Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 28

Thread: Prosesi Unik Pemakaman Keturunan ke-14 Kerbau Kyai Slamet

  1. #1
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    9,069
    Mentioned
    541 Post(s)

    Talking Prosesi Unik Pemakaman Keturunan ke-14 Kerbau Kyai Slamet

    Yak saatnya kita berbicara ttg binatang, setelah melulu berita Aktualita ttg manusia

    Unik, Prosesi Penguburan Kerbau Bule Keraton Solo




    Kliwon, si kerbau bule, dikubur di Alun alun selatan Keraton Surakarta,Sabtu (25/5/2013).

    SOLO, KOMPAS.com - Salah satu kerbau bule milik keraton Surakarta yang diyakini keturunan dari kerbau Kyai Slamet, ditemukan mati pada Sabtu (25/5/2013) pagi oleh pawangnya, Heri Sulistyo.

    Kerbau yang diberi nama Kliwon tersebut adalah keturunan ke-14 kerbau milik Kyai Slamet, tokoh dalam Keraton Surakarta.

    Heri mengatakan, saat dirinya pergi ke kandang, dia melihat Kliwon tidak bergerak dan setelah diperiksa hewan itu sudah mati. Namun, lanjut Heri, dirinya tidak bisa memastikan kapan tepatnya kerbau milik keraton Surakarta tersebut mati.

    Abdi dalem keraton kemudian menggelar ritual penguburan Kliwon. Prosesi dipimpin salah satu abdi dalem yang duduk dekat Kliwon sambil mendoakan jasad kerbau itu, layaknya penguburan manusia.

    Sebelumya, abdi dalem menyiapkan sesaji berupa tiga ember air kembang dan kain kafan putih untuk memandikan Kliwon. Tak lupa dupa dibakar untuk menambah keheningan selama proses penguburan.

    Satu per satu abdi dalem kemudian bergantian memandikan Kliwon yang baru berumur lima bulan tersebut. Suasana khidmat mengiringi penguburan Kliwon.

    Sementara itu, liang lahat digali sedalam 1 x 1,75 meter sudah disiapkan di Alun Alun Selatan tak jauh dari kandang kerbau.

    Lalu, para abdi dalem dan warga bersama-sama mengangkat dan memasukkan kerbau yang selalu turut dalam ritual malam satu Suro di Keraton Surakarta itu ke liang lahat.

    Sang pawang sendiri mengaku tidak mendapat firasat apapun sebelumnya. Kabar matinya kerbau bule tersebut langsung membuat warga di sekitar alun alun berdatangan untuk turut meyaksikan penguburan.

    "Penasaran saja ingin melihat penguburannya, dan seperti uniknya kerbaunya dimandikan terlebih dahulu sebelum dikubur," kata Deny, seorang warga Solo kepada wartawan.

    Dengan kematian Kliwon ini maka koleksi kerbau bule keraton Solo kini tinggal 11 ekor.

    sauskecap
    simpel aja | Pohon-pohon itu telah ditanam di hati, agar riuh gaduh tak lagi mengaduh.

  2. #2
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Mentioned
    165 Post(s)
    Budaya yg sangat jauh dari islami...

  3. #3
    Barista cherryerichan's Avatar
    Join Date
    Apr 2012
    Posts
    2,501
    Mentioned
    171 Post(s)
    tadi pagi apa siang kalo g salah nonton.geleng2 kepala..

  4. #4
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    Mentioned
    402 Post(s)
    RIP Kliwon...
    semoga arwahnya dapat diterima disisi kerbo2 lainnya,
    bagi para yg punya dan para sahabat dekat Kliwon semoga ditabahkan hatinya..

  5. #5
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    9,069
    Mentioned
    541 Post(s)
    @AsLan
    kita ga ngomongin dari sisi agama yak. lebih pada kejadian, peristiwa dan budaya.


    weks salah masuk forum yak?
    simpel aja | Pohon-pohon itu telah ditanam di hati, agar riuh gaduh tak lagi mengaduh.

  6. #6
    pelanggan setia ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,825
    Mentioned
    195 Post(s)
    kok disebut kerbau bule (selain keturunan)?
    apa secara fisik ada pembedaannya juga?

    trus kerbau yang di foto pertama, itu kerbau aslinya ato patung nih? kok keliatan seperti patung

  7. #7
    pelanggan setia ul.malik's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    C.G.H City
    Posts
    2,594
    Mentioned
    17 Post(s)
    ^
    albino gu.

  8. #8
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,185
    Mentioned
    265 Post(s)
    ini kan bagian dari ritual budaya. memang ada yang menyatakan ritual agama ya?


    itu umur kliwon berapa sih? mati karena umur atau sakit?

