PDA

View Full Version : Memaksakan Kehendak Pada Tuhan?



danalingga
04-10-2011, 11:22 AM
Thread ini muncul setelah saya baca-baca thread Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Dithread tersebut saya ikut nimbrung dengan mengatakan Tuhan meliputi kebaikan dan kejahatan. Namun tiba-tiba kok jadi terlintas peikiran bahwa:

Ketika saya menjelaskan tentang apa dan bagaimana Tuhan itu, kok saya merasa itu bukan Tuhan ya? Tuhan kan seharusnya tidak terjelaskan ya?

Dan ketika saya mengatakan bahwa Tuhan tidak terjelaskan, itu juga saya telah menjelaskan Tuhan bukan?

Nah, saya kok jadi merasa bahwa saya sedang memaksakan kehendak pada Tuhan bahwa Tuhan itu harus begini harus begitu pada akhirnya.

Bagaimana pendapat rekan-rekan mengenai pemikiran saya ini? Apa benar bahwa saya (atau kita) telah memaksakan kehendak pada Tuhan?

Urzu 7
04-10-2011, 02:58 PM
memaksakan kehendak itu maksudnya apa bertentangan dgn sesuai ajaran kitab suci agama masing2..

Mengenai Tuhan itu banyak versinya baik berdasarkan kitab suci atau kepercayaan luar
tapi akhirnya kan sepakat dgn adanya ketuhanan yang maha esa,bukannya zeus,odin atau tuhan2 kepercayaan zaman dulu dsb

Kalo misalnya menjelaskan bagaimana cara berpikir/cara tuhan bekerja yah jelas ga bisa dijelaskan..kalo bisa dijelaskan arti manusia sdh selevel tuhan

beastmen85
04-10-2011, 04:31 PM
kata2 "memaksakan kehendak pada Tuhan" keknya ga cocok

yg benar, memaksakan gambaran kita akan Tuhan, pada sesuatu yg disebut Tuhan, atau diTuhankan

masalahnya itu kita mencoba mendefinisikan sesuatu yg tak terdefinisikan

danalingga
04-10-2011, 04:48 PM
Saya sih lebih melihat kepada bahwa kita berpendapat:

Bahwa Tuhan harus begini, kalo tidak begini berarti bukan Tuhan.

Nah, itu yang saya maksud memaksakan kehendak -- kehendak bahwa Tuhan harus begini.

AsLan
04-10-2011, 07:35 PM
Kalo orang beragama itu mengenal Tuhan dari WAHYU, wahyu adalah caranya Tuhan memperkenalkan diriNya, Dia sendiri yg bilang bahwa Dia itu begini begitu.

Orang Filsafat mengenal Tuhan dari PEMIKIRAN LOGIS, misalnya Socrates percaya bahwa Tuhan itu pasti ADA, SUCI dan ESA karena itulah satu2nya alasan LOGIS mengapa alam semesta ini teratur dan baik.

kandalf
04-10-2011, 07:54 PM
Saya sih lebih melihat kepada bahwa kita berpendapat:

Bahwa Tuhan harus begini, kalo tidak begini berarti bukan Tuhan.

Nah, itu yang saya maksud memaksakan kehendak -- kehendak bahwa Tuhan harus begini.

Saya berpendapat bahwa Tuhan tidaklah boleh diskriminasi menyayangi satu ras saja. Kalau Tuhan menyayangi satu ras dan mengabaikan yang lain, berarti dia bukan Tuhan.

Apakah pernyataan tersebut merupakan pemaksaan terhadap Tuhan?
Menurut saya tidak.

Seandainya pun ternyata ada yang menciptakan saya dan ras lain dan si pencipta lebih menyayangi salah satu rasnya dan mengabaikan ras lainnya, maka menurut saya, dia bukan Tuhan.. bukan sesuatu yang di-MAHA-TUAN-kan dan bukan pula junjungan yang perintahnya layak saya patuhi... Walaupun dia pencipta saya.

Bila si pencipta tersebut menganggap saya 'mengingkari' ke-'besar'-annya, maka saya lebih suka disiksa daripada menyetujui sikapnya. Bukankah ia pula yang memberikan saya kemampuan untuk berpikir?

Yuki
04-10-2011, 09:08 PM
Tuhan itu adalah sebagaimana sangkaanmu

manusia diberikan akal, yg mana akal itu digunakan oleh manusia untuk memahami segala sesuatu yg ada

purba
04-10-2011, 10:38 PM
Tuhan adalah hasil rekaan manusia thd apa yg terjadi dan diamati di sekitarnya. Tapi itu tidak menjadi masalah besar sampai ada manusia yg mengklaim dirinya memiliki otoritas tuhan tsb. Karena tuhan diimajinasikan sebagai yg maha ini dan itu, kemudian ada manusia yg mengklaim bahwa merekalah wakil tuhan di dunia, sejak itulah masalah bermunculan.

:))

AsLan
05-10-2011, 01:02 AM
Saya berpendapat bahwa Tuhan tidaklah boleh diskriminasi menyayangi satu ras saja. Kalau Tuhan menyayangi satu ras dan mengabaikan yang lain, berarti dia bukan Tuhan.

Apakah pernyataan tersebut merupakan pemaksaan terhadap Tuhan?
Menurut saya tidak.

Seandainya pun ternyata ada yang menciptakan saya dan ras lain dan si pencipta lebih menyayangi salah satu rasnya dan mengabaikan ras lainnya, maka menurut saya, dia bukan Tuhan.. bukan sesuatu yang di-MAHA-TUAN-kan dan bukan pula junjungan yang perintahnya layak saya patuhi... Walaupun dia pencipta saya.

Bila si pencipta tersebut menganggap saya 'mengingkari' ke-'besar'-annya, maka saya lebih suka disiksa daripada menyetujui sikapnya. Bukankah ia pula yang memberikan saya kemampuan untuk berpikir?

Ini adalah tipenya filsuf memikirkan tuhan, inti pemikirannya adalah "tidak mungkin tuhan yg adil memperlakukan umatnya secara tidak adil"

silogismenya :

premis 1: tuhan itu adil
premis 2: diskriminasi ras adalah suatu ketidak adil an
kongklusi : tuhan tidak mungkin melakukan diskriminasi ras

ndugu
05-10-2011, 08:28 AM
Saya berpendapat bahwa Tuhan tidaklah boleh diskriminasi menyayangi satu ras saja. Kalau Tuhan menyayangi satu ras dan mengabaikan yang lain, berarti dia bukan Tuhan.

Apakah pernyataan tersebut merupakan pemaksaan terhadap Tuhan?
Menurut saya tidak.

Seandainya pun ternyata ada yang menciptakan saya dan ras lain dan si pencipta lebih menyayangi salah satu rasnya dan mengabaikan ras lainnya, maka menurut saya, dia bukan Tuhan.. bukan sesuatu yang di-MAHA-TUAN-kan dan bukan pula junjungan yang perintahnya layak saya patuhi... Walaupun dia pencipta saya.

Bila si pencipta tersebut menganggap saya 'mengingkari' ke-'besar'-annya, maka saya lebih suka disiksa daripada menyetujui sikapnya. Bukankah ia pula yang memberikan saya kemampuan untuk berpikir?
kupikir post ini justru adalah contoh dari tulisan yang dibold / dideskripsikan oleh dana

AsLan
05-10-2011, 09:17 AM
kupikir post ini justru adalah contoh dari tulisan yang dibold / dideskripsikan oleh dana

Kalau ada dasar logika yg kuat maka itu bukan pemaksaan, tapi filsafat.

cuma...

Kelemahan terbesar filsafat ada di Major Premis,

Contohnya :

Danalingga punya Major Premis: Tuhan tidak bisa di deskripsikan
Kandalf punya Major Premis: Tuhan itu Adil

Maka diskusi antar 2 orang ini terkesan saling memaksakan pendapat... tapi kalau sama2 mau membuka pikiran maka bisa jadi diskusi filsafat yg baik dan akan menghasilkan kongklusi yg lebih sempurna.

danalingga
05-10-2011, 11:21 AM
Wah, diskusinya mengalir. Saya juga belum punya konklusi jadi saya baca-baca dulu yak. Makin banyak pendapat makin saya hargai. :D

Btw, ketika saya berpendapat Tuhan tidak bisa dideskripsikan maka saya tetap merasa saya telah memaksa Tuhan agar tidak bisa dideskripsikan. Yah, saya merasa bahwa saya tetap saja telah memaksakan kehendak pada Tuhan dengan pendapat tersebut.

PERMANDYAN
05-10-2011, 12:10 PM
mmmm...
Bagikoe, kita mengetahoei ataoe mendjelaskan tentoenja dari pengakoeannja sendiri ataoepen dari orang lain jang mengakoe soedah bertemoe dengannja
kita ambil tjontoh sahadja, saat beloem mengenal boeng kandalf, akoe hanja bisa mereka reka dari djawaban djawaban jang diberikan atoepoen dari pernjataannja sendiri dan djoega dari orang orang jang telah bertemoe setjara langsoeng dengan boeng kandalf. itoe kerana kita diberikan jang namanja akal oentoek dapat membentoek image dari potongan potongan info jang didapat.

ndugu
06-10-2011, 07:14 AM
Kalau ada dasar logika yg kuat maka itu bukan pemaksaan, tapi filsafat.

cuma...

Kelemahan terbesar filsafat ada di Major Premis,

Contohnya :

Danalingga punya Major Premis: Tuhan tidak bisa di deskripsikan
Kandalf punya Major Premis: Tuhan itu Adil

Maka diskusi antar 2 orang ini terkesan saling memaksakan pendapat... tapi kalau sama2 mau membuka pikiran maka bisa jadi diskusi filsafat yg baik dan akan menghasilkan kongklusi yg lebih sempurna.
filsafat sih filsafat
tapi saya liatnya sih, seperti yang kamu point di atas, ini bakal jadi lingkaran :cengir:

kan di sini masalahnya adalah tuhan yang dideskripsikan. sedangkan pada saat yang sama, tuhan tidak bisa dideskripsikan. jadi? :mikir:

:cengir:

saya nonton aja deh :cengir:

keremus
06-10-2011, 09:03 AM
Thread ini muncul setelah saya baca-baca thread Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Dithread tersebut saya ikut nimbrung dengan mengatakan Tuhan meliputi kebaikan dan kejahatan. Namun tiba-tiba kok jadi terlintas peikiran bahwa:

Ketika saya menjelaskan tentang apa dan bagaimana Tuhan itu, kok saya merasa itu bukan Tuhan ya? Tuhan kan seharusnya tidak terjelaskan ya?

Dan ketika saya mengatakan bahwa Tuhan tidak terjelaskan, itu juga saya telah menjelaskan Tuhan bukan?

Nah, saya kok jadi merasa bahwa saya sedang memaksakan kehendak pada Tuhan bahwa Tuhan itu harus begini harus begitu pada akhirnya.

Bagaimana pendapat rekan-rekan mengenai pemikiran saya ini? Apa benar bahwa saya (atau kita) telah memaksakan kehendak pada Tuhan?



1. Darimana anda dapat gagasan "Tuhan kan seharusnya tak terjelaskan " ?
2. Memaksakan kehendak dalam hal apa : bahwa Dia Tak Terjelaskan atau bisa dijelaskan ?
3. Jika saya boleh bertanya, konsep Tuhan apa yang anda pegang saat ini?

AsLan
06-10-2011, 10:14 AM
Yang pertama kali bilang Tuhan tak bisa dijelaskan itu TAOisme "Tao yg bisa dijelaskan itu bukan Tao sejati"

Kalo menurut saya ini sebuah filsafat self-destructive... karena Tao isme menjelaskan sesuatu yg katanya tidak bisa dijelaskan ;D

kimochi
06-10-2011, 11:43 AM
Faktanya memang, Tuhan belum bisa dijelaskan. Atau Tidak ada "penjelasan memadai" tentang Tuhan.
Kita butuh penjelasan yang jauh lebih banyak tentang jejak-jejak yang ditinggalkan Tuhan.

danalingga
06-10-2011, 11:57 AM
1. Darimana anda dapat gagasan "Tuhan kan seharusnya tak terjelaskan " ?
2. Memaksakan kehendak dalam hal apa : bahwa Dia Tak Terjelaskan atau bisa dijelaskan ?
3. Jika saya boleh bertanya, konsep Tuhan apa yang anda pegang saat ini?

1. Dari baca baca teori tentang Tuhan
2. Memaksakan kehendak bahwa Tuhan harus begini, jika bukan begini maka bukan Tuhan. Jadi teraplikasikan pada saat berpendapat bahwa Tuhan terjelaskan atau tidak terjelaskan.
3. Konsep Tuhan tidak terjelaskan (untuk sementara ini).

kandalf
06-10-2011, 12:30 PM
Bila ada pertanyaan "apakah Tuhan itu adil" bisakah pertanyaan itu dijawab dengan "tidak bisa dijelaskan"?
Bila sifat Tuhan itu tidak bisa dijelaskan maka apa gunanya kita perduli pada Tuhan?

Ada kawan Hindu dari India yang percaya bahwa Dewa-Dewa mewakili sifat ideal yang hendaknya diteladani oleh orang-orang yang percaya dengannya. Kalau Tuhan itu tidak punya deskripsi, tidak bisa dijelaskan, lalu apa fungsinya Tuhan?

ndugu
06-10-2011, 12:39 PM
seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan ::nono::::nono::

:cengir:

kimochi
06-10-2011, 12:44 PM
Bila ada pertanyaan "apakah Tuhan itu adil" bisakah pertanyaan itu dijawab dengan "tidak bisa dijelaskan"?
Bila sifat Tuhan itu tidak bisa dijelaskan maka apa gunanya kita perduli pada Tuhan?

Ada kawan Hindu dari India yang percaya bahwa Dewa-Dewa mewakili sifat ideal yang hendaknya diteladani oleh orang-orang yang percaya dengannya. Kalau Tuhan itu tidak punya deskripsi, tidak bisa dijelaskan, lalu apa fungsinya Tuhan?

Untuk dicari.

kandalf
06-10-2011, 12:51 PM
Untuk dicari.
Untuk apa mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Kalau ketemu dan dapat penjelasan, maka bukankah Tuhan kemudian tidak tidak dapat dijelaskan? Tapi bukankah tadinya bersikeras bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan? Kalau dapat dideskripsikan, maka itu bukan Tuhan?


seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan ::nono::::nono::

Bukan tidak boleh.. tetapi tidak dapat.
Membicarakan sesuatu yang tidak dapat dibicarakan.
Aneh..

kimochi
06-10-2011, 12:55 PM
Untuk apa mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Kalau ketemu dan dapat penjelasan, maka bukankah Tuhan kemudian tidak tidak dapat dijelaskan? Tapi bukankah tadinya bersikeras bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan? Kalau dapat dideskripsikan, maka itu bukan Tuhan?
Aneh..

Tuhan bukannya tidak terjelaskan. Bedakan tidak terjelaskan dengan belum terjelaskan secara memadai. Agama hadir sebagai pra-penjelasan tentang Tuhan tersebut. Anggap aja sebagai prolog sebuah buku. Isinya bagaimana?

Belum ada penjelasan lebih lanjut, sama seperti klaim ateis tentang alam semesta ini. Apa mereka (ateis) udah menjelaskan semuanya, sehingga sampai pada kesimpulan yang berani (gegabah dan terburu-buru) bahwa Tuhan itu tidak ada?

kandalf
06-10-2011, 01:10 PM
Tuhan bukannya tidak terjelaskan. Bedakan tidak terjelaskan dengan belum terjelaskan secara memadai. Agama hadir sebagai pra-penjelasan tentang Tuhan tersebut. Anggap aja sebagai prolog sebuah buku. Isinya bagaimana?

Oke lah.. Anda berpendapat begitu.
Tetapi pemula utas (TS) tampaknya tidak berpendapat demikian.
Saya kutip lagi kata-katanya di tulisan awalnya.

Ketika saya menjelaskan tentang apa dan bagaimana Tuhan itu, kok saya merasa itu bukan Tuhan ya? Tuhan kan seharusnya tidak terjelaskan ya?

Dan ketika saya mengatakan bahwa Tuhan tidak terjelaskan, itu juga saya telah menjelaskan Tuhan bukan?

~adaGakYahOrangBunuhDiriKarenaPusingMenjelaskanTuh an

keremus
06-10-2011, 01:20 PM
Faktanya memang, Tuhan belum bisa dijelaskan. Atau Tidak ada "penjelasan memadai" tentang Tuhan.
Kita butuh penjelasan yang jauh lebih banyak tentang jejak-jejak yang ditinggalkan Tuhan.

Memadai itu berarti mengukur.
Seberapa memadai manusia memerlukan narasi soal Tuhan sehingga mereka "puas" ?

Menurut anda, kitab-kitab suci kurang memuaskan menjelaskan Tuhan ?

keremus
06-10-2011, 01:41 PM
Sebenarnya, pemahaman kalian menjelaskan itu kayak gimana ?

Kalau sekadar sebaris kalimat semacam Tuhan tak dapat dijelaskan,
hemat saya bukan menjelaskan Tuhan.

Tidak sekadar kalimat seperti itu, saya kira kita semua mafhum.
Nanti diskusi sekadar akrobat kata-kata.

Jadi setiap kata, konsep, persepsi harus disamakan dulu.

danalingga
06-10-2011, 02:04 PM
Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).

Gitu loh. :D

kimochi
06-10-2011, 02:23 PM
Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).

Gitu loh. :D

Bentar dulu, masih kurang ngerti apa yang dimaksud dengan “Pemaksaan”.

Misalnya Gw bilang, gini:
Kambing itu mammamlia. Kambing itu makan rumput. Kambing itu suka kawin (misalnya).

Apa itu salah satu bentuk “pemaksaan” yang dimaksud? Apakah di sini saya sudah mendikte kambing?

danalingga
06-10-2011, 02:30 PM
Jangan pake analogi ah, kok malah jadi lucu. ;))

Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan. ;))

Lah, kalu kita bilang harus adil, jadinya kan kita memaksa (mendikte) Tuhan tuh.

kimochi
06-10-2011, 04:25 PM
Kalau begitu, semua deskripsi tentang Tuhan bakal dicap “pemaksaan” kan? Termasuk yg ini juga :


Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan.

Tuhan berbuat suka-suka? Ini juga sebuah pemaksaan. Bagaimana kalau suatu saat Tuhan memilih untuk tidak bertindak suka-suka?

Lantas, bagaimana kita bisa mendeskripsikan sesuatu tanpa disebut memaksakan kehendak / pengertian kita terhadap sesuatu tersebut?

Ini circular. :)

keremus
06-10-2011, 04:32 PM
danalingga
Lah, yang saya permasalahkan kan bukan Tuhan itu terjelaskan atau tidak terjelaskan. Yang saya permasalahakn adalah soal "pemaksaan". Soal bahwa Tuhan itu harus begini, jika tidak begini itu bukan Tuhan. Saya merasa hal itu memaksa (atau mendikte) Tuhan.

Mungkin argumentasinya lebih diarahkan kalo hal itu bukan memaksa (mendikte) dengan alasan bla...bla...bla... dan sebaliknya jika mendukung saya, menjelaskan alasan kenapa itu dianggap memaksa (atau mendikte).

Menurut saya anda tidak memaksa tapi sedang mikir

Jelas saja bahwa anda mau tak mau berurusan dengan tak terjelaskan dan terjelaskan-nya TUhan
Anda berangkat dari masalah itu sehingga timbul perasaan memaksakan kehendak

Jadi agar anda tentram tanpa merasa memaksakan kehendak adalah dengan memperoleh jawaban semacam :

1. Memang Tuhan tak terjelaskan kok atau
2. Memang Tuhan dapat dijelaskan kok



Originally Posted by ndugu http://www.kopimaya.com/forum/images/buttons/viewpost-right.png (http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php?p=81746#post81746)
seperti.. ngomongin sesuatu-yang-tidak-boleh-diomongkan



Persamaan Tuhan dan Lord Voldermort adalah kadang2 menimbulkan rasa gentar
dan mencekam ;D

danalingga
06-10-2011, 04:41 PM
Jangan pake analogi ah, kok malah jadi lucu. ;))

Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan. ;))

Lah, kalu kita bilang harus adil, jadinya kan kita memaksa (mendikte) Tuhan tuh.

Mungkin solusinya ya nggak usah berusaha menjelaskan. :D

Tapi, saya sendiri (sesuai dengan tulisan diawal) memang masih terjebak dalam usaha untuk menjelaskan.

Yuki
06-10-2011, 07:49 PM
Tuhan pasti adil, Maha Adil

hendaklah harus berpikir positif tentang Tuhan, karena Tuhan itu sebagaimana sangkaanmu

ndugu
07-10-2011, 11:24 AM
Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

lantas, tuhan itu tidak ada :cengir:

kandalf
07-10-2011, 02:48 PM
Misalnya gini, ketika Tuhan dibilang pasti adil, kalo tidak adil berarti bukan Tuhan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana jika nantinya Tuhan hendak berbuat tidak adil? Apa lantas Dia bukan Tuhan lagi?

Padahal sepemahaman saya harusnya kalo Tuhan sih suka-suka dia dong, mau adil mau nggak. Namanya juga Tuhan. ;))


Benar,
suka-suka si Pencipta.
Tapi saya menolak mengakui dia Tuhan.
Menurut saya, sebuah sosok itu layak disebut Tuhan bila ia layak diabdi dan layak didukung. Jadi bukan sekedar 'menciptakan' atau 'punya kuasa'.

Jadi menurut saya, 'Tuhan' harus punya fungsi untuk manusia. Pilihan 'percaya pada Tuhan' harus punya manfaat pada manusia.

Ya.. sebut saja itu keegoisan saya sebagai manusia.

Urzu 7
07-10-2011, 04:42 PM
^ kalo ga ada feedbacknya ga percaya yah om;D

kandalf
07-10-2011, 05:58 PM
^ kalo ga ada feedbacknya ga percaya yah om;D
Nope.
Tanpa feedback dari sosok 'Tuhan' pun seseorang juga bisa 'percaya pada Tuhan'. Hanya saja aksi 'percaya pada Tuhan' itu haruslah punya efek pada perbuatan seseorang yang mengklaim 'percaya' itu.

Nah,
kalau 'Tuhan' itu beneran ada dan ternyata berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh si yang percaya, maka antara 'Tuhan' itu tidak diakui 'Tuhan' oleh si pemercaya atau si pemercaya harus mereevaluasi kembali konsepnya tentang Tuhan. Bila si pemercaya memilih yang terakhir, maka perilakunya pun juga akan berubah sesuai dengan konsep baru yang ia pilih, dengan asumsi ia masih hidup di dunia.

Bingung yah?

kimochi
07-10-2011, 09:52 PM
Benar,
suka-suka si Pencipta.
Tapi saya menolak mengakui dia Tuhan.
Menurut saya, sebuah sosok itu layak disebut Tuhan bila ia layak diabdi dan layak didukung. Jadi bukan sekedar 'menciptakan' atau 'punya kuasa'.

Jadi menurut saya, 'Tuhan' harus punya fungsi untuk manusia. Pilihan 'percaya pada Tuhan' harus punya manfaat pada manusia.

Ya.. sebut saja itu keegoisan saya sebagai manusia.

Perkataan seperti “Tuhan harus punya fungsi untuk manusia” lah yg dimaksud si danalingga sebagai pemaksaan bagaimana seharusnya (seorang? seekor? sebuah?) Tuhan bersikap.

Btw, baca postingan kop, jadi ingat nenek ane yang sering nasihatin gw musti begini, musti begitu. ::hihi::


Nope.
Tanpa feedback dari sosok 'Tuhan' pun seseorang juga bisa 'percaya pada Tuhan'. Hanya saja aksi 'percaya pada Tuhan' itu haruslah punya efek pada perbuatan seseorang yang mengklaim 'percaya' itu.

Efek dan benefitnya sih pasti ada. Cuman, bisa sangat abstrak dan sangat, sangat, sangattt subkyektif. ::ungg::

purba
09-10-2011, 02:37 AM
Memaksakan kehendak pada tuhan? Memperkosa tuhan? Emangnya tuhan pake rok mini? :))

Tuhan menciptakan alam semesta. Setelah itu ngapain? Apakah dia mengawasi saja atau tetap bekerja menjalankan ciptaannya tsb?

Ketika seseorang kentut, apakah itu kerjaan tuhan atau bukan? Jika bukan, berarti ada bagian dari alam semesta ini (yaitu kentut) yg tidak dikuasai oleh tuhan. Mosok punya julukan maha kuasa tapi kentut saja tidak tertangani. Atau kentut bagian dari freewill manusia? Tapi perasaan ane sejauh ini, ane gak bisa milih2 kentut. Kadang nyaring, kadang senyap. Kadang bau, kadang bau banget. Kadang kering, kadang lengket. Jadi gimana nih, kentut kerjaan tuhan atau freewill manusia?

Teis pengennya tuhan maha suci, maha tinggi, maha baik, maha sempurna. Tapi itu justru jadi membatasi tuhan, padahal tuhan juga maha kuasa, maha berdikari. Karena pusing dgn sifat2 tuhan, sementara tetap percaya adanya tuhan, akhirnya terbetik utk tidak mau membicarakan tuhan. Tuhan semakin dibicarakan, semakin tidak ada. Sementara jika tuhan tidak dibicarakan, lama2 tuhan terlupakan.

Mungkin solusinya pilih saja sifat2 tuhan yg sesuai kebutuhan. Misalnya maha mengawasi atau maha melihat atau maha mengetahui dan maha menepati janji. Ini utk menjaga agar teis tidak terperosok ke dalam perbuatan tercela. Misalnya ketika mau korupsi, teringat janji tuhan berupa siksa neraka. Tapi masalahnya kalo ingat tuhan, lha kalo lupa karena melihat setumpuk rupiah gimana?

arthurus
09-10-2011, 06:33 AM
Saya sih lebih melihat kepada bahwa kita berpendapat:

Bahwa Tuhan harus begini, kalo tidak begini berarti bukan Tuhan.

Nah, itu yang saya maksud memaksakan kehendak -- kehendak bahwa Tuhan harus begini.

Itu kan kesimpulan bukan memaksaan kehendak, atau dari sisi teologis disebut tafsir ...

konsekuensi dari berfikir tentang tuhan :D

kimochi
09-10-2011, 08:48 AM
Teis pengennya tuhan maha suci, maha tinggi, maha baik, maha sempurna. Tapi itu justru jadi membatasi tuhan, padahal tuhan juga maha kuasa, maha berdikari. Karena pusing dgn sifat2 tuhan, sementara tetap percaya adanya tuhan, akhirnya terbetik utk tidak mau membicarakan tuhan. Tuhan semakin dibicarakan, semakin tidak ada. Sementara jika tuhan tidak dibicarakan, lama2 tuhan terlupakan.

Mungkin solusinya pilih saja sifat2 tuhan yg sesuai kebutuhan. Misalnya maha mengawasi atau maha melihat atau maha mengetahui dan maha menepati janji. Ini utk menjaga agar teis tidak terperosok ke dalam perbuatan tercela. Misalnya ketika mau korupsi, teringat janji tuhan berupa siksa neraka. Tapi masalahnya kalo ingat tuhan, lha kalo lupa karena melihat setumpuk rupiah gimana?

Salah satu anggota agama samawi, mengkover hal itu duluan dengan "tidak ada sesuatu pun yang menyamainya".

Just info. ::ungg::

kimochi
09-10-2011, 08:59 AM
Itu kan kesimpulan bukan memaksaan kehendak, atau dari sisi teologis disebut tafsir ...

konsekuensi dari berfikir tentang tuhan :D

Mungkin yang dimaksud di sini bedanya ada di buktinya. Kalau kita menafsirkan sebuah pohon berwarna pink. Orang lain bisa ngecek, apa benar pohon tersebut berwarna pink?

Semua orang bisa meyimpulkan, karena barangnya ada. Makanya engga disebut pemaksaan.

Kalau Tuhan bagaimana menafsirkannya? Orang memiliki penafsiran berbeda-beda. Susah pulak mengeceknya. ::cabul::

arthurus
09-10-2011, 10:32 PM
Mungkin yang dimaksud di sini bedanya ada di buktinya. Kalau kita menafsirkan sebuah pohon berwarna pink. Orang lain bisa ngecek, apa benar pohon tersebut berwarna pink?

Semua orang bisa meyimpulkan, karena barangnya ada. Makanya engga disebut pemaksaan.

Kalau Tuhan bagaimana menafsirkannya? Orang memiliki penafsiran berbeda-beda. Susah pulak mengeceknya. ::cabul::
Barangnya ada kan menyangkut empirik, ya tinggal disesuaikan saja... konfirmasinya melalui penalaran bukan observasi

makanya tak bilang itu konsekuensi dari pemikiran thd Tuhan, artinya kalau membuat konsep Tuhan begini, maka timbul penalaran A,B,C.. dan sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan , walau kekhawatiran wajar saja yah...

danalingga
10-10-2011, 12:07 AM
Saya baca-baca komen-komennya, semakin kemari, kok malah semakin mendekat kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu hanyalah hasil rekaan (ciptaan) manusia saja ya?

purba
13-10-2011, 05:30 PM
Saya baca-baca komen-komennya, semakin kemari, kok malah semakin mendekat kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu hanyalah hasil rekaan (ciptaan) manusia saja ya?

Nah danalingga mulai mendapatkan pencerahan, enlightenment, aufklarung, dst... ::itrocks::

ndableg
14-10-2011, 05:44 AM
Saya baca-baca komen-komennya, semakin kemari, kok malah semakin mendekat kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu hanyalah hasil rekaan (ciptaan) manusia saja ya?

Iya.. saya pikir pada stress ngomongin hal yg ga nyata, sedangkan yg didepan mata berantakan.
Tuhan kok dipikirin. Idup masing2 aje dipikirin.

mencari_makna
27-11-2011, 06:56 AM
1. Dari baca baca teori tentang Tuhan
2. Memaksakan kehendak bahwa Tuhan harus begini, jika bukan begini maka bukan Tuhan. Jadi teraplikasikan pada saat berpendapat bahwa Tuhan terjelaskan atau tidak terjelaskan.
3. Konsep Tuhan tidak terjelaskan (untuk sementara ini).

Jika kita memandang Tuhan adalah sebagai "sesuatu yang lain", yang menciptakan manusia, alam semesta. waktu dan peristiwa.Konsep tentang Tuhan tidak akan pernah terjelaskan, karena akan mengundang premis-premis yang saling bertentangan. "Tuhan adalah kekacauan".

Cara tersebut diatas adalah memahami tuhan dengan Lgika. Ada cara lain memahami Tuhan yaitu dengan Rasa dan perasaan sebagai akar dari Logika yaitu melalui pengalaman kesadaran. Dalam pengalaman kesadaran Tuhan bukanlah sesuatu yang lain. Tuhan adalah Semua "yang ada" atau Tuhan adalah semua esensi. Apa yang anda pikirkan dan semua yang ada dari pikiran bukan lah Esensi dari yang ada.

mencari_makna
14-12-2011, 01:39 PM
Iya.. saya pikir pada stress ngomongin hal yg ga nyata, sedangkan yg didepan mata berantakan.
Tuhan kok dipikirin. Idup masing2 aje dipikirin.

Pikiran tentang tuhan perlu untuk membangun kesadaran akan tuhan. tanpa memahami tuhan hidup kita di ahirat (ahir hayat) akan kehilangan makna