PDA

View Full Version : MLM = Working Hard? atau Working Smart?



fullmoonflower
10-03-2011, 05:19 PM
ingin sedikit mengulas bisnis yang konon bisa bikin orang jadi kaya mendadak dengan cara mudah dan dalam waktu yang singkat..

betulkah?? :tanya:

saya pribadi tidak percaya dengan sistem ini.
tapi saya lihat memang ada beberapa gelintir yang sukses, namun tidak sedikit pula yang gagal..

ada yang punya pengalaman?
atau mungkin ada yang bisa kasih tips yang berguna bagi kita2..

:manis:

AsLan
10-03-2011, 09:49 PM
Dulu saya ikut Amway.

Pada dasarnya bagus koq bisnis MLM, cuma sayang banyak oknum2 yg cara bisnisnya tidak etis, seperti memaksa, menjelek2an pihak lain, berbohong dsb...

Di bisnis konvensional juga banyak pelaku yg gak bener, jadi tergantung orangnya.

BundaNa
12-03-2011, 09:53 AM
yah pada dasarnya bisnis MLM adalah merekrut, jualan barang itu bukan yang utama. Jadi dengan banyak merekrut, dan downline kita terus belajna, uplinenya aman dan terus bisa mengejar level...kalau downline terus belanja tanpa punya downline lagi, ya gak bakal cepet naik level. Masing2 sistem memang berbeda, seperti Amway yang sistemnya piramid, sedang Oriflame selalu kembali ke poin nol begitu ganti katalog, sehingga downline punya kesempatan menyalip uplinenya atau bahkan memangkas bonus si upline.

Semua bisnis atau pekerjaan tidak ada yang sim salabim...semua harus dimulai dengan kerja keras, berani modal dan waktu. Mungkin biaya daftar di bisnis MLM ini urah, kisaran 20ribu sampe 50rebu. Tapi membeli produknya, untuk mengumpulkan poin (sebagai indikasi kita bisa naik level) juga butuh biaya yang gak sedikit. Memang produk itu bisa kita jual ke orang lain, dengan laba direct selling kisarannya 30%, tapi biasanya saking nafsu pengen naik level ada yang nutup poin dengan belanja sendiri. Atau mau gak mau beli perangkat penjualan (gak mungkin banget jualan produknya kita gak make, sekedar biar ditanya komsumen bisa jawab gitu).

Intinya bisnis MLM pun perlu modal, tenaga dan waktu yang gak sedikit (Nadia Meutia dan Dini Shanti bahkan musti bangun malem2 dan tidur lagi menjelang subuh demi mengutak-atik bisnis MLM onlinenya), kalau diitung2 malah lebih hard working dibanding pekerja kantoran biasa atau bisnis dengan cara konvensional. Cuma memang enaknya semua itu bisa dikerjakan di rumah, istilahnya masih bisa ngawasin anak-anak kita sehari-hari, walaupun entah itu optimal atau bukan.

Bisnis MLM pun ada pelatihan2 serta pertemuan2 di akhir minggu yang bisa saja menyita waktu keluarga kita kalau kita tidak pandai2 mensiasatinya.

Saya sekarang ikut Oriflame, luamayan, gak perlu lagi ngejar2 poin karena udah ada downline yang pada doyan ngejar poin saya aman hehehehehe paling2 saya banyak merekrut demi amannya level saya dari bulan ke bulan heheheheheh

Tipsnya?

Adalah bohong kalau bisnis ini gak pake modal dan gak ngurangin waktu kita dengan keluarga, juga tenaga dan pikiran...jadi ketika terjun ke bisnis MLM musti prepare modal, meski bisa dialihin untuk kebutuhan sehari2 atau dijual kembali

fullmoonflower
13-03-2011, 05:57 PM
kalo gitu mending bisnis sendiri dong.. :-?

saya melihat sistem MLM lebih menguntungkan perusahaan dan orang-orang di line paling atas atau ikut paling awal..
line yang bawah berlomba-lomba, bekerja keras, rekrut, jual, kadang-kadang bela-belain berdiri di tepi jalan untuk sebarin leaflet, atau mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang mungkin hanya akan jadi barang mubazir hanya demi menutup poin akhir bulan... sedang yang line paling atas atau yang ikut paling awal sudah kipas-kipas saja, dapat passive income tanpa kerja keras...
dan biasanya karena ikut lebih awal, pesaingnya sedikit.. sedang yang bawah sudah mulai banyak pesaing.. semakin bawah semakin sikut-sikutan karena piramid-nya semakin melebar...

mungkin pemikiran saya ini keliru.. tapi mungkin ada yang bisa memberi pencerahan... :)

ndableg
13-03-2011, 07:32 PM
Ndak ada bisnis yg bisa sukses tanpa work hard dan work smart. Tentunya mau bisnis apa aja termasuk bisnis MLM. Katanya sih ga hard, tapi tetep aja hasilnya harus hard.

Dan jelas, kalo anda ikut dalam "sekte" ini anda memperkaya orang2 di line atas, dan yg jelas anda memperkaya orang yg paling atas, dimana anda ga kenal bos anda sendiri yg telah anda bantu utk memperkaya diri.. Kalo boss anda orang baek, kalo orang rakus? Penyembah setan? Sama aja kek orang kerja di shell sih..

Makanye mending bisnis ndiri aje.. capenya sama. Kaya, ya kaya usaha sendiri lah...

fullmoonflower
13-03-2011, 07:53 PM
sepakat dengan ndableg... mending bisnis sendiri...

tapi sangat banyak orang yang tergiur dengan bisnis MLM ini...

daya tariknya apa sih?
apakah karena bisa langsung berbisnis dengan modal awal yang relatif kecil (mulai dari Rp. 20.000)?
atau emang iming-iming lain yang menggiurkan? seperti mobil mewah, rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri gratis, dll..

:-?

fullmoonflower
13-03-2011, 07:59 PM
ada lagi bisnis MLM yang tidak berjualan barang, tapi rekrut orang trus dapat bonus... :-?
nanti pada level tertentu, dia akan dapat bonus mobil, rumah, dll...

yang saya bingung... itu perusahaan kalau yang direkrut makin banyak, dan kemudian semua dapat bonus uang, mobil, rumah, dll.. di saat membernya sudah 250juta orang (misalnya seluruh penduduk Indonesia jadi member), member ke 250juta-nya dapat bagian enggak ya? kan udah habis, nggak ada yang bisa direkrut lagi.. :mrgreen:

danalingga
13-03-2011, 08:23 PM
Seperti kata BundaNa. Banyak orang berbisnis MLM karena modal awalnya (duit) nggak gede. Terus kalo punya temen banyak (jaringan) agak mudah suksesnya karena temen-temen bisa dibujuk (dipaksa) untuk ikutan. Cepat dah tuh naik levelnya.

ndableg
13-03-2011, 08:57 PM
Yg ditawarkan MLM bukan bisnis jual beli, tapi perekrutan member dgn iming2 jadi orang kaya.
Kalo modal jaman dulu ga kecil juga bisa ratusan ribu tanpa dapet apa2 cuman sampah. Jaman sekarang kan anggota dah banyak jadi bisa modal diturunin lah.. Yg penting tambah orang tambah uang..

AsLan
13-03-2011, 09:47 PM
Tolong dibedakan antara bisnis MLM (profit dari perdagangan) dengan Money Game (profit dari uangnya member dibawah)

Money Game itu joinnya musti bayar cukup mahal (kadang dikasi paket produk ecek2) uang bayaran ini dirayah oleh upline2 dan perusahaan. Intinya anggota baru dirampok oleh anggota lama, tapi kemudian dia diberi hak untuk merampok anggota yg lebih baru lagi, itulah Money Game.

MLM yg benar adalah membangun sebuah jaringan penjualan, masing2 orang mendapat profit dari penjualan. Upline dapat sebagian kecil dari omset jaringan dibawahnya. Intinya, profit diperoleh dari perdagangan produk.

BundaNa
15-03-2011, 10:14 AM
kekekek...upline di MLM juga udah diajarin strategi...artinya, jangan sampe levelnya disalip atau disamai sama downlinenya, sehingga profit dia dari downline tetep aman.

Memang MLM enggak rekrut trus dapet bonus duit atau barang, tapi ada iming2 kalau bisa rekrut berapa orang trus yang direkrut bisa belanja dengan minimal poin berapa dia dapet gift dan poin grupnya nambah, artinya, level dia ada kemungkinan aman

Saya gak bilang MLM jelek, tapi saya gak bisa bilang MLM itu easy work...tetap hard working...kenapa? Karena musti punya modal, tenaga dan waktu yang gak sedikit juga buat memperluas jaringannya dan juga mengamankan poin per katalog (contoh yang gue pake Oriflame karena ikutan disitu).

Buat saya, mau ikut bisnis MLM atau konvensional atau bahkan kerja sama orang itu pilihan, memang kalau kerjanya sama2 keras, kemungkinan yang ikut MLM lebih cepat kaya

danalingga
15-03-2011, 07:11 PM
@Aslan: profit dari jualan produk plus komisi dari referal (downline), bukan begitu?

fullmoonflower
18-03-2011, 02:44 AM
MLM yg benar adalah membangun sebuah jaringan penjualan, masing2 orang mendapat profit dari penjualan. Upline dapat sebagian kecil dari omset jaringan dibawahnya. Intinya, profit diperoleh dari perdagangan produk.

Nah, setahu saya juga seharusnya begitu..
tapi sekarang banyak MLM yang lebih fokus pada rekrut downline, bukan penjualan produk..

BundaNa
18-03-2011, 09:25 AM
fokus penjualan produk sih masih...cuman akhirnya semua member dibebani poin yang diambil dari jumlah belanjanya...tiap bulan per katalognya...di level dasar saja paling gak ada 300rebuan per bulan.

GiKu
18-03-2011, 10:08 AM
kalo sistemnya model piramid, yg akan sukses adalah orang2 di level atas
yg bawah dan paling bawah cuma bagian nonton aja

kalo money game ud jelas, member = korban
yg untung adalah orang2 yg ud balik modal + dapet duit lebih dari orang2 di bawahnya
yg lebih untung lagi si perusahaannya

tips dari saya
kalo diajak ikut pertemuan atau datang ke acara2 presentasi MLM/Money Game, perhatikan apakah ada kata kunci seperti :
- Hanya dalam waktu beberapa minggu, saya sudah mendapat sekian juta....
- Tanpa perlu kerja keras, saya sudah punya mobil, rumah, bla bla bla.....
- Saya ajak Anda karena saya pingin Anda juga bisa sukses juga seperti si anu si anu dan si anu
- Presentasi fokus pada keuntungan dari perekrutan member baru, bukan pendalaman materi produknya

kalau ada salah satu ciri di atas, boleh segera bubar jalan

BundaNa
18-03-2011, 04:08 PM
MLM sekarang juga iklannya kek di atas...nyatanya, gak ada yang easy

fullmoonflower
25-03-2011, 12:00 PM
saya belum lama ditawari MLM menjual gelang magnet..
gelang magnetnya dijual dengan harga paling murah Rp. 1.900.000,-

waktu saya tanya, berapa keuntungan yang kita peroleh dengan menjual gelang magnet itu? dijawab dengan tegas : TIDAK ADA PROFIT!, karena mereka fokus ke rekruitment...

lalu saya tanya : jika tidak ada profit, lalu darimana kita bisa dapat bonus uang, mobil, bahkan rumah?
dijawab : ya dengan rekruitment, dan harus imbang kiri dan kanan, cukup 2 saja mengisi lengan kiri dan lengan kanan, tidak boleh lebih..

saya bilang : ini bukan bisnis, tapi MONEY GAME..!
dia bilang : ini bisnis murni..... dan bla bla bla... menjelaskan segala macam...

akhirnya saya cuma beli gelangnya saja karena saya merasa nyaman ketika mencoba memakainya, hehehe...

Rumput Knight
30-03-2011, 10:19 AM
Tolong dibedakan antara bisnis MLM (profit dari perdagangan) dengan Money Game (profit dari uangnya member dibawah)

Money Game itu joinnya musti bayar cukup mahal (kadang dikasi paket produk ecek2) uang bayaran ini dirayah oleh upline2 dan perusahaan. Intinya anggota baru dirampok oleh anggota lama, tapi kemudian dia diberi hak untuk merampok anggota yg lebih baru lagi, itulah Money Game.

MLM yg benar adalah membangun sebuah jaringan penjualan, masing2 orang mendapat profit dari penjualan. Upline dapat sebagian kecil dari omset jaringan dibawahnya. Intinya, profit diperoleh dari perdagangan produk.

Tapi tetap aja kalo sistem piramida ga enak ama yang dibawah om. Apalagi kalo MLM yang produknya ga begitu dibutuhkan tapi di dewa-dewain biar orang beli.

AsLan
30-03-2011, 10:33 AM
Makanya, sekarang Money game menyamar jadi MLM.

Anggaplah MLM seperti bisnis biasa, lihat apa produknya, berapa harganya lalu dipikir apakah produk tersebut dibutuhkan orang ? apakah produk tersebut wajar harganya ?
Kalau tidak wajar, maka bisnis itu sudah cacad.
Misalnya ada sabun mandi yg harganya 150rb yg katanya mengandung garam ajaib dari laut mati bla bla bla... nah yg semacam itu pasti Money Game atau kasarnya permainan rampok merampok, upline merampok downline, down line merampok downlinenya lagi dst...

BundaNa
30-03-2011, 10:59 AM
bukannya emang kalau sistem piramid memang downline digiles ya?

AsLan
30-03-2011, 12:13 PM
Pahami dulu Prinsip dasar perdagangan :

Ada petani punya 2 karung beras, ada nelayan punya 2 keranjang ikan. Tanpa perdagangan, si petani cuma bisa makan beras dan si nelayan cuma makan ikan.

Tapi dengan adanya perdagangan maka 1 karung beras ditukar dengan 1 keranjang ikan, maka masing2 bisa makan beras dan ikan sehingga gizi mereka terpenuhi.

Ini adalah sistim perdagangan, 2 belah pihak sama2 memperoleh keuntungan karena mereka melepas barang2 yg tidak mereka butuhkan (berlebih) dan menukarnya dengan barang yg mereka butuhkan.

Itu sebabnya Perdagangan itu = HALAL

Yang berikutnya adalah Zero Sum Game / Money Game :

Si Petani dan Nelayan melempar Dadu, yg kalah harus memberikan barang milik mereka kepada yg menang.
Dengan cara ini salah satu pihak dirugikan, salah satu pihak diuntungkan.
Jumlah Keuntungan + Kerugian dari dua belah pihak = 0 maka ini disebut Zero Sum Game.

Selain cara judi bisa juga dengan cara pemaksaan atau perampokan, pencurian atau penipuan, intinya salah satu pihak dirugikan.



Maka dalam kasus MLM, ada yg murni perdagangan ada yg money game.

Perdagangan itu kalau MLM menjual barang yg dibutuhkan oleh masyarakat sehingga masyarakat dapat keuntungan (barang) si distributor dapat keuntungan (profit uang).
Money game adalah memindahkan uang dari kantong downline ke kantong upline.

Rumput Knight
30-03-2011, 12:30 PM
Pahami dulu Prinsip dasar perdagangan :

Ada petani punya 2 karung beras, ada nelayan punya 2 keranjang ikan. Tanpa perdagangan, si petani cuma bisa makan beras dan si nelayan cuma makan ikan.

Tapi dengan adanya perdagangan maka 1 karung beras ditukar dengan 1 keranjang ikan, maka masing2 bisa makan beras dan ikan sehingga gizi mereka terpenuhi.

Ini adalah sistim perdagangan, 2 belah pihak sama2 memperoleh keuntungan karena mereka melepas barang2 yg tidak mereka butuhkan (berlebih) dan menukarnya dengan barang yg mereka butuhkan.

Itu sebabnya Perdagangan itu = HALAL

Yang berikutnya adalah Zero Sum Game / Money Game :

Si Petani dan Nelayan melempar Dadu, yg kalah harus memberikan barang milik mereka kepada yg menang.
Dengan cara ini salah satu pihak dirugikan, salah satu pihak diuntungkan.
Jumlah Keuntungan + Kerugian dari dua belah pihak = 0 maka ini disebut Zero Sum Game.

Selain cara judi bisa juga dengan cara pemaksaan atau perampokan, pencurian atau penipuan, intinya salah satu pihak dirugikan.



Maka dalam kasus MLM, ada yg murni perdagangan ada yg money game.

Perdagangan itu kalau MLM menjual barang yg dibutuhkan oleh masyarakat sehingga masyarakat dapat keuntungan (barang) si distributor dapat keuntungan (profit uang).
Money game adalah memindahkan uang dari kantong downline ke kantong upline.

Setau saya sih om, kalo money game, profit itu dari uang pendaftaran / masuk yang kemudian di bagi2 in ke atas. Tapi ada benernya juga sih yang situ tulis. Ada banyak Money game yang masuk ke MLM. Modusnya ya harga produknya di upgrade tinggi. Dengan demikian harga produk = nilai barang + uang masuk.

Gw dulu pernah ikut tien**. Emang adanya gunanya dikit sih, kayak motivaso2 dan arah hidup. Tapi duit gw ilang berapa ratus ribu buat beli produk yang ga guna. Di jauhin ama temen lagi.
:nangis4:

Malesnya ikut MLM itu ya gitu, Temen pada jauh, takut dijadiin prospek.

indraprime
04-04-2011, 04:49 PM
dulu saya aktif di salah satu MLM yang katanya "Syariah/bagi hasil", setelah posisi sudah mulai bagus justru saya sadar klo selama ini terkadang yang saya omongkan itu cuma mimpi....

berhubung di MLM tersebut ada kasus yang terjadi maka saat itu juga saya mundur dari kegiatan yang sering dilakukan teman2....

setidaknya saya dapat ilmu marketing, ilmu untuk mampu berbicara didepan orang banyak.... sisanya cuma menjual mimpi ke orang lain....

so... sampai detik ini bagi saya MLM... no thanks...

itsreza
04-04-2011, 10:14 PM
Jadi inget dulu ada teman yang kasih penawaran untuk ikut program MLM. Saya tolak secara halus dan bilang bukan waktu yang tepat dan juga saya lebih berminat dengan pekerjaan konvensional. Eh dia malah mencela dan bilang kalau tidak bergabung dengan MLM dia tidak mungkin bisa sukses. Sepertinya dia terhipnotis dengan seminar MLM nya. Saya tidak tau apa tolak ukur "kesuksesan" bagi dia, tapi saya cuma melihat apa yang diutarakannya hanyalah mimpi di awan tanpa ada jembatan penghubung untuk meraihnya. Sekarang orangnya sudah insyaf dari MLM, miris juga, karena MLM dia memutuskan pertemanan dengan teman-teman yang lain yang tidak bergabung.

indraprime
05-04-2011, 10:39 AM
Jadi inget dulu ada teman yang kasih penawaran untuk ikut program MLM. Saya tolak secara halus dan bilang bukan waktu yang tepat dan juga saya lebih berminat dengan pekerjaan konvensional. Eh dia malah mencela dan bilang kalau tidak bergabung dengan MLM dia tidak mungkin bisa sukses. Sepertinya dia terhipnotis dengan seminar MLM nya. Saya tidak tau apa tolak ukur "kesuksesan" bagi dia, tapi saya cuma melihat apa yang diutarakannya hanyalah mimpi di awan tanpa ada jembatan penghubung untuk meraihnya. Sekarang orangnya sudah insyaf dari MLM, miris juga, karena MLM dia memutuskan pertemanan dengan teman-teman yang lain yang tidak bergabung.

inilah bukti cuci otaknya MLM ::elaugh::

Agitho_Ryuki
05-04-2011, 11:15 AM
dulu ada yang nawari sama saya.. Prospek ini itu lah ngajak gabung... Langsung aku skak, ini MLM bukan??? Dia bilang ya... Langsung saya jawab: "Maaf mas, saya sama sekali tidak tertarik dengan MLM!!"

ndugu
05-04-2011, 11:41 AM
Kayanya dulu saya pernah baca di artikel berita bahwa game piramid, yang secara klasik / tradisional ya, dianggap sebagai penipuan dan dianggap ilegal di negara2 laen. Makanya saya sempat heran kenapa di indo bisa sepopuler ini. Yang saya perhatikan sih, mlm versi indo ini biasa ada melibatkan produk juga, jadi ada twistnya sedikit, sehingga bukan bener pyramid scheme tradisional. Dan kalo mo dikatakan wirausaha, kupikir ngga bisa disebut demikian. Buatku, sistemnnya lebih mirip freelance daripada wirausaha (ga ada karyawannya)

Tapi tetep aja, logikanya sistem ini ngga bisa berlangsung terus, karena suatu saat downlinenya ngga bisa mencari downline laen lagi, dan ini yang mengakibatkan sistem ini disebut sebagai penipuan yang hanya menguntungkan pihak di atas.

itsreza
05-04-2011, 12:40 PM
dulu ada yang nawari sama saya.. Prospek ini itu lah ngajak gabung... Langsung aku skak, ini MLM bukan??? Dia bilang ya... Langsung saya jawab: "Maaf mas, saya sama sekali tidak tertarik dengan MLM!!"

memang nembak kayak gitu dampaknya bisa lebih bagus sih, orangnya akan kapok untuk kasih penawaran lagi
kalau mendengarkan dulu seperti memberikan harapan ke mereka, walaupun akhirnya menolak mereka bisa anggap kita ragu-ragu dan belum memutuskan
akhirnya dikasih penawaran lagi dan lagi. Agen MLM kalau di jaman revolusi cocoknya jadi tentara gerilya, karena jiwanya rata-rata militan :))

BundaNa
05-04-2011, 02:46 PM
saya lebih suka nawarin produknya...rata2 user soalnya

cha_n
05-04-2011, 06:11 PM
emang berdasarkan pengalaman, pas ada yang nawarin MLM paling bagus nolak langsung, ga pake babibu basa basi, kalo ngga yang ada dipepet terus malah jadi capek sendiri :mrgreen:

keremus
05-04-2011, 11:05 PM
Setahu saya MLM yang benar adalah yang berfokus pada produk.

MLM legal di Indonesia bergabung dalam APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia,
kalo ndak salah singkatannya). Dulu ada MLM yang obat China merk X didepak
dari APLI karena sejatinya Money Game.

Ngomong2, MLM yang benar apa aja sih?


MLM yang saya tahu :

AMWAY
TIANSHI
ORIFLAME

keremus
05-04-2011, 11:06 PM
Ini tulisan copy-paste dari situs APLI http://www.apli.or.id


Money game dan skema piramid memang sulit diberantas. Tapi, kita toh tetap bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan.

Korban money game atau skema piramid terus berjatuhan sampai sekarang. Dulu, sewaktu bisnis DS/MLM sedang tumbuh mekar, money game dan skema piramid juga ikut marak. Korban berjatuhan di manamana, tidak saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, tak terkecuali di negara-negara maju sekalipun. Sekarang, ketika banyak program investasi dan bisnis baru bermunculan, ternyata money game dan skema piramid tetap saja ikutan marak.

Maka, bisa diduga bahwa money game dan skema piramid aslinya bisa mendompleng bisnis apa saja. Bukan hanya bisnis DS/MLM, tapi modus operandinya bisa diaplikasikan di semua program bisnis. Asal prinsip gali lubang tutup lubang terpenuhi, dan asal prinsip mencari penghasilan utama dari merekrut dijalankan, maka berlakulah yang namanya money game atau skema piramid.

Ulasan-ulasan mengenai kasus-kasus money game dan piramid di buletin ini sebelumnya menunjukkan dengan jelas, bisnis penipuan ini sudah merasuk ke segala lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat yang berpendidikan terbawah sampai yang tertinggi, di daerah pedesaan hingga perkotaan. Bisnis ini juga bisa menghinggapi kalangan politisi, partai politik, aparat penegak hukum, birokrasi, pemerintahan
daerah, pelajar dan mahasiswa, kalangan perguruan tinggi, sampai kalangan rohaniawan. Tak satu pun yang luput dari incaran money game dan skema piramid.

Di sisi lain, kita tidak memiliki payung hukum berupa Undang-Undang Anti Money game dan Skema Piramid. Rancangan Undang-Undang yang diusulkan oleh APLI kepada pemerintah tidak terdengar lagi nasibnya. Lebih susah lagi, media massa sebagai mitra masyarakat dalam memberikan informasi yang benar dan akurat, belum juga menunjukkan “giginya”. Yang sering kita temui adalah kesalahan pemberitaan media massa, yaitu menyamakan money game dan skema piramid dengan bisnis MLM yang murni dan legal.

Jika sudah demikian, timbul pertanyaan; bagaimana cara masyarakat menghindarinya? Belajar dari kasus-kasus yang pernah terjadi, maka di sini ditawarkan sejumlah cara. Pertama, bersikap kritis dan waspada terhadap semua tawaran bisnis atau investasi yang menjanjikan keuntungankeuntungan tidak masuk akal.

Salah satu daya pikat money game dan skema piramid adalah soal janji-janji mendapatkan untung besar dalam waktu singkat, serta dengan usaha yang amat sangat minimal.

Apabila dalam persentuhan pertama dengan sebuah program bisnis kita mendapatkan tanda-tanda semacam itu, segera saja ambil jarak, atau lupakan sama sekali. INFO APLI Edisi XXXVII/Juli-September 2007 11 Kasus-kasus sebelumnya berulang kali membuktikan, bahwa janji-janji untung besar semacam itu sudah
merupakan indikasi bahwa kebangkrutanlah yang akan didapat.

Jangankan janji-janji keuntungan yang tidak masuk akal. Bahkan, janji-janji keuntungan yang “tampaknya” masuk akal sekalipun juga harus kita waspadai. Para operator money game dan skema piramid juga tambah pintar saja. Ketika trik memancing korban dengan janji untung besar sudah dikenali, pastilah mereka berusaha membungkus janji-janji sejenis sedemikian rupa supaya tampak masuk akal. Akan tetapi, bila prinsip bekerjanya tetap sama—modus klasik money game atau skema piramid—hasil akhirnya juga akan sama. Jadi, waspada dan tidak mudah percaya adalah senjata utama kita.

Kedua, tidak menjalankan bisnis atau investasi baru yang tidak kita kenal sama sekali. Ingat, banyak money game dan skema piramid yang dibungkus dengan beragam kedok program bisnis atau investasi. Belakangan, programprogram sejenis ini mengambil media internet sebagai wahana baru dalam menggaet korban. Maklum, di setiap waktu, banyak pengguna internat yang baru mengenal dunia maya ini serta masih awam dengan berbagai penawaran peluang bisnis. Situasi ini memudahkan para operator money game dan skema piramid untuk menjebak para korbannya.

Makanya, kalau kita tidak yakin dan tidak tahu sepenuhnya, jangan sekali-kali menerjunkan diri dalam
program-program bisnis semacam itu. Lain soal jika kita sudah paham betul, mengetahui cara beroperasinya, berikut tahu risiko-risiko yang harus ditanggung. Ketiga, tidak ada salahnya membaca ulang atau mempelajari kasus-kasus penipuan money game dan skema piramid yang sudah pernah terbongkar. Dengan mempelajari kasus-kasus tersebut, kita akan semakin kenaldengan modus operandinya. Dan, apabila kita sudah mengetahui cara bekerjanya, jangan lupa untuk mengingatkan orang-orang di sekeliling kita yang belum mengetahuinya. Sebab, mungkin saja nantinya mereka akan dihampiri oleh penawaran-penawaran bisnis atau investasi jenis ini. Jika kita ikut aktif menyebarkan informasi yang benar mengenai bahaya money game dan skema piramid, maka sebenarnya kita punya andil dalam menyelematkan masyarakat.

Keempat, memanfaatkan saluran-saluran informasi yang bisa kita akses untuk terus menggemakan kewaspadaan akan bahaya money game dan skema piramid. Baik itu majalah atau buletin internal, newsletter, mailing list, website pribadi, blog, brosur, dll, semuanya bisa kita gunakan untuk menyerukan kewaspadaan kepadamasyarakat luas. Berbekal informasi dan ulasan-ulasan yang terpercaya mengenai money game dan skema piramid, kita bisa menyebarkannya ke masyarakat luas.

Kelima, benar-benar menjauhkan diri dari money game dan skema piramid. Tidak dimungkiri, sebagian korban money game dan skema piramid adalah orang-orang yang aslinya kenal betul akan motif penipuan bisnis ini. Namun, entah karena sedang lengah atau melengahkandiri, mau coba-coba atau malah tergiur untuk menanggukuntung secara instan, akhirnya mereka terlibat aktif. Kalau sudah tercebur money game atau skema piramid, orang pasti harus mencari korban orang lain sebagai tumbalnya. Kalau tidak, dialah yang akan jadi korban.

Makanya, situasi ini bisa menjadi “lingkaran setan korban” yang tak berkesudahan. Jadi, supaya tidak jadi korban dan memperkecil jumlah korban, jangan pernah mencoba mengikuti bisnis ini. Demikianlah upaya yang bisa kita lakukan, dan semoga kita terus waspada akan bahaya money game dan skema piramid![ez]
info: apli XXXVII juli-september 2007

AsLan
04-05-2011, 08:52 AM
10 Kebohongan Dalam Bisnis Multi Level Marketing



Ini saya dapat dari teman, Silahkan Debat dengan Positif, jangan emosi, Karena jika anda emosi, maka pernyataan ini BENAR.



Sebelum anda memutuskan untuk bergabung dengan MLM yang menawarkan produk, janji, propaganda, mimpi yang indah, kekayaan, kenyaman hidup, prestise, kemewahan, tamasya, kendaraan mewah, penghasilan yang luarbiasa, tamasnya keliling dunia, dan lain – lain. Ada baiknya anda simak kebohongan dibalik Multi Level Marketing.



Kebohongan No. 1:

MLM adalah bisnis yang menawarkan kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan banyak uang dibandingkan dengan bisnis lain maupun pekerjaan lain.



Kebenaran:

Bagi hampir semua orang yang menanamkan uang, MLM berakhir dengan hilangnya uang. Kurang dari 1% distributor MLM mendapatkan laba dan mereka yang mendapatkan pendapatan seumur hidup dalam bisnis ini persentasenya jauh lebih kecil lagi. Cara pemasaran dan penjualan yang tidak lazim menjadi penyebab utama kegagalan ini. Namun, kalau toh bisnis ini lebih berkelayakan, perhitungan matematis pasti akan membatasi terjadinya peluang sukses tersebut. Tipe struktur bisnis MLM hanya dapat menopang sejumlah kecil pemenang. Jika seseorang memerlukan downline sejumlah 1000 orang agar dia memperoleh pendapatan seumur hidup, maka 1000 orang downline tadi akan memerlukan sejuta orang untuk bisa memperoleh kesempatan yang sama. Jadi, berapa orang yang secara realistis bisa diajak bergabung? Banyak hal yang tampak sebagai pertumbuhan pada kenyataannya adalah pengorbanan distributor baru secara terus-menerus. Uang yang masuk ke kantong elite pemenang berasal dari pendaftaran para pecundang. Dengan tidak adanya batasan jumlah distributor di suatu daerah dan tidak ada evaluasi tentang potensi pasar, sistem ini dari dalamnya sudah tidak stabil.



Kebohongan No. 2:

Network marketing (pemasaran mengandalkan jaringan) adalah cara baru yang paling populer dan efektif untuk membawa produk ke pasar.Konsumen menyukai membeli produk dengan cara door-to-door.



Kebenaran:

Jika anda mengikuti aktivitas andalan MLM berupa penjualan keanggotaan secara terus-menerus dan mengamati hukum dasarnya, yakni penjualan eceran satu-satu ke konsumen, anda akan menemukan sistem penjualan yang tidak produktif dan tidak praktis. Penjualan eceran satu-satu ke konsumen merupakan cara kuno, bukan trend masa depan. Penjualan secara langsung satu-satu ke teman atau saudara menuntut seseorang untuk mengubah kebiasaan belanjanya secara drastis.

Seseorang pasti mendapatkan bahwa pilihannya terbatas, kerap kali membayar lebih mahal untuk sebuah produk, membeli dengan tidak nyaman, dan dengan kagok mengadakan transaksi bisnis dengan teman dekat atau saudara. Ketidak-layakan (unfeasibility) penjualan door-to-door inilah yang menjadi alasan kenapa pada kenyataannya MLM merupakan bisnis yang terus-terusan menjual kesempatan menjadi distributor.



Kebohongan No. 3:

Di suatu saat kelak, semua produk akan dijual dengan model MLM. Para pengecer, mall, katalog, dan sebagian besar pengiklanan akan mati karena MLM.



Kebenaran:

Kurang dari 1% dari keseluruhan penjualan dilakukan melalui MLM dan banyak volume dari penjualan ini terjadi karena pembelian oleh para distributor baru yang sebenarnya membayar biaya pendaftaran untuk sebuah bisnis yang selanjutnya akan dia tinggalkan. MLM tidak akan menggantikan cara-cara pemasaran yang sekarang ada. MLM sama sekali tidak bisa menyaingi cara-cara pemasaran yang lain. Namun yang lebih pasti, MLM melambangkan program investasi baru yang meminjam istilah pemasaran dan produk. Produk MLM yang sesungguhnya adalah keanggotaan (menjadi distributor) yang dijual dengan cara menyesatkan dan membesar-besarkan janji mengenai pendapatan. Orang membeli produk guna menjaga posisinya pada sebuah piramid penjualan. Pendukung MLM senantiasa menekankan bahwa anda dapat menjadi kaya, jika bukan karena usaha keras anda sendiri maka kekayaan itu berasal dari seseorang yang tidak anda kenal yang mungkin akan bergabung dengan downline anda, atau istilah orang MLM “big fish”. Pertumbuhan MLM adalah perwujudan bukan dari nilai tambahnya terhadap ekonomi, konsumen, maupun distributor, namun lebih merupakan perwujudan dari tingginya ketakutan ekonomi dan perasaan tidak aman serta meningkatnya impian untuk menjadi kaya dengan mudah dan cepat. MLM tumbuh dengan cara yang sama dengan tumbuhnya perjudian dan lotere.



Kebohongan No. 4:

MLM adalah gaya hidup baru yang menawarkan kebahagiaan dan kepuasan. MLM merupakan cara untuk mendapatkan segala kebaikan dalam hidup.



Kebenaran:

Daya tarik paling menyolok dari industri MLM sebagaimana yang disampaikan lewat iklan dan presentasi penarikan anggota baru adalah ciri materialismenya. Perusahaan-perusahaan besar Fortune 100 akan tumbang sebagai akibat dari janji-janji kekayaan dan kemewahan yang disodorkan oleh penjaja MLM. Janji-janji ini disajikan sebagai tiket menuju kepuasan diri. Pesona MLM yang berlebihan mengenai kekayaan dan kemewahan bertentangan dengan aspirasi sebagian besar manusia berkaitan dengan karya yang bernilai dan memberikan kepuasan untuk sesuatu yang menjadi bakat dan minatnya. Singkatnya, budaya bisnis MLM membelokkan banyak orang dari nilai-nilai pribadinya dan membelokkan aspirasi seseorang untuk mengekspresikan bakatnya.



Kebohongan No. 5:

MLM adalah gerakan spiritual.



Kebenaran:

Peminjaman konsep spiritual (kerokhanian) seperti kesadaran akan kemakmuran dan visualisasi kreatif untuk mengiklankan keanggotaan MLM, penggunaan kata-kata seperti “komuni” untuk menggambarkan kelompok penjualan, dan klaim bahwa MLM merupakan pelaksanaan prinsip-prinsip Kristiani atau ajaran-ajaran Injili adalah penyesatan besar dari ajaran-ajaran rokhani. Mereka yang memusatkan harapan dan impiannya pada kekayaan dalam doa-doanya jelas kehilangan pandangan akan spiritualitas murni sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama yang dianut umat manusia. Penyalahgunaan ajaran-ajaran spiritual ini pastilah pertanda bahwa penawaran investasi MLM merupakan penyesatan. Jika sebuah produk dikemas dengan bendera atau agama tertentu, waspadalah! “Komunitas” dan “dukungan” yang ditawarkan oleh organisasi MLM kepada anggota baru semata-mata didasarkan pada belanjanya. Jika pembelanjaan dan pendaftarannya menurun, maka menurun pula “komuni” tersebut.

AsLan
04-05-2011, 08:53 AM
Kebohongan No. 6:

Sukses dalam MLM itu mudah. Teman dan saudara adalah prospek. Mereka yang mencintai dan mendukung anda akan menjadi konsumen anda seumur hidup.



Kebenaran:

Komersialisasi ikatan keluarga dan persahabatan yang diperlukan bagi jalannya MLM adalah unsur penghancur dalam masyarakat dan sangat tidak sehat bagi mereka yang terlibat. Mencari keuntungan dengan memanfaatkan ikatan keluarga dan kesetiakawanan sahabat akan menghancurkan jiwa sosial seseorang. Kegiatan MLM menekankan pada hubungan yang mungkin tidak akan bisa mengembalikan pertalian yang didasarkan atas cinta, kesetiaan, dan dukungan. Selain dari sifatnya yang menghancurkan, pengalaman menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali orang yang menyukai atau menghargai suasana dirayu oleh teman atau saudara untuk membeli produk.



Kebohongan No. 7:

Anda dapat melakukan MLM di waktu luang. Sebagai sebuah bisnis, MLM menawarkan fleksibilitas dan kebebasan mengatur waktu. Beberapa jam seminggu dapat menghasilkan tambahan pendapatan yang besar dan dapat berkembang menjadi sangat besar sehingga kita tidak perlu lagi bekerja yang lain.



Kebenaran:

Pengalaman puluhan tahun yang melibatkan jutaan manusia telah menunjukkan bahwa mencari uang lewat MLM menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa serta ketrampilan dan ketabahan yang tinggi. Selain dari kerja keras dan bakat, MLM juga jelas-jelas menggerogoti lebih banyak wilayah kehidupan pribadi dan lebih banyak waktu. Dalam MLM, semua orang dianggap prospek. Setiap waktu di luar tidur adalah potensi untuk memasarkan. Tidak ada batas untuk tempat, orang, maupun waktu. Akibatnya, tidak ada lagi tempat bebas atau waktu luang begitu seseorang bergabung dengan MLM.

Dibalik selubung mendapatkan uang secara mandiri dan dilakukan di waktu luang, sistem MLM akhirnya mengendalikan dan mendominasi kehidupan seseorang dan menuntut penyesuaian yang ketat pada program-programnya. Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa begitu banyak orang tenggelam begitu dalam dan akhirnya menjadi tergantung sepenuhnya kepada MLM. Mereka menjadi terasing dan meninggalkan cara-cara hubungan yang lain.



Kebohongan No. 8:

MLM adalah bisnis baru yang positif dan suportif mendukung) yang memperkuat jiwa manusia dan kebebasan pribadi.



Kebenaran:

MLM sebagian besar berjalan karena adanya ketakutan. Cara perekrutan selalu menyebutkan ramalan akan runtuhnya model-model distribusi yang lain, runtuhnya kekokohan ekonomi Amerika, dan sedikitnya kesempatan di bidang lain (profesi atau jasa). Profesi, perdagangan, dan usaha konvensional terus-menerus dikecilkan artinya dan diremehkan karena tidak menjanjikan “penghasilan tak terbatas”. Menjadi karyawan adalah sama dengan perbudakan bagi mereka yang “kalah”. MLM dinyatakan sebagai tumpuan terbaik terakhir bagi banyak orang. Pendekatan ini, selain menyesatkan kerapkali juga menimbulkan dampak menurunkan semangat bagi orang yang ingin meraih kesuksesan sesuai visinya sendiri tentang sukses dan kebahagiaan. Sebuah bisnis yang sehat tidak akan menunjukkan keunggulannya dengan menyajikan ramalan-ramalan buruk dan peringatan-peringatan menakutkan.



Kebohongan No. 9:

MLM merupakan pilihan terbaik untuk memiliki bisnis sendiri dan mendapatkan kemandirian ekonomi yang nyata.



Kebenaran:

MLM bukanlah self-employment (usaha mempekerjakan sendiri) yang sejati. “Memiliki” keanggotaan distributor MLM hanyalah ilusi. Beberapa perusahaan MLM melarang anggotanya memiliki keanggotaan MLM lain. Hampir semua kontrak MLM memungkinkan dilakukannya pemutusan keanggotaan dengan gampang dan cepat. Selain dari putus kontrak, downline dapat diambil alih dengan berbagai alasan. Keikutsertaan dalam MLM menuntut orang untuk meniru model yang ada secara ketat, bukannya kemandirian dan individualitas. Distributor MLM bukanlah pengusaha (enterpreneur), namun hanya pengikut pada sebuah sistem hirarki yang rumit di mana mereka hanya punya sedikit kendali.



Kebohongan No. 10:

MLM bukan program piramid karena ada produk (barang) yang dijual.



Kebenaran:

Penjualan produk sama sekali bukan penangkal bagi MLM untuk lolos dari undang-undang anti program piramid, juga bukan jawaban atas tuduhan tentang praktek perdagangan yang tidak sehat (unfair) sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang negara bagian maupun federal. MLM bisa menjadi bisnis yang legal jika sudah memenuhi prasyarat tertentu yang sudah ditetapkan oleh FTC (Federal Trade Commission) dan Jaksa Agung negara bagian. Banyak MLM jelas-jelas melanggar ketentuan tersebut dan sementara ini tetap beroperasi karena belum ada yang menuntut. Ketentuan pengadilan baru-baru ini menetapkan angka 70% untuk menentukan legalitas MLM. Maksudnya, minimal 70% produk yang dijual MLM harus dibeli oleh konsumen non-distributor. Ketentuan ini tentu saja akan membuat hampir semua MLM masuk kategori melanggar hukum. Para pelaksana MLM terbesar mengakui bahwa mereka hanya menjual 18% produknya ke non-distributor.



10 Kebohongan Besar Multi Level Marketing

Bisnis MLM tumbuh dan perusahan-perusahaan MLM pun bermunculan.Kegiatan penarikan anggota ada di mana-mana. Akibatnya, terkesan seolah-olah bisnis ini merupakan gelombang bisnis masa depan, model bisnis yang sedang mendapatkan momentum, semakin banyak diterima dan diakui secara legal, dan sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para penggagasnya, MLM akan menggantikan sebagian besar model pemasaran dan penjualan jenis lain. Banyak orang menjadi percaya dengan pengakuan bahwa keberhasilan dapat diperoleh siapa saja yang secara setia mengikuti sistem ini dan menerapkan metode-metodenya, dan bahwa pada akhirnya semua orang akan menjadi distributor MLM.



Dengan pengalaman selama 14 tahun di bidang konsultan korporat untuk bidang distribusi dan setelah lebih dari 6 tahun melakukan riset dan menulis mengenai MLM, saya berhasil mengumpulkan informasi, fakta, dan masukan-masukan yang menunjukkan bahwa bisnis MLM pada dasarnya adalah kebohongan pasar bebas. Hal ini bisa dianalogikan dengan menyebut pembelian tiket lotere sebagai “usaha bisnis” dan memenangkan hadiahnya sebagai ” pendapatan seumur hidup bagi siapa saja”. Validitas pernyataan industri MLM tentang potensi pendapatan si distributor, penjelasannya yang mengagumkan tentang model bisnis jaringan, dan pengakuannya tentang penguasaan dalam distribusi produk adalah persis seperti validitas penampakan makhluk UFO.



Legalitas sistem MLM hanya didasarkan pada sebuah keputusan pada tahun 1979 untuk satu perusahaan. Petunjuk pelaksanaan secara legal yang dikemukakan dalam keputusan tersebut secara terus-menerus diabaikan oleh pelaku industri MLM. Kurangnya aturan maupun pemantauan oleh pihak yang berwenang juga menjadi sebab kenapa industri ini tetap bertahan walaupun ada beberapa tuntutan oleh Jaksa Agung negara bagian maupun Komisi Perdagangan Federal.

Prestasi ekonomi MLM selalu ditandai dengan angka kegagalan yang tinggi dan kerugian finansial bagi jutaan orang.



Struktur MLM, di mana posisi pada rantai penjualan yang tak berujung dicapai dengan cara menjual atau membeli barang, secara matematis tidak bisa dipertahankan. Juga, system MLM yang memungkinkan direkrutnya distributor dalam jumlah tak terbatas dalam suatu kawasan pemasaran jelas-jelas tidak stabil. Bisnis inti MLM, yakni penjualan langsung, berlawanan dengan trend dalam teknologi komunikasi yakni distribusi yang cost-effective (berbiaya rendah), dan ketertarikan membeli pada pihak konsumen. Kegiatan penjualan secara eceran dalam MLM pada kenyataannya merupakan topeng dari bisnis utamanya, yaitu menggaet pemilik uang (investor) ke dalam organisasi pyramid yang menjanjikan pertumbuhan pendapatan yang berlipat-ganda.



Sebagaimana pada semua program piramid, pendapatan para distributor di posisi puncak dan keuntungan para perusahaan pemberi sponsor berasal dari masuknya para investor (penanam uang) baru secara terus-menerus di tingkat bawah. Jika dilihat secara kasar dari segi keuntungan perusahaan dan kekayaan kelompok elite di posisi puncak, model MLM akan tampak seolah-olah tidak akan ada matinya bagi, persis seperti program pyramid sebelum akhirnya tumbang atau dituntut oleh pihak berwenang. Konstituen atau penopang utama industri MLM bukanlah publik konsumen namun para penanam uang yang menaruh harapan.



Pasar bagi para penanam uang ini tumbuh subur di saat-saat terjadinya perubahan ekonomi, globalisasi, dan PHK karyawan. Janji-janji tentang perolehan finansial dengan mudah serta kaitan antara kekayaan dengan kebahagiaan tertinggi juga berperan besar dalam kondisi pasar ini. Karenanya, arah pemasaran MLM ditujukan terutama kepada calon (prospek) distributor, bukannya berupa promosi produk ke para pembeli. Produk MLM yang sesungguhnya bukanlah jasa SLJJ, vitamin, atau krim kulit, namun program investasi bagi para distributor yang secara menyesatkan digambarkan dengan pendapatan tinggi, penggunaan waktu sedikit, modal kecil, dan sukses dalam waktu singkat.



Ditulis oleh:

Robert L. Fitzpatrick is co-author with Joyce K. Reynolds of the newbook, False Profits: Seeking Financial and Spiritual Deliverance in Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes, published by Herald Press in Charlotte, NC ISBN: 0-9648795-1-4)

eve
04-05-2011, 02:40 PM
saya ikut tianshi.. karena kartu anggotanya seumur hidup dan banyak diskon untuk pembelian produknya...

E = mc²
04-05-2011, 03:04 PM
ah... pas tingkat pertama dulu, ada temen yg dg semangatnya mempromosiin buat gabung MLM. Saya yg emang dr awalnya skeptis terang-terangan nolak. kelanjutannya, dibuat tantangan: dia bakal mendapat laptop dalam 1 bulan ke depan. di akhir semester alias 4 bulan, dia gak dapet leptop yg dijanjikan. akhirnya dia keluar. padahal jika melihat sepak terjangnya yg rajin merekrut dan rajin ikutan seminar motivasi MLM, sangat mengejutkan melihat dia keluar dr MLM :))

keremus
04-05-2011, 03:15 PM
siapa sih pencetus ide MLM ini awalnya?

AsLan
04-05-2011, 07:45 PM
Rasanya Amway itu MLM yang pertama...
Nama pendirinya Rich de Vos dan Jay van Andel.

fullmoonflower
10-05-2011, 06:21 PM
ya, Amway yang pertama, lalu muncul lagi Cosway, lalu Avon, Oriflame, Sara Lee, Tianshi, trus ada lagi yang nawarin Trace Mineral, lalu BMW (gelang magnetic), Goldquest, Herbalife, aduh banyak banget deh.. :P

saya pernah ikut Avon jaman saya masih kuliah, buat nambah uang saku..

lalu ikut Herbalife, karena saya cocok produknya (sekarang udah nggak ikut lagi.. males disuruh rekrut mulu, padahal cuma pengen jadi user aja :P)

lalu ikut Oriflame (putus nyambung), karena cocok produk perawatan badannya aja sih (sabun, body lotion, body cream, body scrub)..

sekarang nggak ikut apa-apa.. males kalo disuruh rekrut... hihihihi :mrgreen:

lagipula gimana mau rekrut menjual mimpi? wong saya aja nggak punya mimpi apa-apa waktu memutuskan join ke bisnis tersebut.. X_X

Alip
11-05-2011, 08:21 AM
Ikutan sambil pagi-pagi nyruput teh di rumah <soalnya gak ada yang minum kupi> ... nunggu jagorawi agak reda dulu sebelum jalan ke kantor ...<sejak pelebaran jalan, yang tadinya 12 menit sekarang jadi 120 menit>

Topik ini masih idup terus ya:D sejak ekilat, AK, dan sampe ke sini...

Saya tergolong yang nggak pro sama MLM, dan punya kesimpulan seperti yang di-paste sama Aslan di atas...

Ngobrolin penjualan yuk... pertama dari sisi perusahaan, habis itu dari sisi sales...

Alip
11-05-2011, 08:22 AM
Pertama, kita lihat dari sisi perusahaan penjualan, dan kita bicara sistem MLM yang valid. Bukan money game.

Dulu, waktu belajar jadi sales manager, saya diajari itung-itungan soal komposisi tenaga sales yang optimal... jadi menghitung berapa jumlah sales yang dibutuhkan untuk meliput suatu pasar tertentu, baik secara wilayah geografis maupun sektoral, baik pasar rumah tangga (fast moving consumer goods-FMCG) maupun industrial. Singkat cerita, intinya ada jumlah tertentu yang optimal... kurang dari itu berarti ada pasar yang tidak tergarap, lebih dari itu berarti operasi kita nggak efisien...

MLM adalah direct violation dari hitungan itu...

Kenapa? Karena prinsip MLM adalah merekrut tenaga sales sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin bagus.

Kalau ditanya lagi, kok bisa? Bukankah semakin banyak tenaga sales maka operasi jadi tidak efisien?

Ooo... bisaaaa....
khan biaya ditanggung oleh para sales?

eng... ing... eeeeeng...\:D/

Kalau di sebuah perusahaan penjualan, operasional penjualan menjadi tanggungan perusahaan, misalnya gaji sales, leasing kendaraan sales, bensin mereka, training-training mereka... dan sebagainya.

Di MLM? Semua tanggungan para sales sendiri (disebutnya distributor).
Mau prospecting ke luar kota? Biaya transport ya ditanggung si distributor... lah wong dia independent business owner:P kok. Perusahaan gak keluar biaya apa-apa.

Training-training?
khan pertemuan dan pelatihan itu diselenggarakan oleh upline yang sudah punya modal? Perusahaan malah bisa jualan paket-paket pelatihan... ada untung tambahan:)>-

Stok?
Perusahaan penjualan biasanya memberi tenggang pada distributor atau salesnya. Katakanlah tiga puluh hari. Jadi distributor bisa membangung stok dulu, melakukan penjualan, baru bayar.

Di MLM? Oooo... para distributor harus beli tunai dong... khan itu untuk bisnis mereka sendiri:">

Jadi MLM adalah mekanisme yang sangat murah buat jualan barang. Sebagian besar beban dialihkan ke para independent business owner, alias distributor, alias para visioner itu <ahem>:P

Alip
11-05-2011, 08:26 AM
Jadi distributor MLM?
tapi bukankah pada akhirnya dunia sales MLM akan jenuh? Yaitu ketika semua orang sudah masuk jadi distributor MLM?

Tidak dong... nyatanya sampai sekarang masih banyak orang belum terlibat MLM.

Kok bisa begitu?
Ya karena banyak yang gagal dan keluar:">

Dunia sales adalah dunia yang keras... hanya dua puluh persen salesperson bisa bertahan dan menjadi sales yang sukses, delapan puluh persen sisanya akhirnya keluar. Ini sudah kebiasaan di perusahaan penjualan, bisa dibilang setiap tahun selalu ada rekrutmen salesperson baru untuk menggantikan mereka yang keluar. It is statistic, we cannot do anything.

MLM juga sama... malah lebih parah. Tuh, paste-nya Aslan, malah cuma 1% yang bertahan.

Kalau di perusahaan penjualan, semua sudah dihitung. Termasuk biaya untuk mempekerjakan salesperson yang paling cuma akan bertahan sebentar (rekrutmen dan pelatihan itu mahal loh).

Di MLM tidak masalah. Orang boleh masuk... coba-coba sebentar... bayar ikut pertemuan dan pelatihan (atau dibayari upline)... beli barang buat stock atau jualan... lalu keluar. Semua atas biaya si orang itu sendiri.

Buat perusahaan, si orang itu sudah jual barang sedikit. Gakpapa, toh gak pake biaya.
Buat upline, si orang sudah ngasih poin sedikit. Gakpapa juga. Tinggal cari korban lain.

Si orang itu?
Dia sudah keluar biaya untuk pelatihan, starter kit, stok barang (tunai)... kemudian merasa tidak untung... lalu keluar. Kemungkinan besar pengeluarannya lebih besar dari pemasukannya di MLM itu.

Maka dia-pun keluar dengan status sebagai orang yang visi-nya kurang kuat, tidak berpikir positif... dan sebagainya :-/ udah rugi, dibilang negatip pulak... :( Padahal ya memang dia cuma jadi korban keniscayaan statistik.

Jadi MLM adalah bisnis yang by design mengharuskan ada orang yang masuk sebentar dan keluar... yang jumlahnya mungkin 80% dari populasi distributor (kalau mengacu ke statistik penjualan, kalau statistiknya Aslan, 99%). Kalau disain ini tidak jalan... maka semua orang akan jadi distributor sukses, yang tentu saja mustahil. Harus ada yang gagal, dan harus minimal 80% gagal. Dari mereka inilah para upline mengumpulkan poin yang wah.:">

Alip
11-05-2011, 08:29 AM
Jadinya MLM tetap akan bertahan lama, karena secara hukum memang tidak bisa dibuktikan cacatnya. Toh, distributor yang bergabung adalah independen business owner yang siap rugi.

Yah,
dikembalikan ke kita.

Setiap orang punya impian hidup sejahtera, atau ketakutan atas hidup merana. Tapi jangan sampai impian dan ketakutan itu ditunggangi orang lain untuk kepentingan mereka semata.

cha_n
11-05-2011, 11:12 AM
papa alip kereeeeeeeeeeeeen...
aku suka ulasannya

GiKu
11-05-2011, 11:17 AM
trims Kop Alip
bertambah lagi info tentang MLM

* sodorin 2 cangkir kopi ke Kop Alip

AsLan
11-05-2011, 06:32 PM
tambah 2 gelas kopi lagi buat kop Alip... semoga gak bludreg :D

purba
11-05-2011, 10:14 PM
Ane kira pers dgn MLM maupun tidak adalah sama saja. Yg diuntungkan adalah para top level. Kalo grassroot mah tetep aja hidupnya gitu2 aja.

Top level MLM jelas mengetahui jumlah sales optimum utk suatu pasar. Bedanya dgn pers biasa, MLM tidak perlu menghitung dan mengatur sendiri berapa sales optimum yg dibutuhkan utk suatu pasar tertentu, melainkan diserahkan langsung pada mekanisme pasar. Downliner/sales tidak akan tercipta terus-menerus, suatu saat akan mencapai titik optimum. Ketika titik tersebut tercapai, pers yg menerapkan MLM akan berjalan dgn mapan.

:))

AsLan
12-05-2011, 02:11 AM
Rasanya perusahaan dengan sistim MLM murni malah lebih tinggi biaya operasionalnya, terutama karena para distributor meminta share yg tinggi, lebih tinggi daripada total biaya marketing dan distribusi dalam perusahaan biasa.

Makanya, ujung2nya semua produk MLM pasti lebih mahal dari produk biasa, gak efisien sih soalnya.

ancuur
12-05-2011, 02:26 AM
nyimak .. [-(

Alip
12-05-2011, 06:06 AM
Duh, gak bisa tidur... kebanyakan dikasih kupi....


Rasanya perusahaan dengan sistim MLM murni malah lebih tinggi biaya operasionalnya, terutama karena para distributor meminta share yg tinggi, lebih tinggi daripada total biaya marketing dan distribusi dalam perusahaan biasa.

Tapi nggak gitu juga loh, Lan.
Bonus yang diberikan ke para distributor masih berada dalam hitungan yang wajar, meskipun kesannya seorang distributor sukses bisa mendapat bonus jut-jutan. Apalagi jangan lupa bahwa semua itu merupakan biaya variabel... sekian persen dari total volume penjualan.

Perusahaan MLM minim biaya tetap (fixed cost) di bidang penjualan... yang justru merupakan porsi biaya paling banyak.


Makanya, ujung2nya semua produk MLM pasti lebih mahal dari produk biasa, gak efisien sih soalnya.

Itu karena penempatan (positioning) ... coba bayangin MLM jualan beras jatah pegawai negeri.:D


Ane kira pers dgn MLM maupun tidak adalah sama saja. Yg diuntungkan adalah para top level. Kalo grassroot mah tetep aja hidupnya gitu2 aja.

Ya ada bedanya dong, Mbah Purb...
Orang-orang sebuah perusahaan dagang bekerja karena ada pertemuan kepentingan. Si pengusaha butuh barangnya laku, dan si salesperson butuh gaji dan bonusnya... keduanya klop dan bisa kerjasama. Dalam hal ini si pengusaha dibebani kewajiban untuk mengusahakan kemampuan operasional si salesperson, misalnya kendaraan dan bensinnya, juga tanggung jawab atas kesejahteraan si salesperson sampai pada batasan tertentu, misalnya upah minimum dan jamsostek... kadang-kadang lebih dari itu, tergantung kecenderungan moralitas si pengusaha. Ini berlaku pula untuk salesperson yang diperkirakan cuma akan bertahan beberapa waktu.

MLM nggak geto... distributor dianggap sebagai manusia yang harus bisa jalan sendiri. Perusahaan cuma punya urusan menyalurkan barang. Di sini kepentingannya bukan sekedar nggak ketemu, tapi cenderung eksploitatif.:((

BundaNa
12-05-2011, 10:28 AM
asik nih...perlu share ke FB :D

AsLan
12-05-2011, 01:37 PM
asik nih...perlu share ke FB :D

Ati2 bu, ini berpotensi menimbulkan perdebatan keras dari kalangan praktisi MLM.
Banyak orang yg sedang menggantungkan harapan di MLM.

GiKu
12-05-2011, 02:49 PM
di share aja Buw...

ada juga yg sampe ngutang2 demi ikut MLM, padahal kehidupan keluarganya yg pas-pasan dan akhirnya gak dapet apa2

purba
12-05-2011, 05:04 PM
Ya ada bedanya dong, Mbah Purb...
Orang-orang sebuah perusahaan dagang bekerja karena ada pertemuan kepentingan. Si pengusaha butuh barangnya laku, dan si salesperson butuh gaji dan bonusnya... keduanya klop dan bisa kerjasama. Dalam hal ini si pengusaha dibebani kewajiban untuk mengusahakan kemampuan operasional si salesperson, misalnya kendaraan dan bensinnya, juga tanggung jawab atas kesejahteraan si salesperson sampai pada batasan tertentu, misalnya upah minimum dan jamsostek... kadang-kadang lebih dari itu, tergantung kecenderungan moralitas si pengusaha. Ini berlaku pula untuk salesperson yang diperkirakan cuma akan bertahan beberapa waktu.

MLM nggak geto... distributor dianggap sebagai manusia yang harus bisa jalan sendiri. Perusahaan cuma punya urusan menyalurkan barang. Di sini kepentingannya bukan sekedar nggak ketemu, tapi cenderung eksploitatif.:((

Ah mbah Alip terlalu tendensius dlm menilai MLM. :)

Ok, top level pada pers biasa menangani bottom level sedemikian rupa sehingga bottom level mendapatkan perlindungan (umr, jamsostek, thr, dll) dari top level. Tetapi perlindungan tsb tidak gratis. Misalkan bottom level mampu menjual produk melebihi target, tapi apakah kelebihan keuntungan tsb langsung menjadi milik bottom level? Tidak 'kan? Perlu disetor ke top level dulu utk diolah, dst. Tapi ok, dikasih bonus. Sekarang bagaimana dengan bottom level yg menjual di bawah target? Top level gak mau rugi 'kan? Akhirnya bottom level tsb dipecat.

Bagaimana dgn MLM? Bottom level bisa saja menjual produk melebihi target dan keuntungannya langsung dia rasakan, tidak disetor dulu ke top level seperti pada pers biasa. Di sini bottom level MLM bisa mendapatkan "gaji" yg jauh lebih besar dari pada bottom level di pers biasa. Ketika penjualan di bawah target, bottom level mendapatkan "gaji" yg lebih kecil dari pada bottom level pers biasa. Lebih baik gaji kecil 'kan dari pada dipecat trus gak punya gaji?

Ane melihat bottom level pada MLM adalah sales dgn otonomi lebih luas dibandingkan sales di pers biasa. Otonomi yg lebih luas bisa mendatangkan keuntungan yg lebih besar tetapi dengan resiko yg lebih berat pula.

Kalo masalah eksploitatif, kayaknya bukan monopoli MLM saja. Pers biasa pun bisa juga bersifat eksploitatif terhadap bottom level-nya.

:))

ndableg
12-05-2011, 06:24 PM
Bagaimana dgn MLM? Bottom level bisa saja menjual produk melebihi target dan keuntungannya langsung dia rasakan, tidak disetor dulu ke top level seperti pada pers biasa. Di sini bottom level MLM bisa mendapatkan "gaji" yg jauh lebih besar dari pada bottom level di pers biasa. Ketika penjualan di bawah target, bottom level mendapatkan "gaji" yg lebih kecil dari pada bottom level pers biasa. Lebih baik gaji kecil 'kan dari pada dipecat trus gak punya gaji?

Gaji dengan revenue (hasil penjualan) itu beda coy. Dalam MLM jelas si sales beli barang dulu ke top level. Jadi jelas si sales adalah juga pemilik modal, sedangkan top level ga support apa2, cuman semangatin doang. Ya jelas, begitu bottom level bisa jual barang yg sudah dibelinya sendiri sudah sepantasnya menikmati keuntungan langsung. Tapi.. kok top level ikut2an makan untung dari bottom level? Barang gw sendiri yg beli, gw sendiri yg jual.. eh orang laen dapet untung dari penjualan gw. Ud untung dari pas gw beli, untung pas gw jual juga.. asiiik.. :))

Jelas beda dgn perusahaan normal. Yg beli produk ato memproduksi adalah top level. Para tukang sales cuman terima tugas, dgn dijanjikan bonus apabila menjual lebih dari target. Ga lebih, ya tetep dapet gaji.. nothing to lose.. Kalo sales begok ato males ud kerja berbulan2 ga pernah nyampe target, memang sudah sewajarnya dipecat.. Tapi kan dia ga pernah beli apa2 dari bosnye.

Alip
13-05-2011, 02:18 PM
Udah dijawab ama ndableg ya, Oom Purba :P


Tetapi perlindungan tsb tidak gratis. Misalkan bottom level mampu menjual produk melebihi target, tapi apakah kelebihan keuntungan tsb langsung menjadi milik bottom level? Tidak 'kan? Perlu disetor ke top level dulu utk diolah, dst.
Tapi bukan berarti si salesperson bottom level tinggal mengharap belas kasihan dan hasil olahan top level, dia sudah paham kok bagiannya apa. Umumnya perusahaan dagang sudah punya skema bonus tersendiri yang ditawarkan ketika seorang salesperson melamar. Misalnya,

Mencapai 100% target = bonus 3 kali gaji
Mencapai 100%-110% target = 5 kali gaji
Mencapai 111%-120% target = 7 kali gaji plus peluk cium dari presiden direktur

Prinsipnya sama dengan MLM, cuma seperti kata ndableg... si salesperson tidak diwajibkan beli barang, dia cuma wajib menjualkan barang, plus semua biaya operasional ditanggung perusahaan.


Ane melihat bottom level pada MLM adalah sales dgn otonomi lebih luas dibandingkan sales di pers biasa. Otonomi yg lebih luas bisa mendatangkan keuntungan yg lebih besar tetapi dengan resiko yg lebih berat pula.

Setuju Oom Purba, malah kebanyakan MLM mengajari distributornya untuk nggak mau disebut sales, karena mereka pada hakikatnya adalah partner dari perusahaan, rekanan usaha, wirausaha mandiri.

Jadi mereka beli produk yang banyak, lalu mulai jualan... dan mendapat keuntungan dari penjualan itu. Atau ya gagal dan merugi.

Kemandirian semacam yang disebut Oom Purba itu misalnya dengan si A mendatangi grosir di Tanah Abang, belanja lima koli baju, lalu muter di kampungnya jualan baju-baju itu secara ritel.

Tapi siapa yang masuk MLM karena ingin bisa jualan ritel? Kebanyakan karena ingin dapat bonus sekian persen dari kelompok downline yang dibangunnya.

Yang menurut statistik Aslan di atas, 99% sudah dirancang untuk rugi agar 1% bisa meraih keuntungan yang mewah.


Kalo masalah eksploitatif, kayaknya bukan monopoli MLM saja. Pers biasa pun bisa juga bersifat eksploitatif terhadap bottom level-nya.

Betul sekali... kita tidak menutup mata bahwa ada manusia-manusia yang memang lebih layak disebut vampire ketimbang pengusaha. Tapi suatu usaha, apalagi melibatkan sejumlah karyawan, harus tunduk pada undang-undang tenaga kerja yang meliputi pula masalah kesejahteraan karyawan. Para Vampire itu adalah pihak yang memang tidak beritikad baik dalam berusaha.

Bedakan dengan suatu sistem yang rancang bangunnya (entah sengaja atau tidak) memang sudah mengharuskan 99% gagal demi keberhasilan yang 1%.

ndableg
13-05-2011, 08:34 PM
Udah dijawab ama ndableg ya, Oom Purba :P

Hihihi.. sori ya bang alip.. biasa tukang nyalip..

purba
14-05-2011, 11:31 PM
Tapi siapa yang masuk MLM karena ingin bisa jualan ritel? Kebanyakan karena ingin dapat bonus sekian persen dari kelompok downline yang dibangunnya.


Nah, yg salah MLM-nya atau mental salesnya?
Mengapa bonus dari downliner dilihat sbg hal yg jelek?

:))

Alip
15-05-2011, 11:23 AM
MLM-nya dong:P ... para sales menjadi seperti itu karena memang itulah yang diinginkan dan dijanjikan oleh perusahaan MLM. Shaped by the system

Karena bonus itu datang dari kerugian orang-orang yang gagal setelah bergabung belakangan, dengan data seperti sudah dibahas Aslan di atas... :(

Monggo Oom Purba, pendapatnya dipaparkan dan dijelajahi di sini...:menunduk:

buat yang belum kenal... Oom Purba ini filsuf andalan kita sejak jaman Homo Erectus masih minum kopi :D, beliau ini ahli dalam pemikiran-pemikiran insightfulB-)