  9. #9
    Barista cherryerichan's Avatar
    Join Date
    Apr 2012
    Posts
    2,501
    Mentioned
    171 Post(s)
    5 bulan.pawangnya sayang banget sama kliwon ya..

  10. #10
    pelanggan setia ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,825
    Mentioned
    195 Post(s)
    padahal kalo dijadiin bakso, bisa brapa mangkuk ya?

  11. #11
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    9,069
    Mentioned
    541 Post(s)
    @ndugu
    hush!! pamali

    dulu di tahun 2008, pas balik dari mana gitu.. lupa.
    karena lewat alun-alun gw sempat iseng mampir ke kandangnya
    berikut laporannya. copas dari tulisan lama gw.




    kemarin pas melintas di keraton Surakarta Hadiningrat,
    ngelewatin dua kawasan tempat di mana kerbau kyai slamet ini di kandangkan.

    Kandangnya dibuat terpisah. konon kalau digabung suka berantem.



    Ini kerbau keturunan Kyai Slamet yang tertua yang masih hidup.
    Tapi lagi sakit nih



    Ini kerbau yang sehat dan di kandang yang lebih dekat dengan si kerbau paling tua






    Kalau ini kerbau yang dikandangkan agak jauh dari saudara tertuanya.
    Yang konon suka berantem kalau dijadikan satu.


    Bagi yang belum paham apa itu kerbau Kyai Slamet. Berikut sejarah singkatnya.



    Setiap Kirab Pusaka 1 Sura yang dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam, biasanya melibatkan sekitar 600 abdi dalem yang mengusung 13 pusaka Kraton Surakarta. Di mana orangorang yang mengiringi Kirab dilakukan dengan membawa penerangan obor dan lampu ting mengelilingi kompleks Keraton.

    Konon setiap kirab pusaka Kyai Slamet selalu minta disertai kerbau. Kerbau ini bukan sembarang kerbau, namun kerbau putih (albino).

    Sehari-harinya, kerbau-kerbau yang kini jumlahnya lebih dari 10 ekor ini bisa ditemui di Sitihinggil Selatan Alun-alun Selatan Karaton Solo, namun ada kalanya kawanan ini bergerak di daerah-daerah di seputaran Solo bahkan sampai ke Ngawi, Jawa Timur! Dan anehnya setiap kali dia akan bertugas mengawal pusaka di malam 1 Sura selalu pulang.

    Hewan ini masih dianggap bertuah oleh sebagian masyarakat tradisional Solo, mungkin karena jabatannya sebagai penjaga pusaka Keraton sehingga hal ini terjadi. Namun yang jelas, tiap malam 1 Sura, kerbau-kerbau ini akan menjadi "cucuking lampah" atau pasukan pembuka jalannya kirab pusaka keraton yang pasti diadakan pada malam tersebut, dan jangan heran jika saat kebetulan menyaksikan kirab tersebut, akan terlihat beberapa orang yang mengambil dan menyimpan kotoran kerbau-kerbau itu.

    *cerita di copas dari beberapa sumber*





    pada masa Pemerintahan Pakoe Boewono II, jaman Keraton Kartasura di sekitar abad ke 17, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat ‘sinuwun’ harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan berdiam di sana untuk beberapa saat hingga pemberontakan berakhir.

    Pada masa pelariannya di Ponorogo, Sang Raja Kartasura itu memperoleh petunjuk gaib bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman sentausa dan langgeng. Kuasa Tuhan yang luar biasa pada saat itu, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan bhaktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun, tepat disaat beliau membutuhkannya.

    Kebo bule atau kerbau albino pada masa itu (mungkin juga pada masa sekarang) adalah kerbau yang sangat jarang ditemui dan dimiliki orang kebanyakan dan merupakan hewan piaraan bernilai tinggi. Maka sinuwun Paku Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.


    Secara turun temurun kerbau bule terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Menurut penuturan KRT Kalinggo Honggopuro, humas Kraton Surakarta, sebetulnya Kyai Slamet bukanlah nama kerbau. Kerbau Kyai Slamet berarti kerbau yang menjaga Kyai Slamet, sedangkan Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata yang hanya Sang Raja yang tahu dan bagi rakyat kebanyakan pusaka Kyai Slamet adalah tetap misteri sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyebut sang kerbau saja sebagai Kyai Slamet. Hingga kini kerbau Kyai Slamet telah beranak pinak dan tetap dihormati dan disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet.
    Setiap peringatan 1 Suro (Tahun Baru Hijriah 1 Muharam), Kraton selalu menyelenggarakan acara Kirab Pusaka Kraton dimana beberapa pusaka kraton di’kirab’ atau diarak keliling keraton dengan maksud sebagai penolak bala agar kraton dan rakyat jauh dari mara bahaya dan selalu diberi keselamatan. Kerbau Kyai Slamet memegang peranan penting di setiap kirab pusaka, karena sang kerbau yang kini berjumlah sekitar 7 ekor menjadi ‘cucuk lampah’ atau pembuka jalan bagi iring-iringan kirab. Bahkan konon, di masa lalu kerbau Kyai Slamet adalah sang penentu waktu, kapan waktu yang tepat Kirab Pusaka ini mulai berjalan.

    Banyak cerita seputar kerbau albino Kyai Slamet ini. Banyak saksi mata yang bilang bahwa sang kerbau suka sekali berkelana ke mana-mana, maksudnya tidak hanya di Solo tapi banyak yang bilang kalau sang kerbau yang diyakini sakti ini terlihat di berbagai tempat di Jawa Tengah seperti di Demak, Kudus dan berbagai tempat lainnya. Tidak ada yang berani menghalau sang kerbau karena mereka merasa senang ‘dikunjungi’ makhluk bertuah itu. Menariknya, setiap kali menjelang 1 Suro, sang kerbau selalu kembali ke Alun-alun Selatan Kraton, tempat dia biasa merumput. Di saat kirab pun sang kerbau tak pernah lepas dari fenomena menarik. Yang pertama adalah kesukaan sang kyai untuk minum kopi dan makan telur mentah sebelum kirab dimulai. Jika di perjalanan kirab Kyai Slamet membuang kotoran (maaf), banyak penonton akan langsung berebut kotorannya dan menyimpannya. Untuk apa? Masyarakat desa di sekitar Solo masih sangat percaya bahwa kotoran Sang Kyai bisa menyuburkan tanah pertaniannya dan menjauhkannya dari kegagalan panen.

    saus

    simpel aja | Pohon-pohon itu telah ditanam di hati, agar riuh gaduh tak lagi mengaduh.

  12. #12
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    9,069
    Mentioned
    541 Post(s)
    Gw malah binun, Kyai slamet ini sebenarnya nama sratinya atau nama pusakanya sih

    soalnya nemu versi lain :

    Kyai Slamet: Abdi Setia Sultan Agung

    Kedekatan Kyai Slamet dengan kebo bule ini lama-kelamaan menyebabkan penyebutan nama kerbau tersebut sering dipersamakan dengan nama Kyai Slamet itu sendiri. Oleh karena itu, kerbau bule sebagai hewan kelangenan Sunan Paku Buwana I ini kemudian dinamakan Kyai Slamet.


    Nisan Kyai Slamet dan Kyai Mlati

    Makam Kyai Slamet terletak di belakang kompleks makam raja-raja Mataram yang dikenal dengan nama Pajimatan Imogiri di Dusun Payaman, Kalurahan Girirejo, Kalurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.

    Lokasi makam ini dapat dicapai melalui Jalan Imogiri Barat atau Jalan Imogiri Timur ke selatan. Setelah sampai di Pasar Imogiri pengunjung dapat mengikuti jalan ke kiri (timur) menuju ke arah makam raja-raja Mataram. Lokasi makam ini berada di sisi selatan Yogya pada jarak sekitar 20 kilometer.
    Makam Kyai Slamet, yang berada dalam satu pagar dengan makam Kyai Mlati, terletak di sisi belakang kompleks makam raja-raja Mataram. Tepatnya pada sisi belakang-selatan atau di belakang kompleks makam raja-raja dari Kasunanan Surakarta.
    Kompleks makam Kyai Slamet dan Kyai Mlati diberi pengaman berupa pagar besi. Luas halaman makam sekitar 8 m x 3 m. Ketinggian pagar sekitar 1 m. Nisan makam Kyai Slamet memiliki ukuran panjang sekitar 130 cm, lebar 45 cm, dan tinggi sekitar 75 cm. Sementara nisan Kyai Mlati memiliki ukuran panjang sekitar 120 cm, lebar 40 cm, dan tinggi sekitar 60 cm.

    Kyai Slamet diduga merupakan pekathik (tukang mencari rumput) bagi kerbau bule milik Sunan Paku Buwana I (1704-1719) yang bertahta di Kartasura. Kerbau bule milik Sunan Paku Buwana I ini pada awalnya dinamakan Kebo Danu.


    Nisan Kyai Mlati, sahabat Kyai Slamet

    Tidak ada penjelasan yang memuaskan mengapa kerbau berbulu atau berkulit putih ini kemudian menjadi hewan kesayangan, yang bahkan dipusakakan oleh Sunan Paku Buwana I dan generasi sesudahnya. Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa kerbau bule memang dianggap sebagai kerbau yang bernilai tinggi dibandingkan kerbau biasa. Selain itu, hewan ternak ini juga dianggap sebagai salah simbol bahwa kerajaan di Jawa Tengah bagian selatan itu semula mendasarkan hidupnya pada bidang agraris. Kerbau adalah salah satu tanda atau simbol keagrarisan tersebut.

    Versi lain lagi menyebutkan bahwa kerbau bule yang dinamakan Kyai Slamet mulai ada di Keraton Surakarta sejak Sunan Paku Buwana II (1727-1744) yang mula-mula bertahta di Kartasura dan kemudian berpindah ke Surakarta. Kerbau bule milik Sunan Paku Buwana II ini disebutkan merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo. Kerbau bule ini diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal/pembuka jalan) untuk kirab atau perarakan pusaka Keraton Surakarta yang dinamakan Kyai Slamet. Oleh karena dipakai untuk mengiringi kirab Kyai Slamet, maka kerbau bule tersebut kemudian juga dikenal dengan nama Kyai Slamet.
    Kyai Slamet dan istri selaku pekathik ini dikenal begitu menyayangi binatang ternak yang menjadi tanggung jawabnya. Kedekatan Kyai Slamet dengan kebo bule ini lama-kelamaan menyebabkan penyebutan nama kerbau tersebut sering dipersamakan dengan nama Kyai Slamet itu sendiri. Oleh karena itu, kerbau bule sebagai hewan kelangenan Sunan Paku Buwana I ini kemudian dinamakan Kyai Slamet.
    Sementara Kyai Mlati diduga merupakan sahabat Kyai Slamet yang membantu tugas-tugas dari Kyai Slamet. Baik Kyai Slamet maupun Kyai Mlati sendiri tidak pernah diketahui dengan jelas dan rinci tentang riwayat hidupnya secara keseluruhan.


    Nisan Kyai Slamet, sang jurupelihara kerbau bule

    Oleh karena pengabdian Kyai Slamet dan Kyai Mlati dalam memelihara dan merawat kerbau bule tersebut, maka Kyai Slamet pun sangat dikasihi oleh Sunan Paku Buwana II. Ketika ia meninggal pun akhirnya dimakamkan di kompleks Pajimatan Imogiri, sekalipun berada di luar pagar kompleks makam raja-raja Mataram.


    Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website http://www.tembi.net
    simpel aja | Pohon-pohon itu telah ditanam di hati, agar riuh gaduh tak lagi mengaduh.

  13. #13
    pelanggan setia ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,825
    Mentioned
    195 Post(s)
    katanya kandangnya dipisahin biar ga brantem, brarti ada sejenis mekanisme penguncian supaya tidak tercampur. tapi kok mereka masih bisa berkelana kemana2?
    dan kalo jalan2nya sampe ke jawa timur, apakah orang2 situ akan tau ini latar belakang kerbau ini dan tidak diburu? kan jauh tuh, barangkali ngga mempunyai pandangan ato budaya yang sama, apes donk ntar

    setelah meninggalnya kliwon, masi ada kerbau2 turunan laen kan? kliwon bukan turunan kerbau terakhir kan?

  14. #14
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    9,069
    Mentioned
    541 Post(s)
    Masih ada 10 lagi kan? setelah meninggalnya kliwon *cmiiw*

    kalau dulu kadang dibiarkan keliaran
    kalau sekarang dikandangin melulu deh. *lagilagi cmiiw.

    ah justru itu "ajaib"nya si kebo kyai slamet ini.
    selalu aman, dan bisa balik kandang.
    simpel aja | Pohon-pohon itu telah ditanam di hati, agar riuh gaduh tak lagi mengaduh.

  15. #15
    pelanggan tetap hajime_saitoh's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Mataram Lombok NTB
    Posts
    1,847
    Mentioned
    15 Post(s)
    Quote Originally Posted by etca View Post
    @AsLan
    kita ga ngomongin dari sisi agama yak. lebih pada kejadian, peristiwa dan budaya.


    weks salah masuk forum yak?
    ya budaya............

  16. #16
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,648
    Mentioned
    276 Post(s)
    sapi, kebo kalo udah sore kan pulang ke kandang

  17. #17
    pelanggan setia ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,825
    Mentioned
    195 Post(s)
    Quote Originally Posted by GiKu View Post
    sapi, kebo kalo udah sore kan pulang ke kandang
    giku gembala sapi ya?



  18. #18
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,648
    Mentioned
    276 Post(s)
    saya penikmat rendang daging sapi

  19. #19
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,138
    Mentioned
    31 Post(s)
    ... ada something in the air lah, kl kebo bule itu meninggal.

    dunno what. just something.

    me just saying.
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  20. #20
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    3,951
    Mentioned
    146 Post(s)
    I think it does look suspititious.

Page 1 of 2 12 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •