Results 1 to 6 of 6

Thread: Buffalo boys

  1. #1
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,034
    Mentioned
    348 Post(s)

    Buffalo boys



    Dari PH Infinity di Batam dengan kerjasama PH luar.
    Dibintangi bintang Power Ranger, Yoshi, dan aktor kawakan Ario Bayu.

    - - - Updated - - -

    Semalam aku nonton dan aku cukup menikmatinya walau dengan berbagai kelemahan.
    Tapi layak tonton kok.

    Spoiler for Komentar setelah nonton:

    [Bukan Review] BUFFALO BOYS
    Singkat kata, kalau anda mengharapkan film koboi dengan adegan laga yang keren dan seru, film ini memberikan keinginan anda. Namun tidak lebih dari itu.

    Saya mulai dari peringatan untuk orang tua,
    film ini bukan untuk anak-anak. LSF memberi rating 17 tahun ke atas. Ada adegan tangan terpotong, mata tertusuk, leher dijerat pelan-pelan lalu korban digantung secara perlahan, adegan luka cambuk dengan darah segar mengalir, dan ada adegan pemerkosaan dalam bentuk sodomi.

    Sejak dahulu, saya selalu menganggap genre laga sebagai genre yang riskan. Sangat susah membuat keseimbangan antara drama dan laga. Kalau drama terlalu banyak, film genre ini akan membosankan sementara kalau laga terlalu banyak, film genre ini berpotensi menjadi film murahan. Biasanya, saya menonton film laga karena... ya karena laga. Kalau kebetulan ceritanya bagus, maka itu adalah bonus.

    Jalan cerita film ini terlalu menuruti pakem film koboi. Sungguh aneh, di satu sisi tampaknya pembuat film menginginkan inovasi tetapi pola cerita terlalu berpaku pada pakem genre koboi. Jangan berharap film Satay Western ini memiliki kesegaran yang sama dari segi cerita seperti Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak.

    Seperti apakah pola pakem film koboi? Kurang lebih seperti ini: Alkisah sejumlah jagoan koboi datang ke kota terpencil di mana penjahat sadis berkuasa. Jagoan-jagoan koboi ini awalnya berusaha membaur dan diterima salah satu keluarga lokal yang tinggal di pinggir kota. Terkadang, keluarga lokal ini memiliki perempuan yang berperan sekedar sebagai pelengkap penderita. Lalu, ada sebuah insiden dan keluarga lokal ini berantakan, kepala keluarga mati dan meninggalkan putri atau janda, dan akhirnya para jagoan-jagoan ini pergi ke kota menantang duel bos penjahat dan begundal-begundalnya. Akhir cerita, digambarkan para jagoan yang tersisa meninggalkan kota menuju matahari terbenam.

    Yang mungkin agak bikin nyesek penonton modern adalah, pembuat film ini awalnya ingin bikin inovasi, menciptakan karakter wanita yang sangar, keren, tetapi kemudian mereka ciut dan kembali menjadikannya sebagai pelengkap penderita. Sayup-sayup aku mendengar, "Apaaa?! Pevita Pearce ternyata cuma segitu doang?".

    Ya, di tengah-tengah gempuran film-film bertema wanita-wanita perkasa macam Star Wars episode 7 dan 8 ataupun Marlina, jalinan cerita BUFFALO BOYS tampak menjadi sebuah kemunduran. Ketika yang lain maju, mereka yang stagnan sesungguhnya mundur.

    Tapi ini film laga, Bung!
    Kita menonton Buffalo Boys untuk menikmati laganya dan film ini menepati janjinya.

    Sejak pertarungan awal melawan ninja, dentingan ninja dan bunyi tebasan pedang terdengar sangat merdu di telinga penggemar genre laga. Namun adegan tarung judi di kereta mengingatkan penonton bahwa genre film ini adalah Western, bukan Kungfu. Tokoh utama mungkin bisa mengelak dari tembakan tetapi bukan berarti peluru yang keluar dari pistol penjahat tidak melukai seseorang.

    Jadi, duduklah dengan manis dan nikmati satu per satu karakter di film mati terbunuh dengan berbagai cara. Tinggal pilih, mau pakai peluru, tali, kapak, pisau pendek, golok, atau hiasan dinding.

    Secara visual, film ini juga keren, mengingatkanku pada karya-karya Larry Fong yang acap bekerjasama dengan Zack Snyder. Apalagi dengan tata artistik yang bagus, dengan pilihan warna-warni yang mencolok antara coklatnya para pribumi, baju biru penjajah, hitamnya pakaian dan riasan para begundal, hijaunya pemandangan sawah, kuningnya api, dan tentu saja, merah darah yang tertumpah ke sana kemari. Memang sih, beberapa darah jelas tampak merupakan CGI tetapi tenang, tidak mengganggu seperti yang kubayangkan.

    Oh iya,
    saya menyukai karakter-karakter begundal di film ini terutama karakter yang diperankan oleh Zack Lee (Bartender) dan Hannah Al-Rashid. Selain itu, karakter algojo bertopeng yang bengis juga cukup membuat merinding.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  2. #2
    tsu's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Rainbow Trout
    Posts
    5,365
    Mentioned
    330 Post(s)
    klo dibilang kurang karakter perempuan.... ya gimana, genre western itu memang di define dengan macho talking, machismo, MALE
    walopun akhir2 ini juga banyak genre western dengan karakter perempuan kaya The Quick and the Dead, Jane's Got A Gun, tapi tetep IMHO yang keluar dari mulut wanita2 tersebut adalah macho talking, mengenai gimana mereka mampu mengatasi masalah dengan tangan sendiri

    IMHO yang mendefine genre western adalah kesendirian, rata2 jagoan western itu selalu memulai sendiri, mengurus sendiri dan menyelesaikan sendiri masalah2 nya, yang lain hanya mengikuti dia
    mungkin sama kaya genre yojimbo di Jepang

    anw, gw kayanya ga sempet nonton pilem ini, minggu depan bakalan udah ilang ni pilem.....

  3. #3
    pelanggan sejati surjadi05's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    9,281
    Mentioned
    391 Post(s)
    Quote Originally Posted by kandalf View Post


    Dari PH Infinity di Batam dengan kerjasama PH luar.
    Dibintangi bintang Power Ranger, Yoshi, dan aktor kawakan Ario Bayu.

    - - - Updated - - -

    Semalam aku nonton dan aku cukup menikmatinya walau dengan berbagai kelemahan.
    Tapi layak tonton kok.

    Spoiler for Komentar setelah nonton:

    [Bukan Review] BUFFALO BOYS
    Singkat kata, kalau anda mengharapkan film koboi dengan adegan laga yang keren dan seru, film ini memberikan keinginan anda. Namun tidak lebih dari itu.

    Saya mulai dari peringatan untuk orang tua,
    film ini bukan untuk anak-anak. LSF memberi rating 17 tahun ke atas. Ada adegan tangan terpotong, mata tertusuk, leher dijerat pelan-pelan lalu korban digantung secara perlahan, adegan luka cambuk dengan darah segar mengalir, dan ada adegan pemerkosaan dalam bentuk sodomi.

    Sejak dahulu, saya selalu menganggap genre laga sebagai genre yang riskan. Sangat susah membuat keseimbangan antara drama dan laga. Kalau drama terlalu banyak, film genre ini akan membosankan sementara kalau laga terlalu banyak, film genre ini berpotensi menjadi film murahan. Biasanya, saya menonton film laga karena... ya karena laga. Kalau kebetulan ceritanya bagus, maka itu adalah bonus.

    Jalan cerita film ini terlalu menuruti pakem film koboi. Sungguh aneh, di satu sisi tampaknya pembuat film menginginkan inovasi tetapi pola cerita terlalu berpaku pada pakem genre koboi. Jangan berharap film Satay Western ini memiliki kesegaran yang sama dari segi cerita seperti Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak.

    Seperti apakah pola pakem film koboi? Kurang lebih seperti ini: Alkisah sejumlah jagoan koboi datang ke kota terpencil di mana penjahat sadis berkuasa. Jagoan-jagoan koboi ini awalnya berusaha membaur dan diterima salah satu keluarga lokal yang tinggal di pinggir kota. Terkadang, keluarga lokal ini memiliki perempuan yang berperan sekedar sebagai pelengkap penderita. Lalu, ada sebuah insiden dan keluarga lokal ini berantakan, kepala keluarga mati dan meninggalkan putri atau janda, dan akhirnya para jagoan-jagoan ini pergi ke kota menantang duel bos penjahat dan begundal-begundalnya. Akhir cerita, digambarkan para jagoan yang tersisa meninggalkan kota menuju matahari terbenam.

    Yang mungkin agak bikin nyesek penonton modern adalah, pembuat film ini awalnya ingin bikin inovasi, menciptakan karakter wanita yang sangar, keren, tetapi kemudian mereka ciut dan kembali menjadikannya sebagai pelengkap penderita. Sayup-sayup aku mendengar, "Apaaa?! Pevita Pearce ternyata cuma segitu doang?".

    Ya, di tengah-tengah gempuran film-film bertema wanita-wanita perkasa macam Star Wars episode 7 dan 8 ataupun Marlina, jalinan cerita BUFFALO BOYS tampak menjadi sebuah kemunduran. Ketika yang lain maju, mereka yang stagnan sesungguhnya mundur.

    Tapi ini film laga, Bung!
    Kita menonton Buffalo Boys untuk menikmati laganya dan film ini menepati janjinya.

    Sejak pertarungan awal melawan ninja, dentingan ninja dan bunyi tebasan pedang terdengar sangat merdu di telinga penggemar genre laga. Namun adegan tarung judi di kereta mengingatkan penonton bahwa genre film ini adalah Western, bukan Kungfu. Tokoh utama mungkin bisa mengelak dari tembakan tetapi bukan berarti peluru yang keluar dari pistol penjahat tidak melukai seseorang.

    Jadi, duduklah dengan manis dan nikmati satu per satu karakter di film mati terbunuh dengan berbagai cara. Tinggal pilih, mau pakai peluru, tali, kapak, pisau pendek, golok, atau hiasan dinding.

    Secara visual, film ini juga keren, mengingatkanku pada karya-karya Larry Fong yang acap bekerjasama dengan Zack Snyder. Apalagi dengan tata artistik yang bagus, dengan pilihan warna-warni yang mencolok antara coklatnya para pribumi, baju biru penjajah, hitamnya pakaian dan riasan para begundal, hijaunya pemandangan sawah, kuningnya api, dan tentu saja, merah darah yang tertumpah ke sana kemari. Memang sih, beberapa darah jelas tampak merupakan CGI tetapi tenang, tidak mengganggu seperti yang kubayangkan.

    Oh iya,
    saya menyukai karakter-karakter begundal di film ini terutama karakter yang diperankan oleh Zack Lee (Bartender) dan Hannah Al-Rashid. Selain itu, karakter algojo bertopeng yang bengis juga cukup membuat merinding.
    Ini tah yg buat infinity studio heboh di batam, sampw anak gw juga pengen ksana
    Posted via Mobile Device
    you meet someone
    you two get close
    its all great for awhile
    then someone stops trying
    Talk less, awkward conversations, the drifting
    No communication whatsoever
    Memories start to fade
    Then the person you know become the person u knew
    That how it goes. Sad isn't it?

  4. #4
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,034
    Mentioned
    348 Post(s)
    Pada gak nonton ya?
    Keren lho.
    Sesuai harapan.
    Cuma ya terlalu klise koboy.

    Spoiler for review:

    Singkat kata, kalau anda mengharapkan film koboi dengan adegan laga yang keren dan seru, film ini memberikan keinginan anda. Namun tidak lebih dari itu.

    Saya mulai dari peringatan untuk orang tua,
    film ini bukan untuk anak-anak. LSF memberi rating 17 tahun ke atas. Ada adegan tangan terpotong, mata tertusuk, leher dijerat pelan-pelan lalu korban digantung secara perlahan, adegan luka cambuk dengan darah segar mengalir, dan ada adegan pemerkosaan dalam bentuk sodomi.

    Sejak dahulu, saya selalu menganggap genre laga sebagai genre yang riskan. Sangat susah membuat keseimbangan antara drama dan laga. Kalau drama terlalu banyak, film genre ini akan membosankan sementara kalau laga terlalu banyak, film genre ini berpotensi menjadi film murahan. Biasanya, saya menonton film laga karena... ya karena laga. Kalau kebetulan ceritanya bagus, maka itu adalah bonus.

    Jalan cerita film ini terlalu menuruti pakem film koboi. Sungguh aneh, di satu sisi tampaknya pembuat film menginginkan inovasi tetapi pola cerita terlalu berpaku pada pakem genre koboi. Jangan berharap film Satay Western ini memiliki kesegaran yang sama dari segi cerita seperti Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak.

    Seperti apakah pola pakem film koboi? Kurang lebih seperti ini: Alkisah sejumlah jagoan koboi datang ke kota terpencil di mana penjahat sadis berkuasa. Jagoan-jagoan koboi ini awalnya berusaha membaur dan diterima salah satu keluarga lokal yang tinggal di pinggir kota. Terkadang, keluarga lokal ini memiliki perempuan yang berperan sekedar sebagai pelengkap penderita. Lalu, ada sebuah insiden dan keluarga lokal ini berantakan, kepala keluarga mati dan meninggalkan putri atau janda, dan akhirnya para jagoan-jagoan ini pergi ke kota menantang duel bos penjahat dan begundal-begundalnya. Akhir cerita, digambarkan para jagoan yang tersisa meninggalkan kota menuju matahari terbenam.

    Yang mungkin agak bikin nyesek penonton modern adalah, pembuat film ini awalnya ingin bikin inovasi, menciptakan karakter wanita yang sangar, keren, tetapi kemudian mereka ciut dan kembali menjadikannya sebagai pelengkap penderita. Sayup-sayup aku mendengar, "Apaaa?! Pevita Pearce ternyata cuma segitu doang?".

    Ya, di tengah-tengah gempuran film-film bertema wanita-wanita perkasa macam Star Wars episode 7 dan 8 ataupun Marlina, jalinan cerita BUFFALO BOYS tampak menjadi sebuah kemunduran. Ketika yang lain maju, mereka yang stagnan sesungguhnya mundur.

    Tapi ini film laga, Bung!
    Kita menonton Buffalo Boys untuk menikmati laganya dan film ini menepati janjinya.

    Sejak pertarungan awal melawan ninja, dentingan ninja dan bunyi tebasan pedang terdengar sangat merdu di telinga penggemar genre laga. Namun adegan tarung judi di kereta mengingatkan penonton bahwa genre film ini adalah Western, bukan Kungfu. Tokoh utama mungkin bisa mengelak dari tembakan tetapi bukan berarti peluru yang keluar dari pistol penjahat tidak melukai seseorang.

    Jadi, duduklah dengan manis dan nikmati satu per satu karakter di film mati terbunuh dengan berbagai cara. Tinggal pilih, mau pakai peluru, tali, kapak, pisau pendek, golok, atau hiasan dinding.

    Secara visual, film ini juga keren, mengingatkanku pada karya-karya Larry Fong yang acap bekerjasama dengan Zack Snyder. Apalagi dengan tata artistik yang bagus, dengan pilihan warna-warni yang mencolok antara coklatnya para pribumi, baju biru penjajah, hitamnya pakaian dan riasan para begundal, hijaunya pemandangan sawah, kuningnya api, dan tentu saja, merah darah yang tertumpah ke sana kemari. Memang sih, beberapa darah jelas tampak merupakan CGI tetapi tenang, tidak mengganggu seperti yang kubayangkan.

    Oh iya,
    saya menyukai karakter-karakter begundal di film ini terutama karakter yang diperankan oleh Zack Lee (Bartender) dan Hannah Al-Rashid. Selain itu, karakter algojo bertopeng yang bengis juga cukup membuat merinding.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  5. #5
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,364
    Mentioned
    203 Post(s)
    Baguslah kalau ndak ada atau kurang karakter perempuan karena karakter perempuan di film-film koboi biasanya kalau ndak trouble maker (bikin jagoan rebutan) ya cewek helpless (lari dikit trus kesandung batu atau apa lah) atau jadi “perangsang” doang.

    Asal koboinya jangan brokeback mountain deh.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  6. The Following User Says Thank You to mbok jamu For This Useful Post:

    noodles maniac (Today)

  7. #6
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    14,451
    Mentioned
    442 Post(s)
    Waw ada Pevita Pearce...Mikha Tambayong...
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •