju cepat membelah ombak hingga 34 knot, terus ke utara, kecepatan penuh menuju perairan Laut China Selatan. Logistik penuh, peralatan navigasi canggih, dan tentu saja kapal yang tangguh, ini perjalanan yang menyenangkan.

    Jika laut sedang tenang, kami makan malam di geladak, beratapkan bintang gemintang. Jika laut sedikit menggila, perkiraan cuaca yang kami terima di layar kapal memberikan peringatan, aku langsung memutar kemudi menuju kota terdekat, mampir di Krabi Island, Thailand misalnya.

    “Hebat sekali.” Opa mengusap dahi, menatap keluar kaca jendela yang basah, hujan deras, angin kencang, tapi kapal kami sudah tertambat kokoh di salah-satu resort di perairan Krabi.

    Aku menoleh, duduk malas menatap lautan yang gelap.

    “Kami dulu bahkan tidak tahu apakah akan badai atau tidak. Hanya mengandalkan naluri nelayan tua di kapal. Sekarang kita bahkan bisa tahu enam jam sebelumnya.”

    Aku mengangguk, ternyata ‘hebat’ itu maksudnya. Sambil bersiap memperbaiki posisi duduk, Opa rasa-rasanya akan kembali mengulang cerita lamanya. Aku tidak pernah keberatan memasang wajah takjim mendengarkan.

    Tiga hari kemudian, meskipun terhambat badai kecil di Krabi Island, kami tiba di pelabuhan kota kecil daratan China tepat waktu. Opa turun dari kapal dengan menumpang sekoci kecil, dan dia dengan wajah terharu menunjukkan semua potongan masa lalu yang dia ingat.

    “Kita bisa terus melalui jalan setapak itu, Tommi. Dulu kami sembunyi-sembunyi melintasinya, pagi buta.” Opa menunjuk jalan yang ramai oleh orang-orang setempat berdagang, “Kau berjalan terus satu jam, nanti kau tiba di stasiun tua, lantas menumpang kereta, dua hari satu malam, kau akan tiba di Beijing, melewati kampung halaman leluhur kita. Kau mau terus hingga ke sana?”

    Aku tertawa, menggeleng, “Itu berlebihan, Opa.”

    Opa ikut tertawa, mengangguk.

    Setelah berjam-jam puas menghabiskan waktu mengunjungi setiap jengkal kenangan masa-lalu, kami berlayar pulang ke arah selatan, melewati rute yang dulu dilakukan Opa.

    “Setelah semua sekolah itu, kau akan kemana, Tommi?” Opa mengajakku bicara, di malam kesekian. Purnama menghiasi angkasa, terlihat khidmat dari atas kapal yang terus melaju.

    “Bekerja seperti orang kebanyakan.” Aku belum menangkap arah pembicaraan, asyik menatap layar navigasi.

    “Maksudku, kau akan bekerja di mana, Tommi? Kau tidak tertarik bekerja di perusahaan keluarga?”

    Aku menggeleng. Opa suda tahu jawabannya, buat apa dia bertanya?

    “Kau tidak harus bekerja di perusahaan yang diurus Om Liem, Tommi. Kalian bisa mengurus perusahaan yang berbeda.”

    Aku tetap menggeleng.

    “Kalian sudah lama sekali tidak bertemu, bahkan saling tegur sapa pun tidak.” Opa menghela nafas, menyerah, "Kalau kau bekerja di perusahaan orang lain, untuk anak muda secerdas kau, boleh jadi kau malah membesarkan perusahaan pesaing keluarga, Tommi.”

    “Aku akan membuka kantor sendiri.”

  16. #56
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Oh, itu lebih baik.” Opa senang mendengarnya.

    Aku tertawa pelan, “Lebih buruk, Opa. Aku akan membuka kantor konsultan profesional. Nah, boleh jadi aku memberikan nasehat keuangan kepada perusahaan pesaing keluarga.”

    Opa menatapku sebentar, lantas ikut tertawa, “Kalau itu sudah menjadi rencana kau, Opa tidak akan memakasa, Tommi. Tapi sekali-dua, itupun jika kau bersedia, bolehlah memberikan nasehat yang baik pada kami, terutama pada Om Liem kau itu. Sejak kembali mengurus bisnis, dia seperti orang kesetanan, melakukan apa saja, penuh ambisi.”

    Aku menyeringai, “Tidak ada yang bisa menasehatinya, Opa. Dulu tidak, sekaranng juga tidak.”

    Opa manggut-manggut setuju, menatap lurus ke lautan yang tenang sekali, bagai tak beriak, pantulan purnama terlihat elok di permukaan laut, kapal terus melaju stabil, lengang sejenak. Ini hari kesebelas perjalanan kami. Sudah setengah jalan melewati rute pengungsian Opa dulu.

    “Aku senang kau tidak tumbuh ambisius seperti Om dan Papa kau dulu, Tommi. Kupikir kau jauh lebih arif, kau lebih mirip denganku.” Opa memecah senyap suara mesin dan baling-baling kapal yang terdengar menderum samar dari balik dinding kedap suara.

    “Kejadian menyakitkan selalu mendidik kita menjadi lebih arif. Kau dengan kematian Papa, Mama kau. Dan aku, waktu aku masih muda dulu, menumpang kapal kayu bocor itu, mengungsi dari perang saudara, banyak kebijaksanaan hidup yang kupelajari.”

    Aku nyengir, ini untuk kesekian kali Opa mulai bertingkah seperti kaset rusak.

    “Aku sungguh tidak takut mati waktu itu, Tommi.” Opa terus bercerita, tidak melihat seringai wajahku.

    “Badai, kehabisan bekal, minum air asin, ditembaki kapal Belanda, itu semua makanan sehari-hari. Termasuk cerita-cerita seram tentang legenda lautan, itu tidak mempan.” Opa menghela nafas sejenak, “Hingga suatu saat nelayan senior bercerita. Astaga, itu cerita paling seram yang kudengar, membayangkannya, bahkan setelah berpuluh-puluh tahun aku tetap merinding.”

    Lengang lagi sejenak. Aku terus memegang kemudi kapal, menatap lurus.

    Opa yang menoleh, menatapku bingung, “Kau sepertinya tidak sepenasaran seperti dua tahun lalu, Tommi? Bukankah dulu kau mendesak ingin tahu?”

    Aku tertawa, menggeleng.

    Opa terlihat kecewa, “Kau sungguh tidak ingin tahu lagi, Tommi? Padahal aku sudah sengaja benar membuat variasi ini agar kau tidak bosan mendengar cerita masa laluku yang itu-itu saja.”

    Aku kembali menggeleng, menatapnya penuh penghargaan, “Bukan itu masalahnya, Opa. Aku selalu senang mendengarnya, itu selalu membuatku paham masa lalu keluarga kita, tahu diri. Tetapi soal kisah seram nelayan itu, aku sudah tahu.”

    “Kau tahu? Dari mana kau tahu?”

    Aku nyengir, “Dua tahun sekolah di luar, ada banyak yang ingin kupelajari. Termasuk PR itu, aku mencari tahu kemana-mana. Buku-buku, berita, apa saja. Lama sekali aku menemukan penjelasannya. Hingga mendatangi perkampungan nelayan di pesisir, ratusan kilometer dari sekolah bisnis. Satu-dua nelayan tua di sana masih ingat dengan cerita itu.”

    Opa terdiam, menyelidik, memastikan apakah aku sungguh-sungguh atau pura-pura saja.

    “Lihat, laut tenang sekali. Samudera luas yang bernama Pasifik, ‘Kedamaian’. Semua nelayan amatir, pelaut pemula, selalu menilai lautan setenang dan sedamai ini berkah. Aku tahu cerita itu, Opa. Dan aku tahu, itu bukan sekadar legenda, meski tidak ada penjelasannya hingga hari ini. Aku membuka tumpukan kliping berita, berpuluh-puluh kapal hilang, bahkan bukan hanya yang mengapung di lautan, yang terbang di atas juga hilang, belasan pesawat tempur, belasan pesawat komersil. Aku tahu.”

    Opa menelan ludah. Ruang kemudi lengang sejenak.

    “Puluhan tahun silam, setelah mendengar cerita itu, Opa takut sekali kalau perahu kayu yang tua, bocor itu tersesat ke sana, bukan? Wilayah paling misterius di Samudera Pasifik. Cemas kalau kapal bukannya menuju tanah terjanjikan di arah selatan, malah bergerak tidak sengaja ke timur, masuk dalam perangkap tenangnya permukaan samudera. Hilang dalam catatan sejarah. Aku tahu, Opa. Tetapi dengan sistem navigasi hebat masa kini, tidak ada nelayan, nahkoda kapal, atau pilot pesawat sekalipun yang cukup bodoh melewati wilayah itu.” Aku menunjuk layar kemudi, tertawa pelan, “Lihat, kita ribuan kilometer dari sana. Terus mengarah ke Selatan, jadi seratus persen aman.”

    Opa menghela nafas, “Ternyata kau sudah tahu, Tommi.”

    Aku mengangguk.

    “Baiklah, aku akan beristirahat. Sudah larut malam.”

    Aku tersenyum, Opa beranjak keluar.

    “Satu lagi, Tommi.” Opa sempat menoleh sebelum sempurna keluar, “Kau tidak seharusnya meremehkan cerita itu walaupun kapal ini dilengkapi sistem navigasi hebat. Lautan tetaplah lautan.”

    “Yes, Sir!” Aku menaruh tangan di kening.

    Opa menutup pintu.

    Itu pelayaran pertamaku. Sejak hari itu aku memutuskan memberi nama PACIFIC pada kapal pesiar besar hadiah Opa. Kadek bergabung lima tahun kemudian. Aku banyak sekali menghabiskan waktu di kapal ini. Dalam banyak hal, masa-masa pentingku ada di kapal ini.

    Belasan tahun kemudian, seperti yang kuduga, kapal ini juga tetap menjadi saksi hebat hidupku. Pertempuran pertama yang kulakukan atas nama masa lalu.



    ***

  17. #57
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Inilah pertempuran pertama itu.

    Persis setelah penjaga gerbang dermaga menelepon, aku meneriaki Opa dan Om Liem agar berlindung di kamar, menyuruh mereka tiarap. Aku terus berlarian menuju ruang kemudi. Kadek sudah lompat ke arah buritan.

    Terlambat. Kadek baru setengah jalan melepas ikatan tali-temali kapal, mobil taktis polisi sudah memasuki dermaga—petugas gerbang tidak kuasa menahan mereka lebih lama lagi. Aku yang sudah berdiri di belakang kemudi kapal, bersiap menekan pedal gas sekencang mungkin jika ikatan kapal telah terlepas, melihat belasan polisi berlompatan dari mobil.

    “Jangan biarkan mereka lolos!” Komandan mereka berteriak kencang, merobek pagi yang tenang.

    Senjata-senjata teracung ke depan, mereka bergerak hati-hati mendekati kapal. Posisi mereka tinggal belasan meter dari buritan.

    “Berhenti atau kami tembak!” Komandan menyambar toa, berteriak.

    Kadek tidak peduli, dia terus melepas tali.

    Tidak akan sempat, aku mengutuk dalam hati. Berpikir cepat, lantas mengangkat kalashnikova yang sempat kuambil di kamar sebelum berlari menyalakan mesin. Aku memutuskan menarik pelatuk senjata sebelum mereka menembak. AK-47 itu teracung sempurna ke rombongan polisi yang siap menyergap.

    “Berlindung!” Salah-satu anggota polisi yang melihatnya berteriak kalap.

    Belum habis gema teriakannya, senjata serbu yang kudekap telah memuntahkan peluru dengan kecepatan hingga 600 butir/menit, membuat lantai dermaga seperti ditimpa gerimis, semen lantai merekah, berhamburan bersama kelotak peluru.

    Belasan polisi itu kalang-kabut mencari posisi berlindung, kembali ke belakang mobil taktis, mereka sepertinya tidak menduga akan menerima sambutan semeriah ini. Komandan polisi berteriak serak, meneriaki anak-buahnya, “Tembak kapal itu! Habisi mereka!”

    Aku mendengus, dasar bodoh, aku sama sekali tidak mengincar mereka, aku hanya menyuruh mereka mundur, memberikan kesempatan pada Kadek menyelesaikan tugas.

    Jangan lakukan, rahangku mengeras, AK-47 yang kupegang dengan cepat menembaki salah-satu sisi mobil, salah-satu dari polisi yang sudah dalam posisi berlindung berusaha membalas tembakan. Satu lubang berhasil kututup, dua lubang lain muncul, mereka mulai balas menembaki kapal. Dua, tiga peluru menghantam kaca ruang kemudi, berhamburan, aku menunduk, menghindari pecahan kaca. Lebih banyak lagi peluru yang mengarah ke buritan, membuat pekerjaan Kadek terhambat.

    Kami kalah jumlah, aku mengepalkan tinju. Polisi sialan ini sungguh tidak menyadari, kalau aku berniat jahat pada mereka, sejak tadi aku bisa menembaki tangki bensin mobil taktis, dan dalam hitungan detik, mereka yang berlindung di balik mobil menjadi kepiting bakar bersamaan dengan meledaknya mobil. Tetapi itu tidak bisa kulakukan. Aku menggeram berpikir keras, aku harus bergerak cepat.

    “Naik ke ruang kemudi, Kadek!” Aku berteriak.

    Kadek yang masih tiarap di buirtan mendongak, tidak mengerti.

    “Bergegas!” Aku menyuruh, “Akan kulindungai kau.”

    Senapanku kembali terarah ke mobil taktis, secara spartan menembaki setiap jengkal kemungkinan ada moncong senjata terarah pada buritan kapal.

    Kadek bangkit, berlari cepat menuju ruang kemudi, desing peluru balasan menerpa anak tangga, membuat dinding-dinding kapal merekah.

    “Pegang kemudinya.” Aku berseru, tanganku masih terus menarik pelatuk senjata.

    Kadek membungkuk, memegang kemudi.

    Aku mengarahkan laras panjang AK-47 ke arah bibir dermaga, menembaki tiang tempat kapal tertambat. Dua, enam, sepuluh peluru menghantamnya, tiang beton itu roboh, ikatan tali-temali terburai lepas.

    Kadek yang mengerti apa yang kurencanakan, segera menekan pedal gas bahkan sebelum tiang beton itu sempurna roboh, dan PACIFIC segera menderum kencang, meninggalkan dermaga.

    Kami kabur di bawah rentetan suara tembakan polisi—yang semakin lama semakin samar.

    Setengah menit, kami sudah jauh. Aku menyeka pelipis, melemparkan senjata ke lantai ruang kemudi.

    “Kau baik-baik saja?”

    Kadek tertawa kecil, “Ini seru, Pak Thom. Aku baik-baik saja.”

    Aku menyeringai, “Kita berlayar meninggalkan Jakarta, Kadek. Kau arahkan kapal ini ke Manila, Filipina, jaga jarak kau dengan pesisir pantai se-aman mungkin. Aku akan memeriksa Opa dan Om Liem di bawah, termasuk memeriksa kapal, jika semua baik-baik saja, kau antar aku merapat ke salah-satu pulau wisata yang kita lewati, aku akan naik kapal lain kembali ke Jakarta.”

    “Siap, Komandan.” Kadek memasang gerakan hormat militer.

    Aku sudah bergegas menuruni anak tangga.



    ***bersambung

  18. #58
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas --Episode 26
    by Darwis Tere Liye on Tuesday, May 3, 2011 at 7:54am

    Usiaku empat belas tahun saat aku pertama kali mengunjungi Opa. Libur panjang sekolah, membawa ransel kecil di punggung, aku menumpang angkutan umum dari sekolah berasrama.

    Malam terakhir di sana, aku dan Opa berdua menghabiskan waktu dengan duduk santai di beranda belakang, menonton televisi, acara kesayangan Opa. Acara quiz, tiga layar terpentang lebar menutupi hadiah, satu peserta yang maju ke babak bonus menghadapi situasi ‘hidup-mati’, membawa pulang hadiah besar atau kembali dengan tangan hampa. Dialah finalis quiz.

    “Satu di antara tiga layar ini adalah sebuah mobil mewah terbaru.” Pembawa acara memasang wajah sumringah, menunjuk layar televisi besar yang segera menayangkan bentuk dan rupa mobil itu.

    Penonton di studio bertepuk tangan antusias. Wajah finalis quiz menyimpul senyum.

    “Satu lagi adalah seekor sapi perah yang gemuk.” Pembawa acara tertawa.

    Penonton di studio ikut tertawa.

    “Ayolah,” Pembawa acara mengangkat bahu, “Saya tidak bergurau. Sungguhan seekor sapi. Kami menyediakan truk besar untuk membawanya pulang nanti.”

    Penonton di studio tertawa lagi, finalis quiz manggut-manggut tertawa pelan.

    Aku ikut tertawa, meletakkan garpu ke atas piring—pembantu rumah Opa memasak menu lezat untuk menemani malam santai. Di sekolah berasrama jangankan menonton, televisi satu pun tidak ada di sana. Terlepas dari fakta itu, aku segera mengerti, pantas saja Opa suka menonton acara quiz ini, menarik. Lihat, Opa sudah terkekeh di sebelahku.

    Pembawa acara mengangkat tangan, menyuruh penonton di studio diam sejenak, musik latar terdengar lebih cepat, “Nah, sayangnya, pemirsa di rumah dan hadirin di studio, satu layar lagi, tentu saja, menutupi sebuah kotak sampah.” Layar televisi besar segera menunjukkan kotak sampah berwarna kuning yang sering kalian lihat di trotoar jalanan.

    Penonton di studio tertawa—meski tidak sekencang soal sapi tadi.

    Finalis quiz tersenyum—meski senyumnya sekarang terlihat kecut.

    “Baiklah, mari kita bermain, kau pilih layar yang mana, Kawan. Satu, dua, atau tiga?” Amat bergaya pembawa acara menawarkan kesempatan pertama pada finalis.

    Permainan babak terakhir telah di mulai.

    Lima menit berlalu tegang. Finalis memilih layar satu.

    “Kau yakin?”

    Finalis quiz mengangguk.

    “Baik kita kunci layar satu.”

    Hadirin distudio bertepuk-tangan menyemangati.

    “Kalau begitu, tolong dibuka layar nomor dua, layar yang tidak dia pilih.” Pembawa acara memberi perintah. Layar dua segera tergulung ke atas.

    Aku terpingkal bersama Opa, juga bersama penonton di studio—sampai melupakan wajah super tegang finalis yang merangkai doa. Di balik layar dua, sungguhan seekor sapi gemuk terlihat gelisah. Moncongnya diikat rapat, seorang peternak handal sejak tadi berdiri di sebelah mengelus-elus pundaknya, agar dia diam dan tidak membuat pertanda ada seekor sapi di balik layar dua.

    “Bukan main. Mari kita lupakan sapi perah barusan. Permainan ini semakin menarik.” Pembawa acara menghela nafas.

    “Tersisa dua layar, Kawan. Satu adalah mobil mewah terbaru. Satu lagi adalah kotak sampah berwarna kuning.” Pembawa acara mengangkat tangan ke atas, memberi tanda.

    Penonton di studio kembali hening. Wajah finalis semakin tegang.

    “Kau sudah memilih layar nomor satu. Apakah kita akan membuka layar nomor satu sekarang?”

    Penonton berseru-seru antusias, mengangguk.

    Pembawa acara tertawa, menggeleng takjim, “Kita buat acara ini lebih menarik.”

    Penonton justeru semakin berseru-seru antusias.

    “Saya tidak tahu layar mana yang menyembunyikan mobil mewah itu, Kawan. Percayalah. Hanya Tuhan dan beberapa orang di belakang studio yang tahu. Bahkan keputusan di mana mobil itu berada, baru dilakukan beberapa menit sebelum babak bonus. Nah, karena saya tidak tahu, semua orang di sini juga tidak tahu, aku akan memberikan kau kesempatan menukar pilihan. Tetap di layar nomor satu? Atau pindah ke layar nomor tiga?”

    Aku menelan ludah. Benar-benar melupakan makanan lezat di atas piring—padahal makanan di sekolah asrama tidak pernah selezat ini, mataku sempurna tertuju ke layar kaca.

    “Tetap di layar satu atau pindah ke layar tiga, Kawan?” Pembawa acara mendesak, mengulangi pertanyaan ke sekian kali, sudah dua menit berlalu tanpa keputusan.

    “Pindah.” Terdengar jawaban mantap. Tetapi itu bukan jawaban finalis quiz, itu suara Opa di sebelahku.

    Aku menoleh, menatap wajah Opa yang terlihat begitu yakin.

    “Kalau kau dalam situasi seperti ini, maka kau akan pindah, Tommi.” Opa menjawab santai.

    “Bagaimana Opa tahu?”

    “Pindah saja. Insting.”

    “Tapi Opa tidak tahu di mana mobilnya, bukan?”

  19. #59
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Karena itulah. Ketika tidak ada yang tahu, permainan berjalan adil dan sebagaimana mestinya, maka seorang penjudi ulung, seorang petaruh berpengalaman akan memilih pindah.”

    “Kenapa?” Aku mendesak.

    Opa terkekeh, “Mana Opa tahu, Tommi. Itu hanya naluri, sekadar insting seorang petaruh.”

    Waktu itu, umurku baru empat belas, aku tidak paham naluri dan insting yang dikatakan Opa—meski aku tahu sekali, sejak memutuskan mengarungi lautan, mengungsi dari tanah kelahirannya, Opa tumbuh menjadi pelaku bisnis yang hebat, petaruh sejati.

    Aku baru tahu penjelasan itu di sekolah bisnis.

    Salah seorang guru besar, yang bisik-bisik mahasiswa bilang dia adalah penjudi ulung di Texas—pekerjaan sampingan selain akademisi, memberikan kasus yang sama. Tiga kotak di depan kelas, di manakah yang berisi selembar tiket pesawat?

    Profesor itu menunjukku, memintaku bermain.

    Aku menyeringai, di bawah tatapan puluhan pasang mata peserta mata kuliah Matematika Bisnis tingkat lanjutan yang antusias, aku sembarang menunjuk kotak. Hanya permainan memperebutkan tiket, bukan hidup mati seperti peserta quiz sepuluh tahun lalu yang aku tonton bersama Opa.

    Profesor mengangkat kotak lain yang tidak kupilih, kosong. Tertawa, “Nah, Thomas, sekarang tinggal dua kotak tersisa. Kau akan tetap memilih kotak sebelumnya, atau kau akan pindah?”

    Ruangan kelas menjadi sedikit tegang.

    Saat itulah, ilham pengetahuan itu masuk ke kepalaku, Opa benar sekali, maka aku dengan santai bilang, “Pindah.”

    Ruangan besar kelas kami dipenuhi seruan.

    Profesor mengedipkan matanya, menyuruh mereka diam.

    “Kenapa kau memilih pindah, Thomas?”

    Aku tertawa pelan, mengusap wajah. Entah bagaimana caranya, aku paham seketika teori berjudi Opa. Bukan karena naluri, melainkan karena setelah sepuluh tahun berlalu, belajar banyak hal, berada dalam kelas yang mengagumkan ini, penjelasan itu datang sendiri di kepalaku, sungguh bukan insting

    Penjelasannya amat sederhana. Ada tiga kotak, maka itu berarti kemungkinan kalian memenangkan pertaruhan adalah 33,3%, alias sepertiga. Itu kemungkinan yang rendah, bahkan di bawah 50%, permainan ‘ya’ atau ‘tidak’. Ketika aku memilih salah-satu kotak, lantas profesor di depanku membuka kotak lain yang ternyata kosong, maka kemungkinanku sekarang adalah 50%, bukan? Apakah aku akan pindah? Ingat rumus ini: jika kalian tetap di pilihan sebelumnya, maka variabel baru yang hadir dalam permainan, kesempatan merubah pilihan menjadi sia-sia. Jika kalian tetap di pilihan pertama, dengan dua kotak tersisa, kesempatan kalian untuk menang sesungguhnya bukan 50 Melainkan tetap 33,3%, karena kalian tetap memilih kotak yang sama dari tiga kotak sebelumnya.

    Pindah! Lakukan segera, tutup mata. Dengan demikian, maka kalian memasukkan variabel baru dalam permainan, berapa kesempatan kalian menang? 50 Tidak, kalian menjadikannya 66,6%. Ada tiga kota dalam permainan, dan kalian diberikan kesempatan memilih dua kali. Apakah kalian otomatis akan memenangkan permainan? Tentu tidak, masih ada 33,3% kemungkinan kalah. Tetapi kemungkinan 66,6% jauh lebih baik. Aku tidak akan seperti peserta quiz yang keukeuh sekali dengan pilihan awal, resisten sekali merubah pilihan. Aku memilih pindah.

    Ruangan kelas lengang sejenak setelah penjelasanku.

    Profesor menatapku tajam, “Kau yakin, Thomas?”

    Aku tersenyum simpul. Ini mata kuliah Matematika Bisnis tingkat lanjutan, aku sama sekali tidak berjudi, aku menggunakan logika. Tentu saja teori ini hanya berlaku jika lawan bermain kalian tidak curang. Kalau pembawa acara quiz tahu di mana mobil itu berada, maka dia bisa menipu peserta dengan membujuk-bujuk, memanipulasi kalimat-kalimatnya, hingga peserta terkecoh.

    “Buka saja, Prof.” Aku tertawa.



    ***

    Tidak ada pertaruhan hidup-mati di meja judi, semua soal persentase dan logika. Maka jika di meja judi saja tidak ada, apalagi di dunia nyata.

    Tidak ada skenario russian roullette dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan.

    Orang China bijak jaman dulu bilang, tempat yang paling aman justeru adalah tempat paling berbahaya, dan sebaliknya tempat yang paling berbahaya, justeru adalah tempat yang kalian pikir paling aman. Itu benar sekali. Ahli strategi perang mahsyur China itu, ketika menemukan pertama kali kalimat bijak ini boleh jadi tidak dibekali dengan ilmu Matematika tingkat lanjutan, tapi dia jelas memiliki pengalaman panjang, naluri serta insting seperti yang dikatakan Opa sepuluh tahun lalu.

    “Putar haluan, Kadek.” Aku berteriak, berlari-lari kecil menaiki anak tangga.

    “Ya, Pak Thom?” Kadek menatapku bingung, kami sudah belasan kilometer meninggalkan dermaga yacht Sunda Kelapa, kabur dari polisi yang membabi-buta menembaki kapal.

    “Kita kembali ke Jakarta.” Aku menjawab dingin.

    Kadek menelan ludah.

    “Lakukan saja, Kadek.” Aku mengangguk yakin.

    Lima menit lalu aku memastikan Opa dan Om Liem baik-baik saja. Seluruh kapal juga baik, mesin, sistem sanitasi, air, gudang, logistik dan sebagainya baik. Lima menit berpikir cepat, tidak, lari ke Manila hanya membuat situasi semakin buruk.

    Aku akan mengambil mata dadu terbaik dalam pertarungan ini. Kembali ke Jakarta.

    Profesor sekolah bisnis menepuk bahuku setelah kelas usai, ruangan besar lengang, “Kau muridku yang paling birllian, Thomas. Tidak sekadar soal logika, tapi gesture wajah, senyuman, bahkan tatapan mata yang berkelas. Itu tiket pulang pergi ke Texas, Thomas. Kalau kau mau, kau bisa bergabung bersamaku menaklukkan kasino-kasino besar di sana. Kita bertaruh dengan kemenangan di tangan. Kau bisa membawa pulang ratusan ribu dollar dari kunjungan singkat dua hari di sana. Mau?”

    Aku tertawa, “Aku harus mengerjakan paper dari Anda, Prof.”



    ***bersambung

    kalau kalian tetap tdk paham logika permainan tiga kotak, maka jgn membantah lewat komen kalian, apalagi bilang tdk mungkin, sama saja, dll, kalian hanya akan mempermalukan diri sendiri.

  20. #60
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas -- Episode 27
    by Darwis Tere Liye on Friday, May 6, 2011 at 9:56am

    “Pak Thom naik apa? Kita tidak punya kendaraan di dermaga.” Kadek mensejajari langkahku, bergegas menyerahkan S&W, aku menyuruhnya mengambil revolver itu dari kamar.

    PACIFIC sudah sempurna merapat—di bagian dermaga lain. Dari geladak kapal, sebenarnya dengan binokuler bisa terlihat tidak ada polisi yang berjaga di dermaga semula kapal tadi tertambat, tapi aku memutuskan merapat di bagian lain.

    “Aku naik taksi, Kadek.”

    “Taksi?” Kadek menyeringai.

    Aku menoleh, sambil memasang revolver di pinggang, “Naik apalagi? Aku menelepon call center mereka lima menit lalu, salah-satu mobilnya segera ke dermaga.”

    “Pak Thom akan berperang dengan naik taksi?”

    Aku tertawa kecil, “Aku tidak pergi berperang, Kadek. Ini hanya untuk berjaga-jaga.”

    Melambaikan tangan pada Opa dan Om Liem yang berdiri di balik jendela kamar dengan tirai tersingkap. Berjalan cepat ke tempat taksi terparkir rapi, membuka pintu, menghempaskan badan di jok mobil, menyebut alamat kantorku—tujuan pertama pagi ini, aku harus mengambil salinan dokumen Bank Semesta dari Maggie.

    “Bergegas. Semakin ngebut kau, semakin banyak tips yang kuberikan.”

    Sopir taksi mengangguk senang. Ditilik dari gurat wajah mudanya, jelas dia bosan dengan aturan main harus mengendarai kendaraan hati-hati dan nyaman, belum lagi sticker di pintu mobil, laporkan ke nomor telepon ini jika pengemudi ugal-ugalan. Aku merestuinya, dia segera menekan pedal gas, sambil membanting setir, taksi berbelok, meluncur cepat meninggalkan dermaga yacht.

    Lima menit, mobil sudah melintas di tol, lengang, minggu pagi, langsung menuju pusat kota.

    Aku meraih telepon genggam, saatnya menghubungi beberapa orang.

    “Astaga, Thomas! Kau dari mana saja?”

    Ram, adalah orang pertama, dan aku sedikit menyesal menghubunginya lebih dulu.

    “Aku menelepon kau sejak pukul sepuluh tadi malam, Thomas. Telepon genggam kau tulalit. Berkali-kali, berkali-kali, kau membuatku terjebak serba-salah menghadapi puluhan nasabah Bank Semesta. Wajah-wajah cemas, meminta penjelasan, bahkan mereka berteriak-teriak marah tidak sabaran. Mereka minta segera kepastian, ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kau gila, Thom, kemana kau sebenarnya tadi malam, aku tidak bisa menangani mereka sendirian. Setengah jam lebih aku berusaha menahan mereka, bersabar, menyuruh mereka menunggu hingga kau datang. Sial, jangankan hidung dan dahi kau, telepon genggam kau mati.”

    “Rileks, Ram.” Aku menyela sebelum kalimat keluhan (sekaligus laporan) Ram tidak berkesudahan dan berlebihan, “Kita bisa meminta mereka kembali berkumpul, re-schedule, aku akan menjelaskan situasinya, ini hanya soal pertemuan yang tertunda.”

    Ram tertawa kecil, prihatin, “Tidak perlu, Thom. Tanpa disuruh, mereka sudah berkumpul. Pagi ini sudah separuh nasabah besar datang ke kantor pusat Bank Semesta, mendesak bertemu dengan Om Liem. Ini hari minggu, Thom, tapi mereka datang dengan wajah seperti Senin yang menyebalkan. Berdiri di depan kantor, terus menyuruh satpam membuka pintu.”

    Aku menelan ludah, itu kabar terbaru di luar dugaan. Berpikir sejenak.

    Melirik jam di dashboard taksi. Pukul 07.45, masih tiga jam lagi janji pertemuan dengan menteri. Aku harus bergerak cepat, waktuku tinggal 24 jam sebelum tenggat besok Senin, pukul 08.00 pagi.

    “Baiklah, ini menjadi lebih mudah, Ram. Bilang ke mereka, aku akan tiba di kantor lima belas menit lagi. Kita bahas segera masalah ini. Kau juga minta nasabah besar lain bergegas datang.”

    Aku mematikan telepon genggam sebelum Ram sempat berkomentar. Menjulurkan kepala ke depan, menyebut gedung tujuan baru, kantor Bank Semesta.

    Sopir taksi tidak banyak bertanya, hanya mengangguk, matanya konsentrasi penuh ke depan.

    Menekan nomor telepon kedua, Erik. Nada tunggu lama, sial, tidak diangkat-angkat. Aku hampir menutup telepon, bersiap mengumpat dalam hati, jangan-jangan dia masih tidur lelap.

    “Hallo, siapa?” Suara menguap.

Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •