PDA

View Full Version : Pustaka Digital atau Pustaka Cetak?



kandalf
25-08-2014, 10:49 AM
Ini pikiran yang selalu terbayang setiap kali duduk dan melihat lemari buku.

Ada banyak buku, sebagian besar yang kubeli sudah kubaca terutama yang jumlah halamannya kurang dari 300. Tapi setelah selesai dibaca, lalu apa?
Kujual kembali untuk kemudian tergeletak berbulan-bulan di kios buku bekas? Kusumbangkan ke perpustakaan untuk kemudian diselimuti debu dan menjadi pangan rayap? Disimpan dan memenuhi rumah?

Terpikirkan untuk digitalisasi beberapa buku terutama yang langka dan penulisnya merupakan tokoh berpengaruh.
Tapi kemudian terpikir apakah:
1. perlukah aku minta izin pada keluarga pemegang hak ciptanya?
2. apakah aku tidak mematikan bisnis toko buku bekas? dan yang paling penting
3. memangnya aku punya waktu?


Lalu aku pagi ini memindahkan buku dari folder Downloads ke folder aku biasa menyimpan file-file PDF.
Banyak di antaranya adalah buku2 yang tidak dijual di toko buku di Indonesia.
Sebagian sudah kubaca tetapi lebih banyak yang tidak.

Saya punya kecenderungan untuk lebih memilih membaca yang sudah tercetak, bahkan kadang kubawa untuk hiburan ringan di bus, daripada membaca yang tersimpan di dalam cakram keras.

Tapi kalau kucetak nanti kembali ke masalah pertama dong?

etca
25-08-2014, 11:24 AM
Saya pribadi melegalkan kalau hanya untuk koleksi pribadi,
Tidak untuk didistribusikan pada orang lain.

Fyi, tahun 2006 saya pernah scan semua bible perjanjian baru dan perjanjian lama
yang masih ditulis menggunakan huruf jawa. :)
kebetulan saat itu masih memiliki waktu banyak ;D

oia padahal itu bible minjem pada sesepuh gereja semasa beliau masih hidup ::oops::

kupo
25-08-2014, 12:07 PM
saya tidak ada niat untuk mendigitalkan koleksi buku cetak yg sudah ada dirumah, karena menurut saya baik buku cetak maupun ebook ada kelebihannya masing2.. buku cetak lebih nyaman dibaca, dan bagus untuk dipajang, walaupun memakan ruang.
namun demikian... sudah berapa tahun terakhir ini saya jarang sekali baca buku cetakan, saya hampir tidak pernah lagi membeli buku cetak. (ironis.. karena saya bekerja di percetakan... ::grrr:: ) 90% buku yg saya beli adalah ebook.. alasan utama adalah kepraktisan, cukup bawa tablet sudah bisa baca setiap saat .

kandalf
25-08-2014, 01:48 PM
Saya sebenarnya agak iri dengan tulisan-tulisan jadul di situs ini:
http://www.marxists.org/indonesia/indones/index.htm

Di koleksi ada buku-buku yang layak disebarluaskan tetapi ya itu... udah langka dan jarang diterbitkan ulang.
Itu sebabnya ingin mendigitalkan.

TheCursed
25-08-2014, 09:15 PM
Saya berharap ada yang punya dan bikin kopi digital dari "Sawung Kampret".

Soalnya kopi cetaknya dari majalah Humor udah nggak tau bisa di trek apa nggak

surjadi05
02-09-2014, 04:06 PM
masih prioritas pusstaka cetak, bahkan beli ebook pun ga mau, tapi kadang2 kalo perjalanan jauh bacaan terasa kurang untung sekarang internet ada dimana2, jadi bisa baca media cetak

ndableg
02-09-2014, 05:31 PM
daripada membaca yang tersimpan di dalam cakram keras.

Apaan tuh?

kupo
02-09-2014, 05:36 PM
cakram keras = hard disk

marannu
09-01-2015, 03:47 PM
aku juga punya ide kayak gini, digital library... bait penyebaran informasi & pengetahuan bisa melebar, otak kita gak cuma diisi sama bacaan barat saja ...
semangat kaka

nerve_gas
20-09-2018, 11:10 AM
Pustaka cetak masih punya alasan kuat dari aspek reliability, karena tanpa ada listrik barangnya masih tetap bisa dikonsumsi. Kena air juga, yang penting diangin2 dikit, masih akan tetap bisa dibaca.

Masalahnya memang dimensinya yang berat dan memakan tempat. Harusnya kita bisa memikirkan solusi, bagaimana buku ini bisa jadi modular, mungkin ya. Pas mau dibaca, ya sesuai dengan halamannya. Pas ditutup ketika tidak dibaca, ya jadi tipis.

*ngimpi*

etca
20-09-2018, 03:08 PM
Di Arsip Nasional kalau tidak salah berusaha mengdigitalkan Arsip lama yang ada ya? #cmiiw