PDA

View Full Version : Anda Seorang Agnostik !



keremus
10-03-2011, 10:40 PM
Suatu hari saya iseng-iseng mengisi kuis untuk mengetahui kecenderungan
keberagamaan saya. Terlepas dari validitas ataupun metodologi kuis ter -
sebut, ia memerikan hasil : Anda Seorang Agnostik.


Sebenarnya jika hendak mendefinisikan diri sendiri, saya merasa lebih sebagai
pemikir bebas yang beragama Islam:D Dulu, pernah pula saya mengisi
kuis yang modelnya kurang lebih sama dan menyimpulkan saya seorang yang
liberal.


Kembali ke saya yang katanya agnostik. Tapi pikir-pikir, mungkin me-
mang saya agnostik. Dan, berdosakah seseorang itu agnostik atau liberal ?


Saya mengutip uraian soal agnotisme. dari wikipedia :


Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai
kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan
Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.


Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif
pengetahuan tentang "Yang-Mutlak"; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara
subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.


Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.
Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak).
Arti harfiahnya "seseorang yang tidak mengetahui".

Agnostisisme tidak sinonim dengan ateisme.


Tapi meski mungkin berbakat agnostik, saya memeluk satu agama'
secara formal -tentu saja dengan pemahaman subyektif saya mengenainya.


Memangnya seorang agnostik harusnya tidak menganut agama formal ?

Tidak, bukan ?

ndugu
11-03-2011, 06:48 AM
kupikir tidak.

tapi pertanyaannya... di kasus yang terutamanya di agama yang menganut monotheisme, dan jika kemonotheisme-annya itu adalah persyaratan utama keanggotaan agama tersebut, maka apakah seseorang yang agnostik masi bisa disebut menganut agama itu? :mrgreen:

ndableg
12-03-2011, 05:07 PM
apa agnostik itu selalu mempertanyakan kemonotheistikan agama? Selama prinsipnya ga menyimpang dari akidah ya tetep menganut lah. Makanya agnostik itu cuman julukan hanya karena orang tsb toleran thd AJARAN agama lain.

ndugu
12-03-2011, 05:19 PM
yang dipertanyakan agnostik itu keberadaan tuhannya... sedangkan agama2 monoteistik kan biasa mensyaratkan untuk mempercayai keberadaan tuhan. bole dikatakan itu persyaratan utama. tapi jika persyaratan utama itu juga tidak dipenuhi, apakah dia masi penganut agama itu?

kupikir pertanyaannya, apa yang mengkualifikasikan seseorang beragama A ato tidak. apakah kepercayaan ketuhanannya itu, ato berdasarkan perilakunya ato gaya hidupnya?

ndableg
12-03-2011, 05:25 PM
Yah, kalo orang mempertanyakan/meragukan keberadaan tuhannya sendiri, ya bukan agnostik lah.. itu namanya atheis. Seorang yg agnostik bisa saja meyakini ttg keberadaan tuhannya, tapi karena agnostik is a philosopher, maka ada dipertanyakan lebih jauh ttg konsep ttg tuhannya itu. Artinya apakah tuhan itu berjanggut, ato perempuan bawa bayi, ato tukang marah2 ngecap dosa, tetep wajar apabila dipertanyakan. Biasanya agnostik kalo ditanya, kamu percaya tuhan? Pasti percaya, hanya bentuk dari tuhannya tsb tetep dipertanyakan. Biasanya agnostik jawab, I believe that there must be a creator somewhere, somehow..

ndableg
12-03-2011, 05:27 PM
kupikir pertanyaannya, apa yang mengkualifikasikan seseorang beragama A ato tidak. apakah kepercayaan ketuhanannya itu, ato berdasarkan perilakunya ato gaya hidupnya?

Kepercayaannya. Dan tingkat keimana tiap2 orang itu beda2. Ada yg hanya sampe dihati, sampe dimulut, ada yg sampe kesekujur tubuhnya termasuk berprilaku dan berpikir.

ndugu
13-03-2011, 03:49 AM
kalo pengertian saya mengenai agnostik tidak demikian. kupikir agnostik tidak bisa mengkonfirmasi ada ato tidaknya tuhan. sedangkan agama monotheistik kan mutlak harus percaya adanya tuhan. tapi kalo agnostik percayanya keberadaan tuhan tidak bisa diketahui / dipastikan, nah gimana donk.

ndableg
13-03-2011, 07:41 AM
Yah sapa juga yg bisa konfirmasi keberadaan tuhan. Wong tuhannya sendiri ga keliatan. Yg ada kan PERCAYA akan keberadaan tuhan, bukan TAHU keberadaan tuhan. Kecuali sok tau..

AsLan
13-03-2011, 10:50 AM
nah Agnostik itu gak percaya Tuhan itu ada, juga gak percaya Tuhan itu gak ada, mereka kekeuh mengatakan bahwa mereka gak tau.
Beda dengan orang Atheis yg yakin atau percaya tuhan tidak ada.

ndableg
13-03-2011, 05:49 PM
Ya mungkin ada karena ada lagi term Atheistic Agnostic dan Theistic agnostic. Tapi percaya ndak percaya toh? Bukan tahuuu...

ndugu
14-03-2011, 07:06 AM
bagaimana kalo mereka percaya 'tuhan itu tidak bisa diketahui'? :mrgreen:

AsLan
14-03-2011, 02:51 PM
Percaya itu tidak harus tahu.
Misalnya saya bilang pada ndugu bahwa saya ini laki2, lalu ndugu percaya.

Kita lihat petunjuk arah di jalan tol "Bogor 60km" kita percaya padahal kita tidak pernah mengukur dengan meteran jarak dari situ ke bogor.
Kita makan sesuatu kita percaya makanan itu tidak beracun padahal kita tidak pernah meneliti dilaboratorium.

Rata2 hampir seluruh hidup kita mengambil keputusan2 atas dasar percaya, bukan atas dasar tahu.

keremus
15-03-2011, 08:24 AM
bagaimana kalo mereka percaya 'tuhan itu tidak bisa diketahui'? :mrgreen:

Menurut saya sih, Tuhan memang tidak bisa diketahui.
Tuhan dirasakan secara instingtif, bagi yang beriman
Kitab suci hanya membantu menyederhanakan Tuhan buat manusia

Makanya dalam kitab-kitab agama samawi, Tuhan kadang-kadang
terasa anthromorphis : Ia bisa marah, Tidak Suka, Senang, Murka, Menghukum.

Ia seperti kita, bukan?

AsLan
15-03-2011, 11:39 AM
Kebalik, kita ini seperti Tuhan karena kita diciptakan menurut "blue print" nya Tuhan.
Tapi dengan perbedaan kualitas.

Itu sebabnya kita punya rasa keadilan, kita punya rasa Moral, kita punya kesadaran Hukum, kita punya hati nurani, kita punya cinta kasih dll Semua karena kita mewarisi sifat2 "orang tua" yg asli yaitu Tuhan. Tidak mungkin semua itu terjadi dari evolusi.

keremus
15-03-2011, 08:31 PM
Kebalik, kita ini seperti Tuhan karena kita diciptakan menurut "blue print" nya Tuhan.
Tapi dengan perbedaan kualitas.

Itu sebabnya kita punya rasa keadilan, kita punya rasa Moral, kita punya kesadaran Hukum, kita punya hati nurani, kita punya cinta kasih dll Semua karena kita mewarisi sifat2 "orang tua" yg asli yaitu Tuhan. Tidak mungkin semua itu terjadi dari evolusi.

Apa bedanya kita seperti Dia dan Dia seperti kita ?

AsLan
16-03-2011, 01:47 AM
Untuk membedakan mana yg duluan mana yg belakangan, mana yg jadi asal muasal.

Back to topic.

Seorang Agnostic bisa tanya kepada orang beragama, kamu gak tahu Tuhan itu ada atau tidak, mengapa kamu percaya Tuhan itu ada ?

Seorang Agnostic juga bisa tanya pada orang Atheis, kamu gak tahu Tuhan itu ada atau tidak, mengapa kamu percaya Tuhan itu tidak ada ?

ndableg
16-03-2011, 03:09 AM
Karena percaya tidak sama dengan tahu.
Orang tahu bisa jadi percaya atau tidak percaya, tapi orang percaya belum tentu tahu... rasanya aja sepertinya tahu..

BePe
16-03-2011, 04:32 PM
kalo mo belajar jadi orang agnostik kemana ya gan:)>-
biasanya ane ngerasa ga peduli ama keberadaan tuhan yang penting berusaha berbuat baik pada semua.
tapi kadang kalo liat kecelakaan, liat orang mati, kadang ane jadi takut gan, takut neraka:D
jadi pengin beribadah yang rajin, mungkin karena sudah terdoktrin dari kecil juga kali ya gan,

jauntyallegory
28-04-2011, 10:35 AM
Karena pendapat pribadi sah, saya mau centil beranekdot:
Kalau ditanya apakah tuhan ada,
Para percaya akan menjawab ada;
Para ateis akan menjawab tidak ada;
Para agnostik akan menjawab tidak tahu (atau diam, atau membatasi jawaban sesuai data yang ia kumpulkan);
Para gnostik akan menjawab: keberadaan tuhan tidak penting;
Para utilitarian akan menjawab: Keberadaan tuhan tidak penting, yang penting ia berguna.

beastmen85
28-04-2011, 08:52 PM
theis itu tidak ada, adanya gnostik dan agnostik

terangkan bagaimana bisa jadi murni theis tapi tidak pernah melihat tuhan? yg jelas ada sedikit keraguan

kecuali modalnya hanya PERCAYA MUTLAK, tanpa ba bi bu dan mendengar apapun

naburo
29-04-2011, 12:53 AM
Kebalik, kita ini seperti Tuhan karena kita diciptakan menurut "blue print" nya Tuhan.
Tapi dengan perbedaan kualitas.

Itu sebabnya kita punya rasa keadilan, kita punya rasa Moral, kita punya kesadaran Hukum, kita punya hati nurani, kita punya cinta kasih dll Semua karena kita mewarisi sifat2 "orang tua" yg asli yaitu Tuhan. Tidak mungkin semua itu terjadi dari evolusi.


bisa jadi tuhan itu impian kita ttg wujud kesempurnaan, dan sifat2nya adalah sifat2 yg diketahui manusia, tapi ditambah kata 'maha', dan dijadikan panutan. seperti seseorg yg menciptakan karakter superhero dan superhero tsb dijadikan idola org banyak.

dan semua bisa terjadi dari evolusi, melalui pembelajaran dan warisan genetik. moralitas jaman dulu tentu ngga sekompleks jaman sekarang, dan perkembangannya butuh waktu lama

XimenQing
17-06-2011, 10:49 PM
misalkan saya meyakini kalo TUHAN YME itu ada tapi saya percaya dia ngga sehebat yang digembar-gemborkan kitab suci dan para nabi, karena itu saya merasa ngga terlalu penting untuk menyembah dia , maka disebut apakah saya ini?

mohon petunjuknya sodara-sodara....

ndableg
18-06-2011, 12:06 AM
hebat? hebatan mana sama raden gatutkoco?

AsLan
18-06-2011, 02:33 AM
misalkan saya meyakini kalo TUHAN YME itu ada tapi saya percaya dia ngga sehebat yang digembar-gemborkan kitab suci dan para nabi, karena itu saya merasa ngga terlalu penting untuk menyembah dia , maka disebut apakah saya ini?

mohon petunjuknya sodara-sodara....

Saya pikir orang seperti anda, Keremus dan beberapa yg ada disini justru adalah orang2 yg lebih dekat pada kebenaran.

Tahukah anda bahwa banyak orang yg mengaku beragama, mengaku benar, mengaku mengenal Tuhan justru terjebak dalam ritual2 yang absurd dan melakukan tindakan2 yang jauh dari kebenaran.

Kebanyakan orang menjadi beragama bukan karena pemikiran yang mendalam, pencarian apa yg benar dan apa yg salah...
Rata2 orang menjadi beragama itu karena ikut orang tuanya, ikut masyarakat lingkungannya.

Jadi prosesnya begini:

Karena saya beragama ini, maka menurut saya agama ini benar.

Jarang ada orang yg memiliki proses berikut ini:

Karena agama ini benar, maka saya beragama ini.

Itu sebabnya Filsafat sering ditakuti oleh pemimpin2 agama, karena Fisafat mengajak orang berpikir, mengajak orang mencari kebenaran.

Agama yg jauh dari kebenaran, yang hanya dibenar2kan saja oleh pengikutnya, akan sangat goyah saat berhadapan dengan filsafat.


Sayangnya mencari kebenaran itu tidak mudah, kalaupun seseorang sudah mulai bisa melihat kebenaran pun masih tetap tidak mudah untuk mengambil langkah mengikuti kebenaran.

Bagaimana orang berani mempertanyakan sesuatu apabila ia diancam siksaan2 yang luar biasa dari sosok "tuhan" yg sangat mengerikan ?

Bagi kalian yg telah berani mempertanyakan kebenaran, saya salut.
Tapi masalah berikutnya, mampukah kalian menemukan kebenaran itu dan beranikah kalian mengikuti kebenaran itu saat kalian menemukannya ?

Alip
18-06-2011, 04:16 AM
Mau dong kuis-nya :luck:

Saya sih jarang mempertanyakan kebenaran... konsepnya kelewat tinggi...
Saya cuma kadang-kadang aja bertanya,
does it work?
What does it bring?
are there any better alternatives?

terus saya pilih jawaban yang pada saat itu terasa paling masuk akal dan membawa manfaat. Di kala lain jawabannya bisa berubah...

Kalau kata orang kebenaran itu tidak bisa dicerna akal sehat... ya, makanya saya bilang saya nggak bertanya soal kebenaran.

:nunjuk:OOT ya?

Cuma mau minta kuisnya...:joget:

E = mc˛
18-06-2011, 11:36 AM
iyah Mbah Rumus, minta dong link kuisnya. soalnya akhir2 ini saya sering bawel nanya2 ttg agama, juga lebih sering skpetis ::elaugh::

Alip
18-06-2011, 11:52 AM
^ welcome to the club :luck:

<clingak>
<clinguk>
bawel kan gak dilarang agama kan ya?
<clingak>
<clinguk>
:pencuri:

E = mc˛
18-06-2011, 11:59 AM
^ sy baru-baru ini baca "Desperately Seeking Paradise"-nya Ziauddin Sardar. buku ttg pencarian iman juga. Yang menarik, dia start keimanannya dr sikap skeptris yang besar banget. dia hampir memasuki semua aliran keagamaan dalam agamanya (Islam), mulai dr jamaah tabligh, sufi, syiah, pluralisme, dll. Dan dg bekal sikap skeptis itulah, akhirnya dia bisa memilih, (aliran) agama mana yg bisa dia pilih.

sayangnya, dia perlu waktu puluhan tahun utk sampai ketitik "final" (sampai skrg dia katanya masih "mencari"). Tapi kan saya pengen yg instan :ninja:

nagita
04-11-2011, 12:55 AM
Met kenal semua....
Aku mantan theis, atheis, agnostic... dan sekarang Half Catolic & Free Thinker. Bingung kan? Punya paham dan keyakinan sendiri. hmm... ::maap::

Pencari Kebenaran
29-12-2011, 03:27 PM
Suatu hari saya iseng-iseng mengisi kuis untuk mengetahui kecenderungan
keberagamaan saya. Terlepas dari validitas ataupun metodologi kuis ter -
sebut, ia memerikan hasil : Anda Seorang Agnostik.


Sebenarnya jika hendak mendefinisikan diri sendiri, saya merasa lebih sebagai
pemikir bebas yang beragama Islam:D Dulu, pernah pula saya mengisi
kuis yang modelnya kurang lebih sama dan menyimpulkan saya seorang yang
liberal.


Kembali ke saya yang katanya agnostik. Tapi pikir-pikir, mungkin me-
mang saya agnostik. Dan, berdosakah seseorang itu agnostik atau liberal ?


Saya mengutip uraian soal agnotisme. dari wikipedia :


Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai
kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan
Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.


Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif
pengetahuan tentang "Yang-Mutlak"; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara
subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.


Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.
Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak).
Arti harfiahnya "seseorang yang tidak mengetahui".

Agnostisisme tidak sinonim dengan ateisme.


Tapi meski mungkin berbakat agnostik, saya memeluk satu agama'
secara formal -tentu saja dengan pemahaman subyektif saya mengenainya.


Memangnya seorang agnostik harusnya tidak menganut agama formal ?

Tidak, bukan ?




Met Kenal
Gua juga sebenarnya seorang Agnostik Bro (walaupun dalam KTP beragama::doh::),
tapi seperti kata bro aslan aku lebih suka disebut FILOSOFIS ketimbang dibilang agnostik , karena konotasinya berbeda::ungg::.
makanya kaum beragama pada gak suka debat ama gua di forum (biasanya senjata pemungkas terakhir mereka adalah mentok pada kata "PERCAYA SAJA" ato yang ekstrim lagi bahasa kebun binatang yang kluar::maap::).
yang rada alot itu kalo debat ama atheis::arg!::::arg!::, soalnya atheis tu butuh bukti dan bukan debat,,,,,,..

tapi sekarang rada malas gua debat, ngabisin tenaga dan waktu doank. kaga ada manfaatnya,

Peace untuk smua......::maap::::maap::::maap::

---------- Post added at 03:27 PM ---------- Previous post was at 03:20 PM ----------


kalo mo belajar jadi orang agnostik kemana ya gan:)>-
biasanya ane ngerasa ga peduli ama keberadaan tuhan yang penting berusaha berbuat baik pada semua.
tapi kadang kalo liat kecelakaan, liat orang mati, kadang ane jadi takut gan, takut neraka:D
jadi pengin beribadah yang rajin, mungkin karena sudah terdoktrin dari kecil juga kali ya gan,


Kita saling belajar aja bro,...sesama Pencari kebenaran
sharing pengetahuan,
kalo mau ada yang dtanya email ajah, siapa tau bisa membantu (tapi tidak menjamin bisa menjawab,pengetahuan saya juga masih terbatas::nangis::).
ato bisa sharing di forum ini, pasti banyak teman2 yang mau membantu...

ok deh::bye::

pasingsingan
30-12-2011, 10:18 AM
weeh
selamat datang n bergabung diKM kop Pencari Kebenaran
disini pelanggan dng latar belakang apapun diperlakukan sama
debat, diskusi, dialog menjurus panas boleh2 saja
tapi menghujat, mencaci menyerang diri pribadi
mohon maaf, akan kami kontrol dng ketat.

so, feel free aja
silakan join dilapak yng anda minati


salam :D

sedgedjenar
31-12-2011, 07:25 AM
misalkan saya meyakini kalo TUHAN YME itu ada tapi saya percaya dia ngga sehebat yang digembar-gemborkan kitab suci dan para nabi, karena itu saya merasa ngga terlalu penting untuk menyembah dia , maka disebut apakah saya ini?

mohon petunjuknya sodara-sodara....

ah, buat apa pusing tentang sebutan sih ?
yang penting kualitas hidup ente gimana ?
hidup tenang gak ? rejeki berlimpah gak ? hubungan ente dengan lingkunganbaik gak ? banyakan mana musuh sama temen ?

kalo soal tuhan, setiap manusia udah disetting pasti akan mencari tuhan
udah diberi akal yang akan bertanya2
cepat atau lambat ente juga akan tau tuhan
gak usah peduli proses, gak harus lewat agama (tapi kalo pake agama lebih gampang)

jadi, enjoy aja

ndableg
31-12-2011, 04:19 PM
::itrocks:: setuju pak'eee...
Kayak selebriti aje mikirin sebutan..

Pencari Kebenaran
02-01-2012, 08:19 PM
weeh
selamat datang n bergabung diKM kop Pencari Kebenaran
disini pelanggan dng latar belakang apapun diperlakukan sama
debat, diskusi, dialog menjurus panas boleh2 saja
tapi menghujat, mencaci menyerang diri pribadi
mohon maaf, akan kami kontrol dng ketat.

so, feel free aja
silakan join dilapak yng anda minati


salam :D


slam kenal mas admin,
thanks sudah diterima di forum..

wah, kalo saya kayanya jarang tuh menyerang secara personal, apalagi kalo menghujat/mencaci/dan sjenisnya::ungg::.
saya lebih suka debat untuk menambah wawasan aja dan berbagi ilmu saja bro..

hanya saja kalo di beberapa furum yang aneh2 (diluar), yang sering saya terima adalah caci dan maki::nangis::, entah knapa saya juga kurang mengerti. padahal saya selalu berusaha sopan dan menghargai dalam menanggapi pendapat orang lain::maap::.
kalo diforum ini kayaknya aman deh....


peace semua

oh ya met tahun baru 2012 untuk semua....:minum2:


::itrocks::%no1

EndlessDeath
02-01-2012, 10:00 PM
Kalau saya, saya percaya akan adanya "Higher Being" yang mengatur seluruh dunia ini..

Tapi saya give a hell sama ajaran agama yang aneh2
Pokoknya yg penting, berbuat baik untuk sesama, jangan merugikan orang lain..

Dan ga usah memohon2 pada Higher Being tersebut, kalau memang sesuatu terjadi ya terjadila, entah krn usaha, kondisi, maupun keajaiban...

Soal kemana setelah mati?
sama sekali ga dipikirin...
Yang penting selama hidup saya membawa kebaikan untuk sesama..

ishaputra
25-03-2012, 10:09 PM
Memangnya seorang agnostik harusnya tidak menganut agama formal ?

Tidak, bukan ?

Ada agama yang mampu mengakomodir agnotisisme, yaitu agama Buddha. Kalo agama Abrahamik, tidak bisa. Jika anda Muslim atau Kristen, anda WAJIB hukumnya menjadi theist. Jika anda agnostik, otomatis anda murtad.

::arg!::::arg!::::arg!::

---------- Post added at 09:06 PM ---------- Previous post was at 09:05 PM ----------


Met kenal semua....
Aku mantan theis, atheis, agnostic... dan sekarang Half Catolic & Free Thinker. Bingung kan? Punya paham dan keyakinan sendiri. hmm... ::maap::

Kalau begitu, tidak bisa lagi disebut Katolik, juga tidak bisa disebut freethinker. Harus ada nama baru untuk ideologi campuran semacam itu.

---------- Post added at 09:09 PM ---------- Previous post was at 09:06 PM ----------


disini pelanggan dng latar belakang apapun diperlakukan sama.

Itulah sesungguhnya yang saya harapkan di dunia nyata. EQUALITY! Kenapa justru bisa saya dapat di dunia maya?

kepalakubus
28-03-2012, 02:54 PM
setahu saya sih, agnostik dan teis itu bukan perbandingan apple to apple. mungkin tautan artikel ini bisa lebih membantu

http://freethinker.co.uk/2009/09/25/8419/

234
23-06-2012, 12:44 AM
Kayaknya topik ini dari dulu selalu menarik ya... :mrgreen:

Oke saya coba ambil sisi lain aja: Mana yang lebih dulu muncul antara "percaya" dengan "tahu"?

Saya coba berikan contoh ilustrasi sederhana aja ndak usah bawa2 soal "Tuhan" dulu...

Misalnya kita melihat seseorang tersandung batu lalu otomatis dia melongok kebawah dan dia menemukan sebuah batu. Dus artinya dia tahu sekaligus percaya bahkan "YAKIN" bahwa yang membuatnya tersandung itu adalah batu. (Saya sengaja memberi tanda kutip pada kata "yakin" karena saya ndak akan membahas soal itu).

Persoalannya adalah...:

Pada saat antara dia sadar dirinya tersandung lalu melongok kebawah sampai tepat sebelum dia menemukan/melihat batu itu, apa yang ada di benak orang tsb? (Jangan dijawab benak orang tsb kosong alias linglung ya... ::doh::)

Jika (yang ada di benak orang tsb adalah) batu, bisakah disebut pada saat itu orang tsb tahu? Atau itu bukan tahu tapi percaya? Atau malah dua2nya (tahu sekaligus percaya)? (Kalau dijawab itu bukan dua2nya ya sudah, berarti diskusinya mentok.)

Dan kita sama2 tahu (lha wong kita lihat sendiri kok) bahwa apa yang diketahui dan/atau dipercayai oleh orang tsb pada saat itu adalah BENAR.

Bagaimana jika (yang ada di benak orang tsb adalah) besi? Apakah itu disebut percaya? Atau tahu? Atau dua2nya? (Ini juga kalau dijawab itu bukan dua2nya ya sudah, berarti diskusinya mentok hehe...)


Terlepas dari, kita sama2 tahu bahwa, apa yang diketahui dan/atau dipercayai oleh orang tsb pada saat itu adalah SALAH.

***
Oya sebagai pembanding aja, supaya balik ke topik, rentang waktu antara orang tsb tersandung sampai akhirnya dia tahu dan percaya bahwa yang membuat dia tersandung itu adalah batu kan hanya sepersekian detik. Sedangkan manusia (untuk) percaya dan/atau tahu Tuhan itu rentang waktunya lebih panjang (seumur hidup)... Terlepas dari apakah yang dipercaya dan/atau diketahuinya itu benar atau salah, atau dengan kata lain, terlepas dari apakah Tuhan itu ada atau tidak ada.

Monggo di-pikir2 dulu sambil nyruput kopi... :ngopi:

purba
23-06-2012, 02:24 PM
@234

Kalau seseorang tersandung sesuatu kemudian di benaknya muncul batu, ane kira itu bukan percaya, tapi dugaan. Demikian juga dgn orang yg merasa alam ini teratur kemudian di benaknya muncul tuhan, itu juga dugaan.

Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya. Misalnya si Mamat mengatakan sandungan di gang haji Juki adalah batu. Karena ane tahu si Mamat orangnya jujur, ane menerima omongan si Mamat tsb tanpa perlu ke gang haji Juki utk membuktikannya. Itu namanya percaya.

Jika ane ke gang haji Juki dan melihat sendiri bahwa sandungan itu adalah batu, itu namanya tahu.

:))

234
25-06-2012, 02:53 PM
Kalau seseorang tersandung sesuatu kemudian di benaknya muncul batu, ane kira itu bukan percaya, tapi dugaan.
Saya sepakati. Dan saya pun sudah punya "dugaan" (adanya kemungkinan) akan munculnya jawaban seperti ini shg pada posting sebelumnya saya sisipkan kalimat "kalau dijawab itu bukan dua2nya ya sudah, berarti diskusinya mentok..."


Demikian juga dgn orang yg merasa alam ini teratur kemudian di benaknya muncul tuhan, itu juga dugaan.
Bagaimana kalau kalimat itu saya lengkapi dengan "..., sehingga (berdasarkan dugaanya tsb) orang itu percaya bahwa Tuhan itu ada." Valid kan? (Terlepas apa yang dia duga dan/atau percaya itu bernilai benar atau salah).

Anyway, saya bisa memahami cara sudut pandang anda sebagai orang yang (mengaku) atheist bahwa hal itu sebagai dugaan (asumsi, hipotesa, teori,...something like that). Sebaliknya, saya juga memahami cara sudut pandang theist yang menilai hal itu adalah ke-percaya-an.

Dan kalau kedua cara pandang itu dibenturkan, tanpa saling memahami cara pandang yang lain, menurut saya ya ndak bakal ketemu. Mentok.

Kembali ke soal "pecaya" vs "tahu"...


Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya. Misalnya si Mamat mengatakan sandungan di gang haji Juki adalah batu. Karena ane tahu si Mamat orangnya jujur, ane menerima omongan si Mamat tsb tanpa perlu ke gang haji Juki utk membuktikannya. Itu namanya percaya.
Saya, ini juga misalnya, TIDAK percaya dengan Mamat. Saya percaya dengan apa yang ada di benak saya bahwa yang disebut gang itu adalah jalan umum (untuk warga), sehingga yang muncul di benak saya adalah semen/beton yang sering disebut "polisi tidur". Saya, mungkin, percaya Mamat kalau maksudnya itu sandungan di jalan setapak menuju rumah haji Juki.

Disini point saya sekedar menambahkan bahwa untuk percaya atau tidak percaya thd sesuatu itu bisa muncul dari beberapa faktor, bukan se-mata2 pada sumber asal dari pernyataan itu.

Jika ane ke gang haji Juki dan melihat sendiri bahwa sandungan itu adalah batu, itu namanya tahu.
Oops..., kalau begitu berarti saya salah. Meskipun saya belum tahu, sekarang saya percaya bahwa itu adalah batu. Mungkin lain kali saya perlu jalan2 lewat gang haji Juki supaya tahu.

***

Kembali lagi ke soal agnostik...

Dari penuturan bang Purba diatas, CMIIW, anda sudah menjawab inti pertanyaan saya yaitu "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu". Purba, secara implisit, menjawab bahwa "percaya" muncul lebih dulu sebelum muncul "tahu".

Saya SETUJU dengan jawaban tsb, dan ini sudah cukup untuk membantah argumen berikut:


tapi pertanyaannya... di kasus yang terutamanya di agama yang menganut monotheisme, dan jika kemonotheisme-annya itu adalah persyaratan utama keanggotaan agama tersebut, maka apakah seseorang yang agnostik masi bisa disebut menganut agama itu? :mrgreen:

Ada agama yang mampu mengakomodir agnotisisme, yaitu agama Buddha. Kalo agama Abrahamik, tidak bisa. Jika anda Muslim atau Kristen, anda WAJIB hukumnya menjadi theist. Jika anda agnostik, otomatis anda murtad.

::arg!::::arg!::::arg!::
Dan saya masih bisa melenggang dengan ke-agnostik-an saya meskipun saya seorang penganut agama Abrahamik, dalam hal ini Islam. Saya ndak perlu murtad.
:ngopi:

purba
25-06-2012, 04:46 PM
@234

Di postingan sebelumnya, ane cuman mo memperjelas dulu kapan term percaya dipake. Sementara contoh ente itu (kesandung batu), menurut ane, lebih dekat ke term dugaan. Bisa saja dari dugaan kemudian menjadi percaya. Tapi term percaya setidaknya perlu informasi samping sebagai dasar utk menerima. Ane melihat percaya perlu waktu, tidak sekejap (muncul di benak), terutama ketika informasi samping sangat minim. Bisa saja ketika masih fase menduga, kemudian menjadi tahu, tanpa perlu percaya dulu. Jadi tidak melulu percaya dulu, tahu kemudian.

Kebanyakan orang beragama dari orang tua. Anak akan percaya apa yg disampaikan oleh orang tua. Orang tua adalah sebuah informasi samping yg sudah diketahui kualitasnya oleh sang anak. Seorang anak belum tentu menerima ajaran agama yg disampaikan oleh orang lain. Jadi, percaya tidak terjadi begitu saja seperti muncul di dalam benak.

Ini curious saja, kenapa ente perlu menunjukkan bahwa percaya lebih dulu terjadi dibandingkan tahu?

:))

234
25-06-2012, 05:46 PM
Di postingan sebelumnya, ane cuman mo memperjelas dulu kapan term percaya dipake. Sementara contoh ente itu (kesandung batu), menurut ane, lebih dekat ke term dugaan. Bisa saja dari dugaan kemudian menjadi percaya.
Ok.


Tapi term percaya setidaknya perlu informasi samping sebagai dasar utk menerima. Ane melihat percaya perlu waktu, tidak sekejap (muncul di benak), terutama ketika informasi samping sangat minim.
Itu juga berlaku untuk term dan/atau kondisi TIDAK percaya. Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%. Ini sering muncul dalam praktek "cuci otak" untuk mengindoktrinasi seseorang. Dalam kondisi "kosong", seseorang hanya punya satu pilihan yaitu percaya, tanpa perlu waktu.


Bisa saja ketika masih fase menduga, kemudian menjadi tahu, tanpa perlu percaya dulu. Jadi tidak melulu percaya dulu, tahu kemudian.
Ya. Seperti halnya tidak melulu TIDAK percaya dulu, tahu kemudian.


Kebanyakan orang beragama dari orang tua. Anak akan percaya apa yg disampaikan oleh orang tua. Orang tua adalah sebuah informasi samping yg sudah diketahui kualitasnya oleh sang anak. Seorang anak belum tentu menerima ajaran agama yg disampaikan oleh orang lain. Jadi, percaya tidak terjadi begitu saja seperti muncul di dalam benak.
Demikian juga orang tidak beragama karena dari orang tua. Dalam hal ini, si anak masih dalam kondisi relatif "kosong" sehingga lebih mudah percaya. Disini saya ndak melihat orang tua secara status, tetapi dalam posisinya sebagai pihak penyampai paling awal ke anak ybs.


Ini curious saja, kenapa ente perlu menunjukkan bahwa percaya lebih dulu terjadi dibandingkan tahu?
Sekedar nyari justifikasi sebagai seorang theist aja.

:ngopi:

hajime_saitoh
26-06-2012, 10:40 AM
@234

Kalau seseorang tersandung sesuatu kemudian di benaknya muncul batu, ane kira itu bukan percaya, tapi dugaan. Demikian juga dgn orang yg merasa alam ini teratur kemudian di benaknya muncul tuhan, itu juga dugaan.

Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya. Misalnya si Mamat mengatakan sandungan di gang haji Juki adalah batu. Karena ane tahu si Mamat orangnya jujur, ane menerima omongan si Mamat tsb tanpa perlu ke gang haji Juki utk membuktikannya. Itu namanya percaya.

Jika ane ke gang haji Juki dan melihat sendiri bahwa sandungan itu adalah batu, itu namanya tahu.

:))

pas banget.. itu yang dilakukan Abu Bakar assiddiq dan para sahabat yang awal2 masuk Islam.. karena mengetahui pribadi Muhammad shallohu alaihi wa sallam dan kejujurannya.. maka mereka langsung mempercayai apa yang dia bawa....

sedgedjenar
26-06-2012, 05:21 PM
Ini kalau di buddhism, cerita persisnya saya gak apal. Dibawah ini cuma mendekati aja, tapi esensinya sama

Suatu hari Sang Buddha berkumpul bersama murid2 nya. Lalu Buddha bertanya kepada sang murid, "apakah kamu percaya semua yang aku ajarkan padamu ?" Murid2 nya menjawab, "percaya". Lalu Buddha berpaling kepada seorang murid kesayangannya, lalu bertanya "bagaimana dengan kamu ? apakah kau percaya ?". Sang murid menjawab, "tidak percaya". Lalu Buddha berkata, "bagus, jangan percaya sesuatu yang belum kamu buktikan."

Makanya dalam buddha terkenal dengan konsep, ehipassiko. Datang dan buktikan sendiri.
Termasuk membuktikan keberadaan tuhan. Yang berhasil maka akan percaya, yang gak berhasil ada yang frustasi dan berhenti pada sebuah kesimpulan, ada juga yang terus menekuni mencari.

Ada yang belum mencari, cuma modal baca buku dan jurnal ilmiah lalu sampai kepada sebuah kesimpulan
Ada juga yang pokoknya percaya aja dah

Nah, dua jenis kelompok diatas itu kalo ketemu seru banget dah tuh

Anda termasuk yang mana ? *sambil kasih kaca*

purba
26-06-2012, 10:16 PM
Itu juga berlaku untuk term dan/atau kondisi TIDAK percaya. Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%. Ini sering muncul dalam praktek "cuci otak" untuk mengindoktrinasi seseorang. Dalam kondisi "kosong", seseorang hanya punya satu pilihan yaitu percaya, tanpa perlu waktu.

Ane makin gak jelas apa yg ente maksud dgn percaya. Jika semakin minim informasi samping semakin besar utk percaya, maka semakin banyak informasi samping semakin kecil utk percaya. Apa gak aneh?

Menurut ane, semakin banyak informasi samping yg dimiliki seseorang, semakin mudah utk memutuskan utk percaya atau tidak. Sebaliknya, jika semakin minim, semakin sulit utk memutuskan percaya atau tidak. Jika kosong sama sekali, bisa tidak ada keputusan.



Demikian juga orang tidak beragama karena dari orang tua. Dalam hal ini, si anak masih dalam kondisi relatif "kosong" sehingga lebih mudah percaya. Disini saya ndak melihat orang tua secara status, tetapi dalam posisinya sebagai pihak penyampai paling awal ke anak ybs.

Anak tidak dalam kondisi kosong. Isi benak mereka didominasi oleh orang tua. Orang tua itulah informasi samping terkuat yg mereka miliki. Karena itu mereka lebih mudah menerima apa yg dikatakan oleh orang tuanya dari pada orang lain.

:))

---------- Post Merged at 09:16 PM ----------



Makanya dalam buddha terkenal dengan konsep, ehipassiko. Datang dan buktikan sendiri.
Termasuk membuktikan keberadaan tuhan. Yang berhasil maka akan percaya, yang gak berhasil ada yang frustasi dan berhenti pada sebuah kesimpulan, ada juga yang terus menekuni mencari.

Itu sudut pandang ente yg merasa sudah ketemu tuhan. Cuman merasa lho ya... :)

Kalo sudut pandang ateis, ente adalah orang gagal total karena merasa sudah ketemu tuhan. :))

sedgedjenar
26-06-2012, 11:36 PM
Itu sudut pandang ente yg merasa sudah ketemu tuhan. Cuman merasa lho ya... :)

Kalo sudut pandang ateis, ente adalah orang gagal total karena merasa sudah ketemu tuhan. :))

::doh::

hanya karena saya koar-koar soal ketemu tuhan, itu tidak menjadikan saya telah ketemu tuhan om.
Tolong dicermati tulisan saya sebelumnya, siapapun disini silakan di cari disemua postingan saya kalo ada yang menemukan kata-kata saya pernah ketemu tuhan, segera pm. Yang pertama nemu nanti saya kasih pulsa.

namanya aja forum dunia maya lha
emangnye ente koar-koar soal ilmu pengetahuan dan segala ***** bengek ilmu buat modal berargumen disini otomatis menjadikan ente orang pintar ? nggak kan ?

::hihi::

234
27-06-2012, 01:22 PM
Ane makin gak jelas apa yg ente maksud dgn percaya.
Ah masa? ;)


Jika semakin minim informasi samping semakin besar utk percaya,...
Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?


...maka semakin banyak informasi samping semakin kecil utk percaya. Apa gak aneh?
Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.

Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).

Konsekuensi logisnya, semakin banyak informasi samping akan semakin lama/panjang proses penyaringannya, dus keputusan untuk percaya atau tidak percaya butuh proses lebih dibandingkan kalau informasi sampingnya minim.

Ndak ada yang aneh kok. :-)


Menurut ane, semakin banyak informasi samping yg dimiliki seseorang, semakin mudah utk memutuskan utk percaya atau tidak. Sebaliknya, jika semakin minim, semakin sulit utk memutuskan percaya atau tidak.
Bisa aja kalo mau dilihat dari cara pandang seperti itu. Tapi disini anda sudah mulai bias dgn persoalan "nilai" (benar-salah). Tipikal cara berpikir orang "eksak/science". Saya bisa maklum kok.

Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).


Jika kosong sama sekali, bisa tidak ada keputusan.
Kalo soal bisa atau ndak bisa sih saya setuju2 aja, itu terserah ybs sebagai pengambil keputusan. Tapi persoalannya disini kita sedang mbahas soal peluang.

Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?


Anak tidak dalam kondisi kosong.
Memang ndak. Saya bilang relatif kosong. Artinya relatif lebih minim dibandingkan dgn orang dewasa.


Isi benak mereka didominasi oleh orang tua.
Lebih tepatnya oleh orang (dewasa) terdekatnya. Kalau anak itu dari bayi diasuh pamannya ya dia lebih percaya pamannya daripada orang tuanya. Demikian juga kalo dia diasuh engkongnya.


Orang tua itulah informasi samping terkuat yg mereka miliki. Karena itu mereka lebih mudah menerima apa yg dikatakan oleh orang tuanya dari pada orang lain.
Kalo ini saya agak ndak mudeng maksudnya, coba anda jelaskan antara dua hal yang saya garis bawahi itu korelasinya seperti apa.

Kalo coba saya nebak2 maksudnya, ya tentu saja begitu karena antara "informasi samping" (garis bawah pertama) dengan "informasi baru" (garis bawah kedua) isinya berkesesuaian karena bersumber dari pihak yang sama (orang tua). Ya jelas anak itu langsung terima (percaya).

:ngopi:

purba
28-06-2012, 01:33 AM
Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?

Maka dari itu di awal ane memberikan definisi dulu apa yg dimaksud dgn percaya. Informasi samping bukan seperti yg ente maksudkan di atas. Mengapa? Karena ane mendefinisikan percaya sebagai menerima tanpa menuntut bukti (meski bisa dibuktikan). Kalo informasi samping yg ente maksudkan itu sudah masuk ke dalam pembuktian. Informasi samping yg ane maksud tidak terkait langsung dgn pernyataan tsb, tetapi dapat memberikan dasar utk menerima atau menolak suatu pernyataan.

Dlm contoh si Mamat tadi. Informasi sampingnya adalah pengetahuan ttg si Mamat orang jujur. Karena si Mamat jujur, maka ane menerima pernyataannya tanpa perlu ane melakukan pembuktian. Jadi kita mempercayai pernyataan seseorang karena, salah satu faktornya, kualitas orang tsb.

Contoh lain misalnya seorang mantri sunat mengatakan kolesterol dapat mengganggu jantung. Sedangkan seorang dokter spesialis jantung mengatakan kolesterol tidak mengganggu jantung. Mana yg ente percaya? Karena ente tahu bahwa dokter spesialis jantung lebih kompeten dlm hal penyakit jantung, maka ente percaya pernyataan dokter tsb dari pada pernyataan mantri sunat. Pengetahuan ttg orang itu sbg dokter spesialis jantung atau mantri sunat adalah informasi samping.



Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.

Kok jadi berbelit2. Coba lihat yg ente tulis...



Semakin minim informasi samping semakin besar peluang untuk percaya, sampai batas paling ekstrem tanpa adanya informasi samping maka peluang untuk percaya menjadi 100%.

...Lha kalo semakin banyak informasi samping semakin gimana peluang utk percaya?

Selain itu, apa yg ente maksud dgn term percaya? (ini ane tanya berulang kali)



Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).

Dlm pemahaman ane, yg ente uraikan di atas bukan percaya, tapi nilai dari sebuah pernyataan.



Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).

Kok tabrakan? Makanya ane tanya berkali2, apa yg ente maksud dgn percaya. Di atas sudah ane jelaskan apa yg dimaksud dgn percaya dan informasi samping.

Ketika ente menyodorkan masalah mana lebih dahulu percaya atau tahu, seolah2 term percaya sesuatu yg jelas dan sama bagi setiap orang. Kalo ane gak begitu. Ane berikan dulu batasan2 term percaya supaya yg terlibat dlm diskusi mengacu pada hal yg sama.



Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?

Kok orang yg menolak suatu pernyataan ente tuntut dasarnya apa, tetapi orang yg percaya ente tidak tuntut dasarnya apa. Jadi apa term percaya yg ente maksud?

:))

234
28-06-2012, 05:12 PM
Ooo...soal definisi tho.


Kalau percaya lebih ke pernyataan, persisnya menerima suatu pernyataan tanpa perlu pembuktian karena biasanya pelontar pernyataan tsb sudah diketahui kualitasnya.

Informasi samping yg ane maksud tidak terkait langsung dgn pernyataan tsb, tetapi dapat memberikan dasar utk menerima atau menolak suatu pernyataan.

Dlm contoh si Mamat tadi. Informasi sampingnya adalah pengetahuan ttg si Mamat orang jujur. Karena si Mamat jujur, maka ane menerima pernyataannya tanpa perlu ane melakukan pembuktian. Jadi kita mempercayai pernyataan seseorang karena, salah satu faktornya, kualitas orang tsb.

Contoh lain misalnya seorang mantri sunat mengatakan kolesterol dapat mengganggu jantung. Sedangkan seorang dokter spesialis jantung mengatakan kolesterol tidak mengganggu jantung. Mana yg ente percaya? Karena ente tahu bahwa dokter spesialis jantung lebih kompeten dlm hal penyakit jantung, maka ente percaya pernyataan dokter tsb dari pada pernyataan mantri sunat. Pengetahuan ttg orang itu sbg dokter spesialis jantung atau mantri sunat adalah informasi samping.
Jadi definisi anda adalah: Percaya atau tidak percaya thd suatu pernyataan itu ditentukan oleh (pengetahuan tentang kualitas) ORANG yang menyampaikan pernyataan tersebut (dalam bentuk lisan maupun tulisan tentunya, CMIIW).

Lha kalo dari awal sampeyan langsung secara eksplisit menyanggah pernyataan saya yang dibawah ini...


Disini point saya sekedar menambahkan bahwa untuk percaya atau tidak percaya thd sesuatu itu bisa muncul dari beberapa faktor, bukan se-mata2 pada sumber asal dari pernyataan itu.
...maka argumen2 saya berikutnya pun ndak akan saya bawa jauh2 dari situ.

Oke, berdasarkan definisi sampeyan diatas maka saya bisa terima argumen2 anda di posting terakhir. Saya ndak bantah.

Hanya curious aja, anda (mengaku) atheist apakah karena anda tidak percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam theism? (Jangan sampeyan puterin lagi lho ke pertanyaan "sebelum ane jawab, menurut ente apa itu definisi atheist dan apa definisi theism")

:ngopi:

---------- Post Merged at 04:12 PM ----------

Eh saya tambahin ding opsinya...:mrgreen:

...anda (mengaku) atheist apakah karena anda percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam atheism?

:ngopi:

purba
28-06-2012, 07:26 PM
Hanya curious aja, anda (mengaku) atheist apakah karena anda tidak percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam theism? [SIZE=1](Jangan sampeyan puterin lagi lho ke pertanyaan "sebelum ane jawab, menurut ente apa itu definisi atheist dan apa definisi theism")

Eh saya tambahin ding opsinya...:mrgreen:

...anda (mengaku) atheist apakah karena anda percaya dengan (kualitas) orang yang penyampaikan "pernyataan" (lisan dan/atau tulisan) dalam atheism?

:ngopi:

Lho kok selesai? Jadi mana yg lebih dulu? Percaya atau tahu? :))

Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. Juga tanpa tuhan pun, banyak hal terjelaskan dgn baik dan orang pun dapat hidup dgn baik.

Ente kira ane ateis karena percaya pernyataan si anu atau tidak percaya pernyataan si anu? Waduh... salah ente... :))

Kalo ente menuntut ane utk menjawab dua pertanyaan ente di atas maka jawabnya dua2nya "tidak". Mengapa? Karena ane ateis bukan karena tidak percaya ataupun percaya perkataan orang.

TheCursed
28-06-2012, 07:42 PM
...
Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. ....

Just curious juga, bagian mananya yang menurut kamu 'Babak Belur' ?

purba
28-06-2012, 08:06 PM
Just curious juga, bagian mananya yang menurut kamu 'Babak Belur' ?

Di topik lain saja, nanti jadi panjang lebar. Di segmen ini lagi membahas mana yg lebih dulu percaya atau tahu. Mendingan ente ikut membahas hal tsb. Apa yg ente maksud dgn percaya, tahu, mana lebih dulu tahu atau percaya, dst.

:))

TheCursed
28-06-2012, 08:09 PM
Di topik lain saja, nanti jadi panjang lebar. Di segmen ini lagi membahas mana yg lebih dulu percaya atau tahu. Mendingan ente ikut membahas hal tsb. Apa yg ente maksud dgn percaya, tahu, mana lebih dulu tahu atau percaya, dst.


Nggak pengen. Yang gue percayain, kalo di diskusikan, antara gue bakal di bilang gila, atau di ketawa-in. So, No. Yang gue percayain private sifatnya.

purba
29-06-2012, 12:21 AM
Nggak pengen. Yang gue percayain, kalo di diskusikan, antara gue bakal di bilang gila, atau di ketawa-in. So, No. Yang gue percayain private sifatnya.

Gak ada yg nanyain apa yg ente percayain, tapi apa pendapat ente ttg terminologi percaya, tahu, dst. :))

TheCursed
29-06-2012, 12:46 AM
Gak ada yg nanyain apa yg ente percayain, tapi apa pendapat ente ttg terminologi percaya, tahu, dst. :))

Gue pecaya/nggak percaya -> uji -> tahu -> kesimpulan akhir: Percaya/nggak percaya.

Gue percaya/nggak percaya pada awalnya selalu liat siapa yang ngomong. Tapi selalu lagi, gue cek lagi omongannya, ada buktinya nggak(udah keseringan di bohongin, dan ngebohongin). Kalo ada, baru gue putuskan untuk tetap nggak percaya atau jadi percaya.

Dan, yes, termasuk urusan ke-Agama-an.
Makanya, gue jadi males ngelanjutin...

234
29-06-2012, 12:32 PM
Lho kok selesai? Jadi mana yg lebih dulu? Percaya atau tahu? :))
Tergantung.


Sekarang ente mau tahu kenapa ane ateis? Karena konsep tuhan yg babak belur. Juga tanpa tuhan pun, banyak hal terjelaskan dgn baik dan orang pun dapat hidup dgn baik.

Ente kira ane ateis karena percaya pernyataan si anu atau tidak percaya pernyataan si anu? Waduh... salah ente... :))

Kalo ente menuntut ane utk menjawab dua pertanyaan ente di atas maka jawabnya dua2nya "tidak". Mengapa? Karena ane ateis bukan karena tidak percaya ataupun percaya perkataan orang.
Ok. Saya percaya. ;)

:ngopi:

purba
29-06-2012, 02:28 PM
@234

::ngakak2:: ...segitu aje? Kirain mo elaborasi lagi lebih jauh mana yg lebih dahulu, percaya atau tahu?

234
29-06-2012, 03:30 PM
Lhah kan saya bilang tergantung?

Kalo dalam ilustrasi "orang kesandung batu": (bisa) percaya dulu.
Kalo dalam ilustrasi "si Mamat cucunya haji Juki": percaya dulu.

Definisi? Haiyah! :D

Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.

Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.

Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".

Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu. ;)


:ngopi:

TheCursed
29-06-2012, 07:49 PM
Lhah kan saya bilang tergantung?

Kalo dalam ilustrasi "orang kesandung batu": (bisa) percaya dulu.
Kalo dalam ilustrasi "si Mamat cucunya haji Juki": percaya dulu.

Definisi? Haiyah! :D

Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.

Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.

Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".

Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu. ;)


:ngopi:

Eh heh heh...
Kayaknya, kalo gue tangkep dari omongan-lo: Kalo nggak tau pasti, Asumsi aja dulu. Terus coba run dengan Asumsi itu. kalo fail, bikin asumsi baru.

Gue jadi ketawa karena bikin gue inget sama komen ngaco diskusi profesor dan temen - temen gue di kelas yang ujung2nya; Temen: "Pak kalo gitu saya Asumsi soalnya salah aja ya pak ? jadi nggak usah di kerjain."
Profesor: "Eh ? OK. Saya juga Asumsi nilai kamu E, ya ? " :D

purba
29-06-2012, 08:18 PM
Lha kalo saya kasih per definisi apa itu "percaya" apa itu "tahu" saya dah nebak ntar ditengah jalan sampeyan bakal lontarin pertanyaan "menurut ente apa itu definisi bukti"...dst...dst apa definisi ini apa definisi itu.

Halagh.. sampe sekarang ente gak ngasih penjelasan apa yg ente maksud dgn percaya. Kenapa? Masih kesulitan? Gak usah berdalih entar ane menuntut definisi2 yg lain.



Itu sama aja ibarat diskusi dah jauh2 mbahas banyak proposisi2 tapi ujung2nya kalo kepentok cuman mlungker balik lagi yang dipersoalkan adalah premisnya.

Seperti yg ente lakukan sekarang ini, selalu berkelit ketika diminta utk menjelaskan percaya yg ente maksud. :))



Oke sampeyan udah mendefinisikan term "percaya", sekarang coba sampeyan definisikan apa itu "tahu", kalo perlu sekalian apa itu definisi "bukti". Saya ndak berdebat soal definisi, ini artinya, apapun definisi sampeyan saya akan percaya ("menerima tanpa perlu bukti") lalu itu kita jadikan premis untuk menjawab pertanyaan "mana yang lebih dulu muncul antara percaya dengan tahu".

Definisi kok dipercaya? Tapi ok, ane jawab lagi (sebenarnya sudah di postingan2 sebelumnya) bahwa kemunculan percaya dan tahu tidak dalam relasi dahulu-kemudian karena orang bisa tahu tanpa fase percaya. Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.



Saya jamin saya akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu. ;)


Jawablah..

:))

234
05-07-2012, 01:23 PM
Eh heh heh...
Kayaknya, kalo gue tangkep dari omongan-lo: Kalo nggak tau pasti, Asumsi aja dulu. Terus coba run dengan Asumsi itu. kalo fail, bikin asumsi baru.

Gue jadi ketawa karena bikin gue inget sama komen ngaco diskusi profesor dan temen - temen gue di kelas yang ujung2nya; Temen: "Pak kalo gitu saya Asumsi soalnya salah aja ya pak ? jadi nggak usah di kerjain."
Profesor: "Eh ? OK. Saya juga Asumsi nilai kamu E, ya ? " :D
Saya ndak tau pasti. Dan saya ndak sedang berasumsi. Silahken tanya langsung aja ke ybs.

***

Halagh.. sampe sekarang ente gak ngasih penjelasan apa yg ente maksud dgn percaya. Kenapa? Masih kesulitan? Gak usah berdalih entar ane menuntut definisi2 yg lain.

Penjelasan? Dari awal saya dah kasih melalui contoh ilustrasi kasus "orang kesandung batu". Saya bertanya sesuatu ("mana yng lebih dulu...") bukan tanpa adanya penjelasan. Kenapa penjelasannya HARUS per definisi?


Seperti yg ente lakukan sekarang ini, selalu berkelit ketika diminta utk menjelaskan percaya yg ente maksud. :))
Oke singkat saja. "Percaya" disifatkan sebagai "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". (Lain kali saya akan elaborasi/jelaskan lebih rinci.)


Definisi kok dipercaya?

Maksud saya, diterima tanpa menuntut bukti. Saya sekedar mengikuti definisi anda sendiri. Dan ini adalah bukti bahwa saya percaya dengan pernyataan (berbentuk definisi) sampeyan.

Ataukah saya harus membuat definisi sendiri yg pokoke harus beda ndak boleh sama dengan definisi yang disodorkan oleh pihak lain begitu? Emangnye ane ente!


Tapi ok, ane jawab lagi (sebenarnya sudah di postingan2 sebelumnya)...
Secara implisit saya juga dah nangkep dari posting2 sampeyan sebelumnya. Dan saya juga sudah kasih jawaban sebelumnya: Tergantung.


...bahwa kemunculan percaya dan tahu tidak dalam relasi dahulu-kemudian karena orang bisa tahu tanpa fase percaya. Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.
Kok malah ngasih bocoran jawaban? Ok, berdasarkan premis tsb maka...


Jawablah..

:))
...jawabnya: Tergantung. Mudah kan?

***
Anyway, dari contoh kasus "si Mamat" plus pernyataan terakhir sampeyan berikut ini:


Demikian juga orang bisa percaya, tanpa pernah tahu.
Bagi saya itu udah cukup untuk justifikasi saya sebagai (orang yang mengaku) agnostic-theist, ato ada yang menyebutnya dgn istilah theistic-agnostic.

Dan itu sudah sangat eksplisit menjawab persoalan yang dilontarkan oleh TS dalam topik ini, kecuali masih ada yang ingin menyanggah hal tsb.

:ngopi:

Agitho_Ryuki
05-07-2012, 02:57 PM
tolak ukurnya agnostik itu gimana seh?

fullmoonflower
05-07-2012, 03:07 PM
setahu aku, AGNOSTIK itu tidak mengakui AGAMA mana pun... mau agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll.. pokoknya tidak mengakui LABEL agama...
tapi mereka percaya bahwa TUHAN ITU ADA... bahwa ada yang berkuasa di atas dunia ini yaitu Tuhan...
dan mereka ber-Tuhan dengan cara mereka sendiri, tanpa mengikuti tata cara, undang-undang, dan hukum yang tertulis di kitab suci tiap agama, karena mereka anggap kitab suci itu hasil tulisan manusia (emang secara logika bener sih yang "menuliskannya di atas kertas" adalah dengan tangan manusia)...
mereka masih bilang : I DO BELIEVE IN GOD (but not believe in religions)

beda kalau ATHEIS benar-benar nggak mengakui adanya Tuhan.
pada umumnya mereka bilang : I DON'T BELIEVE THAT THERE IS GOD, I DO BELIEVE IN MYSELF..

234
05-07-2012, 09:43 PM
Wah kalo itu sih kembali lagi ke pengertian awal tentang apa itu agnosticism.

Term agnosticism sendiri mengalami pengembangan arti/makna sehingga muncul banyak definisi mengenainya. Sepanjang itu menyangkut sebuah definisi, saya ndak akan mempersoalkannya lha wong definisi itu cuman masalah kesepakatan pemahaman aja kok.

Tapi disini saya coba paparkan pemahaman saya tentang agnosticism dilihat dari pengertian awal (dasar)-nya. Kebetulan saya masih nemu file coretan2 saya di forum "rumah lama" (AK)...

Kata "agnostic" berasal dari "a" (yang berarti "tidak/bukan/non") dan "gnosis" (berarti "pengetahuan") sehingga, secara literer, agnostic adalah seseorang yang (mengklaim) tidak memiliki pengetahuan (tentang sesuatu). Jika dikaitkan dengan (pengetahuan tentang) eksistensi Tuhan, agnostic adalah seseorang yang tidak meng-iya-kan sekaligus tidak menyangkal eksistensi Tuhan.

Paham agnostic dikenal ada dua tipe: "soft-agnosticism" dan "hard-agnosticism". Soft-agnostic berpendapat bahwa Tuhan TIDAK diketahui. Mereka masih bisa menerima adanya pengetahuan tentang Tuhan, artinya mungkin saja ada orang2 yang tahu Tuhan (ada). Sedangkan hard-agnostic berpendapat bahwa Tuhan TIDAK DAPAT diketahui.

Ada juga yang membagi paham agnostic menjadi "limited-agnosticism" dan "unlimited-agnosticism". Limited-agnostic berpendapat bahwa manusia, karena keterbatasannya, hanya bisa tahu sebagian (some things, bukan everything) tentang Tuhan. Sedangkan unlimited-agnostic berpendapat bahwa mustahil manusia bisa tahu (anything) tentang Tuhan.

Jadi, secara definisi, agnostic penekanannya lebih kepada soal knowledge (tahu atau tidak tahu), bukan soal belief (percaya atau tidak percaya).

Sebaliknya, theist and atheist penekanannya lebih kepada belief (bukan knowledge) meskipun bisa aja ada yang mengklaim dirinya tahu (bisa berarti benar2 tahu bisa juga hanya sok tahu) bahwa Tuhan ada atau tidak ada.

Lalu manakah yang bisa disebut sebagai "agnostic (sekaligus) atheist" dan "agnostic-theist"?

Dari definisi2 diatas, soft-agnostic dan limited-agnostic bisa (tapi tidak selalu lho) dikategorikan sebagai agnostic-theist dan kelompok ini sering disebut juga sebagai skeptic (meskipun beberapa kalangan "theist/agamawan" beranggapan bahwa skeptic itu ya sami mawon dengan atheist). :mrgreen:

Sedangkan agnostic-atheist adalah dari kelompok hard-agnostic ataupun unlimited-agnostic meskipun tidak selalu hard-agnostic maupun unlimited-agnostic adalah atheist.

Dengan kata lain, agnostic-atheist bisa digambarkan sebagai orang yang tidak percaya (adanya) Tuhan dan memegang salah satu (atau lebih) paham/prinsip berikut:

- Eksistensi Tuhan tidak diketahui (unknown) atau tidak dapat diketahui (unknowable)
- Pengetahuan tentang (ada tidaknya) Tuhan itu tidak penting
- Mengabaikan klaim pengetahuan tentang keberadaan maupun ketidakberadaan Tuhan

Kalau atheist (murni) seh adalah orang yang tidak percaya (adanya) Tuhan. Itu aja. Titik.

* * *

tolak ukurnya agnostik itu gimana seh?
Kalau definisi diatas saya jadikan tolok ukur, maka saya (234) berpendapat bahwa saya adalah seorang agnostic, lebih tepatnya soft-agnostic, BUKAN limited-agnostic dan terlebih lagi BUKAN hard-agnostic maupun unlimited-agnostic. Ini kalau dilihat dari sisi knowledge.

Sedangkan kalau dari sisi belief, saya (mengaku) theist. Lebih spesifik lagi, saya seorang Muslim (pemeluk ajaran agama Islam) dan konsekuensinya, insya Allah, tanpa keraguan saya tetap menjalankan aturan main yang ada dalam ajaran agama yang saya anut. Tentu saja yang sesuai dengan apa yang saya pahami dalam agama saya.

Jadi, saya agnostic-theist. :mrgreen:

***

setahu aku, AGNOSTIK itu tidak mengakui AGAMA mana pun... mau agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll.. pokoknya tidak mengakui LABEL agama...
Kalau dilihat dari pengertian secara murni: Ya, karena agnosticism ndak bicara soal agama. Agnosticism lahir/ada dalam ranah filsafat, bukan ranah agama. Itu kalau dilihat dari disiplin bidangnya.

Tapi kalo dilihat dari orangnya, mereka bisa berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang theist/beragama, ada atheist, dan ada pemikir bebas (free thinker) yang ndak terikat dengan paham tertentu (baik itu theism maupun atheism).


tapi mereka percaya bahwa TUHAN ITU ADA... bahwa ada yang berkuasa di atas dunia ini yaitu Tuhan...
dan mereka ber-Tuhan dengan cara mereka sendiri, tanpa mengikuti tata cara, undang-undang, dan hukum yang tertulis di kitab suci tiap agama, karena mereka anggap kitab suci itu hasil tulisan manusia (emang secara logika bener sih yang "menuliskannya di atas kertas" adalah dengan tangan manusia)...
mereka masih bilang : I DO BELIEVE IN GOD (but not believe in religions)
Itu bukan agnostic. Itu deist.


beda kalau ATHEIS benar-benar nggak mengakui adanya Tuhan.
pada umumnya mereka bilang : I DON'T BELIEVE THAT THERE IS GOD, I DO BELIEVE IN MYSELF..
Kalo ini biar bang Purba yang klarifikasi. :mrgreen:

:ngopi:

---------- Post Merged at 08:43 PM ----------

Sedikit penjelasan aja... (daripada saya mesti edit beberapa kali)

Tulisan saya diatas saya ambil dari coretan2 di forum lain yang konteksnya membahas persoalan antara agnosticism vs atheism. Jadi sori kalo struktur kalimatnya jadi kurang pas. Thx.

:ngopi:

Nowitzki
06-07-2012, 12:52 AM
agnostik tidak bisa dibandingkan dengan atheis, karena pendekatannya berbeda

nih gambar yang lebih menjelaskan

http://freethinker.co.uk/wp-content/uploads/2009/09/final1.jpg

atau lebih jelasnya lagi

http://batismal.com/wp-content/uploads/2012/03/Agnostic-v-Gnostic-v-Atheist-v-Theist.png

234
06-07-2012, 12:29 PM
agnostik tidak bisa dibandingkan dengan atheis, karena pendekatannya berbeda
Ya, itu kata kuncinya. Saya pakai istilah "perbedaan cara pandang". Ini akan saya pakai untuk untuk menjelaskan persoalan "percaya (belief) vs tahu (knowledge)". Tapi ntar yaa..., masih belum dapet mood buat bikin tulisan yang agak panjang. :mrgreen:


nih gambar yang lebih menjelaskan
atau lebih jelasnya lagi
Yup. Cukup jelas.

:ngopi:

234
06-07-2012, 03:35 PM
@All

Di bagian ini saya akan jelaskan pemahaman saya tentang persoalan "percaya (belief)" vs "tahu (knowledge)". Dalam tulisan ini ada banyak term yang muncul (saya akan kasih warna hijau) dan, sekali lagi, saya ndak berdebat per definisi dari term2 tsb. Dikomentari monggo, ditambahi silahkan, dikoreksi matur nuwun, disanggah terserah,...saya ndak akan bantah/debat.

Ini sekalian untuk bayar janji saya yang ini...


Oke singkat saja. "Percaya" disifatkan sebagai "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". (Lain kali saya akan elaborasi/jelaskan lebih rinci.)

Ini akan saya pakai untuk untuk menjelaskan persoalan "percaya (belief) vs tahu (knowledge)". Tapi ntar yaa..., masih belum dapet mood buat bikin tulisan yang agak panjang.
Menurut saya, munculnya term "percaya" dan "tahu" adalah sebuah upaya manusia untuk mencoba memisahkan cara pandang thd "sesuatu" kedalam dua ranah yang berbeda, seperti hanya manusia coba memisahkan antara "rasa" vs "rasio", "alam/pikiran bawah sadar" vs "alam/pikiran sadar", dll.

"Percaya", "rasa" dan "alam bawah sadar" ada di (ditempatkan pada) ranah sama pada satu sisi, sedangkan "tahu", "rasio" dan "alam sadar" ada di ranah sama pada sisi yang lain.

Sekali lagi, itu hanya sebuah upaya pemisahan. Tapi sejatinya obyek kajiannya ya yang itu2 juga, "sesuatu" yang sama dan identik yang tersimpan di otak sebagai pusat pikiran.

Term percaya dan tahu, secara umum, sering dikaitkan dengan term "bukti" sebagai pembeda. "Percaya" disifatkan sbg "tanpa bukti", sedangkan "tahu" bersifat "ada bukti". Ini bisa dijelaskan sbb:

Bukti bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu bukti logis dan bukti empiris.

Bukti logis, dilihat dari namanya aja, sangat jelas bahwa adanya di ranah rasio (logika) ato ranah "tahu", bukan di ranah rasa ato ranah "percaya".

Bagaimana dengan bukti empiris? Sama saja. Itu adanya juga di ranah rasio, bukan ranah rasa. Lho kok?!

Oke saya akan jelaskan melalui sebuah ilustrasi aja...

Misalnya, si Fulan bertemu dengan "hantu" (terserah kalo ada yang coba iseng2 membalik suku katanya).

Itu artinya Fulan secara empiris telah membuktikan adanya hantu, dus bisa dikatakan Fulan TAHU hantu itu ada. Apakah itu artinya Fulan percaya hantu itu ada? Belum tentu! Bisa saja Fulan (tetap) TIDAK PERCAYA adanya hantu. Ini sah dan valid.

Itu menunjukkan bahwa bukti empiris itu adanya di ranah "rasio" atau "tahu", bukan di ranah "rasa" ato "percaya".

Fenomena Fulan ini sebenarnya bisa dijadikan bahan kajian tersendiri yang ndak kalah menariknya dalam dunia filsafat (baca: pemikiran), yaitu persoalan antara "realita" vs "persepsi" ato dalam kasus tsb antara "realita ttg hantu" vs "persepsi Fulan ttg hantu".

Bisa saja Fulan ngotot ngeyel mengatakan dirinya tidak tahu ada-tidaknya hantu dan Fulan jujur mengatakan hal itu, artinya Fulan benar2 merasa tidak tahu. Tapi bagaimanapun, Fulan sejatinya tahu lha wong realitanya dia ada/punya bukti empirisnya kok. Hal ini bisa terjadi akibat persepsi Fulan ttg hantu berbeda dengan realita ttg hantu itu sendiri.

Sedangkan dalam hal percaya, Fulan bebas se-bebas2nya memilih untuk percaya atau tidak percaya. Apapun alasannya, apapun motivasinya, apapun pilihannya, itu sah dan valid.

(Note: Bahkan dalam kasus lain, khususnya hal yg biasanya terkait dgn persoalan agama, banyak ditemukan adanya orang yang percaya sesuatu/pernyataan yang bersifat paradoks. Ini tetap sah dan valid. Selama ybs bisa menempatkan mana ranah rasa mana ranah rasio maka ndak akan terjadi masalah. Tapi kalo ybs coba2 ngasal seenaknya mencampur-adukkan kedua ranah tsb ya siap2 aja ybs jadi puyeng2 mumet sendiri, apalagi kalo menghadapi orang yg modelnya kayak Purba dan Ishaputra. Puyeng2 dah.)

Dari contoh ilustrasi ttg Fulan diatas dapat juga disimpulkan bahwa "percaya" bersifat "pilihan", sedangkan "tahu" bersifat "state" (kondisi/keadaan).

Ada orang percaya dan (meskipun) tidak tahu. Ini valid.
Ada orang percaya dan (karena) tahu. Ini jelas valid.
Ada orang tidak percaya dan (karena) tidak tahu. Ini juga valid.
Ada orang tidak percaya dan (meskipun) tahu. Ini tetap sah dan valid.

Bagaimana kalo term "percaya" diganti dengan term "theist", "tidak percaya" dengan "atheist", "tahu" dengan "gnostic" dan "tidak tahu" dengan "agnostic"? Dengan kata lain, adanya agnostic-theist atau theistic-agnostic, gnostic-theist (theistic-gnostic), agnostic-atheist (atheistic-agnostic) bahkan gnostic-atheist (atheistic-gnostic) semuanya itu adalah sah dan valid.

***
Btw...

Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.

Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.

Dan saya bukan saintis bukan spiritualis. Saya orang awam. Sak dermo nunut mampir ngombe...eh ngupi ding.

:ngopi:

sedgedjenar
06-07-2012, 03:47 PM
Btw...

Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.
Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.



dua diatas itu juga adalah 'state', kondisi pencapaian. Nah setelah dua diatas terlampaui akan sampai di suatu 'state'
Yaitu di bawah ini



Dan saya bukan saintis bukan spiritualis. Saya orang awam. Sak dermo nunut mampir ngombe...eh ngupi ding.

:ngopi:

:run:

purba
14-07-2012, 12:32 PM
Ada orang yang mengedepankan (bahkan mendewakan) rasio ketimbang rasa. Itu saintis. Saya sangat kagum thd para dewa saintis.

Ada orang yang mengedepankan (bahkan mengagungkan) rasa dibanding rasio. Itu spiritualis. Saya sangat respek thd para spiritualis agung.


Ane masih sulit memahami pembagian di atas. Sejauh yg ane tahu, saintis adalah sebuah profesi yg dijalankan sesuai kaidah sains dgn salah satu tahapannya adalah pembuktian empiris. Apakah spiritualis adalah sebuah profesi juga?

Jika sang Buddha termasuk spiritualis, malah gak cocok, karena dia mengedepankan rasio (ajaran2nya dijabarkan secara rasional).

:))

red_pr!nce
19-08-2012, 02:27 PM
Gw lebih condong ke GNOSTIC ATHEIST. :ngopi: