Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 21 to 30 of 30

Thread: Sarjana menganggur

  1. #21
    pelanggan tetap ga_genah's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,649
    Mentioned
    61 Post(s)
    kong @Alip butuh sarjana apah?
    sapa tau cuocok...

    @thamacaat
    pernah dengar cerita seperti itu dari teman di tempat terbitnya matahari
    saat semester akhir S1 dan mereka tidak mendapatkan panggilan utk kerja, maka opsi lainnya adalah membuat surat ke pemerintah utk "pinjam" duit untuk bayar lanjutin kuliah
    tp tidak semua spt itu, ada yg memang ngelanjutin kuliah

    pernah dengar komplain dari seorang suhu di salah satu univ terkenal di indonesia
    dia geram, saat ada lowongan D3 utk salah satu bidang ilmu
    setelah dia selidiki, di indoensia tidak ada jenjang D3 utk bidang ilmu itu, yg ada itu hanya D1 dan S1

    saat ini, pada universitas2 tertentu sudah ada program pemberian dana pinjaman utk berusaha bagi mahasiswa2 yg pnya ide ttg suatu usaha
    sumber dananya kalo ga salah dari bank mandiri
    mahasiswa2 diberi kesempatan untuk mmebuat proposal ttng rencana usahanya, diseleksi, dan mereka akan diberikan dana

  2. #22
    coba-coba
    Join Date
    Feb 2018
    Location
    Malang
    Posts
    18
    Mentioned
    0 Post(s)
    Egonya lebih tinggi aja sih menurt saya. Harusnya anak yang bukan sarjana aja gampang dapat kerja apalagi yang sarjana. Cuma ya it tadi si sarjana ini milih2 kerja
    Andalan Berbalanja Online No 1 di Indonesia ya TokoAndalan.Com

  3. #23
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    Mentioned
    31 Post(s)
    sarjana menganggur mungkin banyak alasannya, misalnya menjaga orang tua atau sudah mencoba berbagai lowongan, tapi gak diterima, dia usaha terus tapi gak berhasil,

    gak apa-apa, aku juga hampir 7 tahun baru keterima kerja tetap sebagai pegawai

    yang penting jangan pernah berhenti untuk usaha dan kreatif, karena tiap hari khan makan, kita pasti nyari cara biar makan enak tanpa harus meminta dengan orang lain

    sarjana yang punya penghasilan itu lebih menyenangkan karena kita bisa mengatur sendiri, apa yang ingin kita beli
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

  4. #24
    pelanggan
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    410
    Mentioned
    40 Post(s)
    Menurut analisis gue yang sangat ngasal ini, ada ketidakcocokan antara:

    1. Permintaan dunia usaha / ketersediaan lapangan kerja
    2. Materi yang diajarkan di bangku kuliah
    3. Gengsi dan mentalitas saat memilih kuliah

    Saat ini, dunia usaha biasanya meminta tenaga kerja yang memiliki kemampuan umum yang baik, tapi sekaligus juga memiliki skill khusus yang sangat spesifik. Skill khusus ini yang sulit untuk ditemukan, karena biasanya dilatih di dunia kerja. Bangku kuliah tidak menyediakannya, sementara pelaku usaha terkadang tidak realistis dengan mengharapkan calon tenaga kerja untuk langsung bisa melakukan apa yang menjadi inti kegiatan usahanya.

    Materi yang diajarkan di bangku kuliah, terutama S1 biasanya tidak praktis dan berkutat di tataran teori. Tidak salah tentunya, karena teori ini yang kemudian menjadi landasan berpikir. Apalagi mahasiswa S1 itu kan seharusnya bisa diajak berpikir kritis, bukan melulu untuk urusan dapat kerja atau sekedar dapat penghasilan. Ini yang kemudian gak cocok dengan permintaan industri.

    Diperparah dengan gengsi dan mentalitas dalam memilih kuliah. Ada beberapa jurusan yang sudah mengalami "inflasi". Lulusan dari jurusan itu sudah terlalu banyak, tetapi lowongan kerjanya begitu2 saja. Gue gak bilang jurusan ini jelek ya. Tapi karena memang sudah terlalu banyak saja lulusannya. Yang paling kentara itu adalah lulusan ekonomi (akuntansi dan manajemen). Jurusan ini menjadi primadona karena hampir semua kampus negeri dan swasta bisa dibilang memiliki jurusan ini (ITB saja sudah ada jurusan manajemen). Ketika lulusan ini inflasi, akhirnya yang berlaku adalah "survival of the fittest". Tidak hanya untuk urusan hard skill, tapi juga ego almamater. Jadi mungkin banyak sarjana ekonomi lulusan kampus swasta akhirnya nganggur karena kalah di urusan ego almamater.

    Padahal mungkin masih banyak jurusan lain yang sebenarnya masih menjanjikan, tapi dirasa tidak cukup keren untuk dijalani. Misalnya saja, di era "big data" seperti sekarang, orang pasti akan banyak membutuhkan sarjana yang mampu mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data. Yang gue tau sih, mahasiswa2 statistik paling jagonya soal begini.

    Jurusan statistik menurut gue belum inflasi. Baru ada 23 Kampus yang menyediakan jurusan ini, dan hanya 5 kampus yang memiliki akreditasi A (dan semuanya negeri). Bandingkan dengan akuntansi, yang disediakan oleh 601 kampus, dan 96 memiliki akreditasi A. Angka ini menurut gue sangat timpang di era "big data" yang membutuhkan lulusan statistik.

    (sila cek https://banpt.or.id/direktori/prodi/pencarian_prodi)

  5. #25
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,306
    Mentioned
    199 Post(s)
    Indikatornya sebenarnya sederhana saja

    Ada lapangan kerja yg cocok tapi jauh dari tempat tinggal
    Banyak lapangan kerja yg tidak cocok tapi dekat dengan tempat tinggal

    Masalahnya selalu klasik seperti itu, tidak ada yg ideal, alhasil harus ada yg dikorbankan, merasakan tempat kerja yg jauh atau memilih pekerjaan yg tidak sesuai dengan jurusan
    Adabana Necromancy is the winner for anime song.

  6. #26
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,377
    Mentioned
    207 Post(s)
    Bicara soal kampus, sarjana, universitas di Indonesia, terus-terang bikin sebel. Gara-gara, once upon a time, saingan sama anak dosen. Jelas simbok kalah, si anak dosen keterima, modal cengar-cengir, padahal berminat dan berbakat juga kagak di jurusan itu. Yang penting kuliah di jurusan yang keren. Terbukti, setelah kita berdua lulus, pekerjaan si anak dosen tercintah sama sekali ndak nyambung dengan ilmu yang dia pelajari, bahkan akhirnya dia nganggur. Tiap tahun ratusan anak seperti simbok menjadi korban nepotisme para dosen tercintah di negeri tumpah darahku. Anak-anak yang sebenarnya sangat berminat dan berbakat harus menguburkan dalam-dalam cita-cita mereka, mengadu nasib di seberang samudera. Looking back, now I'm thinking, do I really give a ****? Not really. The End.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  7. #27
    pelanggan
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    410
    Mentioned
    40 Post(s)
    permasalahan sarjana menganggur juga tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Amriki juga mengalami problem yang sama, ketika banyak lulusan universitas di sana kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai jurusannya. Sementara tagihan "student loan" mereka terus ada setiap bulan. Alhasil ya pusing. Sampai ada yang rela untuk ngembaliin ijazahnya asal gak usah bayar student loan, atau duitnya dibalikin.

    (lihat ceritanya di sini: https://abcnews.go.com/Business/unem...ry?id=11937494)

  8. #28
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    14,514
    Mentioned
    442 Post(s)
    Sedikit sharing...

    Saya pernah diberikan kuliah atau lebih mirip seperti nasihat singkat dari seorang praktisi industri, yang sekarang sedang berusaha merintis sebuah perguruan tinggi yang kelak akan menjembatani antara dunia industri dengan dunia akademisi. Si bapak ini demikian sedih dengan fenomena banyak lulusan akademisi yang tidak bisa bekerja dan tune-in dengan tempat kerja yakni industri. Padahal jelas lulusannya di bidang itu.
    Intinya dia bilang bahwa industri membutuhkan lulusan akademisi yang memiliki 4 hal berikut:

    1. Keahlian/skill
    2. Sikap/attitude
    3. Pengalaman/experience
    4. Sertifikat

    Kriterianya memang cukup banyak, namun ya memang begitulah faktanya yang dibutuhkan oleh industri agar akademisi bisa langsung tune-in masuk gawe kerja. Apapun jurusannya. Kembali ke topik, bahwa kenapa banyak sarjana yang menganggur ya saya setuju dengan si bapak yakni karena kriteria-kriteria tersebut tidak/belum bisa dipenuhi oleh lulusan perguruan tinggi aka sarjana-sarjana itu.
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  9. #29
    coba-coba giovanodst's Avatar
    Join Date
    May 2018
    Posts
    6
    Mentioned
    0 Post(s)
    @ga_genah :

    Wah saya baru tau kalau ternyata ada pinjaman dana untuk mahasiswa yang memang bmau buka usaha...
    Tapi emang sekarang kalau mau nyari kerjaan agak susah, tapi emang paling enak sih buka usaha sendiri dan kalau semisalnya modalnya belum ada mungkin bisa coba buat cari pinjaman uang dulu.

    Tapi kalau masih mau berusaha nyari kerjaan, semoga cepat dipertemukand engan kerjaan yang cocok ya, gaaan.
    Jangan lupa buat update cv dan portfolio semenarik mungkin.

  10. #30
    pelanggan
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    410
    Mentioned
    40 Post(s)
    berbagi sedikit kisah tentang kantor baru.

    Di kantor baru gue ini, cukup banyak karyawan yang gak nyambung blass. kuliahnya jurusan apa, posisi di kantor malah jadi nyasar kalau dibandingin sama latar belakang kuliahnya.

    Ada yang lulusan Geofisika ITB, jadi brand manager.

    Lulusan Teknik Mesin ITB, jadi supply chain finance

    Lulusan Elektro ITB, jadi plant manager.

    Lulusan Teknik Sipil Unpar, jadi corporate relations.

    Lulusan Fikom Unisba, jadi finance analyst.

    Gue sendiri, lulusan FH Unpad, masih agak dikit nyambung karena ngurus kebijakan publik, tapi sedikit gak nyambung karena ada tambahan ngurusin komunikasi (untung pernah jadi jurnalis), ngurusin CSR, dan ngurusin employee engagement (yang HRD banget).

    Ini cuma beberapa yang kebetulan gue tau dan iseng ngeliat di LinkedIn mereka masing-masing.

    jurusan dan kampus mereka itu bukan yang abal-abal. jadi memang tak seharusnya kalau udah jurusan itu, harus bekerja di bagian itu juga.

    Hal ini menunjukkan sebenarnya, di dunia industri itu gak seberapa penting si orang punya gelar sarjana apa, tapi yang diliat seberapa jauh dia bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja dan tuntutan dunia industri. Meski harus diakui, banyak lowongan di industri yang mensyaratkan jurusan yang sangat spesifik (legal pasti minta S.H., accounting pasti minta S.E.)

    Gak cuma itu, kondisi ini juga menegaskan kalau universitas itu memang bukan tempatnya para pencari kerja (karena memang menurut gue juga gak tepat kalau menjadikan universitas sebagai pabrik pekerja). Universitas itu mengajarkan logika, berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan lainnya.

    Tapi mungkin memang arahnya di Indonesia seperti itu. Ketika memilih jurusan di universitas, pemikirannya adalah: bisa bekerja di mana setelah lulus?
    Last edited by nerve_gas; 30-08-2018 at 05:18 PM.

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •