PDA

View Full Version : Impian Sederhana Orangtua



Nharura
23-12-2011, 11:12 PM
Sederhana sekali Impian mereka, para Orang Tua kita...


1. Saat Wisuda
Pikiran sang anak : " aku yakin,, kalau aku sudah lulus sarjana, berarti aku sudah bisa bikin ortuku
bangga, krn telah membiayai pendidikanku selama ini,, aku merasa puas melihat
mereka bahagia"

Pikiran sang ortu: "akhirnya anakku sudah sarjana,,aku bahaga dia bisa melalui proses ini,, ini adalah
awal baginya,, aku harap dia bisa bertanggung jawab atas hidupnya dari
pendidikan yg ia sudah tempuh"

2. Saat Mendapatkan pekerjaan yang layak
Pikiran sang anak : Kini aku sudah jadi pejabat pemerintah ,, beliau berdua pasti
sudah bahagia atas pemberian-pemberian ku dari gaji bulananku,, aku bangga sama
diriku atas keberhasilan ini... mereka tak sia-sia menyekolahkan aku dari kecil.

Pikiran sang ortu: "kami tak mengharapkan kamu jadi orang kaya, orang pintar, hinga kamu menjadi
sombong,, kami hanya inginkan anak kami yang baik hati dan selalu mendoakan
kami dimanapun ia berada..."

3. Bicara Impian-Impian

Pikiran sang anak: ketika ditanya soal impian terbesarnya=>
" Impian terbesarku adalah menjadi orang sukses hingga ortuku berkata " itu
anakku,, yang susah payah aku menghidupinya kini menjadi orang berhasil,,
Ya Tuhan, kami adalah orang yang paling beruntung...".

Pikiran sang ortu: Saat ortu berbicara impian-impiannya"
Impian terbesar kami dapat mempunyai anak yang mau meluangkan lisannya ,
hatinya untuk mendoakan kami jika kami telah meninggal,,
mempunyai anak yang tak zalim pada sesama,, tak malu berbuat baik,, takut akan
prilaku kesewenang-wenang,, kami ingin anak yang sholeh baik untuk dirinya,
Lingkungannya dan agamanya. Itu saja. Tidak lebih.

4. Saat sang anak menikah

Pikiran sang anak: (saat sang anak menempuh hidup baru) , ia berucap kepada ortunya
"Aku mencintaimu, Ma,, aku sayang kamu, pa...."

Pikiran sang Ortu : (diam) tak mampu berucap, hanya kantup mata yang berairan, sambil memeluk.
Ungkapan cinta mereka tak hanya di mulut,, hati mereka terlekat dalam mencintai
anaknya. Seperti lekatnya daging pada tulang.


5. Saat Anaknya berumah tangga

Pikiran sang anak: " kenapa sih mama sering nelpon aku terus dirumah,, bosan rasanya selalu mengecek
keadaanku, aku khan sudah berkeluarga" / "Papa bener2 gak punya hati,,
marah karena aku tak membawa anakku kerumah, padahal anakku
sedang sakit gigi di mobil depan rumah, ia tak mau keluar menemui kakeknya, cape
dan pusing katanya. Malah papa marah2 sama aku,krn aku tak mau membujuk
cucunya dibilang pilih kasih. seperti anak kecil saja sih papa..."

Pikiran mama : anak gadisku sedang apa ya sekarang? apa dia baik-baik saja dengan suaminya
kenapa bulan2 ini dia jarang menelpon,, padahal aku rindu suaranya. Rindu dia
berkata cetus padaku, karena aku selalu memperhatikannnya. ia masak apa hari ini?
bagaimana ia bersama suaminya?,, bagimana hari-harinya? semoga dia baik-
baik saja. Semoga Allah selalu menjaga menemani di kehidpan barunya.

Pikiran Papa : entah kenapa. cucuku tak mau menemuiku. Dan anak lelakiku seakan cuek akan
inginku. Apa karna ku begitu tua. hingga aku tak menjadi menarik lagi bagi mereka.
aku tahu umurku sekarang beranjak enam puluhan. tapi aku akan terus menjadi muda
untuk mereka, anak-anakku tersayang. semoga mereka menganggapku begitu.
Kuingin mengambil perhatian mereka, meski menjadi seseorang yang menjengkelkan
sekalipun. aku masih ingin disayang oleh mereka hingga akhir hidupku.
ada doa tulusku untuk anak-anakku, kuingin mereka bahagia untuk hidupnya.

Benar kata pepatah:
*Cinta anak sepanjang galah...
*cinta orang tua sepanjang jalan...."



===================

Impian anak begitu kompleks namun tak sebanding berharganya dibanding impian orang tua yang sangat sederhana: yaitu inginkan anaknya mendoakannya dimanapun anaknya berada.


kawan,,.. marilah luangkan hati,, pikiran dan rasa kita untuk mendoakan, dan mengasihi orang tua kita yang sedari kecil mengasihi, mencintai, lebih dari apapun kepada kita.... mereka sanggup menjadi punggung untuk kita disaat kita tak mampu berjalan,, mereka telah menjadi mata kita,, disaat kita tak mampu melihat bahayanya dunia,, mereka bisa tertawa untuk kita disaat kita bersedih,, mereka adalah segalanya,, jangan lupakan mereka... meski doa sekalipun..

======================


*seberhasil apapun kita,, sepintar apapun kita,, secerdas apapun kita,, jika tak mampu membahagiakan orang tua,, kita bukanlah apa-apa... karna Ridha Allah SWT adalah Ridha orang tua......berbuat baiklah kepada mereka...

beastmen85
23-12-2011, 11:49 PM
gw mau posting kejam tp takut merusak suasana trit ini...

BundaNa
24-12-2011, 03:51 AM
Ortu saya kog bersikap tidak seperti iru ya?
Menurut bapak ketika anak2 sudah bisa berdiri sendiri, dia sudah bahagia. Kalau si anak jarang menelpon atau berkunjung atau berkomunikasi, bapak juga tidak pernah menuntut karena beliau sadar masing2 sudah punya kesibukan dan kehidupan.

EndlessDeath
24-12-2011, 03:55 AM
Gw mau nagis bacanya...
Soalnya sampe ke nomor 1 aja belum...

Mau lulus kuliah itu susah banget sihh??

Porcelain Doll
24-12-2011, 08:16 AM
tapi udah dapet penghasilan kan, ED? :D

Ronggolawe
24-12-2011, 08:26 AM
impian orang tua gw sederhana banget... "Cariin
asisten baru buat bu Teteh dong" :)

Nharura
24-12-2011, 08:43 AM
cerita diatas itu,, adalah pengalaman keluarga saya,, Mama orangnya selalu senyum dihadapan anak2nya,,
khususnya kakak2 saya yang sudah menikah,, mengatakan kesusahan saja beliau enggan, diriku klw ingat itu pengen nangis...
Mama dan abah gak pernah bilang,, pengen anaknya yang sudah berkeluarga jangan melupakannya,, tapi mama dan abah sering mendam...
, jadi kalau malam,, pas mau tidur,, diriku gak sengaja dengar,, mama dan abah ngomong kaya githu... :(

aku ingat,,waktu zamannya aku sarjana... karena tulisan diatas itu bukan rekayasa,,
karena itu dari pengalaman pribadi..,, aku ngomong gini sama mama..
"ma.. ulun (aku) sudah sarjana,, tapi 2 bulan lagi langsung daftar S2 ma... Mama senang khan,, klw anaknya S2 semua..."
terus mama menggeleng,, ujar mama waktu itu
"kamu sudah lulus s1 aja mama senang, na.. karena tugas mama sudah selesai, jadi kamu bisa bertanggung jawab atas pendidikanmu",,

sama ketika tulisan diatas mengangkat tema "saat menikah".. itu adalah cerita kakak2ku...
Kakak keduaku yang sudah menikah, selalu saja protes sama mama, kenapa mama sering nelpon,,dia merasa bosan...,,
trus pas aku nanya ke mama waktu itu,, kata mama.. hubungan darah gak akan bisa di hilangkan,,
meskipun kakakku sudah berkeluarga,, suami bisa di ganti,, tapi kalau orang tua sampai mati gak akan pernah di ganti...:(

sedangkan yang kisah ayah itu,, adalah kisah kakak ketigaku, yang cowok,, dia sudah berkeluarga,
dan tinggal di luar Kota, tapi kalau ke rumah,, ia gak pernah lama.. anak2nya pun gak suka ke rumah kakeknya
terlalu lama, meskipun hanya untuk salaman tangan saja, kalau gak dipaksa... Abah sering bilang,
kenapa cucunya gak pengen ketemu dia? sedangkan cucunya kalau jalan2 senang, tapi untuk
ketemu kakeknya aja serasa malas (kadang diriku berpikir, ini karena didikan orang tuanya,,
ponakanku yang pertama cenderung dekat dengan mertua kakakku,, karena ortunya
emang lebih ngedekatin dia dengan mertuanya, dibanding ortunya sendiri, beda dengan ponakan
ketigaku,, dia palign perhatian sama kakeknya,, sampai dia dijulkin cucu kesayangan kakek^^)

trus saat aku bicara impian2 sama mama,, mama cuman ingin disaat dia meninggal nanti, aku gak akan melupakannya...:( sangat sederhana sekali.. sedangkan aku, impian2ku banyak...

Intinya.. meskipun ortu kita jahat (dipikiran kita) sampai mati beliau2 tetap akan menjadi orang tua kita. jadi bersyukurlah,, kalau masih memiliki ortu yang lengkap,, jangan mengeluh dalam merawatnya,, karena itu akan menjadi cermin kita di waktu tua nanti,, dikala kita cuek dan apatis terhadap kehidupan ortu kita,, maka 40 tahun kemudian,, disaat kita menjadi mereka,, jangan menyalahkan anak2 kita,, kalau mereka tidak memperhatikan kita...
karena dulu, kitapun prnah bosan merawat orang tua kita, Nauzubillah... karna Karma itu selalu berlaku untuk manusia..,, maka
berbuat baiklah kepada mereka...

BundaNa
24-12-2011, 09:49 AM
Saya sedang menglaminya kog, nha. Kalau mengikuti curhat di thread diary juga fb sya, saya sempat memaki adik2 saya yang tidak ada waktu dan uang buat ngurusin ortu, saya berasa jadi anak tunggal.
Tapi justru bapak yg menenangkan saya, bahwa apa yang beliau lakukan dulu2 kepada anak2nya adalah kewajiban dan tanggung jawab beliau sebagai ortu. Mau dibales gak dibales sama anak2 itu sudah diluar kuasanya dan untuk mengeluh di malam hari pun tidak pernah, padahal saya sering terjaga malam2 takut ortu atau anak2 butuh bantuan saya.
Mengenai cucu gak deket sama satu nenek kakek, saya juga ngalamin. Tepatnya anak2 ngalamin. Anak2 fak deket sama mertua, karena secara geografis memang susah untuk sering2 ketemu. Juga waktu karena hubby datengnya cuma sebentar. Telpon pun gak bisa lama2 karena mertua gak terlalu suka telepon2an. Blum lagi memang sometimes anak2 lebih dekat sama keluarga ibunya, ortu ikut proses kelahiran anak2 sampai mereka besar, sedang mertua tidak terlalu intensif. Dalam hati saya juga tersayat2 karena mertua lebih dekat sama keponakan, anak dari adik perempuan hubby. Tapi saya coba bijak aja, semua memang balance, seimbang, tidak harus sempurna buat hiudp kita. Karena hidup tanpa riak itu hampa.
Saya gak coba membantah omongan nha. Tapi cobalah melihat dari dua sisi, sisi nha dan otu lalu sisi kakak2 nha.
Karena seperti saya bilang, begitu keluar dari rumah, masing2 punya kehidupan yang konpleks dan punya skala prioritas. Kita tidak bisa menilai segala sesuatu dari sisi diri kita semata, karena hasilnya akan subyektif.

Porcelain Doll
24-12-2011, 01:14 PM
soal ortu yg sering nelpon itu, sejak g nikah malah intensitasnya berkurang
apa karena g tinggal dengan mertua ya, jadinya mama dan papa ga terlalu banyak tanya

padahal waktu g mulai kos sendiri di jkt dulu, sehari bisa 2-3 kali
tampak terasa perbedaannya... ;D
g malah kangen ditelponin
habis....kalo g nelpon pasti butuh alasan....ga biasa cuma ngobrol2 biasa aja dengan ortu sendiri...
kaku ;D;D
kecuali kalo face to face, udah biasa....kalo lewat telpon malah bingung mau ngobrol apaan

cha_n
24-12-2011, 01:34 PM
bismen mau tulis apa?

Nharura
24-12-2011, 05:38 PM
soal kakak2 saya diatas,, sudah saya kasih tahu ke mereka,, akhirnya mereka pelan2 memperbaiki..^^ kk kedua saya,, malahan paling intens jagain mama kalau sakit,, sekarng aja klw abah sakit,, beliau yang paling sering antar jemput ke terapi totok untuk abah...

kalau kakak saya yang ketiga,, dulu istrinya gak begitu dekat dengan keluarga kami,, malahan kata mama,, kalau di rumah mama,, kaya orang asing, gak bisa bantu2,, tapi selama mama sakit dulu,, istrinya kakak yang sering bikinin makanan buat keluarga yang jagain mama.. pokoknya semuanya mulai mendekat, setelah mama sakit dua tahun yang lalu...

Kakak kedua saya yang lebih akrab dengan mertuanya di banding kalau ke rumah orang tuanya sendiri,, hanya numpang Buang air kecil aja,, gak ada cerita2 sama abah,, akhirnya saya dan kakak keempat saya yang bilangin dia.. setidaknya harus adil.. jangan yang satu sering didatangin,, yang satu cuman jadi tempat buang air kecil aja..

akhirnya kakak2 saya udah memperbaiki pelan2...^_^,, karena biasanya orang tua makin berumur, makin meminta perhatian anaknya,, makanya sekarang ipar perempuan saya, selalu bawa anak2nya (yang dulu gak dekat sama kakeknya keruman) saat di tenggarong ini, karena rmah kami sudah pindah,, jadi setiap minggu,, cucu2 bisa bermalam tempat kakeknya,,jadi kakeknya terhbur juga^^

@bundana: sip kalau githu mba,, kalau soal adik mba itu,, jika sudah dinasehati gak mempan, ya mending diam aja,, karena nanti hal itu akan terjadi ke dia juga suatu hari nanti,, karena kita gak akan seperti ini terus, kita lambat laun pasti akan tua dan sakit juga.. oleh karena itu jika kita ingin di bantu keluarga disaat kita sakit, maka kita harus berbuat baik sama orang tua dan keluarga,, kalau gak pengen.. ya lihat saja nanti..pasti akan ada karmanya..

seperti acil2 saya,, saya hanya memetik pengalaman,, dari cerita yang dikasih tahu mama, dan kakak2 saya,, ini cerita tentang adik2nya bapak saat mengurus kakek dan nenek,, ada adik bapak yang perempuan,, kerjaannya jalan terus.. main2 sama teman2nya,, dan ngelupain nasip ayah dan ibunya yang sudah tua di rumah,, beliau suka marah terhadap kedua ortunya,karena bilang kedua ortunya menyusahkan hidupnya, yang akhirnya dia gak bisa menikah, karena ngurusin manula-manula..,, beda dengan adik bungsu bapak.. beliau laki2 muda, tapi begitu berbakti sama ayah dan ibunya.. sampai beliau menikah saja,, beliau gak mau bercampur istrinya, sebelum beliau mandiin ayah dan ibunya yang gak bisa jalan, makanin,, setiap hari begitu...

sekarang,, coba lihat kehidupan mereka berdua,, acil perempuan saya itu hidupnya sekarang susah, sering ngutang dimana2, dan gak punya anak.. karena suaminya acil dulu gak disetujuin oleh keluarga, tapi beliau suka membantah, dan marah kalau keluarga ikut campur urusannya,, sekrang coba lihat.. bagaimana hidupnya?..

beda dengan acil bungsu saya, yang cowok,, beliau anaknya patuh, penurut sama orang tua dan keluarga, akhirnya... hidupnya nyaman, beliau baru selesai sekolah S3, dan menjadi peneliti terpercaya di Kaltim... sedanglan acil perempuan saya, SD saja gak tamat, karena beliau dulu gak mau sekolah, kata mama saya yang dulu ikut tinggal sama keluarga abah,, acil perempuan saya itu dari kecil gak pernah mau bantuin ortunya di rumah, selalu jalan2,, mainan sama teman2nya,, sekarang,, kata mama dulu,, terlihat khan.. siapa yang sewaktu mudanya berbaik dengan orang tua, yang kini hidupnya enak...?

jadi,, ini bukan sekedar sesuatu hal biasa,, karena didalam hidup.. pengalamanlah yang menjadikan kita teladan,,, selama ini hanya orang2 yang beruntung yang melakukan kebaikan untuk orang tuanya,,yang bakalan hidup enak... kalau gak percaya,, kita buktikan saja^_^ Insya Allah...

@bismen: mau ngomong apa? ^^ gak apa2,, khan disini kita share pengalaman,,saling berdiskusi...^^

---------- Post added at 06:38 PM ---------- Previous post was at 06:34 PM ----------

acil artinya Tante/ paman, acil adalah sebutan kakak atau adik ibu dan ayah, dari bahasa banjar.

BundaNa
25-12-2011, 09:55 AM
Ketika sudah menikah pasti prioritas orang bergeser. Dan meski bergeser sedikit, membawa dampak yang lumayan besar.
Perlu kearifan banyak pihak untuk menyadari, ketika seorang anak sudah tidak terlalu intens memperhatikan orang tua atau saudara yang lain. Hanya berkurang intensitasnya, kasih sayang kepada orang tua dan saudara tidak mungkin hilang ataupun berkurang.
Saya inget banget ada ayah seorang kawan bilang," kalian anak2, teruskanlah hidup kalian karena masa depan kalian masih panjang. Sedang papi toh sudah mau menjelang ajal. Yang penting hidup kalian ke depan."
Saya salut sama beliau, kedua anaknya tidak ada yang tinggal serumah denga beliau di bandung, satu di solo, yang lain bahkan di jerman yang pulang pasti butuh banyak persiapan. Tapi beliau tidak pernah mengeluh dan menunt anak2nya harus memperhatikan beliau. Setiap saya bertukar khabar dengan beliau, beliau hanya tersenyum kecil," anak2 sekarang sudah jadi busur panah, mesti menjaga anak panahnya sendiri2. Saya sudah cukup bahagia melihat mereka mandiri. Hidup saya selanjutnya saya serahkan kepada Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik untuk hidup saya."
Saya merasakan jadi ortu sekaligus jadi anak saat ini. Mau tidak mau prioritas saya banyak yang bergeser. Apalagi anak2 semakin besar, prioritas utama saya adalah masa depan mereka. Padahal ortu juga butuh banyak perhatian, bapak gagal ginjal dan mama dimensia. Tetapi suami sudah meminta saya untuk pindah ke banjarmasin karena demi kepentingan keutuhan perkawinan dan masa depan anak2.
Lalu saya harus memilih yang mana? Saya tahu bapak dan mama tergantung pada saya dan anak2, tapi perkawinan saya jadi taruhannya kalau saya tidak pindah bareng suami. Apalagi bertahun2 suami sudah mengalah, membiarkan saya lebih banyak mengurusi ortu dibanding dia. Padahal saya juga punya mertua, yang alhamdulillah mau mengerti keadaan ortu saya.
Pernahkah nha sampai pada fase memilih prioritas seperti kakak2 nha yang sudah berkeluarga?
Harus menyenangkan ortu, mertuan saudara dan anak2 sekaligus padahal mereka juga punya prioritas?
Saya mungkin pernah marah dan kecewa terhadap adik2 saya, tapu dari bapak saya justru belajar menyadari bahwa ketika sudah dewasa, anak2 memiliki prioritas lain. Bukan tidak lagi sayang kepada ortu, tetapi prioritas yang bergeser.
Saya justru belajar dari ortu saya dan kedepannya saya juga ingin begitu. "Mendoakan yang baik2 untuk anak2nya tidak peduli keadaan tetap atau berubah.
Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk hidup anak2 saya. Urusan nanti anak2 saya bergeser prioritasnya, adalah hak hidup masa depannya. Kalau kemudian saya tidak berkurang diperhatikan mereka, itu saya anggap sebagai bonus.

ndugu
29-12-2011, 05:06 AM
gw mau posting kejam tp takut merusak suasana trit ini...
:lololol:
bismen mo tulis apa? tulis aja :cengir: i look forward it :cengir:

*jujurnya setelah ngebaca post pertama, pikiran pertamaku juga refleks pengen nulis sarkas. tapi ah, ntar merusak aroma musim semi di thread ini* :cengir:

BundaNa
29-12-2011, 07:03 AM
Lho, masing2 kan punya pengalaman berbeda, gu. Gpplah dituangin :D

Porcelain Doll
29-12-2011, 07:25 AM
sarkas itu maksudnya tidak semua ortu berpendapat serupa kan?
kalo g ngelirik ke beberapa pengalaman orang terdekat sih, pada kenyataannya memang tidak semua ortu sebijaksana dan sedewasa itu
ada juga yg ngaco :P

BundaNa
29-12-2011, 07:55 AM
Hidup memang tidak sesederhana itu.

Ada ortu yg mau jungkir balik buat masa depan anaknya, tapi begitu anaknya "mengabaikan" mereka tetap ikhlas dan mendoakan yg baik2 buat anak2nya.

Ada yang ortu berhitung, begitu anaknya sukses, anaknya terus2an diingetin bahwa kesuksesannya karena sumbangsih si ortu dan si anak dituntut untuk membalasnya, ntah dengan materi ataupun perhatian dan waktu.

Ada ortu ngaco, anaknya dibiasakan hidup susah, padahal bisa aja ortunya berjuang biar anaknya gak susah. Begitu anaknya sukses mereka minta bagian.

Seperti saya bilang, jangan disamaratakan.

Nharura
29-12-2011, 08:59 AM
@bundana : iyahh..syukurlah klw githu mba... yang penting kita harus berkaca dari pengalaman orang lain.. jikapun nanti berbeda dengan pengalaman kita,, yang penting kita belajar lebih baik dari pengalaman yang ada,, meskipun pada akhirnya... tidak sama.. tinggal keikhlasan kita saja yang berbicara saat merawat orang tua, merawat keluarga maupun saat diperlakukan orang lain termasuk anak2 maupun orang tua kita..^^

@mba ndugu: memangnya disini terlihat seperti musim semi kah mba::ungg::::hihi::,, diskusi saja.. kenapa harus menahan apa yang ingin di ungkapkan,, bukan berarti tidak menuliskan pendapat,, persepsi orang lain bisa berubah... ataupun sebaliknya..^_*

@Porselain: namanya juga manusia,, orang tua khan manusia juga...^_^ relatif,, di lingkungan ini berbeda,, di lingkungan saya pun berbeda,, dari kakek, nenek, paman2 dan tante2,, serta apa yang telah diajarkan kepada diriku sewaktu kecil,, bahwa kasih orang tua itu seperti air susu,, dan kasih anak itu seperti air tuba... karna anak tidak merasakan memiliki "kasih"orang tua, karena prioritas berubah,, dan orang tua tidak menjadi prioritas utamanya,,

ada sebuah ungkapan kecil seperti ini : kalau orang tua melihat anak2nya sakit,, mereka pasti akan berusaha bagaimanapun juga menyembuhkan anak2nya,, meskipun harus jungkir balik, dan korban harta juga mental tenaga,, tapi kalau anak2nya melihat orang tuanya sakit,, mereka pasti berpikir, supaya ortunya cepat mati saja.

Saya pernah meneliti sebuah Panti jompo dinas sosial di samarinda,, bahwa anak2nya sengaja menitipkan ortunya yang sudah tua di panti jompo, karna menyusahkan dan merepotkan keluarga2 orang kaya tersebut,, dari analisa saya... kebanyakan anak2 mereka adalah para pekerja metropolitan yang enggan mengurus manula, alasannya hanya satu : tidak mau repot.

sedangkan wawancara saya dengan para manula,, kakek2 dan nenek2 itu berkata,, bahwa mereka sedih "dibuang" anak2nya,, tapi mereka juga senang,,tinggal di panti jompo,, karena bertemu dengan teman2 sejawat mereka,, bisa tertawa,, dan melupakan kisah anak2nya yang mengirimkan ke panti jompo... karna di panti jompo selalu ada hiburan,,dan saling bersharing kisah...

sedih juga dengernya,, sungguh terlalu..dan sungguh tidak tahu diri,, seorang anak dengan mudahnya hanya karena punya uang banyak, dan tak mau repot,, "membuang" ortu-nya ke panti jompo...:(

nanti suatu saat dia pasti akan kena karmanya... karena hidup ini,, sesuatu yang jahat terasa Halal,, dan sesuatu yang baik terasa Haram. Ini masih hidup dan masih berputar, dunianya tak akan muda, dan tak akan kaya,, serta tak akan lapang,, karna semuanya tak akan ada yang abadi...

BundaNa
29-12-2011, 10:50 AM
wah gak segampang itu masalahnya, nha

merawat orang tua, apalagi yang sakit butuh kesabaran ekstra lho. Apalagi kalau dua2ya terbatas entah fisik dan psikologinya.

Sebenernya nha, saya justru ingin menggiring kamu untuk lebih arif menilai, bahwa apa yang jadi poin berpikir nha tidak sama dengan apa yang jadi poin berpikir orang lain, meski itu saudara kandung nha.

Sorry, sekarang saya blak2an saja ya...

Saya baca tulisan2 nha di atas, adalah tulisan sentimentil seorang anak yang sudah berhasil pendidikan dan pekerjaan tapi belum menikah, punya anak dan punya kompleksitas permasalah dan prioritas yang mulai bergeser. Nha blum bisa merasakan peran orang yang di dua posisi sekaligus, jadi anak sekaligus orang tua.

jadi anak, jadi ortu, jadi istri/suami, jadi menantu.

Itu butuh jiwa, mental, fisik dan kedalaman hati yang luar biasa beratnya. Juga ada sedikit hitung2an untuk mengukur skala prioritas mereka. Mana yang emergency, mana yang urgent, mana yang masih bisa ditunda dulu.

Masalahnya juga gak sesimpel itu, GAK MAU REPOT!

Berarti Nha belum merasakan penatnya mengurus ortu yang sudah terbatas, ditambah ngurus anak2 yang masih perlu ekstra perhatian, ngurus rumah tangga sendiri, belum lagi yang bekerja.

Kita gak bisa, Nha, menilai segala sesuatunya dari sudut pandang kita.

Nha bersyukur masih dikasih kesempatan buat ngurus ortu tanpa pernak pernik kerepotan seperti yang saya sebut diatas. Bagi yang berkeluarga dan bekerja serta punya kesibukan lain sekaligus, meluangkan waktu satu dua jam dalam 3-5 hari untuk ortunya itu sangat istimewa, apalagi jika ditambah tinggalnya berjauhan, lain kota yang makan waktu 8 jaman ke atas.

Tapi Nha tidak perlu menilai buruk bagi orang2 yang tidak sempat mengurus ortunya secara intensif. Karena kita, sekali lagi, tidak bisa seenaknya bicara tanpa benar2 melihat fakta2 yang terjadi di kehidupan mereka.

Mungkin Nha kesal, itu boleh. Tapi menilai mereka yang menitipkan ortunya ke panti jompo secara berlebihan ya sejujurnya, tidak pada tempatnya.

Jadi, Nha...belajarlah arif...karena suatu hari nanti Nha juga akan jadi istri, ibu, saudara ipar, menantu...bahkan masih harus memperhatikan bapak.:-bd

Nharura
29-12-2011, 12:07 PM
wah gak segampang itu masalahnya, nha
memangnya saya ada bilang gampang kah mba? hanya meminta proporsional,, kalau sudah menjadi suami orang lain atau mempunyai keluarga kecil sendiri,, tolong jangan telantarkan orang tua juga,, biarpun tenaga tak dapat memberikan,, paling tidak materi,, maupun jangan membentak kedua orang tua,,krna beliau sering mengeluh,, namanya orang tua,pasti akan berubah tingkahnya seperti anak kecil lagi, tinggal kita menyikapi dan pengertian kepada mereka.


merawat orang tua, apalagi yang sakit butuh kesabaran ekstra lho. Apalagi kalau dua2ya terbatas entah fisik dan psikologinya.
saya juga pernah merawat orang tua yang sakit mba,,tapi sebagai anak,, apa sih susahnya,, mengalah sedikit untuk mereka,, toh mereka gak lama ini bersama kita,,mereka hanya sebentar nemenin kita... jangan sampai kita menyesal nantinya:)


Sebenernya nha, saya justru ingin menggiring kamu untuk lebih arif menilai, bahwa apa yang jadi poin berpikir nha tidak sama dengan apa yang jadi poin berpikir orang lain, meski itu saudara kandung nha.

Sorry, sekarang saya blak2an saja ya...

Saya baca tulisan2 nha di atas, adalah tulisan sentimentil seorang anak yang sudah berhasil pendidikan dan pekerjaan tapi belum menikah, punya anak dan punya kompleksitas permasalah dan prioritas yang mulai bergeser. Nha blum bisa merasakan peran orang yang di dua posisi sekaligus, jadi anak sekaligus orang tua.

jadi anak, jadi ortu, jadi istri/suami, jadi menantu.

terima kasih mba,,::maap:: mungkin saya belum berpengalaman soal menikah, menjadi istri orang,, dan lain sebagainya... Tapi saya berharap, jika nanti saya sudah melakukan hal tersebut,, saya tidak akan menyia-nyiakan orang tua saya sendiri,, serta mertua saya. saya harus proporsional,, tidak ada yang diberat sebelahkan. Dan meski saya belum punya anak,, tapi saya mencintai ponakan2 saya... seperti anak saya sendiri, malahan dua ponakan saya yang kelas 3 SD dan kelas 6 saya biayai pendidikan les primagamanya sekarang. Didalam keluarga kami,, gak ada yang namanya perhitungan sama anak, dan sedarah.. maupun orang lain... karena sedari kecil selalu diajari.. apa yang kamu tanam,, itu pula yang akan kamu panen...


Itu butuh jiwa, mental, fisik dan kedalaman hati yang luar biasa beratnya. Juga ada sedikit hitung2an untuk mengukur skala prioritas mereka. Mana yang emergency, mana yang urgent, mana yang masih bisa ditunda dulu.

Masalahnya juga gak sesimpel itu, GAK MAU REPOT!

Berarti Nha belum merasakan penatnya mengurus ortu yang sudah terbatas, ditambah ngurus anak2 yang masih perlu ekstra perhatian, ngurus rumah tangga sendiri, belum lagi yang bekerja.

penat saya,, tak akan sebanding dengan derita sakit yang diderita mama mba... betapa kulit bokong beliau sisa tulang aja,, setiap hari daging beliau di gunting2,, setiap minggu di operasi pembedahan kulit... mama lebih penat dari pada saya mba,, ngapain saya mengeluh... saya juga waktu itu bekerja,, tapi kami (saya,, kakak keempat dan kakak pertama) sering ijin karna nemenin mama di rumah sakit... gak masalah gak punya pekerjaan,, toh pekerjaan bisa dicari,, tapi kalau mama,, mama cuman ada satu mba.. dan gak bisa di cari dimanapun,,


Kita gak bisa, Nha, menilai segala sesuatunya dari sudut pandang kita.
itu bukan sudut pandang saya mba,, saya pernah melakukan penelitian tentang orang tua di panti jompo,, dan penelitian itu bukan subjektif saya,, karna itu adalah tugas sosiologi zaman kuliah dulu,, ada bahan ilmiah,, perbandingan dengan wawancara narasumber, data yang diterima di lapangan,, dan panti jompo yang digunakan adalah panti jompo pusat di samarinda.. daerah jalan remaja, cenderawasih samarinda...



Nha bersyukur masih dikasih kesempatan buat ngurus ortu tanpa pernak pernik kerepotan seperti yang saya sebut diatas. Bagi yang berkeluarga dan bekerja serta punya kesibukan lain sekaligus, meluangkan waktu satu dua jam dalam 3-5 hari untuk ortunya itu sangat istimewa, apalagi jika ditambah tinggalnya berjauhan, lain kota yang makan waktu 8 jaman ke atas.
siapapun itu mba,, merawat orang tua adalah sesuatu hal yang berharga... meskipun apapun yang kita beri ke mereka,,tak akan pernah sama.. dan tak akan pernah sebanding...,, iyah mba.. jika kuantitas memang tak dapat berjumpa,, setidanya dalam kualitaslah perbaiki hubungan sama ortu sendiri.. misalnya memberikan zakat kepada beliau tiap bulan sekali... atau kalau datang kerumah bawa makanan,, jangan jadikan rumah orang tua sebagai tempat numpang buang air kecil saja,, berilah Kualitas disaat berjumpa dengan beliau meskipun waktunya sedikit...


Tapi Nha tidak perlu menilai buruk bagi orang2 yang tidak sempat mengurus ortunya secara intensif. Karena kita, sekali lagi, tidak bisa seenaknya bicara tanpa benar2 melihat fakta2 yang terjadi di kehidupan mereka.

Mungkin Nha kesal, itu boleh. Tapi menilai mereka yang menitipkan ortunya ke panti jompo secara berlebihan ya sejujurnya, tidak pada tempatnya.

Jadi, Nha...belajarlah arif...karena suatu hari nanti Nha juga akan jadi istri, ibu, saudara ipar, menantu...bahkan masih harus memperhatikan bapak.:-bd

saya tidak berburuk sangka,, hanya merasakan kasihan kepada mereka... memangnya mereka bisa jadi orang sukses itu karena siapa? atau jadi orang kaya itu arena siapa? seperti kacang yang lupa kulitnya^_* itu khan sama aja.. tidak tahu arti berbudi dan tidak tahu diri...^^

aya_muaya
29-12-2011, 02:04 PM
beberapa kali bertemu dengan kakek nenek yang mengeluhkan saat mereka harus merawat cucu mereka.. "dulu udah repot ngurus bapak emaknya, sekarang gantian repot ngurus anaknya... " mungkin... ini hanya salah satu sisi saja. makanya saya ingat betul kata kakek-nenek itu... jadi kalau ortu kangen sama anak saya, biasanya saya usahakan ada yang bantuin, entah pengasuhnya aulia ikut atau bayar tetangga di kampung buat bantuin ortu.

satu lagi yang paling saya tanamkan dalam diri saya, apapun yang kita rasakan (sebagai anak), orangtua kita (terlebih ibu) akan merasakan 2 kali lipatnya....jadi saya berfikir berkali2 dulu sebelum curhat sama orangtua kalau soal membebani. karena orangtua pasti akan dua kali lipat merasakannya..

BundaNa
29-12-2011, 04:53 PM
saya udah repot ngomongnya, karena masih subyektif memandang...

Jadi monggo, dialami dulu baru berujar

Nharura
30-12-2011, 06:00 AM
iya mba.. Namax sy memg kurang berpengalaman seperti mba.. Hehe, oia mba,sy mw tanya pendapat mba,tentg sebuah cerita, tante saya dr pihak mama, dulu waktu alm.kakek saya meninggal,ade2 mama cuek2 aja,hingga dimakamkan diluar kota,tempt almh nenek dimkmkan,,adex mama,ga setuju.. Kalw jasad ayahnya disemayamkan dirumahnya ,yg dulu jd rumah kakek,tpi dikashkan ke dua anaknya.. ,tpi dua2nya menolak menyemayamkan jasad ayahnya,alasannya karena takut,nanti bs terbayang2.. Menurut mba, gmana sikap anaknya itu mba?

---------- Post added at 06:50 AM ---------- Previous post was at 06:44 AM ----------

apakah itu juga disebut prioritas? Dari kaca mata sya yg kurang ilmu dan kurang berpengalaman,saya memandang terlalu subjektif,krn sy sudah tidak respek dgn 2 saudara mama itu. Jadi saya minta pendapat mba,yg udh bnyk berpengalaman.sbgai pembanding pendapat. makash mba..

---------- Post added at 07:00 AM ---------- Previous post was at 06:50 AM ----------


beberapa kali bertemu dengan kakek nenek yang mengeluhkan saat mereka harus merawat cucu mereka.. "dulu udah repot ngurus bapak emaknya, sekarang gantian repot ngurus anaknya... " mungkin... ini hanya salah satu sisi saja. makanya saya ingat betul kata kakek-nenek itu... jadi kalau ortu kangen sama anak saya, biasanya saya usahakan ada yang bantuin, entah pengasuhnya aulia ikut atau bayar tetangga di kampung buat bantuin ortu.

satu lagi yang paling saya tanamkan dalam diri saya, apapun yang kita rasakan (sebagai anak), orangtua kita (terlebih ibu) akan merasakan 2 kali lipatnya....jadi saya berfikir berkali2 dulu sebelum curhat sama orangtua kalau soal membebani. karena orangtua pasti akan dua kali lipat merasakannya..

kalw dirumah,dulu waktu ada mama mba,saya sering bgt curhat sama mama,,krn mama slalu py sudut pandang netral dan langsg kena dgn masalah sya.. Beliau jg org yg plg peduli dirumah.. Benar2 seperti malaikat dirumh,sampai skrg pun meski mama udh ga ada lg.. Tpi kash syg mama,apa yg diajarkan slalu trkenang.. Sayangi mamanya mba aya yah.. Kalw perlu,kalw ktemu jgn lupa dipeluk.. Suatu hari nanti,mba akan merasakan kangen jika gak memeluk bliau..^ jd peluk bnyak2 yah mba,hehe.. Sama bpknya mba jg.. Disayangi terus^^

BundaNa
31-12-2011, 10:42 AM
prioritas itu kan kamu bisa memilah mana yang emergency, urgent dan bisa ditunda

kalau kasus di atas sih, itu cuma perasaan takut aja...bukan emergency bagi saya. Tapi who knows?

Saya terbiasa menerima bahwa tidak bisa menilai semua dari satu sisi. Saya gak bisa marah seandainya orang punya prioritas sendiri padahal umpamanya bapaknya sekarat.

Well, saya sudah lihat sendiri. Om saya bertahun2 mengingkari kehidupan pribadinya, demi menjaga almarhumah nenek saya. Itu bukan setaun dua taun, tapi belasan taun. Dan sodara2nya keenakan karena semua urusan nenek saya om saya yang ribet, kecuali dana mungkin. Dana diurusin tante2 saya, sedang om2 saya yang lain terbatas, gak bantu dana ya ga bantu waktu dan energi. Mama mewakilkan anak2nya, saya dan adik2 saya, untuk membantu om saya ngurusin almarhum nenek yang memang langganan tiap 4-5 bulan masuk rumah sakit gara2 gula atau kelainan jantung bawaannya.

Om saya itu mestinya dapet tawaran kerja di Jogja, lalu ditolak demi beliau bingung siapa yang ngurus almarhumah nenek. Kemudian tawaran kerja di Papua juga. terakhir nolak yang di Padang. Alasannya sama dengan Nharura, rejeki kan bisa dicari, ortu kan gak lama kita urusin.

Tapi kemudian, belasan tahun Om saya mengorbankan kehidupan pribadinya, sampe gak berani nikah, takut nanti almarhuman nenek gak klik sama istrinya, karena nenek dimensia, kita gak tau mood dan memorynya kedepannya.

Begitu nenek saya meninggal, 8 tahun yang lalu. Om saya limbung.

Sudah kehilangan ibu.

Secara ekonomi saudara2nya juga gak bisa bantu banyak, karena masing2 punya prioritas.

Perempuan yang jadi tambatan hatinya memilih menikah dengan lelaki lain karena sikap om saya.

Sekarang begitu usianya diambang 50 tahun, beliau baru bisa sedikit baik ekonominya, juga ada perempuan yang mulai dekat lagi dan beliau siap menikah.

Tapi butuh berapa lama?

Om saya keburu dapet sakit darah tinggi dan kolesterol sekarang.

Tenaga beliau buat bekerja juga mulai separuh dari kemampuan orang lain yang lebih muda.

Kalau sudah begitu gimana?

Kita tidak tahu masa depan, karenanya kita disuruh prepare untuk masa depan kita.

Dan umur siapa yang tahu?

Ada juga saudara, lebih konsen ngurus ayahnya yang lumpuh. Pikirannya juga begitu, ayahnya sampe berapa sih umurnya? dia mau berbakti.

Eh taunya dia duluan yang dipanggil Tuhan. Keburu tenaga, waktu dan dananya untuk ngurusin ayahnya.

Anak dan istrinya pun pontang-panting mengurus hidup mereka setelah sang kepala keluarga berpulang. Masih ketambahan ngurusin si kakek yang blum saatnya dipanggil.

Keluarga lain membantu pun sekedarnya, karena mereka punya "prioritas".

Kalau gitu gimana? Almarhum kepala keluarga mengorbankan masa depan anak2nya....

Aku bukan sangat berpengalaman, Nha...

Seperti kamu, Nha...aku pun hanya mengamati.

Tapi ya itu, saya terbiasa mengamati segala sesuatunya dari dua sisi, sejak lihat betapa Om saya akhirnya "terampas" masa depannya karena lebih memprioritaskan almarhum nenek.

Nharura
31-12-2011, 11:05 AM
wualah,kok bs gt kisahx.. Sedih jg ya mba.. Mga kedepanx omx mba bs bhagia,mgkin pendritaanx skrg bs dbalas Tuhan dgn kebahagiaan,jika tak didunia,pasti diakhirat.. Amin. Krn kesedihan ga pernah abadi,amin.

Iyap mbaqu.. Makash sharenya yah,udah nambh ilmu jg dr pengalaman dan crita mba.. ^ meski gt qt harus tetap berbuat baik sm ortu,yg penting niat,kalw udah niat.. Segalanya pasti mudah^^

smangat mba^_* smga Allah mblaskan sgala kebaikan mba sma ortux mba.. Amin:)

aya_muaya
31-12-2011, 11:12 AM
jadi ingat perkataaaan ibuku, waktu aku mengomentari seseorang.. Ih kasihan ya orang itu,,, bla bla bla...
Terus kata ibuku, kita kan gak tahu hidup orang itu, yang kita lihat cuma sekarang, dulunya?apa kita tahu apa yang dia lakukan apa penyebab dia jadi kasihan kea itu?
Intinya sih, harus selalu seimbang dan melihat dari berbagai sudut pandang...
Gak bisa menjudge sesuatu hanya dari satu sisi aja.. :)

---------- Post added at 11:12 AM ---------- Previous post was at 11:08 AM ----------

yah.. Aku juga sempat mengalami dilema karena prioritas itu... Dilema, pilihan mana yang harus dipilih. Benarkah pilihanku?
Saat semua kupikir demi kebahagiaan orangtua, terutama ibu, kesininya mulai galau, benarkah pilihanku itu? Atau aku hanya berfatamorgana?
Tidak bisa berbuat banyak untuk orangtua karena keterbatasan ekonomi selalu menjadi penyesalan tak berujung... Tapi.. Ya itu... Balik lagi, yang penting kita sudah berusaha yang terbaik nha... Hasil akhir bukan kita yang menentukan..

BundaNa
31-12-2011, 09:15 PM
intinya saya bukan menafikan kewajiban kita merawat ortu, apalagi yang sudah sepuh dan sakit2an. Tapi kita juga harus bisa bijak, bahwa tidak semuanya segampang yang kita tuliskan di atas kertas.

ada sebuah film...lupa judulnya...inti adegannya begini:

3 orang pendaki, bapak dan dua anaknya, sedang berlatih panjat tebing di sebuah gunung. Paling atas si adik yang sedang diajari cari jalur, tengah si kakak jadi navigator, terakhir si ayah yang sedang mengajari anak2nya.

Alhasil, ada sebuah keadaan dimana tumpuan mereka menyebabkan ketiganya akan jatuh dan mati. Solusinya ada dua, mengurangi satu beban dan yang dua orang bisa melanjutkan panjatan ke atas, kemudian membiarkan diri mereka bergelantungan sambil mengharapkan nasib baik berpihak kepada mereka tetapi artinya mereka kehabisan tenaga dan waktu.

Si ayah dengan tegas meminta si kakak memotong tali sambungan antara dirinya dan si kakak demi menyelamatkan anak2nya.

Jelas anak2nya menolak. Tetapi ayah mereka hanya punya pikiran sederhana. "Lebih baik mengorbankan ayah dan kalian pasti selamat daripada kita mengharapkan keajaiban yang bisa jadi malah membunuh kita bertiga."

Dan si kakak pun memutus tali antara dirinya si ayah.

Itu pengorbanan yang luar biasa memang, tetapi intinya...kita pada lahirnya harus memikirkan prioritas.

aya_muaya
31-12-2011, 09:20 PM
hufh.. Pilihan.. Fatamorgana.. Semoga setiap pilihan kita adalah sebaik baik pilihan dan diridhoi oleh orangtua kita,,,

BundaNa
01-01-2012, 10:16 PM
amin

*lagi liat bapak terpekur*

cha_n
02-01-2012, 02:34 AM
semoga rejeki ibu2 hebat ini lancar ya..
*hugs

Nharura
02-01-2012, 07:43 PM
@mba aya, Mba bundana, mba chan: semangaattt! semoga semua2nya diberi kesehatan biar bisa terus semangatt... Huggs yang lamaaa buat mba2ku....::bye::

aya_muaya
02-01-2012, 09:33 PM
hug balik...

Amin amin amin....

---------- Post added at 09:33 PM ---------- Previous post was at 09:32 PM ----------

yang paling kita inginkan kan kebahagiaan orangtua, makanya tadi sedih waktu gak dibolehin ama suami nganter aulia mudik ke jogya,, padahal orangtua udah kangen berat sama aulia, udah berbulan2 gak ketemu..
Tapi ya mau gemana lagi?